HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 55, Secret



Benar apa yang dikatakan oleh oleh Haidar. Sachi menemukan sosok seorang Ibu dalam diri Izza, jadinya ia selalu merengek ke Rama untuk bertemu bahkan menelpon Izza setiap hari. Kalo ga diturutin pastinya Sachi akan ngambek dan marah. Mau ga mau ya Rama mengabulkan semua permintaan Sachi.


Semakin besar Sachi malah susah untuk nurut setiap kata-kata Rama. Sifat keras kepalanya hanya bisa dilunakkan oleh Izza.


Izza pun berusaha menghindari untuk bertemu Sachi, karena dengan bertemu Sachi dia harus siap bertemu sama Rama. Kalo sekedar telepon di malam hari biasanya masih diangkat tapi membatasi waktu telepon.


Anak yang tumbuh tanpa sosok Ibu dapat membuat anak tumbuh dengan perasaan tidak aman dan kehilangan rasa nyaman. Perasaan ini akan berdampak pada psikologis dan sosial disegala tahap perkembangan anak saat tumbuh menjadi dewasa.


Sejak awal kehidupan seorang anak, Ibu adalah sosok yang sangat penting dan sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya. Kurang mendapat figur Ibu dapat memiliki konsekuensi besar pada anak. Anak mungkin mengalami perasaan kesepian atau tidak berharga, karena anak tidak mendapatkan perawatan dan kasih sayang yang dibutuhkan dan dapat memicu ketidakseimbangan emosi, rendah diri bahkan kurang motivasi. Walaupun hal ini tidak bisa dianggap sama rata, terkadang ada beberapa kasus yang berbeda.


Meskipun ini jauh dari kata mudah, tetapi seorang wali (pengganti sosok orang tua) semestinya dapat memenuhi peran dari Ibu dan Ayah. Kebijaksanaan, pengertian dan kasih sayang sangat penting untuk diberikan.


.


"Udah Mas bilang kan, kalo Sachi merasa nyaman sama Izza, maka dia akan terus memburu Izza untuk jadi Ibunya. Kamu pun harus tegas menyikapinya, jangan nanti Sachi sudah terlanjur jatuh cinta sama sosok Izza, tapi kamu dan Izza punya jalan masing-masing, bukankah kamu nanti malah menghancurkan perasaan Sachi?" ujar Haidar. "Maksud Mas apa ya? jangan bilang kalo Rama harus menikahi Izza. Itu bukan solusi Mas" jawab Rama.


"Mas ga bilang kalian menikah dan menjadi orang tua utuh buat Sachi, tapi daripada semua jadi makin runyam buat kalian bertiga, ya lebih baik cepat cari penyelesaiannya" saran Haidar.


"Udah Rama bilang kaya gitu, tapi Izza sibuk aja dan Sachi ga pernah mau ngerti. Makin gede makin keras kepala tuh anak" ujar Rama.


"Kaya kamu lah, emang bisa dulu dibilangin sama orang? keluar masuk Polsek aja kerjaannya. Sachi udah butuh seorang Ibu, ga ada pilihan selain kamu menikah. Atau ekstrimnya .. kamu serahkan Sachi ke keluarga Ibunya. Mungkin aja kan keluarga disana lebih utuh dibandingkan keluarga kita yang semua lelaki" saran Haidar lagi.


"Kemana saya harus kembalikan? ke makam? Keluarga Mamanya Sachi itu menjadi korban dalam peristiwa kebakaran Mas" kata Rama rada emosi.


"Inalillahi wa innailaihi rojiun... kapan itu kejadiannya?" tanya Haidar yang memang ga tau tentang hal ini.


"Ya sekitar setahun sebelum Sachi lahir" jawab Rama.


"Terus Mamanya Sachi selamat seorang diri dari peristiwa itu?" tanya Haidar.


"Ya" jawab Rama.


"Siapa Sachi?" pertanyaan yang menohok dari Haidar.


"Sachi ya Sachi ... Apa yang mau Mas tau tentang dia?" tanya Rama menantang.


"Apakah ada hubungan antara Sachi dengan keluarga kita?" ucap Haidar ingin tau.


"Ada" jawab Rama mantap.


"Anak siapa dia?" tanya Haidar memburu.


"Secara hukum dia anak Mamanya yang sudah tiada" ujar Rama masih muter-muter.


"Anak kamu, Mas atau Papi?" tembak Haidar.


Rama memperhatikan tiap gestur dari Haidar, ada rasa ingin tau yang besar dalam diri seorang Haidar.


"Mas ... Sachi anak siapa itu udah ga penting lagi. Ga mengubah semua jalan cerita yang terjadi. Rama sudah dalam tahap menerima semua ini Mas" jawab Rama dengan santainya.


"Kenapa menutupi identitasnya Sachi?" kata Haidar mulai kesal sama tiap jawaban Rama.


"Sachi makin lama akan makin besar, Rama ga mau dia merasa berbeda karena di aktenya hanya ada nama Mamanya. Pasti dia akan menanyakan siapa Papanya. Ijinkan saya bercerita tentang Mamanya Sachi ke Mas. Saya harap Mas bisa mengingatnya, karena kesimpulan yang akan Mas dapatkan itulah jawaban siapa Sachi" tukas Rama.


"Silahkan kamu cerita, Mas lagi santai kok" jawab Haidar.


"Beberapa tahun yang lalu, ada dua anak manusia yang dimabuk cinta. Hubungan profesional kerja berujung di ranah asmara. Sang wanita mencoba menghindar karena cukup tau diri siapa dia, dari keluarga sederhana yang jelas jauh berbeda dengan Sang pria. Hidup pas-pasan membuat dia berjuang membantu kedua orang tuanya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Tapi apa dayanya ketika cinta manis mencubit hatinya. Hubungan backstreet tapi tanpa status dilakoni keduanya. Hingga peristiwa kebakaran itu terjadi, menghancurkan hidupnya tanpa sisa. Pihak yang berkompeten sudah merilis jika kebakaran tersebut adalah murni konsleting. Hanya Sang pria yang mengulurkan tangannya untuk membantu sang wanita melanjutkan hidup disaat itu. Hingga akhirnya mereka terlarut dalam suasana dan lupa kalo mereka belum menikah. Mereka melakukan hubungan suami-istri tanpa dipaksa dan memaksa, murni karena saling cinta. Sang pria seakan lupa kalo statusnya sebagai tunangan orang. Tapi mereka akhirnya memutuskan untuk nekat menikah tanpa restu orang tua, harapannya agar bisa menebus kesalahan yang sudah mereka lakukan. Dihari pernikahan, Sang pria ga pernah sampai ditujuan untuk mengucapkan ijab kabul. Seketika Sang wanita collaps dan dibawa ke Klinik. Disanalah diketahui kalo ternyata Sang wanita telah mengandung buah cinta mereka. Sang pria mengalami kecelakaan hebat yang hampir merenggut nyawanya. Alhamdulillah dia masih hidup hingga hari ini, walaupun sebagian memorynya telah hilang. Sachi lahir bersamaan dengan waktu yang sama ketika Papa biologisnya menikah dengan tunangannya. Mamanya Sachi mengalami pendarahan hebat hingga nyawanya tidak bisa terselamatkan. Bayi merah itu akhirnya Rama bawa ke rumah ini dan dibesarkan disini" cerita Rama.


"Kenapa kamu amat mengenal Mamanya Sachi?" ucap Haidar.


"Siapa yang ga kenal Mba Nay... Papi, Mba Mentari, Mas Haidar bahkan Rama yang cuek pun kenal siapa dia. Sekarang Mas udah bisa ingat kisah yang baru Rama ceritakan?" tanya Rama.


Haidar menggeleng.


"Sachi anak Mas Haidar ... Sang pria itu Mas Haidar dan Sang wanita itu Mba Nay" ucap Rama tanpa tedeng aling-aling.


"APAAAA??????" jawab Haidar kaget.


"Cukup jelas kan Mas? Mamanya Sachi adalah Mba Nay, sekretaris Mas Haidar saat pertama kali kerja di Abrisam Group" jelas Rama.


"Ga ... Ga mungkin ... kamu mengarang cerita. Sekretaris saya ya Mba Gita. Lagipula antara Mas dan Anin itu saling mencintai, ga mungkin Mas berselingkuh sama wanita lain. Bahkan kami sudah tunangan selepas Mas lulus SMA, ada kok foto dan videonya" kata Haidar mencoba menolak kebenaran.


"Ya benar ... Mas dan Mba Anin memang bertunangan, tapi Mas yang mengkhianati pertunangan Mas sendiri dengan main hati dengan wanita lain. Sekarang jika ucapan saya Mas sangkal ... ga usah lagi membahas Sachi. Biarlah Sachi jadi anaknya Rama selamanya. Ga usah lagi menanyakan jati diri Sachi dan stop sampai disini pembahasannya. Karena akibat perbuatan Mas, Rama pun turut jadi korban, ga hanya Mba Nay dan Sachi" ucap Rama.


Haidar seperti kena mental, tubuhnya bergetar, kepalanya pusing dan rasanya dunia berputar, hingga ia rebah pingsan di sofa ruang keluarga.


"Mas ... Mas ..." panggil Rama rada panik.


Pak Isam dan para pekerja langsung datang menghampiri Rama. Mereka membantu mengangkat tubuh Haidar menuju mobil.


Secepat kilat Rama menyambar jaket dan dompetnya kemudian menuju garasi mobil.


"Haidar kenapa bisa pingsan kaya gini?" tanya Pak Isam.


"Nanti aja Pi ceritanya, sekarang bawa dulu ke Rumah Sakit" kata Rama buru-buru.


Rama dan Pak Isam yang mendampingi Haidar menuju Rumah Sakit.


Haidar langsung ditangani begitu sampai di IGD. Dokter memeriksa kondisi vital dari Haidar.


"Apa ada riwayat penyakit tertentu?" tanya dokter ke Rama.


"Beberapa tahun yang lalu mengalami kecelakaan dan sebagian memorynya hilang. Sudah pernah operasi penggumpalan darah disekitar otak dan pasang pen di kaki dan tangan" jawab Rama.


"Ada tekanan pikiran seperti stress atau lainnya sehingga pasien mengalami kondisi seperti ini?" tanya dokter lagi.


"Stress sepertinya dok, banyak yang beliau pikirkan" jawab Rama dengan lancar.


"Saya akan Konsul dulu ke dokter syaraf untuk menentukan apakah pasien perlu dirawat inap atau bisa pulang" kata dokter.


"Langsung rawat aja dok, kami khawatir malah kalo dibawa ke rumah. Pernah seperti ini, karena penanganan telat, akibatnya sampai rawat inap selama sebulan lebih saat di Malaysia" jelas Rama.


"Ok baik, silahkan diurus kebagian administrasi rawat inap ya, tapi sebelum pasien siuman dan kondisi membaik, kami belum bisa memindahkan pasien" tambah dokter IGD.


"Baik dok" jawab Rama.


Sejam kemudian, kondisi Haidar sudah lebih baik dan dipindahkan ke kamar rawat inap VVIP. Haidar diminta beristirahat dengan baik malam ini.


"Apa yang buat dia jadi stress?" tanya Pak Isam.


"Mengetahui kebenaran cerita tentang Sachi" jawab Rama tanpa beban.


"Kenapa harus kamu buka disaat yang ga tepat? Papi kan pernah bilang, kita konsul dulu ke dokter sebelum menyampaikan hal ini" ingat Pak Isam.


"Kapan waktu yang tepat itu Pi? menunggu sampai Sachi besar?" kata Rama.


"Harusnya kamu bisa sabar, toh Sachi aman dalam keluarga kita. Papi juga sudah bisa menerima kehadirannya menjadi bagian dalam keluarga kita" omel Pak Isam.


"Sudah saatnya Sachi dapat tahta tertinggi dalam keluarga Pi... Diakui sebagai anak pertama, cucu pertama, keponakan pertama... semua keluarga dan kolega hanya tau kalo Sachi anak angkat Rama. Sampai kapan Rama akan digunjingkan semua orang karena dianggap lelaki brengsek yang membuat seorang wanita hamil diluar nikah dan dengan terpaksa menerima anak itu karena dibuang oleh keluarga Ibunya. Rama udah coba terima Pi. Kalo omongan saudara dan tetangga, bisa Rama bersikap masa bodoh, tapi pertanyaan Sachi makin hari makin bikin pusing. Sachi mulai paham kalo Mamanya udah meninggal, lalu tiap dia tanya mana Papanya, siapa namanya dan dimana sekarang dia berada ... apa yang harus Rama jawab? Bilang Papanya meninggal ga mungkin, bilang Papanya pergi pun malah akan panjang lagi pertanyaan dari Sachi. Bahkan Rama belum pernah bilang siapa nama Papanya" alasan Rama.


"Kamu kalo memutuskan sesuatu itu serba buru-buru, ga dipikir panjang dulu. Kalo kaya gini kan kita semua jadi repot. Anak Papi hanya tinggal dua, Papi ingin kalian sehat dan bahagia. Apa yang kamu lakukan ini bisa berbahaya untuk Haidar" harap Pak Isam.


"Pi ... sampai kapan Mas Haidar ga kita pancing ingatannya? Papa dan anak ini harus saling kenal dan selayaknya orang tua dengan anak. Sebaiknya Papi pulang aja, Rama yang jaga Mas Haidar" kata Rama.


"Iya ... tadi Papi udah telepon orang rumah buat jemput Papi kesini" jawab Pak Isam.


"Iya.. tadi Rama juga minta dibawakan laptop" ujar Rama.


"Kamu juga jaga kesehatan, kerja kok ga ada liburnya. Emang kamu ga cape?" nasehat Pak Isam.


"Terkadang juga libur kok Pi ... pokoknya Papi ga usah mikirin Rama. I'm good .. " ucap Rama menyakinkan Papinya.


"Makasih ya udah jadi anak yang baik sekarang" kata Pak Isam.


"Pi ... kini saatnya Rama berbakti ke Papi. Setelah puas senang-senang saat remaja dulu. Perusahaan kita harus maju lagi Pi, banyak yang bergantung dilini usaha yang kita punya, kalo bukan Rama siapa lagi?" tukas Rama.


"Yang penting kamu bisa jaga kesehatan" ingat Pak Isam.


💐


Malam ini Mang Ujang ga bisa tidur, mendapati kenyataan kalo wanita yang rencananya mau digebet malah besok mau dilamar orang, mana yang ngelamar sepupunya sendiri.


"Jang ... dari pulang kok banyak diam, aya naon?" tanya Ambunya Mang Ujang.


"Kok Ambu ga bilang kalo Hesti mau dilamar ku Imam?" sesal Mang Ujang.


"Jodoh" jawab Ambunya Mang Ujang.


"Imam teh mapan kerjana, rajin ibadahna, sopan santun jeung dewasa pikiranna. Atuh wanita mana yang bisa nolak?" kata Ambunya Mang Ujang.


"Ujang juga mapan, dewasa, sopan, rajin menabung dan ga sombong, mana plus ganteng pula," sahut Mang Ujang dengan mimik sedih.


"Ceurikkkkk..." goda Ambunya Mang Ujang.


"Ambu mah ... anak sedih atuh dihibur, malah diketawain" ucap Mang Ujang.


"Kamu teh supirna Aa' Rama, pasti sering ketemu wanita cantik, minta atuh kenalin ke kamu satu aja" ide Ambunya Mang Ujang.


"Cewe Jakarta temannya Mas Boss itu kelas kakap semua. Ini rumah kita sama seisi-isinya masih kalah sama harga tas yang mereka pakai. Mana diliat cowo kaya Ujang gini" ucap Mang Ujang.


"Masa ada harga tas lebih mahal dari harga rumah?" tanya Ambu ga percaya.


"Malah ada yang harganya milyaran" jawab Mang Ujang.


"Atuh ga sayang uang segitu buat beli tas? memang mau tidur dalam tas? masak dalam tas? mandi dalam tas?" tanya Ambu masih heran jika ada harga tas sampe milyaran.


"Kalo mereka mampu beli tas milyaran, berarti udah punya rumah lebih dari harga tas. Jadi pasti bisa nyenyak tidur di kasur mahal, bisa mandi di betab, bisa masak di dapur yang semua alatnya dipencet doang" jelas Mang Ujang.


"Ulah becanda Jang!!!!" ucap Ambunya Mang Ujang.


"Ambu ... liat teu henpon anu Mas Boss pegang? eta hargana dua puluh genep juta. Kaosna sajuta, topina dalapan ratus ribu, kacamata hiduengna tilu juta, sandalna sajuta" papar Mang Ujang.


"Atuh di pasar kacamata hideung mah sapuluh ribu bagus. Ieu tah henpon bisa selpi cuma salapan ratus ribu. Aa' Rama ditipu eta Jang" jawab Ambunya Mang Ujang.


"Susah jelasinnya deh Ambu ... Mas Boss itu pakenya barang brendid, dari luar negeri, jadi pake ongkosnya mahal, wajar harganya pun mahal. Ditambah belinya pake dollar, ya jadi mahal deh pokoknya" lanjut Mang Ujang sok tau.


"Udah tau ongkos ka luar negeri mahal, atuh ka pasar nu ongkosna murah. Jalan kaki bisa, pake uang rupiah juga bisa. Harga bisa nawar" sahut Ambunya Mang Ujang dengan polosnya.


"Orang kaya mah beda .. maunya yang merek terkenal seantero jagad, kaya kremes, gussi, lubuatin, pradi, ndi ndas... banyak deh pokoknya" jelas Mang Ujang.


"Atuh merek aya didalam teu aya nu liat. Ambu pakai tas teu aya nu tanya merek naon. Emak-emak kenal cuma merek daster kencana biru, pokokna pakai daster itu kesohor, hargana mahal" lanjut Ambunya Mang Ujang.


"Daster kencana biru paling mahal sabaraha? palingan lima puluh ribu" kata Mang Ujang.


"Sembarangan, eta daster sultan, hargana dalapan puluh ribu, beli dua saratus lima puluh ribu" ngotot Ambunya Mang Ujang.


"Yah harga segitu kalo di rumah Mas Boss jadi keset atau buat bersihin kompor" ujar Mang Ujang.


"Aa' Rama orang kaya sekali?" tanya Ambu.


"Sangat kaya ... cari di internet, Abrisam Group itu termasuk konglomerat di Indonesia" kata Mang Ujang.


"Tapi penampilannya biasa .. kaos sama celana trening" ngotot Ambunya Mang Ujang.


"Kan udah dibilang kalo harga kaosnya mahal. Memangnya kalo orang kaya harus pakai jas gitu kemana-mana?" ujar Mang Ujang.


"Atuh artis kan kaya, pakainya rapih-rapih" jawab Ambunya Mang Ujang.


"Ambu tau ga kalau Ujang teh nyupirin Mas Boss itu pake mobil harga berapa?" tanya Mang Ujang.


"Sabaraha?" tanya Ambu penasaran.


"Tiga koma lima milyar ... teknologi terbaru, itu dia pilih yang paling murah, padahal Papi Boss udah mau kasih yang lebih mahal lagi" jawab Mang Ujang.


"Harga mobilnya bisa beli tanah sahektar di kampung" kata Ambunya Mang Ujang.


"Kebayang kan kayanya Mas Boss" ucap Mang Ujang.


"Pantes kamu sekarang kalo kirim uang banyakan, rutin juga tiap bulan, ga kaya jaman dulu" kata Ambunya Mang Ujang.


"Alhamdulillah .. gimana uang saya ga utuh, tempat tinggal sekarang ga bayar, karena diminta tidur di rumahnya. Makan apalagi, yang Mas Boss makan pasti saya juga makan, ada uang tambahan kalo lembur. Pokoknya enak kerja sama Mas Boss, ya tapi resikonya ga kenal waktu dan ga kenal libur" jelas Mang Ujang.


"Disyukuri Jang ... Allah lagi kasih rejeki lebih buat kamu" ujar Ambunya Mang Ujang.