HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 192, Without rain there is no life



"Kita pulang besok pagi" rajuk Izza setelah tangisnya reda.


Izza masih ada dalam pelukannya Rama. Hanya mengadahkan kepalanya kearah wajah Rama. Rama mengusap sisa air mata yang ada diujung matanya Izza.


"Oke.. nanti Kakak coba tanya apa ada kapal besok yang paling pagi" jawab Rama.


"Jauhkan lelaki itu dari Izza. Jangan pernah Kakak coba untuk mempertemukan Izza sama dia" pinta Izza.


"Ya... Kakak hormati semua keputusan kamu" jawab Rama.


"Anggap saja Kakak ga pernah dengar cerita ini. Ga perlu diselidiki dan ga perlu ditindaklanjuti lagi" lanjut Izza.


"Pura-pura tidak mendengar ya ga bisa De, tapi menyikapi dengan bijak bisa. Maksudnya Kakak akan mengikuti segala keputusan kamu dan tetap bersilaturahim dengan Pak Sandi. Terlepas apakah ada hubungan diantara kalian, Pak Sandi sekarang adalah rekan bisnis Kakak. Sekitar seminggu lagi kami akan menandatangani kontrak kerja" jelas Rama.


"Jangan bekerjasama dengan dia. Kakak batalkan saja. Masih banyak perusahaan lain yang bisa Kakak ajak kerjasama" ujar Izza.


"De.. ini bisnis, ga boleh dicampur adukan dengan hal pribadi. Kakak di Abrisam Group sebagai pimpinan, jadi tau mana yang layak diajak kerjasama atau tidak. Kakak harap kamu bisa menghormati pekerjaan Kakak. Percaya deh.. kerjasama dalam pekerjaan, ga akan mengubah keputusan Kakak untuk menghormati keinginan kamu terhadap beliau" ucap Rama panjang lebar.


"Jadi Kakak membela dia? Kakak percaya kalo dia adalah Bapak kandung Izza? lelaki yang sudah merendahkan harkat martabat wanita itu tidak layak untuk diajak berjumpa lagi. Tabiat orang sejatinya tidak akan berubah. Atau memang Kakak terinspirasi jika sudah sukses akan melakukan hal yang sama?" kata Izza sambil melepaskan pelukannya kemudian berdiri menjauh dari Rama.


"Kakak rasa, pembahasan mengenai hal ini kita hentikan dulu. Kamu masih dalam kondisi marah, jadi akan sulit buat kita berbincang mengenai hal yang baru saja kamu dengar. Pembahasan pun jadi melenceng ga jelas. Kakak dan Pak Sandi memang sama-sama lelaki, tapi kamu ga layak menilai semua lelaki itu akan melakukan hal serupa. Selama ini kamu tau bagaimana Kakak tetap ada disamping kamu meskipun masa lalu yang ga mengenakkan. Stop untuk berpikir yang jauh kemana-mana" putus Rama.


"Karena Kakak merasa jijik punya mertua senista itu? atau menyesal menikahi wanita yang asal usulnya ga jelas bahkan bisa jadi Izza ini hasil perzinaan?" tanya Izza.


"Ini bahas apa sih sebenarnya? jangan kita malah jadi ribut karena hal ini. Banyakin istighfar De" jawab Rama sambil duduk di kursi.


"Tapi kan Kakak juga yang membuka ruang untuk dia bertemu sama Izza. Harusnya sebagai suami, Kakak menjalankan tugas untuk melindungi Izza. Ga usah mempertemukan kami. Bukan malah memasukkan kedalam situasi semacam ini. Kenapa ga berbincang dulu sama Izza? Kenapa setiap keputusan selalu Kakak yang memutuskan sendiri? Kakak paham bagaimana hancurnya Izza saat kejadian penculikan dulu. Sekarang Kakak siram lagi cuka diluka yang sama. Setega itu Kakak ternyata. Kakak tau dimasa ini baru saja Izza bangkit untuk fokus membangun keluarga kita" celoteh Izza yang masih tidak bisa terima dengan kehadiran Pak Sandi.


"Maaf kalo kamu anggap Kakak lancang. Tanpa pemberitahuan dan diskusi terlebih dahulu, langsung menyetujui untuk mempertemukan kamu sama Pak Sandi. Saat Kakak mendengar pengakuan beliau, Kakak paham kalo Pak Sandi amat sangat menyesali perbuatannya. Manusia tempatnya khilaf, sepertinya beliau sekarang telah banyak memperbaiki segala khilafnya, kenapa kita tidak kasih kesempatan? De.. Kakak sudah bilang sebelumnya ke Pak Sandi, semua keputusan ada ditangan kamu. Pak Sandi hanya menawarkan tes DNA untuk memperjelas apa kamu anak yang selama ini menghantui pikirannya. Tapi kalo kamu menolak pun, beliau sangat sportif kok. Beliau tau ini pasti sulit kamu bisa terima. Beliau pun ga memaksa kamu menerima kehadirannya sebagai seorang Ayah. So please.. tetap tenang dan jalani hidup kamu seperti biasa saja" papar Rama.


"Terus kalo hasil tes DNA tidak ada kecocokan diantara kami.. apa yang mau dia lakukan? melupakan begitu saja setelah merendahkan Ibu dihadapan Izza?" lanjut Izza yang masih juga belum bisa mengontrol emosinya.


"Bisa ga kita berdiskusi dengan kepala yang dingin? kalo ga bisa malam ini, lebih baik kita tidur dulu, besok pagi kita cari kapal balik ke daratan Jakarta" kata Rama dengan tegas.


"Setelah menjadi biang keladi huru hara ini, Kakak masih bisa kepikiran untuk tidur?" Izza makin menjadi.


Rama langsung terdiam. Sudah malas rasanya menimpali semua ocehannya Izza. Semakin dijawab maka akan semakin jadi ribut.


Rama masuk ke kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci muka kemudian naik ke tempat tidur untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya.


"Kak.. kok malah ditinggal tidur???" protes Izza.


Rama masih diam dan memejamkan matanya.


Izza merasa makin kesal. Dia kemudian mengambil jaket dan duduk di teras kamar yang menghadap kearah pantai.


Menikmati suasana pantai sebenarnya tidak sekedar sunset dan sunrise saja. Pada malam hari pun pantai masih bisa menjadi tempat yang asyik untuk dinikmati. Pantulan sinar rembulan dipermukaan air bak sebuah lukisan alam yang indah.


Izza menatap kearah laut lepas, dilihatnya ombak saling berkejaran. Izza merenungi kisah hidupnya. Sepanjang jalan yang telah dia lewati, sudah banyak cerita yang dia lakoni, meskipun kini hal tersebut hanyalah sebuah memori yang akan dikenang dalam hati sanubari.


Dalam hidup pasti ada hal dan kejadian yang mau tak mau harus kita terima secara ikhlas dan lapang dada. Termasuk saat ini, terasa berat dan tak tertahankan. Sulit menerima sebuah kenyataan pahit bahwa dia diduga sebagai anak hasil hubungan gelap Ibunya dan Pak Sandy, lelaki hidung belang yang hanya tau bagaimana menikmati tubuh wanita sebagai pemuas kebutuhan batiniah semata.


Rasanya Izza ingin memberontak, sulit menerima kenyataan jika Ibunya mempunyai pekerjaan tercela. Ini kali kedua Izza tau bagaimana Ibunya dimasa lalu. Sebuah kenyataan yang meluluhlantakkan hatinya lagi.


Entah apakah saat Izza terlahir ke dunia fana ini, Ibunya masih menekuni profesi yang sama atau tidak. Izza ga bisa mengingkari, tanpa uang dari ibunya, mungkin dia tidak bisa bertahan hidup. Ingin berteriak saja rasanya, agar gejolak dan gemuruh dalam dadanya yang akan meledak bisa tersalurkan dan merasa lega. Tapi Izza masih berpikir rasional, hari sudah malam, para tamu dan warga sudah beristirahat. Jangan sampai dia membuat kegaduhan.


Segera Izza mengusap air matanya dengan tangan. Izza mencoba berpikir lagi, ibunya rela melakukan segalanya untuk keluarga, bahkan menjual harga dirinya pun dilakukan. Toh bukankah sosok Ibu yang Izza kenal adalah wanita pekerja keras dan rajin beribadah. Bagaimana pun masa lalunya, Izza harus bisa menerima takdirnya.


"Apa karena Ibu masih menjual diri sehingga Bapak sering memukul Ibu? pantas terasa keluarga yang aneh, selalu melihat pertengkaran diantara mereka yang berujung pada kekerasan fisik" gumam Izza.


Tanpa Izza sadari, Rama sudah berdiri lama dibelakangnya, memperhatikan gerak geriknya. Rama duduk di lantai tepat di pintu.


"De... untuk apa merutuki Ibu? beliau sudah tidak ada, baiknya kamu do'akan yang terbaik semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya" saran Rama buka suara.


Izza memalingkan wajahnya kearah Rama, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke pantai.


Rama berdiri dan berjalan kearah Izza, kemudian duduk tepat disebelahnya Izza.


"Bukankah kamu juga punya kisah yang hampir mirip tapi dengan versi yang berbeda? bukan Kakak ingin membuka masa lalu, tapi awal kedekatan kita pun semua dirancang oleh keluarga besar Mba Anin kan? kamu ga berpikir panjang.. saat itu yang terlintas hanya menyelamatkan kembaran kamu. Kakak yakin saat itu kamu akhirnya menerima doktrin jika tidak bisa memakai otak untuk berpikir, gunakan tubuh untuk mencapai tujuan. Kamu pasti tau, ketika kamu bisa berhasil menikah dengan Kakak, artinya tubuh kamu sudah diserahkan sepenuhnya ke Kakak, bahkan ga peduli jika kegadisan kamu Kakak renggut bukan? Memang tidak bisa dibandingkan antara menikah dengan terpaksa demi sesuatu dan menjual diri. Maaf kalo Kakak keras bicaranya dan pasti menyinggung perasaan ... ikhlaskan semua De.. tidak ada yang memaksa kamu melakukan tes DNA dengan Pak Sandi, tidak ada pula yang memaksa kamu menerima kenyataan jika Ibu dan Pak Sandi dulunya punya hubungan. De.. bukannya kamu selalu berdo'a ingin punya sosok Ayah yang hilang sejak kamu kecil? memang sudah ada didalam sosok Papi, tapi bukankah ini sebuah bonus kalo kamu tau siapa Ayah biologis? toh keluarga mereka menerima kehadiran kamu kan?" kata Rama.


Izza coba mencerna kalimat Rama.


Keduanya terdiam, sama-sama berpikir.


"Kakak sudah bertemu sama kedua anaknya Pak Sandi. Yang tertua wanita dan yang bungsu lelaki, termasuk sama pasangan masing-masing. Bahkan ide tes DNA ini berasal dari kedua anaknya Pak Sandi. Ini akan dilakukan secara rahasia, jadi tidak akan banyak yang tau. Apapun nanti hasilnya, mereka akan tetap welcome sama kamu Za" jelas Rama.


"Sudah ketemu keluarga pun Kakak ga bilang apa-apa sama Izza. Tega banget sih" rutuk Izza.


Rama kembali diam. Dia tidak mau Izza terus menudingnya sebagai pembela Pak Sandi. Jauh direlung hatinya terdalam, rasanya bahagia jika Izza memang anaknya Pak Sandi. Setidaknya Izza punya keluarga secara biologis.


"Mungkin hal ini yang membuat Izza dan Sachi seperti sejiwa. Apakah karena keduanya hadir saat sepasang insan bercinta tanpa ikatan pernikahan yang sah?" pikir Rama dalam hatinya.


💐


"Lung... mukanya Izza sedih banget kayanya" kata Lexa ketika melihat Izza dan Rama duduk di teras dari balik jendela kamarnya.


Candra ikut melihat kearah jendela.


"Bertengkar kali ya? liat juga deh mukanya Mas Rama juga kaya orang habis bertengkar" lanjut Lexa kepo.


"Buat apa honeymoon kalo ujungnya berantem doang? mungkin mereka lagi diskusi yang serius banget kali. Emang ga boleh ya pasangan membahas sesuatu dengan muka yang serius? dimana-mana kalo berantem pasti jauh-jauhan, lah mereka malah duduk bersebelahan" ucap Candra.


"Honeymoon kok malah bahas yang serius-serius.. adanya stress dan ga bisa enjoy" jawab Lexa sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


"Tiap-tiap rumah tangga kan punya masalahnya sendiri, kita juga pernah seperti mereka, belum saling memahami. Apalagi mereka sedang menghadapi masalah serius tentang program kehamilan kan? setau Alung kalo pasangan yang akan ikut program itu pasti mengalami yang namanya naik turun emosi. Alung percaya kok kalo Rama itu sangat bijak dan menghargai Izza. Bisa jadi kan Rama tidak mau ikut karena tidak mau membuat Izza sakit lahir batin" papar Candra.


"Bisa jadi .. tapi Izza memang tipe pendiam dan nurut banget kayanya sama suami. Liat aja kalo kita berbincang sama mereka, Izza lebih banyak jadi pendengar daripada jadi pembicara" lanjut Lexa.


"Orang pendiam itu bukan berarti dia penurut atau tidak bisa berpikir Cik. Boleh jadi diamnya karena ada kisah masa lalu yang berat atau hal yang membuat dia takut untuk bersuara. Udahlah Cik.. ga usah mikirin pasangan itu, kita habiskan malam ini dengan kemesraan aja. Mumpung dua anak kita sedang sama pengasuhnya semua di kamar sebelah" ucap Candra penuh dengan senyuman nakal.


"Ya ga all out juga Lung.. kan tadi udah, mentang-mentang habis puasa empat puluh hari.. terus minta tambah mulu" kata Lexa.


"Itulah Cik.. kenapa saat sekolah dulu, Alung paling susah pas belajar pengurangan" ujar Candra serius.


"Masa anak teknik kesusahan belajar pengurangan? itu kan matematika dasar" tanya Lexa lebih serius lagi.


"Ya.. karena bersama Acik semua jadinya serba kurang... kurang waktu, kurang jatah, kurang kasih sayang... pokoknya serba kurang deh" rayu Candra.


"Masih aja pake gombalan gaya kuno Lungggg.. nih ya Acik bilangin... cintaku simpel tanpa rumus, tapi pake hapalan. Karena cintaku gak terhitung dan bakal aku ingat sampe kapanpun" kata Lexa.


"Widih berattt... pakenya logika matematika.." ledek Candra.


"Ketularan Alung nih otak.. jadi jago ikutan ngegombal .. hahahaha" sahut Lexa.


"Kan sudah sering ditransfer ilmu" sombong Candra.


"Kapan Alung transfer ilmunya?" tanya Lexa.


"Setiap saat lah.. emang ga ngerasa kalo selama ini Alung banyak kasih nasehat dan contoh bahkan arahan?" kata Candra.


"Iya juga sih ya..." sahut Lexa.


💐


"Kita istirahat dulu ya De... pelan-pelan kita pikirkan jalan terbaiknya apa. Sekarang kita sudah dalam kondisi emosi yang ga stabil, lelah, ngantuk dan pastinya sulit untuk bisa berpikir jernih" ajak Rama untuk masuk kedalam kamar.


Keduanya berjalan menuju kamar mandi untuk cuci kaki kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, mencoba untuk memejamkan mata, bahkan Rama memeluk Izza agar Izza merasa aman.


Diciumnya kening Izza berkali-kali sambil diusap punggungnya agar Izza merasa nyaman.


"Ya Allah... harusnya bersyukur diposisi sekarang. Telah diberikan suami yang amat sangat sayang dan selalu melindungi. Telah diberikan juga keluarga besar yang penuh cinta kasih, mertua yang seperti orang tua sendiri, tidak merasakan lagi kekurangan secara materi. Mau apa dan bagaimana sekarang juga mudah untuk didapatkan. Ya Allah.. ampunilah hamba yang tak pernah cukup mengucap rasa syukur. Kenyataan ini sangat pahit ya Allah... berikan hamba jalan yang terbaik menurut Mu ya Rabb" pinta Izza dalam hatinya.


Pelukan adalah tindakan penuh makna dan kekuatan. Meski suami mendekap dengan lembut, istri pasti bisa merasakan getaran yang hangat dalam jiwa maupun raga.


🏵️


Jangan ditanya bagaimana perasaan Pak Sandi malam ini. Berkecamuk jadi satu, ada rasa sedih, gembira, malu, takut bahkan merasa amat sangat bersalah.


Pak Sandi sedang mengadukan segalanya kepada Allah Sang Maha Mendengar. Diatas sajadah yang dibelinya saat umroh tahun lalu, semua tercurahkan dalam tangisnya.


Air matanya sudah cukup mewakili segenap perasaan yang ada dalam dirinya.


"Apakah pantas diri ini menjadi Ayah dari seorang wanita baik yang tidak tau kisah masa lalu? kenapa memaksa Rama untuk mempertemukan kami? bagaimana kalo kami melakukan tes DNA dan ternyata hasilnya tidak identik? Sandyyyy... bodoh sekali... sudah tau kamu brengsek, kenapa harus dibuka kisah orang yang sudah tiada..." sesal Pak Sandi.