
Mas Haidar dan Pak Isam hari ini menghadiri sidang putusan mengenai status Sachi dan dirinya. Rama pun turut hadir memberikan dukungan kepada kakaknya. Setelah persidangan selesai, Rama dan Pak Isam lanjut meeting dengan perusahaan milik teman lamanya Pak Isam. Mas Haidar langsung pulang ke rumah.
.
Berdasarkan putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012 yang merevisi Pasal 43 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang berbunyi :
Anak yang dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.
Anak luar kawin yang dapat diakui adalah berdasarkan Pasal 272 B.W, yakni :
Anak luar nikah yang dapat diakui adalah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu tetapi yang tidak dibenihkan oleh seorang pria yang berada dalam ikatan perkawinan sah dengan ibu. Oleh karena itu, apabila didasarkan pada Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, anak luar kawin berhak mendapatkan bagian waris dari ayahnya apabila ada pengakuan dari ayahnya atau ada bukti yang sah berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi bahwa ia benar anak kandung dari sang ayah sedangkan anak luar kawin berhak mendapatkan waris dari ibunya tanpa perlu pengakuan dari ibunya.
Sidang permintaan Mas Haidar dikabulkan oleh pengadilan. Sachi sekarang berstatus sebagai anaknya Mas Haidar secara hukum. Mengenai berkas-berkasnya Sachi akan diurus setelah salinan putusan pengadilan diterima oleh Mas Haidar.
🌺
Alex yang menjadi supirnya Rama dan Pak Isam hari ini, Mang Ujang sedang ditraining oleh pihak HRD untuk memahami job description yang harus dia kerjakan menjadi koordinator supir di Audah Hotel.
"Ribet amat ya jadi koordinator, bagaimana kalo saya jadi supirnya Pak Rama saja, ga perlu jadi koordinator juga gapapa" kata Mang Ujang dengan bahasa yang tidak formal ke pihak HRD.
"Tapi Pak Rama yang menunjuk langsung Pak Ujang, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Pak Ujang keberatan, bisa langsung bilang ke Pak Rama" jawab pihak HRD.
"Adanya saya kena omel Pak Rama tiap minta dicopot jabatan dari koordinator supir" ucap Mang Ujang.
"Saya pernah berbincang dengan Pak Rama, beliau ingin Pak Ujang ada kenaikan skill sehingga tidak berada di zona nyaman terus. Ini juga untuk kemajuan Pak Ujang juga kan?" ujar pihak HRD.
"Saya mah ga usah naik skill Pak.. butuhnya naik gaji" jawab Mang Ujang.
"Dengan menjadi koordinator supir kan Pak Ujang sudah diberikan kenaikan gaji serta tunjangan" kata pihak HRD.
"Jadinya hari ini saya mau diajarin apa Pak?" tanya Mang Ujang.
"Saya paparkan dulu dari awal ya Pak Ujang, sebenarnya ini sudah tercantum disurat perjanjian kerja yang baru, sudah dijelaskan pula saat pembahasan sebelum tanda tangan perjanjian kerja, mungkin Pak Ujang ada yang lupa dibaca. Sebagai seorang koordinator driver, Pak Ujang diberikan tanggung jawab untuk memecahkan permasalahan dan mengkoordinasikan tim driver. Dengan adanya koordinator driver maka akan memudahkan jalannya delegasi dan pembagian tugas. Tugasnya sebagai kontrol unit, yaitu melakukan pengaturan driver yang bertugas harian dengan cara memperhatikan efisiensi armada yang tersedia, kemudian pengontrolan dan koordinasi dengan driver dan mengatur waktu pelaksanaan pengecekan fisik serta surat-surat kendaraan sampai membuat perencanaan, pelaksanaan dan laporan checklist armada disetiap bulannya. Ada juga sebagai kontrol tim, yaitu membuat perencanaan, mengontrol tim menjalankan tugasnya, membuat jadwal kerja serta kelengkapan SIM para driver. Yang selanjutnya sebagai kontrol administrasi, yaitu membuat dan menyerahkan laporan disetiap harinya secara lengkap. Yang terakhir sebagai kontrol komunikasi, yaitu melakukan kontrol peralatan komunikasi driver seperti HT, HP dan lainnya" papar pihak HRD.
Mang Ujang pusing mendengarkan paparan pihak HRD yang bahasanya menurut dia itu sangat susah dipahami.
"Begini saja Pak, sekarang yang tadi Bapak ucapkan, dicetak terus saya baca nanti. Bingung saya mau catat yang mana aja" putus Mang Ujang.
"Baik .. nanti kami berikan kembali salinan job description Pak Ujang" jawab pihak HRD.
🏵️
Mas Haidar pulang ke rumah dan mendapati Sachi sedang bermain sepeda di taman depan, diawasi oleh Izza dan Mba Nur.
"Papaaa... " panggil Sachi sambil mengayuh sepedanya.
"Sachi... kok ga cium tangan sama Papa" ingat Izza.
Sachi mengarahkan sepedanya mendekati Mas Haidar kemudian mencium tangan Haidar.
Mas Haidar malah memeluknya dengan wajah sedih. Mba Nur dan Izza saling berpandangan karena tidak tau kenapa Mas Haidar seperti itu.
"Papa... lepasin Sachi dong... Sachi kan mau main sepeda" pinta Sachi.
Mas Haidar melepaskan pelukannya, Sachi kembali bermain sepeda.
Mba Nur bangun dari kursi taman karena melihat Mas Haidar sepertinya akan duduk disampingnya Izza.
Izza sebenarnya udah gatal mulutnya buat bertanya, tapi dia mencoba menahan. Izza sempat ada pemikiran apa ada hubungannya dengan keputusan sidang. Tumben Rama tidak memberitahukan hasilnya seperti apa, sehingga sedari tadi ada perasaan dag dig dug menyergap.
"Bahkan Sachi aja hanya menganggap Mas cuma pelengkap keluarga, bukan bagian penting dalam hidupnya" buka Mas Haidar.
Izza mencoba menjadi pendengar yang baik, jadi dia tidak komentar apapun.
"Tiap liat Rama pulang ke rumah, pasti dia berlari sambil memeluk dan mencium Rama. Keduanya tampak bahagia, becanda dengan mesranya.. Mas ngiri kalo melihat hal itu" lanjut Mas Haidar.
"Mas Haidar mau minum?" tawar Izza.
Di meja taman sudah tersedia satu teko teh hangat dan combro serta misro. Izza menuangkan teh kedalam cangkir yang tersedia. Kemudian menyodorkan secangkir teh hangat ke Mas Haidar.
"Makasih" kata Mas Haidar sambil mengambil cangkir tersebut.
Mas Haidar dan Izza melihat kearah Sachi yang tertawa bahagia sudah bisa memakai sepeda roda dua.
"Permohonan Mas diterima sama pengadilan" ucap Mas Haidar dengan suara bergetar.
"Alhamdulillah.." jawab Izza lega.
"Tapi Mas cuma Ayah diatas kertas, dalam pikiran dan hati Sachi hanya Ramalah Ayahnya" ungkap Mas Haidar.
"Maaf ya Mas.. bukan mau menyalahkan atau sok tau, kita harus memahami kondisi masa lalu seperti apa. Kan saat itu yang hadir untuk Sachi hanya Kak Rama. Kita ga bisa menutup mata jika ikatan batin keduanya lebih kuat dibandingkan dengan Mas Haidar. Bukankah perjuangan Mas Haidar akan dimulai dari sekarang? setelah putusan ini, semua yang berkaitan dengan Sachi akan membawa nama Mas Haidar, bukan nama Kak Rama lagi. Beranjak nanti Sachi dewasa pun, Mas Haidar akan kembali berjuang menjelaskan semuanya. Pasti saat itu akan tiba kan? jadi Mas Haidar harus mempersiapkan dari sekarang, semoga Sachi bisa memahami dengan pikiran yang terbuka tentang situasi saat itu dan perjuangan Mas Haidar kali ini" papar Izza.
"Iya.. saya ga menyalahkan Rama kok, malah harusnya berterima kasih sama dia. Mas cuma rada baper aja, tiap Mas pulang kerja, tanggapan Sachi biasa saja. Hati rasanya ingin berteriak menjelaskan kalo saya ini Papanya, tapi bibir tak mampu mengucap. Sekeras apapun mencoba mendekati Sachi, selalu hasilnya beda. Tiap tidur sama Mas, pasti dia malah asyik bercerita tentang Ayahnya" adu Mas Haidar.
"Menurut Izza .. apa sih yang bisa diharapkan dari anak seusia Sachi.. mengerti situasi? memaksa dia untuk lebih perhatian sama kita? ga bisa begitu Mas. Anak seusianya ya baru memakai hatinya untuk dekat atau tidak dengan orang lain. Bukan berarti Mas ga sayang dan cinta ya sama Sachi, tapi semua butuh waktu dan proses. Nikmati dulu step-stepnya. Sekarang yang Izza lihat, Sachi semakin dekat kok sama Mas Haidar, malah sama Kak Rama mulai berjarak. Mungkin karena memang Kak Rama sibuk jadi hanya ketemu di pagi hari saat sarapan. Weekend juga jarang ketemu karena Kak Rama banyak keluar rumah juga" kata Izza mencoba menenangkan hatinya Mas Haidar.
"Saya juga sudah tidak bersama Rani lagi" curhat Mas Haidar.
Izza kaget dan bengong melihat kearah Mas Haidar.
"Ini sudah jalan terbaik menurut kami, sekarang tinggal bilang ke orang tua saja kalo kami sepakat mengakhiri hubungan ini" lanjut Mas Haidar.
"Bukannya semua sudah akan disiapkan Mas? sudah melamar dan akan memulai tahapan secara administrasi di kantornya Mba Rani?" tanya Izza.
"Kami berdua sama-sama sibuk dan besar kemungkinan Rani akan dipindah tugaskan ke beberapa wilayah, sulit juga mengatur semuanya. Saya punya bisnis disini, ga mungkin saya tinggal untuk mengikuti kemana dia dinas. Lagipula rasanya ga adil ya.. Mas duda anak satu dan dia masih single belum pernah menikah" jelas Mas Haidar.
"Tapi kan Mba Rani ga mempermasalahkan hal ini dari awal Mas" ujar Izza.
"Sudah keputusan kami seperti ini Za" tutup Mas Haidar.
💠
🌺
Mba Anindya sedang dirawat inap di Rumah Sakit setelah menghadiri sidang pertama Papanya. Mamanya sedang menenangkan diri di Bali setelah pengajuan cerainya masuk ke pengadilan agama.
Saat banyak teman dan handai taulan menjauh dari Mba Anindya, hanya Rama yang mendekat dan selalu memberikan supportnya.
Hal ini yang menjadi pemicu bibit keributan kecil diantara Rama dan Izza.
Rama baru pulang ke rumah jam satu malam, rupanya dari siang hingga sore menjaga Mba Anindya di Rumah Sakit, Mang Ujang ikut menemani di kamar tersebut agar ga hanya berduaan saja. Akibatnya, semua jadwal meeting Rama diundur waktunya hingga malam hari. Meskipun membawa pekerjaan di Rumah Sakit, tetap saja tidak bisa fokus seratus persen kerjanya.
Pelan-pelan Rama berjalan agar tidak menggangu Izza yang sedang tidur. Setelah mandi, Rama merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Baru pulang Kak?" sapa Izza sambil membalikkan tubuhnya kearah Rama.
"Iya..." jawab Rama sambil menonaktifkan HP nya.
"Jaga Mba Anin lagi?" tanya Izza.
"Iya.. kan tadi Kakak sudah cerita tentang kondisi Mba Anindya yang menurun. Ngobrolnya lanjut nanti ya, ngantuk berat nih. Pagi ini ada jadwal meeting, jadi perlu rehat sejenak" jawab Rama.
"Kalo sama istri ga ada waktu, untuk wanita lain ada waktu, malah diada-adain" oceh Izza.
"Ngomong apa sih De?" tanya Rama terpancing emosi.
"Kok jadi marah, ada juga Izza yang harusnya marah. Sudah dua minggu pulang diatas jam dua belas. Weekend juga sibuknya ke Rumah Sakit. Ga pernah makan malam di rumah" lanjut Izza.
Biasanya memang orang jika sudah lelah akan mudah terpancing emosi jika ada sesuatu yang ga enak didengar.
"Kan udah bilang dari awal De.. kenapa harus dibawa ribut sih, kayanya bosan juga ya tiap pulang kamunya ngomel-ngomel terus" kata Rama.
"Istri mana yang ga ngomel kalo suaminya malah kasih perhatian lebih ke wanita lain? udah gitu yang Kakak perhatikan itu adalah anak dari lelaki yang hampir mencelakakan Izza. Mba Anindya kan punya keluarga, kenapa harus Kakak?" ucap Izza makin kesal.
"Masih mau ngoceh ga jelas kaya gini?" tanya Rama balik.
"Tiap dibahas kan jadinya ribut, Kakak ga pernah mau bahas sampai selesai, makanya ga pernah ada solusi" oceh Izza lagi.
"Solusinya cuma satu, diam. Kakak tau apa yang Kakak lakukan, jadi ga usah kebanyakan ngatur" ucap Rama sambil mengambil bantal dan gulingnya kemudian pindah tidur di sofa.
Baru malam ini Rama pindah tidur di sofa, malam-malam sebelumnya dia memilih untuk tidur jika Izza protes.
🏵️
Pagi harinya, semua sedang sarapan kecuali Rama yang masih di kamar, Sachi hari ini libur sekolah karena akan ada acara di sekolahnya untuk tingkat SD.
"Za... Rama kayanya pulang malam mulu ya belakangan ini" kata Mas Haidar.
"Bukan malam lagi Mas ... sudah dinihari" jawab Izza agak sewot.
"Mungkin lagi banyak kerjaan kali" bela Pak Isam yang tau sepertinya Izza sedang marah.
"Mungkin Pi .. kan kerja di tiga tempat.. Abrisam Group, Audah Hotel dan ditempatnya Mba Anindya" jawab Izza dengan nada makin ga enak.
Pak Isam paham situasi ga memungkinkan untuk berbincang, makanya Pak Isam memilih diam. Tapi Mas Haidar malah melanjutkan perbincangan.
"Tapi Mas perhatiin juga udah ga semesra dulu tuh, kalian baik-baik aja kan Za?" tanya Mas Haidar penasaran.
"Alhamdulillah baik Mas" jawab Izza.
"Tapi kok feeling Mas tuh kayanya gimana gitu, dia jadi makin diam sama keluarga. Apalagi kan ya Alex dan Nur akan menikah biasanya dia paling antusias nyiapin segalanya. Kan dua orang itu menikah juga hasil perjodohannya juga" ucap Mas Haidar.
Pak Isam sudah memberi kode ke Mas Haidar untuk mengalihkan pembicaraan ke yang lain saja, tapi rupanya Mas Haidar tidak melihat kode yang Pak Isam berikan.
"Maaf ya kalo jadi ga nyaman buat keluarga disini, mungkin Kak Ramanya cape kali jadi banyak diam. Sampai rumah juga langsung tidur" Izza berusaha menutupi keributan mereka.
"Sudahlah Mas.. setiap orang kan punya masalahnya masing-masing, mungkin dia lagi belum mau berbagi cerita sama kita, kita hormati aja keputusan dia. Tapi Papi yakin kok dia bisa menghandle masalahnya sendiri. Sekarang dia juga punya Izza yang pastinya akan selalu siap menjadi kawan berbincang" tengah Pak Isam.
Rama turun dari tangga, sudah rapih dengan penampilannya yang menawan. Mang Ujang juga sudah siap didepan sambil mengelap mobilnya Rama. Dia sudah sarapan bareng istrinya dibelakang.
"Mau minum apa Kak?" tanya Izza.
"Dibawain aja ya sarapannya, saya buru-buru, udah kesiangan" pinta Rama.
Izza menuju dapur untuk mengambil kotak bekal untuk Rama dan menyiapkan semuanya.
"Sama istri jangan begitu Ram.. dia tuh dibawa ke rumah ini buat dijadikan ratu, bukan dijadikan babu" protes Mas Haidar.
"Betul itu .. Papi perhatikan kamu kalo minta sesuatu ke Izza seperti menyuruh bawahan" lanjut Pak Isam.
Izza datang menyerahkan bekal ke Rama. Rama langsung pamit ke Pak Isam dan Mas Haidar.
Izza mengantar Rama hingga teras depan.
"Berangkat dulu ya" pamit Rama.
Izza mencium tangannya Rama, Rama membalas dengan mencium keningnya Izza. Kemudian masuk kedalam mobil.
.
"Kayanya lagi ribut itu Pi" bisik Mas Haidar.
"Biasa itu mah dalam rumah tangga, selagi mereka ga minta bantuan kita ya ga usah ikut campur. Liat sendiri kan Izza masih melayani Rama dengan baik. Itu Rama pamitan juga masih cium keningnya Izza" ucap Pak Isam.
"Anin nih memang selalu jadi biang kerok setiap kejadian. Ramanya juga terlalu baik sih, jadi dimanfaatkan banget" ujar Mas Haidar.
"Daripada sibuk ngurusin adikmu.. mending cari pasangan baru deh. Ini sama Rani mau ke tahap lebih lanjut malah bubar jalan. Papi malah curiga kamunya yang banyak nuntut ke Rani" kata Pak Isam.
"Kan sudah dibilang kalo ini kesepakatan kami bersama. Kecintaannya terhadap bangsa ini terlalu besar Pi, jadi tidak bisa ketemu titik tengahnya. Mas kan sudah pernah gagal Pi.. jangan sampai gagal untuk kedua kalinya" jelas Mas Haidar.