HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 197, Recognize



Setelah Izza tidur dengan pulas, Rama keluar dari kamar, ada Ani duduk dibangku depan kamarnya, letaknya bersebelahan dengan kamar Rama, tidak jauh disana ada Mas Barry dan Kakak iparnya sedang berbincang.


Rama berhenti sejenak didepannya Ani. Tanpa memandang kearah Ani, Rama berbicara dengan volume yang hanya didengar oleh Ani.


"Mba.. saya harap tidak perlu ada intervensi apapun ke istri saya. Asal Mba tau ya, saya ini suami yang over protective. Saya ga pandang bulu terhadap siapapun yang mengusik keluarga. Apalagi yang diusik adalah istri saya. For your information, saya sudah memenjarakan orang yang berbuat tidak baik terhadap istri, padahal orang tersebut lumayan terkenal di Jakarta. Siapapun akan saya sikat kalo berani nyenggol" ancam Rama serius.


"Saya ga mengintervensi dia kok" kelit Ani.


"Istri saya tadi sengaja menyambungkan telepon ke saya, jadi dengan amat jelas saya mendengar apa yang Mba bicarakan. Saya bisa keep silent ke semua orang tentang hal yang Mba katakan tadi, dengan syarat jangan berani-berani bicara sama Izza tanpa ijin dari saya" kata Rama sambil berlalu.


Jelas Ani bengong mendengar ancamannya Rama.


"Gilaaaa... ada suami sesadis itu? udah kaya ketua gengster banget. Kirain cuma ada di film Mandarin, eh ternyata disini ada juga. Tapi kalo dipikir-pikir, sayang banget sama istrinya sampai se over itu" ucap Ani ngomong sendiri.


.


"Ga rehat Ram?" tanya Mas Barry.


"Belum ngantuk Mas" jawab Rama.


"Enak juga ya disini .. tenang banget" ucap Mas Barry.


"Masih jam sepuluh lewat mah belum rame Mas.. nanti tengah malam pasti rame. Disini kan banyak para pecandu, jadi mereka diminta bangun terus mandi dan sholat. Kalo yang udah ga sakaw bisa diajak kerjasama, tapi kalo santri baru pasti ngamuk" jelas Rama.


"Oh begitu... harus ekstra banget dong ya para pengurusnya" kata Mas Barry.


"Begitulah kira-kira Mas" jawab Rama.


Mobil milik Rama memasuki kawasan Pesantren. Keluarga Abah Ikin banyak yang ikut pulang dari Rumah Sakit karena tidak boleh banyak yang jaga.


Setelah memarkir kendaraan, Mang Ujang ikut bergabung sama Rama dan Mas Barry. Kakak iparnya Mas Barry pamit mau rehat.


"Mang Ujang ini asli orang sini Mas, jadi kalo mau tau sekitar sini atau berminat beli tanah daerah sini bisa sama Mang Ujang" promo Rama.


"Bukannya supir kamu ya Ram?" tanya Mas Barry.


"Iya Mas.. bestie saya nih. Limited edition pokoknya mah" puji Rama yang membuat Mang Ujang tersenyum sombong.


"Se limited edition apa dia?" tanya Mas Barry penasaran.


"Nanti lama-lama tau deh Mas.. susah dijelaskan dengan kata-kata" jawab Rama sambil ketawa kecil.


🏵️


Selepas kajian subuh, Abah Ikin membawa rombongan Rama, Izza dan keluarga Pak Sandy ke ruang tamu rumah beliau. Hal ini karena dianggap perbincangan yang akan mereka bahas bersifat sangat pribadi, sehingga khawatir jika di aula maka banyak orang yang akan mendengar.


Abah Ikin menanyakan ke Pak Sandy dan Izza tentang apa yang mereka inginkan. Dengan lancar secara bergantian, Pak Sandy dan Izza mengutarakan isi hatinya.


Abah Ikin menjadi pendengar dulu. Rama dan keluarga Pak Sandy pun diam seribu bahasa. Semua mendengarkan penuturan Izza dan Pak Sandy.


"Memang penting untuk mengetahui bagaimana nasab anak. Nasab merupakan pertalian keluarga berdasarkan hubungan darah melalui pernikahan yang sah. Agar nasab terjaga, nikah disyariatkan untuk menjaga kemurnian nasab karena berhubungan dengan hak dan kewajiban. Anak diluar nikah menurut hukum Islam adalah anak yang tidak sah dan tidak mempunyai hubungan hukum dengan ayahnya. Mohon maaf, dalam kasus ini, diduga Nak Izza adalah anak yang lahir dari hasil hubungan gelap Pak Sandy dengan almarhumah. Perlu diingat juga saat itu, almarhumah berstatus istri orang. Jadi Pak Sandy tidak bisa menganggap pasti dalam kandungan saat itu adalah anak Pak Sandy. Anak diluar nikah ada dua macam, pertama, anak yang dibuahi tidak dalam pernikahan yang sah, namun dilahirkan dalam pernikahan yang  sah. Istilahnya anak sekarang itu MBA.. married by accident. Kedua, anak yang dibuahi dan dilahirkan diluar pernikahan yang sah. Dalam kasus ini, tidak bisa Izza bernasab ke Pak Sandy. Ayahnya tidak ada kewajiban memberi nafkah kepada anak meskipun secara biologis adalah anaknya. Jadi hubungan yang  timbul hanyalah secara manusiawi, bukan secara hukum. Sekarang kedua orang tuanya Izza sudah tiada, tidak ada yang bisa kita mintakan cerita secara pasti. Memang secara ilmu kedokteran yang canggih bisa kita lakukan test DNA. Tapi test itupun punya konsekuensinya masing-masing. Jika hasil identik, mungkin bisa saja membuat bahagia dan tidak bahagia. Demikian pula jika hasil tidak identik. Sekarang semua ini berpulang ke Pak Sandy dan Nak Izza, karena hanya berdua yang tau jawabannya. Tidak perlu memanjangkan sesuatu yang sudah jelas secara agama dan hukum negara. Nak Izza dan Pak Sandy sudah dewasa secara pemikiran, silahkan sholat istikharah untuk mendapatkan jawaban yang terbaik. Jawabannya sebenarnya sudah ada di hati masing-masing, hanya belum merasa yakin saja" papar Abah Ikin.


Izza meremas tangannya Rama, Rama mengusap pelan punggung Izza tanpa kata-kata. Disana tampak Izza menggantungkan dukungan dari Rama.


Pak Sandy melihat kearah Izza, menunggu respon Izza.


"Saya tidak bersedia untuk test DNA, dengan test itu sama saja membuka aib Ibunda saya tercinta. Biarlah kisah masa silamnya menjadi cerita beliau. Sekarang Ibu sudah tiada, rasanya ga elok mengungkit hal yang pernah dilakukannya, apalagi ini sebuah aib. Jika Pak Sandy merasa bersalah, meminta ampunan kepada Allah SWT lebih baik. Dan jika ada rencana untuk memberikan saya sejumlah harta, silahkan diberikan ke Panti Asuhan. Saya tau rasanya tinggal disana, jadi bila ada donatur memberikan bantuannya, pasti amat sangat berharga untuk operasional Panti Asuhan" putus Izza dengan bijak.


Semua masih menyimak. Menunggu balasan dari Pak Sandy.


"Bapak hormati semua keputusan kamu Za. Tanpa ada satupun keinginan Bapak yang harus kamu penuhi. Sudah cukup hidup kamu berantakan sebelum menikah. Selamat berbahagia Za.. kamu sudah menemukan lelaki yang tepat. Lelaki yang bisa memberikan kamu segalanya, tidak sekedar harta, tapi juga cinta. Rama .. Bapak titip Izza ya. Sepertinya Bapak tidak perlu memberikan wejangan buat kamu, karena Bapak yakin kamu lebih tau apa yang terbaik untuk Izza. Pintu rumah Bapak akan selalu terbuka untuk kalian" ucap Pak Sandy dengan tulus.


Rama mendekati Pak Sandy kemudian mencium tangannya, Pak Sandy langsung memeluk Rama. Menitikkan air matanya dipelukan Rama.


"Makasih ya Ram.. karena pembicaraan kita, Bapak jadi merasa lebih ikhlas. Semoga ini adalah yang terbaik buat kita semua" kata Pak Sandy.


"Alhamdulillah Pak.. semua berakhir dengan baik. Atas nama Izza, saya minta maaf jika ada kata-katanya yang kurang berkenan dihati. Kekhilafannya adalah kekhilafan saya yang belum baik membimbingnya. Saya tidak menjanjikan Izza bisa terima Bapak, tapi paling tidak dia mau diajak bersilaturahim kedepannya. Jaga kesehatan Pak, kita jalani hari-hari kedepannya seperti biasa. Bukan meminta untuk melupakan, tapi sebagai acuan mawas diri kedepannya. Saling mendo'akan meskipun kita tidak berjumpa" jawab Rama.


"Mengenai kerjasama kita, Bapak sudah memutuskan untuk mundur saja Ram. Hal ini demi kenyamanan dan ketentraman kamu sama Izza" kata Pak Sandy.


"Nanti kita bahas dipertemuan selanjutnya ya Pak. Rasanya tidak bisa kita campurkan urusan pribadi sekarang ini dengan urusan bisnis" ucap Rama.


Ani dan Mas Barry melihat rangkulan dan genggaman Pak Sandy dan Rama seperti anak dengan orang tuanya. Rama memang sosok yang menghormati orang yang lebih tua dan pastinya bisa mengambil hati lawan bicaranya.


🏵️


Izza meminta pulang siang ini juga, selepas Dzuhur. Sebelumnya akan mampir sebentar ke Rumah Sakit untuk menjenguk Ceu Lilis dan bayinya.


Hanya sebentar di Rumah Sakit, rombongan Rama pun pulang menuju rumah. Mang Ujang merapihkan kasur dibelakang dan diganti sprei. Anak-anaknya Mang Ujang tiduran disana bersama Maryam. Rama yang menyupir karena keliatannya Mang Ujang mengantuk, jadi memberikan waktu Mang Ujang tidur dulu. Izza pun ingin duduk dibangku depan.


"Gapapa De duduk didepan? kan ga bisa selonjoran. Ditengah aja, nanti bangkunya disetel memanjang" kata Rama khawatir.


"Mau liat pemandangan Kak, kayanya udaranya ga panas, jadi ga silau buat diliat" alasan Izza.


Rama meletakkan tas bawaannya didepan. Agar kakinya Izza tidak terlalu menggantung.


"Kasian Mba Boss atuh .. sempit kan kakinya kalo tas didepan begitu. Ditengah masih muat kok tasnya" ujar Mang Ujang yang belum paham kenapa Rama meletakkan tas dikakinya Izza sebagai bantalan.


"Gapapa Mang.. biar kakinya enak kalo begitu. Kan ga gantung, nanti kalo banyak gantung bisa bengkak" jelas Rama.


Anak-anaknya Mang Ujang tidur nyenyak, mungkin karena bisa enak tiduran di kasur dan AC nya pun ada yang dari belakang juga, jadi tidak gerah.


"Mau makan De?" tawar Rama.


"Beli cemilan ya kalo ada minimarket, yang tadi beli di minimarket Rumah Sakit udah tinggal sedikit" jawab Izza.


"Laper banget ya? tadi kan beli roti, wafer dan susu. Makan siang juga tadi nasi Padang nambah. Yang laper siapa nih?" ledek Rama.


"Ssttt...." ingat Izza.


"Sorryyyy..." jawab Rama pelan sambil tersenyum.


Begitu melihat minimarket, Rama menepikan mobilnya.


"Mau ikut turun atau dibelikan saja?" tanya Rama.


"Ikut turun.. Ummi Maryam mau dibelikan apa? makanan atau minuman gitu" tawar Izza.


"Air mineral sama susu kedelai saja, maklum kalo menyusui bawaannya haus dan lapar" jawab Maryam.


Izza memang membahasakan memanggil Maryam dengan sebutan Ummi karena si kembar dibahasakan seperti itu.


"Sama roti ya, lumayan buat ganjal perut. Nanti kalo kita lapar, ya mampir di restoran lagi aja" putus Izza.


"Hahhh?? baru jalan dua jam udah laper lagi?" tanya Rama kaget.


"Ga ngerasain sih jadi busui dan bu..." kata Izza ga melanjutkan omongannya.


"Ya .. ya... ayo cepat beli.. perjalanan masih panjang ini. Kalo ada onigiri atau makanan yang lebih berat dari roti ya beli aja. Kakak mau bablas tol terus nih biar cepat sampai Jakarta" pinta Rama.


"Oke Mas Boss.." ledek Izza.


.


Setengah perjalanan, Izza sudah tertidur di bangku tengah yang direbahkan. Mang Ujang pindah ke bangku depan. Tapi Rama tetap yang memegang kemudi.


"Mba Izza kayanya doyan makan ya A'.. dari kemarin Maryam liat selalu mulutnya ngunyah ga berhenti-henti. Badannya aja makin berisi" kata Maryam sambil mengASIhi anaknya yang satu.


"Saya senang sih dia doyan makan. Toh saya kerja kan cari uang buat dia makan juga. Jadi ga sia-sia dong kerja" jawab Rama dengan santai.


"Apa ga curiga kalo sedang isi Mas Boss?" tanya Mang Ujang ikutan nimbrung.


"Terus kalo isi kenapa? kan ada suaminya" ujar Rama sambil tersenyum.


"Alhamdulillah kalo isi atuh A'.. artinya Mba Sachi dan si kembar akan nambah teman mainnya" ucap Maryam.


"Dido'akan yang baik-baik saja. Semoga harapan kita semua bisa segera terwujud. Mang Ujang dan Lilis saja sudah punya anak, saya juga mau" kata Rama.


"Maryam do'akan selalu, agar Aa' Rama dan Mba Izza segera diberikan keturunan yang sholeh sholehah" ujar Maryam.


Izza baru bangun menjelang Maghrib. Masih di jalan tol, tapi sekitar tiga puluh menit lagi sampai di rumah.


"Kak.. lapar" ucap Izza.


"Lapar lagi? kita sudah di tol dalam kota ini. Nanti cari pintu keluar tol dulu ya, terus cari Mesjid buat sholat Maghrib, kemudian kita cari makan. Gimana? Atau mau sekalian makan di rumah?" tanya Rama.


"Jangan tunggu sampai rumah, bisa pingsan kelaparan. Cari aja pintu keluar tol terus mampir ke restoran yang besar, biasanya ada musholla" jawab Izza.


"Mba Izza ada mual atau pusing ga?" tanya Maryam.


"Ngga" jawab Izza.


"Telat datang bulan?" tanya Maryam lagi.


"Memang kenapa?" tanya Izza balik.


"Soalnya tiba-tiba makan ga seperti biasanya. Maaf ya kalo saya curiga Mba sedang hamil" jawab Maryam.


"Jelek ya kalo badan berisi seperti sekarang? mau bilang gemukan gitu" ucap Izza terasa hati.


"Bukan begitu Mba.. mungkin bisa cek ke dokter, siapa tau ada rejeki untuk Mba. Dari badannya terlihat seperti ibu hamil muda. Kan bagus kalo kita tau sejak awal-awal" saran Maryam.


"Emang kalo ke dokter, kita dapat uang?" tanya Mang Ujang bingung.


"Mana ada dokter kasih kita uang, ada juga kebalikannya. Kita bayar uang konsultasi ke dokter" jawab Rama.


"Lah tadi Maryam bilang cek ke dokter aja siapa tau ada rejeki, terus rejeki apa? apa kita mau dikasih sedekah gitu dokternya?" ucap Mang Ujang mulai lolanya.


"Rejeki hamil A' .. bukan rejeki berupa uang. Rejeki itu ga hanya sekedar harta A'.. kesehatan juga salah satu rejeki" sambar Maryam.


"Oh gitu .. ya coba aja kalo gitu Mba Boss, penasaran sama Mas Boss junior. Kira-kira kaya Ayahnya yang ribet ga ya... hahaha" ledek Mang Ujang.


"Emang saya ribet? bukannya kebalik Mang?" tanya Rama.


"Biar kata ribet tapi baik hati dan Boss terbaique..." buru-buru Mang Ujang mengedit ucapannya.