
Tipenya Rama kalo belanja itu maunya serba cepat, ga pake segala window shopping dan bandingin harga dengan toko sebelah. Baginya begitu yang dicari ada, terus spesifikasinya sesuai dengan kebutuhan serta kondisi barang baru masih prima, itu sudah cukup untuk langsung menggesek kartu debitnya di kasir.
"Ga to much nih Kak HP seharga motor?" tanya Izza.
"Biasa aja, malah ini bukan yang terbaru serinya" jawab Rama.
"Yang biasa aja deh Kak.. paling mahal dua jutaan aja" pinta Izza.
"Udah sih tinggal pake, udah dibayar juga. Kamu jangan mikir ga nyamannya, tapi pikir apa nanti kata para staf Audah Hotel kalo HP kamu jauh dibawah harga mereka. Saat menyandang gelar sebagai istri seorang Rama, artinya orang akan menilai saya dari penampilan kamu" kata Rama.
"Gimana kalo Kakak aja pakai yang baru, saya pakai bekas Kakak" usul Izza.
"Usulnya ditolak.. saya udah PO yang terbaru, sebulan lagi datang" jawab Rama.
Pihak outlet resmi HP memberikan barang pesanan dan meminta Rama mengisi kupon undian, ada program ulang tahun outlet dan akan diundi seminggu lagi.
Rama meminta Izza yang mengisi kuponnya karena dia merasa kurang hoki kalo ikut undian.
Setelah membeli HP, mereka kembali ke mobil dan Rama membawa mobil ke daerah SCBD (Sudirman central Bussiness District/kawasan niaga terpadu Sudirman), sebuah kawasan bisnis yang terletak di Jakarta Selatan.
Di Restoran yang sudah dibooking oleh Rama hanya menyediakan hanya dua puluh meja, karena Rama punya member VIP, jadi ga perlu waktu dua hari untuk reservasi. Mereka selalu ada spare table yang disediakan untuk member VIP mereka jika ada reservasi dadakan.
Izza terkagum-kagum sama interior restoran ini. Kali pertama kakinya menginjak restoran mewah. Interiornya mengusung desain yang santai dan nyaman, berkapasitas hanya empat puluh pengunjung per harinya. Tata cahaya dan penggunaan warna bernuansa hangat, pengaturan meja yang simpel dan tata ruang terbuka dengan rak-rak buku yang berisi koleksi kurasi sang pemilik restoran. Semua ini diharapkan dapat membuat para tamu merasa disambut hangat saat memasuki restoran. Ide desain ini terinspirasi dari suasana rumah. Dekorasi dapur tanpa sekat, yang terletak persis disisi ruang makan, memungkinkan para tamu melihat langsung proses memasak, mengaburkan batas antara dapur dan ruang makan untuk menciptakan pengalaman bersantap yang lebih lengkap.
Menu disini menggabungkan cita rasa Asia dengan teknik memasak ala Prancis. Menunya sudah disetting saat reservasi, terdiri dari empat belas hidangan, tujuh diantaranya adalah camilan.
Chef disini berusaha selalu menggunakan produk lokal terbaru seperti menu ikan musiman yang ikannya diambil dari nelayan konvensional yang memancing ikannya di perairan Bali dan Lombok. Sedangkan sayurannya diambil dari Lembang farms.
Hari ini ada menu spesial, duck opor croquette with cola jam. Mengombinasikan daging paha bebek dengan kentang dan bechamel opor, sebelumnya dibungkus dengan adonan kroket, lalu digoreng. Penyajiannya menggunakan kismis dan selai cola untuk memberikan rasa manis yang sedikit kompleks kedalam hidangan gurih. Ada juga telur segar yang diambil dari sebuah peternakan di Bogor dan hanya diolah maksimum empat puluh delapan jam setelah dipanen. Telur ini dimasak perlahan-lahan dengan suhu tertentu, disajikan dengan daging dada ayam asin, red onion dan saus yang dibuat dari tulang ayam panggang dan jahe.
"Kak.. disini bayar paketan atau per menu yang kita order?" tanya Izza pelan.
"Paketlah.. per orang tiga jutaan sudah termasuk pajak, karena saya punya member card, jadi sekitar lima jutaan aja. Lumayan ada diskon" jelas Rama dengan santai.
"Apa? lima juta makan begini aja? porsi kecil-kecil paling dua suap doang? Judulnya kita beli tampilan makanan dan suasana ini mah" jawab Izza rada kaget mendengar jumlah uang yang akan dikeluarkan oleh Rama.
"Worth it lah, suasana cozy, tampilan makanan cantik dan enak" jawab Rama.
"Iya sih... tapi sayang tau .. kalo begini mending kita makan pecel ayam pinggir jalan. Lima juta udah bisa bawa pulang semua dagangan abangnya malam ini" kata Izza rada nyesel.
"Ya udah sih... kan ga pake uang kamu" ucap Rama.
"Hemat dong Kak.. ga usah ya dinner-dinneran kaya gini lagi. Segala gaya fine dining.. ujung-ujungnya bikin dompet ga fine" ujar Izza.
"Jiwa emak-emaknya keluar ya .. serba perhitungan. Yang penting kan uang belanja udah saya kasih, ga ganggu ekonomi keluarga dan sesekali lah memberikan award untuk diri ini yang sudah bekerja keras" papar Rama tetap cool.
"Rama... " sapa lelaki sepantaran Pak Isam.
"Om Flandy... lama ga bertemu" jawab Rama sambil mencium tangan lelaki tersebut.
Rama anak modern yang masih memegang adat, dia masih mencium tangan ke orang yang lebih tua dan sudah kenal (kecuali sama rekanan, dia hanya berjabat tangan, tapi kalo rekanan lebih tua, Rama akan lebih membungkuk).
"Ini istrinya?" terka Om Flandy.
"Iya ... Za.. ini Om Flandy, Papanya Mba Anin" kata Rama memperkenalkan Izza.
"Salam kenal Om.. saya Izza" jawab Izza sambil tersenyum.
Om Flandy menyodorkan tangannya untuk salaman.
"Maaf sebelumnya Om.. istri saya tidak mau berjabat tangan dengan lelaki lain selain saya dan Papi" buru-buru Rama meminta maaf.
"Oh gitu... ya wajar kok, dia kan pakai jilbab" ucap Om Flandy memaklumi.
"Om datang sendiri?" tanya Rama.
"Iya .. kebetulan ada meeting, terus perut terasa lapar, jadinya kesini deh, sudah lama saya ga kesini. Ini salah satu tempat favorit keluarga" jawab Om Flandy.
"Gabung saja Om sama kami, kebetulan juga belum lama kok kita makannya" ajak Rama.
"Izza keberatan ga nih kalo Om gabung disini?" tanya Om Flandy dengan sopan.
"Silahkan Om.. malah ramai makan bareng-bareng" jawab Izza.
"Makasih ya" ucap Om Flandy.
Mereka bertiga melanjutkan makannya. Sambil sesekali membicarakan banyak hal. Izza banyak mendengar saja, karena ada beberapa hal yang tidak dia pahami.
"Izza ini sebenarnya ada saat pertunangan Mba Anin, mungkin lupa atau bagaimana jadi ga ingat wajahnya Om" basa basi Rama.
"Oh gitu .. ya karena memang banyak tamu, jadinya saya juga kurang memperhatikan" jawab Om Flandy.
"Masih aktif apa nih Om?" tanya Rama.
"Bisnis aja, tapi bisnis yang santai. Semua sudah anak yang urus. Maunya kaya Isam, tapi belum saatnya seratus persen lepas dari perusahaan. Mungkin nanti jika Anin sudah menikah, jadinya bisa diserahkan ke dia dan suaminya" papar Om Flandy.
"Oh begitu.." jawab Rama.
"Kok Om ga diundang pas kalian menikah? lupa ya punya keluarga lama" tanya Om Flandy becanda.
"Memang tidak mengundang siapa-siapa.. baru keluarga saja. Yang terpenting sahnya dulu Om. InsyaAllah secepatnya kami akan buat resepsi, nanti Om diundang deh" janji Rama.
"Janji itu hutang loh.. tapi meskipun telat, Om mau mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk kalian" kata Om Flandy.
"Makasih Om.. Tante bagaimana kabarnya? lama juga ga ketemu, terakhir kita ketemu pas Mba Anin tunangan, tapi ya ga sempat berbincang karena Tante sibuk sama para tamu" ucap Rama.
"Sehat .. malah sibuk jalan-jalan dengan teman sosialitanya. Main-main dong ke rumah, ajak istrinya juga" papar Om Flandy.
"Sabar-sabar Za jadi pendamping orang yang super sibuk. Istri saya dulu awal-awal berumah tangga juga ribut aja. Tapi lama kelamaan paham juga kok" saran Om Flandy.
"Iya Om .. ga terlalu terasa juga ya, kan saya juga banyak kegiatan, jadinya ga merasa bosan ditinggal suami kerja" jawab Izza.
"Ya..ya .. ya...oh ya Rama.. Om cuma mau bilang, yang berlalu biarlah berlalu, tidak perlu diungkit salah siapa. Saatnya memperbaiki hubungan keluarga yang sempat terputus. Lama juga ga berjumpa sama Isam, terakhir ya saat tunangannya Anin. Padahal dulu seminggu sekali kami mancing bareng atau main golf sekedar membunuh waktu. Antara Haidar dan Anin sudah tidak jodoh panjang lagi, memang kami juga orang tua yang egois, banyak mengatur hidup anak" kata Om Flandy.
"Iya Om .. walaupun saya tidak terlibat secara langsung dengan permasalahan dalam pernikahan Mba Anin dan Mas Haidar, tapi kan saya keluarganya, jadi mau ga mau pasti ikut berjarak. Pelan-pelan kan sudah banyak perubahan. Buktinya saya dan Mba Anin bisa bekerjasama membuat bisnis Hotel. Semoga jadi pembuka jalan terjalinnya lagi hubungan persaudaraan dengan keluarga Om Flandy" ungkap Rama.
"Iya .. makanya saya senang pas Anin cerita akan bisnis Hotel sama kamu. Jadinya kita bisa dekat lagi" ucap Om Flandy.
"Saya lihat Mba Anin juga sudah berbahagia sama Mas Ivan. Sudah sama move on semuanya" ucap Rama lagi.
"Haidar juga sama kan? sudah tau tentang siapa Sachi dan sekarang dalam proses di pengadilan. Om dengar juga dia sedang ada hubungan serius dengan seorang wanita. Semoga cepat dia menikah kembali, biar semua bahagia dengan kehidupan barunya" harap Om Flandy.
"Aamiin ya rabbal'alamin.." ucap Rama.
"Sebagai ucapan selamat.. hari ini Om yang bayar dinner kali ini" kata Om Flandy.
"Ada juga terbalik Om.. saya kan berdua.. Om sendiri, lebih banyak saya yang makan" basa basi Rama.
"Rama .. Rama .. kamu itu sudah seperti anak Om juga. Senang bisa berbincang seperti ini lagi. Kamu jauh lebih matang pemikirannya sekarang. Bolehlah kapan-kapan kita berbincang masalah bisnis. Sepertinya pola pikir kita dalam berbisnis lebih cocok dibandingkan membicarakan bisnis sama Haidar... hehehe" puji Om Flandy.
"Alhamdulillah jika penilaian Om saya banyak berubah ke arah yang positif" jawab Rama merendah.
"Pasti karena dukungan dari istri juga yang membuat kamu tambah semangat, rupanya si anak nakal ini pintar juga ya cari istri" lanjut Om Flandy sambil tertawa kecil.
Rama dan Izza hanya tersenyum.
"Untunglah Za kamu ketemu sama Rama yang sekarang.. udah ganti nama panggilan pula. Jaman namanya masih Faqi ... mmhhh ya ampunnnn.. setiap hari Isam pasti ngomel-ngomel, terus telpon pengacaranya buat urus anak bungsunya ini di Kantor Polisi" canda Om Flandy.
"Ya itu kan masa lalu Om.. yang penting sekarang sudah insyaf dan berubah. Biasalah kenakalan remaja, masih mencari identitas diri" ucap Rama.
"Ya ... semoga ga nakal-nakal lagi ya,malu udah punya istri semanis dan sekalem ini. Oh ya Za.. sekarang kamu kerja atau jadi Ibu Rumah Tangga saja?" tanya Om Flandy.
"Semuanya Om.." kata Izza menggantung.
"Maksudnya bagaimana ya?" tanya Om Flandy belum paham.
"Saya masih kuliah tapi sudah menikah sebelum lulus, jadinya merangkap jadi mahasiswi, jadi Ibunya Sachi, jadi Ibu Rumah Tangga di rumah mertua, jadi istrinya seorang CEO yang super sibuk, intinya jadi dipaksa ikutan sibuk juga .. hehehe" canda Izza.
"Paket komplit ya.. beruntung banget kamu Ram bisa dapatkan istri seperti Izza" puji Om Flandy lagi.
"Iya Om.. semoga dia beruntung juga punya suami seperti saya" ucap Rama.
"Dijaga yang benar.. jangan sampai lepas punya istri seperti ini" ingat Om Flandy.
Om Flandy mendapatkan telepon, tidak lama kemudian beliau pamit karena mendadak ada keperluan yang bersifat urgent.
Om Flandy sudah membayar semua bill tagihan Rama dan Izza.
🌺
"Mang Ujang udah pulang kok Mas Rama belum?" tanya Mba Nur yang sedang duduk di taman belakang setelah menidurkan Sachi.
Mba Nur baru sempat makan karena tadi membantu Sachi membuat prakarya.
"Mas Boss lagi pacaran dulu" jawab Mang Ujang.
"Udah makan Mang?" tanya Mba Nur.
"Udah tadi beli nasi goreng didepan komplek" jawab Mang Ujang.
"Bang Alex masih belum pulang juga, lagi ada urusan apa ya Mang?" selidik Mba Nur.
"Ciee yang kangen" ledek Mang Ujang.
"Ya bukan begitu Mang.. kami kan baru memulai penjajakan, wajar kan kalo tau aktivitas masing-masing" jawab Mba Nur.
"Ya telepon aja orangnya langsung" usul Mang Ujang.
"Saya dan dia sama-sama belum tau nomer HP masing-masing. Kata Mas Rama juga ga perlu tau nomer HP, ngobrol langsung aja di rumah. Khawatir nanti bermesraan via telepon" kata Mba Nur.
"Mas Boss mah begitu orangnya. Nyuruh orang ini itu .. dia sendiri juga masih terima telepon dari para wanita yang ga ada urusan kerjaan sama dia" ungkap Mang Ujang.
"Mang Ujang sendiri bagaimana sama calonnya?" tanya Mba Nur.
"Nah itu... sampai sekarang belum juga tau siapa calonnya. Orang tua kemarin bilang sudah siap melamar. Sama Mas Boss juga bilang dipercepat aja bulan depan nikahnya. Kenal aja belum kok nikah" jawab Mang Ujang.
"Kaya beli kucing dalam karung ya Mang" ucap Mba Nur.
"Siapa yang beli kucing pake karung? bukannya ada kandang buat kucing ya? lagian itu niat beli atau ngerampok ya, segala bawa-bawa karung" kata Mang Ujang dengan wajah polosnya.
"Bukan beli kucing beneran Mang.. ini mah istilah aja, jadi kita diminta hati-hati untuk memilih sesuatu. Kan kalo yang ada didalam karung juga ga kelihatan" jelas Mba Nur.
"Oh gitu... makanya Mba.. saya juga penasaran siapa calon yang Mas Boss siapkan untuk saya. Ga mungkin dong Mas Boss kasih wanita yang sembarangan" ungkap Mang Ujang.
"Iya.. Mas Rama pasti sudah memikirkan baik buruknya. Sama seperti saya, Mas Rama sudah berbicara ke orang tua juga sebelum berbicara dengan saya. Atas pertimbangan orang tualah baru Mas Rama ngomong ke saya" jelas Mba Nur.
"Tapi Mba Nur serius nih sama Alex?" tanya Mang Ujang.
"InsyaAllah saya mencoba mengenal dulu sekitar sebulan ini, nanti baru diputuskan mau seperti apa hubungan kami. Bang Alex sudah menerima masa lalu dan status saya, tapi kan buat wanita yang pernah gagal dalam pernikahan pasti akan lebih banyak pertimbangan" kata Mba Nur.
"Siapa tau ya kita bisa nikah massal.. hahaha.. irit biaya bisa patungan" canda Mang Ujang.
"Hahaha... bisa aja nih Mang Ujang" ucap Mba Nur ikut tertawa.