HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 167, First sight



"Kak.. Izza jalan dulu ya" pamit Izza seusai sholat subuh.


"Take care De, Kakak percayakan komunikasi awal ini sama kamu. Pasti bisa.." kata Rama sambil mencium keningnya Izza.


"Semoga hasilnya ga mengecewakan ya" ucap Izza.


"Udah rapih kan? sekarang tinggal jalan aja daripada telat nyebrang ke Pulau Seribu, semalam juga sudah pamit ke Sachi.. jadi ga perlu pamit lagi, khawatir dia malah ngambek minta ikut" saran Rama.


"Iya.." jawab Izza.


Izza merapihkan mukenanya, Rama langsung memeluknya kemudian memutar tubuhnya Izza.


Tanpa basa-basi, Rama langsung mencium bibirnya Izza. Lumayan lama bibir keduanya berpagut, hampir tiga pekan mereka tidak tidur sekamar, baru semalamlah Rama meminta Izza tidur bersamanya.


"Maaf ya kalo Kakak marah dan kecewa sama kamu" ucap Rama pelan.


"Gapapa Kak.. maafin Izza juga ya" pinta Izza berulang kali.


"Kalo Kakak ada diposisi kamu, pasti akan melakukan hal yang sama bahkan lebih buruk lagi. Pelan-pelan kita mulai lagi ya, jika masih ada hal rahasia lainnya, kamu terus terang saja. Jangan disimpan sendiri. Ga perlu ada yang kamu khawatirkan lagi, Kakak akan jagain kamu semaksimal mungkin" kata Rama.


"Menjual Audah Hotel itu sudah sebuah tindakan nyata kalo Kak Rama melindungi Izza. Kakak tidak mau Mba Anin masih dalam circle yang sama dengan Izza. Terima kasih sudah selalu menjadi sayap pelindung buat Izza" ucap Izza sepenuh hati.


"Bakalan kangen nih De.. empat hari ya.. rugi juga ya marahan... tidur sendirian terus ga ada yang disayang-sayang. Apa ngebekelin gitu De.. main kilat aja" bisik Rama.


"Semalam ga bilang apa-apa dan ga ngapa-ngapain juga... sekarang giliran mau jalan malah minta jatah. Udah rapih gini Kak.. tinggal pake jilbab aja. Mana kapalnya jam delapan, nanti telat" jawab Izza.


"Oke ... I can’t even begin to tell you how much I miss you (Aku bahkan tidak bisa memberitahumu betapa aku merindukanmu)" kata Rama sambil memeluk Izza dan mencium rambutnya Izza.


"Until we meet again, I will be missing you (Sampai kita bertemu lagi, aku akan merindukanmu)" jawab Izza.


.


Rama membawakan koper yang akan Izza bawa ke pintu depan sambil menggenggam tangannya Izza. Pak Isam baru keluar dari kamarnya. Beliau tersenyum melihat Rama sudah bergandengan tangan dengan Izza.


Izza berpamitan ke Pak Isam.


"Audah Hotel sekarang ada ditangan kamu Za.. Papi tau kenapa Rama mengirim kamu, bukan orang lain" kata Pak Isam.


"Kenapa Pi? Izza aja ga paham" ujar Izza.


"Audah Hotel itu adalah bisnis yang berbadan hukum milik Rama yang pertama, kamu juga wanita pertama yang bisa mengubah dia seperti sekarang ini.. lebih penuh cinta dan lebih sabar. Rama ingin menunjukkan kepada calon pembelinya jika penawaran ini spesial, banyak hikmah dibalik Audah Hotel, makanya penjualannya pun harus dibuka oleh orang yang spesial" ungkap Pak Isam.


"Iya Kak? so sweet banget sih" puji Izza sambil melihat kearah Rama yang tersenyum manis ke Izza.


Mobil sudah siap mengantar. Rama tidak bisa mengantar karena ada jadwal meeting pagi ini. Mereka diantar oleh supirnya Pak Isam.


Kembali Izza mencium tangannya Rama kemudian dibalas dengan ciuman dikening dan kedua pipinya Izza. Alex, Mba Nur dan supirnya Pak Isam cuma tersenyum melihat keduanya sudah tampak mesra lagi.


"Malu kan Kak... tadi kan udah di kamar" bisik Izza yang merasa malu.


"Ga ada yang salah kan kalo mencium istri sendiri, apa mau tambah dibibir sekalian?" goda Rama.


"Udah ya.. mau jalan dulu.. assalamualaikum" pamit Izza.


"Waalaikumsalam" jawab Rama.


.


"Mba.. mau mampir membeli sesuatu dulu di minimarket?" tawar Alex.


"Minuman udah bawa belum Mba Nur?" tanya Izza.


"Sudah Mba, saya bawa yang ada di rumah" jawab Mba Nur.


"Ada yang kurang ga? kalo saya kayanya udah ga ada yang mau dibeli lagi" ucap Izza.


"Sudah cukup Mba.." jawab Mba Nur.


"Berarti langsung aja" kata Izza.


"Ya Mba" ujar Alex.


.


Sesampainya di dermaga Ancol. Tidak terlalu ramai karena hari kerja, bukan waktu liburan pula.


Izza berdiri mengabadikan beberapa foto kapal feri yang tengah bersandar. Ini adalah kali pertama kakinya menginjak dermaga Ancol. Apalagi naik kapal feri dan menuju Pulau Seribu, semua serba pengalaman pertama.


Sedang asyik-asyiknya mengambil beberapa gambar dengan menggunakan HP nya, tanpa sadar Izza bertabrakan dengan seseorang.


HP Izza terlepas dari genggaman, secepat kilat ada tangan yang menangkap HP milik Izza.


Lelaki tersebut memberikan HP ke Izza.


"Terima kasih Pak" ucap Izza.


"Maaf ya Mba.. tadi saya ga liat pas Mba lagi berdiri, sekali lagi saya minta maaf" mohon lelaki tersebut.


"Gapapa Pak, saya juga keasyikan foto, jadi ga lihat ada orang dibelakang" ujar Izza.


Alex yang melihat kejadian tersebut tadinya sudah siap berdiri untuk menghampiri Izza, tapi sama Mba Nur dilarang.


"Sudahlah Bang (sudah sepakat ketika menikah, Mba Nur akan memanggil Alex itu Abang meskipun usianya lebih muda dari Mba Nur).. hanya senggolan biasa aja, ga perlu khawatir. Keliatan kok lelaki itu orang baik-baik" ingat Mba Nur.


"Waspada kan boleh, secara kita dititipin istrinya Boss, kalo ada apa-apa pasti ngamuk Boss sama kita. Sekarang ini kita ga bisa liat dari tampang. Semua bisa jadi orang jahat yang siap menerkam Mba Izza. Kan sudah Abang ceritain kalo Boss Rama khawatir Mba Izza dijahatin sama anak buahnya Pak Flandy yang masih dendam sama Mba Izza" ujar Alex.


.


Para penumpang sudah mulai masuk ke kapal feri. Izza bilang ke Alex kalo mau duduk ditepian, ingin menikmati angin laut dan pemandangan lumba-lumba yang loncat kesana kemari.


Mba Nur mabuk laut, jadinya Alex sibuk mengurus Mba Nur sesuai instruksi dari Izza.


"Sendirian Mba?" tanya lelaki yang duduk didepannya Izza.


Izza menengok keasal suara.


"Bareng teman" jawab Izza dengan sopan.


"Mau pulang pergi dalam satu hari atau mau stay beberapa hari?" tanya lelaki tersebut.


Izza jarang berbincang dengan lelaki, termasuk teman kampusnya dulu, jadi ada rasa tidak nyaman menyergap.


"Stay beberapa hari" jawab Izza singkat.


"Sudah booking tempatnya atau on location aja pesan kamar Resortnya?" tanya lelaki itu lagi.


"Sudah booking" lanjut Izza singkat.


"Jangan-jangan kita satu Resort .. Jaya Resort?" lelaki tersebut mencoba menerka.


"Iya.. kok bisa tau ya.. apa ada ciri-ciri tamu Jaya Resort? hehehe... Bapak ini sudah terbiasa pulang pergi pulau rupanya, jadi paham setiap tamu mau kemana saja" Izza mencoba mencairkan suasana.


"Memangnya ada ya dikening saya tulisan PP Pulau Seribu? hehehe" canda lelaki itu.


"Biasanya orang yang langsung bisa menebak lawan bicaranya, kemungkinan paham dengan lokasi yang dituju" alasan Izza.


"Analisa yang tepat sekali.. semoga perjalanannya menyenangkan, paling tidak ada cerita yang bisa dibagikan ke orang lain tentang tempat yang sedang Mba tuju" ucap lelaki tersebut.


"Nada bicaranya marketing banget. Jangan-jangan Bapak ini karyawan Resort tersebut" tebak Izza.


"Saya bukan karyawan Resort.. oh ya.. jangan panggil Bapak .. panggil aja Mas.. nama saya Candra" Canda memperkenalkan dirinya.


Izza hanya tersenyum.


"Mba punya gunting kuku ga?" tanya Candra iseng.


"Punya tapi ga dibawa, kuku saya baru aja dipotong" jawab Izza.


"Kalo nama punya dong?" goda Candra iseng.


"Oh maaf.. bukan bermaksud sombong, tapi memang tidak terbiasa memperkenalkan nama saya ke orang yang baru dikenal kecuali memang ada hubungan pekerjaan atau suatu hal yang membuat saya berhubungan dengan orang tersebut. Saya juga berstatus sudah menikah, jadi wajar jika saya sangat menjaga diri ke lawan jenis. Sekali lagi saya minta maaf ya Pak.. eh Mas" jelas Izza langsung.


Candra tersenyum. Dia paham maksudnya Izza adalah memagari dirinya sendiri terhadap lawan jenis.


"Bagus.. bagus.. prinsip yang sudah jarang saya temui. Apalagi para wanita yang seorang diri dalam sebuah perjalanan. Kebanyakan malah banyak wanita yang mencoba menyapa saya terlebih dahulu, bukannya kepedean ya.. tapi bisa liat dong bagaimana paras dan penampilan saya" kata Candra.


"Klarifikasi.. saya bertiga bukan sendiri. Mengagumi ciptaan Allah sesuatu yang wajar, tapi sejak menikah.. saya mencoba untuk tidak mengagumi lawan jenis secara berlebihan bahkan menilai. Khawatir hati tergoda untuk kenal lebih jauh" prinsip Izza.


"Good.. " puji Candra.


Keduanya tampak berbincang, beberapa kali Rama menelpon tapi sinyalnya lost karena Izza masih ada ditengah laut. Akhirnya mereka saling berkirim chat saja, itupun sering pending.


.


"Suka laut?" tanya Candra kembali mengajak berbincang ketika Izza sudah memasukkan HPnya kedalam tas.


"Suka banget ya ngga terlalu, tapi inilah perjalanan pertama saya menyebrang laut seperti sekarang. Takut, khawatir dan agak merasa ngeri pastinya. Tapi saya mencoba menikmati perjalanan ini sebagai sebuah pengalaman baru, jadi mohon dimaklumi kalo terlihat agak norak" jawab Izza.


"Mas pasti sudah berkeluarga ya? istrinya ga ikut?" tanya Izza.


"Istri saya sedang di Pulau, tepatnya di Resort yang akan saya dan Mba tuju" jawab Candra.


"Oh jadi dalam rangka menengok istri toh.. " canda Izza sambil manggut-manggut.


"Istri saya sedang hamil dan sangat suka dengan laut. Rasanya kalo belum liat laut dia pasti badmood. Makanya diputuskan tinggal disana dulu. Untunglah anak saya masih tingkat playgroup sekolahnya dan bisa online, jadi tidak masalah sekolah dimana saja" jelas Candra.


"Istrinya hamil anak keberapa Mas?" tanya Izza basa basi.


"Anak kedua, yang pertama sudah tiga tahun, cukuplah jaraknya jika punya adik lagi" jawab Candra.


"Masih pasangan baru rupanya.. Alhamdulillah langsung Allah kasih kepercayaan anak ya" ucap Izza.


"Dari nadanya terdengar bagaimana gitu ya.. maaf bukan bermaksud menyinggung, biasanya yang berbicara seperti itu adalah pasangan yang belum.. " kata Candra menggantung.


"Kami belum ada setahun menikah .. jadi masih dibawa santai. Anak itu kan amanah dari Allah.. mungkin belum saatnya" buru-buru Izza berucap agar Candra merasa nyaman.


"Ada dalam hidup yang tidak bisa kita campuri .. salah satunya keturunan. By the way.. keliatannya Mba masih muda ya, masih kuliah atau baru bekerja?" ujar Candra.


"Tidak keduanya .." jawab Izza sambil tersenyum.


Candra agak bingung sama jawaban Izza, tapi dia ga mau terlalu kepo. Lagipula HP nya berdering.


"Maaf, saya mau terima telepon dulu" pamit Candra.


Candra berada diujung kapal feri, memakai handsfreenya, ya agak kencang suaranya karena ada suara mesin dan ombak.


Tanpa sengaja Izza melihat kearah Candra yang sekarang tengah berdiri memandang lautan lepas. Wajah tampannya Candra ditimpa cahaya matahari yang lumayan panas, sekarang baru pukul sembilan pagi tapi sinarnya seperti jam dua belas siang.


Topi coklat yang dikenakan oleh Candra plus kacamata hitam, tidak mampu menyembunyikan wajah tampannya. Sudah ada dua wanita didekat Izza yang berbisik melihat penampilan Candra.


"Siapa orang itu ya? keliatannya sangat ramah dengan semua orang. Atau memang dia playboy? tapi masa sih tampang kaya gitu playboy? ya Allah.. lindungilah mata dan pikiran hamba dari lawan jenis yang bukan suami hamba.." kata Izza dalam hatinya.


.


Izza memakai kacamata hitamnya kemudian memandang kearah laut lepas. Beberapa kali dia mengabadikan video saat lumba-lumba loncat tidak jauh dari kapal feri.


Gantian Candra yang melihat Izza tanpa sengaja. Wajah Izza tidak secantik Lexa, tapi wajah polos yang belum banyak polesan membuat Rama penasaran. Sekilas kepolosan dan sulit berkomunikasi dengan lawan jenis untuk pertama kali sangat mirip sama Ani.


"Wajahnya manis, masih polos meskipun ga polos-polos banget, tutur katanya juga lumayan teratur, sopan. Dari segi penampilan simple tapi berkelas. Walaupun saya bukan penggila fashion, tapi busana dan tas yang menempel ditubuhnya itu bukan barang murah. Lexa punya tas seperti yang dia pakai, hanya beda warna. Kacamata pun keliatan mahalnya. Apa dia yang mewakili Abrisam Group untuk proses komunikasi awal penjualan Audah Hotel? Abrisam Group itu bukan perusahaan kemarin sore, namanya sudah sejajar dengan perusahaan Ayah Sanjaya. Bahkan sekarang tambah melejit setelah dipimpin oleh anak bungsunya yang masih muda. Apa wanita itu istrinya pemilik Abrisam Group? wow.. kalo memang benar dia istrinya Pak Rama.. berarti Pak Rama tipe orang yang all out dan menganggap saya sebagai calon pembeli yang spesial, sampai beliau mengirim orang spesial untuk mengantarkan penawaran" gumam Candra.


🏵️


"Apa ada jadwal meeting lagi hari ini?" tanya Rama.


"After lunch Pak" jawab Mba Farida.


"Semua berkas yang dibawa istri saya sudah dipastikan tidak ada yang tertinggal ya?" tanya Rama lagi.


"Sudah Pak, soft copy bahkan bahan presentasi sudah dipersiapkan dengan baik oleh tim" jawab Mba Farida.


"Sudah dibuatkan semua jadwal pertemuan dengan Pak Candra?" tanya Rama.


"Sudah Pak, hari ini akan ada perkenalan awal. Pak Candra menjadwalkan makan malam, tidak berdua dengan Ibu Izza saja, tapi ada Pak Akmal sebagai pemilik Resort disana yang lebih paham dunia penginapan seperti apa" jelas Mba Farida.


"Makan malam hanya mereka bertiga?" ucap Rama meyakinkan.


"Benar Pak.. tapi Resort itu milik keluarga Bapak Sanjaya, bahkan yang saya dengar, istrinya Pak Candra tinggal disana selama masa kehamilannya" lapor Mba Farida.


"Saya bisa minta profilnya Pak Candra? pernah dengar tapi tidak pernah berjumpa bahkan belum mendengar sepak terjangnya" pinta Rama.


"Beliau pernah menjabat sebagai ketua pengusaha muda seluruh Indonesia, saya pernah bekerja di perusahaan beliau, tapi sebentar.. hanya tiga bulan. Istrinya pencemburu berat, jadi semua asisten pribadi dan sekretarisnya Pak Candra itu lelaki semua. Maklumlah Pak.. ganteng banget Pak Candra itu" papar Mba Farida.


"Ehmm.. ehmm.. main fisik nih.. nyindir saya yang ga ganteng gitu?" gumam Rama.


"Maaf Pak Rama.. hehehe.. naluri perempuan kan ga bisa liat lelaki ganteng.. bawaannya mau muji aja. Tapi bukan mau membandingkan sama Pak Rama ya, memang kenyataannya Pak Candra itu gantengnya maksimal banget. Usianya juga baru kepala tiga awal, baik banget sama semua karyawan, humoris.. sayang udah jadi suami orang" kata Mba Farida.


"Jangan macam-macam ya.. dilarang jadi pelakor. Kalo rumah tangga adem ayem tuh jangan dibuat huru hara" ingat Rama.


"Mana mandang saya sih Pak .. secara istrinya aja kaya tujuh turunan delapan tanjakan sembilan tikungan ga bakal habis-habis.. cinta banget sama istrinya. Ya mirip kaya Pak Ramalah.. bucin abis.. hahaha" ledek Mba Farida.


"Emang keliatan ya saya bucin banget sama istri? By the way.. katanya cuma tiga bulan kerja sama Pak Candra, kok kayanya kenal banget luar dalamnya" ucap Rama.


"Maklumlah.. Pak Candra itu bahan ghibahan para karyawan setiap hari. Jadinya hapal luar kepala deh bagaimana Pak Candra. Asyik banget orangnya.. serius tapi santai" jawab Mba Farida.


"Jauh banget dong sama saya.. ngaku aja ga usah sungkan" kata Rama.


"Tidak bisa dibandingkan juga ya.. karena Pak Candra dan Pak Rama punya style yang beda plus latar belakang yang jauh sekali. Beliau dulunya tukang bubur Pak.. berkat do'a kedua orang tua dan usahanya Pak Candra, banyak hal luar biasa menghampiri termasuk mendapatkan biaya kuliah keluar negeri plus dapat anaknya milyader ternama. Meskipun seperti itu, tetap down to earth. Kalo Pak Rama kan dari latar keluarga yang sudah kaya sejak lahir, pasti beda pula pola pikirnya. Pak Rama memang terlihat lebih diam, tapi diam-diam penuh kejutan. Saya banyak belajar dari Pak Rama. Baru kali ini punya atasan yang banyak mikir, mau turun langsung ke lapangan dan menyelidiki dulu secara mendalam. Biasanya kan hal seperti ini didelegasikan kebawahan" puji Mba Farida.


"Dia genit ga? atau termasuk ikatan suami takut istri karena merasa lebih kaya istrinya?" tanya Rama penasaran.


"Kalo genit mah ga, tapi sumeh sama siapa aja. Itu yang kadang bikin orang salah duga" ujar Mba Farida.


"Oke.. tolong profilnya Pak Candra ya segera letakkan di meja saya" pinta Rama.


"Siap Pak" jawab Mba Farida.


💐


Izza menunggu para penumpang yang lain turun dulu dari kapal feri, sambil menunggu Mba Nur yang sedang siap-siap keluar dari ruangan didalam kapal feri.


Candra sudah turun terlebih dahulu dan banyak membantu orang-orang yang mau turun dari kapal feri.


"Mba mau saya bantu turun?" tawar Candra.


"Ga usah Mas" jawab Izza.


Alex dan Mba Nur sudah ada dibelakangnya Izza. Alex turun terlebih dahulu sambil menurunkan barang bawaan mereka, kemudian membantu Mba Nur turun kemudian baru Izza.


.


Candra sudah berjalan menuju Resort. Boy sudah menyambutnya bersama Lexa. Boy dan Lexa mencium tangan Candra kemudian Candra membalas dengan mencium pipi keduanya.


"Keliatannya lemes banget Cik? baru ditinggal semalaman" goda Candra.


"Mual parah semalaman, mana Boy juga rewel nyari Papanya" jawab Lexa.


"Maaf ya.. soalnya Alung harus meeting ehhh waktunya mulur sampai hampir tengah malam. Ga ada kan penyebrangan malam-malam kesini" jelas Candra.


Izza dan rombongannya melintas melewati Candra dan Lexa yang masih berdiri. Tidak lupa Izza menganggukkan kepalanya sebagai wujud permisi lewat ke Candra. Candra membalas dengan ikut menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Lung... kenal?" tanya Lexa curiga.


"Ga.. tadi sekedar ngobrol aja di kapal feri.. ya standarlah kalo dalam perjalanan, mengisi waktu luang kan" jawab Candra sambil menggendong Boy dan menarik kopernya.


"Jangan macam-macam ya Lung.. kebiasaan sama siapa aja diajak ngobrol, nanti kalo perempuannya genit gimana?" wanti-wanti Lexa.


"Liat kan tadi dia bertiga jalan bareng.. bukan sendirian?" ucap Candra.


"Terus kalo sendirian mau diajak kenalan lebih jauh gitu?" buru Lexa.


"Makanya Cik.. jangan kebanyakan cemburu deh, Alung tau kok batas-batas dalam berhubungan seperti apa. Kita ini masih ada di fase lima tahun pertama dalam pernikahan, banyak penyesuaian yang kita lakukan, tapi kenapa sih ributnya ya cuma seputar itu aja.. kecemburuan yang ga beralasan" kata Candra.


"Siapa yang ga cemburu kalo suaminya memberikan perhatian kepada wanita lain?" ucap Lexa.


"Udah.. udah.. malu tau ribut depan anak" bisik Candra.


💠


Rama menelpon Izza yang baru rebahan di kamarnya. Pertanyaan standar kaya kapan sampai dan perjalanannya bagaimana sudah diajukan oleh Rama.


"Sebentar lagi jam makan siang, rencananya mau makan di restoran yang ada di Resort atau beli disekitar sana?" tanya Rama.


"Bawa nasi dari rumah, Mba Nur yang bekelin, jadi mau makan ransumnya di teras depan kamar. Enak banget kamarnya ga jauh dari bibir pantai" jawab Izza.


"Jangan malu-maluin Kakak dong De.. masa jauh-jauh ke Resort yang bagus malah makan nasi timbel, mana bawa dari rumah pula. Nanti dikiranya Kakak ini pelit" kata Rama.


"Indonesian pride.. ya udah sih Kak.. disini mana ada yang peduli kita makan apa. Lagipula Mba Nur juga bekelin pakai kotak makan yang bagus dan mahal, bukan kotak makan anak TK yang dari plastik itu" ucap Izza.


"Oke.. oke... nanti malam ada jadwal kenalan sama calon buyer ya.. " kata Rama.


"Iya.. Mba Farida sudah kasih profilnya, tapi belum sempat dibaca. Nanti deh selepas sholat dan rehat, Izza pelajari sedikit-sedikit.. biar ga mati gaya pas ketemu" jawab Izza.


"Jangan tebar pesona ya.. ingat yang disini sedang merindukan yang disana" Rama mewanti-wanti.


"Bukan salah yang disini dong kalo ada yang terpesona" goda Izza.


"Yang disini sedang memikirkan cara untuk membahagiakan yang disana, semoga yang disana paham ya .. Love you De" rayu Rama.


"Mau balas love you too ga yaaaa...." goda Izza sambil ketawa cekikikan.


"Mulai deh godain dengan suara manja kaya gitu... kan jadi pengen kesana" ucap Rama.