HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 24, Destiny



Sebenarnya Rama masih kesal sama keluarganya, bayangan ketika di pesawat, dia akan dijemput dan disambut dengan pelukan hangat keluarganya, tapi kenyataan yang tersaji jauh api dari panggang. Seakan-akan dia hanya sekedar pulang dari plesiran.


Keluarga ga ada yang hadir saat dia diwisuda (untunglah Om Shakti dan keluarganya hadir memberikan ucapan selamat kepadanya), bahkan sekarang pun kepulangannya ke tanah air ga disambut.


Rama paling kesal sama Papinya karena kan beliau tau kalo kepergian Rama keluar negeri itu taruhannya mengubur impian menjadi arsitek dan mengikuti semua keinginan Papinya.


Hanya Sachi yang menyambutnya dengan penuh antusias. Ya, hanya Sachilah keluarga yang membutuhkan kehadirannya. Yang menyediakan pelukan ketika dia sampe di rumah.


.


Keesokan harinya, Mang Ujang sudah sampai di rumah Pak Isam jam enam kurang sepuluh menit, sampe security rumah merasa aneh, jam segini driver kantor udah datang untuk menjemput.


Rama keluar pintu rumah, dia memanggil Mang Ujang yang baru aja ngopi.


"Ayo Mang kita berangkat" ajak Rama sambil masuk mobil duduk dibagian depan.


"Ini Mas Boss kerajinan apa lupa kali ya udah balik ke Indonesia, pagi amat jalan kerja, udah kaya bagian cleaning service" gerutu Mang Ujang.


"Udah sono jalan, belum tau aja adatnya Mas Rama, kalo udah marah apaan juga dibanting" kata Security mengingatkan.


"Ah masa? kayanya dari kemarin cuek aja orangnya, ga keliatan galak" sahut Mang Ujang.


"Kita nih Security paling takut sama dia, biang kerok dan nekat. Pernah nih pagar hancur ditabrak sama dia karena ga dibukain pagar" cerita Security.


"Waduh" jawab Mang Ujang sambil buru-buru lari kearah mobil.


Mang Ujang langsung masuk kedalam mobil.


"Lambat banget sih gerakannya" oceh Rama


"Mau kemana Mas?" ujar Mang Ujang sambil memasang sabuk pengaman.


"Kuburan" jawab Rama santai.


"Ya Allah Gusti .. Mas Boss .. kuping saya masih normal kan ya? pagi-pagi mau ke kuburan? jangan mentang-mentang saya telat masuk mobil terus saya diajak ke kuburan dong Mas" tanya Mang Ujang kaget.


"Mang pura-pura ga denger atau ada masalah di kupingnya? nanti saya beliin obat kalo kupingnya ga dengar" jawab Rama datar.


"Obat apaan Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Segelas kopi hitam sama lontong sayur didepan kantor Papi, yang penjualnya punya anak yang cantik itu" ucap Rama sekenanya.


"Hahaha... Mas Boss tau juga.." kata Mang Ujang heran kalo Rama tau tentang anaknya tukang warung, selama ini hampir semua karyawan laki-laki sarapan disana.


Ada pemandangan segar, wanita cantik yang melayani sarapan sekaligus ramah banget orangnya.


"Biarpun saya lama ga ke kantor Papi, semua berita yang kaya gitu mah sampe aja Mang di kuping saya" jawab Rama dengan santainya.


Jok mobil direbahkan, Rama kembali tidur lengkap dengan kacamata hitamnya. Sebelum tidur dia memberikan instruksi untuk ke areal pemakaman yang mana aja.


"Ini Mas Boss ada masalah dimatanya atau gimana ya? udah tau mendung kaya gini, dia pakai kacamata hitam. Emang bener-bener ajaib ini manusia yang satu ini. Ya Allah.. berikan kesabaran pada Hambamu ini. Kalo bukan instruksi dari Pak Isam, kayanya mending milih jadi supir kantor yang anterin staf aja deh" kata Mang Ujang dalam hatinya.


.


Sesampainya didepan Makam Mami, Rama berdo'a dengan khusyuknya, sudah lama ga nyekar, sejak kesibukannya kuliah dan hanya kembali setahun sekali ke Indonesia.


"Mi .. Maaf kalo nama panggilannya diganti, bukan ga menghormati keinginan Mami. Tapi biarlah kisah berlanjut dengan nama Rama .. semoga membawa keberuntungan buat hidup Rama kedepannya" kata Rama.


Dari makam Mami, dia beranjak ke makam Nay di komplek pemakaman Kecamatan sebelah. Mang Ujang cuma bisa diam aja di mobil, matahari masih malu-malu keluar dari peraduannya, hujan lebat semalam membuat awan masih tampak gelap.


Kembali Rama berdo'a didepan makam Nay, kira-kira berseling empat makam, duduk seorang wanita sedang berdo'a sama seperti dirinya. Tampak wanita itu mengusap air matanya. Hujan pun turun, belum lebat tapi lumayan basah kalo jalan kedepan gerbang makam, wanita tersebut mengeluarkan payung dan bersiap pergi.


"Permisi .... bisa numpang pakai payung sampe parkiran ga? saya ga bawa payung" tanya Rama dengan sopan.


"Boleh Kak ... kebetulan payung saya lebar, mari Kak pakai payung bersama" jawab wanita itu.


"Makasih ya" jawab Rama sambil berlari mendekati wanita berpayung tersebut.


"Kakak yang pegang aja ya, karena lebih tinggi dari saya" pinta wanita itu.


"Ya" jawab Rama sambil mengambil gagang payung.


Ga sengaja tangan mereka bersentuhan, keduanya pun langsung menarik tangan masing-masing, tapi Rama langsung cekatan megang gagang payung biar ga jatuh.


"Maaf ... ga sengaja" ucap Rama penuh sesal.


Wanita tersebut hanya tersenyum.


"Ayo Kak cepat, nanti keburu hujan gede" ajak wanita itu.


Wanita tersebut mengantarkan Rama sampai mobilnya. Mang Ujang dengan sigap membukakan pintu untuk Rama.


"Makasih ya atas tumpangan payungnya" ucap Rama.


"Sama-sama Kak, manusia kan harus saling membantu selagi bisa" jawab wanita cantik dengan tinggi 165 cm.


"Mas Boss, eta jalma atawa jajalmaan (itu manusia atau makhluk jadi-jadian)" bisik Mang Ujang.


"Husss" ujar Rama ke Mang Ujang.


"Kamu mau kemana? Hujan gini, angkot pasti jarang lewat" ucap Rama kearah wanita itu.


"Saya naik taksi aja Kak" jawabnya.


"Naik aja mobil ini, nanti di tempat rame kamu bisa turun, atau kamu mau kearah mana? siapa tau kita searah" tanya Rama dari dalam mobilnya.


"Kearah Sudirman Kak" jawab wanita itu.


"Kebetulan saya juga kearah sana, berarti kita searah, naik aja yuk di mobil ini, jangan takut .. kami ini orang baik-baik kok, seperti yang kamu bilang kan... manusia harus saling membantu" kata Rama sopan.


Mang Ujang membukakan pintu belakang buat wanita tersebut. Rama melanjutkan tidurnya, sebenarnya dia merasa jetlag, perbedaan waktu enam jam selama empat tahun belakangan dirasakan mengubah pola tidurnya. Biasanya disini jam tujuh pagi maka disana masih jam satu malam yang notabene masih jam tidur. Makanya, tubuhnya mengirim sinyal-sinyal ke otak untuk tidur.


Mang Ujang lah yang mengajak berbincang wanita yang duduk di kursi belakang.


Sesampainya di parkiran gedung perkantoran Papi, Mang Ujang pelan-pelan membangunkan Rama yang sangat nyenyak sekali tidurnya. Rama bangun sambil mengucek matanya.


"Lah Mang... wanita yang tadi mana?" tanya Rama kaget.


"Wanita yang mana sih Mas Boss?" ujar Mang Ujang pura-pura bego.


"Yang tadi bareng sama kita dari kuburan itu" jelas Rama.


"Wah Mas Boss halu atau mimpi nih... coba kucek-kucek lagi matanya, siapa tau belum ngumpul rohnya" kata Mang Ujang.


"Mang jangan becanda deh, liat kan tadi ada wanita cantik, tinggi semampai pake jilbab ungu" ujar Rama.


"Ngelindur ya Mas Boss?" kata Mang Ujang.


"Hihihi .. emang enak dikibulin ... lagian iseng mulu dari kemarin. Mana kalo tidur ga ingat dunia..." ujar Mang Ujang becanda seorang diri.


Rama kembali ke mobil, membuka dompetnya, dia kasih uang euro ke Mang Ujang.


"Ini uang apa ya Mas? belum pernah liat yang kaya gini" kata Mang Ujang bingung melihat mata uang euro.


"Buat beli pesor Neng Rani nih, saya ga punya rupiah. Mang nyebrang aja ke gedung depan, ada money changer (tempat penukaran uang asing) lumayan tuh sepuluh euro sekitar seratus lima puluh ribu" ujar Rama menjelaskan.


"Wah bener-bener ini Mas Boss...sagala tau sebutan pesor.... ckckck salut saya sama Mas Boss .. makasih ya Mas uangnya, nanti saya tukar dulu" jawab Mang Ujang sambil mengangkat dua jempolnya.


Rama tau istilah pesor, ga sengaja tau dari supir Papinya. Rama pernah telpon menanyakan tentang pengasuh Sachi yang ga angkat telponnya. Nah kedengaran kalo sang supir lagi makan pesor sama security kantor, jadi dia tanya apa itu pesor.


Rama penasaran tentang pesor, jadi selain lontong sayur seperti biasa, di warung itu juga menjual pesor yang tersohor disepanjang jalan Sudirman karena hanya dia penjual satu-satunya. Pesor ini sejenis lontong yaitu beras yang dibungkus menggunakan daun pisang, perbedaannya yaitu bentuk pesor yang segiempat, beda sama lontong yang bulat panjang. Setelah dibungkus menggunakan daun pisang, pesor lalu diikat menggunakan tali rapia bertumpuk dengan pesor lainnya, sehingga berbentuk lipatan ketika sudah matang. Penyajiannya bisa pakai sayur santan seperti lontong sayur, tapi disini yang khas dengan parutan kelapa yang digongseng dan dicampuri sedikit cabai untuk menambah rasa.


.


Rama menunggu didepan lift, sambil memakai jaket bombernya buat menutup kemeja kotak-kotak yang dipakainya. Pintu lift terbuka keluar seorang wanita dengan rok panjangnya.


"Loh...kamu...?" ucap Rama sambil menunjuk kearah depan.


"Kakak... maaf ya tadi saya turun dari mobil ga pamit, tapi udah pamit dan ngucapin makasih ke supirnya Kakak. Abis keliatannya Kakak lelah sekali, tidurnya sampe nyenyak gitu" kata wanita itu.


"Ya gapapa .. oh ya, kenalin .. saya Rama" Rama memperkenalkan dirinya.


"Saya Izza" jawab Izza singkat.


"Kamu kerja disini?" tanya Rama.


"Cuma karyawan magang aja Kak, kontrak tiga bulan" jelas Izza.


"Ohhh .. oke deh ... saya naik dulu" kata Rama yang langsung memencet tombol lift.


.


Dalam lift, Rama memencet tombol di HP nya kemudian menelpon seseorang.


"Mang Ujangggg .... Hampir aja saya percaya kalo wanita tadi itu makhluk halus... Ternyata cuma dikerjain... Hadehhhh ampun deh, ini kaki tadi rasanya udah lemes ngebayangin bisa komunikasi sama makhluk halus" cecar Rama tanpa basa basi.


"Hahaha... seri atuh Mas Boss, dari kemarin saya diisengin mulu. Satu sama ya..." jawab Mang Ujang.


.


Rama berjalan kearah ruangan Papinya, hampir jam delapan pagi, para karyawan sudah mulai berdatangan.


Mba Gita pun sudah tampak duduk di kursinya sambil mengetik. Dia mampir dulu masuk ke ruangan Mba Gita.


"Hai Mba Gita ... makin sibuk aja nih" sapa Rama.


"Pagi Mas Rama ... wah .. makin cakep aja nih pulang dari luar" puji Mba Gita.


"Ini pujiannya tulus ga? atau sekedar mau minta sarapan? hehehe" canda Rama.


"Tenang ... saya udah sarapan kok. Mas Rama kesini mau ada perlu apa ya? ada yang bisa dibantu?" tanya Mba Gita.


"Mau ketemu Papi" jawab Rama simple.


"Udah langsung disuruh masuk kantor? Emang di rumah ga ketemu?" tanya Mba Gita.


"Beda urusan Mba" jawab Rama.


"Welcome to the jungle (ucapan selamat datang dengan mengasumsikan tempat kerja sebagai hutan rimba yang siap dijelajahi) Mas Rama" ucap Mba Gita.


"Thanks" ucap Rama singkat.


"Baru kemarin sampe udah langsung masuk kerja aja, padahal Pak Isam belum kasih instruksi apapun ke saya buat Mas Rama" jelas Mba Gita.


"Saya datang sebagai Rama yang empat tahun lalu menandatangani perjanjian dengan Pak Isam" ucap Rama.


"Semua sudah terpenuhi kan Mas... baik pihak Pak Isam maupun pihak Mas Rama, apa yang tertulis sudah sama-sama dijalankan" tutur Mba Gita.


"Yup... semua memang berjalan sesuai kontrak. Kini saatnya saya bebas Mba.. saya mau bangun mimpi saya sendiri, saya ga mau terkurung disini" ujar Rama serius.


"Kalo bukan Mas Rama siapa lagi? bukannya Mas Rama bilang siap membantu Pak Isam makanya buru-buru pulang setelah lulus dan ga lanjutin program master disana?" tanya Mba Gita.


"Awalnya iya, tapi setelah berpikir ulang, masih ada Mas Haidar yang bisa bantu Papi" jawab Rama.


"Mas Haidar sudah lama resign dari semua perusahaan Pak Isam. Ya seperti sekarang ini, beliau lebih nyaman membangun usaha sendiri. Sekarang hanya Mas Ramalah yang diharapkan bisa menggantikan posisi Pak Isam. Lagipula, kemampuan Mas Haidar buat memimpin kurang mumpuni, ditambah namanya sudah jelek karena perceraian dengan Mba Anindya yang rame diluaran bilang kalo Mas Haidar selingkuh dan mandul" kata Mba Gita sambil duduk di kursi depan Rama.


Seorang wanita masuk membawakan dua cangkir coklat panas, diletakkan satu persatu dihadapan Mba Gita dan Rama.


Rama sejenak tertegun melihat wanita tersebut, tapi buru-buru kesadarannya ia kumpulkan, menata ritme jantungnya yang bekejaran liar.


"Ini Izza, dia diperbantukan dibagian HRD untuk mengurus pesangon para karyawan Hotel yang akan ditutup" Mba Gita memperkenalkan Izza.


"Sudah kenal tadi Mba.." jawab Izza.


"Loh kenal dimana?" tanya Mba Gita.


"Di lobby tadi, pas depan lift" cepat-cepat Rama menjawab.


"Izza pamit mau kerja dulu ya Mba... permisi Kak..." pamit Izza.


"Izza ... jangan sembarangan panggil Kak... ini anak bungsunya Pak Isam, calon Boss besar disini" Mba Gita mengingatkan.


"Oh... maaf ya Pak Rama, saya tidak tau" jawab Izza malu.


"Hahaha.. kuping saya kok gatel ya dipanggil Bapak... kesannya kaya tua banget" canda Rama.


"Terus saya panggilnya apa ya?" tanya Izza serius.


"Kayanya lucu juga dipanggil Kakak, terdengar akrab dan terkesan lebih muda..." jawab Rama.


"Mas Rama udah mulai bisa godain cewe nih.. awas ya macam-macam sama adiknya Mba.." sahut Mba Gita.


"Loh... Izza adiknya Mba Gita?" tanya Rama meyakinkan.


"Iya ... Izza ini adik saya, makanya awas aja kalo macam-macam sama dia" wanti-wanti Mba Gita.


Izza meninggalkan ruangan Mba Gita, mata Rama terus mengekori langkah Izza.


"Ayo diminum dulu, lumayan buat menghangatkan debaran hati yang sedang sejuk ditimpa angin cinta" ledek Mba Gita.


Rama yang digoda Mba Gita cuma bisa tersenyum sambil mengangkat cangkir dari meja.