
Rama dan Izza pamit ke Sachi untuk kerja keluar kota dan sudah dijelaskan kalo mereka ga akan hadir di sekolah saat Sachi tampil. Awalnya ngambek, tapi Izza berhasil membujuk Sachi. Mas Haidar pun ikut turun tangan memberikan penjelasan yang bisa diterima oleh otak anak kecil seperti Sachi.
Mang Ujang sedang memanaskan mobil dan mengelap bagian luar mobil. Rama memasukkan tas yang berisi baju kedalam mobil.
"Mas Boss beneran nih ga mau Mamang ikut?" tanya Mang Ujang meyakinkan.
"Ya beneran .. ini udah mau jalan berdua sama istri tercinta. Kan enak ga ada saya Mang, ga anterin kemana-mana. Jadi diam aja di Audah Hotel" jawab Rama yang masuk kedalam mobil.
"Jadi Mamang di Audah Hotel terus dong dari pagi sampai sore?" tanya Mang Ujang.
"Ya iyalah, kan punya jabatan disana.. hehehe" jawab Rama sambil memasang sabuk pengaman.
"HRD nya galak banget kalo di Audah Hotel, terus aja diliatin kalo belum paham bikin laporan ini itu. Itu pegawai baru dari mana sih Mas Boss? mantan keepernya singa kali ya" adu Mang Ujang.
"Bagus dong, saya bayar gajinya kan ga kecil, jadi harus itu memberikan effort kerja yang maksimal. Udah pengalaman di outsourcing Hotel selama sepuluh tahun, jadinya banyak yang dibenahi sama dia, saya liat juga semua karyawan mulai menunjukkan kinerja yang meningkat, karena memang sangat tegas untuk laporan pekerjaan ya" sahut Rama santai.
"Bilangin atuh Mas Boss.. jangan galak-galak sama Mamang. Secara Mamang ini kan karyawan emasnya Mas Boss" pinta Mang Ujang.
"Ga ada ya karyawan emas-emasan, semua sama. Malah saya mau bilang tambah galakin aja, biar cepet pinter. Nanti kalo udah bagus komunikasi dan administrasi, Mang Ujang ambil kuliah aja, D3 juga gapapa. Buat tambah pengetahuan dan wawasan" ujar Rama sambil memakai kacamata hitamnya.
Izza naik kedalam mobil dan memakai sabuk pengaman.
"Jalan dulu ya Mang Ujang.." pamit Izza.
"Iya Mba.. jangan lupa oleh-olehnya" sahut Mang Ujang.
"Emangnya saya mau jalan-jalan tamasya, segala minta oleh-oleh. Ini dalam rangka dinas tau" ingat Rama.
"Ya kan yang dinas Mas Boss, Mba Boss mah kebagian belanja-belanja.. ya ga Mba Boss?" ledek Mang Ujang.
"Tergantung nanti Mas Boss bolehin ga Mang, maklumlah.. dapat tugas banyak nih. Ya jadi sekretaris dadakan, jadi supir pribadi plus jadi istri pula" kata Izza.
"Emang punya Boss pinter banget otaknya, kan kalo istri enak ya.. bisa sekalian bulan madu dikit-dikit.. ya ga?" goda Mang Ujang.
"Masa bulan madu dikit-dikit sih Mang.. yang banyak-banyak lah" sahut Rama.
"Maksudnya dikit-dikit peluk... dikit-dikit cium .. dikit-dikit ngamar... hahaha" lanjut Mang Ujang.
"Ide bagus tuh" ucap Rama sambil ikut tertawa.
.
Dalam perjalanan menuju Cimahi.
"Kenapa Mba Farida ga diajak aja Kak? kan bisa ada yang bantu. Izza kan ga paham apa aja yang akan dikerjakan" tanya Izza.
"Pokoknya kamu catat aja yang penting-penting. Kalo Farida ikut pasti semuanya serba double ... kamar harus double, biaya perjalanan dinas pun double" jawab Rama.
"Kok bisa?" tanya Izza belum mudeng.
"Masa saya sekamar sama dia? terus kan ada biaya akomodasi lainnya, itu harus dua juga" kata Rama.
"Apa bedanya sama Izza? double juga kan biayanya" ucap Izza.
"Kalo kita kan bisa sekamar, bisa jadi sekretaris, bisa jadi tukang pijit plus-plus, bisa jadi driver, bisa manjain Kakak .. ya pokoknya paket komplit deh" ucap Rama.
"Sama juga pakai biaya Kantor" ujar Izza.
"Untuk hotel dan akomodasi iya, kan sharing kamar dan naik mobil berdua, bensin termasuk biaya akomodasi. Tapi untuk biaya makan diluar yang kita dapatkan dari Hotel ya biaya kamu Kakak yang tanggung. Nanti nota yang masuk dan diganti hanya yang Kakak makan saja" lanjut Rama.
"Sekarang kita ke Cimahi dulu?" tanya Izza.
"Iya .. malam ini janjian ketemu sama klien, semoga besok sudah ada solusi, jadi kita bisa langsung ke Subang. Nah kalo di Subang sekitar lima harian deh" jelas Rama.
"Kok lama Kak? banyak kerjaan disana?" tanya Izza.
"Ga juga sih, sama dua hari juga kerjanya, sisanya honeymoonlah, ada tempat baru yang katanya bagus, reviewnya juga diatas rata-rata. Udah dibooking" jawab Rama.
"Sweet escape nih ceritanya" ledek Izza.
"Tipis-tipislah.. sambil menyelam minum air" ucap Rama.
"Pantes aja minta Izza bawa lingerie.. ternyata oh ternyata" sahut Izza.
"Ini kan kita akan menghadapi klien yang komplen banyak tentang proyek, pasti tegang dong otak ini, butuh penyegaran setiap hari biar encer lagi buat mikir. Ya salah satu penyegaran plus ibadah ya sama istri. Sekalian juga kita usaha, mungkin di tempat baru ada hasilnya" kata Rama yang mengambil telapak tangannya Izza kemudian menciumnya.
Izza tersenyum dan membalas mencium pipinya Rama.
"Wow... jangan mulai De.. Kakak masih nyetir ini, sekitar tiga jam kan kita udah sampai ditujuan, bolehlah langsung di gas siang-siang juga gapapa, lumayan sampe sore ada waktu lengang" kata Rama dengan genitnya.
"Ya ga gitu juga kali. Emang ga cape abis nyetir?" sahut Izza.
"Nah ini yang masih jadi misteri, secapek-capeknya Kakak, kalo udah bermesraan kok rasanya langsung ilang ya. Plong aja gitu. Langsung bisa tidur nyenyak" ucap Rama.
"Itu mah bisa-bisaannya Kakak aja" ujar Izza.
"Bener De.. emang kamu ngga gitu?" tanya Rama.
"Yang ada malah jadi segar terus ga bisa tidur" ucap Izza.
💐
Pernikahan Alex dan Mba Nur akan dilaksanakan dua mingguan lagi, semua persiapan sudah mencapai hampir sembilan puluh persen. Mba Nur masih mengurus Sachi, nanti kurang seminggu baru pulang kampung lagi. Alex sendiri sedang ditugaskan Rama untuk mengawasi Abrisam Group, dia menjadi asistennya Mba Farida. Tujuannya agar tidak bertemu dulu sama Mba Nur, jadi nanti pas ketemu manglingi.
"Bang Alex.. jadi nikah?" tanya Mba Farida.
"Jadi Mba" jawab Alex.
"Keduluan dong nih saya" ujar Mba Farida.
"Mba memang belum ada rencana untuk menikah?" tanya Alex.
"Pacar saya masih maju mundur aja nih" kata Mba Farida.
"Hati-hati sama cowo yang kaya gitu Mba, kalo niat serius mah ga bakalan maju mundur" ucap Alex.
"Begitu ya Lex? keliatannya dia mah biasa-biasa aja, sibuk kerja terus soalnya. Mungkin belum siap secara materi juga kali, kan dia anak sulung, masih bantu adik-adiknya sekolah" papar Mba Farida.
"Syukurlah kalo membantu sekolah adik, asal jangan membantu adik-adikan aja" sahut Alex.
"Ah Bang Alex malah nakut-nakutin nih" ujar Mba Farida.
"Ya sekedar tanya kabar mah pasti, masalah ga jemput ya karena kan dia juga kerja di catering, tau sendiri kalo pas ada acara gimana" papar Mba Farida.
"Bukannya dia marketing ya Mba? kan sibuknya nyari klien, ga ikut pas hari H jadi petugas cateringnya kan? Mba minta jemput kan bukan artinya manja, tapi hampir kebanyakan wanita itu senang kalo dijemput pulang kerja" jelas Alex.
Mba Farida terdiam, dia sedang memikirkan bagaimana sikap pacarnya selama ini. Sebenarnya apa yang Alex omong ada benarnya juga. Pacarnya selalu beralasan sibuk kerja sampai ga punya waktu. Mereka biasanya ketemu sebulan sekali aja atau kalo ada acara penting. Melepas rindu via video call, itu pun durasinya sebentar.
🏵️
Urusan proyek di Cimahi selesai sesuai waktu yang Rama rencanakan, jadinya sudah bisa langsung bergerak ke Subang.
Saat perjalanan ke Subang, Rama mulai merasa lelah karena merevisi perjanjian yang akan disepakati ulang, jadinya dia minta Izza untuk gantian menyetir mobil.
Rama merebahkan kursinya.
"De... kayanya udah saatnya kita konsultasi lagi ke dokter obsgyn untuk proses bayi tabung" ajak Rama dengan nada yang diupayakan ga menyinggung perasaannya Izza.
"Kayanya udah malas deh Kak" kata Izza singkat.
"Boleh tau kenapa?" tanya Rama.
"Ehmm .. tau kan kalo habis konsultasi tuh dikasih obat ini itu, dikasih aturan ini itu. Kok rasanya hidup jadi tertekan. Memang Kakak udah resah karena kita belum lagi dikaruniai buah hati? toh sudah pernah ada juga kan meskipun keguguran" Izza menjawab.
"Ga sampai tingkat resah sih, tapi kayanya kalo punya anak diusia kita yang seperti ini pasti lebih fit, anak-anak nanti besar kita masih muda. Sachi juga udah sering kali tanya kapan dia punya adik seperti teman-temannya" ungkap Rama.
"Bisa dibahas nanti aja ga Kak? soalnya lagi nyetir dan butuh fokus. Izza kan belum pernah bawa mobil ke daerah sini, jadi masih belum paham medannya seperti apa" pinta Izza.
"Oke... kita bicarakan pas santai aja. Oh ya De, nanti kalo liat pedagang nanas, minggir dulu ya. Mau beli nanas simadu" pinta Rama.
"Emang ada bedanya nanas simadu sama nanas yang lainnya?" tanya Izza penasaran.
"Beda... nanas simadu itu daging buahnya tebal, manis dan banyak mengandung air, nanasnya juga ga kecut dilidah dan ga bikin gatal dikerongkongan, ada aja sih penjual nakal yang bilang kalo dagangannya nanas simadu, soalnya harganya bisa dua sampe tiga kali lipat dibandingkan nanas lainnya" jelas Rama dengan gamblang.
"Lah bisa ketipu dong, bilangnya simadu ternyata nanas biasa" ucap Izza.
"Itulah gunanya Kakak pernah ketipu, jadi kita bisa belajar. Malah dulu Kakak pernah ketipu sampai tiga kali, akhirnya ketemu penjual yang baik dan kasih tips membedakan itu nanas simadu atau bukan" kata Rama.
"Gimana caranya tau itu jenis nanas yang simadu?" tanya Izza.
"Caranya tuh kita sentil kulit buahnya, kalo suara sentilannya nyaring kaya suara kita menyentil telapak tangan, fix itu nanas simadu" lanjut Rama lagi.
"Masa sih begitu aja" ucap Izza.
"Susah kalo ga dipraktekkan.. nanti deh dikasih tau kalo udah ada nanasnya" ujar Rama.
"Kalo banyak airnya mah ga bisa dibikin selai nanas dong ya Kak?" tanya Izza.
"Ga bagus, lama keringnya dan gampang berjamur kalo dibikin selai. Bikin selai nanas tuh biasanya pakai nanas Bogor, Palembang atau Blitar... buahnya lebih garing dan sedikit kandungan airnya" ucap Rama seperti seorang ahli.
"Kayanya Kak Rama ini ahli dibidang pernanasan nih. Izza aja ga paham Kak. Kirain ya nanas sama aja" ledek Izza.
"Belum tau sih ya .. dulu jaman SMA itu kalo sudah dekat-dekat bulan Ramadhan, Kakak sama teman-teman jualan selai nanas buat isian nastar. Kan emak-emak pasti repot kalo harus bikin selai sendiri. Makan waktu dan ga praktis. Belum urusan kerjaan rumah yang ga ada selesainya, dari sanalah Kakak memanfaatkan celah bisnis yang ada. Pesaingnya memang berat, para pabrik besar dan pabrik skala rumah tangga yang lebih dulu bisnis itu. Tapi namanya rejeki ga akan tertukar. Pernah loh dalam sebulan habis sampai seribu lima ratus buah nanas. Jadi biasanya dari tujuh buah nanas tuh bisa jadilah setoples selai ukuran satu kilogram, kan ada penambahan sedikit gula juga dalam selai. Saat itu mah sempat ngalamin banjir orderan, bisa dibilang agak ngetoplah selai buatan Kakak dan teman-teman. Katanya para pembeli tuh lebih legit, manisnya dan asemnya pas, ga pake pengawet pula karena kita pakai gula sebagai pengawet alami. Pangsa pasarnya awal-awal itu para orang tua sama guru-guru di sekolah. Ditahun kedua, akhirnya kita putuskan buat produksi lebih banyak dengan persiapan yang lebih matang. Kebetulan sebelah sekolah dulu itu SMK yang ada jurusan tata boga, kita kerjasama sama mereka yang lebih paham teknik produksi hingga pengemasan. Lanjut ditahun ketiga, kita meningkat tambah produksi nastar juga, produksi juga dimulai tiga bulan sebelum Ramadhan. Karena kalo dekat bulan Ramadhan pasti ga keuber" cerita Rama.
"Itu yang ngerjain Kakak sama teman-teman atau ada karyawannya?" tanya Izza.
"Tahun pertama dan kedua murni kami-kami aja yang mengerjakan pakai resep keluarga salah satu dari kami. Pas tahun ketiga mulai produksi nastar ya kerjasama dengan salah satu orang tua murid yang rasa nastarnya cocok dengan apa yang kami mau" lanjut Rama.
"Beneran nih ceritanya kak? Wah jiwa pedagangnya mantul banget ternyata" puji Izza.
"Saat itu mah terpaksa De, kami ini anak-anak orang berada tapi karena sering buat masalah, sama keluarga ga terlalu diperhatikan. Uang jajan pun banyak dihabiskan buat ngoprek modifikasi motor dan touring kesana kemari. Papi apa lagi, dulu mah ga ada sayang-sayangnya sama anak. Paling dikasih sama Mas Haidar dan Mba Mentari kalo butuh sesuatu. Tertanam deh tuh dipikiran Kakak kalo ingin sesuatu ya harus nyari sendiri. Alhamdulillah berguna juga buat hidup Kakak. Yang lucu tuh, abis lebaran serasa jadi orang tajir, pegang uang lumayan banyak. Biasanya buat ganti HP terbaru atau touring yang agak mewah dikit. Kan kalo lagi cekak, kami tidur ya di Musholla atau Mesjid. Nah kalo punya uang bisalah nyewa tempat yang murah meriah .. hehehe" kenang Rama.
🤍
Ternyata tujuan mereka ke daerah Ciater Subang. Ketika sampai, Rama baru tau kalo resort baru ini adalah milik Pak Isam. Letaknya dekat dengan pemandian air panas yang sudah terkenal seantero Indonesia.
Sesampainya disana, Rama sudah disambut oleh Manager dan beberapa Karyawan. Kejadian kedua kalinya, tidak tau kalo Papinya punya beberapa resort.
Padahal semua sudah dia kondisikan dengan baik. Pesan kamarnya pakai email-nya Farida, transfer pun dia minta tolong dari rekening pribadinya Farida. Tapi tetap aja ketahuan.
Sebenarnya dia ga mau ada yang kenal, karena ingin sekali melepaskan embel-embel dirinya sementara. Disini hanya ingin menjadi Rama tanpa ada nam Abrisam dibelakangnya.
HPnya aktif tapi disilent. Rama langsung masuk kamar karena malas aja menghadapi para karyawan yang Memperlakukannya bak seorang raja.
"Kenapa sih jadi bete begini, senyumlah sedikit Kak..." saran Izza sambil merebahkan badannya diatas kasur.
"Paling ga suka deh dikalungin bunga kaya gini. Udah gitu kamarnya dihias-hias segala kaya kamar pengantin, ga ada privasi banget" kata Rama kesal.
"Seing kan nasehatin buat belajar menghargai orang lain? Wajarlah mereka begitu, resort ini punya Papi dan yang mereka tau kalo seorang Rama adalah pewarisnya yang mengurus semua bisnis Papi kecuali resort ini" ucap Izza.
"Tapi kan ga perlu kaya gitulah. Profesional aja. Toh kita bayar seperti tamu pada umumnya. Ga ada special request minta kaya gini kamarnya" jawab Rama yang ikutan tiduran disampingnya Izza.
"Mau bete terus nih? Atau kita mau pulang aja?" rayu Izza sambil memindahkan posisi kepalanya didadanya Rama.
"Ehmm..... ini nih yang bikin lemah seorang Rama... hehehe" jawab Rama yang langsung memeluk erat Izza serta menghujani ciuman.
Saat mereka sudah mulai saling bercengkrama dan bermanja ria, pintu resort diketuk dari luar.
Rana bangkit dari tempat tidur, karena Izza sudah membuka jilbabnya.
"Selamat sore Pak... ini ada welcome drink dan snack buat Bapak dan istri. Makan malam prasmanan dibuka ba'da Maghrib. Atau ada menu special yang akan direquest?" tanya petugas resort dengan ramah.
"Nanti saya hubungi ya kalo perlu sesuatu" jawab Rama mencoba ramah.
"Baik Pak, selamat menikmati resort ini" ucap petugas resort.
"Thanks" jawab Rama.
Rama meletakkan dua cangkir bandrek dan kue balok diatas meja.
"Apa tuh Kak?" tanya Izza penasaran.
"Minum dulu nih biar hangat" tawar Rama.
"Semua tamu dapat kaya gini ga ya?" tanya Izza penasaran.
"Harusnya..." jawab Rama.
Setelah meminum bandrek, keduanya melanjutkan adegan pemersatu bangsa. Menikmati waktu berdua tanpa ada gangguan Sachi, pekerjaan dan lainnya.