HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 118, Refresh



"Mba Nur memang sudah pernah menikah, tapi pernikahannya hanya berjalan ga sampai setahun. Dulu Papi punya supir, awalnya baik sekali, tapi ternyata udah mengelabui kita semuanya. Di kampungnya dia sudah ada anak istri. Semua identitas dipalsukan ketika menikah sama Mba Nur. Saya yang membantu Mba Nur mengurus perceraiannya ke Pengadilan. Lebih tepat mensupport biaya dan pengacara. Gugatan Mba Nur dikabulkan untuk berpisah dengan mantan suaminya. Supir itu udah dipecat sama Papi. Selama menikah pun, ternyata Mba Nur sering mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga. Saya tau bagaimana hancurnya perasaan Mba Nur karena saya ada disaat terlemahnya. Trauma yang masih terus diobati, Mba Nur sampai hari ini masih saya konsultasikan ke psikolog, secara fisik ga sakit, tapi dia butuh kepercayaan dirinya kembali lagi. Berkali-kali saya yakinkan dia bahwa akan ada lelaki baik nantinya. Alex itu benar-benar ga pernah dapat vibes sebuah keluarga utuh. Dan keluarga Mba Nur itu adalah keluarga yang sangat kompak walaupun hidupnya sederhana. Jangan berpikiran saya ada apa-apa sama Lilis, karena memang karakter Lilis dan Alex itu ga cocok. Alex kan dasarnya keras kepala, ditambah kehidupan masa lalunya yang banyak di jalan, bisa dibilang besar sebagai anak jalanan. Terus Lilis modelnya juga masih egois, maunya ya maunya. Apa ga bakalan perang dunia terus nantinya jika mereka bersatu?" kata Rama begitu Izza meletakkan kepalanya di bantal.


"Terserahlah, saya rasanya malas ambil tau rencana Kakak. Toh Kakak ga pernah juga dengerin saran orang. Jadi suka-suka Kakak aja" jawab Izza udah males untuk melanjutkan pembicaraan.


"Za... " panggil Rama.


"Apa lagi sih Kak?" tanya Izza.


"Mba Nur itu anak perempuan satu-satunya, saya pernah ketemu sama orang tuanya. Berpesan untuk bantu mencarikan jodoh buat Mba Nur sebelum kedua orang tuanya menutup mata" lanjut Rama.


Izza yang ga tega mendengar kata orang tua kembali fokus mendengarkan penjelasan Rama.


"Masa iddah Mba Nur sudah dua Minggu yang lalu selesai. Makanya saya tiba-tiba kepikiran untuk jodohin Mba Nur sama Alex. Mba Nur sudah saya ajak bicara dan menyerahkan hal itu sama saya. Sekarang tinggal Alexnya aja" kata Rama.


"Kayanya Bang Alex tetap akan memilih Lilis deh. Ya mungkin karena masih gadis kan.. jadi sama-sama lah. Bisa juga pertimbangan karena Mba Nur itu udah janda dan lebih tua pula usianya" jabar Izza.


"Bukankah itu lebih berpahala buat Alex? membantu mewujudkan mimpi kedua orang tuanya Mba Nur, menyembuhkan luka hati Mba Nur dan Alex pun bisa punya keluarga yang sesungguhnya. Alex juga pernah terperosok dalam lembah hitam, siapa tau Mba Nur bisa membawa Alex hijrah dalam hidupnya sehingga kualitas dari segi agamanya Alex bisa lebih baik lagi" lanjut Rama.


"Tapi ga kaya gini Kak.. seolah memaksa Bang Alex untuk menikah demi hal-hal yang menurut Kakak baik. Kan tadi saya bilang, baik buat Kak Rama belum tentu untuk Bang Alex. Begitupun sama Mba Nur, mungkin masa sekarang mengiyakan rencana Kak Rama karena merasa hutang budi sudah didampingi saat proses gugat cerai. Kasih waktu Bang Alex buat berpikir tanpa tekanan dari Kakak. Saya sudah pernah mendengar dari mulut Bang Alex kalo dia akan mengabdikan hidupnya untuk Kakak. Pasti Bang Alex dilema juga, disatu sisi dia akan anggap omongan Kakak sebagai perintah, tapi disisi lain hatinya sudah terisi sama pesona Lilis" saran Izza.


"Oke .. saya kira pendapat kamu bisa saya terima" jawab Rama akhirnya mengalah.


"Ya udah tidur Kak... besok kan masuk kerja. Mau disiapin sarapan apa? ga shaum kan karena besok selasa" tawar Izza.


"Saya biasanya berangkat jam enam atau paling telat jam setengah tujuh pagi. Yang tersedia ya ga jauh-jauh dari roti, telur, frozen food dan mie instan. Saya mah apa aja ditelen kok, kamu sediain aja semampu kamu bisa bikin, sempat waktu dan ga ngerepotin" papar Rama dengan simplenya.


"Mau dibawain bekal? sejak saya disini, Sachi bawa bekal nasi, jadi bisa dibikinin sekalian kalo Kakak mau nasi juga" kata Izza.


"Kalo bawain sandwich bisa? yang pernah kamu bikinin itu. Sama buah potong, buah apa aja yang ada di kulkas" ujar Rama.


"Insyaa Allah bisa" jawab Izza.


"Jadwal kuliah pekan ini lagi padat ga?" tanya Rama.


"Ga .. lagi kuliah biasa aja, paling juga ada tugas-tugas. Minggu depan baru sibuk karena kan mau mid semester" jelas Izza.


"Bantu saya di Audah Hotel bisa? saya mau fokus di HO, cuma seminggu aja" pinta Rama.


"Saya mau kerjain apa Kak disana?" tanya Izza.


"Kamu duduk di ruangan saya terus tunggu aja perintah saya apa. Alex akan terus ngawal kamu sekaligus jadi supir. Soalnya saya ga bisa berbagi waktu ke Audah Hotel karena lagi perlu fokus di Abrisam Group dulu, ada satu project besar terlepas dan satu project yang sedang berjalan, besar kemungkinan akan dihentikan secara ga baik-baik karena satu dan lain hal" kata Rama.


"Kok bisa gitu?" tanya Izza.


"Inilah persaingan bisnis.. mungkin kemarin saya fokus sama menenangkan hati diri sendiri, jadinya urusan pekerjaan agak keteteran, jadi waktunya untuk berjuang lagi. Pesaing ini memang ingin sekali menghancurkan Abrisam Group sehancur-hancurnya. Saya harus bisa menyelamatkan perusahaan, bukan sekedar untuk saya, tapi ada banyak karyawan yang bergantung didalamnya" ucap Rama sambil memandang kearah langit-langit kamar.


"Terus Sachi gimana? kan Kakak bilang kalo saya tugas utamanya adalah mengurus Sachi" tanya Izza lagi.


"Saya ada kamar khusus buat rehat disana, Sachi bawa aja sama Mba Nur sekalian sepulang sekolah. Toh kamu disana ga sibuk-sibuk banget. Istilahnya jaga gawang aja di Audah Hotel. Jam lima sore baru deh pulang ke rumah" jelas Rama.


"Kasian Sachi Kak.. mana nyaman disana" ucap Izza sambil mengusap kepalanya Sachi.


"Besok Papi mau pergi juga seminggu, Sachi malah ga ada yang ngawasin kalo di rumah. Mas Haidar juga lagi sibuk" kata Rama.


"Heran sama keluarga ini, perasaan kok sibuk semua ya?" canda Izza.


"Begitulah keluarga ini ... welcome to our family" ucap Rama sambil tersenyum.


"Tau ga... kalo Kakak senyum tuh manis loh dilihatnya" gombal Izza.


"Kamu juga cantik dengan rambut tergerai" puji balik Rama.


"Maksudnya minta dibuka gitu jilbabnya?" tanya Izza.


"Terserah kamu lah.." jawab Rama.


"Kenapa ikut tidur disini?" tanya Izza lagi.


"Butuh teman ngobrol" ucap Rama.


"Makanya jadi orang jangan sok jual mahal. Saya ga kegenitan sampe mengharap bisa sekamar sama Kakak sebelum kita sah secara negara" kata Izza dengan datarnya.


"Kan tadi udah minta maaf, kenapa sih kalo perempuan itu selalu ingat sama kejadian-kejadian yang udah lewat, orang tuh kalo udah minta maaf ya udah sih. Allah aja Maha Pengampun" tutur Rama.


"Hellloooo... saya manusia biasa Kak.. masih suka kebayang aja omongan Kakak yang buat kuping merah dan hati sakit" ucap Izza.


"Ini gimana sih konsepnya, kesini tuh biar ada teman ngobrol. Ujung-ujungnya kita debat kusir lagi. Emang kamu ga cape apa debat mulu? atau jangan-jangan kamu mau jadi anggota dewan kali ya yang hobi banget debat ga ada arah yang jelas mau kemana" ujar Rama.


"Ga usah ngomong sok kearah politik. Kakak tuh pebisnis.. ya udah urusin bisnis aja. Politik itu bukan bisnis Kak" saran Izza.


"Nih... isi aja mau berapa? bisa liat kan saldonya ada berapa?" kata Rama sambil menyerahkan HP nya.


"Uangnya banyak amat.. ini beneran nolnya bukan dibelakang koma kan?" tanya Izza memastikan.


"Itu sisa jual motor dan mobil antik" jawab Rama.


"Cuma punya ini aja?" tanya Izza lagi.


"Penting ya buat dijawab?" ujar Rama.


"Ya kalo cuma segini, baiknya kita bicara dulu. Kan belum kasih catatan pengeluaran bulanan yang Kakak tanggung" papar Izza.


"Kelamaan nih.. tuh sampe keluar otomatis lagi deh aplikasinya" ucap Rama sambil mengambil HP nya lagi.


Rama kembali membuka login mobile banking miliknya dan menekan layar sentuh di HP keluaran terbaru.


"Nih ya... punya mobile banking kan?" Rama menunjukkan layar HPnya ke Izza.


"Ini beneran Kak? lima puluh juta? buat sebulan?" tanya Izza kaget.


"Itu gaji supir yang standby buat Sachi dan Mba Nur, bensin buat mobil yang dipakai Sachi, semua kebutuhan Sachi, isi dapur buat makan sebulan rumah ini, buat kamu kuliah, terus kebutuhan pribadi saya, sama buat tabungan lah. Atur aja deh pokoknya. Abrisam Group itu punya saya, gaji pun sudah ditetapkan sejak jamannya Papi. Saham juga punya saya, tapi karena ada aturan tidak boleh kepemilikan saham hingga seratus persen, akhirnya sepuluh persen diatas namakan ke Papi dan Mas Haidar, sembilan puluh persen atas nama saya. Nanti kalo kita sudah nikah secara resmi, saya akan ajukan yang sepuluh persen berganti jadi nama kamu. Papi dan Mas Haidar sudah setuju. Apapun kelak yang terjadi diantara kita, kamu punya sepuluh persen saham Abrisam Group yang tiap tahun akan dapat keuntungan yang jumlahnya besar, jadi jangan khawatir dengan masa depan kamu Za. Kalo di Audah Hotel gajinya sudah ditentukan sama Mba Anin, sama juga nanti tiap tahun ada keuntungan saham, disana saya pegang tujuh puluh persen, tapi tadi pagi Mba Anin mau ganti kepemilikan dia ke saya semua. Sedang dipelajari dulu sama bagian legal untuk pengalihan saham. Ga tau juga ada apa sama Mba Anin sampai memutuskan untuk melepas saham Audah Hotel. Itulah kenapa kamu akan ditempatkan di Audah Hotel dulu, sebagai perwakilan berbincang dengan Mba Anin atau pihak legal Hotel. Saya percaya sama kemampuan komunikasi kamu, jadi nanti kamu tinggal lapor ke saya aja apa yang dibahas" papar Rama.


"Jadi auto kaya nih ceritanya saya? Alhamdulillah.. makasih ya Kak" ucap Izza.


"Kamu emang ga ada basa basinya ya jadi orang?" tanya Rama heran.


"Basa basi gimana ya maksudnya?" tanya Izza.


"Perempuan kan suka nolak-nolak dulu gitu, walaupun ujung-ujungnya terima juga sih. Ini malah keliatan matre banget denger akan saya kasih saham dan tau gaji saya double" sahut Rama.


"Ya namanya uang udah masuk rekening mah ga usah basa-basi lah, toh kewajiban Kakak kan buat nafkahin saya? hari gini mah pake logika ajalah Kak, ga usah kebanyakan basa basi yang akhirnya jadi basi" jawab Izza santai.


"Setuju kalo pendapat yang itu, tapi kamu kan anak komunikasi ya, bisa ga dihalusin dikit bahasa sama lawan bicara? Sekesal apapun sama saya, tetap ya jaga cara bicara kamu, hormati layaknya istri terhadap suaminya. Becanda boleh, tapi kurang ajar .. no... big no" saran Rama.


Besar dalam lingkungan yang sering berpindah-pindah membuat Izza memang banyak mendapatkan pengaruh dari lingkungan untuk gaya bicaranya. Untunglah Mba Gita banyak mengubah gaya bicaranya jadi lebih baik dan meminta Izza masuk ke jurusan komunikasi agar makin bagus cara komunikasinya. Walaupun bukan dari kalangan dibawah garis kemiskinan, tapi dia tumbuh didaerah seperti itu. Hingga akhirnya dia mendapatkan fasilitas pendidikan yang bisa dibilang asal sekolah. Memilih sekolah berdasarkan jarak yang dekat dengan rumah dan yang gratis atau berbiaya sangat terjangkau, bukan memilih sekolah karena kualitasnya. Sehingga skill komunikasi ga sebaik Rama dan gaya bicaranya ceplas-ceplos tanpa disaring lagi.


"Saya ingin kamu bisa lebih berkelas Za. Apalagi nanti kalo kita sudah menikah secara resmi, tampilan kamu dari kepala sampai kaki akan jadi pusat perhatian orang, gerak-gerik serta cara bicara pun akan dinilai sebagai representasi seorang Rama. Tampilan luar bisa diubah dengan barang-barang branded, tapi inner beauty itu ga bisa dibeli, sopan santun pun ga ada yang jual. Paham ya?" ungkap Rama.


"Maaf ya Kak... mungkin memang tipe saya yang suka berdebat, jadi kurang nyaman buat Kakak. Tapi saya akan coba perbaiki kedepannya, bukan karena menampilkan representasi dari seorang Kak Rama, tapi saya pun ingin menampilkan value sebagai seorang Izza" kata Izza dengan nada yang penuh penekanan.


"Udah jam sebelas malam ... tidurlah Za, besok pagi kan repot urus Sachi sama urus saya" pinta Rama.


"Kakak ga tidur?" tanya Izza.


"Jam sebelas mah masih sore Za, saya biasa tidur jam satu atau dua dini hari. Titip Sachi ya... saya mau balik ke kamar, mau kerja. Thanks buat pembicaraannya malam ini, otak saya agak mulai fresh dan bisa dipakai mikir kerjaan" papar Rama sambil bangun dan keluar dari kamar untuk menuju kamarnya di lantai dua.


"Kayanya kita ga bahas kerjaan deh, cuma minta tolong ke Audah Hotel aja" ucap Izza.


"Kan refresh otak itu bisa dengan mengeluarkan isi kepala yang penuh" jawab Rama.


Izza cuma geleng-geleng kepala dengan keajaiban sikapnya Rama.


.


Pak Isam melihat Rama keluar dari kamar Mba Mentari menuju lantai dua.


"Kenapa mereka ga tidur bareng ya? Apa Rama terpaksa menikahi Izza karena desakan ku? tapi keduanya terlihat santai kok. Apa Rama ga normal apa ya? pengantin baru tapi ga ingin gitu tidur bareng istrinya?" tanya Pak Isam seorang diri.


Pak Isam kembali masuk kedalam kamarnya. Kemudian merebahkan tubuhnya. Beliau masih kepikiran tentang Rama.


"Apa Rama masih mau menunggu pernikahan mereka sah secara hukum dulu baru akan menganggap Izza layaknya istri?" lanjut Pak Isam.


.


Rama mulai kembali bekerja di kamarnya. Mempelajari banyak hal kenapa pihak yang sudah mau MoU malah membatalkan semuanya.


"Apa ada kaitannya dengan pernikahan ini? kalo ada, sebesar apa cinta dia sama Izza? kenapa sangat terobsesi sama Izza? Apa yang spesial dari Izza? Orang ini pasti bukan orang sembarangan, kekayaannya pasti lebih besar dari Abrisam Group. Tapi kenapa dia ga pernah muncul Sebelumnya, saat Izza belum kenal sama keluarga Abrisam?" pikir Rama.


Rama kembali mencoba fokus untuk kembali menekuni semua berkas yang ada di kamarnya, tapi pikirannya masih melayang kesana kemari.


Foto Maminya yang terbingkai apik di meja kerjanya tiba-tiba rebah ke tangannya.


"Mi... maaf ya ga pernah ngenalin Izza ke Mami. Besok Rama akan bawa dia ke makam Mami. Rama sayang sama Mami, Rama akan buktikan untuk menjalankan apa yang Mami mau, termasuk menikah" ucap Rama.


Rama memang memegang buku harian Maminya yang tersimpan di gudang. Jadi segala apa yang terjadi dalam kehidupan Maminya tertuang disana. Termasuk masa-masa saat mengandung Rama.