
Rama mendadak harus ke Lampung bersama Mba Anindya, ada sebuah resort disana yang mau dijual karena pihak keluarga mau bagi warisan. Dari data dan gambar yang diberikan, resort yang baru berdiri tiga tahun ini cukup bagus. Tapi perebutan warisan membuat keputusan dijual adalah pilihan yang tepat.
Mba Anindya mendapatkan informasi ini dari temannya. Rama pun sudah berkomitmen lewat telepon ke pemilik Resort, tapi sekarang Mba Anindya mengajak Rama untuk melihat langsung apakah ada prospek untuk mereka take over. Rencananya akan berada disana selama dua hari dua malam, dihitung plus perjalanan darat jadi sekitar tiga hari. Jum'at subuh mereka sudah jalan menuju pelabuhan Merak.
Mereka mengajak Mang Ujang dan supirnya Anindya untuk membawa mobil secara bergantian. Rama yang memutuskan untuk naik mobil saja karena sekalian merancang bisnis paket perjalanan untuk kesana. Sekalian juga melihat apakah infrastruktur menunjang untuk sektor pariwisata.
🌺
Mas Haidar sedang mengirim makanan ke Panti Asuhan, dia diceritakan semua tentang Panti Asuhan ini, termasuk tentang Izza oleh Ibu Panti Asuhan. Mas Haidar mendengarkan dengan seksama.
"Jadi hanya Izza yang ga bisa ikut pindah ya Bu? ya karena memang tidak terdaftar sebagai apapun disini" kata Mas Haidar menyimpulkan.
"Benar .. seminggu lagi Izza harus segera pindah dari sini karena akan ada pihak dinas sosial yang menjemput anak-anak untuk dipindahkan ke Panti Asuhan lain dan tempat ini akan direnovasi" jelas Ibu Panti Asuhan.
"Oh begitu .. Ibu sudah dengar tentang Izza dan adik saya belum ya?" tanya Mas Haidar.
"Sudah Mas.. Ibu bersyukur kalo memang mereka memutuskan hal itu. Hanya ada rasa khawatir juga" ucap Ibu Panti Asuhan.
"Khawatir kenapa ya Bu?" tanya Mas Haidar.
"Khawatir karena pernikahan mereka tidak dilandasi pondasi yang kuat sebenarnya. Sepertinya sama-sama mencari keuntungan dari masing-masing pihak. Kalo Izza pastinya ada kaitan dengan Mba Gita, saya kurang tau kalo dari pihak Nak Rama apa yang diinginkan dari Izza" adu Ibu Panti Asuhan.
"Ini sebenarnya yang keluarga kami khawatirkan Bu. Kami semua bisa terima Izza, tapi kalo hanya sekedar mereka berniat untuk saling menguntungkan untuk apa? Saya ga menyalahkan pihak Izza, memang Adik saya yang keras hati juga. Saya dan Papi udah sampe cape mulut ngomong sama Rama. Ga tau deh harus gimana. Jadi sekarang kami ikuti aja maunya apa, toh kasian juga sama Izza yang pasti bingung mau kemana lagi. Semoga pernikahan mereka membawa perubahan positif untuk keduanya. Saya liat juga Izza bisa membuat Rama lebih sedikit terlihat seperti manusia biasa. Ga sekaku dulu" ungkap Mas Haidar.
"Ibu juga sudah nasehatin Izza. Tapi sepertinya mereka sudah sama-sama sepakat. Ditambah Ibu juga sedang fokus untuk alih fungsi tempat ini dan penempatan tugas di wilayah yang baru, jadi ga terlalu bisa dampingin Izza. Bisa Ibu minta tolong sama Mas Haidar untuk membantu Izza mendapatkan tempat tinggal dulu untuk sementara sebelum menikah?" tanya Ibu Panti Asuhan.
"Saya punya apartemen yang biasa saya sewakan. Ga besar ya, tapi cukup untuk dia sendiri. Kebetulan letaknya dekat sama kampusnya dia, bisa dia tinggal disana nanti" tawar Mas Haidar.
"Alhamdulillah kalo ada solusi, bisa Mas Haidar langsung yang berbicara sama Izza?" harap Ibu Panti Asuhan.
"Iya Bu .. nanti saya bicarakan langsung sama dia. Saya juga mau bilang ke Papi dan Rama juga, biar ga kesalahan" janji Mas Haidar.
"Terima kasih ya Mas" ucap Ibu Panti Asuhan.
.
Rupanya Haidar langsung bicara ke Pak Isam tentang Izza begitu sampai di rumah. Pak Isam setuju sama usul Haidar yang akan memberikan satu apartemen sewanya untuk Izza tinggal sementara sampai dia menikah sama Rama.
Pak Isam dan Haidar berpikir kalo mereka ga bisa tinggal seatap sebelum Izza menikah sama Rama untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, itulah mengapa Pak Isam tidak mengusulkan Izza tinggal di rumahnya.
🌺
Pulau Pahawang masuk wilayah Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung. Pulau Pahawang bisa dibilang menjadi salah satu idola destinasi wisata. Keindahan wisata di pantai yang indah, dengan hiasan pepohonan nyiur melambai serta menginap di Resort dan Cottage yang berada diatas laut.
Tujuan utama rombongan Rama memang ke Pulau Pahawang Besar yang memiliki luas sekitar seribu hektar dengan penghuni sekitar seribu kepala keluarga dan terdapat fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas. Namun begitu, tidak terlihat kepadatan rumah penduduk di Pulau Pahawang Besar ini. Dari dekat dermaga hanya terlihat beberapa rumah penduduk yang beberapa diantaranya merangkap sebagai guest house untuk para turis yang berkunjung ke Pahawang.
Untuk menuju kesana, menempuh perjalanan sekitar satu jam perjalanan dari Dermaga 4 Ketapang Lampung dengan menggunakan perahu motor. Lamanya perjalanan tergantung sama kondisi cuaca dan kondisi ombak.
Begitu sampai di Resort yang dimaksud, dari kejauhan, Resort ini memang keliatan bagus dan bikin gak sabar buat segera sampai disana.
Didalam kamar Resort sudah ada kasur model single spring bed, handuk, amenities (sabun, shampoo, sikat dan pasta gigi), kamar mandi dilengkapi shower dengan air hangat serta ada dispenser.
Salah satu kekurangan yaitu belum adanya musholla di Resort atau minimal penunjuk arah kiblat. Untungnya Rama menginstall aplikasi penunjuk arah kiblat jadi lumayan bisa tertolong. Resort ini benar-benar berada di pinggir pantai, jadi ketika waktu shalat tiba tidak ada suara adzan yang terdengar.
Mereka beristirahat di Cafe yang letaknya nggak jauh dari kamar. Di Cafe ini mereka memesan snack, makanan dan minuman dengan harga relatif mahal karena memang tempatnya benar-benar di pinggir pulau yang jauh dari pusat kota.
Melihat kondisi ombak lagi tenang, rasanya ingin banget nyemplung dan berenang sambil chillin di lazy bag, tapi masih banyak yang harus Rama kerjakan.
Para supir sudah tidur, Rama dan Mba Anindya sedang ngobrol santai dengan pemilik Resort.
"Saya kira Pak Rama ini sudah berumur diatas empat puluhan ternyata masih muda. Kemarin ditelpon suaranya berat sekali, ciri khas suara Bapak-bapak" canda Pak Adhi sang anak tertua dari pemilik Hotel.
"Nyatanya masih abege ya Pak" sahut Rama.
"Bukan sekedar masih muda loh Pak Adhi .. Rama ini masih single" kata Mba Anindya.
"Wah .. bisa dong ya jadi mantu saya" lanjut Pak Adhi.
"Nanti kalo jadi mantu, saya ga perlu bayar Resort ini dong Pak .. saya tata kelola ulang aja terus bagi hasil" ujar Rama dengan santainya.
"Hahaha... Pak Rama ini lucu juga orangnya. Jadi Bu Anin ini Kakak iparnya Pak Rama ya? bisnis keluarga yang hebat sekali. Masih muda-muda tapi sudah sukses" puji Pak Adhi.
"Alhamdulillah Pak .. diberikan kelancaran dalam tiap usaha. Tapi kan saya ga bangun dari awal. Ada orang tua yang membangun sebelumnya, kami hanya tinggal meneruskan dan menjaga saja" ucap Rama merendah.
"Sekarang silahkan dinikmati dulu pemandangan yang ada. Untuk proposal bisnisnya akan diantar sama anak saya ke kamar masing-masing" jelas Pak Adhi.
"Iya Bu .. ga nyesel deh kalo punya Resort disini" iklan Pak Adhi.
.
Keesokan harinya pihak Rama dan pihak Resort kembali meeting tanya jawab guna menilai apakah bisnis ini punya prospek yang bagus atau tidak kedepannya.
Mang Ujang dan supirnya Mba Anindya sedang menikmati liburan mewah mereka. Sama-sama belum pernah menginjakkan kaki di tanah Sumatera, jadi rada sedikit norak. Apalagi ke tempat wisata seperti ini, Rama dan Mba Anindya memberikan kebebasan kepada supirnya untuk menikmati semua fasilitas yang ada dan tagihannya dimasukkan ke bill Mba Anindya.
🌷
Pak Isam dan Haidar langsung menemui Izza di Panti Asuhan. Berbincang bersama Ibu Panti Asuhan juga.
Setelah dibujuk oleh banyak pihak, akhirnya Izza setuju. Haidar dan Pak Isam langsung membawa Izza ke apartemen hari itu juga.
.
Apartemen tipe studio yang dipinjamkan Haidar sebagai tempat tinggal Izza, unit ini terdiri dari satu ruangan tanpa tembok pemisah, kecuali untuk kamar mandi. Dalam satu ruangan ada kamar tidur, area makan, dapur dan ruang TV.
"Inilah Za tempatnya, sementara kamu disini. Semoga layak buat kamu tempati" ucap Mas Haidar.
"Makasih ya Pak .. Mas .. ini sangat-sangat layak buat saya" jawab Izza.
"Kami pamit dulu Za, kalo ada apa-apa.. jangan sungkan hubungi kami" kata Pak Isam sambil memberikan amplop uang untuk pegangan Izza.
"Saya jadi merepotkan Bapak dan Mas Haidar ya?" ucap Izza ga enak hati.
"Za .. ga usah sungkan, toh yang dikasih juga calon anak Papi juga. Belajar Za dari sekarang panggil Papi. Nanti Papi carikan baju-baju milik Mba Mentari yang bisa kamu pakai. Daripada sayang disimpan. Sudah banyak yang diberikan ke saudara, tapi yang panjang-panjang kayanya masih banyak. Kalo koleksi tas dan sepatu memang ga semua Papi kasih ke saudara. Kan Papi punya dua anak lelaki, ya nanti buat istrinya anak-anak Papi aja. Dulu Anin juga Papi kasih kok" papar Pak Isam membahasakan dirinya Papi ke Izza.
"Udah Za ... ga usah kebanyakan makasih, kamu sebentar lagi kan jadi keluarga Abrisam. Fasilitas ini malah terlalu sederhana buat keluarga Abrisam. Saya hanya ga mau nanti Rama salah paham atas kebaikan dan maksud saya membantu kamu disini. Intinya saya mau kamu lebih dekat ke Kampus aja, jadi ga perlu ongkos dan bisa bolak-balik kalo ada jam jeda antar waktu kuliah" timpal Mas Haidar.
"Ya Mas..." jawab Izza.
"Udah bilang ke Rama kalo kamu tinggal disini? kalo Mas udah kirim chat soalnya sinyal dia lagi ga bagus" ucap Mas Haidar.
"Ya nanti saya hubungi" kata Izza.
🍒
"Gimana Ram prospeknya? mau take over ga?" tanya Mba Anindya.
"Plan bisnisnya banyak yang harus di rekondisi Mba. Management masih berantakan. Laporan keuangan juga kayanya masih banyak yang ga wajar. Jadi perlu kita tinjau ulang. Nanti di Jakarta coba kita bicarakan dengan akuntan dan Manager marketing Hotel. Semalaman saya begadang mempelajari proposal mereka, hasilnya kok belum sreg ya, tapi kalo Mba mau ya ga masalah, tapi kalo saya masih perlu banyak pertimbangan dari para ahlinya. Saya ga bisa gegabah dalam mengeluarkan uang perusahaan, cukup sekali ditipu, jangan kejadian dua kali" papar Rama.
"Tapi Mba udah jatuh cinta banget nih sama tempat ini. Kayanya nyaman buat short escape, disini sinyal kan ga bagus. Jadi bisa benar-benar santai tanpa gangguan. Kaya gini kita bisa lebih banyak ngobrol tentang usaha kita, tentang kegiatan kita masing-masing bahkan ngobrolin hal pribadi. Coba kalo di Jakarta .. seminggu sekali aja kita belum tentu bisa ketemu. Kamu tuh sibuk banget. Banyak alasan kalo Mba ajak makan" kata Mba Anindya.
"Ya memang beneran sibuk Mba. Kalo Mba udah suka, buat honeymoonlah disini. Kan bisa lebih privasi" ujar Rama.
"Sorry ... kalo sekelas honeymoon, ga level lah.. kita udah booking di Maldives, atau kamu sama Izza aja nanti honeymoon disini, Mba yang bayarin deh. Tipe wanita kaya Izza mah begini aja udah mewah" canda Mba Anindya.
"Bikin rencana nikah aja dulu Mba.. urusan honeymoon mah gampanglah itu, tinggal jalan mau kemana bisa dadakan. Jangan menilai seperti itu Mba .. sebentar lagi dia akan jadi istri seorang CEO Abrisam Group dan Vice President Audah Hotel. Mau kemewahan seperti yang selama ini Mba pertontonkan pun bisa. Tapi sepertinya Izza tipe orang yang down to earth, ga suka pamer. Jadi nanti kalo dia masih bergaya sederhana pun ya saya ga masalah" sahut Rama.
"Apa ga sulit menyatukan dua dunia yang berbeda?" tanya Mba Anindya.
"Mba ini mendukung atau malah dipihak yang berseberangan ya? kami masih di dunia yang sama, hanya pemikiran aja yang berbeda. Makanya biar semua bisa berjalan dengan baik, semua saya yang handle. Biar dia fokus dengan kuliah dan permasalahan Mba Gita" kata Rama.
"Wah langka ini, biasanya lelaki ga pernah mau pusing ngurusin printilan pernikahan. Semua dibikin gampang. Padahal bikin pusing kepala. Tapi kamu malah mau handle sendiri tanpa Izza .. luar biasa. Makin deh Mba kagum sama kamu" puji Mba Anindya.
"Tergantung konsepnyalah Mba. Kalo mau glamor ya pasti pusing. Tapi kalo mau yang simple pasti ga seribet itu kan. Lagipula saya masih ada hambatan dokumen resmi milik Izza. Dia punya KTP dengan alamat rumah Mba Gita. Tapi kan status rumah itu masih disegel untuk penyidikan, ketua RT RW belum tentu mau kasih surat numpang nikah dong. Makanya urus itu dulu kayanya" ungkap Rama.
"Semoga cepat ada solusi untuk dokumen. Walaupun Mba ga ngerti kenapa harus ngotot nikahin dia, tapi all the best for both of you (segala hal diberikan yang terbaik untuk kalian berdua)" harap Mba Anindya.
💐
Izza diajak sama Pak Isam dan Mas Haidar ke Tasikmalaya bersama Sachi dan Mba Nur. Rencananya Mas Haidar akan mengenalkan kekasih hatinya disana. Rama sudah dihubungi tapi tidak bisa pulang Sabtu ini karena masih ada urusan di Lampung yang belum selesai.
Sepanjang perjalanan, Sachi dan Izza serta Mba Nur asyik bernyanyi. Fasilitas mobil milik Mas Haidar yang terbaru memang canggih. Perlengkapan audio visual bikin ga bosan di jalan.
Pak Isam dan Mas Haidar lagi membahas bisnis, tapi tidak merasa terganggu oleh aktivitas yang duduk dibelakang mereka.
Mas Haidar bahkan mengirimkan video ke Rama saat Sachi dan Izza menyanyikan lagu Libur telah tiba milik Tasya Kamila.
#Calon adik ipar ternyata orangnya asyik juga ya# kirim Mas Haidar ke HP nya Rama.