
HP nya Rama berbunyi, ada panggilan masuk dari Alex.
"Boss .. ada kabar buruk ... Zizi meninggal" lapor Alex buru-buru.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun... Jangan becanda kamu ya .. udah malam nih. Besok kan rencananya saya mau ...." jawab Rama tersadar kalo Izza ada disebelahnya, jadi ga diteruskan.
"Bener Boss, sejam yang lalu saya baru dapat kabar, meninggal tadi pagi karena serangan jantung. Aturan rutan jika ada napi meninggal, dua kali dua puluh empat jam baru dimakamkan, memberi kesempatan keluarga buat ambil jenazah. Mungkin karena ga ada keluarga yang bisa dihubungi, jadinya ya begini .. belum ada yang ambil" kata Alex meyakinkan.
"Sekarang posisi dimana?" tanya Rama.
"Menurut informasi yang saya dapatkan, jenazah masih ada di rutan Boss. Saya akan otewe kesana Boss, untuk memastikan semuanya" kata Alex.
"Kuncir ada dekat saya?" tanya Rama.
"Ada Boss, dia pakai motor" jawab Alex.
"Bilang saya ke Rutan ya, tolong dikawal" ucap Rama.
"Waduh .. ada apa ini segala dikawal-kawal? Apa jangan-jangan Kak Rama punya bodyguard, kalo punya kenapa tadi di Mall ga keliatan dan ga bantuin? eh tapi itukan bukan Kak Rama yang kena sama penjahat" tanya Izza dalam hatinya.
Rama sempat terdiam sejenak, ga lama kemudian meletakkan HP nya kedalam kantong baju.
.
"Kak .. siapa yang meninggal?" tanya Izza mencoba memecah keheningan.
Rama masih mengatur otaknya agar bisa tenang. Padahal tinggal selangkah bisa ketemu sama Mba Zizi untuk tau banyak hal tentang Mba Gita dalam kasus kebakaran rumah keluarga Mba Nay, tapi sekarang lenyap sudah harapan itu.
"Dia pasti sengaja dimusnahkan.. tapi gimana caranya? bukankah dalam Rutan penjagaan sangat ketat? bisa ngga ya minta visum?" kata Rama bergelut batin.
"Kak .. are you okay?" tanya Izza meyakinkan kondisi Rama.
Rama masih diam.
"Kalo Kak Rama ga sehat .. Izza yang bawa ya mobilnya, janji deh pelan bawanya. Diusahakan ga lecet. Ini matic kan?" tawar Izza.
Rama memandang kearah Izza. Izza mengernyitkan dahinya.
"Mba Zizi meninggal" ucap Rama rada lemas.
Izza diam membeku, hanya air mata yang keluar menandakan kesedihan yang mendalam. Kakak yang lima tahun ditunggunya, malah akan bertemu dalam kondisi ga bernyawa.
Ketika orang yang kita sayangi meninggal dunia, terkadang muncul rasa tidak ikhlas menerima kenyataan kalau kita ditinggalkan.
Marah, sedih, menangis, berteriak adalah ungkapan rasa tidak terima saat kejadian itu menimpa kita. Hal tersebut sangat wajar dan setiap individu berbeda dalam menyikapinya.
"Gak ... gak mungkin... Kakak bohong kan?" kata Izza menyangkal.
Adalah sesuatu yang sering terjadi, jika kita tidak percaya musibah menimpa hidup kita. Kita akan merasa semuanya tidak masuk akal dan bahkan sampai tidak bisa berpikir jernih.
"Mba Zizi udah janji mau jemput Izza ... Mba Zizi ga pergi ... nanti Mba Zizi akan datang menemui Izza" ucap Izza masih menyangkal informasi dari Rama.
Tangis mulai terdengar ada isak suaranya.
"Ga .. Mba Zizi mau datang menjemput" ucap Izza melemah.
"Za ... terima kenyataan ini dengan ikhlas" saran Rama.
"Setelah orang tua beserta rumah terbakar dan ditemukan dalam kondisi gosong .. Kakak bilang Izza harus ikhlas terima kenyataan kalo Mba Izza pun pergi tanpa pamit?" mulai Izza berteriak.
Rama membiarkan Izza marah, karena kalau ditahan, amarah ini akan semakin tidak terkontrol. Rasa marah ini didasari oleh kesedihan dan rasa sakit akibat kehilangan orang tersayang.
Seseorang yang tengah mengalami tahap duka cita memerlukan terapi yang berbeda untuk setiap orang. Perasaan menerima dan ikhlas pada keadaan terpulang pada individu masing-masing.
Rama memegang jari jemari Izza untuk menguatkan.
"Kita ke Rutan sekarang, kita makamkan selayaknya jenazah sesuai agama kita. Nanti Mang Ujang akan saya minta buat jemput Ibu Panti ya" kata Rama lembut.
Memegang tangan orang yang sedang mengalami musibah akan membuat orang tersebut lebih tabah dan sabar. Paling tidak, akan merasa ada yang membantu melewati fase terberat, jadinya akan terasa lebih ringan bebannya. Bisa dikatakan kalo genggaman tangan adalah bentuk dukungan termudah yang bisa diberikan dalam segala situasi dan kondisi.
Izza menelpon Ibu Panti Asuhan, Rama menelpon Papi dan Mang Ujang. Rama menceritakan garis besar tentang siapa Zizi ke Pak Isam.
"Ya udah Papi jalan ya sama Ujang buat jemput Ibu Panti. Nanti langsung ke Rutan. Haidar biar jaga Sachi di rumah" kata Pak Isam dalam sambungan telepon.
.
"Ya Allah Mas Boss.. baru juga mau tidur.. eh udah nelpon aja. Makanya jangan sok-sok an jalan sendiri. Udah tau sering begadangin kerjaan, segala nyetir sendiri. Ujung-ujungnya minta jemput kan karena ngantuk dan cape" oceh Mang Ujang saat angkat telepon dan tertulis dilayar nama Mas Boss Rama.
"Kakaknya Izza meninggal" ucap Rama singkat.
"Mba Gita meninggal??? innalilahi wa innailaihi rojiun ... cepet amat ya dia meninggal" jawab Mang Ujang yang langsung duduk.
"Udah pokoknya bangun.. Papi mau ikut sama kamu, ke Panti Asuhan dulu ya jemput Ibu Panti" perintah Rama.
.
Dalam waktu lima belas menit, Mang Ujang sudah mengendarai mobil besar milik Pak Isam.
"Ya Allah ga nyangka kalo umurnya Mba Gita pendek ya Boss Papi" ujar Mang Ujang rada sedih.
"Bukan Gita yang meninggal .. Kakak kandungnya Izza" jawab Pak Isam.
"Punya Kakak kandung? kenapa Mba Izza malah tinggal di Panti Asuhan, bukan tinggal sama Kakaknya?" tanya Mang Ujang.
"Saya aja baru tau kalo Izza masih punya Kakak kandung, kirain sebatang kara" jawab Pak Isam.
"Kok Mba Izza malah tinggal sama Mba Gita ya.. diangkat adik pula. Ujang ga paham deh" ucap Mang Ujang masih bingung.
"Udah deh Jang .. fokus nyetir dulu, saya aja ga paham. Tapi yang jelas kita temenin Rama dan Izza deh buat urus jenazah Kakaknya Izza" perintah Pak Isam.
"Alamat rumah Kakaknya dimana?" tanya Mang Ujang.
"Rutan" jawab Pak Isam.
"Apa Boss Papi.. hutan??? hutan mana?" tanya Mang Ujang kaget.
"Rutan Jang ... Rutan .. rumah tahanan alias penjara" jawab Pak Isam gemes.
"Emang dalam penjara ada rumah?" tanya Mang Ujang dengan polosnya.
"Kakaknya Izza adalah napi di Rutan itu, tadi pagi meninggal karena serangan jantung. Belum ada keluarga jemput karena alamat tidak ditemukan dan tidak ada kontak keluarga" jelas Pak Isam penuh kesabaran walaupun rada gemes.
"Napi??? ya ampunnn .. lah kok bisa jenazah minta jemput? Boss Papi jangan nakut-nakutin dong. Kan jadi horor nih" kata Mang Ujang.
"Ya bukan jenazahnya yang minta jemput, pihak Rutannya lah Ujangggg" mulai Pak Isam emosi jiwa.
"Katanya ga ada kontak keluarga, kok Mba Izza bisa tau?" buru Mang Ujang penasaran.
"Iya juga ya ... Rama sama Izza tau dari mana ya? nantilah itu ditanya ke Rama kalo udah ketemu sama dia. Yang penting cepet sampe ke Panti Asuhan dulu" kata Pak Isam.
"Jangan cepet-cepet juga Boss Papi, liat aja jalanan masih padat merayap. Adanya bukan jemput jenazah malah kita yang dijemput Malaikat ... coy ... coy.. amit-amit... amit-amit" ungkap Mang Ujang sambil mengetuk kepala dan setir mobil bergantian.
"Kalo lagi di kendaraan jangan ngomong yang aneh-aneh" ingat Pak Isam.
🏠
"Kenapa Izza ga pernah cerita ya tentang Kakaknya. Apa karena Izza tau Kakaknya penjahat jadinya dia menutup ini semua? ya Allah Nak .. terlalu diam selama ini, menyimpan rapat rahasia ini seorang diri" ujar Ibu Panti Asuhan.
🍒
"Apa??? jenazah sudah diambil oleh pihak keluarga? ini adik kandungnya loh Pak" omel Rama saat tiba di Klinik yang ada didalam Rutan.
Petugas yang menjelaskan ke Rama terlonjak kaget mendengar amarah Rama.
"Ini ada bukti kartu keluarga dan akte lahir dari almarhumah yang menguatkan mereka pihak keluarga, tadi mereka juga bawa aslinya. Ada pula foto bersama keluarga. Dari bukti tersebut maka kami menyerahkan kepada keluarganya" ucap petugas.
"Siapa yang ambil?" tanya Rama lagi.
"Kami tidak bisa memberikan data tersebut karena bersifat rahasia. Kalau memang Anda keluarganya, ada bukti yang bisa ditunjukkan?" tanya Petugas Klinik.
"Ga ada Pak .. tapi ini adik kandungnya" jawab Rama.
"Maaf Pak .. mungkin bisa ditanyakan ke keluarga yang lain. Menurut catatan juga almarhumah tidak pernah ada keluarga yang menjenguk sejak lima tahun yang lalu masuk tahanan" jelas Petugas lagi.
Sulit memang posisi seperti ini untuk tetap ngotot sama Petugas. Izza tidak punya bukti yang menunjukkan kalo Mba Zizi adalah Kakak kandungnya.
Saking histerisnya, Izza sampai hampir hilang kesadaran. Untung ada Rama duduk disebelahnya, jadi Izza rebah ke tubuhnya Rama.
"Terima kasih atas penjelasannya Pak" ucap Rama.
"Sama-sama Pak" jawab Petugas.
Rama masih menahan tubuhnya Izza.
"Kita pulang dulu ya, nanti kita pikirkan lagi langkah apa yang harus kita tempuh" saran Rama.
Izza ga bisa berpikir, jadi dia mengikuti semua arahan Rama. Pelan-pelan Rama memeluknya dari samping menuju mobil. Ketika Rama sedang membuka pintu mobil, tubuh Izza langsung lemas dan pingsan.
Bersamaan dengan itu, mobil Pak Isam memasuki parkiran Klinik.
"Wah... wah ... menang banyak nih Mas Boss" kata Mang Ujang begitu melihat Rama tengah berupaya menahan tubuh Izza agar tidak rebah ke tanah.
"Ya Allah Izza ... " pekik Ibu Panti Asuhan yang melihat tubuh Izza rebah.
Rama dengan sigap langsung membuka pintu belakang dan menggendong tubuh Izza untuk masuk kedalam mobil.
Pak Isam dan Ibu Panti langsung lari kearah mobilnya Rama. Mang Ujang masih markir mobil dulu.
"Izza ... ya Allah Izza... bangun Za..." panggil Ibu Panti Asuhan.
"Ibu langsung masuk mobil, kita bawa ke Rumah Sakit aja" teriak Rama sambil bergegas masuk ke mobil.
"Papi ikut kamu ya" kata Pak Isam.
"Iya Pi ... " jawab Rama.
Mang Ujang berlari menghampiri mobilnya Rama.
"Kenapa Mba Izza?" tanya Mang Ujang.
"Pingsan lah" kata Rama.
"Lah terus ini pada naik mobil Mas Boss semua, terus saya gimana?" tanya Mang Ujang bingung.
"Pulang aja, nih ada makanan fast food, lumayan buat iseng di jalan" jawab Rama sambil memacu mobilnya.
"Mas Boss .. Mas Boss .. yah gitu dia mah orangnya. Jadi bingung deh, kata Boss Papi, kita mau jemput Kakaknya Mba Izza, terus sekarang mana yang dijemput? Ini sebenarnya pada kenapa sih? kok kaya pada kaya orang keder. Segala Mba Izza pingsan. Jadi ada yang meninggal ga sih? atau cuma prank?" ucap Mang Ujang geleng-geleng kepala.
Ada buah kecapi jatuh dihadapan Mang Ujang.
"Setannnnnn..." teriak Mang Ujang berlari menuju mobil.
Buru-buru Mang Ujang memacu mobil menuju rumah.
"Permisi.. permisi ... numpang ... numpang... anak Bagong mau lewat .. eh saya kan anaknya Abah .. kenapa jadi anak Bagong? Ya pokoknya kita masing-masing ya, jangan saling ganggu" ucap Mang Ujang ketakutan.
🌺
"Tidak ada indikasi pasien harus dirawat inap. Hanya shock saja, seperti ini wajar terjadi jika kehilangan anggota keluarga. Cukup ditenangkan saja sama pihak keluarga" saran dokter setelah memeriksa kondisi Izza yang sudah siuman.
"Baik dok, terima kasih" jawab Rama.
.
Mereka kembali kedalam mobil. Melanjutkan perbincangan selama dalam perjalanan menuju Panti Asuhan.
"Gimana ya Za .. besok Ibu sudah masuk ke balai pelatihan untuk para pengurus Panti Asuhan se DKI Jakarta, kamu kan tau kalo nama Ibu sudah terdaftar ikut untuk pelatihan bimbingan kewirausahaan dan pelatihan konseling. Seminggu pula acaranya" kata Ibu Panti Asuhan bingung.
"Gapapa Bu ... Ibu berangkat aja. Izza bisa kok sendiri" jawab Izza.
"Jangan Za .. kalo Ibu minta kamu ada yang nemenin, kasian sama anak-anak nanti ga keurus sama pengurus Panti lainnya" ujar Ibu Panti Asuhan.
"Izza gapapa Bu .. ga usah khawatir" jawab Izza lagi.
Sedari tadi Izza memeluk Ibu Panti Asuhan, dia masih juga menangis walaupun tidak sehisteris tadi.
"Saya punya usul, ya silahkan dipikirkan baik-baik. Bagaimana kalo Izza di rumah kami dulu sampai Ibu Panti pulang dari pelatihan. Memang dibudaya kita tidak ada ya tinggal dalam satu atap yang sama kalo bukan keluarga. Tapi ini kan kondisinya beda. Secara psikologis Izza butuh teman, ada yang ngawasin makan minumnya, apalagi ada jadwal kuliah. Tenang saja Bu, di rumah saya ada banyak kamar tamu yang kosong, bisa dipakai. Dikunci saja kalo memang khawatir terjadi sesuatu. Saya juga punya lima asisten rumah tangga yang siap melayani Izza. Saya juga punya anak perempuan, jadi saya paham bagaimana kalo perempuan sedang sedih. Dulu anak saya juga down saat ditinggal oleh Maminya. Bagaimana Bu ... Izza... apa bisa dipikirkan tentang penawaran saya?" ide Pak Isam.
"Ga usah Pak .. terima kasih" jawab Izza pelan.
"Tapi menurut Ibu, ada baiknya juga Za. Kamu jadi ada yang urus. Lagipula kamu bisa tidur sama asisten rumah tangganya Pak Isam, kalo kamu merasa ga nyaman sendirian" saran Ibu Panti Asuhan.
"Coba dipikirkan dulu Za... Bapak kasian liat kamu kaya gini. Meskipun Bapak belum paham banget sama apa yang baru terjadi" kata Pak Isam.
Rama ga ikut buka suara. Pikirannya udah melayang jauh.
"Gila .. jaringan ini sangat profesional, bahkan sudah dipersiapkan semua berkasnya Mba Zizi. Pasti ini pembunuhan berencana, mereka khawatir kalo saya yang ambil maka akan minta otopsi... Edan tenannnn... Ini juga Alex bisa kecolongan berita. Kenapa baru dengarnya malam. Anak buahnya juga katanya udah standby didepan Rutan.. mana coba? kok hasilnya kaya gini" marah Rama dalam hatinya.
HP Rama berbunyi. Ada telepon masuk dari Alex.
"Besok saya hubungi lagi" kata Rama tanpa mendengar apa maksudnya Alex menelponnya.
Mukanya Rama udah ga enak untuk dilihat.
"Gimana pendapat kamu Rama?" tanya Pak Isam.
"Pendapat apa ya Pi?" tanya Rama balik.
"Izza mau Papi bawa ke rumah. Kan kalo di rumah kita banyak yang bisa temenin" jawab Pak Isam.
"Terserah Pi" kata Rama.
💐
"Sial ...." ucap Mang Ujang kesel.
Ban mobil belakang pecah dan ban pengganti tidak ada didalam mobil.
"Telepon siapa ya? nasibbbbb ... " pikir Mang Ujang.