HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 178, Action and reaction



Rama berinisiatif menghubungi Mba Anindya dan Pak Alfian terlebih dahulu. Agenda pentingnya akan membicarakan tentang Audah Hotel kedepannya. Rama sudah punya beberapa opsi pilihan untuk keberlangsungan Audah Hotel.


⬅️⬅️


Semalam Rama berbincang lumayan lama di ruang kerja Papinya yang terletak persis disamping kamar Pak Isam.


Membicarakan tentang perkembangan Abrisam Group dan Audah Hotel.


"Benar itu pendapatnya Izza.. kamu harus mikirin kenyamanan para pekerja disana. Bekerja dibawah tekanan target pekerjaan itu sesuatu yang wajar, tapi bekerja dibawah tekanan perasaan was-was akan ada pemutusan hubungan kerja secara massal.. itu bisa mempengaruhi performa kerja. Ambil keputusan segera Ram.. " saran Pak Isam.


"Iya Pi" jawab Rama.


"Papi tau kamu sudah memikirkan banyak hal untuk Audah Hotel, mengalah untuk mengajak berbicara ga ada salahnya Ram. Jika memang memerlukan bantuan Papi untuk mendampingi pun Papi bersedia" tawar Pak Isam.


"Ya Pi..." jawab Rama lagi.


"Apa sih Ram yang kamu mau sebenarnya? mau lepas Audah Hotel atau ngga? kok Papi liat kamu kaya setengah hati buat melepasnya" ujar Pak Isam.


"Nanti Rama bicarakan dulu sama Mba Anin ya Pi.. semoga ada win-win solution" kata Rama.


"Kamu sama Izza sedang baik-baik aja kan?" tanya Pak Isam.


"Alhamdulillah baik Pi.. Rama aja yang sibuk dibandingkan sebelumnya, jadi ya agak jarang keliatan bareng. Maaf juga ya Pi, ga banyak terlibat dalam persiapan pernikahan Mas Haidar. Lagian kenapa harus repot-repot kalo sudah bayar event organizer. Papi juga harus jaga kesehatan, jangan cape-cape" ujar Rama.


"Papi kan berharap ini jadi acara pernikahan terakhir di keluarga kita Ram.. jadi Papi mau memastikan semua berjalan lancar dan kolega bisa diundang tanpa ada yang terlewat. Pas nikahan kamu aja udah tiga kali acara tetap aja ada yang terlewat" kata Pak Isam.


"Pokoknya kalo cape.. Papi istirahat aja. Serahkan ke orang lain aja untuk urus ini itunya" ucap Rama.


➡️➡️


Secara khusus Rama mengajukan persyaratan ke Mba Anindya, harus ada Pak Alfian untuk ikut bertemu dengan mereka. Masing-masing pihak juga dilarang membawa asisten atau pengacara. Murni pembicaraan ini hanya mereka bertiga. Rama tau jika Pak Alfian ingin sekali menyelamatkan Audah Hotel agar tetap menjadi milik keluarga besar mereka.


Rama yang menentukan lokasi pertemuan, rencananya mereka akan makan siang di daerah Jakarta Selatan. Rama sudah meminta Farida untuk menyiapkan semua, baik tempat, dokumen dan mengosongkan jadwalnya dari siang hingga sore hari.


Jauh didalam lubuk hati Rama, ia ingin sekali mengambil alih semua kepemilikan Audah Hotel secara seutuhnya, tapi terkendala di keuangan. Tidak mungkin mengalokasikan dana yang besar dari Abrisam Group, sedangkan tabungannya juga sangat jauh dari harga yang ditawarkan. Itulah mengapa pertemuan ini perlu dilaksanakan, Rama ingin berembug mencari solusi terbaik yang bisa mereka upayakan.


Sejahat-jahatnya keluarga Mba Anindya, mereka tetaplah sahabat lama, bahkan sempat menjadi keluarga. Mba Anindya pula yang pada awalnya membantu Rama untuk berkongsi mendirikan Audah Hotel sebagai bisnis pribadinya terlepas dari Abrisam Group.


.


Setelah sholat Dzuhur, Rama keluar dari ruangannya, Mang Ujang sudah standby didalam mobil karena tadi sudah diberitahukan oleh Rama lewat chat.


Rama masuk kedalam mobil yang terparkir tepat didepan lobby kantor.


"Mau kemana kita nih Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Ke Restoran didaerah Dharmawangsa" kata Rama sambil memasang sabuk pengamannya.


"Widih... makan siangnya yang mahal nih, makan siang ala sultan. Mau ada janjian sama siapa sih sampe makan siang disana" goda Mang Ujang.


"Ya lah ... kan mau meeting sama Mba Anin dan Pak Alfian, ga mungkin tempatnya sembarangan dong. Harus tau kelasnya seorang Rama, biar ga dipandang rendah" sahut Rama becanda.


"Emang kelas berapa Mas Boss?" sahut Mang Ujang.


"Ga usah banyak tanya, langsung cuss, cari jalan yang ga macet, sebelum jam satu sudah harus sampai disana" perintah Rama.


"Siap Mas Boss.. nanti saya tolong dibungkusin aja ya makanannya" request Mang Ujang.


Mang Ujang mulai melajukan mobil ke aspal jalanan Ibukota.


"Segala dibungkus, biasanya juga kalo saya meeting sambil makan, Mang Ujang juga ikut makan walaupun berbeda meja. Nanti open table aja disana" kata Rama sambil mengetik sesuatu di HP nya.


"Sekarang bedalah Mas boss, kan Mamang mah udah punya istri ...hehe, Maryam ngajarin buat belajar menikmati apa-apa bersama. Jadi kalo Mamang makan enak ya istri juga harus makan yang sama" ucap Mang Ujang serius.


Rama langsung menghentikan aktivitasnya. Dia meletakkan HPnya diatas dashboard.


"Kan bisa dibungkusin buat Maryam, gitu aja kok repot" jawab Rama.


"Intinya mah tetap aja Mas Boss... bukan apa yang kita makan, tapi dengan siapa kita makan" papar Mang Ujang.


"We.. o... we... WOW.. sekarang pinteran dikit nih Mang Ujang" puji Rama.


"Mamang mah emang aslinya pinter, tapi disimpan aja dalam diri... biar ga keliatan sombong gitu" sahut Mang Ujang.


"Saking disimpannya jadi sampe lupa ya tuh kepinteran nyelip dimana.. hahahha" ledek Rama.


"Maryam itu anugerah banget buat Mamang dan keluarga.. makasih ya Mas Boss udah membantu Mamang dalam mencari jodoh. Apalagi sekarang mau jadi seorang Bapak.. susah banget dijelaskan bagaimana bahagianya Mamang sekarang ini" ujar Mang Ujang serius.


"Beda ya Mang rasanya mau jadi seorang Bapak?" tanya Rama penasaran.


"Banget Mas Boss.. sekarang kalo mau apa-apa pasti ingetnya istri lagi hamil.. sebentar lagi mau punya anak, jadi kita lebih hati-hati aja mau melakukan sesuatu" jawab Mang Ujang.


"Saya pernah merasakan jadi seorang Bapak dengan hadirnya Sachi. Itu aja bikin diri saya jadi lebih dewasa dan penuh tanggung jawab, apalagi nanti kalo punya anak sendiri ya Mang.. pasti rasanya lebih dari saat itu" ucap Rama rada mellow.


"Mas Boss udah dikasih tipsnya ga mau dipraktekin sih.. coba aja atuh Mas Boss.. kan kita ga tau jalan mana yang berhasil. Selama ini kan udah ke dokter, ya tinggal pakai cara tradisional aja yang belum. Atau urut aja kali Mba Izzanya, mungkin peranakannya jauh atau turun gitu istilahnya. Bisa juga Mas Boss ikutan diurut, kali aja semprotannya kurang kenceng jadi ga berhasil mencetak bayi" papar Mang Ujang.


"Nah itu kali Mas Boss, pas keguguran kemarin ga bersih, tetangga di kampung pernah kaya gitu, ujung-ujungnya dioperasi karena ada tumor atau apa gitu namanya" sahut Mang Ujang.


"Mang .. kami tuh udah sampe konsultasi ke profesor loh, pakai alat yang canggih untuk melihat apakah rahim dalam kondisi bersih dan sehat. Alhamdulillah semua oke kok. Mungkin masih diminta bersabar sama Allah" jawab Rama bijak.


"Inilah Mas Boss.. susah dibilanginnya, bawaannya ga percaya sama kata orang jaman dulu. Belum dicoba udah ga mau duluan, orang mah coba dulu baru deh kalo ga cocok ya ga usah diterusin" saran Mang Ujang.


"Nanti deh Mang.. kalo Mas Haidar udah selesai acara pernikahannya, baru nanti saya ngobrol lebih dalam lagi sama Izza untuk langkah selanjutnya. Kan sekarang masih sibuk urusin pernikahan Mas Haidar, jadi dia ga akan fokus kalo ngobrol tentang program kehamilan. Ditambah lagi gampang sensitif kalo salah ngomong. Udah mah saya lagi ruwet urusan kantor, jangan ikutan ruwet urusan rumah" ungkap Rama.


"Mas Boss nih terlalu bucin sih, jadi nurutin banget istrinya mau gimana juga. Ingat Mas Boss, kita tuh kepala keluarga, imamnya rumah tangga.. kita yang atur, istri tinggal ngikutin. Kalo nunggu istri siap atau ngga ya namanya udah nikah ya harus siap diatur. Apalagi ini kan masalah program kehamilan. Apa jangan-jangan masih ingin nunda kali.. Mba Izza masih mau berkarier atau bebas main sana sini menghabiskan masa mudanya" kata Mang Ujang.


"Saya setuju bahwa suami itu pimpinan dalam keluarga.. tapi pimpinan pun harus bijak Mang. Istri itu bukan pabrik pembuat anak, sekedar sebagai teman di ranjang atau bisa kita minta untuk melayani semua kebutuhan hidup kita. Mereka juga manusia biasa sama seperti kita. Punya pikiran dan perasaan masing-masing. Setiap keluarga pun punya konsep bagaimana mengarungi rumah tangga nantinya. Saya dan Izza pun sudah punya konsep yang mungkin berbeda sama Mang Ujang. Istri memang ada dibawah kendali saya, tapi dia punya hak untuk menjawab dan bertanya. Dalam program kehamilan, titik berat kebanyakan ke pihak wanita. Diperiksa bagian dalamnya yang bisa dibilang sangat pribadi. Kebayang kan selama ini hanya dia dan saya yang melihat bagian itu, terus dalam program.. dilihat bagian sensitif itu oleh dokter bahkan ada perawat atau bidan juga. Kadang dimasukkan alat atau rangkaian proses yang membuat sakit atau tidak nyaman. Apa ga kasian melihat orang yang kita cintai terpaksa menjalankan semua itu? bukankah keinginan punya anak itu merupakan keinginan berdua? saya ga mungkin bisa merasakan rasa sakit yang sama seperti yang dia rasakan Mang. Belajar jangan otoriter terhadap istri. Mang Ujang beruntung dapat Maryam yang sangat paham bagaimana pola pikir Mang Ujang yang masih kaku kaya orang jaman dulu, dia bisa memaklumi Mang Ujang demi mengejar surganya kelak. Saya pun beruntung memiliki Izza, dia sangat memaklumi semua sifat dan sikap saya yang seperti ini. Sekali lagi saya ingatkan ke Mang Ujang, bahwa setiap orang berhak atas tubuhnya sendiri tanpa perlu diberikan perkataan sinis yang mengekang, harusnya dengan peradaban yang semakin maju, masyarakat juga memiliki pola pikir yang semakin maju. Bahwa setiap orang, khususnya wanita berhak atas tubuhnya sendiri. Sekalipun kelak ga diberikan anak pun, harusnya kita sebagai suami harus lebih legowo, tetap bersamanya hingga kelak kita tiada. Atau jika sudah punya anak dan bentuk tubuhnya berubah pun, kita harus menerima, jangan malah mencari wanita lain yang bodynya lebih bagus dibandingkan istri di rumah" ungkap Rama panjang lebar.


"Apa yang Mas Boss bilang sebenarnya sih oke.. tapi saya mah tetap susah terimanya. Emang kita ga boleh menuntut istri punya badan yang bagus biar kita tetap bernafsu liatnya?" tanya Mang Ujang.


"Boleh aja, tapi apa fasilitas yang Mang Ujang kasih ke istri udah cukup untuk menunjang penampilan paripurnanya? udah cukup belum kasih dia waktu istirahat yang berkualitas tanpa diribetin sama urusan rumah? cukup ga kasih uang belanja biar dia bisa mengatur gizi seimbang buat tubuhnya? cukup ga bayarin personal trainer biar dia punya body goal yang sehat? cukup ga kita kasih dana untuk dia ke salon, ke spa atau ke Mall demi menunjang penampilan luarnya? kalo belum cukup.. ya jangan nuntut. Nanti kalo dibalikin sama istri gimana? Apa kita juga mampu menjaga tubuh kita yang pasti ada perubahan dari jaman bujangan sampe jadi bapak-bapak? apa mampu kita menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan keluarga? apa mampu kita selalu membahagiakan istri? Hidup rumah tangga itu kompleks Mang ... jangan dibuat gampangnya aja. Sesekali kalo ke tempat mertua tuh minta petuah, bukan malah diam aja kaya sapi ompong, plonga plongo ga jelas" nasehat Rama.


"Kalo berhadapan sama Abah tuh otomatis langsung deg-degan, kayanya hal yang mau ditanya jadi lupa.. keburu gemetaran" adu Mang Ujang.


"Catetlah kalo takut lupa.. Abah Ikin kan Bapaknya Mang Ujang juga, ya layaknya anak sama Bapak harusnya ga perlu sungkan. Saya aja yang bukan anaknya aja ga sungkan. Memang jika berhadapan dengan para sesepuh yang ilmu agamanya tinggi kita ada sedikit rasa gimana gitu, tapi kan kita butuh petuah dan saran dari beliau, jadi ya harus berani mengungkapkan apa keresahan kita" ucap Rama.


"Mas Boss mah pinter ngomong, pasti lancar aja kalo ngobrol sama Abah. Lah Mamang kan gampang grogi" sahut Mang Ujang.


"Ya Allah... sabar amat ya Maryam.. eh sama keluarga Abah Ikin juga deh, punya mantu yang modelnya kaya Mamang. Entah saya harus bersyukur atau sedih...secara senang liat perubahan dari segi agama dari Mang Ujang dan keluarga, tapi kok miris ya dengan kesabaran Maryam dan keluarganya. Semoga mereka ga menyalahkan saya karena merekomendasikan Mang Ujang sebagai suaminya Maryam" ungkap Rama.


"Mas Boss nih ... harusnya lelaki membela lelaki.. ini kok malah kebalikannya" keluh Mang Ujang.


"Mang... kayanya sampai detik ini yang betah ngobrol panjang sama Mamang tuh cuma saya deh. Orang-orang di rumah aja udah males kalo ngobrol serius sama Mamang, apalagi Izza.. bawaannya pengen makan orang kalo udah kesel sama loadingnya Mang Ujang.. hahahha" tukas Rama.


"Mba Izza aja yang kadang ngeyel, orangnya serba ga percayaan.." sahut Mang Ujang.


"Ya wajar dia ga percaya.. lah yang dihadapin Mang Ujang.. Nih ya saya kasih tau teorinya.. kalo kita dibenci satu orang, bisa jadi orang itu iri sama kita. Tapi kalo semua orang kesel sama kita, artinya kita kudu ngaca.. apa yang salah sama kita" kata Rama.


Mang Ujang melihat kaca yang ada dibagian depan atas kaca mobil, melihat wajahnya dari berbagai pose.


"Bukan ngaca pake ini Mangggg... ngaca kepribadian dan sikap kita udah bener atau belum. Istilahnya refleksi diri... menyadari ada apa sama diri kita ini" jelas Rama akhirnya sewot juga.


"Tuh kan.. ketularan Mba Izza.. kalo udah sewot pasti manggilnya panjang .. Mamannnngggg" contoh Mang Ujang.


🌺


Proses pembicaraan dengan Pak Alfian dan Mba Anindya berjalan rada alot. Masing-masing pihak tidak bisa menemukan jalan terbaik untuk permasalahan ini. Rama kira bisa berjalan lancar penuh kekeluargaan, tapi ternyata cukup rumit dan menyita waktu karena berputar hanya dimasalah yang itu-itu lagi.


Bahkan karena sudah sore, mereka pindah lanjut membuat kesepakatan di Audah Hotel. Akhirnya Rama memutuskan untuk menginap disana dan meminta Izza untuk menemaninya di Audah Hotel sekaligus membawakan baju buat Rama.


.


Jam sebelas malam akhirnya dicapai sebuah kesepakatan baru, mengingat Pak Alfian masih mengharapkan Rama untuk tidak melepaskan jabatan sebagai Vice President di Audah Hotel, hal ini karena nama baiknya Rama cukup diakui dibandingkan nama keluarganya Mba Anin


Setelah negosiasi yang panjang, akhirnya ada kesepakatan, Rama akan memegang tiga puluh persen saham serta tetap menjadi Vice President di Audah Hotel dengan gaji dan tunjangan yang ditetapkan bersama. Pak Alfian memegang lima puluh persen saham sedangkan Mba Anindya sisanya. Pak Alfian juga akan menempatkan Dania, anak perempuannya sebagai Marketing Manager.


🌺


Seminggu berlalu sejak kesepakatan baru antara Rama, Mba Anindya dan Pak Alfian. Rama hanya ada di Audah Hotel hari Kamis dan Jum'at, karena Senin sampai Rabu ada di Abrisam Group. Dia juga masih tidak mau punya sekretaris seperti dulu.


Rama mencoba membangun hubungan profesional dengan Dania, tapi hati orang ga ada yang tau, memang sudah banyak perubahan dari Dania. Tapi berkali-kali Dania mencoba menggoda Rama, saat ini semua masih bisa dikontrol secara baik oleh Rama jadinya ga tergoda.


Hidup itu ada plus minusnya, secara umum bisnisnya Rama semakin maju tapi justru rumah tangganya semakin senyap. Apalagi Setelah pernikahan Mas Haidar dengan Mba Rani, keduanya memutuskan tinggal di rumah milik Mas Haidar yang tidak jauh dari tempat kerjanya Mba Rani. Mba Nur dan Alex pun akhirnya diboyong kesana untuk menjaga Sachi serta mengantarkan Sachi kemana aja. Awalnya Sachi sedih karena berjauhan sama Rama dan Izza, tapi keduanya mampu meyakinkan Sachi untuk setuju. Setiap Jum'at selepas sekolah, Sachi akan ada di rumahnya Pak Isam untuk menginap sampai Ahad sore dijemput oleh Mas Haidar dan Mba Rani.


Setelah Sachi tinggal bersama Mas Haidar dan Mba Rani, Pak Isam juga lebih banyak tinggal di Subang untuk mengurus Resortnya.


Tadinya Rama ingin juga tinggal di Apartemen miliknya, tapi setelah dipikir ulang, rumah ini harus ada yang jaga, jadilah niat itu dibatalkan.


.


Izza memang merasakan dimanja harta berlimpah serta kasih sayang yang sangat besar oleh Rama, tapi hidupnya makin terasa sunyi. Tidak punya saudara, teman pun hanya sedikit dan semua sudah sibuk dengan kariernya masing-masing.


Mba Gita juga sudah dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara, makinlah Izza merasa sendiri. Ditambah Rama pun makin larut kalo pulang ke rumah. Makin sepi juga sejak Sachi ga ada di rumah.


Kursus menjahit pun sudah dia tuntaskan dijenjang pertama, Izza merasa belum berniat untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya. Dia suka menjahit tapi belum berencana untuk berbisnis yang ada hubungannya dengan dunia jahit menjahit.


Diminta untuk lanjut kuliah pun Izza masih menolak. Sudah tidak merasa antusias terhadap jenjang pendidikan.


Sebulan terakhir ini malah Izza seperti wanita kesepian yang mencari kesibukan. Mulai dari ke Mall sendiri, ke toko buku dari pagi hingga sore sampai berkunjung ke tempat Ceu Lilis hanya untuk sekedar ngobrol dan makan bareng.


Hubungan Ceu Lilis dan Izza sudah sangat baik, keduanya bisa sama-sama menekan ego masa lalu dan menyadari jika mereka hanya korban dari cerita masa lalu.


Sebenarnya Rama masih sangat romantis dan perhatian, tapi Izza masih juga merasa kesepian karena lebih banyak sendirian. Rama juga selalu mengijinkan Izza untuk berkegiatan sesuai yang diinginkan asalkan sore sudah ada di rumah.


🏵️


Karena Mas Haidar dan Mba Rani akan berbulan madu (Mba Rani baru bisa ambil cuti tahunan), jadinya Mas Haidar meminta tolong ke Izza untuk mengawasi bisnisnya Mas Haidar.


Izza lebih banyak stay di tempat penjualan sayuran dan buah-buahan organik milik Mas Haidar yang baru dibuka. Dia akan berangkat kerja setelah Rama berangkat kerja dan pulang sebelum Maghrib sesuai kesepakatan dengan Rama.