
Rama kembali ke kamar, Izza masih berdiri didekat jendela. Baru saja menutup sambungan teleponnya.
"Telponan sama siapa udah jam segini?" tanya Rama.
"Teman" jawab Izza mencoba untuk santai.
"Ada gitu teman nelpon dini hari.. urgent banget emangnya? orang bisnis aja jam segini udah ga ada yang hubungi" lanjut Rama sambil menuju kamar mandi untuk cuci kaki dan tangannya.
"Kalo orang telpon kan artinya urgent, kalo ga ada apa-apa ya mana mungkin nelpon. Lagi namanya keperluan kan ga kenal waktu, bisa pagi sore malam bahkan dinihari" jawab Izza mencoba untuk ngeles.
Rama keluar dari kamar mandi, wajahnya basah, sengaja ga dihandukin biar kering dengan sendirinya.
Rama langsung menuju tempat tidur, rasanya badan sudah minta untuk diistirahatkan.
"Tidur .. udah malam. Mau sampai pagi berdiri dekat jendela?" ujar Rama.
"Ya ... Kakak tidur aja duluan" jawab Izza.
"Mau kesini jalan sendiri atau digendong?" tanya Rama dengan muka serius dan gaya bicara seperti biasanya.
"Jalan sendiri aja" jawab Izza sambil menuju tempat tidur.
Sebenarnya Izza merasa was-was, malam ini Rama bisa berbuat lebih dari tindakannya yang tadi. Apalagi suasana lantai atas hanya ada mereka berdua. Hening dan senyap, ditambah Rama sudah mengakui jika ga bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Izza.
"Masuk sini kedalam selimut, atau ga mau pakai selimut? ya kalo ga merasa dingin ya gapapa" ujar Rama sambil membuka selimut agar Izza bisa masuk kedalamnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dinihari. Mereka baru mau mengistirahatkan tubuh masing-masing.
Izza menggeser banyaknya hingga hampir ke tepian ranjang.
Kamar Rama termasuk rapih untuk ukuran seorang lelaki yang ga banyak waktu di rumah. Padahal kamar ini tidak boleh dibersihkan jika tidak ada empunya kamar. Sesempatnya saja dibersihkan oleh para pekerja yang lelaki dan Rama menunggu didalam kamar saat proses pembersihan. Rama ga mau ada benda miliknya yang bergeser tata letak bahkan hilang.
Ornamen dan nuansanya tampak maskulin banget. Simple dan banyak memakai unsur kayu warna navy dan putih, jadi terkesan agak kaku. Kamarnya cukup luas, ada dua sisi jendela karena memang letak kamar ini dibagian pojok rumah. Hanya walking closetnya yang lebih modern, unsur kaca mendominasi, itupun dulu Mba Anin yang merancang ruangan tersebut, barengan sama renovasi kamar Mas Haidar saat menikah dengan Mba Anin.
"Kasur saya memang besar, waktu belum ada Sachi ya ga sebesar ini, tau sendiri kan Sachi kalo tidur muter kemana-mana. Daripada dia jatuh ya mending saya beli kasur lagi. Kamar ini sudah diperbesar dari aslinya. Awalnya ada tiga kamar, direnovasi menjadi dua kamar, kamar ini dan kamar Mas Haidar" jelas Rama.
"Oh gitu.. pantes besar banget buat ukuran lelaki single" jawab Izza.
Rama mencoba memejamkan matanya, Izza masih mengatur rasa baper yang sangat berlebih dalam otaknya.
"Dia yang melakukan eh kaya ga ada rasa bersalah sedikitpun, enak aja tidur tanpa beban. Ga ada kesan apa gitu udah melakukan ciuman tanpa ijin. Apa udah sering kali ya dia melakukan hal itu dengan para wanita, jadi biasa aja rasanya" gerutu Izza dalam hatinya.
Izza memunggungi arah tidur Rama sambil memeluk guling yang sangat empuk.
"Ya ampun... ini bantal dan guling mereknya apa ya? isinya juga apa sih? empuk banget kaya donat. Pantes Sachi bilang kalo tidur disini enak, bantal sama gulingnya empuk" kata Izza dalam hatinya.
Ketika akan memejamkan matanya, tangan Rama sudah merangkulnya dari belakang. Izza mulai ketar ketir. Mencoba serileks mungkin agar Rama ga merasa tersinggung atas penolakannya.
"Katanya mau tidur" ujar Izza mencoba santai.
"Ya tapi ingin memeluk kamu aja. De .. kenapa malam ini tubuhmu rasanya jadi candu yang ingin kurengkuh" jawab Rama sambil mencium pundaknya Izza.
"Kak.. udah janji kan kalo kita akan menjaga kesucian hingga pernikahan kita sah secara negara. Sambil kita berproses untuk belajar saling mencintai dan mengerti satu sama lain. Kenapa sekarang malah jadi ga sabar?" ucap Izza.
"De... dari kecil, pelukan hanya datang dari Mba Mentari dan Mas Haidar. Saat Mba Mentari tiada, praktis hilang sudah pelukan itu. Ditambah Mas Haidar berkutat dengan kesehatannya. Hampir enam tahun tanpa pelukan kecuali sama Sachi. Sama Papi pun belum lama ini, baru setelah Papi berubah. Sebelumnya kan kita juga sudah pernah berpelukan, ya gapapalah sekarang mengulangi hal tersebut. Saat itu ga ada hasrat selain hanya ingin menyelamatkan kamu. Sekarang setiap hari kita bertemu, makinlah timbul hawa nafsu dalam diri. Ga bisa dinafikan kalo Kakak adalah pria dewasa yang normal. Yang merasakan sensasi tersendiri jika melihat wanita, apalagi statusnya sebagai istri. Tiap hari kita tidur bareng, mendapatkan perhatian, berbincang hingga sekedar lirikan saja sudah memberikan kesan yang membahagiakan. Terlalu cepat mendefinisikan apa ini cinta atau sekedar terbius pesona. Kakak ga mau melanggar janji yang terucap untuk menjaga hubungan kita hingga nanti. Tapi entah seberapa kuat mampu menahan keinginan untuk bersenang-senang atas tubuh kamu De" bisik Rama yang membuat Izza bergidik geli.
"Makanya kita ga usah sekamar, jadinya ga timbul hasrat yang kaya gitu. Kalo ada Sachi bolehlah kita tidur bareng kaya biasa. Namanya juga manusia Kak, ada kala sulit mengontrol emosi, menahan diri bahkan terlupa akan janji" jawab Izza.
"Masih marah ya sama ciuman yang tadi Kakak lakukan?" tanya Rama memastikan.
"Mau marah juga salah, toh Kakak kan suami. Ga marah juga rasanya ya pengen marah... first kiss itu harusnya bisa dinikmatin oleh dua insan yang saling cinta, jadi ga didasari hawa nafsu semata" papar Izza.
"Maaf ya... cuma itu yang bisa Kakak ucapkan, permintaan maaf ini bukan berarti menyesal sudah mencium kamu tadi. Tapi permohonan untuk kita saling membuka hati. Mulai sekarang, Kakak akan panggil kamu De.. ga pake panggilan yang kaku lagi, selama kamu nyaman manggil Kakak ya silahkan aja. Atau kalo nanti ada panggilan sayang juga gapapa, senyamannya kamu pokoknya. Kita harus berupaya menjadi pasangan layaknya suami istri pada umumnya. Ingatkan Kakak jika ada yang salah langkahnya.." mohon Rama dengan suara yang sangat halus.
Izza membalikkan tubuhnya menghadap Rama. Bukannya mundur, Rama malah makin melekatkan tubuhnya dengan tubuh Izza.
"Janji untuk selalu tidur sekamar ya ... please De.. gimana kita mau kenal satu sama lain kalo ga sering pillow talk kaya gini. Tau sendiri kan kalo Kakak sibuk dari pagi sampai malam, butuh penyegaran dan hiburan. Semua itu hanya ingin didapatkan di rumah. Bersama kamu dan Sachi. Kita coba ya mulai hari ini" pinta Rama tulus.
"Seorang Kak Rama, lelaki yang kaku sekarang mendadak romantis.. antara kesadaran dalam diri sendiri atau ada faktor dari luar yang memaksa untuk berubah? Tapi biasanya kalo lelaki tetiba mesra sama pasangannya, ada sesuatu dan biar ga ketahuan sama pasangannya" ungkap Izza blak-blakan.
"Inilah yang membuat Kakak suka kalah kalo berdebat sama anak komunikasi.. semua aspek bisa dibaca. Apa sih yang mau Ade ini ketahui tentang seorang Rama?" pancing Rama sambil tersenyum manis.
"Ada apa sampai Kakak berubah kaya gini? pertanyaan sesimple itu, tapi dari tadi muter-muter aja ga mau jawab. Come on Kak.. kalo cuma alasan untuk bersenang-senang dan meminta haknya sebagai suami .. Kakak bisa dengan mudah dapatkan, entah dari saya atau wanita yang bisa Kakak bayar" ucap Izza.
"Wow... tantangan atau pernyataan nih? oke kita bikin jadi simple seperti yang tadi kamu dibilang.. sebagai seorang lelaki... Kakak tertarik sama kamu De. Sebagai suami.. bukankah Kakak punya hak untuk bercumbu mesra dengan istri sendiri? Sebagai pebisnis.. Kakak butuh orang yang tepat untuk belajar cara berkomunikasi yang baik serta paham gaya komunikasi Kakak seperti apa. Sebagai seorang Ayah.. ingin tau juga bagaimana cara seorang Izza bisa mencuri hatinya Sachi secepat ini. Sebagai seorang anaknya Papi.. Kakak diminta untuk memberikan status yang jelas sama kamu di rumah ini. Dan sebagai anaknya Mami... saya ... saya .." Rama mulai agak tersendat ketika menyebut kata Mami.
Rama langsung duduk dan beranjak dari ranjang. Kemudian dia masuk ke ruang walking closetnya.
Izza buru-buru duduk, kemudian memperhatikan Rama yang datang membawa sebuah buku diary berwarna coklat bernuansa rustic. Lumayan agak tebal buku yang ada dalam genggaman Rama.
"Sorry if I've been painting the wounds in your heart, make you sad, painted tears. Please forgive me (maafin kalo saya udah menorehkan luka dihatimu, membuat kamu sedih, melukis air mata diwajahmu. Tolong maafin saya)" ucap Rama sambil menyerahkan buku diary ke Izza.
Izza menerimanya tapi ga berani membuka sebelum diijinkan sama Rama.
"Itu diary Mami.. ditemukan tiga hari setelah kita menikah. Ketemu saat Kakak meminta gudang file kantor dirapihkan. Ternyata diary ini keselip, ya hampir seusia Kakak. Kemungkinan dulu ada di ruangannya Papi dan ga sengaja tertumpuk dengan dokumen lain. Sudah tamat Kakak baca diary itu. Puzzle tentang siapakah Izza yang selalu berhasil mencuri perhatian Kakak sedikitnya ada gambaran untuk tau alasannya. Keberatan ga kalo kita menunggu subuh sambil berbincang? Toh Sabtu kita libur, ga ada kegiatan dan Sachi juga lagi pergi. Jadi kita bisa tidur sepuasnya setelah selesai sholat subuh" kata Rama sambil duduk disebelahnya Izza.
"Kalo menurut Kakak memang baik dibicarakan sekarang ya silahkan aja. Toh kita punya waktu buat tidur lagi hari ini" jawab Izza.
"Sebaiknya memang rumah tangga kita dibangun dari rasa saling percaya. Sejak Kakak memutuskan melamar, Kakak sudah paham semua konsekuensinya. Berjalan di kapal yang sama tapi tanpa rasa saling percaya pasti sulit" buka Rama.
Izza mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Ada yang mau ditambahkan?" tanya Rama.
"Ketika Kakak melamar ya pasti bingung, hingga pada akhirnya konflik kepentingan yang membuat lamaran itu Izza terima. Sejak akad, berusaha mengubah mindset, menekankan dalam diri untuk siap menerima segala yang ada pada Kak Rama, berusaha menyiapkan diri menjadi makmum yang baik untuk Kakak. Jujur aja ya, siapa yang ga tertarik sama pria seperti Kak Rama... nyaris sempurna. Rasa minder dan khawatir pasti ada dibenak Izza, apakah bisa menjadi pasangan yang layak buat Kak Rama? Banyak yang sudah Kakak lakukan untuk Izza, bahkan mampu memotivasi untuk melakukan hal-hal luar biasa dalam hidup ini. Marah dan benci saat Mba Gita ditahan polisi, apalagi itu atas aduan Kakak. Tapi sekarang baru terpikir, bukankah harusnya bersyukur? bukan bersyukur berpisah sama Mba Gita, tapi bersyukur Mba Gita bisa lepas dari jerat obat terlarang dan berhenti melakukan kejahatan lainnya yang memang sulit termaafkan. Kalo Mba Gita dibiarkan terus bebas, mungkin akan banyak lagi timbul korban atas segala obsesinya" kata Izza terus terang.
"Ya... begitulah tujuan utamanya. Banyak karyawan yang kena PHK akibat dari fitnahnya. Saatnya menegakkan kebenaran di Abrisam Group" jawab Rama yakin.
"De.. buka deh galeri foto di HP ini. Sudah dirapihin dalam satu folder" ucap Rama sambil menyerahkan HPnya.
Izza menerima HP nya Rama.
"Passwordnya tanggal lahir kamu" bisik Rama lagi.
Izza menjalankan instruksinya Rama. Begitu folder foto yang bertuliskan Izza dibuka, langsung dia kaget banget. Rama melihat ekspresi wajah Izza yang berubah.
Rama kembali menggeser bantalnya dan lebih merapatkan duduknya disebelah Izza, digenggamamnya tangan Izza dengan tangannya.
"Ini orang tua kamu kan De? Orang tua kita sudah kenal jauh sebelum kita bertemu. Saat itu juga Papi belum seperti sekarang kondisinya dan bertempat tinggal bukan disini. Bahkan Bapak kamu sempat kerja sama Papi sebelum pergi tanpa kabar membawa sejumlah uang perusahaan. Mami sering pesan makanan rumahan sama Ibu kamu, katanya enak masakannya. Ketika Mami tiada, hubungan dengan Ibu kamu ga putus karena Papi masih mengaktifkan nomer HPnya Mami. Kadang kala menyapa orang-orang yang Mami kenal. Selama menyelidiki Mba Gita, orang-orang suruhan Kakak banyak menemukan foto, tapi sosok yang ga Kakak kenal sama sekali. Bahkan ga pernah ingat kalo Kakak pernah kenal sama mereka semua. Foto-foto ini tersimpan dalam laptop Papi puluhan tahun. Suatu hari Papi kembali bertemu sama Ibu kamu yang sedang bekerja jadi penjaga warung pinggir jalan. Saat itu Papi ingin beli air mineral dan masih jelas ingat wajahnya walaupun sudah ga ketemu selama beberapa tahun. Ibu tengah menggendong kamu De .. kata Papi baru melahirkan seminggu tapi terpaksa ikut kerja karena ga ada yang jaga di rumah. Papi minta nomer HP Ibu kamu dan memberikan kartu namanya, bukan untuk menangkap Bapak kamu. Tapi ingin membicarakan tentang perjodohan Kakak sama salah satu anaknya, ya Papi ga tau yang dimaksud itu Mba Zizi atau kamu yang saat itu masih bayi merah. Papi ingin memastikan aja, agar keinginan Mami bisa terpenuhi" jelas Rama.
Izza kembali membuka foto-foto dalam folder tersebut.
"Papi coba menghubungi nomer yang dikasih sama Ibu kamu, tapi ga bisa dihubungi. Udah ga kerja di warung itu lagi. Sebulan kemudian, ga sengaja ketemu saat melintas di jalan, kata Papi .. maaf ... lagi mulung kardus dan botol plastik sambil gendong kamu. Nah foto ini, anak lelaki yang menggendong bayi usia belum genap dua bulan itu Kakak. Papi ajak Ibu kamu makan, jadi biar makannya nyaman, kamu diserahkan ke Papi dan gantian sigendong deh sama Kakak. Next ada loh foto saya cium kamu karena gemes...liat deh" ujar Rama sambil menyentuh layar HP nya.
Izza melihat foto yang dimaksud. Ada senyum tersungging dibibirnya sekaligus tetesan air mata melihat betapa lahap Ibunya makan saat itu.
"Pantas aja Kakak merasa ada sebuah ikatan dengan kamu De.. karena dari kecil pun Kakak sudah sayang sama kamu, hehehe.. jodoh itu lucu ya kalo dipikir-pikir" terang Rama.
Izza terus melihat deretan foto-foto di HP nya Rama. Foto yang diabadikan oleh Pak Isam dan supirnya Pak Isam saat itu.
"Karena lost contact lagi, akhirnya Papi menyimpan semua cerita ini. Ga pernah ngomong ke siapapun tentang kisah perjodohan kita. Kebayang ga... kita jadi pasangan seperti ini ternyata sudah dirancang sejak kita kecil. Di diary Mami pun jelas, ingin Kakak bisa menikah dengan salah satu anak Ibu kamu De... walaupun saat merancang hal itu Mami masih mengandung Kakak dan kamu belum diproduksi... hehehe. Ketika takdir berkehendak lain, Mami meninggal setelah melahirkan Kakak dan keluarga kamu entah kemana. Mana ada yang bisa prediksi bakalan ada kamu di dunia ini kan? jadinya kisah perjodohan ini menguap begitu saja. Semua sudah Kakak konfirmasi ke Papi, akurat sekali cerita ini. Allah Maha Pengatur Segalanya, bisa mempertemukan kita dengan cara yang ga terduga" papar Rama.
"Ini benar Kak?" tanya Izza meyakinkan.
"Kalo ada waktu.. baca aja diary Mami. Beliau menulis secara indah ceritanya, bahkan punya keinginan jika punya anak perempuan lagi, mau dikasih nama Fayza Noor Zaina. Sepertinya Ibu kamu terinspirasi dengan nama itu. Jadi menyematkan nama yang disiapkan Mami untuk anaknya kelak. Ternyata terwujud kan .. punya menantu yang namanya Fayza Noor Zaina. Sejak tau semua ini, Kakak bergelut dengan berbagai rasa, merangkai semua cerita agar ga salah langkah. Demi mewujudkan keinginan Mami, Kakak harus bisa belajar menerima bahkan mencintai kamu De.." ujar Rama.
"Jadi kangen sama Ibu... sampe begitu berjuangnya buat keluarga.. Ya Allah.. andai Ibu liat Izza yang sekarang pasti bangga.. Belum sempat Izza memberikannya sesuatu ke Ibu.. tapi Ibu sudah pergi duluan" ucap Izza dengan mellownya.
"Semoga Ibu dan Mami tersenyum melihat kita ya De.. menjalankan amanah mereka berdua" kata Rama sambil melingkarkan tangannya ke bahunya Izza.
Izza menyenderkan kepalanya ke dadanya Rama. Sudah terasa sesak menahan tangis yang ada.
"De.. tapi jangan marah ya kalo Kakak tanya sesuatu.." lanjut Rama.
"Mau tanya apa Kak?" tanya Izza.
"Tiga hari yang lalu, Kakak dapat kiriman foto kamu sama seorang lelaki, dalam bentuk flashdisk dan cetak. Dikirim ke kantor, jadi pengirim tau kalo Kakak kerja disana" ujar Rama.
Rama mengambil amplop yang ada disamping tempat tidur. Kemudian menyerahkan ke Izza.
Izza membuka amplop coklat tersebut. Kaget melihat lembaran foto yang ada.
"Ini Mas Boy... Mba Gita bilang ini sepupunya, dikenalin dari saat saya diangkat adik sama Mba Gita. Ga ada apa-apa diantara kami. Saya dulu emang belum berjilbab, tapi sejak Mas Boy sering main ke rumah Mba Gita, saya akhirnya terpacu pake jilbab buat lindungin diri saya" jelas Izza.
"Menutup aurat karena alasan itu?" tanya Rama heran.
"Yup... saat itu saya kan baru kelas tiga SMP yang masih labil dan belum aktif belajar agama. Tapi hati saya tergerak buat nutup aurat aja dulu" jawab Izza mengingat-ingat.
"Terus... kenapa ada foto Boy tidur sama kamu dan Mba Gita?" tanya Rama lagi.
"Mba Gita kadang minta ditemenin tidur. Malah Izza ga tau pernah tidur bertiga... beneran deh" jawab Izza meyakinkan Rama kalo dia ga berbohong.
"Kamu tuh sebenarnya udah sering juga dicekokin ganja selama ini ..." buka Rama.
"Saya ga pernah nyentuh barang haram itu Kak" kata Izza membela diri.
"Memang kamu ga sentuh, tapi dicampur ke minuman atau makanan kamu, sama kaya Papi yang awalnya ga tau. Makanya kamu nurut banget sama Mba Gita, karena udah dalam pengaruh ganja, kalo kamu mulai ga nurut pasti dicekokin lagi. Ini pengakuan Mba Gita sendiri" jelas Rama.
Izza mulai bergetar tubuhnya, rasanya kaya dicemplungin ke kolam renang yang isinya es batu, badan jadi dingin membeku. Bagaimana bisa barang haram itu masuk ke tubuhnya tanpa dia sadari.
"Sabar ya... tenang ... tarik nafas.. semua sudah berlalu" ucap Rama sambil mengusap kepalanya Izza.
"Tapi Izza... tapi Izza ... ahh... ga tau sama sekali Kak... " ujar Izza udah mulai panik.
Rama kembali memeluknya, memberikan kehangatan agar Izza bisa tenang.
"Makanya, setelah bukti-bukti kejahatan Mba Gita udah ditangan, Kakak langsung gerak cepat lapor ke Polisi. Biar Mba Gita bisa segera ditahan dan kamu terbebas dari belenggu dia. Kakak ga mau ada korban kejahatan Mba Gita De.. sama seperti Mba Nay yang juga diberikan barang haram itu. Satu-satunya cara menyelamatkan kamu dengan menikahi kamu. Tapi ga mungkin saat itu mengajak nikah gitu aja.. pasti kamu nolak. Makanya dengan dalih menukar kasus Mba Gitalah satu-satunya cara biar kamu setuju nikah sama Kakak. Boy itu setelah Mba Gita ditangkap, dia mengejar kamu ... Boy adalah salah satu kurirnya Mba Gita, mereka terlibat perdagangan barang ilegal itu. Rencananya kamu akan dijadikan pengedar, menggantikan Mba Gita. Kakak ga mau ada wanita baik yang jadi korban, makanya Kakak harus melindungi kamu secepatnya, kalo kamu masih di Panti Asuhan, susah buat lindungin kamu. Kalo kita nikah kan udah pasti bisa pantau kamu terus" kata Rama masih sambil memeluk Izza, kepala Izza pun bersandar didadanya Rama dengan nyaman.
Izza menumpahkan air matanya disana. Ada rasa takut menerpa.
"Lima tahun terpapar barang haram.. Ya Allah...." ucap Izza ga percaya, isak tangisnya malah tambah kencang.
"Ssstt.. Tenang ya De.. nanti dikira orang rumah kita lagi bertengkar" kata Rama terus mencoba menenangkan.
"Kak Rama percaya sama Izza? Izza ga tau Kak.. bahkan Izza juga ga tau apa sudah pernah berhubungan badan atau belum dengan Mas Boy... benar-benar Izza ga tau... Izza ga sadar Kak" ucap Izza makin menangis.
"Istighfar De... Astaghfirullahal'adzim.... Astaghfirullahal'adzim..." bimbing Rama.
"Astaghfirullahal'adzim... Astaghfirullahal'adzim" ucap Izza dengan nada bergetar.
"De... Kakak akan terima kamu apa adanya. Mau kamu masih suci atau ga, ga jadi masalah. Kakak ga menilai wanita dari sisi itu. Kamu tau kan kalo Kakak pernah berniat menikahi wanita yang sedang hamil anak Mas Haidar? dari situ bisa kamu simpulkan kalo Kakak ga pernah mempermasalahkan hal itu. Bagi Kakak.. menilai wanita itu saat hati bisa berdesir setiap kehadirannya, ketika melihat senyumannya terasa tenang menyejukkan pikiran, tiap berjumpa seperti saat siang terik kemudian wanita itu bagaikan payung yang membuat jadi teduh, saat malam memimpikannya menjadi kehangatan yang membuat nyenyak untuk tidur. Semua itu hanya Kakak rasakan sama kamu De.. belum ada wanita manapun yang bisa seperti itu .. maaf.. sekalipun itu Mba Nay, wanita yang pernah Kakak cintai setengah mati" ungkap Rama sambil mengeratkan pelukannya.
"Kak... cuma satu untuk membuktikannya.." ujar Izza penuh rasa kecewa.
"Membuktikan apa?" tanya Rama ga paham maksudnya Izza.
"Sekarang tunaikan apa yang menjadi hak Kakak terhadap Izza. Izza ikhlas Kak. Apapun kebenarannya.. Izza serahkan ke Kakak" pinta Izza.
Izza melepaskan pelukannya Rama. Kemudian membuka satu persatu kancing di piyama panjangnya.
Rama ga berkutik, secepat mungkin dia harus berpikir keras untuk memutuskan apakah harus sekarang dia mengambil haknya atas tubuh Izza.