HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 53, Happy



Izza dan Sachi sama-sama memakai kaos bernuansa maroon, kebetulan keduanya membawa warna yang sama. Bawahannya pun sama-sama jeans, kalo Izza memakai rok jeans, Sachi memakai celana panjang model pensil.


Rama menunggu keduanya didalam mobil, Rama sudah standby didepan Lobby.


"Pagi Mas ... mau keluar sekarang?" tanya security.


"Tunggu dulu masih ada yang ditunggu" jawab Rama sambil mengelap kacamata hitamnya.


"Siap Mas" kata security dengan lantang.


Sejak bekerjasama dengan Mba Anindya, tampilan Rama jadi lebih branded. Ada yang lungsuran dari Mas Haidar dan Pak Isam, ada yang pemberian Anindya, ada dari koleganya saat dia berulang tahun, tapi ada juga yang dia beli sendiri dengan cara jastip dari teman-temannya yang masih ada di Inggris.


Izza dan Sachi sudah berada disamping mobil, Rama keluar dari dalam mobil. Izza dan Rama sama-sama kaget karena tampilan mereka senada. Rama pun memakai t-shirt berkerah berwarna maroon dengan bawahan celana jeans, padahal mereka ga janjian memakai warna yang sama.


Security cuma senyum-senyum melihat kekompakan mereka bertiga.


"Si Boss udah kaya mau piknik anak sekolah yang harus banget seragaman" ucap security dalam hati.


"Ayah ... Sachi duduk dibelakang aja ya, mau bobo dulu, ngantuk..." pinta Sachi.


"Ya ..." jawab Rama.


Security buru-buru membukakan pintu belakang untuk Sachi. Izza muter ke pintu lainnya.


"Kamu didepan Za ... kalo kamu dibelakang kesannya saya kaya driver taksi online" kata Rama.


Izza serba bingung, ga diiyakan kok kesannya memang seperti naik taksi online. Diiyakan dia merasa ga nyaman berada bersebelahan sama Rama.


Rama langsung melangkah ke pintu sebelah. Membukakan pintu untuk Izza.


"Ayo Aunty Izza .. masuk ... Sachi kan mau jalan-jalan" ajak Sachi dari dalam mobil.


Rama memberikan kode anggukan kepala ke Izza agar Izza segera masuk kedalam mobil.


"Harusnya ga usah bukain pintu. Orang seperti saya ga layak dibukakan pintu oleh seorang sultan seperti Anda" ucap Izza setengah berbisik.


"Apa harga diri saya turun kalo saya membukakan pintu untuk seorang wanita? Dulu saya memperlakukan hal yang sama ke Kakak perempuan saya dan hal itu ga membuat harga diri saya turun" papar Rama.


"Bedalah Kak .. saya cukup tau diri siapa saya, Mba Gita pernah cerita tentang bagaimana Pak Isam sangat membenci Mba Nay yang jauh berbeda. Jadi saya ga mau bernasib sama seperti beliau. Sebelum itu terjadi, saya harus bisa berhati-hati" lanjut Izza.


"Jika kamu membenci perbedaan, maka sejatinya kamu membenci seluruh manusia, karena semua manusia diciptakan berbeda, ga ada yang sama, bahkan anak kembar sekalipun. Ga ada yang salah dengan perbedaan. Yang bermasalah adalah keegoisan kita dalam memandang perbedaan. And one more thing .. jangan pernah bawa-bawa nama Mba Nay dihadapan saya. Kamu ga ada disana saat semua terjadi. Jangan memandang dari satu sisi cerita aja. Ga ada hubungannya saya bukain kamu pintu sama Mba Nay" jawab Rama panjang lebar.


"Ayah ... Aunty Izza ... kita jadi pergi ga sih? kok ga masuk ke mobil?" protes Sachi.


Izza buru-buru masuk kedalam mobil, Rama menutup pintu mobil kembali.


.


Ternyata Rama mengajak Sachi dan Izza ke indoor theme park dibilangan Cibubur, tempat hiburan yang bersatu dengan Mall besar juga. Pemilihan ini karena Rama mau semua ada disatu tempat. Dia juga butuh tempat buat kerja dengan nyaman dan Sachi bisa bermain dengan puas.


Dengan tiket masuk berkisar antara tiga ratus ribu sampai empat ratus ribu rupiah per orang ga jadi masalah bagi Rama. Yang penting putri kecilnya bisa tersenyum kembali melewati hari-harinya.


Sachi belum pernah diajak kesini, jadi pada saat di mobil sudah antusias begitu Rama memberikan gambar tempat tersebut di HP milik Rama.


Sachi sekarang masih tertidur di kursi belakang. Mungkin karena bangun terlalu pagi, jadinya masih ngantuk.


"Saya harap kita ga berdebat didepan Sachi" buka Rama.


"Siapa yang berdebat? saya hanya mengutarakan apa yang seharusnya saya utarakan" jawab Izza sambil melihat arah depan.


"Kalo ga ikhlas, saya rasa lebih baik kamu turun aja. Nanti urusan Sachi jadi urusan saya. Dia masih anak kecil, masih bisa dibohongin, bilang aja kamu ada urusan mendadak. Paling sebel sama orang yang gampang baperan. Beberapa kali saya bilang, jangan salah duga dengan semua perlakuan saya. Dan yang paling saya larang adalah mengungkit masa lalu, kamu orang luar yang ga kenal bagaimana perjuangan Mamanya Sachi. Mba Gita memang ada saat itu, tapi ga semua cerita dia tau Kalo mau protes tentang sikap saya, silahkan bicara aja" kata Rama yang memang paling ga suka kalo nama Mba Nay disebut-sebut.


"Kita sama-sama ga punya Ibu kan? tapi kita udah dewasa, bisa mengontrol rasa dengan baik. Sachi masih terlalu kecil untuk mengontrol keinginan bertemu Ibunya. Saya juga ga berharap bisa menggantikan posisi Ibunya, apa yang saya lakukan hari ini seperti yang saya lakukan ke anak-anak panti lainnya, yang terkadang minder karena ga punya Ibu atau keluarga utuh. So ... siapa yang baper diantara kita? saya atau Kakak?" ucap Izza telak mengenai Rama.


"Kamu tipe ga bisa dengerin nasehat orang lain ya?" tanya Rama untuk tetap menjaga harga dirinya yang dijatuhkan oleh Izza.


"Kata siapa saya seegois itu? dalam kasus ini murni karena saya ga mau Sachi mengharapkan lebih dari seorang Izza. Walaupun bersamanya ngerasa seperti mengenal dia sebelumnya, atau ada persamaan nasib aja yang membuat kami bisa langsung saling sayang" kata Izza.


"Oke ... sorry ...." jawab Rama yang akhirnya takluk juga.


"Ngaku juga akhirnya Kakak yang baper tapi nyalahin orang lain" kata Izza.


"Jangan dibahas lagi dong, kan udah minta maaf. Jangan bikin mood jadi berantakan, tujuan kita buat Sachi senang hari ini, jadi please .. bisa ya diajak kerjasama" harap Rama.


"Kak... saya tau Kakak itu udah kaya dari lahir, tapi jangan karena kekayaan maka hilang empati sama orang. Ga semua harus ikut apa yang Kakak mau. Mungkin orang lain lebih rendah statusnya baik ekonomi, sosial bahkan pendidikan ... tapi ga seharusnya Kakak seperti merendahkan orang lain apalagi memaksakan kehendak" nasehat Izza tegas.


"Aunty ... Sachi haus" kata Sachi yang terbangun.


"Nih Ayah bawa minum air mineral" jawab Rama sambil memberikan botol tersebut kearah punggungnya.


"Bukain" ucap Sachi.


"Kan udah bisa buka botol air mineral sendiri" protes Rama.


Izza akhirnya mengambil botol tersebut dan membukakan botol untuk Sachi.


"Makasih ya Aunty Izza" kata Sachi seraya memberikan botol ke Izza.


"Sama-sama anak manis" jawab Izza penuh senyuman.


Sachi berdiri ditengah kursi antara Izza dan Rama.


"Sachi ... duduk ... Ayah ga ngeliat kaca belakang nih, pake seat beltnya. Beberapa kali Ayah bilang kalo naik mobil ya pake seat beltnya" ingat Rama.


"Iya Ayah" jawab Sachi sambil kembali duduk dan memasang seat beltnya.


"Sachi udah bisa apa di sekolah?" tanya Izza basa basi.


"Bisa calistung ... membaca menulis dan berhitung" kata Sachi bangga.


"Dia udah bisa baca diusia tiga tahun, mulai menulis yang terarah diusia empat tahun, berhitung juga belum lama ini bisanya" timpal Rama.


"Hebat ya .. siapa yang ajarin?" tanya Izza.


"Guru di sekolah dan guru privat yang saya panggil" jelas Rama.


"Kan nanyanya ke Sachi, kok yang jawab malah Ayahnya Sachi" sindir Izza.


Sachi malah ketawa geli mendengar ucapan Izza.


"Aunty .. Ayah itu memang sukanya ngomong, ga berhenti kalo belum tidur" adu Sachi.


"Oh ya ... Ayah suka marah ga?" tanya Izza iseng.


"Marah ngga marah ngga" jawab Sachi polos.


"Bukan begitu Aunty .. Ayah marah terus baik, terus sayang sama Sachi, terus bobo deh sama Sachi" celoteh Sachi khas cerita anak-anak yang belum jelas bagaimana menjawab pertanyaan Izza.


"Kalo Ayah marah berarti Ayah lagi cape dan ga mau diganggu, jadi Sachi tunggu dulu sampai Ayah udah ga cape. Kan Ayah sayang sama Sachi, jadi Sachi juga harus sayang sama Ayah" nasehat Izza.


"Iya Ayah kan cape katanya, terus Ayah suka diomelin sama Opa Isam, nanti Ayah bilang ... Rama cape Papi .. begitu ya Aunty kalo diomelin cape?" tanya Sachi rada ember.


"Hehehe... bagaimana Ayah Rama tanggapannya?" ledek Izza.


"Ssttt... aduh Sachi, kok buka rahasia sih, ketularan Mang Ujang nih dia" kata Rama rada malu.


"Nanti kalo Ayah ngomel-ngomel ke Sachi .. Sachi mau jawab kaya Ayah aja ya... Sachi cape Ayah" sahut Sachi.


Semua tertawa bersama, tampak sekali raut wajah Sachi sangat bahagia.


Saat turun dari mobil pun, Sachi langsung menggenggam tangan Izza dan Rama. Hal yang sangat diimpikannya, bisa digandeng sama orang tua secara utuh.


"Enak ya Yah kalo pergi bertiga, nanti kita pergi lagi ya sama Aunty Izza" kata Sachi penuh senyum.


Rama ga pernah melihat Sachi sebahagia hari ini, setiap senyuman yang Sachi berikan kepadanya, seolah menjadi penggugur lelah yang mulai menerpa karena hampir sebulan ini hanya tidur tiga jam sehari, itu juga nyolong tidur di mobil kalo ga ada gangguan telepon.


.


Ada tulisan menggelitik saat dekat area theme park.


#Sebelum memasuki pintu gerbang, letakkan dulu masalah Anda didepan pintu karena yang akan Anda masuki adalah dunia bermain. Dunia yang hanya mengenal keceriaan bukan wajah murung yang dirundung permasalahan. Panggil jiwa kanak-kanak Anda dan ajak bermain disini#


Theme park tampak ramai, walaupun bukan weekend tapi banyak rombongan anak sekolah yang datang kesini. Bisa dibilang tempat ini nyaman karena berada didalam ruangan ber AC, nggak keringatan saat berdesak-desakan dalam antrian, tetap nyaman sepanjang bermain. Untuk wilayah tropis seperti di negara ini, indoor tentu menjadi pilihan menarik. Apalagi theme park ini terintegrasi dengan Mall, jadi semua ada didalam satu tempat.


"Sachi sama Aunty Izza dulu ya, Ayah mau cek kerjaaan dulu, nanti setelah sholat Jum'at, Ayah baru gabung ikut main kesini" kata Rama.


"Iya Yah" jawab Sachi.


"Nurut ya sama Aunty Izza" ingat Rama.


"Iya Yah" kata Sachi.


"Za .. titip Sachi dulu, saya mau cek kerjaan sama sholat Jum'at, ini kamu pegang dulu uang sejuta buat beli tiket dan makan minum didalam, kalo masih kurang, kamu telpon aja ya biar saya transfer. Pokoknya apa yang Sachi mau kamu berikan tanpa terkecuali. Semua bebas dia makan, hari ini dia Ratunya" papar Rama sambil menyerahkan uang cash ke Izza.


"Iya Kak" jawab Izza.


"Kamu juga jajan aja, bebas pokoknya" tambah Rama.


.


Memasuki theme park, Izza dan Sachi naik eskalator ditengah tumpukan container warna warni, lalu masuk ke gerbong kereta jadul. Interiornya sangat keren. Disana sudah langsung disambut sama petugas yang super duper ramah.


Izza dan Sachi tertarik melihat pertunjukan dulu, di zona ini terdapat atraksi Spectacular Media Show (pertunjukan dengan hologram dan teknologi multi efek). Keduanya sampai terpana melihat pertunjukan yang lumayan berlangsung lama. Ada aksi akrobatik, koreo dance yang apik serta teknologi hologram, multimedia dan 3D (tiga dimensi) visual.


💐


Rama keluar dari Mall, mencari Mesjid terdekat, dia tidak bawa laptop jadi semua dikerjakan lewat ponsel pintarnya.


Belum banyak para jama'ah sholat Jum'at yang berdatangan. Rama mengambil Al Qur'an dipojok ruangan kemudian duduk menghadap kiblat dan mulai membaca perlahan.


Ada ketenangan luar biasa dalam hatinya.


"Ya Allah ampuni Hamba yang kadang hanya bisa menyisakan waktu untuk beribadah kepadaMu. Sungguh nikmatMu amat besar ya Allah" ucap Rama.


.


Setelah sholat Jum'at, Rama kembali ke Mall, dia masuk kesalah satu coffe shop dulu untuk memeriksa kerjaan. Sebelumnya sudah menelpon Izza untuk mengajak Sachi makan, tidak perlu menunggunya.


Kini, work from cafe/coffe shop sudah sangat marak dilakukan oleh para pekerja yang sedang diburu deadline atau pekerjaan yang butuh menyendiri untuk berpikir lebih cermat, selain itu untuk mencari suasana baru dalam bekerja.


Rama membaca halaman demi halaman berkas yang harus dia periksa.


HP Rama berdering, tanda ada telepon masuk. Cukup lama Rama mendengarkan lawan bicaranya menyampaikan sesuatu.


"Oke ... makasih untuk infonya. Terus dapatkan apa yang saya inginkan. Semua bukti harus kuat" ucap Rama tegas.


Tampak Rama mendengarkan lawan bicaranya lagi sambil mencatat sesuatu di kertas.


"Penyelidikan kita selama hampir lima tahun ga sia-sia, sudah ada titik terang, hanya tinggal berkonsultasi dengan kuasa hukum dan pihak berwajib. Good job Alex, ga percuma saya rekrut kamu sampai banyak uang saya terkuras .. hehehe" kata Rama dengan santai.


Sambungan telepon berakhir.


"Sedikit lagi Rama .. sedikit lagi semua akan terkuak. Harus bisa menyusun strategi agar berjalan lancar, orang yang sudah membuat keluarga saya kocar kacir harus merasakan hal yang sama" amarah Rama kembali muncul.


🏵️


Karena main kebeberapa wahana, Sachi sampe lupa makan walaupun beberapa kali Izza mengingatkan.


Rama menyusul keduanya karena Izza mengirimkan chat agar Rama bisa masuk area theme park jika sudah selesai pekerjaannya. Izza meminta Rama membujuk Sachi untuk makan.


.


"Makan dulu dong sayangku" rayu Rama yang berada disampingnya Sachi.


Sachi sedang memainkan permainan warna yang sangat menarik karena disajikan dengan layar sentuh.


"Sachi masih main Ayah" jawab Sachi.


"Nanti boleh main lagi, sekarang makan dulu" ajak Rama.


Setelah dibujuk rayu akhirnya Sachi mau diajak makan.


.


Mereka kembali bermain setelah makan. Sachi seperti anak yang punya baterai cadangan. Saking bahagianya ga mau berhenti main.


"Sedari bayi merah hingga sebesar sekarang, baru ini dia main sangat antusias dan sulit berhenti. Biasanya kalo diajak ke playground hanya sebentar udah minta pulang. Makanya kami lebih senang nonton film berdua" kata Rama saat duduk bersama Izza menunggu Sachi yang sedang main.


"Tadi sempat tanya, dia bilang karena dia merasa ga seperti anak lainnya yang ditunggu oleh Ibunya saat main" adu Izza.


"Kalo saya minta kamu jadi pengasuhnya apa mau?" tembak Rama.


"Bukan menolak pekerjaan Kak, tapi saya ga bisa fullday menemani Sachi. Sebulan lagi sudah mulai kuliah" jelas Izza.


"Tapi bisa ga saya minta kamu part time jaga Sachi setiap weekend?" tanya Rama tetap berusaha.


"Saya ga bisa menjanjikan weekend karena biasanya saya menginap di panti asuhan untuk sekedar bantu-bantu disana" jawab Izza.