HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 110, Surrender



Jam dua malam Rama bangun, teringat dia belum sholat Isya, segera dia ambil wudhu kemudian menuju Musholla rumah yang ada disebelah ruang keluarga. Cukup lama dia tidur dari jam sepuluh malam. Sebuah rekor untuk dirinya bisa terlelap hampir empat jam lamanya. Biasanya hanya bisa tidur nyenyak sekitar dua jam saja, jika ada kesempatan dia akan curi-curi tidur di mobil.


Kondisinya sudah terasa fit kembali, cukup lama Rama berada disana seorang diri. Dia terbiasa sendirian duduk tertekuk diatas sajadah, mengadu atas keluhnya dan merayu pada-Nya. Belakangan ini dia sering mengadukan tentang beban jiwa yang melanda, resah yang bergejolak dan hati yang tak tenang.


Karena merasa haus, dia bergegas ke dapur bersih, mendekati kulkas dan mengambil sebotol air mineral.


Rama masih ingat nasehatin dokter Deni untuk minum minuman hangat dulu, tapi tenggorokan rasanya belum basah kalo ga minum air dingin. Dia berjalan menuju teras belakang, suasana sangat sunyi.


Hembusan angin dan suara daun yang bergoyang menambah kesyahduannya malam. Rama duduk di ayunan kayu yang terletak dekat kolam renang.


"Ram .." panggil Mas Haidar pelan.


Rama menoleh ke belakang.


"Baru bangun?" tanya Mas Haidar.


"Iya .. belum sholat Isya juga, kan semalam abis diinfus langsung tidur" jawab Rama.


"Udah enakan?" tanya Mas Haidar.


"Alhamdulillah.. " jawab Rama.


Mas Haidar ikut duduk di ayunan bareng sama Rama.


"Ini Mas... " kata Rama sambil menyerahkan HP nya.


Mas Haidar menerima HP nya Rama. Melihat video yang ditunjukkan oleh Rama.


"Rama memang mencintainya Mas ... tapi seperti yang Rama selalu bilang, Mas Haidar adalah satu-satunya pria dalam hatinya. Posisi Mas ga akan pernah tergantikan oleh siapapun. Diantara kami hanya ada komitmen sebagai Kakak Adik. Sekarang tunai sudah semua janji Rama ke Mba Nay. Semoga Mba Nay tenang di alam sana " kata Rama pelan.


Mas Haidar mengembalikan HP milik Rama.


"Video ucapan ulang tahun buat Rama .. hanya ini yang tersisa Mas.. semua foto, flashdisk serta yang ada di memory HP sudah Rama kirim ke Mas. Sekarang ini pun akan Rama kirim juga ke Mas. Rama sudah memutuskan untuk menghapus kenangan Mba Nay. Sachi, Lilis dan Mas Haidar.. tiga orang istimewa yang sudah Rama kembalikan pada letaknya masing-masing" lanjut Rama dengan datar.


"Kamu mau kemana?" tanya Mas Haidar bingung mendengar adiknya berbicara sangat serius.


Mas Haidar merasa Rama sangat berbeda malam ini.


"Saatnya melangkah kedepan .. menata hati Rama kembali. Untuk video yang Mas duga perselingkuhan Rama dan Mba Nay, maaf ... Rama ga bisa buktikan kebenarannya, Rama sudah memutuskan untuk menghentikan semua penyelidikan. Terserah Mas mau percaya atau tidak kalo itu bukan Rama. Benar kata Papi, buat apa meributkan seseorang yang udah ga ada. Mas dan Rama udah sama-sama mau melangkah ke jenjang yang baru. Cukuplah kisah Mba Nay sampai disini. Kita masih punya Sachi dan Lilis yang harus diurus" ucap Rama makin serius.


"Ram..." kata Mas Haidar ragu.


"Rama mau tidur dulu" ujar Rama sambil menuju pintu rumahnya.


.


Saudara yang berkumpul di rumah Pak Isam ada yang tidur di kamar, tapi ada juga yang tidur di ruang keluarga yang lumayan luas dengan hamparan karpet nan lembut.


Rama ikut tidur di karpet. Dia mengambil bantal yang tergeletak diatas sofa ruang keluarga. Kemudian melanjutkan tidur.


💐


Pagi ini Ceu Lilis beserta keluarganya naik mobil charteran menuju Jakarta, Ambu dan Abahnya Mang Ujang juga ikut. Sudah dua mingguan Mang Ujang ga pulang ke Tasikmalaya. Kebetulan juga Rama sudah menyiapkan kamar di Audah Hotel jika Abah dan Ambunya Mang Ujang memang ingin menjenguk anaknya.


"Bawa baju manggungnya sampai tiga Lis.. ada panggilan nyanyi?" tanya Ambunya Mang Ujang.


"Ya, ada acara di Audah Hotel kata Aa' Rama, udah request lagu-lagu pop juga" jawab Ceu Lilis.


"Ambu belum pernah tidur di Hotel, nanti gimana ya kalau Ambu bingung" ucap Ambunya Mang Ujang.


"Kan ada Mang Ujang, nanti minta ajarin aja" ujar Ceu Lilis.


"Kita diam aja di kamar, ga usah jalan-jalan keluar nanti kesasar. Kita kan juga ga bisa naik lift, bingung pencet yang mana" saran Abahnya Mang Ujang.


Bapak tirinya Ceu Lilis tidak ikut, tapi Ibu dan adik-adiknya Ceu Lilis ikut ke Jakarta.


🌺


Jam tujuh pagi sarapan sudah tersedia di meja makan rumah Pak Isam. Karena setelah adzan subuh, semua keluarga yang berjenis kelamin wanita dan asisten rumah tangga sudah langsung turun ke dapur.


Ada nasi goreng, telur ceplok, acar mentimun dan wortel, sosis panggang, daging empal dan kerupuk udang sudah rapih tertata di meja makan. Ada juga roti, susu serta sereal untuk anak-anak jika tidak mau nasi goreng.


"Udah mendingan Kak?" tanya Izza begitu melihat Rama pulang dari Mesjid bersama Pak Isam dan adik-adiknya.


"Alhamdulillah" jawab Rama.


"Jangan minum es dulu ya pagi ini" ingat Izza.


"Sachi udah bangun?" tanya Rama buat mengalihkan pembicaraan.


"Tidur lagi abis mandi padahal. Semalaman agak rewel, kebangun terus" adu Izza.


"Ada orang selain Sachi di kamar?" tanya Rama.


"Ada Mba Nur" jawab Izza.


"Minta Nur keluar dulu ya, saya mau masuk kamar" pinta Rama.


Izza masuk kedalam kamar Mba Mentari, meminta Mba Nur keluar kamar dulu. Setelah Mba Nur keluar, Rama masuk kedalam kamar dan membangunkan Sachi.


.


Rama sedang menggendong Sachi yang sedang datang kolokannya. Sampai makan pun minta disuapin sama Rama.


"Tuh Za... Rama sama keponakan aja sayangnya minta ampun, apalagi nanti sama anak sendiri, kamu ga bakalan repot deh" goda Tantenya Rama.


Izza hanya tersenyum.


"Lagi mau masak apa Mba Za? kan udah mateng semua" tanya sepupunya Rama.


"Kak Rama kan baru mendingan, ya jangan makan nasi goreng dulu lah" jawab Izza.


"Manggilnya Kakak? kenapa ga panggil Mas?" tanya Tantenya Rama heran.


"Panggilan sayang lah Mahhh.. kan Mas Rama panggil Adek ke Mba Izza, nah Mba Izza manggil Kakak ke Mas Rama.. ya Kakak Adek ketemu gede gitulah" canda sepupunya Rama.


"Ada-ada aja anak sekarang kalo pacaran ya nama panggilannya" ucap Tantenya Rama.


"Itu mah standar, malah ada yang segala panggil sayang, my love, Abi Ummi, mama papa.." papar sepupunya Rama.


Izza masih sibuk menyiapkan sarapan untuk Rama, yang lain sudah mulai menikmati sarapan yang sudah disediakan.


"Apa nih Za?" tanya Rama.


"Cream soup, dikasih jagung sama ayam aja kok" jawab Izza.


"Makasih ya" ucap Rama.


"Ayah .. Sachi mau dong" kata Sachi.


Rama menyuapi Sachi hingga anak ini benar-benar kenyang. Rama hanya makan sedikit sisanya.


"Jadi belum kenyang ya Kak?" tanya Izza.


"Gampanglah nanti, saya mau jalan duluan ke Audah Hotel, nanti Sachi bawain baju ya, kan mau nginep disana" pamit Rama.


"Kok Ayah ga berangkat bareng?" ujar Sachi.


"Ayah ada kerjaan. Nanti Sachi sama aunty Izza dan Mang Ujang ya" pinta Rama.


"Oke" jawab Sachi.


.


Rama berangkat sama Alex, Mang Ujang diminta mengantarkan Izza dan Sachi ke Hotel.


"Boss ... Mba Gita kabur" lapor Alex yang baru saja menerima telepon.


"Kabur? maksudnya gimana?" tanya Rama.


"Hari ini kan rencananya Mba Gita akan masuk pusat rehabilitasi di Lido, dalam perjalanan mobil yang dipakai bannya pecah, pas ganti ban, Mba Gita beralasan ingin ke kamar mandi, dikawal sama dua polwan, ga tau caranya bagaimana bisa kabur dari kamar mandi. Sekarang dalam tahap pengejaran" papar Alex panjang lebar.


"Izza tau kejadian ini?" tanya Rama.


"Belum Boss, ini berita update dari anak buah saya yang mengikuti mobil yang ditumpangi Mba Gita" jawab Alex.


"Menurut kamu apa ini ulah sang Big Boss lagi?" tanya Rama.


"Bisa jadi Boss. Sekarang kalo Mba Gita sampai buka mulut, habislah mereka" kata Alex.


"Kamu antar saya ke Hotel terus langsung pulang, kawal Izza dengan baik. Sepertinya Big Boss itu makin gila, kemarin sebenarnya saya sempat melihat ada sosok yang mengintai Izza dari kejauhan" ucap Rama.


"Mba Izza ga akan mereka lukai Boss, karena sang Big Boss cinta sama dia" kata Alex.


"Kamu yakin informan kamu ga salah mengartikan kalo Big Boss itu cinta sama Izza hanya karena Izza mirip sama orang yang dicintainya?" tanya Rama lagi.


"Ya biasanya informan saya ga salah" jawab Alex.


.


Jam sepuluh pagi semua keluarga Pak Isam bergerak menuju Audah Hotel. Rombongan terdiri dari satu bus pariwisata dan dua mobil pribadi.


"Ini kenapa lanjut ke Audah ya? kan enakan juga di rumah. Audah Hotel mana ada hiburannya, kolam renang ga ada, Playground juga ga ada. Yang ada cuma tukang pijat" kata Mang Ujang.


"Spa and massage Mang Ujang.. bukan tukang pijit. Lagipula saudaranya Kak Rama mau ngerasain nginep di Audah Hotel" jelas Izza.


"Orang kaya ya.. enteng banget pamernya.. kalo kita pake baju dua ratus ribu aja seluruh kampung harus tau. Lah ini Hotel yang dipamerin... benar-benar deh Mas Boss.. anak sultan Isam" ungkap Mang Ujang.


.


Rombongan keluarga Pak Isam disambut oleh Manager Operasional Audah Hotel dan diminta menuju ballroom untuk menunggu. Begitu pintu ballroom dibuka, semua terkejut melihat pemandangan yang tersaji didepan mereka.


"Mas Isam .. ini kita salah masuk ga ya?" tanya adiknya Pak Isam.


"Saya aja ga tau" jawab Pak Isam.


"Silahkan Pak Isam beserta keluarga masuk terlebih dahulu, nanti akan dijelaskan secara singkat ada apa ini semua" pinta Manager Operasional Audah Hotel.


Semua mengikuti langkah Pak Isam masuk ke ballroom. Mereka lumayan takjub sama konsep didalam ballroom yang berukuran sedang ini.


.


Sejak dulu Rama sering kali bermimpi untuk bisa melamar seorang wanita ditengah taman yang luas, diantara hijau dedaunan dan rindang pepohonan. Namun impian Rama seolah kuncup sebelum berkembang, selain tidak ada calon ratunya, kenyataan akan minimnya kawasan hijau di Jakarta hadir di depan mata. Belum lagi ditambah faktor cuaca yang sulit ditebak, seperti pagi yang cerah mendadak berubah mendung di sore hari.


Acara lamaran yang sudah direncanakan sama Rama ini memang merupakan sebuah surprise, tidak ada yang tau sama sekali kalo Rama akan setotal ini mendekor ballroom untuk sebuah acara yang baginya penting, yaitu melamar wanita yang akan menjadi istrinya.


Bak proyek Bandung Bondowoso membangun seribu candi untuk Roro Jonggrang, semua impian Rama harus bisa diwujudkan.


Cuaca buruk memang tak dapat dihalau, taman yang tepat juga mungkin sulit ditemukan, namun Rama memutuskan membuat taman impiannya tanpa perlu mengkhawatirkan hujan. Caranya adalah dengan menyulap ballroom menjadi sebuah taman impian.


Rama meminta vendor yang bekerjasama sebagai pendekor jika ada acara di Audah Hotel. Kebetulan pula hari Sabtu kemarin, ballroom disewa untuk pernikahan. Jadi ada sisa tanaman dan bunga-bungaan yang bisa dipakai ulang untuk mendekorasi taman impiannya Rama. Rama pun sudah menggelontorkan dana yang lumayan besar agar semua selesai dalam kurun waktu sehari. Pontang panting pihak vendor dan petinggi Audah Hotel menyiapkan keinginan Rama dan merahasiakan dari semua orang.


Kini ballroom sudah disulap menjadi konsep garden atau taman dengan ambience yang sama seperti diarea outdoor.


Untuk menciptakan konsep dekorasi tema garden ini membutuhkan banyak instalasi atau rangkaian bunga yang rimbun agar menciptakan kesan taman yang hidup. Pihak vendor juga tidak memilih terlalu banyak jenis bunga pada rangkaian, hanya sedikit jenis bunga dan tambahkan dedaunan sehingga akan membuat kesan fresh dan harmonis.


Bunga yang digunakan berupa campuran dari bunga fresh dan bunga artificial, karena jika hanya menggunakan bunga fresh saja maka budget yang akan dikeluarkan akan begitu mahal, namun jika hanya menggunakan bunga artificial saja maka akan kurang memberikan kesan kehidupan dan keasrian.


.


Rama memasuki ballroom dan menuju panggung kecil didepan, panggung tersebut sebagian ditutup backdrop warna hitam polos.


"Welcome to Audah Hotel..." sapa Rama.


"Ini ada apa sih? kok menyambut kita sekedar menginap disini aja pake bunga-bungaan segala?" kata Omnya Rama.


"Rencana lamaran saya ke Izza akan tetap dilaksanakan hari ini, sekitar jam dua akan dimulai, jadi Izza .. silahkan ke kamar yang sudah disediakan. Ada tim make up yang akan memoles wajah kamu. Disana nanti juga sudah berkumpul keluarga yang selalu ada di sekitar kamu" ucap Rama.


Banyak yang bertepuk tangan mendengar Rama segentle itu.


Izza segera dibawa oleh tim menuju kamar, Sachi dan Mba Nur mengikuti.


"Silahkan sekarang semua beristirahat kemudian bersiap, jam setengah dua siang kumpul disini lagi" lanjut Rama.


"Serius ini? kan kata kamu keluarga Kudus ga bisa datang. Terus Izza didampingi oleh siapa?" tanya Pak Isam.


"Ada Ibu Panti, karyawan yang pernah bekerja di Panti Asuhan dan saya datangkan juga Ambu dan Abahnya Mang Ujang serta keluarga Ceu Lilis untuk menjadi keluarga sementaranya Izza" papar Rama.


Setelah briefing dirasa cukup, semua masuk ke kamar yang telah disediakan. Rama juga masuk ke kamarnya dan akan potong rambut dan membersihkan kumis dan jenggot yang mulai menghias wajahnya karena ga sempat cukuran tiap pagi hari.