HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 136, At home



"Kue enak kaya gini disuruh buang sama Boss? ada-ada aja" kata security ke asisten rumah tangga yang siap membuang ke tong sampah yang tersedia didekat gerbang.


"Ini perintahnya Mas Rama, katanya kalo ada yang mau makan, ga tanggung kalo ada apa-apa nantinya" ucap asisten rumah tangga yang tadi diminta untuk membuang kue.


"Kalo ini hadiah buat Mba Izza, ga mungkinlah dikasih racun. Sini mending saya makan buat temen ngopi" pinta security.


"Terserah ya .. tapi kalo tiba-tiba isdet jangan nyalahin siapa-siapa" ujar asisten rumah tangga.


Ada mobil berhenti didepan pintu gerbang. Kemudian pengemudi menurunkan kaca jendela mobil.


"Wahhhh... ada yang ulang tahun nih, segala bawa kue segala" Mang Ujang nongolin kepala dari mobil.


Security yang berdiri didepan pagar langsung membuka pagar lebar-lebar.


Mobil yang dikemudikan Mang Ujang memasuki halaman rumah Pak Isam. Mang Ujang memarkir mobil di garasi samping.


Dia membawa tentengan kearah dapur, ga lama kemudian dia balik lagi ke pos security.


"Siapa yang ulang tahun? tumben ada kue ulang tahun" tanya Mang Ujang.


"Ga tau Mang ... Apa Mba Izza ulang tahun kali ya hari ini? soalnya tulisannya untuk Izza .. lope sekret atmire" jawab security.


"Ini sikret itu siapa sih, setiap kirim pasti tulisannya itu mulu. Kenapa masih disini kuenya? kok ga dikasih ke Mba Izza?" ujar Mang Ujang.


"Sama Mas Rama disuruh buang" jawab security.


"Cemburu dia mah pasti ... sini mending kita makan aja. Lagian ini dari toko kue enak kok, ada di Pondok Indah, pernah antar Mba Farida beli kue disini, sepotong aja harga seratus ribu, apalagi ini yang seloyang besar, pasti jutaan" jelas Mang Ujang.


"Apa iya Mang? kue begini aja jutaan. Mending beli jajanan pasar di pasar subuh, atau beli gorengan di pintu keluar komplek" kata security.


"Pada norak sih ... belum pernah ya makan kue jutaan? ya udah ambil pisau sana, kita makan aja kue ini daripada mubazir" inisiatif Mang Ujang.


Red velvet cake, diperenak dengan lapisan creem cheese pilihan yang gurih dan meleleh disetiap gigitannya. Rasa manisnya pas banget di lidah sehingga tidak membuat eneg. Tekstur kuenya yang lembut dengan taburan red velvet yang cruncy. Dua orang security plus Mang Ujang tengah menikmati kue ini hingga setengah loyang, ditemani secangkir kopi hitam, makin menyempurnakan cita rasa yang timbul di mulut.


"Beneran enak banget ini Mang .. belum pernah makan kue seenak ini" kata security.


"Makanya lidahnya jangan pada ndeso.. udah tinggal di Jakarta tuh harus ngerasain makan makanan mahal" gaya Mang Ujang sok belagu.


"Mang Ujang mah enak diajak makan mahal mulu sama Mas Rama... kalo kita kan hanya di rumah, boro-boro makan begituan. Disini juga standar aja menunya, kecuali ada pesta, baru deh kita makan yang aneh-aneh" tukas security.


"Ngomong-ngomong.. ga liat Mas Boss. Tadi di garasi, mobilnya ada, motor juga ada, apa pake mobilnya Boss Papi kali ya perginya?" tanya Mang Ujang.


"Ga pergi.. ngendon di kamar, tuh liat aja jendelanya rapet banget" tunjuk security.


"Tumben libur ada di rumah, biasanya ke Audah Hotel" ucap Mang Ujang ga percaya.


"Dari pulang sholat subuh aja ga keluar kamar. Sarapan minta diantar, ini malah keliatannya belum makan siang. Katanya sih Mba Izza sakit, tadi dokter Deni datang buat infus Mba Izza" papar security.


"Sakit apa? apa jangan-jangan hamil kali ya?" tanya Mang Ujang.


"Baru juga nikah dua minggu Mang.. ya kali langsung hamil, cepet amat" jawab security.


"Terus sakit apa dong?" tanya Mang Ujang lagi.


"Katanya sih kecapean dan kurang istirahat aja" tutur security.


"Ga salah lagi ini mah .. pasti kerjaan Mas Boss yang bikin Mba Izza tepar. Mamang aja nih nyolong-nyolong tidur begitu sampe kantor, secara Mas Boss kerja ga kenal waktu. Mba Izza juga disuruh ngelembur juga kayanya" kata Mang Ujang.


"Masa istrinya disuruh ikut ngelembur sih Mang... hehehe ... apa ngelembur yang lain ya? biar kata baru nikah siri juga Mas Rama mah hajar langsung ternyata tipenya. Kirain anteng-anteng ga punya pacar, eh ga taunya sat set sat set. Udah ga tahan kali ya iminnya" sahut security.


"Ya kalo iman mah kuat, imin yang ga kuat, mana ada sih cowo yang tahan kalo udah sekamar sama cewe, jangankan yang sah, yang ga sah aja pasti langsung diembat" ucap Mang Ujang.


Rama membuka jendelanya, meletakkan nampan berisi makanan di meja, kemudian dia duduk di balkon. Izza menyusul ga lama setelahnya. Sudah mandi sejak tadi, tapi badannya masih terasa dingin, jadi pakai jaketnya Rama. Baju ganti Izza tadi diambil oleh Izza sendiri ditemani oleh Rama.


Jam dua siang, baru mereka menikmati makan siang yang sudah kesiangan.


Sachi sedang video call Izza, mereka baru landing di Soetta.


"Mang... kapan datang?" teriak Rama.


Mang Ujang yang lagi makan kue langsung mendekati bagian bawah kamarnya Rama.


"Baru setengah jam yang lalu Mas Boss" jawab Mang Ujang.


"Oke semua kan?" tanya Rama.


"Oke Mas Boss... nanti saya kirim chat semua laporannya ya" kata Mang Ujang.


"Oke" jawab Rama.


"Tumben ga kerja Mas Boss? biasanya ga kenal tanggal merah" ledek Mang Ujang.


"Lagi jaga istri dulu Mang, ini sambil kerja tipis-tipis" ucap Rama.


"Kerja apaan Mas Boss yang tipis-tipis? ngiris bawang? motongin kertas?" tanya Mang Ujang.


"Udah sana mending ngapain kek .. ngobrol sama Mamang bisa ilang nih selera makan" omel Rama.


Rama kembali menikmati makan siangnya, Mang Ujang kembali ke pos security.


"Kenapa sih kalo ngomong sama Mang Ujang sering berakhir sewot, inget Kak.. kan Mang Ujang bestienya Kak Rama" kata Izza.


"Kalo lagi datang errornya, malesin banget kan jawab ocehannya. Udah mau jadi suami orang kok masih aja error, untung calonnya jempolan, paling ga ya bisa memperbaiki keturunan" ucap Rama.


HP Rama berbunyi, padahal baru saja diaktifkan.


"Assalamualaikum Lis.." jawab Rama.


"Waalaikumsalam.. Aa' sibuk ga?" tanya Ceu Lilis.


"Ngga.. ada apa?" ucap Rama.


"Mau ngabarin tentang pernikahan" ucap Ceu Lilis.


Rama langsung berjalan keluar kamar, menjauhi diri dari Izza. Sekitar sepuluh menit Ceu Lilis dan Rama berbicara lewat sambungan telepon.


Setelah selesai, Rama kembali masuk ke kamar, melanjutkan makannya yang belum habis.


"Lilis ada keperluan apa Kak? bukannya mau nikah juga ya dia?" tanya Izza.


"Iya" jawab Rama.


"Dapat orang sana?" tanya Izza lagi.


"Iya" jawab Rama singkat.


"Kapan nikahnya?" makin Izza bertanya.


"Minggu depan" jawab Rama.


"Bareng Mang Ujang dong waktunya.. bukan nikah sama Mang Ujang kan?" ujar Izza.


"Bukan" jawab Rama lagi.


"Terus kita datang ke Tasikmalayanya kapan Kak?" ucap Izza.


"Nantilah... udah ya .. Kakak lagi makan nih, nanti keselek" jawab Rama.


🌷


Alex menggendong Sachi yang sudah tertidur pulas di mobil. Mba Nur meminta Alex untuk membaringkan Sachi di kamarnya Sachi. Begitu sudah sampai lantai atas, Sachi malah terbangun.


"Mau sama Mommy.. mau sama Mommy" rajuk Sachi.


Rama yang mendengar suara Sachi langsung keluar kamar dan mengambil Sachi dari gendongan Alex.


Rama membawa Sachi masuk ke kamarnya.


"Mommy ... " sapa Sachi kegirangan.


Sachi langsung naik ke tempat tidur kemudian memeluk Izza.


"Mommy kok dingin badannya. Sachi selimutin ya" kata Sachi.


"Iya .. dari tadi juga udah selimutan, malah pakai jaket punya Ayah" jawab Izza.


Pintu kamar diketuk oleh Pak Isam. Izza buru-buru pakai jilbab karena masih belum terbiasa terlihat rambutnya oleh orang lain.


Pak Isam masuk ke kamar, Izza langsung duduk dan hendak bangun.


"Udah... udah... kamu tiduran aja ... ga ke rumah sakit Za?" tanya Pak Isam.


"Cuma tinggal lemes aja kok Pi" jawab Izza.


"Ga usah kerja lagi di Audah Hotel Za.. kamu kan udah cape urusin Sachi dan Rama, belum jadwal kuliah, pokoknya kalo ga ada jadwal kuliah, stay di rumah. Biar Rama yang kerja keras. Bisa kan dia cari orang buat ditempatkan di Audah Hotel. Jangan ikutin semua yang dia arahkan" oceh Pak Isam.


"Waduh... ini kok terdengar meminta istri melawan suami nih" canda Rama.


"Kamu juga keterlaluan Ram.. istri bukannya disayang-sayang malah diminta ikut kerja. Kapan Papi punya cucu lagi kalo begini terus?" omel Pak Isam.


"Sabarlah Pi ... tau sendiri kan kondisi perusahaan belum stabil, jadi Izza mau ga mau ya bantu-bantu dulu. Daripada bayar orang .. kan mending Izza yang kerjain. Ini juga sementara Pi" jawab Rama santai.


"Ampun deh... itu mah namanya pelit bukan irit. Pokoknya Papi ga mau Izza terlibat didalam bisnis kamu. Tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga dan menyelesaikan kuliahnya" oceh Pak Isam rada kesal.


"Udah dong Opa .. jangan berantem terus sama Ayah, kasian Mommy lagi sakit" kata Sachi.


"Mommy tadi makan sedikit tuh Sachi.. minta Mommy makan yang banyak" pinta Rama.


"Mommy kenapa makan sedikit... nanti lapar loh. Sachi aja lapar belum makan" ucap Sachi.


"Loh Sachi belum makan?" tanya Izza.


"Ngambek mogok makan, tadi sarapan udah dibujukin sama Rani dan Mas Haidar tetap aja ga mau. Begitu sampai di Bandara minta donat, itu juga cuma satu gigit, jadi ya belum makan dia sampai sekarang" lapor Pak Isam.


"Ayo Sachi makan dulu ya sama Mba Nur, nanti selesai makan baru balik lagi kesini temanin Mommy" ujar Rama.


"Ga mau.. maunya sama Mommy" jawab Sachi.


"Mommy masih belum sehat, jadinya Sachi sama Mba Nur dulu" rayu Rama.


"Ga mau ... ga mau..." ucap Sachi yang jadi malah nangis.


"Ssttt... udah ya jangan nangis. Kak.. tolong ambilin makan aja buat Sachi, nanti disuapin disini" pinta Izza.


Pintu kamar diketuk dari luar. Rama membuka pintu.


"Ada... ada apa cari Papi?" kata Rama.


"Ada tamu yang mencari Pak Isam" kata asisten rumah tangga lagi.


"Siapa tamunya?" tanya Pak Isam.


"Info dari security, Pak Flandy dan Pak Ivan, keduanya sudah didepan pagar" jawab asisten rumah tangga.


"Ok, antar aja ke ruang tamu" kata Pak Isam.


"Baik Pak" jawab asisten rumah tangga


"Ada apa Pi mereka datang kesini? apa mau ngundang kali ya?" tanya Rama.


"Ga tau ... udah lama Papi ga kontak sama Flandy. Apalagi sejak Anin berpisah sama Mas Haidar, hubungan kita kan seperti berjarak" jawab Pak Isam.


Rama dan Pak Isam turun kebawah bersama-sama.


Pak Isam menemui tamunya, Rama mencari Mba Nur di dapur.


"Apa kabar nih ada pengusaha sukses main ke gubuk saya.. long time no see Flandy" ledek Pak Isam sambil berpelukan dengan Om Flandy.


"Bisa aja Sam ... kalo segini gubuk, bagaimana yang istananya?" tanya Om Flandy.


"Silahkan duduk, dinikmati ini sajian ala kadarnya. Santai dulu ngopi-ngopi baru ngobrol" ucap Pak Isam.


"Masih aja gayanya santai ya.. saya kira sudah makin berumur makin wibawa" canda Om Flandy.


"Biar awet muda... hahaha" sahut Pak Isam.


"Sepi banget rumahnya? si kecil mana?" tanya Om Flandy.


"Ada sedang sama istrinya Rama. Cuma Haidar kok yang ga di rumah, lagi ke Bali. Selain dia yang lain ada semua. Izza, istrinya Rama, lagi kurang sehat, jadinya Rama ga ke Audah Hotel. Sebuah keajaiban nih Rama libur" jelas Pak Isam.


"Izza sakit Om? kok ga dibawa ke rumah sakit?" tanya Mas Ivan.


"Penyakit dicari sendiri... hehehe" canda Pak Isam.


"Penyakit apa memangnya Om? masa ada ya orang cari penyakit? yang ada kita jaga-jaga biar ga kena penyakit" ujar Mas Ivan.


"Penyakit yang khusus menyerang pasangan pengantin baru, suka ngelembur sampai subuh.. hahahaha. Mau gimana abisnya ... Rama baru pulang tengah malam, ya bisa ketemu sama istrinya dini hari. Lama-lama kalo ga terbiasa begadang kan pasti tepar" jawab Pak Isam.


"Hahahaha... bisa aja Sam.. kita sama-sama taulah.. kan kita pernah ngalamin juga" sahut Om Flandy.


Wajah Mas Ivan agak kurang nyaman mendengar jawaban dari Pak Isam.


"Om.. Mas... ada apa nih gerangan calon mertua dan calon mantu datang bareng, mau ngundang nih jangan-jangan" sapa Rama yang ikut bergabung setelah menemui Mba Nur.


Rama bersalaman dengan Mas Ivan dan Om Flandy. Kemudian Rama duduk disampingnya Pak Isam.


"Makin segar aja nih Ram, udah ada yang ngurus sih ya" kata Mas Ivan.


"Alhamdulillah Mas.. punya istri juga perhatian banget, jadinya semua diurusin, dari kepala sampai kaki" jawab Rama manas-manasin Mas Ivan.


"Istri sedang sakit katanya?" tanya Mas Ivan.


"Kecapean aja sih, sudah panggil dokter dan diinfus. Sekarang lagi rehat biar recoverynya cepat" jelas Rama.


"Jadi ada apa nih... ada yang bisa saya bantu?" ucap Pak Isam.


"Kami datang hanya mau berbincang ringan aja, minta pendapat gitu. Ini kan Ivan sama Anin belum jelas juga kapan akan meresmikan hubungan kejenjang pernikahan, pusing juga ditanya sama keluarga besar terus. Maaf ya Isam.. Rama.. dulu kan Anin pernah ada di rumah ini, sedikitnya tau tentang bagaimana Anin. Apalagi Rama sekarang ada bisnis sama dia. Mungkin pernah cerita atau apa gitu yang membuat Anin belum juga mau menikah lagi. Saya khawatir dia belum bisa move on dari Haidar" papar Om Flandy.


"Kalo masalah ga bisa move on atau ga ya ga pasti juga ya.. namanya hati orang siapa yang tau. Coba ditanya langsung ke yang bersangkutan, kami ini kan sekarang orang luar. Dia sudah jarang berbincang kecuali sekedar say hello saat ketemu. Maaf ya nak Ivan sebelumnya.." kata Pak Isam.


"Oh iya Pak.. gapapa ... malah saya yang ingin berbincang sama keluarga sini, makanya diantar langsung sama Pak Flandy kesini" jawab Mas Ivan.


"Sejak perpisahan Anin dan Haidar, praktis saat itu pula hubungan saya ya .. entah kalo sama yang lain, tidak pernah dia menghubungi saya lagi. Bahkan undangan pas tunangan kemarin juga dititip ke Rama. Saya sangat memaklumi sakit hatinya Anin terhadap Haidar, jadi saya ga mau ikut campur, hanya bisa mendo'akan semoga kedepannya lebih baik. Mungkin yang sekarang lebih mengenal Anin ya Rama, karena mereka terlibat kerjasama bisnis" ungkap Pak Isam.


"Kalo saya dan Mba Anin lebih banyak diskusi mengenai pekerjaan. Jarang bicara tentang hal pribadi. Mungkin tipe kami sama ya, sangat menjaga privasi. Tapi beberapa kali Mba Anin bilang kalo Mas Ivan sudah ga sabar ingin segera menikah, apalagi setelah melihat saya nikah jadi lebih terpacu. Mungkin ya... ini mungkin.. apa ada kendala bisnisnya Mba Anin sehingga sekarang lebih fokus ke bisnis pakaiannya? Belakangan ini kalo ketemu, saya liat juga lebih diam, bicara pun seperlunya, chat singkat dan padat .. ditambah saya juga baru saja menikah. Jadi tambah jarang kami bertemu. Mba Anin memang tipe wanita mandiri, saat bersama Mas Haidar pun sangat terlihat dominan. Jadi kalo boleh saya sarankan, bicara dari hati ke hati sama Mba Anin. Bukannya Mba Anin dekat sama Mamanya ya? mungkin bisa lewat beliau mengorek tentang masalah ini" kata Rama.


"Justru Mamanya juga sudah uring-uringan. Anin sudah ga pulang dua hari, menghilang entah kemana, dihubungi pun ga bisa" lanjut Om Flandy.


"Tumben ya ga bisa dihubungi.. begini saja Om, kalo Mba Anin hubungi saya, saya akan coba bantu untuk tanya sedang dimana. Yakin aja kalo Mba Anin ada disebuah tempat yang aman. Mungkin sedang butuh waktu sendiri. Nanti juga akan pulang" ujar Rama.


"Makasih ya Ram.. semoga cepat ada kabar dari dia" kata Om Flandy.


"Aamiin..." jawab Rama dan Pak Isam barengan.


🌺


Jam satu siang, Rama mendapat telepon dari tailor tempatnya membuat jas untuk fitting terakhir. Akhirnya dia memutuskan sekalian pergi ke makam Maminya dan Mba Nay, mumpung ada waktu, karena Minggu depan sudah ke Tasikmalaya jadi khawatir ga sempat.


Rama pamit ke Pak Isam karena Izza dan Sachi tengah tertidur lelap.


.


Wajah Rama sudah familier di pemakaman tersebut, jadi para petugas pasti akan rebutan bersihin makam Mami, orang tuanya Izza dan Mba Nay kalo Rama datang. Apalagi yang dinantikan selain salam tempelnya yang diatas rata-rata. Rama bahkan bisa memberikan uang kebeberapa orang jika memang sedang ada petugas pemakaman berada didekatnya.


Rama ke makam Maminya terlebih dahulu, mengganti bunga yang ada dalam pot dekat nisan.


Kemudian dia duduk disampingnya makam orang tua Izza, dibacakan do'a- do'a untuk mertua yang ga pernah tau kalo sekarang dia udah jadi mantu mereka.


"Pak... Bu... tenanglah di alam sana, Rama akan berusaha sekuat tenaga untuk terus menjaga Izza. Apapun nanti yang terjadi, semoga Rama bisa memberikan perlindungan semaksimal yang Rama bisa. Sebentar lagi dia akan memasuki masa akhir kuliahnya, ada keinginan dia untuk melanjutkan kuliah S1. Semoga kami bisa mendapatkan anak dulu sebelum Izza melanjutkan jenjang pendidikannya lagi. Rama juga sekarang masih menjalani kuliah S2, berat memang jalanin kerja, kuliah dan rumah tangga dalam satu waktu, tapi Izza selalu mampu menghapus lelah Rama. Dia juga mensupport pekerjaan, ditambah mengurus Sachi dan rumah. Terima kasih sudah melahirkan dia dan merawat istri Rama selama ini. Kini gantian Rama yang akan melanjutkan buat merawatnya" ucap Rama penuh haru.


Setelah itu Rama beralih ke makamnya Mba Nay. Membacakan do'a buat Mba Nay.


"Mba Nay, sebentar lagi .. Rama akan tunaikan janji terakhir Rama ke Mba Nay. Lilis akan segera menikah, semua surat-surat sudah rapih, tinggal menunggu harinya saja. Dia juga sudah siap lahir batin untuk menikah. Rama mungkin ga punya waktu mengurus secara langsung pernikahan, tapi Rama udah kirim uang yang cukup buat Lilis mewujudkan impiannya untuk dirias seperti apa, mau pakai baju apa dan konsep pelaminan yang bagaimana. Intinya Rama terima beres aja. Semoga lancar segala yang sudah kami semua rencanakan. Nanti Lilis juga akan pindah ke Jakarta, tempat tinggal juga sudah ada, tinggal masuk aja terima kunci. Mas Haidar juga sebentar lagi akan nikah. Sachi happy punya Mommy Izza dan soon to be... Mama Rani. InsyaAllah nanti Rama akan bawa Sachi kesini lagi ya Mba, dia masih takut kalo liat makam. Foto Mba Nay juga sudah dicetak sama Mas Haidar dan dibingkai rapih. Semua ada di kamarnya Sachi. Papi sekarang sangat sayang banget sama Sachi. Mungkin nanti saya akan jarang kesini Mba, Rama mau konsentrasi membangun rumah tangga dan pekerjaan. Mau segera punya anak juga buat temannya Sachi" ungkap Rama sambil menghapus air matanya.


Menangis bukan berarti dia lemah, justru dia lagi menunjukkan sisa kekuatan yang ia punya. Banyak rasa berkecamuk jika ada di makam ini.


🌷


Mang Ujang melajukan mobil kesalah satu tailor rumahan, bukan di Mall-mall besar. Jadi tailor ini khusus membuat jas. Sudah jadi langganannya keluarga Pak Isam sejak Pak Isam masih muda. Kualitasnya ga diragukan lagi, malah melebihi kualitas tailor ternama.


Harganya pun bisa setengah harga dari jas keluaran yang biasa dipakai oleh artis-artis.


Mang Ujang memang dibuatkan juga, jadinya dia sekalian fitting. Jas yang disiapkan untuk Mang Ujang berwarna hitam dengan kemeja putih, dia ga memesan set dengan celana karena akan pakai sarung sebagai bawahannya. Sesuai permintaan calon istrinya Mang Ujang.


Rama memesan setelan putih bersih dengan kemeja putih gading. Tidak ada hiasan seperti payet atau bordiran. Setelan jas tersebut dilengkapi dengan peci dan pocket square (saputangan yang terdapat di saku jas) berwarna hitam.


"Mas Rama tampilannya jadi kaya proklamator begini ya, apa mau diganti saja Mas? pakai peci broken white dan pocket square warna gold atau merah" saran pemilik tailor.


"Saya memang mau sesederhana mungkin, tidak mau menjadi center of view aja" jawab Rama.


"Gimana ga jadi center of view Mas.. kan Mas pengantinnya" kata pemilik tailor.


"Ini kan untuk efisiensi juga, jas ini bisa saya kombinasikan dengan kemeja warna apa aja, untuk peci hitam kan bisa dipakai saat sholat. Sayang kalo hanya bikin sekedar untuk akad nikah saja" papar Rama.


"Terserah pelanggan kalo saya Mas. Oh iya istri saya bilang untuk kebaya calon istrinya Mas Rama sudah siap, kapan mau fitting?" tanya pemilik tailor.


"Ga usah difitting, kalo kebesaran ya gapapa, memang saya ga mau dia pakai yang ketat melekat tubuhnya. Nanti kan kokoh sama cici datang ke Tasikmalaya, jadi pas hari H nya saja dilihat pantas atau tidaknya. Kalo sudah oke ga perlu dikecilin lagi" kata Rama.


"Mas Rama memang dari dulu gaya koboynya ga ilang-ilang. Jadi penasaran sama sosok calon istrinya, kuat banget ngadepin yang model kaya gini" canda pemilik tailor.


"Hahaha... yang jelas pasti istimewa dong" jawab Rama.


💐


Jam empat sore, Izza dan Sachi sudah mandi. Tampak keduanya sangat segar. Mereka turun ke lantai satu. Ada Pak Isam sedang duduk membaca buku.


"Udah mendingan Za?" tanya Pak Isam sambil menutup bukunya.


"Alhamdulillah Pi .. sudah lebih baik, mungkin sudah banyak istirahat" jawab Izza.


Sachi main boneka yang ada istananya, Mba Nur yang menemani.


"Gimana Za menikah sama anak Papi yang satu itu? Unik orangnya ya?" tanya Pak Isam sambil ngeteh sore.


"Alhamdulillah Pi... Kak Rama baik kok, walaupun orangnya agak banyak berahasia" jawab Izza.


"Karena dia terbiasa menyimpan semuanya sendiri" kata Pak Isam.


"Pelan-pelan kali nanti berubah Pi" ucap Izza.


"Papi do'akan kalian berdua saling mengisi satu sama lainnya. Papi liat juga Rama banyak berubah, ga sekaku dulu. Sama Papi juga sangat perhatian. Sekedar tanya kabar Papi setiap hari dan kadang membelikan makanan kesukaan Papi aja sudah sangat luar biasa. Kamu tau ga Za ... kalo dulu Papi dan bapakmu berteman?" tanya Pak Isam lagi.


"Ya Pi.. Kak Rama sudah cerita kemarin" jawab Izza sopan.


"Dulu kami pernah punya mimpi ingin besanan. Ngobrol ringan yang sekarang malah jadi kenyataan. Ya berharap antara Haidar sama Rama bisa jadi sama salah satu putrinya, Alhamdulillah obrolan kami jadi do'a rupanya" ingat Pak Isam haru.


"Maaf kalo Bapak dan Ibu saya dulu berbuat salah sama Papi dan keluarga" pinta Izza.


"Manusia pasti punya khilaf Za, Papi tau dia terdesak, makanya Papi ga lapor polisi. Anggap aja uang itu buat biaya besarin calon mantu Papi yang satu ini.. hehehe" canda Pak Isam.


"Tapi kan tetap salah Pi" ucap Izza.


"Itulah Za... Istri tuh kadang jadi penentu masa depan suami. Kadang demi cinta, suami mampu melakukan apapun walau salah. Ibumu kamu itu sebenarnya anak orang kaya loh, anak seorang pengusaha batubara di Kalimantan sana, terbiasa hidup cukup, kepincut bapakmu yang sudah beristri, sampai dia nekat tinggal dekat sama Bapakmu. Kuliahnya berantakan dan membangkang keluarga karena rusak hidupnya. Akhirnya mereka nikah setelah Bapakmu ninggalin istrinya. Keluarga Ibumu ya marah besar saat itu, ya bisa dibilang sudah ga dianggap anaklah. Makanya Papi pesan, mungkin sekarang kamu liat Rama mampu memenuhi semua kebutuhan hidup kamu bahkan diatas rata-rata, tapi jangan lupa, dia punya tanggung jawab besar, dia harus bisa menjaga kelangsungan perusahaan demi kesejahteraan para karyawan dan kemajuan perusahaan. Dia ga bisa seenaknya pakai uang perusahaan seperti Papi dulu. Jadi kamu harus bisa memilah, mana yang bisa kamu minta sama dia, mana yang tidak perlu. Tipe Rama kan rada unik, dia itu jarang diskusi sama keluarga, apa-apa banyak diputuskan seorang diri. Mudah-mudahan ada kamu, dia berubah ya, kayanya cuma sama kamu nih dia kena batunya Za" buka Pak Isam.


"Kena batunya gimana Pi?" tanya Izza penasaran.


"Dia tuh banyak disukai wanita, malah pernah ada yang nekat ketemu Papi bilang mau jadi calon mantu, Rama ga pernah bergeming. Bahkan sama anak temen Papi aja dia dingin. Sebenarnya dari setahun yang lalu Papi curiga, matanya kalo mandang kamu tuh beda, tapi Papi kan janji sama dia buat membebaskan cari pasangan hidup. Tapi namanya orang jatuh cinta kan ya, apa juga dilakuin. Apalagi pas Gita ditahan, justru senewen tuh anak rumah. Dia pernah tidur didalam mobil, parkir depan Panti Asuhan, tuh Mang Ujang saksinya. Sampe minta nikah kaya anak kecil minta balon. Ya Papi tolak aja, eh malah dia mempersiapkan segalanya setelah Papi minta status kamu diperjelas di rumah ini" kenang Pak Isam sambil tersenyum.


"Iya Pi... saya aja dipaksa buat nikah .. hehehe" jawab Izza.


"Dia kalo sudah punya keinginan ya gitu, harus sekarang juga. Ada plus minusnya sih, tapi terima aja ya Za. Ini jodoh yang Allah berikan buat kamu" pinta Pak Isam.


"Iya Pi..." Jawab Izza.


"Ga rencana honeymoon Za? Mau hadiah apa dari Papi? kamu sebutkan aja" tawar Pak Isam.


"Kak Ramanya masih sibuk Pi" ucap Izza.


"Kalian mau nunda punya momongan atau ga Za? Sachi udah berkali-kali minta adik tuh" goda Pak Isam sambil nunjuk kearah Sachi.


Izza hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Pak Isam.


"Pertanyaan klasik ya Za... belum nikah ditanya kapan nikah, sudah nikah ditanya kapan punya anak" ujar Pak Isam sadar akan ucapannya yang khawatir menyinggung Izza.


"Kak Rama kemana ya Pi?" tanya Izza untuk mengalihkan pembicaraan.


"Pergi sama Ujang, katanya mau fitting bajunya Ujang" jawab Pak Isam.