HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 212, Fate



Rama menepati janjinya, dia bersama keluarga kecilnya main ke rumah Pak Sandy. Ini kali kedua Rama kesini, dulu pernah mengantar Ani meskipun hanya di pagar depan saja. Untuk masuk kedalam rumah ini kali pertama.


Rumah bergaya country tampak berbeda dari sekitarnya. Sepertinya memang punya selera yang cukup unik ditengah perumahan mewah ini. Rupanya Pak Sandy sudah menunggu di teras depan, menyambut kedatangan keluarga kecil Rama.


Mereka bersalaman satu dengan lainnya. Saling sapa seperlunya kemudian diminta untuk masuk kedalam rumah.


Izza membawakan parcel buah dan satu loyang kue yang tadi subuh sempat dia buat.


"Repot-repot aja Za bawa buah tangan segala, kalian datang kesini saja, Bapak sudah senang banget" basa basi Pak Sandy.


"Namanya berkunjung ke rumah orang tua Pak.. sudah selayaknya membawa buah tangan yang tidak seberapa nilainya" kata Izza dengan sopan.


Izza masih menggendong Zian, sedangkan Rama membawakan tas dan ayunan elektrik yang portabel buat Zian.


"Ke rumah orang tua?" tanya Pak Sandy meyakinkan pendengarannya.


"Rumah tampaknya sepi Pak" kata Izza mengalihkan pembicaraan.


"Sedang olahraga di car free day, tapi sudah tau kalo kalian akan datang kesini" ucap Pak Sandy.


"Kepagian kayanya kita De" ujar Rama.


"Ngga kok.. jam sepuluh pas lah, kan kamu bilang sore ada acara di tempat lain" jawab Pak Sandy.


Zian rupanya mulai merasa haus, jadi agak gelisah. Padahal tadi didalam mobil sudah diberikan ASI.


"Kenapa Zian? ngantuk? Bapak sudah minta kamar tamu dibersihkan tadi pagi, pasti kalo bawa anak kecil akan terpakai, dibelakang kamu itu kamar tamunya. Kamu sama Zian kesana dulu aja" tunjuk Pak Sandy.


"Saya antar Izza dulu ya Pak.. sekalian bawain tas perlengkapan Zian" pamit Rama.


Setelah Zian dan Izza masuk kamar, Rama keluar dan menemui Pak Sandy lagi.


"Bagaimana perusahaan kamu Ram? Agak ramai berita yang beredar belakangan ini tentang kamu" tanya Pak Sandy.


"Masih jalan di tempat Pak, ya saya sudah tau kalo sedang jadi trending topik dibeberapa perusahaan" jawab Rama.


"Persaingan ketat atau memang kondisi pasar sedang lesu?" tanya Pak Sandy.


"Saya sedang fokus bebenah internal dulu Pak, ada beberapa bagian yang masih kosong, jadi saya tidak maksimal dalam menjalankan tugas pengawasan sebagai pimpinan disana. Keteteran sama tugas operasional. Setelah struktur organisasi yang diperlukan sudah lengkap, baru saya akan mulai lagi menjalankan fungsi pengawasan semaksimal mungkin. Hidup kan penuh dinamika Pak, mungkin saat masih bujangan bisa fokus gila-gilaan waktu dalam bekerja, sekarang ga bisa seperti itu lagi Pak. Ada keluarga yang menjadi prioritas. Tapi ya mencoba balance antara pekerjaan dan keluarga" jelas Rama.


"Sepertinya ada bedol desa para karyawan di Abrisam Group ya?" tebak Pak Sandy.


"Pasti semua perusahaan pernah mengalami hal yang sama kan Pak" jawab Rama.


"Iya .. semua pasti pernah mengalami, hanya tidak sampai keluar beritanya. Mungkin karena sosok kamu sedang banyak dibicarakan orang. Banyak yang heran sama kamu, ga pernah keliatan tapi tiba-tiba muncul. Sampai sekarang juga kamu jarang muncul diberbagai acara party dan sebagainya. Itulah yang membuat kamu susah untuk ditebak. Bergerak dalam diam istilahnya. Sesekali muncul Ram ke acara-acara yang melibatkan para pimpinan perusahaan, untuk memperluas jaringan kamu juga. Selama ini kamu muter-muternya hanya di Abrisam Group dan Audah Hotel saja" saran Pak Sandy.


"Saya akan coba pertimbangkan untuk kedepannya. Karena masih dalam proses pembenahan di internal dulu. Sekitar tiga bulan lagi saya akan buat perubahan, semoga kami di Abrisam Group bisa bersaing dengan perusahaan yang lain termasuk punya Bapak" jawab Rama merendah.


"Rama.. Rama.. Abrisam Group itu lebih besar dari punya Bapak. Kami bukan lawan bersaing Abrisam Group" ujar Pak Sandy.


"Bapak ini down to earth banget.. saya harus banyak belajar banyak dari senior seperti Bapak" kata Rama.


Izza keluar dari kamar dan duduk disampingnya Rama.


"Gapapa Zian ditinggal sendirian dalam kamar?" tanya Pak Sandy khawatir.


"Gapapa Pak..sudah biasa tidur sendiri. Saya kan selalu pasang kamera portabel didekat dia, langsung nyambung ke HP saya dan Izza" jelas Rama sambil memperlihatkan HP nya ke Pak Sandy.


"Ada-ada aja orang tua sekarang ini.. anak diawasi pakai kamera" ucap Pak Sandy.


"Karena kan tidur di kamar sebelah kami, walaupun jarang juga ya dia tidur sendiri, habis saya ga bisa jauh dari Izza dan Zian" kata Rama.


"Kalo sudah punya anak memang begitu Ram.. bawaannya kangen dan ga bisa jauh dari mereka" ucap Pak Sandy.


Asisten rumah tangga membawakan minuman. Izza dibawakan teh tawar hangat, Rama air mineral dingin dan Pak Sandy air mineral biasa. Kue-kue dalam toples dan yang di piring juga sudah disajikan diatas meja.


"Silahkan diminum dulu, hanya ada ini saja" Pak Sandy mempersilahkan.


"Kalo yang di meja hanya sekedarnya, pasti ada yang istimewa lagi didalam.. hahaha" canda Rama.


"Kamu ini Ram.. becanda terus" jawab Pak Sandy.


"Untuk hiburan Pak.. terlalu serius sepanjang hari rasanya kepala bisa pusing" tukas Rama.


⬅️⬅️


"Mau sampai kapan masalah ini menggantung tak bertali De? apa gunanya tes itu kalo tidak juga bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Wake up De.. masalah ini tidak akan selesai dalam diam. Harus kamu action duluan, karena Pak Sandy itu menunggu action kamu" saran Rama pelan-pelan.


"Terus Kakak mau Izza datang kesana untuk mengakui semuanya? menerima cerita yang sebenarnya tidak ingin Izza mau. Kakak ga ada diposisi Izza, jadi ga akan pernah paham apa yang Izza rasakan dan pikirkan saat ini" ucap Izza emosi.


"Seorang dokter bedah dalam melakukan operasi usus buntu, tidak harus dia pernah mengalami operasi itu kan? sama halnya dengan Kakak.. ga perlu punya cerita yang sama seperti kamu untuk bisa memahami apa yang sudah terjadi. Intinya hanya ada dua pilihan.. take it or leave it. Memang tidak sederhana, tapi disinilah jiwa besar kamu dipertaruhkan. Keluarga Pak Sandy tidak menuntut apapun terhadap kamu kan? mereka tidak mengurus secara hukum tentang status kamu melalui tes DNA seperti yang Mas Haidar lakukan ke Sachi. Karena mereka masih menghormati apapun keputusan kamu. Mereka juga tidak memaksa bisa datang kesini untuk menemui kamu, mereka tengah diam menanti jawaban yang terlontar dari mulut kamu. Kakak sebagai imam kamu, wajib mendirect jika ada hal yang sudah tidak bisa kamu lakukan sendiri. Sabtu ini kita akan ke rumah Pak Sandy. Jika tidak ada keputusan dari kamu, maka Kakak yang akan memutuskan. So.. pikirkan baik-baik mumpung ada kesempatan untuk berpikir panjang" ucap Rama.


"Kak.. semua pilihan sudah serba salah. Menerima kehadiran Pak Sandy sama saja Izza memaklumi semua perbuatan terkutuk itu dan akan menimbulkan fitnah nantinya. Izza khawatir ada omongan jika nantinya akan meminta warisan terhadap keluarga mereka. Tapi tidak menerima pun, untuk apa tes ini dilakukan? bukankah untuk memperjelas status diantara kami? walaupun pada akhirnya Izza juga yang terluka karena Ibu ... ya begitulah..." papar Izza.


"De.. masalah warisan, pengakuan atau status hukum, itu tidak perlu kamu pikirkan sekarang. Yang penting saat ini mengambil keputusan untuk bisa menjalin silaturahim dengan keluarga Pak Sandy atau pergi menjauh begitu saja seperti dulu dimana kalian tidak kenal satu dengan lainnya. Kan Kakak sudah bilang, apapun hasilnya... kamu itu statusnya istri Kakak, jadi terserah keluarga Pak Sandy mau bagaimana juga, kamu tetap dalam penjagaan Kakak. De.. sekarang kamu jawab... sebenarnya kamu membenci Ibu, Pak Sandy atau perbuatan mereka?" tukas Rama.


Izza terdiam, baru terpikir, selama ini apa yang sebenarnya dia benci.


"Layak kamu benci sama Ibu kandung sendiri? wanita istimewa yang sudah mempertahankan kamu dan menjaga semasa dalam kandungan agar bisa lahir ke dunia ini, kemudian bertaruh nyawa saat melahirkan kamu, ditambah membesarkan kamu dengan segala beban yang mungkin kamu ga tau seperti apa saat itu. Kamu sendiri pernah cerita kalo Ibu sering mendapatkan penganiayaan dari Bapak, dari kejadian itu saja, kamu pasti paham jika yang terjadi saat itu pasti sangat sulit bagi Ibu. Kalo kamu benci profesinya, setuju atau tidak.. bukankah kamu pernah mencicipi rejeki dari pekerjaan yang Ibu lakukan? Benci Pak Sandy? wajar kamu benci sama lelaki yang mengkhianati pernikahan demi kepuasan pribadi belaka, wajar kamu benci karena sudah bercerita secara gamblang hubungan antara Ibu dan Pak Sandy. Tapi liat juga bagaimana secara gentle beliau mengakui didepan anak-anaknya bahkan dihadapan kamu atas khilafnya dimasa lalu. Benci perbuatan mereka? amat sangat wajar.. siapa yang ga kesal mendengar lelaki dan perempuan yang notabene sudah sama-sama menikah tapi main gila dibelakang pasangannya. Apa lagi yang kamu mau benci De? atau jangan-jangan kamu benci terhadap takdir kamu sendiri?" ungkap Rama mencoba menelaah isi pikiran istrinya.


Izza makin diam dan menundukkan kepalanya. Rama tau persis kalo Izza sedang berusaha menahan tangisnya.


"Kalo kamu merasa pilihan untuk membenci Pak Sandy adalah sebuah kebahagiaan.. lakukan De.. lakukan hingga kamulah orang yang bisa tertawa hingga akhir. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Kakak juga. Tapi boleh Kakak meminta kamu jadi istri yang tau bagaimana hormat terhadap orang lain, punya kepekaan sosial dan jangan egois. Pilihan kamu tidak akan mengubah banyak hal, tapi itu bisa mengubah pola pikir guna pendewasaan kamu. Ga selamanya Kakak bisa menjaga kamu De.. bukan meninggalkan kamu karena tertarik dengan wanita lain, tapi pergi meninggalkan kamu karena saatnya nanti kita akan pergi meninggalkan dunia ini kan? Kakak mau saat itu kamu jauh lebih dewasa dari sekarang.. bisa menjaga diri kamu sendiri. Selama nafas Kakak masih berhembus, selama itu kamu akan ada dalam dekapan Kakak" nasehat Rama panjang lebar.


Izza langsung memeluk Rama dengan erat. Rama mengusap punggung istrinya. Dibiarkan wanita spesial dalam hidupnya ini menumpahkan semua air matanya. Toh Izza memang terbiasa menangis dalam menghadapi banyak hal. Izza tampak garang dan tegar diluar, tapi jika sudah dinasehatinya oleh Rama maka dia bisa menangis.


➡️➡️


Izza berjalan mendekati Pak Sandy yang duduk di sofa, kemudian Izza duduk dihadapan Pak Sandy, Izza duduk di lantai.


"Eh Za.. naik sini.. jangan dibawah" ajak Pak Sandy sambil meminta Izza duduk disebelahnya.


Izza memeluk kakinya Pak Sandy, gerakannya seperti pengantin saat sungkem. Pak Sandy langsung terharu dan mengusap kepalanya Izza berkali-kali. Tidak ada yang mereka ucapkan, hanya menangis.


Anak menantu dan cucunya Pak Sandy baru sampai rumah. Mereka duduk tanpa mengucap sepatah katapun. Melihat pemandangan didepan mata mereka.


"Pak.. maaf kalo selama ini Izza ga sopan" pinta Izza.


"Ga Za .. kamu anak baik, malah amat baik. Apa yang kamu lakukan itu adalah reaksi yang amat wajar" jawab Pak Sandy bijak.


Izza mendongakkan kepalanya kearah wajah tua Pak Sandy.


"Terima kasih sudah menjalankan tes DNA dan hasilnya pun telah kita ketahui bersama. Bapak memang Ayah biologis Izza dan itu sudah tidak terbantahkan. Bagaimanapun kelak cerita diantara kita, Izza mengakui Bapak adalah Bapaknya Izza" ucap Izza secara gamblang.


Pak Sandy langsung memeluk Izza.


"Apa perlu pengakuan kamu disahkan secara hukum?" tanya Pak Sandy pelan.


"Ga perlu Pak.. kita mulai pelan-pelan saja. Kita sama-sama mengenal satu sama lain dulu" pinta Izza.


"Iya Nak.. iya.. Terima kasih ya Za.. sudah berlapang dada menerima ini semua " jawab Pak Sandy.


Anak dan menantunya Pak Sandy mendekati keduanya. Mengelus pundaknya Izza dan Pak Sandy.


"Alhamdulillah.. semua sudah clear" jawab Mas Barry.


Rama berlari ke kamar, dia baru melihat HP nya kalo Zian sudah bangun dan berguling hingga tepi ranjang.


Satu menit kemudian Zian sudah digendong Rama keluar dari kamar.


"Wah ada Zian juga... " kata Mas Barry happy tapi mengagetkan Zian hingga Zian menangis.


Rama membawa Zian mendekati Izza dan Pak Sandy.


Pak Sandy mengambil Zian dari dekapan Rama. Kemudian diserah ke Izza.


"Haus kali dia Za.. " kata Pak Sandy.


"Kaget dia Pak.. nanti juga berhenti. Zian persis seperti Ayahnya, gengsi kalo nangis lama-lama, apalagi diliatin orang banyak" sahut Izza.


"Ya iyalah.. masa badan gede plus atletis kaya Rambo kok cengeng.. ya ga Ram?" ledek Pak Sandy.


"Lelaki kan dituntut untuk selalu tampil macho Pak.. nangisnya ya nangis bahagia aja, urusan sedih ya simpan aja sendiri" jawab Rama.


.


Mereka makan siang bersama, suasananya sangat hangat.


"Capcay.. penasaran rasanya.." ucap Izza begitu di meja melihat hidangan yang lumayan banyak.


"Hanya capcay yang Bapak bilang bisa masaknya Za" kata Pak Sandy.


"Capcay buatan Papa itu enak loh Za" sambung Mas Barry promosi.


Zian diletakkan di ayunan elektriknya, persis disebelahnya Rama.


Izza mencicipi capcay buatan Pak Sandy.


"Resep Ibu ya Pak?" tanya Izza.


"Ya.. " jawab Pak Sandy.


"Kok tau De? kayanya dari kita kenal sampai sekarang, kamu belum pernah masak capcay buat Kakak. Padahal kalo resepnya kaya gini.. enak loh" ujar Rama.


"Ada nilai sentimentil kali Ram" kata Pak Sandy.


"Ya.. dulu masak ini ya kaya gini.. murni sayuran semua. Tanpa bakso, ayam, seafood.. sayurannya juga ya seadanya. Bukan sampe yang ga bisa makan ya, tapi terkadang beli sayuran di warung agak siangan, sudah sisaan, kan harganya murah. Dimasaknya juga seperti ini, ga terlalu banyak kuah dan sayuran masih krenyes-krenyes. Orang bilang ini belum matang, tapi ya enak aja di mulut" jelas Izza rada sedih.


Rama menyendokkan nasi dan capcay kedalam sendok dan mendekatkan sendoknya ke mulutnya Izza.


"I love you without knowing how, or when, or from where. I love you straightforwardly, without complexities or pride (Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau darimana. Aku mencintaimu dengan lugas, tanpa kerumitan atau kebanggaan" ucap Rama dengan romantisnya menyuapi Izza.


"Ya Allah Ramaaaaa... romantis banget sih kamu" puji Ani.


"Jarang-jarang Mba.. " sahut Izza buru-buru.


"Lelaki ga perlulah sering romantis ya Ram.. yang penting semua kebutuhan keluarga, kasih sayang dan cinta selalu terpenuhi" Mas Barry nimbrung.


"Lah saya kan mantan preman Mas.. susah untuk romantis-romantisan, mending saya adu jotos daripada adu ngegombal" ucap Rama.


Gantian Izza yang menyuapi Rama.


"Ga ada ucapan apa gitu? masa nyuapin doang?" goda Rama.


"Apa lagi yang harus diucapkan.. In all the world, there is no heart for me like your. In all the world, there is no love for you like mine (Di seluruh dunia, tidak ada hati untukku sepertimu. Di seluruh dunia, tidak ada cinta untukmu seperti cintaku)" gombal Izza.


"Zian... sepertinya siap-siap akan cepat punya adik nih" ledek Pak Sandy.


Semua tertawa bersama, termasuk Zian yang ikut tertawa karena semua yang ada di meja makan tertawa.