
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, hiasan acara soft opening sudah dirapihkan. Rama dan Anindya masih berbincang setelah keluarga mereka pulang.
Ceu Lilis dan Izza tengah makan malam, karena belum sempat makan sedari siang.
"Alhamdulillah besok kita dah mulai operasional, sebulan lagi kita grand opening ya" kata Anindya.
"Kalo udah rame sebulan ini mah ga usah pakai grand opening kali Mba, ya kita-kita aja karyawan dan keluarga. Toh semua rekanan dan vendor sudah kita undang semua hari ini" jawab Rama.
"Grand opening tuh penting juga loh Ram ... buat nunjukin kita dah siap bersaing" ucap Anindya.
"Up to you Mba, saya sebenarnya ga terlalu suka sama acara resmi kaya gini. Buktinya saya ga mau ada acara saat pengangkatan menjadi CEO nya Abrisam Group" ucap Rama sambil menikmati secangkir kopi susunya.
"You're cool (kamu keren) Ram... " puji Anindya.
"Thank you Mba. I really appreciate everything that you do (saya sangat mengapresiasi semua yang Mba lakukan)" jawab Rama balik memuji.
.
"Orang kaya mah kalo ngomong ribet ya, sagala minuman dibawa-bawa" ucap Ceu Lilis.
"Siapa yang ngomongin minuman?" tanya Mang Ujang.
"Lah emang ga denger tadi Bu Anindya bilang ya kul Ram..." jawab Ceu Lilis.
"Iya ya ... tadi kayanya Mas Boss minum kopi bukan minum yukult, emang ada disini? perasaan ga liat ada yukult" kata Mang Ujang celingukan.
"You cool bukan yukult, artinya Mba Anindya lagi muji Kak Rama itu keren" jelas Izza.
"Oh jadi artinya kul itu keren" kata Mang Ujang sambil manggut-manggut.
.
"Za ... sini dulu deh" panggil Rama.
Izza mendekati Rama dan Mba Anindya. Rama mempersilahkan Izza duduk.
"Dia kuliah public relation Mba .. semester berapa deh?" kata Rama.
"Mau semester tiga" jawab Izza.
"Masih libur semester ya?" tanya Mba Anindya.
"Masih Mba" jawab Izza.
"Mau kerja part time ga ditempat saya? Jadi saya akan buka butik ready to wear di PGC sini, sasarannya memang untuk pedagang yang akan menjual lagi .. reseller istilahnya. Jadi saya perlu orang yang menangani chat para calon reseller, nanti saya pasang iklan di internet dan media sosial untuk mencari reseller. Skill komunikasi sangat diperlukan, ya sekitar sebulan deh sampe saya bisa dapat orang yang sesuai dan bisa kerja office hour" jelas Anindya.
"Bisa Bu" jawab Izza spontan.
Tampak sekali memang Izza butuh uang, jadinya mengiyakan semua tawaran kerja yang datang tanpa pikir panjang.
"Jangan panggil Bu ... panggil aja Mba. Senin ya kita ketemu di kantor saya. Ini kartu nama dan bisa kamu tunjukan di receptionist, nanti sekretaris saya yang akan atur jadwal jamnya. Dibelakang name card, sudah saya catat nomer sekretaris saya untuk konfirmasi waktu ya" kata Mba Anindya sambil menyerahkan kartu nama ke Izza.
"Baik Mba, nanti saya hubungi sekretarisnya" jawab Izza.
"Ram... Mba pamit dulu ya, cape banget rasanya" pamit Anindya.
"Monggo Mba" jawab Rama.
Izza baru aja mau bangkit dari duduknya, Rama menahan.
"Za ... maaf ya, ga sengaja dengar pembicaraan kamu sama Ibu panti. Kamu pernah cerita sekilas tentang musibah kebakaran, keberatan ga kalo saya tanya-tanya tentang hal itu?" tanya Rama hati-hati.
"Maaf Kak, saya ga bisa cerita. Terlalu pribadi ceritanya, apalagi kan saya belum kenal sama Kakak, jadi ga nyaman aja buat bicara tentang hal itu" jawab Izza berusaha merangkai kata agar terdengar masih sopan.
"Oke .. maaf ya" ucap Rama.
"Ada lagi yang mau dibicarakan Kak?" tanya Izza.
"Saya sudah transfer bayaran kerja part time kamu, besok ga perlu anter Lilis. Saya udah minta supir kantor buat antar dia pulang" jelas Rama.
"Jadi besok tugas saya selesai kalo Lilis udah pulang?" tanya Izza.
"Ya .. I’m much obliged for your help (saya berterimakasih banyak atas bantuan kamu)" jawab Rama.
"Much obliged? maksudnya mengharuskan membantu?" tanya Izza yang belum paham maksudnya Rama.
"Penggunaan much obliged tuh lagi viral kalo disini, tapi diluar negeri banyak digunakan, kurang lebih hampir sama dengan penggunaan thank you so much atau thank you very much yang artinya terimakasih banyak. Penting loh bagi kamu yang ingin jadi public relation untuk berbahasa asing yang agak akrab, biar ga kaku" jelas Rama.
"Ya Kak .. semoga saya bisa punya waktu untuk upgrade kemampuan bahasa Inggris kedepannya" jawab Izza.
"Saya kan diminta sama teman saya yang dosen di kampus kamu untuk memberikan kuliah umum, tapi saya tolak. Pertama belum cukup ilmu untuk dishare, daripada malu-maluin" kata Rama.
"Oh kenal sama salah satu dosen?" tanya Izza.
"Kepala jurusan kamu itu kuliahnya satu tempat sama saya, beliau ambil S3, tapi sering ketemu di Kedutaan" jawab Rama.
"Ayahhhhh.... " panggil Sachi yang tiba di Hotel.
Memang sudah tiga hari Rama ga pulang ke rumah untuk mempersiapkan soft opening Hotel. Sachi pun sudah tau, tapi rasa kangennya terhadap Rama ga cukup dengan hanya sekedar video call. Jadi sedari tadi siang udah tantrum bahkan semakin sore terus menangis meminta bertemu sama Rama. Akhirnya Haidar mengantarkan Sachi ke Hotel.
Memang saat soft opening, Haidar tidak datang karena pasti ada orang tua Anindya hadir. Bukannya ga mau ketemu, tapi Haidar hanya ga mau merusak suasana dalam acara adiknya.
"Loh kok nyusul kesini" jawab Rama sambil menggendong dan memeluk sang buah hati.
"Ayah kok ga pulang-pulang?" protes Sachi.
Rama kembali duduk di bangkunya sambil memangku Sachi. Haidar ikut duduk.
"Ini Tante Bunda ya? yang di Rumah Sakit" ucap Sachi begitu melihat Izza.
"No ... you call ... Aunty Izza" pinta Rama.
"Bukan Bundanya Sachi ya Yah? Bunda kok ga mau liat Sachi? Ayah bilang nanti Bunda datang kalo Sachi sekolahnya pintar" ujar Sachi.
Semakin besar Sachi semakin bawel, hampir setiap hari menanyakan keberadaan Bundanya. Rama sudah menjelaskan kalo Bundanya Sachi sudah di surga, tapi konsep surga bagi Sachi adalah sebuah daerah dimana orang yang kesana akan bisa kembali pulang.
"Sachi besok ga sekolah? sekarang udah malam kan, nanti ngantuk pas berangkat sekolah" Izza coba mengalihkan pembicaraan karena Rama sepertinya udah bingung menjawab pertanyaan Sachi.
"Libur Aunty Izza" jawab Sachi sopan.
"Sachi libur sekolah ada apa Mba Nur? kok ga lapor sama saya?" tanya Rama ke pengasuhnya Sachi.
"Sekolahnya akan didisinfeksi Mas, karena seminggu ini banyak siswa yang terkena flu, jadi sekalian general cleaning" jelas pengasuhnya Sachi.
"Tumben saya ga dikirimin email dari sekolah" kata Rama.
"Ada Mas, saya saja dapat tembusannya dari Miss Gyna (gurunya Sachi)" lanjut pengasuhnya Sachi.
"Ok" jawab Rama singkat.
Sachi sekolah di TK Internasional, sama seperti dirinya dulu. Pengasuhnya Sachi dulunya pernah mengasuh ekspatriat, jadinya pintar berbahasa Inggris.
"Ayah ... Sachi lapar" adu Sachi.
"Belum makan?" tanya Rama dengan lembut.
"Mogok makan tuh, katanya mau disuapin Ayah" sahut Haidar.
"Kan besok Ayah pulang, maaf ya udah ga ketemu tiga hari ini" pinta Rama sambil memeluk Sachi.
.
"Mang ... Aa' Rama udah punya anak?" bisik Ceu Lilis.
"Anak angkat sih yang saya tau, tapi ga tau juga benernya gimana. Mas Boss ga pernah mau kasih tau" jawab Mang Ujang.
"Ngapain angkat anak ya? kan dia belum nikah, mending nikah aja sekalian kalo mau punya anak" ujar Ceu Lilis.
"Orang super sibuk kaya Mas Boss kayanya ga kepikiran cepet nikah, sampe sekarang aja ga punya pacar. Bayangin aja deh, jam enam udah jalan ke kantor, pulang kerja jam delapan malam paling cepat. Sampe rumah juga masih juga urusin kerjaan. Udah tiga hari nih sekamar sama Mas Boss, bingung kapan tidurnya dia. Jam sebelas malam masih sibuk sama laptop, saya bangun pipis jam duaan dia lagi sholat, nanti sebelum adzan subuh udah jalan nyari Mesjid atau Musholla, kelar sholat dia jogging. Ya paling tidur di mobil kalo berangkat kerja. Tipe gampang tidur, tapi herannya tau aja kalo saya lagi ngapain di mobil" papar Mang Ujang panjang lebar.
"Unik ya" kata Ceu Lilis.
"Super unik" sahut Mang Ujang.
"Mang ... Lilis mau ke kamar dulu ya, cape banget nih kebanyakan goyang" ucap Ceu Lilis.
"Ya udah istirahat aja, kan pulangnya baru besok siang" jawab Mang Ujang.
Ceu Lilis pamit ke kamar duluan. Izza sedang mengikuti Sachi yang lagi liat makanan yang ada di meja prasmanan. Sachi yang meminta Izza untuk menemaninya.
"Sachi mau makan apa?" tanya Izza.
"Apa ya ... adanya makanan dewasa (maksudnya makanan pedas dan lauk untuk orang dewasa)" jawab Sachi.
.
"Buka kamar aja Mas disini, masih kosong kok" tawar Rama.
"Ga ah" jawab Haidar.
"Ya udah Mba Nur pulang aja, Sachi saya yang urus. Bawa baju dan susunya kan?" tanya Rama.
"Bawa Mas" jawab pengasuhnya Sachi.
"Ayah ... makanannya untuk orang dewasa, aku ga suka" kata Sachi sambil menghampiri Rama.
"Terus maunya apa? udah malam sayangku, para chef udah tidur" ujar Rama.
"Makan ayam aja Yah .. tadi Sachi liat ada tuh disana" ide Sachi sambil menunjuk kearah salah satu restoran fast food.
"Ajak sana, daripada dia ga bisa tidur. Dia kan mirip sama kamu, kalo udah maunya ya maunya" saran Haidar.
"Mang .. tolong ambilin mobil" perintah Rama ke Mang Ujang.
"Mau kemana kita Mas Boss? pinggang saya rasanya encok nih gara-gara goyang mulu" alasan Mang Ujang.
"Nanti saya yang bawa sendiri, Mang Ujang tidur aja" sahut Rama.
Mang Ujang menuju parkiran mobil untuk mengambil mobil dan di parkir kedepan lobby.
Haidar dan pengasuhnya Sachi juga sudah pulang.
"Istirahat sana Za, cape kan hari ini" saran Rama.
"Iya Kak" jawab Izza bersiap meninggalkan Rama.
"Aunty Izza ikut ya" ajak Sachi.
Rama dan Izza saling berpandangan.
"Aunty Izza cape .. mau tidur" kata Rama buru-buru.
"Iya ... hoammmm... ngantuk nih" ucap Izza sambil pura-pura menguap.
"Pokoknya Aunty Izza harus ikut" ujar Sachi sambil ngambek.
"Iyalah... iyalah... ayo ikut aja Za. Makin lama kita jalan, makin malam nih.. ngantuk" ajak Rama.
.
"Mas Rama dari kemarin jalan sama wanita itu terus, pacarnya ya?" tanya security Hotel kerekannya.
"Kalo kata supir pribadinya, Mas Rama itu masih jomblo" kata rekan sesama security.
"Itu anaknya siapa?" tanya security yang pertama.
"Keponakan kali, kan belum nikah kalo Boss kita" jawab security lainnya.
"Malam-malam mau kemana tuh? orang tua sekarang mah ga resah ya anaknya malam-malam dibawa lelaki, ntar kalo kejadian sampe hamil baru deh rame" ucap security itu lagi.
"Kepo amat sih Lo, lagian ya .. orang tua mana yang ga nolak dapat calon mantu kaya Mas Rama, ya biarin dah dihamilin juga, kan jadi mempercepat jadi mertuanya orang kaya .. hahaha" canda security lainnya.
"Kerja ... kerja .. kalian dibayar untuk menjalankan SOP yang ada, malah pada ngerumpi aja disini. Saya tuh pergi ga berduaan aja ya sama cewe, kalo bukan karena Sachi, ga mungkin saya bawa perempuan keluar malam-malam gini" omel Rama yang tiba-tiba udah ada dibelakang para security.
Para security langsung terlonjak kaget.
"Siap Mas ..." ucap security kompak sambil berdiri.
.
Mobil melaju kearah salah satu Restoran fast food yang buka dua puluh empat jam.
Sachi memesan nasi, ayam original dan sup ayam. Sedari kecil, Sachi sudah dibiasakan makan sayur, jadinya makan apapun harus ada sayurnya. Rama memesan burger. Izza ga mau makan karena sudah kenyang.
"Pesen apa gitu Za, ya paling ga yang harganya gocengan gitu. Nanti disangka orang saya tuh pelit sama kamu" pinta Rama.
"Apa ya ... puding aja deh" jawab Izza.
"Aunty .. anterin Sachi cuci tangan yuk" ajak Sachi, Izza menemani.
Rama masih di kasir, membayar orderannya. Setelah itu membawa makanan ke meja dan mengambil saos.
"Aunty ... bisa tolong suapin Sachi?" tanya Sachi.
"Sachi .... makan sendiri, kamu kan udah besar" jawab Rama mengingatkan.
"Sachi ngantuk Yah" alasan Sachi.
"Ngantuk kok minta makan" kata Rama.
"Kan Sachi laper juga" jawab Sachi sambil menguap.
"Gapapa Kak, keliatannya memang udah ngantuk Sachinya" potong Izza.
Dengan telaten Izza menyuapi Sachi pelan-pelan. Tapi Sachi memang sudah ngantuk, jadi mengunyah makanan sambil merem matanya.
"Udah ngantuk berat Sachinya Kak, bisa dipangku aja ngga? khawatir nanti malah jatuh kalo duduk sambil ngantuk gini" pinta Izza.
Rama langsung memangku Sachi, Izza masih menyuapi Sachi karena kalo berhenti Sachinya malah bangun.
"Udah ya Sachi .. makannya lanjut besok aja, udah ngantuk gini" kata Rama sambil mengusap rambut putrinya.
"Ga mau ... kata Ayah kan makan harus dihabiskan" jawab Sachi setengah melek.
"Gapapa kalo sekarang, udah malam juga" kata Rama.
"Ya udah Kak, biar Sachi kenyang dulu" saran Izza.
.
"Itu pasangan muda bikin ngiri aja ya .. Papanya gagah gitu tapi keliatan care banget sama anak, Mamanya juga telaten. Enak kali ya nikah muda, orangtuanya masih muda tapi anak udah besar, masih asyik nongkrong malam-malam gini" ucap salah satu karyawan Restoran fast food tersebut.
"Emang nikah sekedar punya anak dan bisa nongkrong bareng anak aja? Tuh liatin mobilnya doi cuy ... itu mobil keluaran terbaru diserinya, kalo ga salah diatas empat milyar" kata pegawai yang lain sambil menunjuk mobil milik Rama.
"Ah yang bener Lo?" tanya karyawan fast food dengan kagetnya.
"Coba aja cek merek lankrus.. pasti segitu deh" jawab karyawan yang paham dunia otomotif.
"Gw kira mobil alpred udah paling mahal. Ga taunya mobil keluarga kaya gitu mahal juga ya" ucap karyawan lainnya.
"Makanya.. wajar kalo mereka memutuskan nikah muda, ekonomi udah mapan. Ga kaya kita yang gajinya tiga koma lima" jawab lainnya.
"Mana nyampe gaji kita segitu" protes karyawan fast food.
"Maksudnya tanggal tiga udah koma ... alias dah tongpes ... alias bokek ... hahaha" canda karyawan lainnya.
.
Sachi tertidur pulas setelah menghabiskan makanannya. Rama yang menggendong hingga parkiran mobil. Izza membantu memencet tombol dikunci.
"Kamu masuk dulu, nanti tolong gendong Sachi ya, biasa tidur dipeluk dia kalo belum pulas" pinta Rama.
Izza masuk kedalam mobil, Rama meletakkan Sachi kepangkuan Izza. Wajah kedua anak manusia ini sangat dekat, saling bertatapan.
Rama yang menyadari udah lama menatap Izza langsung mengeluarkan kepalanya.
JEDUGGGG
"Awww....." kata Rama kesakitan karena kejedot bagian atas pintu mobil.
Rama mengusap kepalanya.
"Satu tambah satu dua ... dua tambah dua empat ... " kata Rama spontan.
"Ngapain malah ngitung Kak?" tanya Izza heran.
"Buat memastikan ga amnesia" jawab Rama.
"Ya kali kejedot begini aja bisa amnesia, terlalu drama banget" cibir Izza.
Rama berjalan menuju pintu mobil yang satu lagi. Kemudian memasang seat beltnya.
"Kamu sih ... jadinya kejedot gini deh" omel Rama.
"Makanya kalo punya mata dijaga .. " ucap Izza.
Rama malu mendengar jawaban Izza.