
"Kamu pindah duduk aja disebelah saya, jadi bisa ambil nasi dipiring ini" usul Rama yang melihat Izza kesulitan menggapai piring milik Rama.
Izza mengikuti saran Rama, memang tangannya ga sampe kalo mengambil nasi dipiringnya Rama.
"Anak Indonesia banget sih dek Sachi... masa makan pizza pake nasi sama sate" ledek Mang Ujang.
"Kata Ayah biar kenyang ya harus makan nasi" jawab Sachi.
"Ayah mah jangan diikutin, lontong sayur aja bisa tambah pake nasi" sahut Mang Ujang.
"Bisa jadi makan nasi, sambel goreng kentang sama mie goreng barengan dong ... full karbo" sahut Izza.
"Kok tau? suka kepo sama menu makannya Mas Boss yaaa..." goda Mang Ujang.
"Ga sih .. tapi kebanyakan orang kita gitu pola menunya.
Rama diam aja sambil menikmati makanannya. Saat sedang makan, ada seorang wanita mendekati mejanya Rama.
"Malam Pak Rama" sapa Farida.
"Malam .. oh kamu .." jawab Rama sambil melihat kearah Farida.
"Wah lagi family dinner nih .." kata Farida.
"Ayo gabung" ajak Rama.
"Makasih Pak .. saya juga sedang bersama keluarga, baru aja datang. Pas habis pesan menu kok kaya saya kenal sosoknya, saya liat lagi ternyata benar Pak Rama" jelas Farida.
"Ini kan Mba Farida yang akan jadi sekretarisnya Mas Boss ya? makin cantik aja" potong Mang Ujang.
"Mas Boss???" ucap Farida bingung.
"Maksudnya Pak Rama .. saya supirnya, biasa panggil Mas Boss biar akrab" jelas Mang Ujang.
"Oh gitu .. panggil aja Rida, saya panggil Mas siapa ya?" tanya Farida.
"Panggil Mang Ujang aja kaya yang lain. Pokoknya seantero Abrisam Group mah kenal deh sama Mang Ujang. Mba Rida kalo ada apa-apa ya hubungi Mang Ujang aja, jangan sungkan-sungkan" papar Mang Ujang.
"Ya Mang Ujang... terima kasih" jawab Farida.
"Kenalin Rida .. ini anak saya Sachi .. dan ini Izza" kata Rama.
Izza dan Farida berjabat tangan, Sachi mencium tangan Farida.
"Anaknya cantik ya Pak .. Mamanya juga cantik sih ya" puji Farida.
Rama diam saja tidak membantah, hal ini untuk menjaga agar Farida tidak menaruh rasa berlebihan padanya kalo sudah bekerja sebagai Sekretarisnya. Toh memang kenyataannya Mba Nay memang cantik, jadi ga ada yang perlu dibantah.
"Baik Pak Rama.. silahkan dilanjut makannya, saya mau kembali ke meja" pamit Farida.
"Ok .. see you .." jawab Rama.
"On Monday... " sahut Farida sambil tersenyum.
Izza masih menyuapi Sachi.
"Makannya udah?" tanya Rama sambil menunjuk kearah piringnya Izza.
"Udah Kak... ga saya aduk kok, tadi minta piring baru. Porsinya banyak banget" jawab Izza.
"Sini saya habisin aja, belum kenyang nih .. kan nasi yang dipesan makan bareng sama Sachi" kata Rama.
"Emang gapapa bekas saya?" tanya Izza meyakinkan.
"No problem .. " jawab Rama.
Izza memindahkan piring dan mangkok kedepannya Rama.
"Aunty .. udah kenyangggg" ucap Sachi.
"Minum ya .." kata Izza sambil menyerahkan botol air mineral ke Sachi.
Mang Ujang juga sudah selesai makan, hanya tinggal Rama yang belum selesai.
"Main ke playground yuk aunty" ajak Sachi.
"Sama Mamang aja ya.. sekalian nyari angin. Kasian kan Ayah Rama masih makan, siapa tau mau minta disuapin sama aunty Izza" goda Mang Ujang.
"Ayah kaya anak kecil aja, masa mau minta suapin" ucap Sachi sambil ketawa kecil.
Mang Ujang buru-buru mengajak Sachi main ke playground. Izza ga enak juga harus berduaan sama Rama. Dia pun pindah ke bangku yang tadi diduduki oleh Sachi.
"Itu yang tadi penggantinya Mba Gita, dia akan jadi Sekretaris di Abrisam Group mulai Senin ini" jelas Rama.
"Kayanya orangnya gercep, cocok sama tipe Kak Rama yang dinamis dengan mobilitas yang tinggi" jawab Izza.
"Semoga ga salah pilih" ucap Rama.
"Kenapa tadi ga menyanggah ucapan Mba Rida?" tanya Izza penasaran.
"Yang mana ya? apa yang harus disanggah? memang Mamanya Sachi cantik kok. Jangan ge er ya .. bukan kamu yang dimaksud" jawab Rama santai.
"Tapi kan konteksnya sekarang yang dia maksud tuh Izza. Dia kan ga kenal sama Mamanya Sachi. Emang Kak Rama ga malu dibilang sudah punya istri?" ujar Izza.
"Daripada malah nyinyir punya anak ga punya istri, kan lebih baik dibilang punya anak dan istri. Apa jangan-jangan kamu ngarep jadi istri saya?" balik Rama sinis.
Izza malas buat menjawabnya.
.
"Oh itu Boss kamu yang baru?" tanya Ibunya Farida.
"Iya Bu ... dia lagi makan bareng istri dan anaknya" jawab Farida.
"Keliatannya masih muda-muda ya, tapi anaknya udah besar" kata Ibunya Farida.
"Namanya orang kaya Bu, perawatan di dokter paling canggih sama suntik ini itu kan bisa keliatan awet muda" sahut Farida.
"Tapi kayanya lagi berantem tuh .. dari tadi keliatannya cemberut aja istrinya" pikir Ibunya Farida.
"Makanya tadi Rida buru-buru pamit, takut istrinya cemburu kan repot" lanjut Farida.
"Harusnya istrinya tuh nrimo, kurang apa coba suaminya, tampang lumayan, jabatan mentereng, harta jangan ditanya deh .. mau apa juga pasti dikasih. Suami kaya Boss kamu itu bisa lirik kanan kiri kalo ga dilayani dengan servis memuaskan di rumah" papar Ibunya Farida.
"Udahlah Bu .. ga usah komenin rumah tangga orang, mungkin mereka lagi ribut kecil, nanti juga mesra lagi" kata Farida.
.
Rama memanggil pelayan untuk meminta bill, kemudian meletakkan uang diatas bill tersebut. Pelayan menghitung kembali.
"Ambil aja kembaliannya" ucap Rama.
"Terima kasih Pak" jawab pelayan.
Izza mengambil tas nya dan bersiap berdiri. Tiba-tiba kakinya terasa kram dan berdiri ga seimbang dan hampir jatuh.
"Aduhhhh .... " pekik Izza pelan.
Untung saja Rama yang ada didepannya sigap menahan tubuh Izza jadi ga sampe terjatuh. Kini posisinya tangan Izza ada dibahunya Rama dan tangan Rama mendekap pinggangnya Izza.
"Tuh liat kan Bu, liat aja .. namanya pasangan masih muda, ga dimana-mana pelukan mah jalan terus, ga ada perikejombloannya nih Pak Boss... hehehe" ledek Farida.
"Iya nih .. jadi ingat jaman masih muda, bawaannya mau manja-manjaan mulu sama Bapak" ucap Ibunya Farida malu-malu.
.
"Waduh Mas Boss... kaga kenal tempat nih asal aja megang pinggangnya Neng Izza. Efek teh talua belum ilang kayanya. Ditambah tadi makan steak, daging kan bisa buat panas juga.. ga beres nih" ucap Mang Ujang.
"Mang .. Mang ... Ayah sama aunty lagi apa? kok pelukan?" tanya Sachi dengan polosnya.
.
"Kenapa?" tanya Rama.
"Kaki keram... " jawab Izza.
"Duduk dulu" saran Rama yang membantu Izza untuk duduk.
Izza duduk, Rama langsung jongkok untuk memeriksa kakinya Izza. .
"Betis ya?" tanya Rama.
"Iya..." jawab Izza sambil spontan memegang pundaknya Rama karena sakit.
"Regangkan ototnya dulu ya, maaf saya usap untuk membantu biar rileks" kata Rama sambil mengusap betisnya Izza dari rok bagian luar.
Izza masih kesakitan karena terasa betisnya ketarik. Cengkraman dipundaknya Rama juga makin kuat.
"Sekarang coba berdiri, terus letakkan berat badan dikaki yang kram dan tekuk lututnya sedikit" perintah Rama.
Rama membantu Izza berdiri, tangan Izza masih aja dipundaknya Rama. Sepertinya kedua makhluk ini sama-sama ga sadar kalo tangannya Izza berada disana sejak tadi.
"Kenapa Mas Boss?" tanya Mang Ujang.
"Kram" jawab Rama.
"Emang abis ngapain sampe kram begitu?" ucap Mang Ujang.
"Aunty tadi banyak jongkok sih.. Sachi aja kalo jongkok lama-lama kakinya sakit" kata Sachi.
"Ngapain kamu jongkok?" tanya Rama ke Izza.
Karena sudah agak enakan, mereka memutuskan segera menuju mobil.
"Mang.. pegangin Sachi, saya mau bantu Izza jalan" ucap Rama.
"Kalo dibalik aja boleh?" tawar Mang Ujang.
Rama cuma menatap Mang Ujang tanpa ekspresi.
"Ya kali aja boleh ... ini kan cuma saran, disetujui boleh, ga disetujuin juga gapapa. Yuk Sachi kita ke mobil" ujar Mang Ujang yang langsung menggandeng tangannya Sachi.
.
"Kamu pegang tangan saya aja kalo masih susah jalan" tawar Rama.
"Gapapa Kak?" tanya Izza.
"Ya gapapa .. bisa jalan kan?" ujar Rama.
"Bisa Kak ... tapi pelan-pelan" jawab Izza.
Izza memegang lengan kanannya Rama. Rama juga berjalan pelan mengimbangi langkah Izza.
"Maaf ya Kak.. jadi merepotkan" pinta Izza.
"Kita langsung balik aja ke Hotel" ajak Rama.
"Jangan Kak.. kasian Sachi, kan udah dijanjiin mau liat Monas" ucap Izza.
"Terus kaki kamu gimana?" tanya Rama.
"Nanti coba dipijit-pijit kalo udah di mobil" jawab Izza.
"Kayanya saya punya deh krim buat otot, biasanya saya bawa di tas olahraga, nanti dicari dulu" kata Rama.
Sesampainya di mobil.
"Sachi duduk depan dulu sama Mang Ujang, Ayah mau obatin kakinya aunty Izza" perintah Rama.
Sachi masuk ke pintu bagian depan. Mang Ujang memasang sabuk pengaman buat Sachi. Setelah Izza masuk ke mobil, Rama menuju bagasi belakang untuk mencari krim untuk otot. Kemudian masuk ke mobil dan duduk sebelah Izza.
"Coba lurusin lagi kakinya, sini saya bantu kasih krimnya" kata Rama.
"Ga usah Kak .. saya oles dan pijit sendiri aja" jawab Izza ga enak hati.
"Inikan kategori darurat, lagian ada Mang Ujang segala, ga mungkinlah saya neko-neko sama kamu di mobil" kata Rama rada nyolot.
"Ya udah sih Mas Boss .. jangan maksa, orangnya mau ngobatin sendiri ya biarin aja. Mungkin malu atau ga enak hati kalo dipijat orang" ingat Mang Ujang.
Rama akhirnya diam. Dia memperhatikan Izza yang menggulung celana inner yang ada dalam roknya. Kemudian mengoles krim secara perlahan. Dipijat betisnya pelan-pelan.
Rama langsung memalingkan wajahnya saat Izza mendapati Rama sedang melihat kakinya.
"Fokus Rama... fokus.. dia adik dari orang yang sudah membunuh Mba Nay, jangan lupa akan janji sama Mba Nay kalo akan menjebloskan pelakunya selama mungkin didalam penjara. Kalo perlu semua keluarganya membayar mahal atas penderitaan Mba Nay... salah satunya Izza" kata Rama penuh dendam kesumat.
.
Monumen Nasional atau Monas adalah ikon Kota Jakarta yang tersohor. Tugu Monumen Nasional ini berdiri pada bulan Agustus tahun 1959. Peresmiannya oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1961. Kemudian Monumen Nasional mulai terbuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tujuan berdirinya Tugu Monas adalah untuk mengenang dan mengabadikan perjuangan Pahlawan Revolusi Indonesia. Selain itu, Monumen Nasional juga sebagai wahana membangkitkan semangat patriotisme bagi generasi sekarang dan dimasa yang akan datang. Monas memiliki gaya bentuk bangunan dengan ciri khas unik. Sesuatu yang paling dominan saat melihat Monas adalah tugu api yang seolah tak pernah padam. Api yang terletak diatas tugu melambangkan semangat pejuang bangsa Indonesia yang tidak pernah surut. Sedangkan lidah api yang ada diatas tugu Monas terbuat dari perunggu yang berlapis emas mencapai lima puluh kilogram.
Rama mengajak untuk melihat atraksi air mancur, terbuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu malam tanpa biaya apa pun. Dalam satu hari biasanya air mancur menari hanya berlangsung sebanyak dua sesi. Sedangkan durasi pada setiap sesinya selama 20 - 30 menit. Dengan sesi pertama pukul 19.30 WIB dan sesi kedua pukul 20.30 WIB. Setiap sesi pertunjukan air mancur menari ini akan diiringi beberapa lagu nasional dan lagu daerah. Lagu tersebut berbentuk instrumental hasil aransemen musisi Addie MS dengan PT Garuda Indonesia sebagai pemilik hak cipta. Pada setiap gerakan air, akan menyesuaikan alunan musik sehingga terlihat seperti sedang menari. Selain itu, air mancur menari juga memiliki lampu yang berwarna-warni dan tembakan laser yang menjadikan atraksi ini sangat indah.
Sambil menikmati malam ini, Rama memperhatikan sekeliling. Sepertinya tidak semua orang Jakarta asli. Terdengar percakapan dengan bahasa daerah dengan rupa-rupa dialek, ada juga beberapa pengunjung dari luar negeri walaupun hanya ada dua orang saja.
Sachi sangat amazing melihat air mancur yang meliuk-liuk, sampai dia loncat kegirangan. Mang Ujang memperhatikan gerak-gerik Sachi.
"Udah oke kakinya?" kata Rama sambil memperhatikan air mancur.
"Alhamdulillah.. krimnya hangat, jadi agak enakan" jawab Izza.
"Kata Sachi tadi kamu banyak jongkok, ngapain lama-lama jongkok?" ujar Rama.
"Nyuci Kak" kata Izza singkat.
"Emang ga pake mesin?" tanya Rama lagi.
"Rusak Kak" jawab Izza lagi.
"Ga di servis?" lanjut Rama.
"Udah Kak, tapi rusak lagi, sudah harus ganti baru kata tukang servisnya" adu Izza.
Rama merekam tingkah polah Sachi yang tertawa bahagia melihat air mancur.
"Anak-anak itu ga ada beban ya Kak.. bisa tertawa kegirangan hanya dengan melihat sesuatu yang simple" ujar Izza.
"Ya ... melihat dia menikmati hidupnya, adalah sesuatu yang berharga buat saya" lanjut Rama.
"Kak ... gimana kabarnya Lilis setelah tau Mba Gita pelakunya?" tanya Izza.
"Dia ingin ketemu sama Mba Gita, tapi kan sedang ga bisa dijenguk" jawab Rama.
"Iya ... Izza aja terakhir kali cuma bilang kalo mobil sudah dijual. Izza juga udah ketemu sama pengacaranya dan menyerahkan uang yang Mba Gita suruh. Kata polisi selama sebulan ini ga bisa dijenguk karena dalam masa rehabilitasi dari kecanduan, tapi boleh titip barang atau makanan untuk Mba Gita" jelas Izza.
"Ga usah dibahas dulu masalah hukumnya Mba Gita, kepala rasanya mau pecah mikirin kasus ini" potong Rama.
"Ayah ... Ayah ... pokoknya Sachi happy ... i love you Ayah" teriak Sachi sambil berlari menuju Rama dan mencium pipinya Rama.
"I love you more .. more and more" jawab Rama.
"Ayah memang terbaik.. makasih ya Ayah udah ajak Sachi liat air mancur. Lucu airnya joget-joget" kata Sachi sambil mengikuti liukan dari air mancur.
Tawa riang Sachi menjadi pelepas kepenatan bagi Rama. Izza pun senang melihatnya.
"Begini amat ya jadi jomblo .. udah mah tempatnya asyik banget buat pacaran, eh pacarnya belum ada lagi. Mana Mas Boss, Neng Izza sama Sachi keliatan kaya keluarga kecil bahagia.. tambah deh rasanya jiwa ini ingin meronta. Wahai para mantanku.. dulu kita jalan searah, kini hanya tinggal sejarah. Kalian sudah menemukan sosok penggantiku, sedangkan aku masih sibuk mencari yang sepertimu" ungkap Mang Ujang berpuitis.