HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 57, Another secret



Haidar mengajak Sachi ke wahana bermain dihari libur, Rama akan mengantarkan Pak Isam untuk membeli kado, ada koleganya yang mengundang perayaan pesta ulang tahun.


Didalam mobil...


"Ram ... apa ga sebaiknya kita tes DNA Sachi dan Haidar?" ide Pak Isam.


"Papi meragukan kalo Sachi itu anaknya Mas Haidar?" tanya Rama mencoba tetap tenang.


"Untuk lebih jelas dan meyakinkan kita juga tentang jati diri Sachi sebenarnya, lagipula Papi mau konsultasi ke lawyer, apa anak ini bisa diakui secara hukum menjadi bagian dari keluarga kita secara legal. Hukum pasti butuh hasil DNA sebagai bahan pertimbangan" jelas Pak Isam.


"Artinya Papi sudah legowo menerima Sachi sebagai cucu? dan mau melegalkan status Sachi jadi seorang Abrisam?" tanya Rama mencoba meyakinkan pendengarannya.


"Jika memang terbukti dia anak dari Haidar, ya harus punya kekuatan hukum sebagai bagian dari keluarga Abrisam. Demi masa depannya juga kan" jawab Pak Isam.


"Tetap aja Pi .. dia berstatus anak Ibunya. Ga pernah ada pernikahan yang terjadi antara Mas Haidar dan Mba Nay. Rama memang ga ngerti hukum, tapi coba aja kalo bisa, pasti akan lebih baik buat Sachi. Mungkin statusnya anak angkat kali ya Pi" kata Rama.


"Nantilah kalo Papi senggang buat berbincang, baru ke law firm perusahaan kita" jawab Pak Isam.


"Alhamdulillah ya Pi .. akhirnya Papi mau mengakui kalo Sachi itu cucunya Papi setelah sekian tahun berlalu" kata Rama.


"Setiap hari melihat perkembangan dia, Papi ingat masa kecil anak-anak dulu, apalagi dia perempuan. Dia memang tidak bisa menggantikan sosok Mba Mentari, tapi dia bisa mengisi ruang kosong sebagai perempuan di keluarga kita" sahut Pak Isam.


"Pi ... bukan mau membuka luka lama, tapi boleh ga Rama nanya kenapa Papi membenci Mba Nay?" tanya Rama hati-hati.


"Orang tua mana yang ga marah kalo anaknya mengkhianati pertunangan, walaupun pertunangan itu atas rancangan kedua belah pihak keluarga. Ditambah pula pengalaman dari Mba Mentari cukup membuat Papi harus lebih waspada. Papi hanya ga mau anak-anak Papi jadi sapi perah pasangannya" jelas Pak Isam.


"Pasti ada alasan lain kan Pi? seperti ada sesuatu yang sangat sakit pernah Papi rasa" selidik Rama.


"Sekarang saatnya kamu tau, udah dewasa kan buat mencerna cerita Papi. Jadi sebelum menikah sama Mami kamu, Papi pernah menikah. Setahun setelah lulus SMA, Papi merasa sudah ingin menikah dan sudah kerja jadi karyawan sebuah minimarket. Kami pacaran dari saat SMA. Dia orang kaya, sangat jauh berbeda dengan kondisi keluarga Papi yang kekurangan. Hubungan kami saat masih pacaran bisa dibilang backstreet. Tapi cinta kami cukup kuat melewati hadangan keluarganya. Akhirnya kami menikah secara agama, tidak didaftarkan di KUA, keluarganya yang ga mau nikah resmi ditambah dia sakit-sakitan dan keluarga berharap dengan menikah bisa sembuh atau minimal ada yang ngurusin. Pernikahannya pun sangat sederhana karena Papi ga bisa memberikan sejumlah uang yang orang tuanya syaratkan. Menikah dengan modal cinta itu ternyata ga cukup. Karena setelah menikah, kami diminta keluar dari rumah keluarganya dan hidup mandiri berdua. Kondisi kesehatan yang naik turun membuat Papi akhirnya banyak meminta belas kasih orang tuanya karena memang ga cukup saat itu uangnya untuk berobat. Hinaan demi hinaan Papi dapatkan dari keluarganya. Puncaknya dua bulan setelah menikah, Papi diberhentikan oleh perusahaan karena sering ga masuk karena menemani istri yang sedang sakit. Keluarganya bisa terima dia balik ke rumah, tapi Papi dibikin seperti pekerja rumahan disana. Ya ngurusin kebun, bersihin kolam renang, nyapu ngepel rumah dua lantai tiap pagi dan sore, nyuci gosok setiap hari, anterin ke pasar, pokoknya semua kerjaan Papi pegang kecuali masak. Asisten rumah tangganya diberhentikan dengan alasan uang yang seharusnya untuk menggaji asisten rumah tangga jadi untuk mensubsidi hidup kami dan biaya berobat" buka Pak Isam terus terang.


Rama diam, walaupun dia kaget mendengar cerita yang ga pernah dia tau. Sangat rapat sekali Papi dan keluarga menyimpan cerita ini. Bahkan ga yakin kalo Mba Mentari dan Mas Haidar tau kisah ini.


"Takdir berkata lain, istri Papi meninggal saat usia pernikahan kami berusia tiga bulan. Setelah pemakaman, Papi langsung diusir dari rumah keluarganya, hanya pakaian yang melekat dibadan aja yang Papi bawa. Papi benar-benar ga punya uang, jalan kaki dari Wonocolo yang dulu kediaman mertua Papi ke Sukolilo, rumah orang tua Papi. Di kampung halaman, Papi bekerja apa saja untuk mengubah nasib. Setahun setelahnya, nasib baik menghampiri keluarga Papi. Ternyata Kakekmu dulu pernah bekerja jadi supir orang Amerika, mereka kaya dan tidak punya anak. Sebelum meninggal mereka menyerahkan sebagian harta yang mereka punya untuk Kakekmu. Kami langsung kaya mendadak, saat itu uang dollar ditukar ke rupiah, nilainya hampir mencapai satu milyar lebih, nilai yang sangat tinggi. Kami tidak foya-foya, tapi menginvestasikan dengan membeli tanah dan sawah. Selain bertani, Kakek dulu juga pernah jadi kuli bangunan. Dengan modal yang ada, mulailah kami membangun satu rumah untuk dijual kembali. Dari satu rumah berkembang terus karena tiap rumah yang dijual, keuntungannya bisa buat modal bikin rumah lagi. Begitu terus hingga nama kami besar di dunia property area Surabaya, dalam kurun waktu lima tahun, keluarga sudah sangat jauh kondisi ekonominya. Kakekmu sangat pintar mengelola bisnis, membuka banyak bisnis dari tiap keuntungan yang didapat, akhirnya semua lini bisnis yang kita punya maju pesat. Papi akhirnya kembali menikah dengan Mami kamu yang kondisi ekonominya terbilang makmur juga. Harta yang kami punya, kami pertaruhkan dengan membangun bisnis di Jakarta. Alhamdulillah semua berjalan lancar, berjalannya waktu kami bertemu keluarga Anindya dan mulailah kerjasama simbiosis mutualisme diantara kami yang akhirnya membawa kita berdua seperti keluarga" cerita Pak Isam pelan-pelan.


"Pi .. maaf sebelumnya.. bukankah harusnya Papi berpihak kepada orang yang kondisi ekonominya rendah? karena Papi pernah berada diposisi itu" kata Rama.


"Penghinaan yang membuat Papi ga mau hal itu terjadi didalam keluarga kita. Tidak akan pernah bisa air dan minyak bersatu. Pasti ada yang terluka didalamnya, makanya Papi ga mau salah satu pihak terluka. Misalnya Papi bisa terima kondisi pasangan anak Papi yang kekurangan, tapi apa nanti ga jadi boomerang? mereka hanya akan mengincar harta kita. Dalam kasus Mba Mentari, Papi memang berandil besar menghalangi mereka bersatu, karena keluarganya exhusband Mba Mentari itu terkenal matre, toh terbukti kan? Mba Mentari dijadikan sapi perah keluarga mereka. Nay dan Haidar pun sama ... Nay memang tidak bermasalah keluarganya, tapi saat itu Haidar sudah ada Anin. Mau taro dimana muka Papi kalo Haidar mengkhianati Anindya. Tapi sejahat-jahatnya Papi, ga sampe menghilangkan orang, hanya menggertak saja" lanjut Pak Isam.


"Pernah nyesel ga Pi sudah berbuat sekejam itu hingga timbul banyak korban? korban perasaan ya maksudnya" tanya Rama.


"Kalo kamu tanya ini lima tahun yang lalu, pasti jawabannya tidak. Papi saat itu sudah jauh dari kewajiban agama. Harta dan tahta membuat Papi merasa ga perlu berdo'a dan meminta kepada Allah. Semua harta yang Papi dapatkan semua serba mudah, bisnis property langsung berhasil, bisnis rumah sewa pun laris manis, minimarket juga berderet-deret punya Papi. Tapi karena kamu menanyakan sekarang, ya Papi jawab amat sangat menyesal. Papi menghancurkan kebahagiaan anak-anak Papi sendiri" kata Pak Isam penuh sesal.


"Papi merasa dapat hidayah sekarang?" tanya Rama.


"Ya ... kecelakaan Haidar dan mendapatkan kenyataan kalo Nay hamil serta kehilangan Mba Mentari dalam kurun waktu hampir berdekatan, membuat Papi limbung. Untunglah saat itu Papi bertemu Abah Ikin, beliau yang banyak membimbing Papi kembali belajar lagi tentang agama. Disanalah Papi belajar menerima takdir. Untunglah saat itu kamu menawarkan diri menukar mimpi kamu dengan kehidupan Sachi, Papi merasa ada angin segar kembali berhembus di keluarga kita. Kamu yang memang sedari awal Papi persiapkan jadi CEO Abrisam Group, akhirnya menjadi anak yang balik ke kandang. Papi ga perlu pakai kekerasan untuk memaksa kamu kuliah bisnis dan menjadi pengganti Papi di perusahaan" tutur Pak Isam.


"Berat juga ceritanya ya Pi, ga pernah kebayang di otak Rama" kata Rama.


"Makanya Papi udah ga mau mengulang kekerasan hati Papi lagi. Bahkan saat Haidar dan Anindya pisah, Papi ga ikut campur bahkan ga berusaha mendamaikan. Kamu dan Haidar bebas menentukan pilihan sendiri. Sekarang Papi hanya mau menikmati masa tua dengan melihat anak-anak dan cucu Papi bahagia" ucap Pak Isam.


.


Pak Isam dan Rama sudah berada disalah satu official store jam tangan branded, mereka memilih jam yang cocok untuk koleganya Pak Isam sebagai hadiah.


"Kamu pilih aja kalo mau, Papi yang bayarin" tawar Pak Isam.


"Bener nih Pi?" tanya Rama antusias.


"CEO Abrisam Group dan Direktur Utama Audah Hotel kok masih happy ya dengar kata gratisan ... hehehe. Padahal gajinya double dan besar" canda Pak Isam.


"Kalo urusan gratisan mah ga kenal jabatan Pi. Dari anak-anak sampe orang tua mana ada yang nolak kalo ditraktir" sahut Rama.


Rama memang sudah mengincar jam tangan bergaya sporty, karena jam yang dia miliki model resmi semua. Apalagi hibah dari Pak Isam dan Mas Haidar pun modelnya terlalu old fashion.


"Yang terbaru dari merek omaygat cukup casual Mas" saran marketing advisor.


"Bisa lihat dulu? siapa tau cocok" tanya Rama.


"Tentu bisa Mas .. keluarga Pak Isam itu kan sudah termasuk customer VIP kami, setiap beli jam pasti ke official store ini. Koleksi kami akan cocok untuk Mas, saya akan panggil sales-nya untuk menjelaskan semua ke Mas ya" sang marketing advisor mencoba teknik pemasaran yang baik.


Rama diperlihatkan jam yang masih dalam kotaknya. Sekarang bagian sales representatif yang memberikan gambaran untuk Rama dengan mempresentasikan dengan Tabnya. Rama tertarik dengan salah satu jam. Sales representatif mengeluarkan jam tersebut secara perlahan, Rama mencobanya.


"Jadi Mas .. ini brand omaygat, yang diperuntukkan untuk gender men, keluaran terbaru. Movementnya automatic, case material steel size 42 milimeter, bezel material ceramic, water resistance, bracelet material rubber with clasp buckle" jelas sales representatif.


"Oke juga .. how much?" tanya Rama.


"Tujuh puluh juta rupiah, diskon member jadi enam puluh delapan juta rupiah sudah termasuk pajak ya" jelas sales representatif.


Rama masih memperhatikan jam yang ada ditangannya.


"Kamu suka?" tanya Pak Isam.


"Looks good .. middle lah Pi .. ga terlalu mahal dan ga terlalu murah dikelasnya" jawab Rama.


"Oke saya ambil ya" pinta Pak Isam.


"Baik Pak .. saya siapkan dulu kartu garansi. Mau langsung dipakai atau mau dibungkus dulu?" tanya sales.


"Dibungkus saja" jawab Rama.


"Baik Mas .. mohon ditunggu" ucap sales dengan sopan.


"Makasih Papi" ucap Rama happy.


"Maaf Pak Isam, ini puteranya yang bungsu?" tanya Store Manager yang sudah selesai mendampingi salah satu pejabat yang sedang memilih jam.


"Iya .. baru enam bulan ini balik ke Jakarta" jawab Pak Isam.


"Belinya yang ini aja Mas? mungkin berminat dengan merek lainnya" tawar sang Manager.


"Masih belum ingin tambah koleksi Pak" jawab Rama merendah.


"Bisa saja Mas .. oh ya sudah lama tidak lihat Mas Haidar, tidak ikut sekarang?" tanya Store Manager.


"Sibuk dia bangun bisnis frozen food and meat nya" jawab Pak Isam.


"Wah makin sukses Boss yang satu itu, nanti saya kontak langsung beliau, mau mengirimkan koleksi terbaru kami" ucap Store Manager.


"Kalo dia itu ga bisa dikirim gambar, pasti langsung closing" kata Pak Isam.


"Penggemar jam soalnya beliau" jawab Store Manager.


.


Saat akan keluar dari pintu official store, Rama bertabrakan dengan seorang wanita. Keduanya sama-sama sedang menerima telepon.


"Aduh...." ucap Izza.


"Za ... ngapain kamu disini?" tanya Rama sambil berusaha membantu Izza bangun.


"Izza? kamu sendiri atau sama Gita?" tanya Pak Isam.


Izza mencium tangan Pak Isam.


"Sendiri Pak" jawab Izza.


"Mau belanja atau cuci mata nih?" ledek Pak Isam.


"Sedang interview pekerjaan Pak, kebetulan owner-nya sedang ada di butik" jawab Izza.


"Mau kerja part time lagi?" tanya Pak Isam.


"Iya Pak, ada penawaran dua bulan kerja, ya saya coba ikuti dulu tahapannya, siapa tau jadi rejeki saya" kata Izza.


"Aamiin .. sekarang mau kemana?" tanya Pak Isam.


"Mau pulang Pak" jawab Izza.


"Sudah hampir jam dua belas, makan dulu yuk Za" ajak Pak Isam.


"Terima kasih atas tawarannya Pak, saya mau langsung pulang saja" jawab Izza mencoba menolak.


"Gita ga akan keberatan kalo kamu sama saya, tenang aja ... nanti kami antar pulang sampe depan pintu rumah" janji Pak Isam.


"Udah ga usah kaya orang Indonesia yang kebanyakan basa basi, ayo cepet ... udah laper nih" ajak Rama.


"Ayo Za ... ga usah kamu masukin perasaan omongannya Rama. Maklumlah dia belum bisa liat wanita cantik, jadi ga tau bagaimana harus memperlakukan wanita dengan baik" ledek Pak Isam.


Pak Isam dan Izza tersenyum kemudian berjalan beriringan. Rama mengikuti dari belakang.


"Mau makan apa nih? Japanese, Korean atau western?" tawar Pak Isam.


"Maaf Pak .. bukannya ga suka, tapi lidah saya kurang cocok" jawab Izza ga enak hati.


"Sama sih Za .. tuh Rama ya makanannya dari dulu ya begitu aja. Kita pilih Indonesian food berarti ya. Kayanya udah lama ga makan iga bakar nih .. ada restoran disini yang serba iga dan enak banget rasanya" promo Pak Isam.


Daging iga sapi atau rib adalah bagian daging sapi yang berasal dari daging disekitar tulang iga atau tulang rusuk. Seni dan sejarah makanan ini konon kabarnya terbentuk saat zaman penjajahan Belanda lebih banyak orang yang membeli bagian tulang iga untuk diolah karena harga daging sapinya yang lebih mahal daripada bagian tulang iganya.


Ciri khas dari makanan olahan dari iga sapi adalah pada dagingnya yang jika bisa dimasak dengan teknik tertentu sampai lembut merupakan hal yang sempurna. Ditempat lain, kita hanya melihat iga bakar atau olahan iga dengan bentuk pipih rata, tidak begitu di Restoran ini. Iganya berukuran tidak biasa, bisa dibilang berukuran jumbo. Beratnya mencapai 350 gram.


Paduan gurih dan manis menjadi poin tambahan dalam melahap iga bakar. Ditambah sambel terpisah yang disesuaikan dengan selera penikmatnya.


"Ini jadi Restoran favorit keluarga kami, olahan iga sapi yang lain daripada yang lain dan iganya yang besar" jelas Pak Isam.


"Besar banget ini Pak, mana habis saya makan kaya gini" jawab Izza.


"Tenang ... selagi masih ada Rama, ga akan ada yang mubazir. Dia kan kalo makan porsinya double" kata Pak Isam.


"Ya udah Kak ... diambil aja sebagian, mumpung belum saya sentuh" pinta Izza.


Rama mengambil pisau dan membelah daging diantara tulang, iga bakar yang kecoklatan tua tekstur dagingnya langsung pisah dengan tulang. Jadi segala usia bisa menikmati hidangan ini. Iga bakar jumbo ini hampir terisi penuh daging tanpa lemak yang nyaris bisa tersuwir dengan mudahnya.


"Pokoknya untuk rasa jangan diragukan lagi, pasti ga nyesal pesan ini" kata Rama pelan.


Iga bakar sudah setengah piringnya Izza pindah ke piringnya Rama.


Rama menyantap hidangan dengan lahap beserta nasi putih yang masih hangat.


"Kak ... nasinya mau setengah lagi ga? kebanyakan ini porsinya" tawar Izza.


"Ya udah... pindahin aja ke piring saya" sahut Rama.


Izza memindahkan sebagian nasinya ke piringnya Rama. Pak Isam hanya tersenyum melihat Izza yang banyak menunduk dihadapan Rama dan Rama pun sibuk dengan sikap cueknya. Mereka duduk berhadapan.