
Mimik muka Anindya tampak kaget dan ga senang terhadap perkataan terakhir dari Rama. Serasa dihantam beban berat ke kepalanya.
"Jangan macam-macam kamu ya, jangan rusak otak kakak kamu dengan anak haram itu. Kamu kan tau dokter kasih saran agar Mas Haidar jangan berfikir terlalu keras dan stress" jawab Anindya juga mengecilkan suaranya setengah berbisik ke Rama.
"Mba takut? Hehehe.. ga usah takut Mba ... saya berani jamin sampe seribu persen kalo Mas Haidar ga akan pernah bersatu sama Mba Nay. Mereka ga akan pernah ketemu lagi sampai kapanpun" kata Rama dengan nada yang rada ngeselin.
"Sampe segitunya kamu menjamin .. dimana Nay sekarang? apa dia udah menikah jadi ga bakalan bersatu sama Mas Haidar?" tanya Anindya penasaran.
"Mba Nay sudah meninggal, membawa rasa malu dan sakit hatinya karena hamil diluar nikah. Sebuah akibat yang ia tanggung sendiri. Mba Nay ga pernah mengusik Mba Anin, jadi jangan pernah nyolek anak itu. Karena anak itu adalah tanggung jawab Rama. Paham???" kata Rama memperingati Anindya.
Rama menghampiri Sachi dan membawa masuk ke kamar untuk dimandikan. Hari ini ada jadwal imunisasi Sachi sekaligus kontrol rutin perkembangannya.
Anindya masih duduk terdiam ditepi kolam renang, otaknya harus bekerja cepat sebelum Haidar ingat akan Nay.
"Liat aja Rama... kalo sampe anak itu menghancurkan pernikahan saya sama Mas Haidar, kamu dan anak itu yang akan saya cari pertama kali" kata Anindya dalam hati.
Sementara Pak Isam sedang berbincang sama Haidar di ruang keluarga.
"Itu anak siapa yang dibawa-bawa sama Faqi?" tanya Haidar.
"Dia udah ga mau dipanggil Faqi .. mau mulai hidup baru dengan nama Rama. Biar terkesan kaya kisah pewayangan Ramayana katanya" jawab Pak Isam.
"Pi ... belum jawab pertanyaan Haidar, anak siapa itu?" tanya Haidar lagi.
"Anak adopsi" jawab Pak Isam singkat.
"Dia adopsi anak Pi? buat apa coba? mana masih bayi merah gitu, tapi kenapa dia sayang banget keliatannya sama anak itu ya?" tanya Haidar lagi sambil menikmati teh hangat sambil ngobrol sama Pak Isam.
"Katanya, ibu anak itu meninggal, Rama tergerak buat ngerawat anak itu karena kasian. Anak ga jelas keturunannya" jawab Pak Isam.
"Punya jiwa kebapakan juga tuh anak. Kirain cuma bisa ikut olimpiade sains doang. Ternyata bisa ganti popok" canda Haidar.
"Udah ga usah dibahas. Papi bolehin dia adopsi, dengan syarat kuliahnya kelar" kata Pak Isam mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tanggungjawabnya besar tuh Pi, apalagi dia masih muda, belum punya penghasilan juga buat urus anak. Ga paham sama jalan pikirannya yang selalu ajaib" kata Haidar.
"Biarin aja lah, ga usah dipikirin. Udah bagus dia mau ngambil kuliah sesuai arahan Papi" kata Pak Isam.
"Haidar mau liat bayinya dulu ah .. keliatannya lucu" kata Haidar antusias.
"Kamu istirahat dulu Haidar, pasti cape kan baru pulang. Lagipula bayi itu mau ke Rumah Sakit. Ingat kamu juga belum sehat betul, liat bayi bisa kapan-kapan" cegah Pak Isam.
🌺
Haidar dan Anindya tinggal di rumah mereka yang dibelikan sama orang tuanya Anindya. Memang sengaja pula menjauhkan Haidar dari Sachi.
Beberapa kali Haidar tampak memperhatikan dengan seksama wajah Sachi yang sekilas mirip sekali dengannya.
Walaupun lahir belum cukup bulan, perkembangan tubuh dari Sachi amat bagus. Dia cepat nambah berat badannya walaupun pakai susu formula. Rama memberikan yang terbaik buat Sachi. Walaupun kini bisa dibilang sudah tidak punya barang berharga lagi.
Masa liburan Rama masih sebulan lagi, rasanya begitu cepat sudah dua bulan dia mengasuh Sachi layaknya seorang Ayah terhadap putri kecilnya. Selama liburan kuliah, Rama membantu Pak Isam di kantor. Dari menjadi supir pribadi, asisten hingga menyiapkan presentasi meeting dilakukan oleh Rama. Dia sendiri yang meminta agar mendapatkan gaji dari Papinya dan digunakan untuk membeli popok dan susu formula buat Sachi. Udah ga ada dunia malam atau sekedar jalan-jalan melepas penat. Rama praktis menjadi anak rumahan.
Setiap malam pun, Sachi tidur sama Rama. Sangat telaten dia mengurus Sachi. Baginya Sachi adalah prioritas dalam hidupnya. Ditambah kesamaan nasib yang ditinggalkan Ibu saat dilahirkan. Rama ga mau apa yang dirasakannya dulu, dirasakan pula oleh Sachi.
"Sachi ... Ayah sebentar lagi berangkat kuliah jauh dari sini. Sehat-sehat ya Nak .. Ayah pasti akan selalu kangen sama Sachi. Ayah janji akan lulus tepat waktu biar kita bisa selalu bersama. Sachi ga akan kekurangan kasih sayang walaupun ga ada Mama, kita berjuang agar Opa dan Papa bisa terima Sachi ya" kata Rama sambil meninabobokan Sachi dalam dekapannya.
.
Sachi membuat suasana rumah yang biasanya tegang jadi ceria. Banyak para pekerja di rumah ini yang tertawa melihat tingkah polahnya yang kini berusia dua bulan.
Haidar pun tiap weekend pasti main ke rumah Pak Isam sekedar bermain bersama Sachi. Ada kekhawatiran dari Pak Isam kalo pelan-pelan Sachi mampu mengembalikan ingatan Haidar. Makanya kalo ada Pak Isam, Haidar akan selalu disibukkan dengan permintaan Pak Isam yang mengajaknya diskusi atau sekedar main catur.
Anindya pun selalu nempel ke Haidar kalo Haidar sedang dekat sama Sachi. Beberapa kali Haidar bilang kalo Sachi punya wajah yang mirip sama dia, Rama hanya bisa tersenyum mendengarnya, bagi Rama, mendengar Haidar mengakui kemiripan wajahnya dengan Sachi aja udah cukup. Dia pun ga mau memaksa kakaknya untuk mengingat lebih dalam karena sudah dua kali kejadian Haidar mencoba mengingat masa lalu dan harus dilarikan ke Rumah Sakit.
Semua akan ada masanya. Mungkin tidak sekarang, tapi masih banyak waktu didepan yang akan menjawab siapa Sachi. Bagi Rama, Sachi hidup di rumah ini saja udah sangat bagus. Haidar membelikan baju-baju untuk Sachi, bahkan beberapa kali membawakan susu agar Rama ga perlu membeli lagi.
🏠
Sudah lama Haidar ga berbincang hanya berdua sama Rama, karena Anindya ga memberikan ruang buat mereka ngobrol berdua. Tapi malam ini, keduanya sama-sama keluar menuju tepi kolam renang. Sachi udah tidur dan dijagain sama baby sitternya di kamar sebelah kamar Rama.
"Ngapain bengong disini sendiri?" sapa Haidar yang mengagetkan Rama.
"Kalo tidur ga mungkin Mas ada disini... hehehe" canda Haidar.
"Udah lama kita ga ngobrol berdua ya Mas. Apalagi sejak Mas kecelakaan dan Mba Mentari tiada... Semua seakan terjadi dalam hitungan detik aja" ingat Rama.
"Ya... Mas ga tau ini cobaan atau teguran dari Allah ya buat keluarga kita" tambah Haidar.
"Ga tau deh Mas" jawab Rama sekenanya sambil melepaskan nafas nan penat.
"Tumben Mas liat kamu sedih, padahal Mas selalu liat kamu ceria, easy going dan kayanya enjoy aja nikmatin hidup. Sekalipun kamu terpaksa kuliah dijurusan yang ga kamu inginkan" kata Haidar.
"Ga ada manusia yang hidup tanpa mencicipi yang namanya masalah kan Mas?" ucap Rama.
"Mikirin Sachi?" tanya Haidar menebak.
"Seminggu lagi Rama akan balik kuliah. Meninggalkan Sachi kok rasanya berat ya" kata Rama datar.
"Siapa orang tua Sachi sebenarnya? Kenapa kamu begitu nekat mengadopsi Sachi, harusnya kamu diskusi dulu sama keluarga disini. Jangan ambil keputusan tanpa pikir panjang. Kasian Sachi kalo kamu ga bisa urus dengan baik" saran Haidar.
"Keluarga yang mana maksud Mas? Saat itu Mas dalam tahap terapi, Mba Mentari udah meninggal, Papi ga mungkinlah bisa diajak diskusi" jawab Rama.
"Kenapa ga dikembalikan ke orang tuanya. Anak itu selayaknya berada disamping orangtuanya" kata Haidar.
"Ibunya Sachi meninggal, Rama dalam kondisi yang harus bertindak cepat mengambil keputusan. Kalo bukan Rama siapa lagi?" ucap Rama.
"Maaf ya kalo Mas tanya serius... apakah kamu Ayah kandungnya Sachi?" tanya Haidar.
Rama memandang ke arah kakaknya, bibirnya kelu untuk mengucap kalo Sachi anak Haidar. Kalo bukan karena janjinya sama Papi dan Mba Nay, mungkin udah dia bilang ke Haidar dari awal.
"Rama ... jujur aja sama Mas .. benar kamu Ayahnya?" desak Haidar.
"Ya... Rama adalah Ayah yang akan membesarkannya dan memberikan cinta yang dia butuhkan. Apa masih perlu seorang Ayah biologis kalo Rama bisa memberikan segalanya buat Sachi?" tanya Rama mantap.
"Kemana ayah biologisnya? kenapa kamu yang harus bertanggung jawab terhadap Sachi? punya janji apa kamu sama Ibunya Sachi? Ga mungkin kalo kamu ga ada hubungan apapun sama Sachi " tanya Haidar.
Haidar tampak memegangi kepalanya, dia duduk dibangku. Kalo dia mencoba berfikir, maka akan terasa pusing.
"Ayahnya Sachi ga pernah tau kalo Sachi itu ada" ucap Rama.
"Maksudnya.. Sachi lahir dari hubungan gelap?" tegas Haidar meyakinkan.
"Kalo masalah orang tua Sachi berhubungan gelap-gelapan sih ga tau juga ya... kan Rama ga liat" canda Rama yang mencoba mencairkan suasana yang tegang.
"Ditanya serius malah becanda" kata Haidar sambil meninju lengan adiknya.
"Saat Ibu dan Ayahnya Sachi akan menikah, takdir berkata lain Mas. Ayahnya Sachi ga pernah sampai ke tempat akad nikah buat mengucap ijab kabul terhadap Ibunya Sachi. Padahal saat itu ternyata Ibunya Sachi sudah hamil. Bahkan karena ketahuan ada Sachi dirahimnya, wanita itu dibuang dari keluarga. Rama emang ga selalu ada disamping Ibunya Sachi, tapi selalu mendengarkan keluh kesahnya saat mengandung dalam kesendirian, tekanan batin yang hebat dan kesedihan yang ga bertepi. Itulah yang melanda wanita hebat itu. Sampai dia bertarung nyawa melahirkan Sachi yang belum cukup bulan untuk dilahirkan. Memang wanita ini telah berzina, dia ga berdosa sendiri kan Mas? Tapi kenapa derita ini harus dia tanggung sendiri. Itulah kenapa Mas liat Rama dan Sachi seperti ada sebuah ikatan" alasan Rama sambil mencoba memutar memorynya tentang Mba Nay tapi berusaha tidak mendesak Haidar untuk ingat.
"Kayanya kamu kenal baik sama Ibunya Sachi ya? siapa dia? Mas kenal?" ucap Haidar penasaran.
"Ga terlalu kenal, tapi karena Ayahnya Sachi ga pernah datang, akhirnya Rama coba masuk menggantikan posisinya. Tapi bukan menggantikan sebagai suami ya Mas, hanya sebagai adik yang mencoba menyayangi kakaknya" ucap Rama.
"Cerita ini kamu yang memulai, maka sebagai lelaki gentleman, kamu harus bisa menyelesaikan dengan baik. Mas masih belum paham kenapa kata harus membesarkan Sachi seakan kamu tekankan. Tapi jangan khawatir, Mas akan bantu jaga Sachi buat kamu. Walaupun Mas ga tinggal disini, tapi sebisa mungkin Mas luangkan waktu buat melihat dia. Masalah biaya juga nanti Mas bantu. Kamu kuliah yang bener. Cepat lulus dan kerja. Udah punya anak jangan neko-neko" janji Haidar.
"Makasih ya Mas .. makasih Mas mau ambil berat tentang perkembangan Sachi" kata Rama sambil memeluk kakaknya dari samping.
"Mas juga suka kok sama Sachi, mudah-mudahan Mas bisa juga cepat punya anak ya... biar Sachi ada temannya" ucap Haidar.
"Aamiin" sahut Rama.
🍒
Berat memang meninggalkan Sachi di tanah air. Tapi Rama harus segera balik buat memulai kuliahnya lagi. Sekarang udah ada Sachi, dia harus punya motivasi double buat cepat lulus. Sachi pun seperti punya ikatan batin sama Rama, ketika Rama belum berangkat, dia tampak anteng tapi saat Rama berangkat, Sachi rewel terus. Butuh seminggu untuk Sachi bisa tenang lagi.
Sebelum pergi, Pak Isam meminta Rama menemui kawannya yang membuka toko kelontong produk Indonesia ga jauh dari asramanya Rama.
"Kamu temui Om Shakti, dia bilang mau memperkerjakan kamu jadi penjaga toko. Beliau pengusaha sukses disini. Tapi menepi kesana karena bisnisnya disini udah stabil. Banyak belajar darinya buat bekal kamu juga. Selain itu kamu kan juga butuh uang buat beli susu dan popok kan?" kata Pak Isam.
"Iya Pi .. nanti Rama temuin Om Shakti" jawab Rama.