
Izza dan Sachi pamit berangkat ke Rama, Rama masih juga di tempat tidur dan masih enggan beranjak.
"Ayah kok tidur-tiduran.. Ayah libur ya? kalo libur antar Sachi sekolah dong. Udah lama Ayah ga antar sekolah" kata Sachi.
"Kerja Sachi... nanti berangkatnya agak siangan. Ayah masih mau tidur" jawab Rama.
"Kak... berangkat dulu ya" ujar Izza sambil mencium tangannya Rama.
.
"Mas Boss sakit ya Mba? tumben masih tidur-tiduran" tanya Mang Ujang begitu melihat Izza keluar dari kamar bersama Sachi.
"Keliatannya sih gapapa Mang, mungkin cape kali ya. Tapi tadi bilangnya mau berangkat agak siangan, tunggu aja" jawab Izza.
"Kemarin kan pulang cepat dari Kantor, emangnya sama Mba Izza jalan sampe malam sampe masih ngantuk? Mas Boss tuh ga pernah yang namanya malas-malasan kalo kerja" tanya Mang Ujang lagi.
"Ga malam banget ... sekitar jam sepuluhan lewat udah sampai di rumah kok" jawab Izza.
"Sepanjang jadi supir Mas Boss, baru kali ini dia betah di kasur sampe jam segini. Ada apa gerangan ya?" ujar Mang Ujang heran.
"Yaelah Jang... pake dipikirin segala. Kaya ga tau aja pengantin baru kaya gimana. Cape ngelembur lah di rumah" sahut Mas Haidar.
"Kalo ngelembur di kantor kan dibayar sama perusahaan, terus kalo ngelembur di rumah siapa yang mau bayar? Boss Papi atau Mas Haidar gitu yang bayar?" ujar Mang Ujang.
"Izzalah yang bayar, kan ngelemburnya sama dia" kata Mas Haidar.
"Emang Mba Izza punya perusahaan?" ucap Mang Ujang tambah bingung.
"Izza punyanya pabrik" sahut Mas Haidar sambil tertawa.
"Pabrik??? pabrik apa? dimana? kok ga pernah dengar" lanjut Mang Ujang.
"Pabrik anak" kata Mas Haidar makin senang melihat Mang Ujang kebingungan.
"Emang ada pabrik kaya gitu?" tanya Mang Ujang.
"Udahlah Masss.. Ujang itu ga paham pakai bahasa kiasan. Kalo langsung bilang mereka habis bercinta terus menerus mungkin lebih paham ya Jang?" timpal Pak Isam blak-blakan.
"Nah... kaya Boss Papi nih, jelas kalo ngomong. Oh jadi semalam Mas Boss sama Mba Izza habis begitu toh.. wah Mas Boss kurang perkasa nih. Masa yang wanitanya udah ceria dan beraktivitas, eh yang laki masih aja rebahan. Main berapa ronde nih Mas Boss?" ledek Mang Ujang.
.
Izza dan Sachi sudah berangkat ke sekolahnya Sachi diantar sama supirnya Pak Isam. Mang Ujang masih lanjut ngobrol sama Pak Isam dan Mas Haidar sambil sarapan.
Ga lama berselang, Rama keluar kamar masih dengan muka bantal. Pake kaos oblong dan sarung.
"Abis ngeronda Mas Boss?" ledek Mas Haidar.
"Cape" jawab Rama singkat.
Rama mengambil air mineral dingin di showcase yang ada di ruang makan. Kemudian duduk disampingnya Pak Isam.
"Kamu sakit?" tanya Pak Isam memastikan.
"Cuma ngantuk Pi" jawab Rama.
"Semalam memangnya tidur jam berapa?" tanya Pak Isam lagi.
"Belum jam dua belas kayanya udah tidur, bangun sholat tahajud terus lanjut tidur lagi" kata Rama.
"Kalo ga fit ya ga usah harus setiap hari nyampur sama istri. Memang sih kalo pengantin baru itu kadang desakan dari dalam masih membara, jadinya rasanya kebakaran terus .. hehehe.. tapi kan kamu punya tanggung jawab pekerjaan. Jangan lalai hanya karena sudah menikah. Harus jadi contoh yang baik buat karyawan yang lain. Toh karyawan kamu juga sudah ada yang menikah, mereka tetap ikut aturan jam masuk" nasehat Pak Isam.
"Siapa yang nyampur sih Pi .. Rama beneran ngantuk, badan rasanya lemas aja. Papi kan tau bagaimana kerasnya Rama mengabdikan diri di Abrisam Group, sampai susah buat libur. Semalam itu rasanya tenang banget Pi. Setelah bertahun-tahun.. akhirnya bisa tidur nyenyak juga" jawab Rama sambil mengambil nasi goreng dan tiga telur rebus.
"Habis kerja keras sampai order ke istri minta tiga telur rebus" goda Mas Haidar ga habis-habisnya.
"Mas Boss nyampur apaan sampe kebakaran? dimana kejadiannya? kok disini ga ada kebakaran. Apa Mas Boss lagi coba bisnis baru, nyampur bensin sama minyak tanah jadinya kebakaran?" sahut Mang Ujang.
"Diotaknya Mang Ujang tuh yang kebakaran. Dari pagi saya dengar ngoceh mulu kaya burung beo" jawab Rama santai sambil menikmati sarapan.
"Kenapa jadi disalahin sih Mas Boss.. kan cuma nanya. Sebagai orang terdekat, keselamatan Mas Boss itu harus saya jaga" ucap Mang Ujang berbangga hati.
"Ga usah kebanyakan gaya. Berantem aja takut kok segala ngomong mau ngelindungin saya" nyinyir Rama.
"Ada masalah apa sampai kamu kayanya ga bersemangat begini?" selidik Pak Isam.
"Ga ada Pi .. beneran deh ini cuma cape aja. Udah bilang kok ke Farida, jadwal minta diatur ulang, karena jam sepuluhan baru bisa sampe Kantor" ucap Rama.
"Tau Mas Boss berangkat siang mah, mending tadi saya bangunnya siangan" kata Mang Ujang.
"Berisik ya... lagian ngapain sih punya rencana bangun siang.. emang ga sholat subuh? inget ya calon istri itu ibadahnya bagus, ga malu emangnya" ucap Rama.
"Siapa sih Mas Boss orangnya? beneran penasaran banget nih" rajuk Mang Ujang.
"Sabar Mang.. sebentar lagi Abah sama Ambunya Mang Ujang yang kasih tau. Beliau sudah setuju sama calon yang saya ajukan, pihak keluarga sana juga ga masalah, nah yang paling penting nih... calon istrinya Mang Ujang ga keberatan saya jodohin sama Mang Ujang. Dia menerima dengan ikhlas jika memang sudah jadi suratan jodohnya" papar Rama.
"Kayanya calon istrinya Ujang berkelas nih" puji Mas Haidar.
"Diatas rata-rata Mas, makanya kalo sampe Mang Ujang nolak atau ga serius... beuh... nyesel pake banget pokoknya" kata Rama.
🌺
Izza sedang berkumpul disalah satu coffe shop tidak jauh dari sekolahnya Sachi. Mba Nur menunggu Sachi di sekolah, supirnya Pak Isam menunggu di parkiran coffe shop bersama supir lainnya. Mereka sudah diberi uang jajan oleh masing-masing Bossnya.
Ketika menunggu orderan disajikan ke meja, Izza menerima buket coklat merek ternama produksi luar negeri.
"Saya tidak order ini Mas" kata Izza ke pelayan yang mengantarkan buket ke Izza.
"Tapi tadi orangnya pesan untuk Ibu. Benar ini Ibu Izza kan?" tanya pelayan.
"Iya .. siapa ya yang kasih? masih ada orangnya disini?" ucap Izza.
"Maaf Bu .. sudah pergi, kesini hanya mengantar buket saja" jawab pelayan.
"Makasih ya Mas" ujar Izza.
.
"Mommynya Sachi diistimewakan banget ya, di coffe shop aja dikirim coklat" kata Mama temannya Sachi.
"You're so lucky Mom...mmhhh so romantic..." jawab lainnya.
Izza hanya tersenyum. Ada tanda hati berwarna hitam lagi di kartu ucapan. Izza menebak dari secret admirenya lagi.
🖤#.
Ada sepuluh batang coklat menempel di buket disertai coklat berbentuk bulat keemasan, dipercantik dengan bunga mawar merah sehingga menjadi kontras dengan kemasan coklat berwarna emas. Deretan coklat premium yang asing bagi Izza. Jangankan mengetahui rasanya, untuk merek ini saja baru kali ini dia baca.
"Orang ini siapa ya? selalu tau dimana aja berada.. apa ada yang ngikutin? Jangan-jangan memang Kak Rama, soalnya dia lagi banyak berubah. Apa dia udah jatuh cinta? please Za... jangan ge er. Kan Kak Rama bilang kalo nikah karena alasan Sachi semata" kata Izza dalam hatinya.
"Ini coklat dari Swiss yang terkenal itu, waktu suami ke Swiss pernah beli ini. Coklatnya beda sama yang ada di Indonesia. Memang ada di beberapa Mall besar di Jakarta, tapi terbatas, kemasan bar kecil seperti ini dibandrol sekitar dua ratus ribu rupiah per satuan, terus yang bulat-bulat ini satu pack isi dua puluh empat kalo ga salah sekitar tiga ratus ribuan. Taksiran saya sekitar dua juta lima ratus ribu untuk buket ini, belum ongkos hias dan kirim oleh kurir ya" papar seorang Ibu menganalisa.
"Sampai hapal banget ya Mom.. pasti sering beli" sahut lainnya.
"Karena anak-anak sukanya coklat-coklat impor, kalo merek lokal suka batuk. Kan disini banyakan ditambah gula biar manis. Cacaonya ga sebanyak merek luar. Lagipula coklat Swiss kan lumayan tenar" ujar Ibu yang hapal kisaran harga coklat agak meninggi.
Izza hanya menyimak obrolan Mama-mama sosialita yang bikin dia pening kepala karena selalu membicarakan tentang kekayaan dan gaya hidup mewah.
"Mommynya Sachi pendiam ya ... mungkin belum terbiasa dengan kita-kita ya, slowly but sure nanti juga bisa kok sefrekuensi sama kita. By the way... tas yang Mommy Sachi pakai selalu limited edition semua, tapi kenapa keluarnya sekitar sepuluh tahun yang lalu ya... peninggalan orang tua atau baru bisa kebelinya sekarang?" kata salah satu Ibu rada nyinyir.
"Saya malah tidak tau jika tas yang dipakai ini limited edition, karena memang tidak mengikuti perkembangan dunia mode" jawab Izza jujur.
"Oh gitu .. pasti sepuluh tahun yang lalu, Mommy ini sudah kaya raya ya" puji lainnya.
"Bukan saya .. Mertua sih lebih tepatnya" jawab Izza meluruskan.
"Beruntung banget mertuanya ga pelit. Biasanya anak perempuan yang dikasih, ini malah menantu yang diberikan tas-tas ini" ujar Ibu lainnya.
"Karena anak perempuannya sudah tiada, jadi ya saya dianggap seperti anak sendiri. Alhamdulillah anak lelakinya tidak ada yang protes kalo saya pakai" jawab Izza mulai agak sedikit sombong.
"Tapi memang Abrisam Group sudah terkenal dari lama, keluarga konglomerat, wajar aja bisa beli barang-barang wah. Mobil aja selalu keluaran terbaru. Saya malah ga menduga jika Sachi sekolah ditempat yang sama dengan anak saya. Biasanya kaum jetset seperti itu, sekolahnya di daerah Jakarta Utara" kata salah satu Ibu.
"Yang paling dekat dari rumah saja, kasian masih TK harus melalui perjalanan panjang menuju sekolah" alasan Izza.
"Tapi Sachi itu anak yang cerdas. Secara akademik menonjol, olahraga pun aktif, apalagi bahasa Inggrisnya lumayan lancar dan banyak kosakata yang dikuasai. Bagaimana cara mengajarkan anak seusia itu Mom?" tanya Ibu lainnya.
"Sachi punya Ayah yang hebat, yang mau turun tangan mengajarkan anaknya. Walaupun pulang malam, setiap sore pasti video call Sachi untuk menemani belajar" puji Izza.
"Masih sempat ya.. suami saya ga tau masalah sekolah anak-anak, sudah kasih uang ke istri jadi istri yang atur. Ga tau bayaran sekolah berapa, anak belajar apa. Datang ke sekolah saat acara kelulusan saja" jawab Ibu lainnya.
"Ayahnya Sachi kan masih muda, wajar aja kalo masih perhatian sama anak. Masih kategori Papa jaman now" sahut lainnya.
Inilah kumpulan Ibu-ibu, ada kalanya memuji tapi akhirnya mencaci, ada kalanya merendah padahal diam-diam ambil ancang-ancang untuk meninggi. Hari ini Izza memutuskan untuk menjadi tim pantau saja, daripada salah omong nanti malah bahaya.
🌺
"Baru kali ini saya liat Bapak masuk jam sepuluh kurang, wajah juga berseri-seri, sepertinya Ibu Izza memberikan service paripurna buat Bapak" ledek Farida.
Untunglah Rama lagi ga datang juteknya, jadi cuma tersenyum.
"Jadwal meeting semua sehabis makan siang ya Pak" lapor Farida.
"Oke.." jawab Rama.
"Semua laporan juga sudah ada di meja" lanjut Farida.
"Sip" jawab Rama.
"Enak nih kalo Bapak seperti ini, sejuk rasanya" timpal Farida.
"Kamu ya.. masih aja ngeledek.. pacar kamu masih kerja di catering kan ya? bagian pemasaran bukan?" tanya Rama.
"Ya Pak.. biasanya untuk acara di Hotel bintang tiga keatas dan jumlah pax minimalnya lima ratus" jawab Farida.
"Kalo acaranya di Tasikmalaya bisa ga?" tanya Rama.
"Jauh amat Pak, tapi nanti saya tanyakan dulu ya bisa atau tidaknya" jawab Farida.
"kalo bisa, masukin proposal, sekitar dua ribu pax. Lumayan kan feenya bisalah buat beliin kamu hadiah" kata Rama.
"Nanti saya follow up ya Pak. Semoga jadi rejekinya" ujar Farida.
"Acaranya akan diadakan disebuah Pesantren, jika membutuhkan dapur bisa dibuatkan tenda sementara untuk persiapan hidangan" ucap Rama.
HP Rama berbunyi, Farida yang ada didekat HP nya Rama melihat dilayar tertera nama Izza, Farida hanya tersenyum.
"Baik Pak .. saya pamit keluar dulu" pinta Farida.
Rama mengangkat HP-nya untuk menerima panggilan.
Izza bertanya tentang buket coklat yang dia terima di coffe shop.
"Buat apa saya kirim coklat coba? saya aja ga tau kamu suka apa ngga sama coklat, merek apa maunya, rasa apa.. eh tapi.. kok orang ini tau kamu sekarang berada dimana? Za.. buru-buru masuk ke mobil terus pulang, nanti jemput Sachi lagi. Jangan nunggu di sekolah atau dimana-mana. Ini udah ga aman sepertinya" kata Rama.
"Apaan sih Kak.. sekedar coklat aja kenapa jadi heboh kaya gini" ucap Izza.
"Coklatnya jangan kamu makan, kita ga tau coklat itu sudah dikasih racun atau ngga, atau dikasih penyadap dan sebagainya.. pokoknya kamu harus buang coklat itu" lanjut Rama.
"Sayanglah Kak.. lagipula keliatannya masih tertutup rapat kemasannya. Ga mungkin dong dikasih sesuatu.. atau jangan-jangan Kakak takut kalo ini dikasih jampi-jampi jadinya saya bisa ninggalin Kakak?" tanya Izza.
"Saya ga punya waktu untuk becanda, sekarang buang coklat itu atau saya yang akan kesana terus membuang coklat itu" ancam Rama.
"Iya .. ga usah pake emosi dong .. kalem.. kan semalam udah dikasih masukan biar lebih slow down.. nanti kasih ke pelayan aja ya daripada mubazir" ucap Izza.
🌺
Keesokan harinya, Mang Ujang diminta oleh orang tuanya untuk pulang ke Tasikmalaya. Akan ada acara perkenalan dengan calonnya Mang Ujang.
Rama sudah memberikan ijin, lagipula Alex sudah kembali pulang.
Tidak lupa Rama dan Pak Isam memberikan uang ke Mang Ujang untuk sekedar membeli kue sebagai buah tangan ke pihak perempuan.
"Tapi Mas Boss janji ya... ga boleh marah kalo saya ga cocok sama calonnya" kata Mang Ujang hati-hati.
"Saya mah ga bakalan marah apapun keputusannya Mang Ujang. Tapi kalo sampai wanita ini dilewatkan.. nyesel deh" sahut Rama.
"Ini misal ya ... misalkan loh.. Mas Boss belum menikah, apa mau sama wanita itu?" tanya Mang Ujang.
"Kalo saya belum menikah dan bertemunya sama wanita itu terlebih dahulu sebelum kenal Izza... pasti saya ga nolak" jawab Rama.
"Kenapa harus sebelum ketemu Mba Izza? jangan-jangan memang Mas Boss udah suka sejak awal. Keliatan sih .. tapi dulu kalo ketemu datar aja, malah kadang pake acara berantem sindir-sindiran" ungkap Mang Ujang.
"Banyak hal yang membuat saya menikahi dia Mang .. dari banyaknya deretan alasan itu, tidak ada alasan cinta. Tapi apa yang saya lakukan sekarang ya untuk belajar mencintai dia sebagai istri saya. Mungkin hati saya masih keliru antara kasihan dan cinta, makanya Mang .. saya akan nikahi dia secara negara agar bisa lebih yakin lagi membina rumah tangga seutuhnya dengan dia. Izza adalah wanita pilihannya..." papar Rama ga meneruskan perbincangan.
"Pilihannya Papi Boss ya" terka Mang Ujang.