HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 156, Forgive



"Mau minum apa Kak?" tanya Izza dengan gerakan bibir dan gerakan tangannya seperti orang sedang minum, karena Izza ga mau mengganggu Rama yang sedang berbicara disambungan telepon dengan seriusnya.


"Kopi hitam tapi jangan manis" jawab Rama dengan gerakan bibir juga.


"Ok" sahut Izza tanpa suara tapi jempolnya dinaikkan.


.


Izza kembali ke kamar setelah membuat kopi, kemudian meletakkan secangkir kopi dan teh manis hangat di meja tempat Rama duduk. Setelah itu, Izza duduk disebelahnya.


Rama langsung membaringkan kepalanya dipangkuan Izza. Speaker HP-nya diaktifkan dan HP diletakkan didadanya, tangannya sibuk menggenggam dan menciumi tangan Izza.


Terdengar percakapan Rama dengan sepupunya di Surabaya yang lagi menggalau karena menjadi korban PHP seorang wanita. Yang bikin tambah nyesek itu karena si wanita tersebut telah membawa uangnya sebesar dua puluh juta rupiah karena alasannya pinjam buat berobat orang tuanya yang sakit. Itu masih diluar beberapa barang yang diberikan sebagai hadiah.


"Welcome to wingko club Bro" ledek Rama dengan logat Jawa dimedok-medokin.


"Yo wingko.. wis kadung tresno jebule mung dianggep konco (udah terlanjur cinta tapi cuma dianggap teman)" jawab sepupunya Rama.


Keduanya pun tertawa.


"Saiki iso ngenye' , wis ra jomblo (sekarang udah bisa menghina, udah ga jomblo)" lanjut sepupunya Rama lagi.


"Hahaha .. combro ae ono isine, masa atimu kosong Bro (combro aja ada isinya, masa hatimu kosong)" ledek Rama makin menjadi.


"Babarblas ra ono empatine Mas Ram" keluh sepupunya Rama.


"Lah.. kowe ra percoyo.. wis tak wanti-wanti kui cewe matre. Judule witing tresno mergo karep dijak blonjo reno-reno (kamu ga percaya, sudah diingatkan itu cewe matre. Judulnya datangnya cinta karena mau diajak belanja macam-macam)" sahut Rama.


"Sak umpamane kowe iso ngrasakke kepriye rasane dadi awakku pasti bakal ngerti opo rasane, sakit lan kecewa (Misalnya kamu bisa merasakan bagaimana rasanya jadi diriku pasti kamu bakal ngerti rasanya, sakit dan kecewa)" lanjut sepupunya Rama.


"Yo wes.. aku arep pacaran sek karo bojoku, mumpung Sachi karo Papane (ya udah.. saya mau pacaran dulu sama istri, mumpung Sachi sama Papanya)" pamit Rama.


Telepon ditutup, Rama meletakkan HPnya diatas meja. Tangan Izza diletakkan oleh Rama diatas kepalanya.


"Pijitin De...pusing nih banyak kerjaan yang ga ontime" adu Rama.


Tangannya Izza memijit kepalanya Rama pelan-pelan.


"Siapa tadi Kak yang telepon?" tanya Izza.


"Prasetyo... anaknya Om Omar. Abis ditipu cewe dia, inget ga waktu terakhir kita ke Surabaya terus ketemu di Mall, yang dia jalan sama cewe, kan udah diingetin. Dari tampangnya aja keliatan cewe matre gitu kok" ucap Rama.


"Diminum Kak kopinya, nanti kalo dingin ga enak" ingat Izza.


Rama langsung bangun dan duduk disampingnya Izza. Menyeruput kopinya perlahan.


"Manis banget De" protes Rama.


"Manis dari mananya sih Kak, gulanya aja cuma sepertiga sachet kaya biasa" jelas Izza.


"Nih coba deh" kata Rama sambil nyodorin gelas ke Izza.


Izza meminumnya dikit kemudian merasakan dengan cermat kopi buatannya.


"Ga manis kok ... pahit ini malah Kak" kata Izza sambil ambil tissue untuk mengelap mulutnya.


"Soalnya yang bikin terlalu manis sih, jadi manisnya turun ke kopi deh" ledek Rama penuh kemenangan.


"Ya ampun... makin garing aja tuh gombalannya. Awas nanti kena bully emak-emak santen community. Kan kata mereka, Kak Rama tuh garing gombalannya kaya kerupuk" canda Izza.


"Yah emak-emak itu segala dibawa-bawa, kaya pada bisa ngegombal aja. Ngegombal tuh butuh otak yang encer dan tingkat keromantisan yang tinggi ... yakin mereka bisa ngegombal? ... hehehe" ledek Rama.


"Beuh.. mereka mah umur boleh lebih senior dari kita, tapi kalo urusan ngegombal .. Raja gombal aja bisa minder sama mereka, bisa salim karena kurang gombal" bela Izza.


.


Izza mengganti baju dengan baju tidur yang dikasih sama Mba Nur, bukan daster tapi setelan kaos yukensi dan celana pendek nan gemes. Kata Mba Nur biar Rama makin tergemes-gemes sama Izza.


Rama sibuk sama kedua laptopnya, serius banget sampe ga melihat tampilan Izza yang nggemesi.


Izza menikmati teh hangatnya sambil menyalakan televisi. Sesekali tertawa melihat acara talk show luar negeri yang memang pembawa acaranya memasukkan unsur komedi ketika menggali percakapan dengan narasumber.


Lama kelamaan, Rama mengalihkan pandangannya kearah Izza, penasaran sama apa yang membuatnya tertawa geli.


"Baju baru De? belum pernah liat" tanya Rama sambil berjalan mendekati Izza.


"Iya.. dikasih Mba Nur tiga setel, yang dua setel itu batik model potongan panjang. Nah yang ini dikasih satu, katanya baju tidur gemes khusus buat dinas malam sama suami" goda Izza.


"Mba Nur patut dikasih bonus nih, beneran gemesin kamu De" puji Rama.


"Jangan bilang disuruh beli model ini yang banyak ya.. ini khusus kalo ga ada Sachi aja" ingat Izza.


Rama memegang rambut Izza yang terikat kuncir kuda keatas. Dibukanya kunciran rambut Izza dan digelung keatas hingga leher Izza terlihat.


Hasratnya Rama untuk segera bermesraan dengan Izza sudah sulit dibendung, dihujaninya leher Izza dengan sentuhan lembut bibirnya Rama. Izza sontak kaget dan kegelian. Izza pun sudah pandai membaca sikon, kalo Rama seperti ini berarti sedang mengajaknya mulai bermesraan.


Televisi dimatikan oleh Izza.


Perlahan-lahan Rama mendorong tubuh Izza agar bersandar disandaran sofa. Rama yang mengatur permainan dengan memulai jurus-jurus yang dia dapat dari teman-teman cowoknya yang sudah nikah.


Pasangan ini semakin dekat secara fisik, sehingga meningkatkan keintiman dan gairah keduanya.


"Mau disini aja atau mau pindah ke ranjang?" bisik Izza menggoda.


Jelas saja Rama makin memanas karena dipanas-panasi oleh Izza.


"Dimana ajalah De ... kita tuntaskan malam ini, ya kalo nanti lanjut di ranjang atau bathub juga boleh" bisik Rama sambil tangannya mulai aktif menggerayangi tubuh Izza.


"Tirainya tutup dulu Kak... nanti ada yang liat" pinta Izza.


Rama memencet remote untuk menutup tirai di kamarnya.


💠


"Buah gohok teh naon sayangku?" tanya Mang Ujang putus asa karena sedari sore Maryam menangis minta buah gohok.


"Ada A'.. kemarin lihat di utube orang lagi makan itu" rengek Maryam.


"Ya Allah.. atuh ngidam yang gampang aja kenapa sih. Bener deh.. Aa' ga tau sama sekali buah apa itu" jawab Mang Ujang.


"Aa' ga sayang ya sama bayi kita?" ujar Maryam.


"Emang rasa sayang bisa dinilai dari buah gohok?" tanya Mang Ujang polos.


"Pokoknya ga mau tau.. Aa' harus cariin" rengek Maryam lagi.


"Ntar Aa' tanya dulu ke orang, mungkin lebih paham kata gimana buah gohok" kata Mang Ujang.


Mang Ujang keluar kamar dan menanyakan buah gohok ke asisten rumah tangga di rumah Pak Isam. Mereka menjawab bervariasi, malah membuat bingung Mang Ujang.


"Gimana ini ya... Maryam ngidam makan buah gohok. Pusing deh pala..." ujar Mang Ujang sambil memijit kepalanya sendiri.


.


Rama yang baru selesai bermesraan sama Izza, keluar menuju balkon kamarnya untuk mengeringkan keringat.


Dilihatnya Mang Ujang lagi duduk didepan Pos security.


"Mang... ngapain udah malam disitu, besok kita jalan pagi loh, nanti alasannya ngantuk" teriak Rama.


Mang Ujang berjalan mendekati balkon.


"Maryam ngidam buah gohok Mas Boss.. ini tanya ke orang-orang malah tambah bikin pusing kepala" adu Mang Ujang.


"Gohok? ada emang nama buah gohok? baru dengar" ucap Rama bingung.


Izza yang mendengar pembahasan Rama dan Mang Ujang segera memakai kimono handuknya yang panjang kemudian memakai jilbab syar'i agar tidak terlalu tampak dia pakai kimono.


"Gohok itu sebutan orang Betawi, di Sunda namanya kupa beunyeur, kebetulan pernah ada teman bawa dan sebutannya macam-macam. Bentuknya bulat tapi agak lonjong. Buahnya menempel pada tangkai. Ukurannya ya sebesar dukuh. Kulitnya kaku berwarna ungu tua atau merah kalo yang masih muda. Dagingnya berwarna putih terasa kenyal mirip manggis, tapi rasanya asem, ya asem seger karena banyak mengandung air. Bijinya kecil dan lonjong dibagian tengah" panjang lebar Izza menjelaskan.


"Ga kebayang Mba.. tau ga belinya dimana?" tanya Mang Ujang.


"Ga tau deh.. coba cari aja ke pasar-pasar, siapa tau ada" saran Izza.


"Itu mah bukan solusi Mba Boss.. ini gimana dong? bisa nangis semalaman nih Maryam kalo ga keturutan" keluh Mang Ujang.


"Pinter-pinter bujuk dulu aja Mang .. bilang besok dicariin ke pasar" ide Rama.


Rama dan Izza kembali masuk kedalam kamar.


"De.. lusa mau keluar kota ya, tolong masakin buat dibawa ya" info Rama.


"Tumben pergi keluar kota ga ngajak-ngajak? udah gitu minta dimasakin pula" kata Izza.


"Kamu kan lusa mau ketemuan sama dosen pembimbing dan teman-teman seangkatan, sebagai wujud terima kasih sama dosen. Udah dibooking juga kan tempatnya" kata Rama.


"Iya.. udah buat dua puluh orang" jawab Izza.


"Menjamu dosen pembimbing tuh harus all out, ga usah dipesan makanannya, biar pilih sesuka hati. Sama beliin hadiah apa gitu yang bagusan, pribadi aja hadiahnya. Kakak minta masakin lauk perlu uang tambahan ga nih?" ucap Rama.


"Ga usah .. mau dimasakin apa?" tanya Izza.


"Nanti Kakak tulis ya apa aja yang dibawa" jawab Rama.


"Oke" jawab Izza.


Rama kembali memeluk Izza kemudian mencium bibir istrinya dengan lembut dan mengulumnya mesra.


"Istriku sayang, ketika kamu mencintaiku, cintailah aku apa adanya ya, jangan harapin kesempurnaan, karena manusia ga ada yang sempurna. Cinta akan indah kalo berpondasikan dengan kasih sayang Sang Pencipta, karena cinta berasal dari-Nya dan cinta yang paling utama adalah cinta kepada Allah. Pengorbanan kamu sangat besar, karena kamu selalu menjaga hati orang yang disayangi, padahal terkadang hati kamu sendiri tersiksa. Sayang, Kakak sungguh mencintaimu dan berharap kamu akan selalu ada disetiap langkah kehidupan kakak, tetaplah bersama kakak hingga kakak ga mampu lagi bernafas buat kamu" ucap Rama yang masih bergelayut manja didekapan Izza.


"Kak Rama tumben ngomong begini, jangan nakut-nakutin ah Kak, kaya orang mau pergi jauh dan ga kembali aja" ujar Izza khawatir.


"I love you Fayza Noor Zaina" bisik Rama dengan suara manja.


"Kak.... jadikanlah Izza yang terakhir dan satu-satunya dalam hidup Kakak ya" ucap Izza ga kalah mesra.


🌷


Rabu sore, pihak kepolisian yang dipimpin oleh Mba Rani memasuki areal Pesantren milik Abah Ikin. Ada sekitar lima orang polisi yang ikut mengawal.


Rama pun sudah berada di Pesantren juga, menyusul naik kendaraan umum sendirian.


"Proses permintaan Pak Rama untuk merehabilitasi saudari Gita sudah diperkenankan pihak kepolisian dengan jaminan diri anda sendiri. Melihat belakangan ini saudari Gita terlihat tanda-tanda kecemasan dan beberapa kali percobaan bunuh diri, maka kami rasa perlu dipertimbangkan kembali agar saudari Gita bisa direhabilitasi. Sebagai prosedur keamanan, akan ada dua polisi yang bertugas secara bergantian untuk memonitor pergerakan saudari Gita. Waktunya diberikan selama dua minggu" kata Mba Rani secara formal.


"Baik Bu Rani, terima kasih atas bantuannya. Saya sangat menghargai atas pengabulan permintaan rehabilitasi ini" jawab Rama juga secara formal.


.


Mba Gita dibawa kehadapan Abah Ikin, para polisi dan Rama. Mukanya tampak pucat dan agak kurus badannya.


Sejak menikah sama Izza, Rama tidak pernah membolehkan Izza menjenguk Mba Gita, karena dia ga mau Mba Gita nantinya mempengaruhi Izza yang macam-macam.


Izza sebenarnya kangen sama Mba Gita, tapi dia ga berani melawan perintah Rama. Rama pun baru kembali bertemu sama Mba Gita hari ini setelah Mba Gita sempat buron.


Rama menghampiri Mba Gita. Dia duduk tepat dihadapan Mba Gita. Air mata sudah mengalir deras dari kedua belah mata Mba Gita yang terlihat cekung.


"Mba...." sapa Rama perlahan.


Ga ada kata lain yang bisa diucapkan oleh Mba Gita, tapi Mba Gita langsung memeluk erat Rama. Rama ga menolak dan membiarkan Mba Gita merasa nyaman dalam pelukannya.


Rama terlihat berupaya keras menahan air mata harunya. Semua yang menyaksikan jadi ikutan terharu. Entah kenapa segala rasa dendam dan amarah sama Mba Gita bisa lenyap begitu aja.


Rama mengusap perlahan punggung Mba Gita. Kemudian Rama mengusap air mata Mba Gita pake tissue yang ada didekatnya.


"Maafin Mba ya Mas Rama" ucap Mba Gita masih sesenggukan.


"Panggil Rama aja Mba... kan sekarang Rama adiknya Mba Gita. Maafin Rama juga ya.. ga ijinin Izza jenguk Mba selama ini" pinta Rama tulus.


"Mba paham kok .. Ketika Izza bilang akan nikah sama kamu, Mba tau dia akan aman dari incaran Boy dan jaringan pengedar narkoba lainnya. Mba juga percaya kamu akan mampu mencintai Izza dengan baik" kata Mba Gita.


"Kita buka lembaran baru ya Mba" ajak Rama.


"Ya.... Makasih juga ya atas semuanya, karena dendam, hidup Mba jadi berantakan. Jangan sia-siakan Izza, dia anak yang baik, bukan salahnya kalo Mamanya Mba bunuh diri. Izza ga pernah tau hal ini, tapi Mba yang tau malah menimpakan kesalahan ke dia. Allah sayang banget sama Izza, Allah selalu lindungin Izza, mungkin karena Izza anak yang taat pada agamanya" jelas Mba Gita.


"Sama Mba, awalnya saya juga banyak menimpakan kekesalan dan rasa ga terima sama keadaan kepada Izza. Alhamdulillah dia istri sholehah yang ga pernah membantah perkataan saya. Kalo dia ga sabar mungkin rumah tangga kami sudah lama berantakan kali Mba" ucap Rama.


"Mana Izza?" tanya Mba Gita.


"Dia ga ikut Mba, tapi saya janji akan segera ajak dia kesini buat nemuin Mba. Saya hanya ga mau dia sedih karena Mba masuk ke Pesantren dengan kawalan polisi, pasti ada beban mental melihat Mba dengan kondisi terborgol pula. Jadi saya maunya dia nemuin Mba jika sudah dalam kondisi normal. Mba udah makan?" tanya Rama serius.


"Mba belakangan ini ga nafsu makan, efek kecanduan ngebuat Mba jadi mual, akhirnya males buat makan karena pasti akan muntah" jelas Mba Gita dengan paparan yang ga serapih biasanya.


Rama bangkit kemudian mengambil tas tentengan yang Izza bawakan. Dikeluarkan semua tumpukan tempat makan dari plastik yang disiapkan Izza, Rama meminta tolong ke keluarga Abah Ikin untuk mengambilkan nasi buat Mba Gita.


"Mba... ini makanan kesukaan Mba kan? Izza yang buat. Ini ada kering kentang, rendang paru dan bawang goreng. Makanan yang selalu saya liat ada disetiap lauk yang Mba Gita bawa sebagai bekal ke kantor" kata Rama sambil membuka tempat plastik kehadapan Mba Gita.


"Ini semua Izza yang buat?" tanya Mba Gita.


"Ya .. pasti Mba Gita kangen kan sama masakannya? Dia udah makin enak masaknya loh. Sudah mulai variatif menu yang dia kuasai, tapi tetap aja tiga lauk ini yang sering dia buat, malah kalo bawang goreng harus selalu ada. Tiap makan ini, saya melihat ada raut kesedihan diwajahnya, mungkin dengan makan ini, dia inget kenangan makan sama Mba Gita kali ya" ungkap Rama.


"Iya ... pantas kamu keliatan gemukan sekarang" canda Mba Gita.


"Iya nih.. lima bulan nikah langsung naik berat badan, untung masih rutin renang sama ngegym, kalo ga mah udah lebih nambah lagi timbangan saya. Nih perut yang tadinya sixpack udah mulai menuju one pack.. hahaha" tambah Rama.


"Itu tanda-tanda badannya Big Boss... One pack.. hehehe" jawab Mba Gita mulai tersenyum.