HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 121, Staycation



Malam ini makan malam yang teramat membahagiakan buat Pak Isam, berkumpul sama anak, mantu dan cucu tercinta serta para pekerjanya. Pak Isam semakin menyadari kalo dengan tidak memaksakan kehendak sama anak-anaknya, maka kondisi keluarga akan lebih kondusif. Tugasnya hanya sebagai wasit, memperhatikan jalannya kehidupan anak-anaknya tanpa mengatur, hanya tugasnya memperingati jika ada pelanggaran atau sesuatu yang keluar dari aturan yang ada.


Pak Isam juga mengundang keluarga pekerjanya di perkebunan untuk makan bersama malam ini. Mang Ujang dan keluarganya pun turut hadir. Pak Isam bersyukur karena akhirnya semua anaknya sudah menikah, sekalipun Mas Haidar kini sendiri, tapi dia sudah pernah menikah.


Deretan gerobak makanan yang sudah dipesan oleh Pak Isam, rame dikerubungi oleh mereka yang berada di villa Pak Isam, bebas memesan sesuai keinginan apa yang mau dimakan.


Ada cuanki, sempol ayam, seblak, nasi goreng, soto ayam, kupat tahu, es cendol dan es bojong (terdapat alpukat, tape ketan hitam, irisan buah nangka kuning, kelapa muda, nanas, cincau dan duren).


.


Sachi tidur lebih cepat, tadi sore dia habis keliling di kebun buah dan setelah Maghrib minta makan, ga lama kemudian tidur. Setelah Sachi tidur, baru Izza keluar kamar dan meminta Mba Nur buat jagain Sachi.


.


Rama mengajak Izza duduk dipojok villa. Dari villa yang agak tinggi, tampak view kota Tasikmalaya dikala malam.


Salah satu pekerja membawakan es bojong, air mineral, nasi goreng, sempol ayam dan jagung rebus pesanan Rama. Izza belum mengambil makanan apapun.


Rama juga sudah meminta Izza memakai jaketnya yang tebal, dulu dipakai saat musim salju di Inggris. Bahkan Izza juga memakai kaos kaki dan topi kupluk untuk menutupi jilbabnya yang masih tembus oleh dinginnya udara Tasikmalaya.


Hawa dingin, udara segar, pemandangan indah... perpaduan manis buat honeymoon sebenarnya, tapi apalah daya, keduanya belum ada keinginan untuk saling memadu kasih.


"Makan berdua aja, nanti kalo kurang, bisa pesan lagi" tawar Rama.


"Ya..." jawab Izza sambil mengambil sempol ayam.


"Za... kenapa kaki kamu ga mulus, maaf ya.. secara kan tertutup, jadi sangat terlindungi dong dari paparan cahaya dan sebagainya" buka Rama.


"Saya kan hidup berpindah-pindah, kadang dapat tempat yang bersih, kadang dapat lingkungan kumuh. Saya juga suka bermain bersama di lapangan. Anak kecil biasa kan jatuh terus luka, udah sembuh begitu lagi. Ditambah pernah ngalamin gatal. Ga ada uang buat berobat, ya paling kasih bedak aja" cerita Izza dengan santai.


"Sebegitu susahnya kamu melewati kehidupan dari kecil hingga saat ini?" tanya Rama serius.


"Kenapa mau tau? apa peran saya sebagai istri berkurang karena kondisi kaki saya yang ga mulus? yakin Kak Rama juga mulus? secara hobi berantem dan sering dijahit kan sama dokter Deni" jawab Izza.


"Ya.. tapi luka saya jelas karena berantem, kalo kamu kayanya bukan sekedar jatuh. Saya tau luka yang kena benda tajam, kena dera pukulan bahkan jatuh model gimana juga tau ciri-cirinya" papar Rama.


"Mantan preman sih ya... jadi paham" ledek Izza.


"Enak deh nasi gorengnya, baru ketemu tukang nasi goreng pake areng gini masaknya, ga pakai kompor. Jadi ada aroma-aroma gimana gitu" ucap Rama.


"Ya mungkin mau bikin ciri khas sendiri" jawab Izza.


"Iya juga sih... coba deh" tawar Rama sambil menyodorkan sendok ke Izza.


Izza hanya melihat saja, masih menutup rapat mulutnya.


"Keberatan satu sendok sama saya? ini wajar kan kalo pasangan suami istri. Tenang Za.. sesuai janji saya, ga akan menggauli kamu sebelum kita sah secara negara. Saya ingin melindungi hak kamu jika kita menikah resmi. Apa yang saya lakukan memang ga tau apa ini baik atau tidak buat kamu, tapi hati saya sudah memilih kamu menjadi pendamping. Ini takdir yang ga bisa saya lawan kan?" ujar Rama.


Izza membuka mulutnya kemudian Rama menyuapi sesendok nasi goreng ke mulutnya Izza.


"Eealahhhhh... itu udah mojok diujung, mana agak gelap, segala suap-suapan sambil pandang-pandangan. Mas Boss beneran deh bikin orang jelez aja" ucap Mang Ujang.


"Jelez apaan sih Mang?" tanya Alex.


"Cemburu.. makanya kalo sekolah tuh belajar yang bener, jangan kebanyakan di kantin" ledek Mang Ujang.


"Kaya yang ngomong pinter aja. Tapi ya Mang.. saya seneng deh liat Boss Rama memperlakukan Mba Izza. Keliatan care banget" kata Alex.


"Emang Mba Izza kosmetik segala ker keran" ucap Mang Ujang.


"Kosmetik? maksudnya apa sih Mang?" tanya Alex.


"Itu skinker buat kosmetik kan? tadi kan kamu bilang Mas Boss ker sama Mba Izza, maksudnya Mas Boss beliin kosmetik buat Mba Izza? ya wajar itu mah, secara istrinya" kata Mang Ujang tanpa rasa bersalah.


"Lain atuh Mang... care ... bukan skincare. C A R E .. care" eja Alex.


"Cere???? ah yang bener aja Lex.. baru juga nikah agama masa langsung cerai aja. Lagian orang lagi mesra kaya gitu dibilang mau cerai, ngomong tuh yang baik-baik, karena ucapan kita do'a. Emang kamu mau Boss kita pisah? jahat banget sih Lex. Jangan bilang kalo kamu suka sama Mba Izza dan nungguin jandanya ya" oceh Mang Ujang.


"Udah dibilangin kan sama Mas Boss, tiap gajian beli korek kuping, biar ga budeg kalo dengerin sesuatu" omel Alex.


"Lah dia yang ngomong malah dia yang marah. Lagi stress ya Lex?" kata Mang Ujang.


"Sampai sebelum saya duduk ngobrol sama Mang Ujang, Alhamdulillah sehat. Begitu ngobrol sama Mang Ujang, tetiba saya stress" lanjut Alex.


"Makanya kalo gajian tuh berobat. Ngeluh mulu kalo lagi ngobrol berdua. Yang pusing lah, yang mual lah..eh sekarang stress. Kerja keras boleh Bro.. tapi keseharian kudu dijaga" saran Mang Ujang.


"Bisa diam ga Mang? Jangan sampe saya siram pake kuah seblak ya" Alex mulai emosi.


"Ih dia mah gampang panas kaya emak-emak tiap denger kata harga naik.. langsung deh blingsatan. Segala ngomong politik yang ga ada sambungannya sama harga cabe yang naik" lanjut Mang Ujang.


Alex pergi menjauh dari Mang Ujang karena rasanya udah capek ngobrol sama Mang Ujang.


.


Sachi digendong sama Mba Nur mendekati Izza. Dia sudah pakai piyama panjang, kaos kaki dan jaket.


Izza langsung memangkunya.


"Kok bangun?" tanya Izza dengan lembut.


"Ga ada Mommy" jawab Sachi yang langsung memeluk Izza untuk bermanja.


"Ya udah.. kita masuk yuk" ajak Izza.


"Ga mau, maunya bobo disini, maunya dipangku" rajuk Sachi.


"Sini Ayah yang pangku, gapapa bobo dulu disini, nanti kalo udah nyenyak baru Ayah bawa masuk" kata Rama.


Sachi pindah kepelukan Rama kemudian bermanja ke Rama. Kakinya selonjoran dipangkuan Izza.


"Mba Nur udah makan?" tanya Rama.


"Sudah Mas ..." jawab Mba Nur.


"Duduk dulu sini Mba Nur.. " pinta Rama.


Mba Nur duduk dibangku yang terletak dihadapan Rama.


"Lex... Alex..." teriak Rama.


Alex langsung berlari kearah Rama.


"Ada apa Boss?" tanya Alex.


"Udah Boss.. ini lagi selesai ngerokok" jawab Alex.


"Duduk situ disebelahnya Mba Nur" pinta Rama.


Dengan ragu-ragu Alex duduk dibangku panjang. Keduanya sama-sama duduk dipinggiran bangku. Sedangkan Rama dan Izza agak berdekatan karena memangku Sachi yang sudah kembali terlelap.


"Mba Nur dan Alex sudah sama-sama saya utarakan maksudnya saya apa terhadap kalian berdua. Sekarang saya ingin mendengar dari mulut masing-masing, apakah bersedia dengan perjodohan ini atau tidak? kalo setuju, saya akan bantu prosesnya. Jika tidak, sebaiknya langsung diputuskan saja. Agar sama-sama bebas memilih pendamping" papar Rama.


"Maaf kalo saya ikut urun pendapat. Tidak baik kalo digantung permasalahan ini, bisa timbul fitnah. Mungkin maksudnya Kak Rama baik, tapi kan belum tentu untuk pihak Bang Alex dan Mba Nur juga baik. Memang belum saling kenal kepribadian masing-masing. Disini Kak Rama tidak memaksa harus menerima, tapi jika mau saling mengenal dulu silahkan asalkan tidak mengenal sampai kebablasan" papar Izza.


"Menurut Mba Izza apakah Mba Nur cocok untuk saya?" Alex mulai buka suara.


"Kalo masalah cocok atau tidak ya saya ga bisa menjawab, itu nanti Bang Alex dan Mba Nur yang merasakan. Kak Rama bisa dibilang sebagai pihak yang cukup mengenal bagaimana kepribadian Bang Alex dan Mba Nur. Saya tidak menilai siapapun, tapi saya coba sedikit kasih gambaran bagaimana pandangan saya terhadap Bang Alex dan Mba Nur.. " kata Izza dengan bahasa yang teratur.


Izza minum air mineral karena terasa kering tenggorokannya.


"Bang Alex yang saya kenal memang agak keras, mungkin latar belakang dan masa lalu. Tapi Bang Alex punya perasaan yang halus sebenarnya. Ga bisa melihat wanita tersakiti. Baik, teman ngobrol yang asyik dan sedang meretas jalan untuk berhijrah. Mba Nur, dengan pengalaman masa lalu yang manis dan pahit, sabar, ngemong, penyayang, keibuan dan lebih paham agama... perpaduan yang bagus untuk saling mengisi. Yang lelaki haus kasih sayang, yang wanita berlimpah kasih sayang. Menikah memang bukan perkara mudah, InsyaAllah jika sudah diniatkan untuk menyempurnakan agama, Allah akan kasih jalannya" ungkap Izza.


"Saya adalah seorang janda. Usia saya belum genap tiga puluh tahun ketika pasangan hidup yang saya cintai justru malah menggoreskan luka dihati. Segenap keyakinan punya hubungan kekal abadi sehidup semati sebuah perkawinan luluh lantak dalam sekejap. Krisis kepercayaan diri dan trauma menjalin ikatan cinta melanda diri saya. Kesabaran dan kekuatan mental saya diuji sedemikian rupa. Sedikit pun tak pernah terlintas dibenak akan punya status janda. Sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi ketika hidup tak banyak memberikan pilihan. Mas Rama memberikan uluran tangannya, sambil berkata .. Move on please.. lupakan masa lalu, mau sampai kapan menutup diri begini terus?" curhat Mba Nur.


Rama, Izza dan Alex menyimak, membiarkan Mba Nur mengeluarkan uneg-unegnya.


"Mas Rama merupakan salah satu orang yang tahu persis bagaimana sebuah perceraian membuat saya nyaris gila. Keinginan untuk membuka diri terasa sulit. Membayangkan kembali proses perkenalan, pendekatan, memilih, cocok atau tidak dan sebagainya membuat saya pusing" lanjut Mba Nur.


Mba Nur dan Alex sama-sama punya ijazah D3, hingga pemikiran dan tutur bahasanya enak untuk didengar.


"Mba Nur... pengetahuan agama saya masih dangkal. Tapi paling tidak bukankah kita meneladani Rasulullah SAW. Dalam riwayatnya, beliau memutuskan untuk menikahi seorang janda. Apabila pilihan ini dinilai sebagai tindakan yang baik, maka InsyaAllah menikahi seorang janda merupakan suatu tindakan kebaikan.


Menikahi seorang janda dikategorikan sebagai berkah, apalagi jika niat tersebut ingin melindungi dari fitnah maupun hal buruk yang mungkin bisa terjadi. Karena sudah pernah menikah, seorang janda biasanya akan lebih berhati-hati saat menjalani pernikahan selanjutnya, termasuk dalam menanggapi masalah rumah tangga" kata Rama.


"Bang Alex bagaimana?" tanya Izza langsung.


"Saya memang single, belum pernah menikah, tapi saya bukan orang suci, terjerumus kedalam pergaulan bebas. Dibesarkan dilingkungan lokalisasi membuat hal seperti itu menjadi lumrah. Ibu saya adalah kupu-kupu malam, entah dari bibit yang mana saya berasal. Boss Rama inilah yang berjuang mengeluarkan saya dari tempat hina tersebut. Saya disekolahkan dan bisa mengenyam pendidikan hingga D3. Saya berjanji untuk mengabdikan diri bahkan nyawa saya untuk Boss Rama. Jadi apa yang menjadi ucapannya, sebisa mungkin saya turuti. Sekarang Mba Nur .. inilah saya dengan kondisi masa lalu yang mengharu biru. Dalam sebulan ini ijinkan saya untuk mengenal Mba Nur terlebih dahulu, setelahnya saya serahkan ke Mba Nur untuk keputusannya" ungkap Alex.


"Alhamdulillah... " ujar Izza dan Rama bersamaan.


Mereka berempat meneruskan perbincangan. Kali ini sudah jauh lebih santai dibanding tadi saat awal-awal.


HP Rama berdering, ada panggilan. HP Rama tergeletak di meja.


"Za... tolong ambilin deh" pinta Rama.


Izza mengambilkan HP milik Rama.


"Siapa yang telepon?" tanya Rama.


"Lilis" jawab Izza sambil menyerahkan HPnya Rama.


Izza mau mengambil Sachi dari pangkuan Rama.


"Berat... nanti Alex aja yang angkat... Lex.. tolong gendong Sachi ke kamar" kata Rama.


Alex mengangkat tubuhnya Sachi. Izza dan Mba Nur ikut pamit masuk. Kini Rama seorang diri di tempat semula.


Ceu Lilis kembali menelpon karena Rama tadi ga angkat.


"Aa' mah lama angkatnya. Tadi di tempat Abah Ikin ga sempat ngobrol" cerocos Ceu Lilis.


"Assalamualaikum... " sapa Rama.


"Waalaikumsalam.." jawab Ceu Lilis.


"Bagaimana Lis sama tawaran saya?" tanya Rama.


"Lilis sudah memutuskan menerima tawarannya. Sudah berbincang sama Ibu dan keluarga" kata Ceu Lilis.


"Alhamdulillah .. Pokoknya kamu santai aja, semua akan saya siapkan Lis" kata Rama meyakinkan.


"Lilis ga sabar deh pengen ke Jakarta" ucap Ceu Lilis penuh rasa bahagia.


"Surat-surat identitas kamu udah lengkap kan? Nanti langsung diurus ke KUA aja. Kamu serahin aja ke Pesantren, nanti orang disana yang akan membantu" instruksi dari Rama.


"Iya A'.. disini juga ada keluarga Ibu yang biasa urus dokumen pernikahan" jawab Ceu Lilis.


"Saya bahagia Lis... akhirnya bisa juga menuntaskan janji saya ke Mba Nay, bisa ketemu dan jagain kamu. Saya ga mungkin bawa kamu ke Jakarta jika statusnya belum resmi menikah. Ibu dan adik-adik kamu ga keberatan kan kalo kamu pindah ke Jakarta?" tanya Rama.


"Ga keberatan A' .. pokoknya apa yang Aa' bilang pasti Ibu setuju, lagipula Ibu sudah ada yang jaga disini. Walaupun Lilis masih belum rela Ibu menikah lagi, tapi selama Ibu bahagia ya gapapa" ucap Ceu Lilis.


"Alhamdulillah kalo rencana kita dilancarkan ya Lis. Semoga berkah kedepannya. Nanti saya transfer uang untuk kamu sewa salon atau apalah yang kamu butuhkan dihari pernikahan" ungkap Rama.


Matanya Rama tampak menahan keharuan.


"Izza gimana A'? Nanti marah ga kalo rumah kakaknya ditempatin sama Lilis" tanya Ceu Lilis.


"Rumah itu punya saya, bukan punya Kakaknya. Jadi mau saya kasih ke siapa itu hak saya" jawab Rama.


"Aa' kan tau kalo Lilis masih belum bisa terima dia sebagai istri Aa'. Lilis teh masih marah sama keluarganya" ucap Ceu Lilis penuh emosi.


"Lis .. saya ngantuk banget. Dari dini hari belum rehat. Sekarang udah jam sepuluh malam. Besok kita lanjut lagi" pinta Rama.


"Oke deh .. selamat istirahat ya Aa' .. jangan mimpiin Lilis ya" canda Ceu Lilis.


.


Rama menuju kamarnya didalam villa. Kamar miliknya ga terlalu besar. Tempat tidurnya pun hanya muat untuk Izza dan Sachi berbaring. Rama meletakkan HPnya dan jam di meja rias.


"Kakak tidur dimana? ga muat kalo bertiga" kata Izza.


"Saya tidur dibawah aja pake selimut" ujar Rama.


"Dingin Kak.. ga numpang di kamar Papi atau Mas Haidar aja?" tanya Izza.


"Malas sama pertanyaan yang ribet" jawab Rama.


"Di rumah kita juga pisah kamar" ucap Izza.


"Tapi kan saya ke kamar kalo mereka udah masuk kamar. Jadi taunya saya tidur sekamar sama kamu. Udah ya debatnya... saya cape banget nih, mau tidur" pinta Rama.


"Mau digelarin selimutnya?" tanya Izza.


"Ga usah .. kamu tidur aja" jawab Rama.