
"Ya .. Kakak lebih banyak nyebelinnya daripada ngga nyebelinnya. Udah baik sih, tapi kalo bisa berubah jadi lebih baik lagi pasti best" jawab Izza dengan gaya bicara nan santai.
Rama, seorang lelaki dengan segenap kemandiriannya, sisi kemanjaan yang dia punya seakan terkubur dalam-dalam. Jika pada akhirnya dia mulai menunjukkan sisi manja dalam dirinya, bisa jadi tanda dia sudah mulai nyaman berhubungan dengan Izza dan sebagai pelampiasan tidak mendapatkan hal tersebut dalam sepanjang hidupnya.
"Saya pernah baca, entah dibuku atau internet, berbaring diatas pangkuan hangat seorang wanita konon bisa melemaskan otot-otot yang tegang setelah beraktivitas sehari penuh. Kayanya It's work, jadi kalo saya terasa otot tegang.. bolehlah tiduran kaya gini lagi" ucap Rama sambil matanya terpejam.
"Terus mau semalaman posisi tidur kaya gini? yang ada disitu yang nyaman, disini yang kesemutan" sahut Izza becanda.
"Kamu siapa sih Za sebenarnya? hadir disaat dunia saya tidak baik-baik saja. Asyik menari dalam pikiran saya, seperti ada tali penghubung diantara kita" tanya Rama lagi.
"Hei .. sudah dinikahi masih tanya juga siapa diri saya?" canda Izza untuk memecah rasa nervousnya.
"Dulu ga tau kenapa Sachi begitu nyaman dekat kamu, ternyata ada hal yang ga bisa diungkapkan tapi hanya bisa dirasakan. Malam ini boleh ya tidur disini? rasanya sudah lelah jiwa dan raga" pinta Rama.
"Tapi ga macam-macam ya, hanya tidur saja" ucap Izza.
"Kalo itu ga bisa janji" sahut Rama dengan senyuman genitnya.
"Kenapa tiba-tiba semanja ini? dapat pencerahan atau cemburu sama orang yang memberikan hadiah? kok datangnya bisa bersamaan. Saat hadiah-hadiah itu belum datang, sosok Kakak amat menyeramkan. Khawatir kalah saing sama secret admire itu?" tanya Izza penasaran.
"Saya ga mau bahas orang lain, malam ini hanya aku dan kamu .. bukan dia. Saya hanya ingin lebih kenal sama kamu secara lebih dalam" putus Rama.
"Sebagian cerita hidup saya pasti Kakak sudah tau, tapi apa yang menariknya dalam hidup saya? Cerita keluarga yang bahagia tapi berakhir dengan derita nestapa. Merasakan hidup di keluarga yang sama tapi berakhir dengan situasi yang berbeda. Sempat melihat kedua orang tua mesra tapi pernah juga melihat keduanya saling berhadapan muka penuh murka. Ketika saya kelas empat SD, Bapak banyak berubah. Sosok family man seolah langsung hilang dan berubah menjadi sosok menyeramkan bagi keluarga. Tidak ada nasehat atau canda tawa, yang tersisa hanya amarah belaka. Pulang dalam kondisi mabuk minuman bahkan sakau karena obat-obatan terlarang. Saya ga tau sejak kapan Bapak menyentuh barang haram itu, Bapak seperti itupun saya tau dari Mba Zizi. Belum cukup umur saat semua itu terjadi jadi ga tau apa yang sedang berjalan didepan mata. Ibu yang awalnya diperlakukan seperti ratu berubah menjadi seperti babu. Yang dulu sering dimanjakan oleh Bapak, berubah menjadi tulang punggung keluarga. Untuk hidup hari ini, baru dicari pagi hari. Berangkat sekolah tanpa makan sudah hal yang lumrah. Berbekal air sebotol bekas botol air mineral yang dipungut dijalan, itu yang saya bawa ke sekolah untuk mengganjal perut. Padahal sedari kecil hingga kelas empat SD, keluarga kami bisa dibilang cukup walaupun tidak berlebih. Merasakan sebulan sekali makan diluar walaupun sekedar makan di warung tenda. Kebayang kan bagaimana jungkir baliknya hidup saya" buka Izza dengan tatapan penuh kesedihan.
Rama segera duduk, dia ambil bantal yang ada dipangkuan Izza kemudian dipindahkan kebagian kepala ranjang. Rama ikut bersandar bersama Izza.
"Kaki saya yang penuh luka adalah bukti otentik bagaimana Ibu tersiksa. Bapak ga segan-segan main tangan bahkan bisa memakai apapun yang terlihat oleh matanya. Tanpa belas kasih, tubuh Ibu yang lelah karena bekerja serabutan, harus menerima pukulan bahkan tendangan. Kalo pas saya ada di rumah, saya dengan tenaga tubuh kecil berusaha melindungi Ibu. Ya dengan konsekuensinya ikut dihajar sama Bapak juga. Pernah bertanya dalam diri, kenapa tidak Bapak bunuh Ibu saja sekalian daripada terus menerus disiksa. Rasa hormat dan cinta saya pun perlahan berubah menjadi dendam terhadap Bapak" kata Izza dengan mata berkaca-kaca.
"Innalilahi..." jawab Rama pelan.
"Tapi sudahlah... kenangan itu sudah saya kubur dalam-dalam. Bapak dan Ibu adalah orang tua saya, apapun yang terjadi.. saya patut menghormati keduanya. Apalagi keduanya sudah tiada, kini tugas saya hanya bisa mendo'akan saja" kata Izza lagi.
"Pernah krisis pede atas apa yang terjadi dimasa kecil?" tanya Rama yang kini sudah terus memandang Izza dengan tatapan iba.
"Pernah.. tapi saya akhirnya merasa dewasa sebelum waktunya karena ditempa keadaan. Memutuskan untuk tetap fokus sekolah dan menunjukkan saya baik-baik aja ke siapa pun. Cuma satu impian saat itu ... menjadi orang kaya. Kalo saya kaya, Ibu ga harus kerja keras, Bapak juga ga perlu mencari rejeki yang ga pasti. Ingin membuatkan mereka usaha. Ingin membeli rumah agar kami ga berpindah-pindah. Bercita-cita kuliah setinggi mungkin dan yang pasti... ingin orang yang ada disekitar saya tidak mendapatkan perlakuan yang saya alami. Mungkin saat itu saya ga mikir kalo meraih semua itu butuh materi, ya namanya juga anak kecil, mana mikir semua butuh uang" papar Izza.
"Perlu pelukan?" tanya Rama hati-hati.
Tanpa persetujuan Izza, Rama meletakkan kepalanya Izza didadanya dan memeluk Izza dari samping. Membelai lembut rambutnya Izza sambil sesekali mengusap tangannya Izza. Air mata Izza yang sedari tadi ditahan malah tertumpah dalam pelukan Rama.
"Kali kedua dia memelukku, sangat hangat, tapi kali ini lebih hangat. Pelukan ini seolah mengkomunikasikan dukungan, keamanan, kesenangan, kasih sayang dan kepemilikan. Pelukannya selalu berhasil memikat raga serta menyentuh jiwa" ucap Izza dalam hatinya.
Rama membaringkan tubuhnya Izza perlahan ke bantal yang sudah dia letakkan diatas kasur. Pelan-pelan tubuh Rama pun ikut rebah disampingnya.
"Tidurlah .. udah terlalu malam untuk berbincang. Maaf kalo malah jadi buat kamu sedih, saya ga bermaksud mengorek luka lama yang sudah mengering. Sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Rama.
Izza mengangguk pelan. Rama melepaskan pelukannya dan menyelimuti tubuh Izza dengan selimut. Kemudian kembali membelai rambutnya Izza lagi.
"Saya ada disini, kalo masih ada sesuatu yang mengganjal, bilang aja. Saya ga tau apa kehadiran saya bisa membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang kamu hadapi, tapi saya akan menemani kamu untuk melewati segala ujian yang terbentang didepannya" kata Rama lembut.
"Makasih Kak.. lain waktu giliran Kakak yang bercerita tentang hidup Kakak" jawab Izza.
"Apa ya yang mau diceritakan... saya sendiri aja bingung kalo ditanya kenapa bisa seperti ini .. hehehe" ujar Rama.
"Boleh ya besok ga ke Audah Hotel?" tanya Izza mengulangi pertanyaannya.
"Ya .. tapi janji ya hanya mengurus Sachi dan kumpul sama Mama-mama sosialita, ga main kemana-mana lagi. Saya cuma khawatir Za kalo kamu ga ada yang jaga" ucap Rama.
"Saya bisa Kak jaga diri sendiri" kata Izza.
"Saya yakin ada orang yang sedang mengincar kamu, memperhatikan semua gerak gerik kamu" lanjut Rama.
"Apa sih yang mau diambil dari saya?" tanya Izza.
"Entahlah apa motifnya, tapi apapun itu, orang ini pasti berniat jahat sama kamu" lanjut Rama.
Keduanya kembali saling pandang, kamar terasa hangat malam ini. Komunikasi yang belum pernah sepersonal ini, disertai pelukan dan tatapan yang dalam.
Rama mendekati Izza, hasratnya ingin sekali mencium kening Izza. Ketika sudah hampir mendekat, Izza tersadar dan menolak.
"Kak.. maaf kalo saya belum bersedia untuk hal-hal seperti ini. Bisa seranjang berdua saja sudah sebuah kemajuan buat hubungan kita" kata Izza dengan sopan.
"Oke.. maaf ya kalo membuat kamu ga nyaman" ucap Rama.
.
Rama langsung tertidur lelap, sebuah kejadian langka seorang Rama bisa tertidur dibawah jam dua belas malam. Justru Izza yang ga bisa tidur, akhirnya memutuskan membuat makanan yang akan dibawa oleh Sachi dan pesanan teman-temannya Sachi. Setelahnya semua dimasukkan dulu kekulkas dan nanti pagi hari hanya tinggal diproses lebih lanjut.
Jam dua malam dia kembali masuk ke kamar, Rama sudah tidak ada ditempat tidur, rupanya sedang di kamar mandi.
Setelah Rama keluar dengan rambut basah seperti habis mandi. Izza gantian masuk kedalam kamar mandi.
Rama sudah rapih dengan baju koko dan sarung yang tadi dia pakai. Duduk diatas sajadahnya sambil menunggu Izza keluar kamar mandi.
Izza keluar dari kamar mandi langsung menuju lemari dan kembali masuk kamar mandi, Rama hanya mendengar suara langkahnya saja. Selang tiga menit kemudian, Izza kembali keluar dari kamar mandi dan langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang, rupanya rasa kantuk sudah mulai menyerang.
"Kok malah mau tidur, sholat dululah. Udah jamnya tahajjud" ajak Rama.
"Lagi ngga sholat Kak" jawab Izza.
"Isya tadi sholat, kok tiba-tiba sekarang ngga, emang kamu lagi halangan?" tanya Rama.
"Iya" jawab Izza singkat.
Sebenarnya Izza masih merasa malu membahas hal kewanitaan sama Rama.
"Memangnya munculnya halangan bisa gitu tengah malam seperti ini?" tanya Rama dengan polosnya.
"Bisa kapan ajalah Kak, mana ada jamnya harus jam sekian" jawab Izza.
"Bukannya hanya pagi ya?" tanya Rama lagi.
"Dibilang bisa kapan aja .. udah ya ngobrolnya .. ngantuk" jawab Izza sambil memejamkan mata.
"Dulu Mba Mentari itu suka banget minta tolong buat ke minimarket beli pembalut. Awalnya pas ga tau sih cuek-cuek aja, begitu udah SMP... auto ga mau lagi kalo dimintain tolong. Pantes aja kasirnya suka senyum-senyum kalo saya pas mau bayar. Tapi Mba Mentari selalu minta belinya pagi, saya kira hanya pagi hari kalo halangan" jelas Rama.
"Resiko punya Kakak perempuan ya, dimintain tolong beli itu" ucap Izza.
"Ga selalu sih... mungkin kalo stok habis aja" jawab Rama.
"Sorry .. minta tolong ke yang lain aja" jawab Rama.
"Ya udah sih kenapa malah bahas beginian sih... kan Kakak mau sholat" ingat Izza.
"Terus sepanjang hari gitu halangannya?" tanya Rama lagi.
"Ya iyalah...masa keluar berhenti keluar berhenti.. ya sepanjang hari sekitar seminggu lah" jawab Izza dengan ogah-ogahan.
.
Setelah sholat tahajud, Rama kembali tidur, biasanya dia akan bekerja sambil menunggu subuh, tapi kali ini dia benar-benar berasa ngantuk.
🌺
"Mommy ... Mommy.. " panggil Sachi sambil mengetuk pintu kamar Izza.
"Ya... sebentar.." jawab Izza sambil mencari jilbabnya.
Izza membuka pintu, sudah ada Sachi dan Mba Nur berdiri didepan pintu.
"Mommy..." kata Sachi manja sambil merangkul Izza.
"Masih malam kok udah bangun" ucap Izza.
"Maaf Mba.. sekarang sudah jam setengah enam" jawab Mba Nur.
"Setengah enam .. Sachi... Ayah bangunin, Ayah belum sholat subuh, haduh ... keburu ga ya bikin bekal" pekik Izza rada panik.
Mba Nur kembali ke kamar Sachi untuk merapihkan kamar dan menyiapkan seragam sekolah Sachi.
"Ayah... Ayah .. bangunnnnn" pekik Sachi sambil naik kebadannya Rama.
"Apa sih Sachiii... Ayah ngantuk nih" kata Rama.
"Ayah .. udah siang .." lanjut Sachi.
"Iya Kak.. udah jam setengah enam lewat" jelas Izza yang bersiap menuju dapur.
Rama langsung lari menuju kamar mandi, kemudian sholat subuh yang sudah kesiangan.
Izza langsung sibuk di dapur dibantu oleh asisten rumah tangga biar cepat. Mba Nur yang menyiapkan Sachi dari mandi hingga pakai seragam. Sachi memang bangunnya pagi dan bersiap sekolah, jam tujuh sudah harus berangkat walaupun masuknya baru jam delapan pagi. Jalanan Jakarta sulit untuk ditebak, biasanya kalo ga macet bisa sekitar dua puluh menit sampai sekolah, tapi kalo macet bisa sampai satu jam. Itulah kenapa Rama selalu mengingatkan untuk berangkat awal. Lebih baik menunggu di sekolah daripada telat.
.
Pesanan sudah rapih disiapkan oleh Izza sekitar jam setengah tujuh. Untunglah tinggal memanggang roti pizza dan mencampur Mac and cheese nya jadi ga butuh waktu yang lama.
.
Makanan pesanan sudah dipacking dan diberi nama oleh Izza. Kemudian lanjut menyuapi Sachi sarapan. Sejak ada Izza, Sachi selalu minta disuapin, biasanya sambil mendengarkan ulang e-learning yang diberikan pihak sekolah dan dibahas bersama Izza.
"Rama udah berangkat Za?" tanya Pak Isam.
"Mungkin lagi siap-siap Pi" jawab Izza.
"Tumben.. biasanya udah rapih dan udah mau berangkat kalo jam segini" kata Pak Isam.
"Mommy ... tadi Sachi liat Ayah tidur lagi abis sholat" ujar Sachi.
"Tidur???" tanya Izza ga percaya.
"Iya.. Ayah bilang ngantuk" jawab Sachi.
"Sachi lanjut makan sama Mba Nur ya, Mommy mau mandi dan siap-siap antar Sachi ke sekolah, sekalian bangunin Ayah" ucap Izza.
Sachi mengangguk, Mba Nur duduk menggantikan Izza.
"Itu yang masih tidur, coba suruh mandi sekalian Za.. eh apa udah mandi ya terus tidur lagi.. hehehe" ledek Mas Haidar.
"Lelah sangat rupanya Boss kita yang satu itu. Kamu apain sih Za.. padahal malam Papi liat dia mukanya udah cape banget. Lehernya masih sakit ga?" timpal Pak Isam.
"Semalam habis diurutin kayanya udah mendingan Pi" jawab Izza.
"Jangan-jangan KO sama istrinya tuh Pi .. hahaha. Rama kan tenaganya ekstra, ga tidur aja bisa kok fokus kerja. Masa kali ini terkapar tak berdaya" timpal Mas Haidar.
Izza buru-buru masuk ke kamar karena malu diledekin sama Pak Isam dan Mas Haidar. Benar saja dia mendapati Rama masih tidur ketika masuk kedalam kamar.
"Kak.. bangun Kak.. udah jam setengah tujuh lewat, emangnya ga kerja hari ini?" tanya Izza sambil nyolek tangannya Rama.
"Ngantuk banget" jawab Rama.
"Tumben kenal kata ngantuk.... memangnya ga mau masuk hari ini?" tanya Izza.
"Masuk kemana?" iseng Rama menjawab.
"Ya masuk kerjalah, emang mau masuk kemana lagi" jawab Izza.
"Kemana kek.. enak kali ya kalo bangun tidur ada morning kiss gitu" khayal Rama.
"Ga ada ya morning kiss morning kissan.. saya mau mandi terus antar Sachi ke sekolah" papar Izza.
"Ya ... jangan bangunin dulu ya .. tunggu sepuluh menit lagi deh, mau lanjut tidu" ucap Rama sambil kembali memejamkan matanya.
Izza langsung ke kamar mandi dan sudah membawa baju ganti. Rama masih melanjutkan tidur.
.
"Maaf Boss Papi ... Mas Boss kemana ya? mobil sudah di lap bersih, udah dipanasin, Ujang juga udah rapih, kok yang diantar malah belum keliatan" tanya Mang Ujang yang menghampiri Pak Isam di meja makan.
"Sabar aja deh Mang ... bayi gede lagi manja" sahut Mas Haidar.
"Manja? bayi gede?" tanya Mang Ujang mulai lola.
"Ayahnya Sachi lagi ngiri sama anaknya, kan anaknya sering dimandiin sama Mommy, jadi sekarang minta dimandiin sama Izza juga" iseng Mas Haidar becanda.
"Papa lucu deh .. Ayah kan sudah besar, masa dimandiin Mommy" ucap Sachi