HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 126, Forever in love



Hari keempat Izza "ngantor" di Audah Hotel. Masih dalam tahap melihat-lihat dan melaporkan sesuatu yang perlu dilaporkan ke Rama via chat. Bukan ga mau bicara langsung ke Rama, tapi waktunya yang ga ada. Rama selalu pulang diatas jam dua belas malam, Izza jam segitu pasti sudah tidur.


Saat Izza bangun pagi dan sibuk di dapur buat nyiapin bekal Sachi, Rama sudah siap mau jalan kerja. Kesempatan ngobrol cuma saat sarapan, itu pun bicara ringan aja, Rama ga mau urusan kerjaan sampai ke meja makan. Rama pun ga banyak bicara kalo sedang sarapan.


Hari ini Izza ingin keliling Audah Hotel yang terdiri dari tiga lantai dan parkiran di basement. Mau melihat apakah ada sesuatu yang perlu diperbaiki atau ada sebuah potensi yang bisa "dijual" sebagai kelebihan dari Hotel ini.


Bangunan Audah Hotel memang lebih agak lebar bentuknya, bukan tinggi, hal ini karena letak hotel ada didaerah dekat dengan Bandara, sehingga ada peraturan dimana daerah tersebut memerlukan area terbuka yang bebas gangguan sebagai jalur naik dan turunnya pesawat. Area yang dilewati oleh jalur pesawat terbang sudah pasti akan memiliki aturan ketinggian bangunan yang terbatas demi keamanan bangunan maupun kelancaran aktivitas dalam Bandara.


"Kalo rooftop dimanfaatkan apa masih bisa Pak?" tanya Izza ke Manager Operasional Audah Hotel.


"Masih Mba, kami masih diijinkan untuk naik bangunan maksimal dua lantai lagi tanpa rooftop" jawab Sang Manager.


"Selama ini rooftop tidak termanfaatkan dengan baik ya? hanya sebagai penutup bangunan saja" kata Izza.


"Sejak awal sebelum berganti nama menjadi Audah Hotel memang seperti ini saja bangunannya, hanya space kolam renang sekarang menjadi tempat santai untuk ngopi-ngopi di cafe. Acara berkonsep outdoor sudah ada dibelakang Hotel. Yang kemarin untuk acara Ibu Anin, tanahnya milik keluarga Ibu Anin" jelas Manager Operasional Audah Hotel.


"Ini kan Hotel transit ya, kenapa ga memanfaatkan lahan yang ada, mengingat strategis letaknya. Misalnya rooftop dimanfaatkan untuk restoran, bisa open space atau kaca sehingga bisa liat landing dan take off pesawat sebagai nilai jualnya. Bisa juga kan sebagai tempat meeting orang-orang dengan mobilitas yang tinggi" papar Izza.


"Mas Rama sudah punya ide tersebut sejak menjabat sebagai vice president, sudah minta tinjauan marketingnya juga, sepertinya masih ada ditumpukkan file yang ada di lemari beliau, mungkin masih belum terlalu penting atau belum sepakat sama Bu Anin. Karena segala keputusan harus persetujuan keduanya. Jadi pembahasan untuk memanfaatkan rooftop belum ada lanjutannya" jawab Manager Operasional Audah Hotel.


"Bisa jadi ...coba nanti saya sounding lagi" janji Izza.


"Siap Mba, karena memang sudah ada dua restoran yang rencananya akan buka jika memang disewakan. Ide Mas Rama untuk menyewakan tempat untuk pusat kebugaran dibawah juga mulai ramai, pijatnya yang laris manis dan jasa potong rambut mulai eksis" lapor Manager Operasional Audah Hotel.


"Memang dia manusia sejuta ide sepertinya" jawab Izza.


"Setuju Mba... kebayang ga dalam dua hari minta ballroom disulap jadi taman.. saya sampe kena tipes setelahnya" ujar Manager Operasional Audah Hotel.


"Maaf ya Pak .. jadi merepotkan" ucap Izza ga enak hati.


"Gapapa Mba, walaupun dadakan, Mas Rama sudah menyiapkan vendornya, paling yang pusing pihak vendor. Ga diiyakan ini Boss, diiyakan mereka kerja dua puluh empat jam sampai bikin tiga shift untuk pengerjaannya" papar Manager Operasional Audah Hotel.


"Ya begitulah karakter our vice president kan.. hehehe" sahut Izza.


💐


"Jam tiga sore ini sudah tidak ada jadwal lagi, mau saya kosongkan atau mau ada jadwal tambahan lagi Pak?" tanya Farida.


"Berarti setengah jam lagi jadwal saya free ya..." kata Rama sambil melihat jam tangannya.


"Ya Pak .." jawab Farida.


"Saya mau keluar kantor, ga balik lagi, so minta tolong security untuk menyiapkan mobil saya didepan" pinta Rama.


"Baik Pak.. memangnya Mang Ujang ga masuk lagi hari ini?" tanya Farida yang tidak melihat Mang Ujang.


"Dia lagi jadi supirnya Izza" jawab Rama.


"Istri tercinta ga boleh sendiri rupanya" ledek Farida.


"Kasian nanti cape menghadapi macetnya kota Jakarta" sahut Rama.


"Bukannya Bu Izza sudah ada supir pribadi ya Pak?" lanjut Farida.


"Lagi cuti" jawab Rama.


"Baik.. saya koordinasi dulu dengan security dibawah" sahut Farida.


🌷


Pintu ruangan Izza diketuk, Izza keluar.


"Bu .. ada paket untuk Ibu" ujar office boy membawa sebuah kotak yang tampak ekslusif.


"Sudah lewat detector didepan lobby?" tanya Izza.


"Sudah Bu, ini ada label security checknya dipaket (untuk Audah Hotel memang menerapkan pemasangan label ini agar tidak ada zat-zat terlarang atau senjata tajam masuk ke lingkungan Hotel)" jawab office boy.


Izza menerima kotak tersebut dan meletakkan di meja. Izza membelakangi pintu masuk.


Secara perlahan dibukanya kotak dari sebuah merek terkenal. Ada boneka beruang kecil memegang hati bertulis "Forever in love" dan dua botol parfum mewah.


Ada surat didalamnya, diketik rapih diatas kertas warna merah muda nan harum.


# Dearest Fayza Noor Zaina.


Seperti makna namamu, perempuan yang cantik dan pembawa cahaya kemenangan. Izinkan aku memberikan hadiah kecil dengan segenap rasa yang ada untuk memenangi hatimu.


Penciuman merupakan indera yang paling kuat diantara panca indera manusia. Wewangian tertentu bisa memunculkan rasa bahagia dan hangat dalam hati.


Konon katanya, tujuan memberikan parfum ada dua kemungkinan. Pertama sudah mengenal sosokmu karena tau wangi seperti apa yang kamu suka atau yang kedua.. ingin mengenal kamu lebih jauh lagi. Dan aku memilih opsi kedua.


Parfum adalah memori yang tidak pernah gagal. Seperti cintaku, parfum mampu memikatku pada pandangan pertama. Ya.. aku yang terpikat saat sosokmu pertama kali kulihat keluar dari gerbang Panti Asuhan memakai seragam putih abu-abu. Menunggu angkutan umum dipinggir jalan yang ramai di pagi hari atau memilih berjalan kaki dengan langkah yang pasti.


Terimalah salam perkenalan kedua dariku setelah buket bunga yang kamu bawa pulang ke rumah tempo hari. Saat kamu memeluk buket itu, terasa kamu sedang memelukku. Kini tiap aroma yang keluar dari parfum ini adalah cipratan cintaku padamu, tidak berwujud tapi harum wanginya.


Your secret admire 🖤#


.


Rama mengambil surat yang tengah dibaca sama Izza dan membacanya. Izza kaget, dia tidak menyadari ada orang masuk kedalam ruangannya.


Sambil duduk di kursi tamu, Rama membaca dengan seksama. Setelah selesai dia letakkan surat di meja. Menarik box yang sudah terbuka.


"Boneka forever in love dan parfum mahal... berkelas sekali your secret admire ya Za" ucap Rama.


"Cemburu?" tembak Izza sambil duduk disebelahnya Rama.


"Sorry... ga ada kata cemburu tuh di kamus seorang Rama. Kita dinner yuk.." ucap Rama spontan.


"Ngajak dinner gara-gara hadiah ini ya? tapi beneran nih bunga dan hampers ini bukan dari Kakak?" selidik Izza.


"Maksudnya kamu mau saya beliin parfum sama boneka gitu?" ujar Rama.


"Ya ga ngode juga... tapi ngimpi apa coba segala ngajak dinner tiba-tiba" ledek Izza.


"Kalo makan harus mimpi dulu, kayanya saya ga akan jarang makan karena jarang mimpi" jawab Rama.


"Baru jam empat lewat, udah ngajak dinner. Udah sholat ashar belum Kak?" tanya Izza.


"Udahlah... sampe sini langsung sholat dulu, kamu tuh yang udah sholat apa belum?" ucap Rama.


"Udah" jawab Izza singkat.


"Ya udah ayo kita jalan, nanti Mang Ujang kasih tau aja buat langsung pulang. Pasti dia masih tidur" kata Rama santai.


"Baru jam empat lewat, nanti Boss marah kalo kerja ga sampe jam lima. Dibilang nanti korupsi waktulah.. malaslah.. ga komitlah.. memberikan contoh yang ga baiklah" jawab Izza.


Izza langsung diam begitu telunjuknya Rama berada dibibirnya.


"Ga usah kebanyakan kata-kata.. sekarang rapih-rapih terus kita pergi dinner, sebelumnya kita pergi ke Mall dulu, HP kamu udah kuno. Kita beli yang keluaran terbaru. Sebagai seorang istrinya Rama, kamu harus tampak wah" kata Rama berbisik di telinganya Izza.


Izza melepaskan jemari Rama dari bibirnya. Dia masih duduk disampingnya Rama kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Rama sambil memegang pundaknya Rama agar kepalanya Rama lebih turun sedikit.


"Cemburu ya saya dapat buket bunga dan parfum? udah luntur rasa gengsinya?" gantian Izza yang berbisik.


Rama merasa kegelian kemudian tersenyum.


Izza bangkit dari duduknya dan merapihkan berkas diatas meja kemudian memasukkan berkas tersebut kedalam lemari. Charger dan HP dimasukkan kedalam tas. Kotak parfum ditutup rapat. Rama hanya duduk diam melihat aktivitas Izza.


Izza menelpon bagian umum untuk masuk kedalam ruangannya. Selang lima menit kemudian, sudah ada office boy masuk kedalam ruangan.


.


"Mas sudah nikah?" tanya Izza.


"Belum Bu" jawab office boy.


"Pacar?" tanya Izza lagi.


"Itu ada hampers, tolong kasih ke pacar kamu" pinta Izza sambil menunjuk kearah kotak.


"Ini serius Bu?" tanya office boy meyakinkan.


"Wajah saya kurang serius ya?" Izza bertanya balik.


"Kaya keajaiban Bu.. hari ini ulang tahunnya pacar saya. Belum beli kado pula karena tanggal tua. Pasti dia senang dapat kado ini" kata office boy berkaca-kaca.


"Selesai shift jam berapa?" tanya Izza.


"Jam enam Bu" jawab office boy.


"Pasti habis ini mau janjian makan malam di warung tenda, terus jalan-jalan sekedar menghabiskan waktu sampai jam sembilan malam" terka Izza.


"Kok Ibu tau" ujar office boy.


"Taulah... Oke... sampaikan salam buat pacar kamu .. selamat ulang tahun, semoga panjang umur" kata Izza penuh senyum.


"Terima kasih Bu .. pasti pacar saya senang banget dapat hadiah" ucap office boy sumringah.


Office boy keluar dari ruangan sambil menenteng kotak yang diperuntukkan untuk Izza.


Surat yang ada diatas meja, dirobek oleh Izza didepan Rama. Kemudian dibuang ke tong sampah.


Rama masih memperhatikan segala tindakan Izza tanpa berkomentar apapun.


Rama berdiri mendekati Izza yang masih berdiri didekat tong sampah yang ada dipojok ruangan.


"Bagaimana Kakak Boss.. saya boleh pulang lebih cepat? soalnya suami saya mau ngajakin belanja plus dinner. Ya daripada nanti berubah pikiran, udah mah HP baru melayang, dinner pun batal" canda Izza untuk memecah keseriusan wajahnya Rama.


"Apaan sih ... ga lucu" ucap Rama agak risih sama candaannya Izza.


"Ada nasehat Papi yang oke banget buat dipraktekkan... kayanya boleh juga kalo dicoba" ucap Izza.


"Nasehat apa?" tanya Rama sambil makin mendekati Izza.


Izza mundur perlahan hingga tubuhnya menempel di tembok.


"Ikut arahan suami" jawab Izza pelan.


"Itu mah standar.. pasti ada nasehat lain yang menguntungkan kamu deh.. soalnya seorang Izza itu penuh perhitungan. Ga mungkin semudah ini bertekuk lutut sama saya. Ditambah kamu bukan tipe cewe matre, kok seantusias itu saya ajak beli HP dan dinner, ga pake alasan untuk menolak" selidik Rama.


Kini Rama sudah tepat berada didepannya Izza. Tampak Izza serba salah dan krisis pede.


"HP baru plus dinner... coba yuk kita tanya semua wanita di Hotel ini, ada ga yang menolak?" tantang Izza untuk mencoba membalikkan situasi.


"Udah ngaku aja ...apa nasehatnya" ucap Rama yang meletakkan tangannya di tembok persis disamping wajahnya Izza


"Ih kepoooo... jadinya mau jalan sekarang ga nih?" tanya Izza sambil berusaha melepaskan diri dari Rama.


"Wait ... apa yang Papi bilang sampe kamu semanis ini menerima ajakan saya" tahan Rama sambil menarik tangannya Izza.


Izza yang sedang melangkah terus tangannya ditahan secara tiba-tiba jadi hilang keseimbangan. Rama buru-buru menangkap tubuh Izza agar tidak terjatuh. Keduanya saling bertemu pandang, tangannya Izza memegang bahunya Rama, tangan Rama melingkar manis dipinggangnya Izza. Tubuh keduanya sangat rapat tanpa sela.


Adanya kontak mata yang baik dan intens, ini bisa menimbulkan rasa cinta. Kontak mata sendiri merupakan stimulasi yang kuat untuk cinta dan kasih sayang. Semakin besar cinta seseorang untuk kita atau sebaliknya, kita tak akan sungkan untuk menatap matanya secara dalam-dalam.


"Papi bilang apa?" tanya Rama setengah berbisik.


Izza tersenyum.


Keduanya terasa enggan untuk saling melepaskan tautan.


"Papi bilang.. lebih baik uang suami habis sama istri dibandingkan sama wanita lain. So.. daripada Kak Rama beliin HP dan ngajak dinner wanita lain, kan lebih bagus buat Izza .. ya ngga?" jawab Izza ikutan setengah berbisik.


Keduanya tersihir suasana.


Pintu ruangan diketuk.


Keduanya tersadar dan Rama buru-buru melepaskan tangannya kemudian menuju pintu.


"Loh kok ada Mas Boss disini?" tanya Mang Ujang.


"Emang kenapa?" tanya balik Rama.


"Katanya ga bisa ke Audah Hotel selama seminggu karena sibuk di HO" ucap Mang Ujang.


"Mumpung kerjaan di HO udah selesai, daripada gabut ya mending kesini, sekalian memantau Mang Ujang" jawab Rama dengan santai.


"Elehhhh... segala mantau .. bilang aja kangen sama istri. Lanjut ajalah Mas Boss, mumpung di Hotel, kamar banyak.. ngapain di kantor begini.. sempit ..hehehe" goda Mang Ujang.


"Mau ngapain ngetuk pintu tadi?" tanya Rama untuk membelokkan pembicaraan.


"Mau tanya Mba Izza pulang jam berapa" jawab Mang Ujang.


"Kan bisa tanya lewat telpon" kata Rama.


"Nah itu, HP Mamang keselip dimana ya tadi, udah satu jam nyari ga ketemu, makanya langsung kesini dulu buat bilang kalo HP Mamang ilang" jelas Mang Ujang.


"Jadinya hilang apa keselip?" tanya Rama.


"Ga tau juga Mas Boss... ga pasti" sahut Mang Ujang.


"Nyenyak tidurnya?" tanya Rama lagi.


"Siapa yang tidur sih Mas Boss" kata Mang Ujang.


"Kan ada kamar buat tidur, kenapa malah tidur di Musholla? diliat orang juga ga pantes, tempat ibadah kok buat tidur" oceh Rama.


"Mas Boss tau aja... jadi ga enak... Tapi emang lebih enak tidur di Musholla.. adem banget" jawab Mang Ujang.


"Kamar kan juga adem Mang, secara ini Hotel" ucap Rama.


"Mamang tuh lebih senang tidur dibawah gitu Mas Boss, kalo tidur di kasur rasanya kurang nyenyak" lanjut Mang Ujang.


"Alasan aja.. kita kan sekamar udah sering banget, Mang Ujang enak aja tuh tidur, sampe ngorok malah" ujar Rama.


"Panjang deh ngomelnya kaya emak-emak kalo uang belanjaan kurang.. " kata Mang Ujang.


"Saya sama Izza mau ada keperluan dulu, Mang Ujang pulang sendiri ya" pinta Rama.


"Mau kemana Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Mau tau aja deh.. oh ya .. nih HP nya, tadi terjatuh disampingnya Mang Ujang. Daripada diambil orang ya saya kantongin aja" jawab Rama dengan santai sambil mengembalikan HP nya Mang Ujang.


"Ngomong kek dari tadi.. sampe pusing bolak balik nyari HP" oceh Mang Ujang.


"Ayo Za kita jalan sekarang, nanti keburu jam orang pulang kerja bisa kejebak macet" ajak Rama.


"Terus saya pulang sendiri gitu Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Ya iyalah, masa mau ikut" jawab Rama cuek.


"Ga asyik nih Mas Boss, sejak udah nikah, saya jadi tersingkir. Dulu kemana aja saya dibawa" protes Mang Ujang.


"Ga usah kebanyakan cingcong ... pulang ya.. jangan ngelantur kemana-mana" ingat Rama sambil memberikan dua lembar uang seratus ribuan.


"Emang bestie paling paham deh" puji Mang Ujang.


Rama dan Izza menuju pintu keluar Hotel, mereka jalan berdampingan. Rama jalan sambil menerima panggilan telepon.


Setiap bertemu dengan karyawan Hotel, Izza tersenyum, Rama memberikan kode tangan.


Sesampainya di lobby, security memberikan kunci ke Rama kemudian membukakan pintu untuk Izza.


Mobil melaju kesalah satu Mall yang dekat dari Hotel. Tujuannya untuk membeli HP dulu, nanti baru cari tempat makan.