HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 195, Alhamdulillah



Sebenarnya alasan utama Ceu Lilis memutuskan untuk tinggal di Tasikmalaya menghabiskan masa kehamilan dan melahirkan disana karena ada permasalahan pada kehamilannya, sehingga butuh keluarga yang bisa menguatkan. Jika di Jakarta hanya berdua sama suami. Keluarga Rama pun sibuk dengan urusannya masing-masing, jadi Ceu Lilis dan suami tidak mau merepotkan mereka semua.


Dokter kandungannya Ceu Lilis sudah memberikan informasi saat usia kandungan jalan dua puluh mingguan, bahwa air ketuban yang ada didalam rahimnya Ceu Lilis sedikit (olighomnion). Dokter juga sudah menyarankan untuk memperbanyak minum air putih. Sehingga Ceu Lilis menambah porsi minum menjadi dua setengah liter sampai tiga liter per hari. Selain itu, pada usia kehamilan masuk usia dua puluh lima minggu, janin dideteksi dalam kondisi sungsang lewat pemeriksaan USG.


Saat mendengar perkataan dokter, Ceu Lilis makin merasa down. Dia membayangkan persalinan operasi Sectio Caesaria sudah didepan mata. Itulah mengapa dia memutuskan tinggal di Tasikmalaya sementara waktu hingga waktu melahirkan tiba.


Istrinya Abah Ikin dan Ibunya sudah mengajarkan Ceu Lilis banyak do'a-do'a dan cara-cara orang dulu kalo bayinya sungsang, yaitu melakukan sujud sebanyak tiga kali sehari dengan durasi sepuluh menit tiap sesinya. Hal tersebut diluar sujud diwaktu sholat. Alhamdulillah berhasil di minggu ketiga puluh dua, letak kepala janin memutar kebawah arah jalan lahir. Sehingga sudah dinyatakan tidak sungsang lagi.


Saat usia masuk tiga puluh delapan minggu, sebenarnya sudah cukup usia untuk bayi dilahirkan. Namun belum juga mendapatkan signal gelombang cinta dari bayi untuk keluar.


Hingga Ibunya Ceu Lilis menyarankan kepada Ceu Lilis untuk banyak jalan kaki, berjalan dengan jalanan yang menanjak, mengepel manual dengan cara jongkok, makan kurma, minum madu dan banyak hal lainnya agar bayinya segera keluar.


Maman sudah mendapatkan cuti diluar tanggungan dari Mas Haidar saat usia kandungannya Ceu Lilis berusia tiga puluh sembilan minggu. Semua sudah dicek dengan seksama oleh dokter dan disarankan untuk menunggu gelombang cinta secara alamiah hingga minggu ke empat puluh.


Mas Haidar juga akan menanggung semua biaya melahirkan baik nantinya secara normal atau caesar.


🌺


Weekend ini Rama, Izza dan Mang Ujang akan pergi ke Tasikmalaya. Tujuan utamanya mencari penyegaran dari Abah Ikin tentang masalah Izza dan Pak Sandy. Kalo Mang Ujang sendiri tujuannya adalah menjemput anak istrinya yang minggu lalu menginap kembali di Tasikmalaya karena ada pengajian keluarga besar Abah Ikin.


Keluarga Pak Sandy pun sudah bersedia datang ke Pesantrennya Abah Ikin. Rama sudah memberikan alamat serta ancer-ancer jalan menuju kesana. Mereka berangkat terpisah. Izza sudah menyetujui pertemuan yang agenda utamanya akan mendengarkan nasehat dari Abah Ikin. Menurut Rama, hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut yang nantinya malah akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi kedua belah pihak. Rama juga khawatir hal ini malah banyak orang diluar sana yang tau, sehingga akan membuka aib dua keluarga.


Awalnya jelas Izza menolak untuk kembali duduk bersama dengan Pak Sandy, berkat rayuan dan gambaran dari Rama, akhirnya Izza setuju atas usulnya Rama.


Sachi tidak ikut ke Tasikmalaya karena ada acara di keluarganya Mba Rani, jadi Sachi ikut sama Mba Rani dan Mas Haidar. Pak Isam sendiri tengah berlibur bersama teman masa kuliahnya ke Palembang.


.


Selama dalam perjalanan, Izza lebih banyak tiduran dipangkuannya Rama. Rama terlihat sangat memanjakan istrinya. Sampai pakai mobilnya Pak Isam yang besar agar Izza bisa rehat didalam mobil dengan nyaman.


Kursi paling belakang sudah dilepas dan dimasukkan kasur agar Izza bisa berbaring dengan lurus. Nantinya bisa untuk anak-anak dan Maryam tiduran saat kembali ke Jakarta.


"Awas ya Mas Boss dan Mba Boss bikin adegan dibelakang, bisa-bisa ga konsen nih nyetirnya" ingat Mang Ujang yang lagi nyetir.


"Ya ga usah liat belakang lah Mang, gitu aja kok repot" jawab Rama dengan santai.


"Ga liat gimana sih Mas Boss, atuh kalo nyetir sesekali harus liatin kaca belakang. Mending Mas Boss cari hotel aja deh kalo udah ga bisa tahan, Mamang tungguin gapapa" lanjut Mang Ujang.


"Otak jangan ngeres mulu Mang.. lagian kita juga tau diri kok, ya kali di mobil ada Mang Ujang kita berdua macam-macam" sahut Izza jengkel.


"Kalo Mba Boss mah Mamang percaya, kalo Mas Boss tuh yang ga bisa dipercaya. Kalo udah ketemu istri bawaannya mau nyeruduk aja" ledek Mang Ujang.


"Ngiri tuh .. udah seminggu ga nyeruduk" gantian Rama yang meledek.


"Begitu deh Mas Boss.. ga ada teman tidur nih. Makanya kangen banget sama anak-anak" kata Mang Ujang.


"Anak-anak atau umminya anak-anak?" sahut Rama ketawa.


"Ya semuanya Mas Boss.. kangen anak-anak ya otomatis sama umminya apalagi" lanjut Mang Ujang.


"Mang.. inget pakai KB.. kasian kan sama ummi Maryam, ngurus dua anak sekaligus pasti cape. Kasih jarak dulu lah" saran Izza.


"Maryam ga mau Mba Boss, katanya ga boleh menunda kehamilan, kan hamil itu rejeki dari Allah, masa mau ditunda" jelas Mang Ujang.


"Mang .. KB itu bukan untuk menunda kehamilan, tapi untuk merencanakan kehamilan. Ingat singkatannya tuh keluarga berencana, artinya apa? ya merencanakan jarak lahir anak-anak agar bisa terpenuhi kasih sayangnya sebelum terbagi ke adik-adiknya. Selain itu juga merencanakan biaya untuk anak-anak. Jangan sekedar punya anak tapi kita ga bertanggung jawab terhadap gizinya serta sekolahnya nanti" papar Izza.


"Terus kalo kebobolan gimana Mba Boss? banyak kan yang kejadian kaya begitu" tanya Mang Ujang.


"Judulnya aja r-e-n-c-a-n-a .. rencana... ya bisa gagal, bisa juga berhasil. Tapi paling tidak kita sudah mengupayakan untuk punya rencana. Semua kita kembalikan ke Allah SWT" jawab Izza mulai rada naik tensinya.


"Ya kalo ujung-ujungnya kembali ke Allah SWT, kenapa kita repot-repot segala merencanakan sesuatu? ribet-ribet mikir eh gagal juga, ya mending ga mikir sekalian" kata Mang Ujang.


"Astaghfirullahal'adzim... amit-amit ngomong sama Mang Ujang mah. Kok Kak Rama kuat banget sih.. eh ada lagi deh.. ummi Maryam, pada bisa ya ngomong sama Mang Ujang ga pake emosi" ucap Izza sambil mengusap-usap perutnya.


Rama ketawa ngakak mendengar pembicaraan antara Izza dengan Mang Ujang yang kaya adegan dalam lenong.


"Kalian tuh ya.. dari dulu tiap ketemu udah kaya Tom and Jerry.. ribut mulu. Mana yang diributin juga ga ada ujungnya ... hahaha.. bikin sakit perut ketawa" ucap Rama.


"Istri lagi membela kaumnya, kok malah diketawain sih Kak? ga lucu tau. Kami ini para wanita berhak juga dong untuk merencanakan kehamilan. Ini tubuh kita loh yang ngerasain hamil, melahirkan dan mengurus anak. Emang yang bakalan lebih banyak ngurusin anak-anak tuh siapa? Bapak-bapak pasti alasannya sibuk cari nafkah untuk anak istri. Jarang ada yang mau merawat anak bersama. Kalaupun ada tetap aja persentase anak bersama Bapak itu sekitar sepuluh persen saja, selebihnya sama Ibu" ungkap Izza agak manyun.


"Lah kok jadi malah marah sama Kakak? sensi banget deh ayangku my love ini, bener kali nih udah ada baby disini" ledek Rama sambil mengusap lembut perut Izza.


"Baru telat dua minggu Kak, ga usah punya ekspektasi ketinggian, dulu pernah telat sebulan nyatanya zonk. Berkali-kali kan seperti ini. Dokter juga bilang kalo hormonal Izza ga bagus" ujar Izza.


"Ya udah .. katanya ngantuk.. sekarang tidur ya. Ga usah bahas orang mau pakai KB atau ngga. Pokoknya kalo Kakak terserah kamu aja nantinya. Mau KB boleh, mau langsung tancap gas produksi anak juga hayuk" saran Rama sambil tersenyum.


"Tapi kaki pegel.. " rajuk Izza.


"Kakak urutin ya.. mau pakai minyak urut atau lotion aja?" tanya Rama.


"Minyak kayu putih aja Kak, kayanya kaki berasa dingin. Kalo minyak urut nanti bau, lotion juga kebanyakan malah lengket" pinta Izza.


Rama dengan cekatan langsung mengurut kakinya Izza hingga Izza tertidur pulas. Setelah Izza tidur, disekelilingnya dikasih guling agar tubuhnya tidak terantuk pintu belakang mobil saat mobil melaju.


Rama kemudian pindah ke kursi yang ada didepan, duduk disebelahnya Mang Ujang.


"Tumben gampang banget tidurnya, biasanya Jakarta Tasikmalaya mana pernah tidur. Perasaan juga lagi ga banyak kegiatan, jadi ga capek-capek banget" kata Mang Ujang pelan.


"Jadi gampang tidur sekarang, kalo saya telepon aja jarang diangkat, nanti kalo sudah bangun tidur baru kasih kabar. Do'akan aja ya Mang.. kali ini jadi rejeki kami berdua. Ya harapan selalu ada, tapi kami sudah memasrahkan kepada Allah. Kapan mau diberikan ya kami terima. Tapi feeling saya tuh kayanya ga salah, makanya sampai saya siapkan kasur biar nyaman" ungkap Rama.


"Aamiin ya rabbal'alamin.. orang baik kaya Mas Boss dan Mba Boss itu harusnya mudah dikasih momongan. Banyak dido'akan sama orang-orang. Mamang juga selalu mendo'akan agar Mas Boss segera kasih teman main buat si kembar. Kalo ini belum berhasil juga, lanjut bulan madu keluar negeri aja Mas Boss, mungkin harus diproses disana baru jadi ... hehehe" harap Mang Ujang.


"Mungkin kemarin kami masih banyak hal yang harus diurus dulu Mang. Rangkaian huru hara kehidupan yang luar biasa telah kami jalani. Semoga kedepannya kami sudah lebih kuat dan pantas menjadi orang tua" ujar Rama.


"Maryam bilang katanya Mas Boss minta disiapkan empat kamar tidur di Pesantren. Buat siapa aja Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Buat saya sama tamu, kan ga tau tamunya berapa banyak yang akan datang. Jadi buat jaga-jaga aja. Saya juga sudah kasih uang ke Maman buat beli bahan makanan. Ya kan ga enak kalo saya yang kedatangan tamu malah merepotkan Abah Ikin sekelurga" jawab Rama.


"Tamu siapa Mas Boss? urusan bisnis? tumben bisnis segala ke Abah Ikin, mau minta do'a biar sukses dan lancar ya kerjaannya? atau biar menang tender?" tanya Mang Ujang makin penasaran.


"Kesitu mulu pikirannya Mang. Kalo udah tau do'anya Abah Ikin barokah, kenapa Mamang ga minta dido'akan semoga pemikirannya diperjelas, ga bikin lawan bicara spaneng. Ya intinya biar ga lola lagi .. hahaha" ledek Rama.


"Orang-orang aja yang ga bisa mengontrol emosinya, padahal Mamang mah ga pake urat ngomongnya juga, gaya santuy malah Mas Boss" bela Mang Ujang.


"Jangan mulai lagiii... ini saya udah mencoba waras biar sabar ngomong sama Mamang. Jangan malah jadi ikutan kesel nantinya" ingat Rama.


"Pokoknya satu-satunya orang yang paham cuma Mas Boss. Yang lain udah teruji tingkat kesabarannya, ga sesabar Mas Boss yang satu ini. Bahkan Abah Ikin aja kalo udah kesel ngomong sama Mamang, beliau langsung aja ngeloyor ga pake pamit" adu Mang Ujang.


"Untung ga dipecat jadi mantu ya Mang" goda Rama makin jadi.


"Jangan atuh Mas Boss... amit-amit... amit-amit" sahut Mang Ujang sambil ngetok setir mobil.


.


Hari ini sudah memasuki hari perkiraan lahir bayinya Ceu Lilis karena sudah tepat empat puluh minggu. Ceu Lilis dan Maman memeriksakan kandungan ke Rumah Sakit yang ada di jalan raya besar. Sekitar setengah jam dari Pesantren Abah Ikin.


Belum ada tanda-tanda kontraksi, tapi dokter menyarankan untuk rawat inap saja agar bisa terpantau kondisi Ibu dan kandungannya.


Rupanya karena stress mendengar kata rawat inap, Ceu Lilis minta pulang saja ke rumah untuk menenangkan diri.


Dokter mengijinkan dengan catatan jika sudah ada kontraksi segera ke Rumah Sakit, jangan sampai terlambat.


Sesampainya di rumah, Ceu Lilis disarankan oleh Ibunya untuk banyak jalan biar pembukaannya cepat.


.


Karena Izza keliatan agak pucat, mereka disarankan untuk rehat dulu di kamar yang telah disediakan.


.


"De.. coba deh kita ke Rumah Sakit atau klinik terdekat, udah pucet banget mukanya" rayu Rama yang duduk disampingnya Izza yang tengah berbaring.


"Lemes Kak" jawab Izza.


"Kan naik mobil. Yuk Kakak gendong deh sampai mobil. Gimana?" tawar Rama.


Ada kekhawatiran dalam diri Rama akan kondisi Izza yang ga segar hampir dua mingguan ini.


"Yuk sayang... Kakak antar ke Rumah Sakit. Yang penting kamu dapat pengobatan dulu" lanjut Rama.


"Tapi ga merasa sakit kok Kak.. cuma lemes aja" jawab Izza.


"Merasa mual ga? atau perut rasanya beda?" selidik Rama.


"Ngga.. biasa aja, cuma lemes, males gerak .. intinya lebih nyaman jadi kaum rebahan dalam masa sekarang ini" jelas Izza.


"Boleh jadi kaum rebahan, tapi harus dipastikan dulu kalo memang kamu sehat-sehat aja" kata Rama.


Akhirnya Izza menyerah juga, dia bersedia dibawa ke Rumah Sakit. Rama memapahnya keluar kamar menuju mobil.


"Gapapa nih Mas Boss yang bawa? Mamang juga ga ada lagi kerjaan kok.. Mamang antar aja ya" tawar Mang Ujang yang kasian melihat wajah Izza yang makin pucat.


"Ga usah Mang" jawab Rama.


"Ambu.. Mamang.. Teteh.. Uwa.. aduh siapa aja pokokna mah..." teriak Maman.


"Kenapa Man?" tanya Rama yang udah siap keluar dari area pesantren.


"Lilis... Lilis...." jawab Maman.


"Lilis kenapa? coba tenang dulu... tarik nafas terus buang pelan-pelan" saran Rama.


"Mules" jawab Maman dengan wajah kebingungan.


"Mules kok malah teriak-teriak Man.. ya ke kamar mandilah sana" saran Rama.


"Lilis mau lahiran A'.. udah mules di rumahnya Mang Ujang" kata Maman.


Rama melihat kearah Izza yang duduk disebelahnya.


"Jemput dulu Kak, antar Lilis dulu yang lebih urgent" pinta Izza.


"Iya.. ayo Man naik ke mobil" perintah Rama.


.


Setibanya di Rumah Sakit, Ceu Lilis langsung dimasukkan ke ruang bersalin atas instruksi dokter jaga IGD. Disana diperiksa oleh bidan jaga, setelah melakukan pemeriksaan, dilaporkan sudah pembukaan satu.


Kebetulan dokter kandungan masih ada di ruang konsultasi rawat jalan, jadi dihubungi untuk melihat kondisi pasien.


Dokter memberikan dua pilihan yaitu kembali pulang ke rumah sambil menunggu pembukaan bertambah (hal ini karena dokter melihat sejak kemarin Ceu Lilis gelisah ketika mendengar kata dirawat) atau langsung rawat inap. Jelas saja Maman memilih untuk langsung rawat inap, cukup pengalaman Maryam melahirkan menjadi pelajaran berharga untuk mereka.


.


Rama awalnya mendaftar ke poli umum, setelah dilakukan tanya jawab, akhirnya diputuskan untuk konsultasi ke dokter kandungan saja.


Izza pun diminta untuk cek darah dan urine di laboratorium. Sambil menunggu hasilnya, Izza kembali membeli roti yang dijual diselasar luar jalanan Rumah Sakit.


.


"Ini hasilnya Bapak.. Ibu..." kata dokter sumringah sambil menunjukkan kertas hasil laboratorium.


Izza dan Rama melihat deretan keterangan yang tidak mereka pahami, tapi dibagian bawah ada keterangan HCG.


"Maaf dok, kami tidak paham dengan istilah medis. Bisa dijelaskan saja dok?" tanya Rama sambil meletakkan kertas hasil laboratorium.


"Tadi Ibu menjalani tes lab urine chorionic gonadotropin (HCG), merupakan jenis tes untuk mendeteksi kehamilan. Plasenta wanita hamil menghasilkan HCG yang disebut juga hormon kehamilan. Jika wanita hamil, maka ada kadar HCG dalam urine. Sudah terlambat sekitar sepuluh hari Bu?" tanya dokter.


"Sudah dua minggu dok" jawab Izza.


"Baik, untuk memperkuat hasil tes laboratorium, apa Ibu bersedia untuk di USG?" tawar dokter.


"Iya dok" jawab Izza antusias.


dokter melakukan pemeriksaan, Rama yang ikut mendampingi terlihat lebih mellow dari Izza, bahkan ada air mata tertahan diujung matanya.


"Baik Bapak.. Ibu.. ini sudah positif hamil. Dijaga baik-baik kandungannya. Karena bukan berdomisili disini, sebaiknya begitu sampai di tempat tinggal, segera ke Rumah Sakit untuk berkonsultasi secara lebih menyeluruh ke dokter kandungan" saran dokter.


"Baik dok terima kasih" jawab Rama.


Rama membantu Izza turun dari tempat tidur periksa. Dia pula yang memakaikan sendal ke kakinya Izza.


"Hemoglobin Ibu sedikit dibawah normal, saya berikan vitamin ya, makan protein untuk meningkatkan darah seperti daging, hati dan buah-buahan" lanjut dokter.


.


Setelah dari dalam ruang periksa, keduanya menuju musholla untuk melakukan sujud syukur.


Mereka pun sepakat untuk tidak memberitahukan ke siapapun dulu sampai mereka nanti balik ke Jakarta.


.


Rama dan Izza melihat Maman mondar-mandir didepan ruang bersalin. Ada Ambunya Mang Ujang dan istrinya Abah Ikin.


Kontraksi yang muncul semakin sering dan menjadi-jadi, keringat dingin mulai bercucuran, gelombang cinta dedek bayi semakin intens dan kuat. Maman diminta masuk kedalam ruang bersalin.


Perasaan gelisah, lemas, cemas, sakit, nyeri dan tidak yakin untuk melanjutkan persalinan normal mulai muncul dalam benaknya Ceu Lilis.


Ceu Lilis mulai menggigil, pandangan mulai buram kemudian perlahan-lahan gelap, seolah bertaruh nyawa antara hidup dan mati. Infus langsung terpasang ditangannya. Maman membisikkan kalimat istighfar ditelinganya Ceu Lilis dan Ceu Lilis mengikutinya.


Karena Maman dan Ambu khawatir akan seperti Maryam, maka diputuskan untuk dilakukan operasi Sectio Caesaria saja. Ceu Lilis pun sudah pasrah karena sudah tidak punya tenaga.


.


Rama dan Izza menunggu hingga proses operasi selesai. Sebelumnya Rama tadi sempat keluar untuk membeli minuman, makanan berat dan ringan. Rama pula yang meminta ke pihak Rumah Sakit untuk mengupgrade ruangan rawat inap dari kelas dua menjadi kelas satu utama, dimana hanya ada satu pasien nantinya. Hal ini Rama lakukan karena Keluarga Ceu Lilis banyak dan Ceu Lilis sudah seperti adiknya sendiri.


Mas Haidar sudah mentransfer dana untuk Ceu Lilis melahirkan dan sudah didepositkan ke Rumah Sakit.


Kwitansi pemindahan ruang rawat inap dan deposit uang yang masuk ke Rumah Sakit diserahkan ke Maman.


"MasyaAllah A'.. banyak banget ini sampai dua puluh juta" kata Maman ga enak hati.


"Ini dari Mas Haidar, nanti jika masih kurang, kamu hubungi saya aja ya. Lilis itu sudah seperti adik buat saya" jawab Rama.


"Hatur nuhun A'.. semoga Allah membalas dengan pahala atas kebaikan Aa', Mas Haidar dan seluruh keluarga Pak Abrisam" kata Maman.


"Aamin ya rabbal'alamin.. oh ya.. maaf ya, kami pulang dulu, Izza sudah cape keliatannya, jadi biar istirahat dulu" pinta Rama.


"Iya A' .. kasian tetehnya lemes kaya gitu" jawab Maman.