HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 204, At Hospital



Pak Isam pamit pulang, demikian pula dengan Alex dan Mang Ujang. Mereka cukup lelah dari siang menunggu di Rumah Sakit. Tengah malam ketiganya meninggalkan Rumah Sakit.


Malam ini Rama sendiri yang akan menjaga istri dan anaknya di kamar perawatan. Tadinya Mas Haidar mau menemani Rama, tapi Sachi rewel minta ikut menginap juga. Mba Rani tidak setuju karena Rumah Sakit tidak aman untuk kesehatan anak-anak meskipun berada di lantai khusus pasien obsgyn.


"De.. tidur aja, mumpung anaknya juga masih tidur. Pokoknya tenang aja, Kakak yang akan urus kalian berdua. Toh kalo ada kesulitan bisa menghubungi perawat yang ada di meja depan" saran Rama.


"Ga bisa tidur Kak.." jawab Izza.


"Bukannya malah cape ya habis terkuras tenaga tadi" ucap Rama sambil memijit kakinya Izza.


"Pokoknya langsung hilang rasa cape begitu melihat anak sendiri. Jadi udah lupa sama rasa sakit dan lelah. Untung Kakak sabar ya, kalo ga, mungkin sudah operasi tadi" ujar Izza.


"Semua sudah ada takdirnya De... By the way, dari USG empat dimensi, sudah mirip sama Ayahnya, begitu keluar beneran fotocopy Ayahnya loh. Rasanya tuh kaya melihat diri sendiri tapi versi mini. Mommynya kebagian apanya ya.. hehehe. Kata Papi juga sama, mirip banget sama Kakak waktu kecil" lanjut Rama bahagia.


"Semoga ga bandel seperti Ayahnya saat muda ya. Nurut sama orang tua, pokoknya ga macem-macem deh" harap Izza.


"Anak muda sih wajar-wajar aja kalo agak bandel, asal jangan kebablasan" tukas Rama.


"Ga ada deh bandel disebut sebagai sebuah kewajaran. Jadi Kakak ya yang kasih nama, Izza percaya kok sama pilihan Kakak, kan sudah ada perjanjian, kalo yang kasih nama itu yang banyak kemiripan wajah sama anak kita" kata Izza.


"Nanti ya, masih dipikirkan dulu fix yang mana.. masih menimbang dua nama. Kamu setujunya yang mana?" jawab Rama.


"Keduanya bagus" kata Izza yang memang sudah tau nama apa saja yang akan dipertimbangkan sebagai nama anak mereka.


.


Pintu kamar rawat inap diketuk.


Perawat dari kamar bayi, melakukan visit ke kamarnya Izza. Melihat kondisi bayi untuk dilaporkan ke dokter anak.


"Pak.. Bu.. sudah tiga jam di inkubator, kami akan pindahkan ke tempat tidur bayi yang biasa ya. Mohon untuk suhu ruangan jangan terlalu dingin. Dan bagi para pengunjung baiknya nanti memakai masker, jangan mencium bagian wajah bayi dulu ya, karena masih sensitif" saran perawat.


"Iya Sus.. besok saya siapkan masker untuk orang-orang yang akan besuk" jawab Rama.


"Untuk pakaian bayi yang dari Rumah Sakit, saya letakkan dibawah tempat tidur bayi ya. Jika Ibu ingin memakaikan anaknya dengan pakaian sendiri, silahkan dipisahkan dari pakaian Rumah Sakit, agar nanti pihak laundry lebih mudah mencatatnya" ucap perawat.


"Iya Sus" jawab Izza.


"Sudah belajar menyusui lagi Bu?" tanya perawat.


"Belum, tadi katanya Bidan, tunggu keluar dari inkubator dulu" jawab Izza.


"Nanti saya panggil Bidannya ya Bu, sekalian saya keluar ruangan ini. Kebanyakan para Ibu baru, akan bingung jika anak sudah menangis tapi ASI belum lancar keluar. Ibu tidak perlu insecure jika masih sedikit yang keluar, karena memang kebutuhan bayi masih sangat sedikit. Jika perlu memanggil kami, Ibu bisa tekan tombol panggil perawat" kata perawat.


"Ya Sus" jawab Izza.


Perawat mengecek dan mengganti pakaian serta bedong bayi, kemudian meletakkan di tempat tidur bayi.


"Bapak.. Ibu.. saya permisi keluar, selamat istirahat" ucap perawat.


"Terima kasih ya Sus" kata Rama.


.


"Kak.. ada makanan ga?" tanya Izza.


"Lapar?" jawab Rama.


"Iya" kata Izza.


"Untung tadi Papi beli makanan siap saji, tinggal masukkan ke microwave untuk menghangatkan makanan" ujar Rama.


Rama menuju kulkas.


"Mau nasi daun jeruk dan ayam panggang, nasi goreng hijau dan empal daging, nasi rendang, nasi ayam katsu" sebut Rama.


"Minimarket pindah namanya itu Kak" ledek Izza.


"Papi yang beliin, kan tadi pada kelaparan disini. Daripada nyuruh Mang Ujang yang ga jelas, akhirnya Papi ajak Alex ke Minimart bawah buat borong makanan minuman, liat aja kulkas penuh sama minuman" jelas Rama.


"Yang ga pedas aja Kak, terserah yang mana" pinta Izza.


Rama membuka plastik pembungkus dan memasukkan box nasi tahan panas kedalam microwave.


Setelah lima menit, Rama memberikan makanan ke Izza. Rama juga mengambilkan air mineral botol.


"Sini Kak.. duduk disebelah sini" ajak Izza sambil menepuk kasur.


"Kamu kan mau makan" jawab Rama.


"Suapan pertama untuk Ayah terhebat, yang terus mendampingi hingga persalinan, dari tadi juga perhatian sama anak dan istrinya. Pokoknya malam ini dinobatkan sebagai Ayah best of the best deh" ucap Izza sambil menyodorkan sesendok nasi.


Rama memakan nasi yang disuapi oleh Izza. Gantian Rama menyendokkan nasi dan memberikan ke Izza.


"Suapan selanjutnya buat Mommy hebat, yang memberikan sebuah kado istimewa, seorang istri yang selalu mendukung suaminya dalam kondisi apapun. You complete me (kamu melengkapiku). Makasih ya De.. entah dengan kata-kata apalagi untuk menunjukkan rasa terima kasih Kakak ke kamu" kata Rama sambil tersenyum manis.


Izza memakan nasi yang disuapkan oleh Rama.


"Thank you Kak.. you are my sunshine" ucap Izza sambil mengusap pipinya Rama dengan lembut


Rama tersenyum kearah Izza.


🌿


"Pa.. Izza sudah melahirkan" kata Mas Barry saat makan siang di sebuah Restoran yang tidak jauh dari kantor.


"Alhamdulillah.. tau dari mana?" tanya Pak Sandy.


"Dari sekretarisnya Rama, tadi pagi coba telepon ke Rama, tidak diangkat. Akhirnya telepon ke kantornya, Rama tidak masuk karena istrinya melahirkan semalam" jelas Mas Barry.


"Dimana?" tanya Pak Sandy.


"Cinta Medika Internasional Pa" jawab Mas Barry.


"Ga jauh dari rumahnya itu... kamu mau jenguk kesana?" tanya Pak Sandy lagi.


"Papa mau ikut jenguk?" Mas Barry balik bertanya.


"Izza dan Rama sedang berbahagia, jangan karena kehadiran kita malah merusak kebahagiaan mereka" jawab Pak Sandy agak sedih.


"Itu juga Pa yang Barry pikirkan sama Ani. Paling Barry mau kirim makanan saja dulu, pasti banyak tamu disana. Sambil menanyakan ke Rama apa tepat untuk datang menjenguk. Kan katanya Ibu habis melahirkan agak sensitif, daripada stress terus kena baby blues kan kasian" kata Mas Barry.


"Sekalian kamu kirim kado aja kalo mau kirim makanan, minta tolong sama Ani untuk dibelikan yang pantas untuk mereka. Nanti Papa transfer uangnya" pinta Pak Sandy.


"Ya Pa, nanti Ani yang urus, kaya begini dia yang lebih paham" jawab Mas Barry.


"Sepuluh juta cukup?" tanya Pak Sandy.


"Papa mau beli apa memangnya?" kata Mas Barry heran.


"Keperluan bayi itu mahal loh.. Kakak kamu aja beli stroller baby sekitar dua puluh jutaan, itu tiga tahun yang lalu" ucap Pak Sandy.


"Itu karena merek luar Pa.. gara-gara liat artis pakai itu jadinya ikutan" jawab Mas Barry.


"Jangan lupa juga Barry.. Rama itu siapa? dia lebih dari kita, pasti akan pakai brand luar negeri juga untuk anaknya" ingat Pak Sandy.


"Iya juga ya Pi.. ya udah nanti Ani yang urus semua" ujar Mas Barry.


💠


Sejak Izza masuk Rumah Sakit, Rama meminta Farida untuk konfirmasi ke Alex untuk jadwal berkunjung rekan dan teman-temannya Rama agar tidak terlalu menumpuk tamu didalam ruangan. Alex memang sudah standby di Rumah Sakit sebagai asisten pribadi Rama sementara. Siang ini Rama sedang tidur di sofa bed yang ada disebelah kasurnya Izza.


Pak Isam dan Mas Haidar sudah ada di kamar perawatan, tadi Mba Rani sempat mampir sebentar kemudian berangkat kerja.


Mang Ujang kebagian antar jemput Sachi bersama Mba Nur, nanti sepulang sekolah baru Sachi akan datang ke Rumah Sakit. Dia sudah tidak sabar melihat secara langsung adiknya.


.


"Maaf ya, jadi terlalu siang visitnya, ada jadwal operasi dadakan. Bagus ini semua perkembangannya, tidak ada kembung dan sebagainya. Jalan juga sudah enak kan ya?Ada keluhan yang dirasakan seperti pusing atau nyeri perut?" tanya dokter obsgyn.


"Tidak ada keluhan dok, Alhamdulillah semua oke" jawab Izza.


"Jika tidak ada keluhan dan kondisi fit, besok sudah bisa pulang. Untuk bayinya tunggu keputusan dokter anak ya. Nanti check up pasca melahirkan, mulai konsultasi tentang KB ya, baiknya ada jarak dengan anak selanjutnya agar bisa fokus membesarkan diusia emas perkembangan anak" lanjut dokter obsgyn.


"Baik dok" jawab Izza lagi.


"Papanya bayi tidur nyenyak sekali, banyak orang tapi ga bangun" ledek dokter obsgyn.


"Baru tidur dok, dari kemarin belum tidur. Semalam juga yang menggantikan popok adik bayi juga beliau. Dari pagi tamu tidak ada berhentinya berkunjung, jadinya sekarang saya minta di stop dulu untuk tamu yang datang, biar kami bisa istirahat, adik bayinya juga kasian kalo terlalu banyak yang melihat" jelas Izza.


"Papanya pengusaha sukses.. ya konsekuensinya banyak rekan yang berlomba menjenguk. Tapi memang Papa yang satu ini sangat concern dan siap punya anak, saat konsultasi kehamilan saja aktif bertanya dan ingin serba tau. Memang seharusnya seperti itu, perkembangan anak pun harus turut andil" kata dokter obsgyn.


"Iya dok, sangat perhatian memang orangnya" ucap Izza sambil memandang Rama.


"Baik.. jika ada yang perlu ditanyakan, bisa tanya ke Bidan ya, nanti saya jawab jika Bidan tidak bisa menjawab" ujar dokter obsgyn.


"Baik dok.. terima kasih" jawab Izza.


.


Setelah dokter obsgyn keluar dari kamar rawat, gantian dokter anak yang visit.


"Bagaimana Bu.. ASI nya sudah lancar?" tanya dokter anak.


"Saya kurang tau ya dok untuk lancar atau tidaknya, karena saat mengASIhi itu disedot kencang tapi banyak atau tidaknya saya ga paham. Tidak sampai basah pakaian dalam, jadi sepertinya tidak menetes. Apa saya bisa minta diresepkan obat untuk melancarkan ASI saja dok?" papar Izza.


"Jangan panik Bu, bayi itu sudah Allah ciptakan dengan kondisi yang sesuai dengan kondisi Ibunya juga. ASI yang keluar saat ini, masih sangat cukup untuk bayi. Jadi jangan panik karena merasa ASI sedikit dan bayi tidak cukup. Jika bayi menangis, bukan karena haus dan lapar saja, bisa jadi ada kondisi yang membuatnya tidak nyaman seperti mereka buang air, atau gerah dan sebagainya. Rumah Sakit ini pun sudah berkomitmen untuk tidak menganjurkan susu formula, hanya diperbolehkan dalam kondisi gawat darurat saja" jelas dokter anak.


"Jadi tidak perlu pelancar ASI dok?" tanya Izza.


Rama terbangun, dia langsung duduk melihat ada dokter anak.


"Belum perlu Bu, tapi Ibu bisa konsultasi ke dokter obsgyn untuk menanyakan tentang perlu atau tidaknya obat pelancar ASI. Banyak makanan yang bisa menjadi booster ASI. Yang terpenting Ibu tidak boleh stress, harus happy, tidak boleh terlalu lelah dan positive thinking. Apa yang Ibu rasakan, akan anak rasakan juga. Bonding Ibu dan anak itu sudah terjalin sejak dalam kandungan, jika kondisi bayi sehat, besok sudah bisa pulang dari Rumah Sakit. Kontrol pertama akan dijelaskan tentang imunisasi yang akan diberikan ke anak ya" lanjut dokter anak.


"Baik dok" jawab Izza.


"Atau sebagai mood booster, bisa minta hadiah ke suami, kan sudah berjuang selama sembilan bulan mengandung sang buah hati, terus melahirkan dengan segenap daya upaya yang ada. Ya kan Pak? bisa dong istrinya dibelikan tas atau sekedar perhiasan kecil, agar ASI nya bisa tumpah ruah" canda dokter anak.


"Begitu ya dok?" tanya Rama yang belum seratus persen kesadarannya, jadi belum bisa mencerna pembicaraan sang dokter anak.


"Guyon loh Pak.. " jawab dokter anak.


"Tapi sarannya bagus dok, toh apapun yang suami berikan, ga akan sebanding dengan pengorbanan istri menjadi seorang Ibu kan" lanjut Rama.


"Semoga semua Bapak di dunia ini seperti Bapak, sangat mengerti. Tapi kami kaum wanita, dikasih perhatian saja sudah cukup kok Pak" kata dokter anak.


"Yakin dok hanya mau perhatian?" ucap Rama ga percaya.


"Ya.. perhatian sama rekening kami untuk shopping, glow up tampilan dan lainnya.. " canda dokter anak.


Rama dan Izza tertawa. Memang dokter anak yang satu ini termasuk salah satu dokter anak favorit di Jakarta, pembawaannya yang banyak becanda membuat banyak orang tua pasien yang nyaman dengannya.


.


Paket makanan dan kado tidak berhenti datang ke Rumah Sakit, untuk bunga hanya satu buket saja. Para rekanan Rama memang tau jika Rama tidak suka sesuatu yang tidak bermanfaat.


Karena makanan dan buah terlalu over jumlahnya, oleh Rama dibagikan ke perawat dan security yang sedang berdinas. Deretan kotak kue dari bakery ternama di Ibukota, tersusun rapih di meja makan.


Sachi tidak mau beranjak dari samping tempat tidur adiknya. Mengusap kakinya pelan. Rama sedang menyuapi Sachi, hal ini dilakukan agar Sachi tidak merasa tersisih karena punya adik.


"Ayah.. adiknya belum makan, tidur terus" kata Sachi.


"Adik makannya cuma boleh susu, nanti kalo adik sudah besar baru makan nasi seperti Sachi" jawab Rama.


"Mas.. anaknya besar banget.. hebat banget Mba Izza bisa lahiran normal" puji Maryam.


"Alhamdulillah" jawab Izza.


"Udah punya gigi pula ya Za.. ini mah benar-benar bayi kelebihan gizi" kata Ceu Lilis.


"Mba Boss makannya yang mihil-mihil.. masa anaknya ga gede" sahut Mang Ujang.


"Emang ngaruh Mang?" tanya Alex.


"Sekarang nih liat aja, badan montok, rambut banyak, kulit bersih, gigi ada satu. Apa ini bukan karena makanan yang mahal?" sahut Mang Ujang.


"Bukan karena itu aja Mang, tapi bagaimana gizi seimbang aja kok. Misalnya protein.. kan ada tempe, tahu, telur, daging atau ikan. Jadi bisa kan dipilih yang kita mampu belinya. Dan yang lebih penting, Ibu hamil perlu didampingi melewati fase kehamilan. Pelajaran nih buat Mang Ujang, Alex dan lainnya kalo mau punya anak lagi" saran Rama.


"Saya kan belum Boss.. kok kalo mau punya anak lagi" protes Alex.


"Ya nantilah kalo sudah hamil lagi Mba Nur nya" jawab Rama.


Farida datang didampingi supir kantor, dia membawa satu kardus berkas pekerjaan Rama.


"Selamat Pak Rama.. Bu Izza... bayinya lucu gemesin banget" kata Farida.


"Makasih ya Mba Rida.. jadi repot ya Boss tiba-tiba cuti" ujar Izza.


"Tenang Bu.. Boss saya itu komitmen terhadap pekerjaan tinggi. Itu satu kardus isinya dokumen yang perlu diperiksa dan ditandatangani" jawab Farida.


"Ya ampun Mas Boss, nyari duit begini amat. Udah kurang tidur, sibuk ngurusin bayi, eh masih juga bawa kerjaan kesini" ucap Mang Ujang takjub.


"Namanya juga sekarang nambah anggota keluarga.. ya kerjanya juga nambah" ujar Rama.


"Saya jangan ikut-ikutan ditambahin kerjaan ya Mas Boss" sahut Mang Ujang buru-buru.


"Tenang.. kedepannya Mang Ujang akan berbagi waktu sama Alex, jadi ga full seharian sama saya" jelas Rama.


"Ini maksudnya Mas Boss akan kerja dua puluh empat jam? mau buka minimarket atau mau buka klinik?" ledek Mang Ujang.


"Saya mau banyak kerja dari rumah, jadi Mang Ujang dan Alex yang bolak balik ke kantor. Pokoknya datang ke kantor kalo ada meeting aja" ujar Rama dengan entengnya.


"Kok begitu Pak?" tanya Farida heran.


"Kan saya ownernya, bisa saja menunjuk orang lain untuk memimpin Abrisam Group" lanjut Rama.


"Benar mau begitu Ram?" tanya Pak Isam ikut penasaran.


"Kaya Mas Haidar aja, enak bisa atur waktu kerja. Ya ga Mas? jadi bisa lebih banyak quality time bareng keluarga, tapi cuan jalan terus" jawab Rama.


"Akur Bro... " sahut Mas Haidar.


"Kalian yaaaa.... awas aja ga mau ngurusin Abrisam Group.." gumam Pak Isam kesal.


Mas Haidar dan Rama malah tertawa melihat Pak Isam tampak jengkel.


"Oke gapapa.. tapi anak-anak kalian akan Papi atur sekolahnya, akan Papi didik jadi penerus Abrisam Group. Dilarang protes.. sekian .. titik tanpa koma" tegas Pak Isam.


"Ga Pi.. becanda aja Pi.. Rama urusin kok Abrisam Group, tapi anak-anak jangan dipaksa ya..." rayu Rama mendekati Pak Isam.


"Ya ampun Papi.. ga bisa rileks dikit.. cuma guyon kecil aja .. jangan dibawa serius" kata Mas Haidar ikut memijat pundaknya Pak Isam.


"Takut kan kalo Papi udah bilang begitu" ujar Pak Isam penuh senyum kemenangan.


Yang lain tertawa melihat kelakuan Rama dan Mas Haidar yang merayu Pak Isam.


Sebenarnya Pak Isam juga hanya becanda, cukup sudah kisah masa silam anak-anaknya menjadi pelajaran berharga. Beliau tidak mau cucu-cucunya mengalami pemaksaan seperti yang beliau lakukan.