HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 182, Love in the air



Rama dan Izza diantar sama Alex menuju lokasi car free day, mereka turun dibatas kendaraan boleh melintas. Setelah mengantar, Alex langsung pulang karena nanti Rama dan Izza pulangnya akan mencoba naik kendaraan umum. Sachi sudah ditawarkan untuk ikut, tapi menolak karena ada les renang pagi ini (pengganti hari Sabtu, guru renangnya kemarin ada acara, sehingga jadwal les renang diganti hari ini).


Rama dan Izza berjalan kaki sekitar dua ratus meter, mereka tampak bergandengan tangan, menuju meeting point yang sudah ditentukan oleh panitia, terlihat banyak peserta yang sudah datang. Rata-rata datang berpasangan, tidak ada yang bawa anak, karena rata-rata usia anaknya masih dibawah setahun, jadi riskan untuk dibawa sepagi ini dan di ruang terbuka. Pembagian kaos kepada para peserta sedang dilakukan, Rama dan Izza sudah memakai kaos karena kemarin Rama sudah ambil terlebih dahulu.


Rama dibantu oleh dua orang temannya sedang mengumpulkan data peserta yang hadir untuk nanti pengundian hadiah. Dia juga membagikan kupon undian beserta sebotol air mineral.


"Kak.. boleh ga Izza liat-liat dekat sini aja, ga enak juga kumpul dekat Kakak yang lagi sibuk. Mana lelaki semua" pinta Izza.


"Jangan jauh-jauh ya, jam tujuh udah mulai start jalan" kata Rama.


"Iya, sekarang masih jam enam kan" jawab Izza.


.


Car free day biasanya berlangsung dari pukul enam pagi hingga sebelas siang. Sepanjang waktu CFD, banyak sekali warga tumpah ruah di jalanan. Tidak hanya sekedar olahraga (lari, bersepeda, sepatu roda, skateboard dan lainnya), ada juga yang berkumpul sekedar hangout bareng, wisata kuliner bahkan menjadi ajang mencari jodoh.


Jalur Car free day yang resmi menurut pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dimulai dari Bundaran Senayan menuju ke Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MH Tamrin dan berakhir di Bundaran Patung Kuda.


Berbagai komunitas juga ada disepanjang jalan, seperti komunitas bersepeda, komunitas pecinta binatang dan komunitas hobi lainnya.


Keamanan pun tidak perlu khawatir karena disepanjang jalan sudah ada polisi yang berjaga-jaga baik berseragam resmi maupun yang tidak menggunakan seragam.


Izza berjalan santai, melihat lalu lalang dengan segala keramaian yang ada.


"Izza..." ada suara yang memanggilnya.


Izza langsung mencari asal suara.


"Izza.. didepan..." kata suara itu lagi.


Izza tersenyum setelah melihat orang yang memanggilnya.


"Mas Candra kesini juga?" tanya Izza.


"Ya.. lagi liat-liat aja, kamu sama Rama?" ujar Candra.


"Iya.. lagi ada mini reuni tapi ga resmi ya, teman SMA nya Kak Rama. Karena beliau sibuk, ya saya jalan-jalan dulu aja, nanti sebelum jam tujuh baru balik kesana. Mas Candra sama keluarga?" kata Izza.


"Sendiri.. kita duduk dulu Za .. biar ngobrolnya enak" ajak Candra.


Izza dan Candra duduk di trotoar.


"Saya mau coba buka booth untuk memasarkan tour and travel, ya paling ga kita sebar brosur serta bikin penawaran menarik. Namanya juga usaha" buka Candra.


"Kayanya tadi juga liat ada kok yang nawarin paket liburan" jawab Izza.


"Makanya kita mau coba, sekarang lagi mengumpulkan informasi dulu, sebagai pemula pada kancah perdagangan CFD kan belum paham bagaimana mekanismenya" kata Candra.


"Oh gitu... apa sistemnya sewa lapak?" tanya Izza.


"Saya tanya beberapa pedagang dan beberapa penguasa lapak, disini main blok-blokan, nanti tiap blok ada penanggung jawabnya, mereka nanti yang atur kita ada dimana. Iurannya juga per kedatangan dua puluh ribu, ya paling adalah beberapa oknum ormas yang ikutan minta jatah preman. Namanya juga di jalanan ya, setengah hukum rimba dipakai disini" jelas Candra.


"Mas Candra ga gengsi membuka lapak disini? secara big boss lohhh.. masa turun ke jalan" ucap Izza.


"Kan bukan saya sendiri yang jaga, ada orang yang akan membantu, saya mengawasinya aja. Jangan lupa... saya ini dulu pernah jadi tukang bubur keliling, jadi tukang servis elektronik keliling juga .. pokoknya serba keliling deh, tapi ga sampe pusing tujuh keliling ya" canda Candra.


"Masa sih? eh tapi kan pernah cerita sedikit ya saat di Resort. Hebat euy" puji Izza.


"Bukan hebat sih, lebih kepada kebutuhan hidup demi keluarga. Kamu pasti juga melakukan hal yang sama ke keluarga kan Za? apalagi sekarang kamu sudah lebih dari cukup, pasti orang tua bahagia melihat posisi kamu sekarang ini" kata Candra.


"Berharap mereka bangga pastinya.. tapi ga tau juga ya.. kan ga bisa liat mereka lagi" ujar Izza.


"Ga bisa liat? maksudnya sudah tiada?" tanya Candra meyakinkan kesimpulannya.


"Iya.. orang tua dan Kakak sudah ga ada semua. Yatim piatu saya Mas" jawab Izza.


"I'm sorry.. maaf ya Za..." ucap Candra ga enak hati.


"Gapapa Mas.. toh sekarang saya punya keluarga pengganti yang menyayangi saya kan. Kalo Mas Candra masih lengkap orang tuanya?" tanya Izza balik.


"Bapak saya sudah meninggal, itulah kenapa saya kerja keras sejak masih SMP, karena kami tidak ditinggalkan harta yang cukup untuk melanjutkan hidup. Pernah diusir dari kontrakan, bubur ga laku hingga akhirnya kita makan bubur sampai habis, tinggal di sepetak warung plus tempat tinggal. Jadinya kalo pagi buka lapak bubur, nanti kalo sudah tutup, dirapihkan untuk tidur. Ibu masih ada, tinggal sama adik saya" cerita Candra.


"Alhamdulillah masih ada Ibu ya Mas.. masih ada tempat mengadu, kalo seperti saya mau mengadu kemana?" ucap Izza.


"Ya ke Rama.. mau kemana lagi" kata Candra.


"Bedalah orang tua dan pasangan, memang kita bisa mengungkapkan apa aja, tapi pasti ada bedanya" papar Izza.


"Sebenarnya sama aja sih Za .. mungkin dulu kita berkeluh kesah dan meminta nasehat dari orang tua, ketika menikah.. pastinya akan berubah menjadi sharing ke pasangan. Kita juga bisa kok bermanja sama pasangan, ga ada rahasia juga kan. Rama itu keliatannya juga jauh lebih dewasa dari usianya, orang seperti itu malah enak buat diajak diskusi panjang. Selain dia punya solusi pastinya dia juga memberikan support terbaik buat kamu. Oh iya.. saya belum ucapin makasih ke dia, semalam antar Lexa dan anak saya ke rumah. Kejebak macet dan mobil mogok. Lexa random aja mengetuk jendela mobil orang untuk meminta tumpangan, ternyata yang diketuk jendela mobilnya Rama. Baik sekali dia antar sampai ke rumah dengan selamat" lanjut Candra.


"Iya Mas.. sebaik-baiknya orang kan yang bermanfaat bagi orang lain. Konsepnya Kak Rama memang seperti itu, apalagi terhadap Ibu hamil dan anak-anak, pasti langsung gercep membantu" ucap Izza.


"Kamu punya saudara di Jakarta ga Za? wajah kamu ini rada mirip sama orang yang saya kenal soalnya. Pertama kali liat aja seperti melihat kenalan saya itu" kata Candra.


"Ga Mas.. saya ga punya sanak keluarga di Jakarta, adanya di Kudus. Keluarga saya semua penghuni panti asuhan saat itu" jawab Izza.


"Oh gitu.." sahut Candra.


"Sudah hampir jam tujuh Mas.. saya pamit dulu ya, acara jalan santainya mau dimulai" kata Izza.


"Monggo Za.. titip salam buat Rama ya" ucap Candra.


"Waalaikumsalam.. insya Allah disampaikan ya Mas, salam juga untuk Mba Lexa dan Boy" jawab Izza.


.


Izza bergegas ke tempat Rama berada.


"Kirain beli sesuatu" kata Rama begitu melihat Izza.


"Ini" jawab Izza sambil memperlihatkan bungkusan plastik ke Rama.


"Kue apa itu?" tanya Rama.


"Kue Ku.. isinya kacang hijau" jawab Izza.


"Kayanya belum pernah makan kue itu" ujar Rama.


"Ini kue punya makna kalo di budaya Tionghoa" sahut temannya Rama yang beretnis Tionghoa.


"Kue begini ada maknanya?" tanya Rama penasaran.


"Dalam budaya Tionghoa, kue thok atau yang lebih familiar disebut kue ku, bisa juga disebut ang ku kueh atau kue kura-kura merah. Hal ini merujuk pada cetakan kue ku yang memang menyerupai cangkang kura-kura. Sementara warna merah, merujuk pada warna kue ku yang identik dengan warna merah, kan kata 'ang' pada ang ku kueh sendiri berarti merah. Dalam tradisi, khususnya Hokkien, kura-kura kerap dianggap sebagai lambang panjang umur dan kemakmuran. Jadi ada keyakinan jika kue ini dapat membawa panjang umur, lantaran bentuknya menyerupai kura-kura. Secara usia, kura-kura memang mampu hidup selama delapan puluh sampai seratus tahun. Dengan menyajikan kue ku ini saat sembahyang, masyarakat Tionghoa berharap bisa mendapatkan umur panjang sekaligus hidup sehat. Kenapa ada yang bilang ini kue thok karena merujuk pada proses pembuatan kue ini, perlu diketok dengan sangat keras agar keluar dari cetakan. Kan kalo cetakan diketok bunyinya thok.. thok..." jelas temannya Rama.


"Bersyukur kita hidup di negara yang multietnis, jadi bisa banyak belajar. Secara visual kita melihat sebagai kue yang menarik, ternyata makna kuenya pun semenarik bentuknya" kata Izza.


"Betul banget Za.. wah Rama ini nyari jodohnya yang sama-sama pinter. Biar kata dia bandel banget jaman SMA, otaknya mah encer. Kadang tidur di kelas, herannya kalo guru tanya, dia tau jawabannya. Makanya ga pernah kena omel" cerita temannya Rama.


"Buka aib deh... begini nih jeleknya reuni ketemu teman lama, masa lalu dibawa-bawa terus. Udahlah.. Izza kan ketemu saya disaat kondisi saya udah jauh lebih baik dari dulu" potong Rama.


"Kan lucu ya Za.. mengenang masa lalu, jaman edan yang sekarang jadi kenangan" sahut temannya Rama.


Izza hanya tersenyum, dia tau Rama ga nyaman dibuka masa lalunya.


"Ram.. bolehlah cariin cewe kaya Izza, enak diajak ngobrolnya. Biasanya kan cewe jaim banget didepan pasangan, ini mah biasa aja. Keliatannya kalian berdua juga santai banget, kaya pasangan masih pacaran. Biasanya kalo suami istri kan ga keliatan mesra, ini sekedar duduk dampingan aja bikin baper" ucap temannya Rama.


"Makanya kalo nyari jangan di tempat hiburan malam, ya ga bakalan ketemu yang model kaya Izza" saran Rama.


"Emang kalian ketemunya dimana? di pengajian? di Mesjid? di Kampus? atau acara seminar?" tanya temannya Rama lagi.


"Di Tempat Pemakaman Umum" jawab Rama dan Izza kompak.


"HAAHHHHHH??? Kuburan? ga salah?" tanya temannya Rama meyakinkan.


"Beneran.. ketemu saat sedang sama-sama ziarah, letak makam yang kita ziarahi itu berdekatan" jawab Rama.


"Horor banget... bagus kalian ketemunya benar-benar orang, kalo makhluk halus gimana? ga gitu juga kali nyari jodoh, masa ke kuburan dulu.. iihhh ngeriiii" kata temannya Rama.


Izza menyuapi Rama kue ku, temannya Rama hanya bisa tersenyum melihat kelakuan pasangan ini.


Saat jalan santai pun keduanya bergandengan tangan, meskipun banyak pasangan yang sama-sama bergandengan tangan, tapi Rama dan Izza menjadi pusat perhatian teman-temannya Rama.


"Ga kebayang ya ... anak paling pinter sekaligus biang kerok di sekolah, enam tahun kemudian jadi berwibawa dan romantis kaya gitu" ucap temannya Rama yang berjalan dibelakangnya Rama.


"Iya.. tau dia bakalan berubah, mending dulu dijadiin pacar dulu ya" sahut temannya Rama yang lain.


"Mana mau pacaran dia.. padahal banyak yang suka" kata yang lainnya.


"Betul banget.. dia mah ga suka sama cewe jaman SMA, mungkin khawatir cuma liat kekayaan dia aja kalo, secara tampangnya kan pas-pasan, yang cakep tuh Kakaknya. Sekarang udah makin banyak duit mungkin perawatan, jadi ga bluwek banget tampangnya" papar yang lain lagi.


"Dulu dia mainnya motor, bengkel sama jalanan. Kalo sekarang naik turun mobil sama ruangan ber AC, wajar kalo lebih bersih. Ditambah sudah punya istri, ya ada yang urus pastinya" kata temannya Rama.


.


"De.. kalo mau sesuatu, beli aja ya, ga usah malu-malu" tawar Rama.


"Mau traktir?" ledek Izza.


"Dasar ye .. perempuan.. ga bisa dengar kata beli aja, langsung deh minta traktir" kata Rama.


"Tau ga Kak, cowo tuh akan punya nilai yang lebih jika keliatan royal sama pasangan, terlebih istri. Auto ketampanan meningkat dan wibawanya melesat" goda Izza.


"Rayuannya ga nahan deh" sahut Rama.


"Kok ga pake sarung tangan Kak?" tanya Izza serius.


"Ngapain pake sarung tangan? kita kan jalan santai, bukan mau touring naik motor" jawab Rama bingung.


"Nanti kalo tangannya kotor gimana, emang Kakak lupa ya, masih ada tangan daku yang harus dikau genggam menuju masa depan" goda Izza sambil tersenyum kearah Rama.


Rama langsung ketawa mendengar Izza menjadi sosok penuh gombalan.


Temannya Rama yang mendengar aja ikut tertawa mendengar ucapannya Izza. Izza cuma senyum-senyum saat Rama gemes memeluknya dari samping.


"De... ada Bandara ya di sekitar sini?" tanya Rama.


"Jauhlah Kak .. kalo Audah Hotel baru dekat sama Bandara. Emang lupa?" jawab Izza.


"Soalnya Kakak merasa selalu ada yang terbang di hati ini saat dekat sama kamu" ledek Rama.


Gantian Izza yang ketawa.


"Ramaaaa... ampun deh .. dekat sama dia bikin jadi kepengen punya istri" sahut temannya.


"Inget Ram, ini CFD bukan di rumah, nanti tergoda gimana?" ingat temannya.


"Itu jejeran Hotel banyak, sorry ya .. ga main di semak-semak" jawab Rama dengan entengnya.


"Lain deh kalo Big Boss Hotel yang ngomong" ucap temannya Rama.


Rama merangkul bahunya Izza.


"Kak.. kalo pilih dari satu sampai sepuluh, berapa nilai rasa sayang ke Izza?" tanya Izza iseng.


"Pake ditanya lagi Za.. pasti dia jawab sepuluh lah" sahut temannya Rama.


"Salah... Dua..." jawab Rama.


"Kok dua sih? ga sayang dong kalo segitu" ujar Izza mulai kesel.


"Iya dua .. dualem banget rasa sayangnya sampai ga bisa dinilai pakai angka" jawab Rama penuh kemenangan.


"Ini ya kalo ada kolam renang, rasanya pengen nyebur aja deh... panassss banget dekat sama pasangan yang lagi dimabuk cinta" ucap temannya sambil kipas-kipas pakai handuk kecil.


Rama mengusap kening Izza yang berkeringat menggunakan handuk kecil yang dibawanya.


"De... Kakak memang pendiam, diam-diam jatuh cinta sama kamu. Ada jamu diatasnya kuku, ternyata tawamu membekas di hatiku" rayu Rama.


"Ampun Kakak Adek... kita nyerah deh... mending jalan duluan didepan. Daripada kita garuk-garuk aspal" kata temannya Rama yang gemes banget sama obrolan suami istri ini.


Dalam sebuah relationship, selalu ada momen naik turunnya. Ada hubungan yang berjalan baik dan mulus tanpa ada banyak permasalahan, ada juga yang harus melalui banyak rintangan dan permasalahan. Terkadang membuat ingin menyerah dan berhenti.


Pada dasarnya, dalam sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan merupakan sebuah tindakan dan perasaan yang melibatkan kedua belah pihak. Sehingga baik dari segi perasaan, perilaku dan apapun yang merupakan take and give, perlu dilakukan secara seimbang.