HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 74, Related to each other



Izza sedari subuh udah bergulat dengan cucian, semua dicuci secara manual karena mesin cuci tua milik Panti Asuhan sudah rusak.


"Assalamualaikum aunty Izzaaaa... " panggil Sachi kegirangan.


"Waalaikumsalam... Sachiiii ... " sahut Izza.


Sachi langsung memeluk Izza.


"Aunty lagi apa?" tanya Sachi bingung.


Sachi memang tidak pernah melihat orang mencuci secara manual, dia pernah melihat asisten rumah tangga di rumah mencuci pakai mesin cuci.


"Ini namanya mencuci .. kamu ga usah bantuin ya, didalamnya ada deterjen yang ga cocok sama kulit anak-anak" jawab Izza.


"Maaf ya Za .. pas Sachi bangun tidur, saya kasih tau kalo diundang nginep sama aunty Izza, eh dia langsung ga sabar minta kesini, padahal saya bilang nanti sore aja" jelas Mas Haidar.


"Gapapa Mas.. ini saya tinggal bilas cucian aja terus dijemur deh" jawab Izza.


"Didalam tas ada makanan dan susunya Sachi, ada makanan juga buat anak-anak yang lain. Saya ga bisa lama nih, mau cek toko dulu" kata Mas Haidar sambil menyerahkan tas ke Izza.


"Ya gapapa Mas ... " jawab Izza.


"Nanti saya kirim kontak pengasuhnya Sachi ya, kalo ada apa-apa bisa tanya sama Nur" kata Mas Haidar.


"Iya Mas" ucap Izza.


"Saya pamit dulu ya Za ... Sachi jangan nakal ya, assalamualaikum" ucap Mas Haidar sambil memeluk dan mencium pipinya Sachi.


"Waalaikumsalam.." jawab Sachi dan Izza kompak.


"Dadah Papa ... Sachi nginep sama aunty Izza dulu. Jangan lupa bilang ke Ayah Rama ya kalo Sachi bobo sama aunty Izza" kata Sachi.


"Ya .. nanti Papa telepon ya Ayah Ramanya" jawab Mas Haidar.


.


Sachi duduk didepannya Izza yang lagi membilas cucian.


"Aunty Izza ga ada yang bantuin? kalo di rumah Sachi ada yang cuci baju dua orang. Pakai mesin cuci, bukan pakai kayu seperti ini" kata Sachi.


"Yang lainnya lagi bagi-bagi tugas, jadi aunty sendirian deh nyucinya. Liat kan ada yang lagi bersih-bersih, ada yang masak ... kita disini pokoknya kerja bareng-bareng saling bantu kalo yang sudah selesai" jawab Izza.


"Aunty ... Sachi kangen Ayah ... Aunty Izza punya nomer HPnya Ayah?" tanya Sachi.


"Baru datang kok udah kangen Ayah. Emangnya Sachi ga ketemu sama Ayah semalam?" tanya balik Izza.


"Ketemu, malah tidur sama Sachi, tapi tadi pagi Sachi bangun adanya Papa Haidar, Ayah udah kerja katanya" jawab Sachi dengan lancar.


"Nanti ya kalo udah selesai jemur baju, HP nya lagi dicharge di kamar" janji Izza.


"Makasih aunty Izza" kata Sachi.


Izza mulai menjemur baju, Sachi membantu mengambilkan baju yang akan dijemur dari ember.


"Kalo Lilis itu adiknya Mba Nay, berarti Sachi keponakannya Lilis dong. Ya Allah... dunia terasa sempit" kata Izza dalam hatinya.


"Aunty ... bajunya Sachi basah" adu Sachi.


"Bawa baju kan? nanti ganti ya, yang ini bisa dijemur dulu biar nanti bisa dipakai lagi, belum kotor kan?" kata Izza.


"Belum.. cuma basah" jawab Sachi.


Setelah menjemur baju, Izza mengajak Sachi ke kamar dan menggantikan bajunya Sachi yang basah. Didalam tasnya Sachi ada beberapa baju dan keperluan Sachi.


"Udah hampir jam dua belas, nanti kita sholat berjama'ah dulu ya, habis itu makan siang bareng sama teman-teman. Setelah makan, boleh main sebentar terus bobo siang ya. Tadi Mba Nur udah bilang kalo Sachi rutin tidur siang" ujar Izza.


"Iya aunty" jawab Sachi nurut.


"Sachi jadi mau telepon Ayah?" tanya Izza.


"Nanti aja .. Sachi kan mau sholat dulu" jawab Sachi.


🍒


Rama sudah balik ke rumah jam dua siang, sangat sepi rumahnya.


"Sachiiiiiii... Ayah pulang ... Sachiiii .. mana sih anak Ayah" kata Rama sambil berteriak-teriak.


Tidak ada sahutan.


"Sachiiiii" panggil Rama lagi.


Rama duduk di sofa bawah tangga. Membaringkan tubuhnya yang terasa letih.


"Maaf Mas Rama, Sachinya ga ada di rumah" adu Mba Nur yang datang tergopoh-gopoh kearah Rama.


"Kemana dia?" tanya Rama.


"Diajak sama Mas Haidar ke Panti Asuhan, katanya mau nginep disana sama Mba Izza" jawab Mba Nur.


"Nginep di Panti??? kok ga ada yang ijin ke saya. Kapan berangkatnya?" kata Rama kaget.


"Tadi pagi habis Sachi sarapan, dia ga sabar mau ketemu sama Mba Izza. Mungkin Mas Rama bisa hubungi Mas Haidar, saya hanya menyampaikan saja" ujar Mba Nur rada takut mendengar suara Rama yang meninggi.


Rama berusaha menelpon Mas Haidar tapi ga diangkat. Dia langsung kembali ke mobilnya dan melajukan mobil kembali ke jalanan. Tujuannya adalah Panti Asuhan untuk menjemput putri tercintanya.


"Susah payah kuselamatkan Sachi sewaktu lahir agar ga jadi penghuni Panti Asuhan, eh sekarang malah diajak nginep. Ide siapa sih ini? Berani-beraninya ajak nginep Sachi tanpa permisi" kata Rama berteriak sendiri di mobil.


Dalam perjalanan menuju Panti Asuhan, Alex menelpon Rama. Dia kembali melaporkan penyelidikan terbaru.


"Benar informasi dari Boss .. Mba Izza adalah adik seayah dengan Mba Gita. Orangtuanya Mba Izza meninggal dalam peristiwa kebakaran yang terjadi lima tahun silam. Tapi memang itu kebakaran pasar Boss. Letak rumahnya dibelakang pasar, jadi ikut kena musibah. Kejadiannya sekitar Maghrib, banyak warga yang sedang sholat dan tidak siap melarikan diri" lapor Alex.


"Apa dia ga tau siapa Mba Gita sebenarnya?" tanya Rama.


"Saya rasa tidak tau Boss. Peristiwa kebakaran tidak terjadi di Jakarta tapi di Bekasi" jawab Alex.


"Yakin Izza tidak kenal sama Mba Gita dan tidak termasuk jaringannya?" tanya Rama.


"Untuk yakin seratus persen harus ditanyakan ke Mba Izza langsung Boss. Tapi semua informasi yang saya dapatkan tidak ada nama Izza didalamnya, dia clear" jawab Alex.


"Saya ga perlu bayar kamu kalo ujung-ujungnya harus tanya sendiri ke Izza. Kamu kan profesional dibidang ini, kenapa begitu cara jawabnya" omel Rama.


"Maaf Boss ... satu lagi Boss. Orang yang disuruh sama Mba Gita untuk membakar rumahnya Mba Nay adalah Kakak kandungnya Mba Izza" ujar Alex.


"Apa???? dapat berita ini dari mana?" tanya Rama kaget.


"Kakaknya Mba Izza yang pertama itu adalah salah satu anak buahnya Mba Gita dalam pengedaran obat terlarang. Mereka tau kalo seayah beda Ibu. Dia sudah ditahan, lima tahun yang lalu, tertangkap tangan karena kedapatan membawa serarus gram bubuk haram di Bandara dan akhirnya dipenjara. Informan saya sekarang satu sel dengan Kakaknya Mba Izza" lanjut Alex.


"Terus bisa tau itu Kakaknya Izza dari mana?" tanya Rama.


"Dia yang cerita Boss, malah minta tolong sama saya buat lindungin adiknya yang sekarang seorang diri. Zizi namanya, dia kasih foto adiknya ke saya, persis banget sama Mba Izza. Nanti saya kirim foto tersebut ke Boss ya" jawab Alex.


"Gini deh Lex .. saya ga paham sama cerita kamu, kita ketemu di apartemen saya yang di Rasuna Said ya, setengah jam lagi saya sampai disana" ujar Rama.


🏠


"Aunty ga bobo siang?" tanya Sachi yang sudah dalam posisi rebahan di kasurnya Izza.


"Ga .. aunty Izza mau nyetrika habis ini, tapi tenang aja, nyetrikanya disini kok, jadi bisa sambil nungguin Sachi bobo" kata Izza.


"Kok kamarnya ga ada tempat tidur? cuma ada kasur tipis sama lemari baju yang kecil aja?" tanya Sachi dengan polosnya.


"Iya ..."Izza bingung jawabnya.


"Gerah ya, kipasnya kecil banget. Kamar aunty ga ada AC ya? kalo kamar Sachi ada AC nya" ucap Sachi.


Izza menyiapkan perlengkapan untuk menyetrika baju. Pintu kamar dibuka agar Sachi ga kegerahan.


"Aunty ... kenapa disini anak-anak kaya Sachi, ga punya Mama, eh ga punya Papa juga deh" tanya Sachi polos.


"Karena Mama dan Papa mereka sudah di surga" jawab Izza.


"Sama kaya Mamanya Sachi?" tanya Sachi lagi.


"Sachi tidur dulu aja ya, nanti kita ngobrol lagi" ajak Izza mengalihkan pembicaraan.


Ga lama kemudian Sachi sudah terlelap dalam tidurnya. Izza yang mengusap punggungnya dan ngipasin tubuh Sachi pakai koran.


🍒


Rama dan Alex bertemu di Apartemen milik Rama (pemberian dari Kakeknya, jadi semua cucu dikasih masing-masing satu unit).


"Ini rekaman pembicaraan sama Zizi, kemarin saya ketemu di lapas" kata Alex sambil menyerahkan rekaman suara Zizi yang ada di HPnya.


Rama mendengarkan dengan wajah serius.


#Tolongin saya Bang Alex, katanya Yati (temannya Alex yang dipenjara karena jadi kurir narkoba) Bang Alex ini Bossnya sedang bermasalah sama Mba Gita. Saya udah tau kalo Mba Gita sedang ditahan. Udah rame disini, dia tuh termasuk bandar besar Bang#.


*Kalo gw punya Boss apa urusannya sama lo?*.


#Berarti saya ga sendirian Bang masuk penjara. Hidup saya dirusak sama Gita, jadi saya harap Bossnya Bang Alex bisa jeblosin dia yang lama tuntutannya. Dengan ditangkapnya Gita, rasanya dendam saya terbalas#.


*Lo ditangkap karena apa?*.


#Narkoba Bang, saya dijebak Gita. Saya ga tau kalo bawa obat sampe seratus gram, bilangnya obat jantung buat temannya di Batam. Saat itu saya mau karena habis disuruh bakar rumah orang, saya takut ketahuan karena adiknya melihat wajah saya, Gita itu biang kerok. Mungkin karma kali ya, gantian rumah saya juga kena musibah kebakaran, hanya saya dan adik yang lolos, saya anter dia ke Panti Asuhan jauh dari Bekasi biar aman. Saya janji bakal jemput dia .. saya ga minta dibebasin Bang, lebih aman disini dibandingkan diluar. Kalo diluar saya pasti dibunuh. Tapi tolong lindungi adik saya satu-satunya, dia pasti sekarang diburu sama Big Boss#.


*Siapa nama adik lo?*.


#Nama panggilannya Izza, dia diangkat adik sama Gita. Izza ga tau kalo Gita dan dia itu seayah. Saya ga punya akses ketemu sama Izza. Dia ga tau saya ditangkap dan di penjara#.


*Bisa ceritakan tentang Gita*.


#Namanya Gita Bang, Sekretarisnya seorang Boss di Abrisam Group, konon katanya itu perusahaan milik orang kaya raya. Gita rupanya tau keberadaan Izza, dia angkat jadi adik, buat jaminan. Setelah saya tertangkap, Gita sengaja menyandera Izza dalam tanda kutip. Kalo saya berani buka mulut tentang jaringan narkotika termasuk Gita, maka habislah Izza#.


*Apa keuntungannya gw kalo nolongin lo?*.


#Saya akan ikutin semua perkataan Abang, apa aja yang disuruh saya mau. Tapi tolong jagain Izza. Disini banyak juga jaringan Big Boss, saya akan bantu apapun informasi yang Bang Alex butuhkan#.


*Mana foto Izza? terus dia ada di Panti Asuhan mana*.


Zizi memberikan satu-satunya foto Izza ke Alex dan memberitahukan nama Panti Asuhan yang dimaksud.


Kini foto tersebut sudah ada ditangan Rama.


"Oke ... saya paham.. kita ikuti permintaannya, dia akan jadi kartu As untuk kita... Siap-siap makin lama Mba Gita membusuk didalam penjara" ucap Rama geram.


"Baik Boss .. bagaimana rencananya untuk Mba Izza Boss? saya tunggu arahannya" kata Alex.


"Saya akan handle dia dulu, kalo ada apa-apa, saya akan kasih tau. Keluarga keparat ... Mba Gita secara ga langsung sudah menghilangkan nyawa wanita yang berharga dalam hidup saya. Sekarang saatnya mereka merasakan balas dendam atas nama Mba Nay. Jangan mimpi bisa tidur nyenyak lagi" seringai Rama disertai gebrakan keatas meja.


"Baik Boss ... saya pamit dulu" ucap Alex.


"Thanks .. nanti saya hubungi lagi kalo perlu sesuatu" ujar Rama.


"Siap Boss" kata Alex.


.


Sore hari Sachi tampak bahagia berlarian main petak umpet dengan anak-anak Panti Asuhan. Sachi belum pernah main ini, jadi dia sering kebagian yang jaga karena ketahuan kalo bersembunyi. Sachi ga bisa diam mulutnya karena terus tertawa bahagia.


Keringat membanjiri tubuh Sachi yang padat berisi. Karena ga pernah secape ini, muka Sachi memerah dan batuk-batuk. Izza langsung menghampiri.


"Udah dulu mainnya, istirahat ya" ajak Izza.


Izza memberikan air putih untuk Sachi dan mengajak kembali ke kamar untuk ganti baju.


"Aunty ... apa aunty punya Mama Papa?" tanya Sachi.


"Dulu ada ... sekarang sudah ga ada" jawab Izza sambil memakaikan Sachi baju.


"Aunty sedih ga?" tanya Sachi lagi.


"Sedih kenapa?" ujar Izza ga paham.


"Pernah ga dibilang sama temannya aunty kalo aunty itu ga punya Mama?" kata Sachi dengan bahasa khas anak-anak.


"Ada yang bilang begitu ke Sachi?" tanya Izza balik.


"Ada .. Sachi sudah bilang ke Ayah dan Miss Riva (gurunya Sachi), tapi teman Sachi tetap bilang Sachi ga punya Mama" jawab Sachi.


"Jadi belakangan ini Sachi suka malas sekolah, susah makan dan gampang ngambek itu karena Sachi dikatain sama teman?" kulik Izza.


"Iya ... Ayah juga udah ga sayang sama Sachi. Ayah lupa sama anaknya" lanjut Sachi.


"Lupa? masa Ayah lupa sama anak cantiknya ini. Sachi tau kan kalo Ayah kerja" jawab Izza.


"Papa Haidar juga kerja, tapi pulang setiap hari sebelum Sachi tidur. Ayah ga pernah ajak Sachi nonton lagi, ga nemenin belajar, Sachi mau tidur Ayah belum pulang, nanti kalo bangun tidur.. Ayah udah kerja" jelas Sachi.


"Sachi ... harusnya Sachi bersyukur banyak yang sayang. Walaupun Ayah ga bisa nemenin ke bioskop, ga bisa nemenin belajar dan lainnnya, Ayah minta tolong ke Papa Haidar atau Mba Nur buat gantiin dulu" papar Izza.


"Sachi ga mau sekolah kalo masih ga punya Mama. Ayah pernah bilang kalo mau cari Mama. Ayah bohong ... Ayah jahat ..." kesal Sachi.


"Sachi udah bilang ke Ayah kalo Sachi ga mau sekolah lagi?" tanya Izza.


"Udah ... dan Ayah marah" jawab Sachi.


"Ayah kan sayang sama Sachi, pasti marah kalo Sachi ga mau sekolah, Ayah ingin Sachi jadi anak pintar, makanya Sachi harus sekolah" jelas Izza.


"Sachi tinggal disini aja, disini banyak teman-teman. Kalo di rumah semua adanya orang dewasa" ujar Sachi merengut.


Rama dan Ibu Panti Asuhan sedang mendengarkan perbincangan Sachi dengan Izza dari balik pintu.


Emosi Rama yang sudah meledak ke Izza langsung surut karena baper sama perkataan Sachi.


Ibu Panti Asuhan mengetuk pintu kamarnya Izza. Izza yang membukakan pintu.


"Kak Rama... " ucap Izza.


"Ayahhhh.... " panggil Sachi sambil memeluk Rama.


Rama menggendong sang putri dan mendekap erat tubuh Sachi.


"Ayah ... tadi Sachi bantuin aunty Izza menjemur pakaian, bermain sama teman-teman, makan, sholat, tidur siang. Pokoknya Sachi senang sekali" celoteh Sachi penuh rona kebahagiaan.


"Pinter dong anak Ayah" ucap Rama.


"Aunty Izza itu baikkkkk banget. Sachi diusap-usap biar bobo, dikipasin terus, ditemenin terus. Pokoknya sayang aunty Izza banyak-banyak" lanjut Sachi.


"Kita pulang yuk .. kita main kemana yang Sachi mau" ajak Rama.


"Tapi ajak aunty Izza ya" pinta Sachi.


"Aunty Izza ga bisa ikut kita" jawab Rama.


"Aunty mau ikut Sachi ga? nanti kita pergi lagi ke Mall" ajak Sachi.


"Aunty ga bisa... sekarang Sachi pulang aja kalo kangen sama Ayah. Mumpung Ayah libur kan, jadi bisa puas main sama Ayah" saran Izza.


Sachi malah menangis mendengar jawaban dari Izza.