HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 143, Love addiction



Jam setengah sembilan malam, Rama dan Izza kembali ke kamarnya. Rama meminta tolong ke security untuk mengantar mereka berdua naik golfcar menuju kamar. Udara mulai dingin menusuk tulang, walaupun Izza sudah memakai jaketnya Rama yang tebal, ada kekhawatiran Izza akan kambuh alerginya jika terlalu lama diluar ruangan. Jarak dari restoran ini ke kamar, jika berjalan kaki bisa memakan waktu dua puluh menitan.


Selama perjalanan menuju kamar, Rama banyak bertanya tentang tempat ini ke security (semua karyawan sudah tau siapa Rama, makanya sangat berhati-hati berbicara sama Rama).


Sampai sekarang Rama masih pura-pura ga tau kalo pemilik tempat ini adalah Papinya, makanya pas tadi Pak Isam telepon, dia ga menanyakan tentang hal ini. Rama paham jika Papinya menyembunyikan sesuatu, artinya belum saatnya anak-anak tau.


.


Mereka tiba didepan kamar. Suara desiran angin dan burung menjadi alunan simfoni alam yang tidak ditemui di Jakarta.


"Makasih ya Pak" ucap Rama sambil menyelipkan uang selembar lima puluh ribuan ketangannya security.


"Terimakasih Pak Rama" kata security.


.


Izza masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti baju dengan training panjang yang dibelikan oleh Rama buat Izza tidur (Rama tau Izza suka kedinginan kalo tidur sekamar dengannya, jadinya dibelikan beberapa stel setelan training panjang agar tidurnya bisa terasa hangat).


Baju yang tadi dipakai oleh Izza, digantung digantungan yang ada didekat lemari baju, besok akan dipakai lagi untuk olahraga keliling tempat penginapan ini.


Rama habis menelpon Sachi, kemudian dia menonaktifkan HP setelahnya.


"Sachi kangen sama Mommynya" adu Rama.


"Tadi udah telpon kok, ya biasa manja-manja dikit, tapi it's okay.. bisa dihandle sama Mba Nur" jawab Izza sambil menyibak selimut kemudian masuk kedalamnya.


"Udah mau tidur?" tanya Rama yang sedang duduk di sofa.


"Belum ngantuk sih, paling nonton TV atau film kali ya biar ngantuk" jawab Izza.


"Kita bisa dikatakan sudah menempuh hidup yang baru, semoga sebulan sudah kita bersama, bisa mengubah cerita tentang terpaksa menerima pinangan Kakak yang dulu" buka Rama.


"Kayanya ada yang mau Kakak bicarakan ya? sesuatu yang serius?" tanya Izza kaget sama perkataan yang Rama ucapkan.


Izza tau persis bagaimana tabiatnya Rama, jika dia sudah banyak diam dan gaya bicaranya serius, artinya Rama memendam bom waktu dan sudah saatnya meledak.


"Sangat serius ... De... sehubungan dengan hal itu .. menempuh hidup yang baru bukan berarti kita melupakan masa lalu kan? Memang Kakak minta kamu lupakan, tapi masalahnya semua ini berhubungan dengan masa lalu. Hal pertama yang mau Kakak ucapkan.. mohon maaf atas semua hal yang sudah Kakak lakukan, Kakak ucapkan atau sesuatu yang berhubungan dengan sikap Kakak dan tidak bisa kamu terima" ucap Rama dengan tulus.


"Kenapa sih Kak... kok aneh banget .. seorang Rama meminta maaf? wow sekali" tanya Izza takjub ga percaya.


"Seperti yang kamu bilang berkali-kali, sesekali harus menghargai orang lain kan?. Bukannya kamu juga protes kalo Kakak bersikap arogan, sombong, diktator dan sebagainya?" ujar Rama.


"Iya .. tapi ada apa sih sebenarnya? kok obrolannya jadi terkesan mencekam begini?" selidik Izza.


"Mau ga maafin Kakak?" tanya Rama lagi.


"Iya" jawab Izza.


"Ikhlas ga?" kata Rama meyakinkan.


"Ga usah basa-basi deh, to the point aja mau apa? mau mengambil haknya malam ini?" tanya Izza blak-blakan.


"Sebagai lelaki normal, jawabannya pasti akan Kakak tunaikan sesegera mungkin, tapi biarlah semua yang mengganjal clear dulu. Kamu berhak menentukan kedepannya mau bagaimana. Biarlah kita melakukan hubungan suami istri atas dasar kerelaan dan penuh cinta kasih" jawab Rama mantap.


"Ya udah... lakukan aja... monggo ...toh permintaan saya sudah Kakak tunaikan, menikah secara resmi. Tunggu apa lagi?" tantang Izza.


"Sebelumnya.. banyak hal yang akan Kakak ungkapkan dulu. Kakak ga akan mengintervensi apapun penerimaan kamu terhadap apa yang akan kita bicarakan. Mau marah, ga terima, kecewa atau apapun itu... pesan Kakak cuma satu, De... apapun yang terjadi kedepannya.. kamu punya seorang Rama yang akan berada digarda terdepan untuk melindungi kamu. Kakak mencoba mencari kalimat terbaik, tapi kalo pada akhirnya kalimat itu menyinggung... Kakak mohon maaf" tukas Rama.


Izza mendekati tempat Rama duduk karena rasa penasarannya sudah diubun-ubun. Rama berjalan mengambil kopernya dan mengeluarkan file dalam map plastik transparan, kemudian mengambil laptopnya. Semua barang yang diambil sama Rama, dia letakkan diatas meja.


Rama kembali duduk di sofa, persis disamping Izza yang sudah duduk menghadap kearah Rama.


"Pertama... Mba Gita adalah saudara tiri kamu.. Bapaknya adalah Bapak yang kamu kenal selama ini sebagai Bapak kamu" ungkap Rama dengan tegas dan jelas.


Jelas saja Izza kaget, bak petir disiang bolong, syaraf-syaraf otaknya secara cepat bekerja memberikan pesan untuk segera berpikir mengolah informasi.


"Secara kasar .. Kamu adalah anak dari pelakor, seorang wanita yang memporak-porandakan keluarga Mba Gita hingga Ibunya Mba Gita bunuh diri" jelas Rama dengan gamblang.


Makin Izza bengong, ga tau harus berkata apa lagi. Hanya satu yang bisa dilakukan saat ini, menangis.


Rama memegang tangannya Izza yang sudah bergetar dan sangat dingin.


"Sss.. sa... saya..." ucap Izza terbata-bata dengan nada yang getir.


Rama memutar rekaman saat bicara sama Mba Gita ketika awal masuk Kantor Polisi. Rekaman tersebut sudah dia pindahkan ke laptopnya.


Semua hal yang ditutup rapat oleh Mba Gita dan Rama akhirnya didengar oleh Izza. Rama sudah berusaha mendekap Izza, tapi Izza menolak. Dibiarkan Izza dengan segala rasa yang ingin dia tumpahkan.


Perkataan demi perkataan Mba Gita benar-benar menyayat hatinya, pertahanannya pun sudah jebol. Airmata sudah tidak bisa tertahan lagi.


Setelah rekaman suara itu selesai didengar, Rama menyodorkan tissue untuk Izza.


"Bahkan awalnya menikahimu, karena rasa dendam De.. begitu tau kamu adiknya Mba Gita, makinlah dendam itu harus kamu tanggung juga" ucap Rama jujur.


Mata Izza melihat kearah Rama, dengan wajah penuh air mata, dikumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ada.


"Jadi ... Kak Rama menikah hanya demi menuntaskan rasa dendam?" tanya Izza tambah kecewa.


Izza memang tidak terlalu cerdas dalam bidang akademik, tapi dia berotak encer untuk cepat mencerna maksud perkataan Rama.


"Terlalu kasar kalo dibilang membalas dendam, kamu juga jangan lupa ... Bapak kamu juga pernah menjadi pengkhianat di Perusahaan Papi. Rupanya sejarah berulang, Bapaknya membawa kabur uang proyek dan anaknya korupsi uang Perusahaan.. ya Mba Gita. Saat itu, Kakak berpikir kalo kamu juga menikmati juga ... ya... kamu menikmati hasil rampokan Bapak dan Kakak kamu" ucap Rama dengan segala emosi yang coba dia tahan.


"Kenapa harus menikahi saya? Kenapa ga Kakak terlantarkan saya gitu aja, ga usah peduli masa depan saya, bahkan ga usah kenal sama saya. Kakak ga akan terpuaskan dendamnya oleh seorang Izza bukan? Saya ga seberharga itu Kak. Bahkan jika saya harus terbunuh ditangan Kak Rama sekalipun, ga akan bisa melenyapkan sakit hati Kak Rama kan?" tanya Izza makin mellow.


"De.. bahkan pernah punya niat, untuk menjadikan kamu sebagai boneka Kakak. Dalam dunia bisnis dan kehidupan pastinya. Terserah kamu mau bilang Kakak gila atau apapun" kata Rama.


"Ga nyangka ya.. orang yang ibadahnya saya nilai bagus ternyata seorang yang pendendam. Lelaki yang begitu penuh cinta terhadap anak-anak bisa berpikir sekotor itu" ujar Izza mulai terpancing emosi.


"De.. Big Boss.. banyak menghancurkan hidup keluarga Kakak.. " lanjut Rama mengeluarkan segala yang terpendam.


"Big Boss? siapa? apa hubungannya sama saya?" Izza mulai teriak histeris.


Rama mencoba mendekati Izza tapi ditepis.


"Kakak jahat ... Kakak jahat..." kata Izza berlari menuju tempat tidur dan menangis, mulutnya dia tutup dengan bantal agar tidak ada orang yang mendengar.


Suasana hening sejenak.


"Terus kamu mau kabur dari saya?" tanya Rama sambil mendekati Izza yang makin menjauh dari Rama.


Izza membalikkan tubuhnya menghadap Rama.


"Kakak emang ga punya perasaan, dendam membuat Kakak buta. Kakak mengarahkan segala dendam ke saya. Apa salah saya Kak?" Izza menghapus air matanya, kembali mengumpulkan puing-puing kekuatan untuk melampirkan kekecewaannya terhadap Rama.


Rama menyodorkan tissue ke Izza, Izza malah menepisnya.


Bayangan pernikahan yang bisa membawanya menuju syurganya Allah telah lenyap seketika. Malam ini Izza merasa Allah tidak adil padanya. Siang malam ia berdo'a buat keselamatan dunia akhirat, tapi baru sampe dunia aja sudah kacau balau begini. Dia hanya ga menyangka Rama bak singa kelaparan yang siap merobek tiap bagian yang ada pada tubuhnya.


Rama memutuskan untuk berhenti bicara. Dia menuju kulkas, mengambil botol air mineral. Kemudian memasak air diteko listrik, membuka bungkus minuman coklat sachet. Setelah air mendidih, dia tuang perlahan kemudian diaduk.


Dibawanya secangkir coklat hangat untuk Izza. Rama meletakkan di meja sebelah tempat tidur. Izza hanya melihat pergerakan Rama tanpa bicara.


Rama kembali duduk di sofa. Menunggu reaksi Izza selanjutnya.


Rama tidak tega melihat Izza menangis penuh kekecewaan. Tapi sudah keputusannya untuk membuka semua.


Setelah satu jam menumpahkan segala rasa dalam hatinya, Izza masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya kemudian kembali ke tempat tidur, tidak lupa dia meminum coklat yang sudah dibuatkan oleh Rama. Memang sudah dingin, tapi dia merasa haus.


"Siapa Big Boss?" tanya Izza.


"Ga tau.. tapi yang Kakak tau, orang ini sangat mencintai kamu bahkan terobsesi" jawab Rama.


"Bagaimana Kak Rama tau orang itu terobsesi sama saya?" buru Izza.


"Alex" jawab Rama singkat.


"Temannya" kata Rama.


"Bodoh sekali orang-orang suruhan Kakak... ga ada bukti bisa bilang dia terobsesi sama saya? apa yang bisa Kakak tunjukkan kalo dengan menikahi saya, Kakak akan tau siapa dia?" ujar Izza.


"Hadiah yang selama ini diperuntukkan buat kamu, itu semua dari dia" tukas Rama.


"Sekarang.. jika Izza bisa membuat dia datang didepan Kakak.. apa yang akan Kakak lakukan?" desak Izza.


"Menangkap.. karena Kakak sudah bekerjasama dengan Mba Rani untuk masalah ini" jawab Rama lagi.


"Apa dengan dia ditangkap, semua dendam Kakak akan tuntas?" ujar Izza.


"De... sekarang Kakak ga mau peduli lagi dengan semua dendam. Sebulan kebersamaan kita, membuat semuanya terlupakan. Apalagi sejak pertama kali mencium bibirmu... saat itu Kakak sadar kalo kamu lebih berharga dari dendam itu. Toh kamu tidak terlibat sama sekali dengan masa lalu" jawab Rama.


"Kenapa kemarin saat ijab kabul, Kakak menyebutkan nama Ibu sebagai bintinya, kenapa bukan nama Bapak?" akhirnya Izza tiba-tiba baru ingat.


"Masih sanggup mendengar cerita Kakak?" tanya Rama.


"Lebih parah?" kata Izza.


"Kakak yang kesana atau kamu yang duduk disini?" tanya Rama.


"Kakak yang kesini.. udah lemes" ucap Izza yang menyender dikepala ranjang.


Rama membawa file dalam amplop plastik transparan, yang belum dibuka. Kemudian duduk disebelahnya Izza.


Rama memberikan amplop plastik transparan tersebut ke Izza. Izza membukanya. Tambah kagetlah dia.


"Kakak punya foto Ibu dari mana?" tanya Izza heran.


"Dari Alex. Dua mingguan yang lalu, Alex merapihkan gudang di rumahnya, rumahnya selama ini jadi markas para anak buahnya tinggal. Rencananya setelah menikah, jika Mba Nur ga mau tinggal di rumah kita ya mereka akan tinggal disana. Alex menemukan banyak foto-foto didalam kotak. Tipe Ibunya Alex selalu kasih tulisan dibelakang foto... baca aja. Karena namanya mirip sama nama orang tua kamu, akhirnya foto ini diserahkan ke Kakak dulu, Alex tadinya mau konfirmasi langsung ke kamu apa benar ini orang tua kamu, tapi dia bingung gimana cara tanyanya" jelas Rama.


"Iya... ini Ibu" kata Izza membenarkan.


"Kamu ingat kan kalo Kakak mati-matian ga mau kamu nyari keluarganya Ibu yang katanya ada di Kalimantan?" tanya Rama.


Izza mengangguk.


"Karena ini yang membuat Kakak ga tega De. Kakak ga mau kamu tambah terluka. Alex punya Om yang masih hidup, Kakak bertemu sama beliau seminggu yang lalu. Ada rekamannya juga. Sebentar Kakak ambilkan laptop" kata Rama sambil beranjak menuju meja dan mengambil laptopnya.


Diputar video yang berisi pembicaraan Rama dan Omnya Alex.


"Andhika (nama Ibunya Izza) itu mah teman akrab Ibunya Alex. Profesi mereka pun sama, tapi nasib agak beda dikit. Andhika ini punya nama nge-hits dikalangan pelanggannya, Didie, katanya lebih manja begitu panggilannya" buka Omnya Alex.


Izza baru tau kenapa Ibunya dipanggil dengan nama ini, sempat dia bertanya tapi Ibunya bilang agar lebih mudah diucapkan.


"Didie ini sering dipakai sama Boss, diajak liburan seminggu, ya cuma di Indonesia sih mainnya. Hidup bergelimang harta banget, kan Om pernah jadi ojeg pribadinya. Para Boss kan kadang minta ketemunya di Hotel atau Apartemen, nah Om yang antar. Begitu udah punya mobil, Om juga yang nyupirin. Bahkan suka jemput para Boss juga menuju Hotel atau Apartemen tempat mereka janjian, ya kan kalo Boss pake supir pribadinya, bisa aja bocor ke istrinya, bisa ketahuan selingkuhlah. Entah gimana, Didie malah jatuh cinta sama anak buah Bossnya. Ditambah sejak kena obat-obatan terlarang, makin aneh hidupnya. Dari punya rumah dan mobil serta perhiasan, jadi ludes. Terus tau-tau hamil, ga tau anaknya siapa" papar Omnya Alex.


Tampak dalam video, Rama mendengarkan dengan seksama.


"Yang Om tau, mereka ga pernah nikah, cuma hidup bareng gitu" ucap Omnya Alex.


"Cerita Om bisa dipertanggungjawabkan nih? ada orang lain yang tau lagi kalo Ibu Didie memang seperti yang Om infokan?" tanya Rama.


"Ada, istrinya Om dan masih ada tetangga sekitar rumah Alex juga banyak yang tau kok kalo Didie ini wanita panggilan" ujar Omnya Alex yakin.


"Bisa saya bicara via telepon dengan istrinya Om?" tanya Rama.


"Bisa... sebentar.." jawab Omnya Alex sambil memencet layar HP nya.


Terdengar pembicaraan dengan istrinya Om Alex yang membenarkan ceritanya Omnya Alex.


Izza kembali menangis mendapatkan kenyataan seperti ini.


"Mantan Maminya (sebutan untuk Bossnya para wanita panggilan), juga masih hidup kok, meskipun udah tua tapi daya ingatnya masih bagus. Kita lanjut ke Didie lagi ya .. begitu Didie hamil, mereka sering pindah kontrakan, kan selama hamil ga ada panggilan, hidup ya bergantung dari lelaki itu.. Aldi namanya. Habis melahirkan kembali hubungin saya untuk jadi ojeg pribadinya lagi. Mulai lagi jadi wanita panggilan, tapi udah turun level pelanggannya. Mainnya ditempat yang ecek-ecek deh, anaknya diurus sama tetangga. Beberapa tahun kemudian sih bilangnya insyaf, terus masih juga pindah-pindah tempat tinggal, alasannya males sama kekepoan para tetangga. Hingga akhirnya Didie ketemu lagi sama Big Boss kaya raya, kembali hidupnya mewah, tapi ternyata itu Bossnya Aldi, Boss pengedar barang haramlah. Sama Big Boss itu, dia disewakan apartemen yang mewah di Jakarta Selatan, kemudian hamil lagi, kayanya sih sama Big Boss hamilnya, kan sejak sama Big Boss.. Didie ga pernah terima orderan dari yang lain. Big Bossnya itu kayanya juga punya kelainan, justru hobi banget main sama wanita hamil, kan baru menjelang lahiran, Didie keluar dari Apartemen. Habis lahiran, Big Boss udah punya cewe lain yang lebih cantik dan segar, jadi Didie dihempaskan" lanjut Omnya Alex.


"Om tau nama anak keduanya Ibu Didie?" tanya Rama.


"Tau.. kan seminggu setelah lahiran tinggal di rumah Ibunya Alex, tapi Aldi ga ikut tinggal disana. Ya selama beberapa bulan deh tinggal disana terus dijemput Aldi dan kembali menghilang entah kemana. Kami ga pernah ketemu lagi hingga hari ini. Nama anaknya Fayza tapi dipanggil Izza" jelas Omnya Alex.


Kembali Izza bergetar, Rama menghentikan video tersebut dan memindahkan laptopnya ke meja samping tempat tidur. Foto-foto yang ada dalam genggaman Izza langsung diambil oleh Rama.


Rama meminta Izza untuk merebahkan tubuhnya kemudian diselimuti. Rasanya air mata Izza sudah mengering, hanya bisa bengong dengan pandangan kosong.


"De... kamu punya Kakak.. jangan khawatir" ucap Rama sambil memeluknya.


Tubuh Izza masih bergetar dan ga bergerak, sama sekali tidak merespon pelukannya Rama.


"De... kamu sehat? mau ke dokter?" tawar Rama.


Izza tersadar dan melihat wajahnya Rama kemudian memeluk erat Rama.


"Pelukannya selalu hangat, dia yang selalu berhasil membuatku tenang. Ya Allah.. terima kasih sudah mengirimkan dia untukku..." kata Izza dalam hatinya.


Rama membalas erat pelukannya Izza sambil berkali-kali mencium keningnya Izza.


"Itulah kenapa Kakak ga mau kamu tau masa lalu orang tua De...maafin Kakak yang ga kasih tau kamu lebih awal" bisik Rama.


Izza masih mendekap erat Rama.


"Jadi itu alasan Kakak menyebut Izza berbinti Andhika saat kemarin akad?" tanya Izza.


"Iya... Kakak sudah konsultasi ke Abah Ikin. Untunglah nama Ibu itu Andhika.. mirip nama laki-laki, jadi orang ga curiga. Kakak sudah menghadap ke Kepala KUA sebelumnya dan memang lebih sah ditulis binti Ibu, karena nasabnya ke Ibu. Maaf ya karena Bapak ga jelas yang mana dan apakah menikah sama Bapak Aldi juga ga bisa dibuktikan" kata Rama.


Izza memberanikan diri menatap Rama. Jarak keduanya sangat dekat, hanya terpisah sejengkal tangan orang dewasa.


"Tapi ada KK dan Akte Kak.. ada kok pas daftar sekolah SMP" ujar Izza.


"Pengacara Kakak sudah mengambil data dari SD, SMP dan SMA tempat kamu sekolah dulu untuk mendapatkan informasi untuk mengurus legalitas kamu. Sekolah hanya disebutkan nama orang tua, bukti fotocopy akte dan KK tidak tersimpan dengan rapih. Mungkin sudah dibuang. Dari surat keterangan sekolah, saat kamu terdaftar disana, yang menjadi landasan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil mengeluarkan keterangan nama orang tua dan identitas kamu lainnya" jelas Rama.


"Sampai seperti itu Kakak mengurus surat kependudukan saya?" tanya Izza.


"Kakak rasa ini naluri karena keinginan Mami, selain itu sudah terlanjur nyaman bersama kamu, inilah alasan untuk segera meresmikan pernikahan kita" jawab Rama.


"Kakak ga jijik setelah tau siapa mertua Kakak?" tanya Izza pelan.


"Kita ga bisa merubah masa lalu kan De.. sekarang lebih baik kamu sakit karena kejujuran daripada kamu bahagia diatas kebohongan" kata Rama.


"Apa Kakak sudah jatuh cinta sama Izza?" tanya Izza.


"Ya ... cinta itu hadir saat Kakak menciummu pertama kali. Disaat itulah Kakak ga bisa jauh dari kamu, ingat kan saat itu Kakak mandi berkali-kali, ya karena rangsangan itu sudah ada. Padahal kita udah tidur bersama selama sebulan lamanya, tidak ada gejolak itu awalnya. Malah Kakak sempat bertanya apa masih normal? masa sekamar sama wanita tapi ga ada hawa nafsu untuk menyentuh kamu. Tapi Kakak bersyukur, Allah melindungi Kakak saat itu, kan saat ijab kabul pertama kamu berbinti Bapak. Allah punya rencana indah bukan?" ucap Rama.


"Makasih sudah mencintai saya dengan segala kekelaman..." ujar Izza yang langsung terhenti bicara.


Rupanya bibirnya sudah berpagut sama bibir Rama. Rama sudah tidak tahan untuk tidak melakukannya.


Cukup lama keduanya saling berpagut, tangan Izza sudah membelai rambut pipinya Rama.


Merasa lebih tertantang, Rama mulai turun mencium lehernya Izza. Konon katanya, yang pernah merasakan dicium bagian leher, rasanya hampir luar biasa indah, karena leher adalah salah zona sensitif. Ciuman leher, bisa membuat dua pihak menjadi lebih panas dan gila karena kehilangan kendali atas diri sendiri.


Sekarang posisi Izza sudah telentang, jari jemarinya menyatu dengan jari jemari Rama, tubuh Rama pun ada diatas tubuhnya.


Melakukan hal ini bisa berarti pasangan sangat mencintai tubuh pasangannya dan ingin mencium setiap inci tubuh pasangannya tersebut.


Izza sudah merinding dan rambut diseluruh tubuhnya rasanya naik selama Rama melakukan ciuman di leher.


Rama menghentikan aktivitasnya kemudian melihat wajah Izza. Keduanya saling memandang dalam kesunyian malam.


"Ku tlah jatuh padamu De... tempat dimana kutemukan miniatur surga.." ucap Rama.


"Kak... Izza pernah kehilangan separuh hati ini karena kehilangan orang-orang tercinta, tapi Kakak hadir menawarkan hati yang utuh untuk Izza. Bagaimana bisa menolak pelukan Kakak yang selalu berhasil membuat tenang dan sangat hangat. Dan ternyata .. Izza kecanduan Kakak" bisik Izza yang kembali berhasil membuat Rama makin menghujaninya dengan ciuman kembali.