
Izza hanya menikmati minuman dan sedikit popcorn yang sudah dipesan oleh Rama, Rama yang menghabiskan dua porsi orderannya. Selama menonton mereka juga fokus ke layar didepannya, meskipun pasangan disebelah dan didepannya tampak mesra bergandengan tangan diatas meja kecil diantara kursi.
"Masih sedih?" tanya Rama pelan.
Izza menggelengkan kepalanya.
Keduanya kembali fokus melihat film yang diputar, film keluarga yang bisa dinikmati oleh segala usia. Sesekali Rama mencuri-curi pandang dari samping wajah Izza dalam temaram cahaya bioskop.
"Teruntuk kamu yang ku benci karena masa lalu, kenapa justru makin kukagumi hari demi hari. Banyak orang menghias wajahmu dengan air mata, begitu pun juga aku, tapi tetap senyuman yang kamu berikan. Za ... terbuat dari apa hatimu? Takdir yang bercerita, kamu tidak bisa memilih skenario ketika terlahir ke muka bumi ini. Kamu berada ditengah keluarga yang rusak, Allah lah yang berkendak. Za.. siapa kamu sebenarnya? wanita yang akhirnya ingin kumiliki, wanita yang selalu berhasil menjungkirbalikkan duniaku. Semakin membencimu, semakin aku limbung. Za .. apakah kita ditakdirkan bersatu untuk memperbaiki kesalahan masa lalu? Apa masih bisa aku jatuh cinta lagi setelah hati ini kututup rapat?" kata Rama sambil menatap Izza.
Izza yang merasa diperhatikan oleh Rama langsung menoleh kesamping. Rama buru-buru melihat kearah depan lagi agar ga nampak kalo dia tadi sedang memperhatikan Izza.
"Kak... entah bagaimana rasa ini harus terungkap, sebenarnya aku tak mau banyak berharap. Kulakukan yang terbaik untuk semua orang yang kusayangi. Tapi sekarang sudah ga ada waktu yang banyak untuk berpikir panjang, menikah denganmu adalah solusi tercepat. Selain itu untuk mencapai semua impianku pun butuh support materi. Mampukah aku jatuh cinta padamu? Apa kita bisa membangun sebuah keluarga sesuai dengan tuntunan agama? tapi kelak, jika Allah sudah berkehendak, kuharap kamulah alasanku untuk tetap berpijak" ungkap Izza dalam hatinya.
Rama pun merasa diperhatikan oleh Izza. Dia langsung memalingkan wajahnya kesamping. Keduanya bertemu pandang. Ada rasa berdesir dihati keduanya ketika saling bertatapan mata. Konon katanya, dua orang yang saling bertatapan mata selama beberapa menit akan memunculkan perasaan yang tak biasa dan gairah didada mereka. Hanya dengan bertatap mata tanpa bicara, akan ada koneksi yang jujur dimana koneksi ini terjalin secara alami.
"You have the most beautiful eyes (kamu memiliki mata yang sangat cantik)" puji Rama dengan gerakan bibirnya.
"Ngomong apa sih Kak? ga kedengeran" jawab Izza pelan, kepalanya agak dicondongkan kesamping Rama agar telinganya bisa mendengar ucapan Rama.
"You’re already pretty even with no makeup on (kamu sudah cantik meski tanpa riasan)" bisik Rama tepat ditelinga Izza.
"Stop making me blush okay (berhentilah membuatku tersipu)" jawab Izza sambil tersenyum.
.
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam, mereka sudah kelaparan karena hanya membeli popcorn. Tapi Rama meminta ke rombongan untuk sholat isya dulu, nanti akan diajak makan ke blok M.
Blok M menjadi salah satu kawasan dibilangan Jakarta Selatan yang dikenal sebagai surganya kuliner. Aneka makanan lezat dan menggugah selera bisa ditemui di sepanjang jalan, mulai kaki lima hingga restoran bintang lima. Pada malam hari pun, Blok M juga masih ramai dengan para pedagang makanan.
Semua turun dari mobil, Sachi sudah dipakaikan jaket biar ga kedinginan. Rama menggendong Sachi yang sudah ngantuk, Izza jalan disebelahnya. Karena besok hari Sabtu dan banyak yang libur kerja, jadinya tempat ini ramai. Lalu lalang kendaraan dan orang jalan lumayan padat. Saat menyebrang jalan, Rama menuntun tangannya Izza yang sedari tadi jalan banyak bersenggolan dengan orang lain. Izza berusaha melepaskan, tapi tangan Rama malah makin kuat menggenggam.
"Disini rame, nanti kamu diculik loh" bisik Rama.
"Udah kaya anak kecil aja segala diculik" jawab Izza.
"Ga inget kejadian di apartemen?" ucap Rama mengingatkan.
Izza pasrah aja, bisa jadi apa yang dikatakan Rama benar, dia ga pernah tau apakah penjahat ada disekitarnya atau tidak.
Alex dan Mang Ujang berjalan tepat dibelakang mereka. Senyum Alex mengembang melihat Rama menuntun Izza. Mang Ujang masih kesal sama makanan di bioskop, jadinya ga merhatiin. Memang ditengah kerumunan, banyak yang ga terlalu merhatiin bagaimana Rama memperlakukan Izza. Sepertinya hanya Alex yang melihat.
Tampak sekali semua rombongan senang diajak jalan-jalan seperti ini, walaupun makan di warung kaki lima, tapi kebersamaan terasa.
Mereka duduk disalah satu jajanan yang paling dicari kalo di wilayah ini yaitu gultik merupakan singkatan dari gulai tikungan, kuliner satu ini sangat terkenal di kawasan Blok M dan keberadaannya sudah belasan tahun. Nikmatnya nasi putih disiram dengan kuah gulai yang disertai daging kambing atau sapi serta ditambah kerupuk. Disana juga tersedia tambahan lauk seperti sate telur puyuh, sate ampela dan sate usus. Porsinya ga terlalu banyak, jadi bagi yang terbiasa porsi banyak ga akan cukup satu piring.
"Silahkan yang mau order makanan lain pesan aja, tuh disebelah ada banyak pilihan" ucap Rama.
Para pekerja di rumah melihat-lihat sajian yang ditawarkan. Baru Alex dan para supir yang sudah order gultik.
"Sachi mau makan apa?" tawar Rama.
"Kenyang, Sachi mau bobo" jawab Sachi.
"Ya udah bobo aja, kan Ayah pangku" kata Rama.
"Sini Kak .. saya pangku Sachi dulu, Kakak makan aja" tawar Izza.
"Kamu duluan aja yang pesan. Sachi baru mau tidur. Lagipula udah makin berat dia, nanti kamu repot sendiri mangku dia di bangku plastik kaya gini" kata Rama sambil mengusap punggungnya Sachi.
"Gapapa nih makan duluan?" tanya Izza meyakinkan.
"Iya gapapa, toh tadi didalam bioskop juga udah makan, nanti kalo udah ada yang selesai makan bisa bawa Sachi ke mobil" kata Rama.
Izza melihat ada nasi goreng unik, yaitu nasi goreng pelangi (tiga warna). Karena penasaran dia order itu. Inovasi nasi goreng pelangi didapat dari sari-sari air dari bahan pewarna alami, yaitu hijau (didapat dari sawi), merah (dari buah bit) dan hitam (dari tinta cumi). Boleh pesan satu warna atau mau ketiganya. Topingnya pun hanya telur ceplok/dadar dan kerupuk plus taburan bawang goreng.
Alex sudah menghabiskan tiga piring gultik, sama seperti para supir-supir.
"Ayo nambah lagi.. biar tidur nyenyak" tawar Rama.
"Boss ga makan?" tanya Alex jadi ga enak hati.
"Nanti gantian, kasian Sachi baru tidur" jawab Rama.
"Enak banget ini Mas Rama.. cobain deh, pasti ketagihan" kata supirnya Pak Isam.
"Saya dulu jaman SMA ya nongkrongnya disini, jadi dari ujung sana sampe ujung sana udah saya cicipi semua. Gultik ini yang paling enak dibandingkan yang lain" jelas Rama.
"Sering-seringlah kita diajak makan begini Mas.. sekalian ada hiburan kan bisa keluar rumah" sahut asisten rumah tangga.
"Insyaa Allah... loh Mang Ujang ga makan?" tanya Rama.
Mang Ujang masih aja manyun.
"Kenyang dia makan di bioskop" ledek Alex.
"Pasti order banyak terus bayar gede ya?" terka Rama.
"Iya Boss.. lagian belagu, ga pake nanya dulu, langsung aja pesan" sahut Alex.
Sedari tadi juga udah jadi bahan omongan semuanya tentang kejadian Mang Ujang pesan makanan di bioskop.
"Mas.. boleh beli makanan yang lain diseberang sana ga?" tanya Mba Nur.
"Minta uangnya sama Izza .. kalo makanan selain gultik ini langsung harus bayar" jawab Rama.
Izza mengeluarkan uang dalam amplop dan diserahkan ke Mba Nur.
.
"Enak Za nasgornya? dulu yang jual itu Bapaknya, sekarang udah generasi kedua. Memang ada resep rahasia, tapi biasanya beda tangan ya beda rasa" kata Rama.
"Enak, yang rekomen nasgor hitam, aroma cumi banget, kalo yang hijau dan merah biasa aja" jawab Izza.
"Dulu waktu ada Bapaknya, ada acar cabe, enak pakai itu, sekarang ga ada?" tanya Rama.
"Ga ada Kak" jawab Izza.
"Udah habis kali ya" kata Rama.
"Mungkin... Kakak tadi makan dua porsi di bioskop emangnya ga kenyang?" tanya Izza.
"Cuma kentang sama frozen food mana kenyang, tau kan bagaimana porsi saya" jawab Rama.
"Mau cobain nasgor ini?" tawar Izza.
"Gapapa nih kamu nyuapin saya dimuka umum? soalnya tangan nahan Sachi" tanya Rama meyakinkan.
"Ya gapapa, emang kita mau ngapain coba? sekedar nyuapin aja kan ga masalah, mereka juga liat kok Kakak lagi mangku anak yang tidur. Tapi pake kerupuk ya, sendoknya kan bekas saya" jelas Izza.
Rama sudah membuka mulutnya, Izza juga sudah meletakkan nasi diatas kerupuk.
"Kayanya kalo kamu yang nyuapin, kadar rasa langsung meningkat ya, bolehlah kita makan sepiring berdua, nanti pesan lagi kalo kurang" ide Rama.
"Kannn.. dikasih hati minta ampela" ucap Izza.
.
"Ya ampun... udah kaya laki bini ya vibes nya" kata Mba Nur ala-ala para mamakzen yang hobi main sosmed.
"Iya Mba.. kan jiwa ngeship kita jadi meronta" sahut lainnya.
"Ga usah ngeshipin mereka, wong dah jelas Mas Rama bilang mau nikah kok sama Mba Izza" ucap Mba Nur.
"Tapi kan mereka keliatannya b aja, ga keliatan kaya orang yang mau nikah" timpal lainnya.
"Mungkin mereka mau menjaga privasi hubungan, tuh buktinya mulai pamer kemesraan dimuka umum. Segala suap-suapan, yang lelaki sambil gendong anak, yang perempuannya juga dari tadi banyak senyum. Kita kan udah gede, tau deh rasanya jatuh cinta" papar Mba Nur.
Mba Nur dan beberapa orang lainnya sudah selesai makan, mereka berinisiatif mengambil Sachi dari pelukannya Rama biar Rama bisa makan. Sekaligus memberikan ruang buat Boss nya melepas rindu setelah beberapa hari menghilang.
"Kita pulang duluan aja ya Mas? kasian Sachi" ijin Mba Nur.
"Oke" jawab Rama.
Alex yang menggendong Sachi. Kini tinggal Mang Ujang, Rama dan Izza yang masih ada di Blok M.
Rama memesan sate plus lontong serta nasi goreng hitam rekomendasi dari Izza.
Rama melepaskan jaketnya dan diberikan ke Izza.
"Pakai jaket Za.. dingin disini" kata Rama.
Karena memang dingin, Izza menerima jaketnya Rama. Tidak dipakai secara utuh, hanya untuk menutupi seperti selimut.
"Mang ... ga makan?" tanya Izza.
"Ga nafsu" jawab Mang Ujang yang masih manyun.
Rama mengeluarkan dompet dan menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan ke Mang Ujang.
"Nih buat obat nafsu makan" ucap Rama.
Matanya Mang Ujang berbinar.
"Mas Boss emang paling pengertian, tau aja apa yang membuat Mamang ga nafsu makan, terus dikasih penawarnya.. Kamsia.." kata Mang Ujang.
"Udah ga usah kebanyakan muji, pesen makan sana, abis itu kita balik, udah malam" jawab Rama.
Mang Ujang memesan gultik, tapi masih antri karena semakin malam semakin rame.
"Jalan-jalan yuk Za .. liat-liat kali aja ada yang menarik" ajak Rama.
Begitu Izza berdiri, hampir aja jaketnya jatuh.
"Pake lah yang bener, tangannya dimasukin kedalam jaket" saran Rama.
Izza mengikuti saran Rama. Izza memang belum pernah kesini dikala malam, menjadi pengalaman pertamanya berkeliaran diatas jam sembilan malam (kecuali ada kuliah malam).
"Za... besok Paklek dan keluarga Kudus ga ada yang mau datang" lapor Rama.
"Memangnya mau apa Kak mereka ke Jakarta? bukannya Kakak masih ragu buat menikah sama saya?" tanya Izza.
"Saya tetap akan melamar kamu besok, sudah undang Ibu Panti dan pengurus yang masih ada disana. Biar ketemu sama keluarga saya sekalian" jawab Rama.
"Kok dadakan sih Kak?" tanya Izza.
"Apa yang dadakan? kayanya saya udah bilang akan melamar saat keluarga datang kesini biar sekalian" ucap Rama.
"Tapi nanti kalo keluarga besar Kak Rama menilai jelek gimana? secara bisa dibilang saya ini anak yatim piatu dan ga ada saudara pula. Beda sama keluarga besar Kakak yang utuh" ujar Izza.
"Saya ga perlu penilaian keluarga yang lain. Yang penting Papi setuju ya udah .. itu aja cukup" jawab Rama.
"Kan belum ada persiapan Kak" lanjut Izza.
"Mau nyiapin apa sih? makanan kan udah disiapin. Toh kita lamaran dengan suasana santai aja, ga mau yang ribet" kata Rama.
Izza terdiam.
"Saya hanya minta kamu nurut aja, jalanin kewajiban kamu dan saya akan memberikan hak kamu. Kedepannya saya akan sibuk sama segudang pekerjaan, jangan malah menambah beban pikiran saya. Tugas kamu melayani saya itu ga terlalu penting, yang penting adalah Sachi" kata Rama.
"Kalo saya minta kita tidak selayaknya suami istri apa Kakak bersedia?" tanya Izza.
"Maksudnya?" ujar Rama.
"Saya ga bisa melakukan kewajiban saya dengan berhubungan suami istri tanpa cinta dan kerelaan. Saya tau mungkin itu dosa, tapi beri saya waktu untuk belajar mencintai Kakak sebagai suami saya" kata Izza.
"Kita liat nantilah untuk hal itu, saya aja ga kepikiran sampe sejauh itu. Intinya semua saran dari para orang yang lebih tua dari saya udah coba saya pikirkan, ya memang baiknya kita segera menikah agar status kamu di rumah juga jelas. Besok pun, keluarga pasti akan komentar yang sama. You know Za .. ada sesuatu dalam diri saya yang seolah terus memaksa untuk segera menikah, dan kamulah wanita yang terpilih itu" ujar Rama.
.
Rama mengantar Izza pulang, kemudian berangkat lagi menuju Audah Hotel bersama Mang Ujang.
"Lieur deh sama Mas Boss... atuh udah sampe rumah eh malah ke Hotel" ujar Mang Ujang.
"Ga baik lah Mang.. ada Izza disana" jawab Rama.
"Boss Papi dan Mas Haidar bagaimana? sama aja kan posisinya sama Mas Boss" tanya Mang Ujang.
"Ya .. tapi demi menjaga saya dan Izza, ini pilihan terbaik" kata Rama.
"Besok kita ke rumah lagi gitu?" tanya Mang Ujang meyakinkan.
"Ya .. tapi mau mampir dulu ke rumah teman" jawab Rama.
"Ok" ujar Mang Ujang.
"Lilis ngomong apa?" tembak Rama.
Mang Ujang menceritakan semuanya.
"Tapi Mas Boss jangan bilang ini saya yang ngadu ya. Ambu yang kasian sama Mas Boss, jadinya mau Mas Boss dapat istri yang baik" kata Mang Ujang.
"Memang istri yang baik seperti apa?" tanya Rama.
"Kenapa ga nikah sama Ceu Lilis aja?" tembak Mang Ujang mengalihkan pembicaraan.
"Menurut Ambunya Mang Ujang apa Lilis calon istri yang baik buat saya?" tanya Rama balik.
"Mungkin... Mamang belum pernah tanya begini ke Ambu" jawab Mang Ujang.
"Istri itu baik atau tidaknya, semua berpulang kepada suami. Istri bisa jadi neraka atau surga di rumah juga karena suami. Sebelum kita menuntut istri agar menjadi baik, ngaca dulu bagaimana kita. Udah jadi suami yang baik buat dia atau belum? pernikahan bukan saling tuntut menuntut, jika saya sudah memilih Izza menjadi pendamping, pastinya sudah dengan pemikiran yang matang" papar Rama.
"Widihhhh... abis bertapa dimana Mas Boss? ngomongnya berat banget" ledek Mang Ujang.
"Di kolam ikan Pesantrennya Abah Ikin" jawab Rama serius.
"Emang di kolam ikan ada apaan Mas Boss? jangan bilang Mas Boss diceburin kesana terus kejedot sama dasarnya kolam ikan, muncul-muncul jadi berubah kaya gini" sahut Mang Ujang.