HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 117, Home



Ibu Panti Asuhan dan Izza duduk semeja, menikmati sarapannya. Ibu Panti Asuhan mengambil bubur ayam dan jajanan pasar. Izza menikmati nasi kuning lengkap.


"Pada hakikatnya, kita tidak pernah benar-benar memiliki seseorang. Hati dan perasaan bisa saja berubah, bukan hanya pasangan kita, namun juga diri kita sendiri. Cinta bisa hilang karena manusia memang akan terus berubah. Saat itu terjadi, kita harus siap melepaskan, entah karena panggilan Allah atau suratan jalan hidup kita untuk melanjutkan perjalanan hidup ini seorang diri. Tegakkan kepalamu dan kuatkan hatimu Za, jangan takut sama pelakor, tapi fokus sama hubungan kalian sebagai suami istri. Selama dia puas dengan segala yang ada sama diri kamu, insyaa Allah ga akan cari yang lain diluar sana. Berikan perhatian dan kasih sayang semampu kamu bisa. Ikuti semua yang jadi perintahnya selama tidak melanggar aturan agama dan hukum yang berlaku. Ibu lihat Nak Rama ini baik, tapi apa yang tampak dari luar belum tentu aslinya. Karena Ibu hanya mengenal dia sebagai anaknya Pak Isam. Baru beberapa kali bertemu dengan Nak Rama, selama yang Ibu perhatikan, dia cocok sama kamu. Dia juga bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.. kasih sayang, kehangatan keluarga dan materi tentunya. Setelah ini, semoga kamu bisa terus tersenyum Za, dulu kalo mau menangis mencari bahu Ibu, kini ada bahu yang lebih kuat lagi, yaitu suami" nasehat Ibu Panti Asuhan setengah berbisik ke Izza sambil melihat kearah Rama dan Ceu Lilis yang sedang ketawa bersama dengan keluarga Mang Ujang juga.


Izza mendengarkan dengan seksama apa yang menjadi nasehat Ibu Panti Asuhan.


"Ibu yakin kok kamu sudah berada ditangan yang tepat. Main-main ya ke tempat Ibu kalo ada waktu" ucap Ibu Panti Asuhan.


"Insyaa Allah Bu" jawab Izza.


Rama menghampiri Izza, memegang pundaknya Izza kemudian duduk tepat disebelah Izza.


"Bu.. mohon maaf ya ga bisa antar ke tempat tugas yang baru, InsyaAllah jika ada kesempatan waktu, kami main kesana" ucap Rama.


"Gapapa Nak Rama.. pasti sibuk setelah ini ya. Ibu cuma mau bilang titip Izza baik-baik. Kalo ada apa-apa jangan sungkan untuk hubungi Ibu, Izza udah seperti anak Ibu sendiri" tutur Ibu Panti Asuhan.


"Ya Bu" jawab Rama.


"Yang rukun-rukun ya kalian berdua. Sekarang Izza sudah punya keluarga. Ibu jadi lebih tenang" ungkap Ibu Panti Asuhan.


"Nanti Ibu pulangnya diantar sama supirnya Papi, jam berapa ya kira-kira? saya mau koordinasi karena keluarga juga pulang semua hari ini. Maaf bukan mengusir ya Bu ... jangan salah paham" kata Rama.


"Gapapa Nak Rama.. Ibu paham kok, kalau memang tidak ada juga gapapa. Bisa naik taksi saja, kan kami bertiga" jawab Ibu Panti Asuhan.


"Jangan dong Bu .. saya yang ga enak malah. Ibu ini kan sudah seperti Ibu mertua saya, jadi wajib saya pastikan sampai tujuan dengan nyaman. Ga perlu sungkan sama saya Bu, anggap saja seperti anak sendiri. Bukan hanya Izza yang ga punya Ibu, saya pun sama, ga kenal Mami sejak saya lahir" ucap Rama basa-basi.


"Ya Nak.. do'a Ibu selalu tercurah untuk kalian. Izza ... yang nurut sama suaminya, walaupun mungkin kamu sekarang berada ditengah-tengah antara Mba Gita dan Nak Rama, tetap kamu dahulukan suami. Bukan berarti kamu ga sayang sama Mba Gita. Sampaikan salam Ibu buat Mba Gita, maaf ga bisa langsung menjenguk kesana. Karena memang waktunya belum bisa pas" lanjut Ibu Panti Asuhan.


"Ya Bu.." jawab Izza.


Izza memang tidak mau menceritakan tentang kaburnya Mba Gita saat perjalanan menuju tempat rehabilitasi. Hal ini dikarenakan tidak mau membuat Ibu Panti Asuhan jadi kepikiran.


"Sekali lagi titip Izza ya Nak Rama" ucap Ibu Panti Asuhan.


"Ya Bu..." jawab Rama sambil memegang telapak tangan Izza yang ada diatas meja.


Izza diam aja sama perlakuan Rama.


"Silahkan dinikmati ya Bu .. jika masih belum kenyang, bisa ambil lagi, banyak pilihan" tawar Rama.


"Ini udah kenyang kok.. Alhamdulillah enak-enak semua" puji Ibu Panti Asuhan.


"De... kok ga disiapin sarapan sih?" protes Rama.


"Eh iya ya.. Kakak belum sarapan, tadi baru disediain buah sama jus. Maaf ya" kata Izza.


"Ya dimaklumi sih, namanya juga orang baru nikah" ledek Rama sambil tersenyum.


Ibu Panti Asuhan juga ikut tersenyum. Baru aja Izza mau jalan menuju meja prasmanan, Rama menahannya.


"Makan yang ada di piring ini aja dulu, nanti kalo kurang tinggal tambah lagi" pinta Rama.


Izza melihat kearah Rama dengan pandangan aneh.


"Gapapa kan ya Bu.. suami istri makan sepiring berdua" ujar Rama.


"Ya gapapa, malah bagus begitu, berbagi rejeki yang sama. Selain itu menambah kemesraan" jawab Ibu Panti Asuhan.


Rama menyendokkan nasi kemudian menyodorkan ke Izza.


"Jangan bilang udah kenyang deh, kayanya ini baru dimakan sedikit" ucap Rama.


Izza langsung melahap makanan yang ada disendok. Kemudian Rama mengambil lagi dan dimasukkan kedalam mulutnya.


"Ibu pamit ke kamar dulu ya mau siap-siap" ucap Ibu Panti Asuhan.


"Silahkan Bu" jawab Rama.


.


"Ini pengantin bikin ngiri aja deh, pagi-pagi udah makan sepiring berdua, mana makannya disuapin lagi" nimbrung Mas Haidar.


"Namanya juga masih baru Mas" ucap Rama.


"Mau hadiah apa nih dari Mas? paket honeymoon kemana? uang, barang atau apa gitu" tanya Mas Haidar.


"Mau apa Za?" tanya Rama sambil melihat kearah Izza.


"Terserah Mas Haidar aja, masa kado milih" jawab Izza.


"Sekarang daripada Mas yang belikan tapi kamu ga cocok kan sayang. Mending pilih sendiri" jelas Mas Haidar.


"Berapa budgetnya Mas?" tanya Rama ga pake basa-basi.


"Maunya berapa?" tanya Mas Haidar balik.


"Bayarin dekor buat nanti resepsi.. masih cari sponsor nih.. hehehe" jawab Rama ga malu-malu.


"Okelah.. nanti tagihannya kasih Mas aja" ujar Mas Haidar.


"Oh ya Mas ... nanti titip Sachi dulu boleh? saya sama Izza mau staycation dulu di Ancol, kebetulan juga besok pagi ada meeting disana" pinta Rama.


"Dekat amat staycationnya. Tapi jangan bercinta didekat jendela, disana kan langsung laut, bisa nyemplung nanti kalian... hehehe" ledek Mas Haidar.


"Siapa yang dekat-dekat jendela Mas?" tanya Rama ga paham sama ledekannya Mas Haidar.


"Semalam ada yang liat kalian berdua bermesraan didekat jendela. Mbok yo liat-liat dong, jangan bikin polusi mata ... hehehe" kata Mas Haidar.


"Pasti Alex atau Mang Ujang yang liat nih, soalnya hanya dari jendela mereka berdua yang bisa jelas ke jendela kamar Rama" tebak Rama dengan jitu.


"Ga penting lah siapa, yang penting hati-hati. Kamu ga pernah tau dimana musuh bisnis kamu berada, nanti video kamu disebar gimana?" tanya Mas Haidar.


"Kan sama istri sendiri" jawab Rama.


"Kalian kan belum punya buku nikah sebagai sebuah bukti otentik kalo kalian udah nikah" jelas Mas Haidar.


"Iya sih..." jawab Rama.


šŸ’


Riuh rendah suasana siang ini, semua keluarga Pak Isam berpamitan pulang ke Surabaya.


Rama membatalkan niatnya untuk staycation sama Izza karena Rama banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dan semua datanya ada di rumah. Meminta Mang Ujang ambil nanti malah ga paham.


.


Rama batal untuk staycation karena meeting diundur waktunya. Akhirnya diputuskan untuk balik ke rumah saja.


Begitu sampai di rumah, para asisten rumah tangganya Pak Isam langsung memberikan selamat ke Izza dan Rama. Rama langsung naik ke kamarnya, Izza masuk ke kamar milik Mba Mentari untuk meletakkan tasnya.


"Kok ga ikut ke kamar Rama?" tegur Pak Isam.


"Kak Ramanya mau kerja, daripada ganggu. Bapak tau sendiri kan kalo Sachi ngeliat Ayahnya di rumah pasti kolokan, jadinya mending Izza jagain Sachi aja dibawah" alasan Izza.


"Oh gitu .. kirain baru sehari nikah udah ribut sampe pisah ranjang. Jangan panggil Bapak tapi Papi" kata Pak Isam.


"Iya ... Pi .." panggil Izza.


Sachi mengajak Izza main sepeda di taman belakang. Sachi memang anak yang punya energi berlebih, saat di mobil tadi dia tidur, untuk deposit tenaganya.


Rama mendengar gelak tawa Sachi, karena penasaran dia mengintip kearah taman belakang. Terlihat sekali Sachi amat berbahagia, bisa bermain sambil memanggil kata "Mommy" dengan manjanya. Rama tersenyum, karena kebahagiaan sejatinya adalah melihat Sachi bahagia.


.


"Maaf Pak Rama kalau saya mengganggu, tapi klien baru saja memberitahukan akan cancel meeting dengan pihak Abrisam Group, mereka bilang tidak sesuai dengan yang mereka mau" lapor Farida via sambungan telepon.


"Baru saja Pak, saya ditelpon kerjasama tidak akan dilanjutkan" ucap Farida.


"Besok kan tinggal MoU (Memorandum of UnderstandingĀ adalahĀ sebuah pernyataan kesepakatan dalam bentuk resmi dan formal dalam dunia bisnis. Kesepakatan ini biasanya terjadi antara dua pihak atau lebih mengenai sebuah perjanjian kerjasama tertentu.Ā Bukan hanya sekadar perjanjian biasa, yang dimaksud MoUĀ adalah pernyataan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur penting.


Tujuan MoUĀ dibuat adalah sebagai langkah awal dalam proses negosiasi suatu transaksi atau kerja sama bisnis. Hal ini dikarenakan dalam MoU terdapat penjelasan lengkap mengenai apa saja yang diinginkan oleh pihak-pihak yang bersangkutan dalam perjanjian tersebut.Ā Meskipun begitu, MoU bukanlah suatu perjanjian dengan sifat yang terlalu mengikat, dokumen ini lebih bersifat sebagai dokumen prakontrak yang membuat pihak yang terlibat tidak bisa membatalkan perjanjian tersebut begitu saja.Ā Mou memang bukan termasuk dalam dokumen yang dapat ditegakkan secara hukum).


"Sudah kamu tanyakan kepihak sana? ada kompetitor lain yang nikung diakhir sepertinya" kata Rama.


"Untuk hal tersebut, pihak sana tidak bisa membuka, intinya kerjasama tidak bisa dilanjutkan. Saya sudah berusaha menggali tapi pihak sana tetap pada pendiriannya, tidak mau bekerjasama dengan kita" ucap Farida.


"Ada project kita yang sedang berjalan sama pihak mereka?" tanya Rama.


"Ada Pak .. kerjasama renovasi Hotel mereka yang dekat Waterboom di Purwakarta" lapor Farida.


"Ok.. saya coba selidiki dulu. Makasih infonya, besok saya sampai di kantor agak siang, mau ke makam orang tua dulu" ucap Rama.


"Baik Pak" sahut Farida.


.


Rama terlihat santai, biasanya kalo banyak tekanan dia gampang emosi. Dia juga tidak bercerita kepada siapapun tentang pekerjaan yang sedang ada masalah.


Makan malam dilalui dengan suasana kekeluargaan. Semua makan bersama seperti biasa. Memang kebiasaan keluarga Pak Isam, semua asisten pun ikut makan bareng kalo tuan rumahnya makan.


.


Jam delapan malam, Sachi sudah tidur. Besok dia sekolah. Sachi tidur sama Izza di kamar Mba Mentari.


#Kalo Sachi udah tidur, ke taman belakang ya# chat Rama yang masuk ke HP nya Izza.


#Ya# jawab Izza.


Izza merapihkan rambutnya kemudian memakai jilbab instannya. Dia bergegas keluar menuju taman belakang.


Ada Rama tengah berbincang sama Alex. Dengan spontan Alex segera berdiri dan akan meninggalkan Rama berdua saja sama Izza.


"Duduk dulu Lex..." perintah Rama.


Izza duduk di kursi sebelah Rama.


"Saya memang sengaja mengajak Izza juga terlibat dalam diskusi kita, karena kita akan mendengar sudut pandang wanita" ucap Rama.


Baru pertama kali Alex terlihat ga pede.


"Ada apa sih Bang Alex?" tanya Izza penasaran.


"Saya menjodohkan Alex sama seseorang, tapi Alex sepertinya sudah ada yang ditaksir" jawab Rama.


"Terus masalahnya dimana?" ujar Izza.


"Masalahnya saya ga setuju sama pilihan dia" ucap Rama.


"Ini kan hidupnya Bang Alex, kenapa Kak Rama ikut campur? bukan orang tua dan keluarga kan? lagian masih jaman aja jodoh-jodohan" jawab Izza santai.


Alex sebenarnya ingin ketawa mendengar kalimat Izza, terlihat sekali kalo Izza memang akan lebih dominan daryi Rama. Tipe Izza yang berpikiran simple dan gaya bicara yang to the point, bertemu sama Rama yang tipenya ruwet dengan kalimatnya yang rada pedes, membuat lucu kalo melihat mereka sedang berdebat.


"Ini kan demi kebaikan dia" sahut Rama.


"Kebaikan buat Bang Alex atau buat Kakak? karena sejatinya yang tau itu baik atau tidak ya diri kita sendiri" lanjut Izza.


"Sebenarnya sih ga masalah saya mau dijodohkan atau tidak Mba, saya tau kok kalo Boss Rama ini lebih paham tentang saya" kata Alex.


"Ini yang istrinya Kak Rama itu saya atau Bang Alex ya? kok lebih paham tentang Bang Alex dibanding saya" sindir Izza.


"Please ya.. balik ke konteks awal.." ucap Rama.


"Sekarang coba jelasin dulu.. mau dijodohkan sama siapa? alasannya apa? terus Bang Alex suka sama siapa? menurut Bang Alex apakah sudah memenuhinya kriteria atau belum" cerocos Izza yang ingin tau cerita awalannya.


"Alex akan saya jodohkan sama Mba Nur tapi dia sukanya sama Lilis" cerita Rama singkat.


"Terus masalahnya dimana?" tanya Izza.


"Ga ada yang salah sih Mba, menurut Boss Rama.. Mba Nur itu wanita yang baik buat saya. Kalo Lilis kurang baik buat saya" sahut Alex.


"Bang Alex tau kan kalo usianya Mba Nur itu sudah hampir kepala tiga? artinya lebih tua dari Bang Alex" ucap Izza mengingatkan.


"Ya Mba.. saya tau" kata Alex.


"Terus kenapa Kakak jodohin ke Bang Alex? belum tentu juga kan Mba Nur setuju dijodoh-jodohkan kaya gini" ujar Izza.


"Alex itu perlu penyeimbang, Mba Nur lumayan sabar orangnya, keibuan, ya cocok deh pokoknya" ungkap Rama.


"Terus kalo Bang Alex suka Lilis emang kenapa?" ujar Izza memburu.


"Ya ga cocok" sahut Rama santai.


"Apanya yang ga cocok? mereka jalanin aja belum kok bisa-bisanya Kakak menilai mereka ga cocok" tanya Izza.


"Kamu ga ngertilah dunia lelaki" tukas Rama.


"Dunia lelaki yang kaya gimana dulu nih? yang ingin memiliki dua istri atau yang mau having fun diluar sana" Izza benar-benar blak-blakan.


Alex tau kalo ini sebuah sindiran, karena tadi Alex juga melihat kalo Rama sempat becanda yang berlebihan sama Ceu Lilis.


Pelan-pelan Alex bangun dari duduknya dan melipir sedikit demi sedikit meninggalkan pasangan yang lagi berdebat lagi.


.


"Udah deh... Kakak yang ga jelas alasan kenapa Bang Alex ga boleh sama Lilis, kok malah bilangnya Izza yang ga paham. Justru Kakak yang ga paham konsep menjodohkan orang" ungkap Izza.


"Bisa ga sih kita ga berdebat. Saya minta kamu kesini buat dimintai pendapat. Tuh liat sampe Alex aja kabur karena pasti ga enak dengar kita ribut" ucap Rama.


"Kalo wanita yang dicintai Bang Alex itu bukan Lilis, pasti Kakak setuju kan?" tanya Izza.


Rama terdiam. Dia malah meninggalkan Izza di bangku taman.


"Itu orang ya .. udah mah dia yang minta buat kesini, eh sekarang malah ditinggal begitu aja" omel Izza.


Izza kemudian masuk kedalam rumah dan dia menuju kamarnya Mba Mentari. Kaget juga melihat Rama tiduran disebelahnya Sachi, keduanya saling berpelukan.


"Sachi tadi kebangun, saya minta dia tidur lagi. Ga keberatan kan kalo kita tidur bertiga? toh kasurnya besar" info Rama.


"Saya dibawah aja" inisiatif Izza.


"Dingin nanti tidur di lantai, udah sini naik. Tenang aja, saya ga akan macam-macam kok sebelum kita nikah resmi. Saya ga mau merugikan pihak kamu Za. Karena pernikahan siri memang akan lebih banyak pihak wanita yang rugi" ucap Rama.


Dengan agak ragu, Izza naik ke tempat tidur dan masuk kedalam selimut.


"Saya harap kamu ga cemburu sama Lilis" kata Rama.


"Kakak yang harusnya sudah bisa memilah mana yang baik atau tidak. Sekarang ini kan Kakak sudah berkomitmen untuk menikahi saya. Jadi jaga pergaulan dengan wanita lain. Bukan saya cemburu, tapi pikirkan pandangan orang seperti apa" papar Izza.


"Sorry..." akhirnya Rama mengucapkan sebuah kalimat yang sangat sulit terlontar dalam hidupnya.


"Katanya kalo udah di rumah kita tidurnya pisah kamar" ujar Izza.


"Ini karena saya memikirkan pandangan orang, coba deh kamu telaah... apa mereka ga akan bertanya-tanya kalo kita pisah ranjang?" papar Rama.


"Kan bisa alasannya karena kita belum nikah resmi" sahut Izza.


"Iya juga ya ... ide yang bagus tuh.. jadi kalo ada orang rumah yang tanya, itu aja jawaban kita" kata Rama.