HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 48, Our story



Rama tengah duduk bersantai sama Pak Isam di teras villa memandang kearah kebun sayur.


"Ram ... nama Hotelnya apa?" tanya Pak Isam sambil ngemil singkong rebus.


"Audah" jawab Rama sambil ikut ngambil singkong rebus juga.


"Ditanyain malah becanda ... kalian nih berdua serius bisnis ga sih, masa udah mau soft opening belum ada namanya. Nama itu penting buat branding" oceh Pak Isam kaget.


"Ya itu nama Hotelnya Audah" jawab Rama.


"Ramaaaa... Papi ga becanda ya, coba jawab yang bener. Masa nanti kalo ada yang nanya... kamu nginep di Hotel mana? Hotel Audah.... Masa gitu sih jawabannya. Adanya orang marah denger jawaban kaya gitu" kata Pak Isam.


"Nah.. lucu dan nyeleneh kan Pi... Di era sekarang ini semua harus ditangkap semua indera kita biar viral. Bisnis harus begitu, ngikutin perkembangan jaman. Misalnya dari indera pendengar, pas denger kata Audah.. pasti kaya Papi responnya kaget bahkan bisa diulang-ulang nanyanya... mau ga mau kan orang akan penasaran, apa sih Audah itu. Dari kekepoan yang ada maka akan banyak dicari di internet atau media sosial yang lain. Bisa dibilang memangkas biaya iklan Pi. Bukankah biaya iklan itu bagian terbesar dalam pemasaran? Nanti juga warna luarnya itu hijau stabilo yang eye catching Pi" jelas Rama antusias banget.


"Kenapa pilih hijau stabilo?" lanjut Pak Isam.


"Ada filosofinya Pi... kehadiran warna hijau tuh bisa memberi kesan rileks dan menenangkan serta memberikan kesegaran. Sesuai kan sama apa yang kita harapkan, biar tamu bisa rileks kalo tidur di Hotel dan bangun tidur merasa segar dan tenang. Kalo dipilih tone stabilo ya biar eye catching, modern dan jadi bangunan yang mencolok ditengah warna sekitar navy dan putih" jelas Rama.


"Kamu tuh sama Anin ada-ada aja ya idenya. Udah dipelajari semua kan secara menyeluruh?" tanya Pak Isam.


"Insyaa Allah sudah dipelajari bersama tim development Pi. Semua sudah tertuang dikajian bisnis. Hotel itu kan bukan Hotel yang benar-benar baru beroperasi, tapi Hotel daur ulanglah sebutannya. Nama Hotel yang dulu tercemar namanya akibat sering ada penggerebekan sebagai Hotel esek-esek milik keluarga Mba Anin harus kita musnahkan Pi" lanjut Haidar.


"Jadi masih ikut kajian bisnis yang lama tapi ada perubahan sedikit aja?" tanya Pak Isam.


"Seperti itu Pi .. lima bulan sudah kami mempelajari serta merancang konsep baru serta perhitungan bisnisnya, seminggu tiga kali meeting buat menggodok semua hal yang harus dilakukan. Termasuk penjualan gedung Hotel milik kita juga Allah kasih jalan. Keluarga Mba Anindya yang membelinya untuk dibangun apartemen. Modal mereka kuat Pi, mungkin nama mereka masih bagus dikalangan investor. Ya mungkin dulu Abrisam Group pun sama, Rama janji Pi ... akan kembalikan semua kejayaan yang pernah Papi raih" jelas Rama.


"Oke noted. So .. jadi hubungan sama keluarga Anin jadi lebih baik dong pasca perceraian Haidar dan Anin?" ujar Pak Isam.


"Bisa dikatakan seperti itu. Rama juga sering ketemu sama Papanya Mba Anin kalo meeting sama Mba Anin. Sepertinya mereka juga udah ga ada masalah Pi, soalnya ga pernah menyinggung masa lalu. Balik lagi ke Mba Anin sih Pi, kayanya mereka tenang karena Mba Anin cepat move on dan keliatannya happy aja menjalani semua aktivitasnya" lanjut Rama.


"Alhamdulillah, terus kamu udah siapin tim khusus buat naikin media sosial? kan kata kamu mau via itu pemasarannya" kata Pak Isam.


"Sudah Pi, malah udah sebulan yang lalu kita siapin media sosialnya. Udah mulai up tipis-tipis buat kasih tau kita bakalan soft opening Hotel Audah. Jadi kita harus berani mengubah mindset orang sih Pi tentang Hotel. Pertimbangan sosial media yang menggila belakangan ini pun akan kita jadikan sebagai promo iklan gratis, jadi dengan biaya promo rendah kita bisa dapat kunjungan tamu yang banyak" jawab Rama.


"Papi ga ngertilah gaya-gaya bisnis anak jaman sekarang, toh semua udah Papi serahin ke kamu. Haidar aja angkat dua jempol atas kerja keras kamu selama lima bulan ini untuk mempertahankan perusahaan kita. Haidar juga lagi konsen untuk mengembangkan sayur organik milik Papi. Dia lagi mau buka toko sayur dan buah organik di Jakarta. Masih ga banyak pemainnya karena harganya mahal. Jadi kalo bisa dia mau potong kompas, dari Papi langsung ke dia. Kan kalo biasanya ada pengepul dulu, itu yang membuat mahal harga sayur organik, ya karena dari tangan ke tangan. Kalo ini kan dari kebun sendiri, jadi banyak memangkas jalur tangan ke tangan, untuk harga pun Papi ga terlalu tinggi kasih penawarannya, yang penting cukup buat beli bibit dan biaya pemeliharaan serta gaji pegawainya" jelas Pak Isam.


"Mantul deh idenya Mas Haidar" puji Rama.


"Haidar juga ingin membangun desa ini, biar para pemuda ga tergoda buat ke Jakarta. Lebih baik membangun desa, banyak potensi disini yang belum tergali. Apalagi Abah Ikin sempat meminta Papi untuk membantu para santrinya yang udah sembuh buat berasimilasi dengan masyarakat. Tau sendiri kan kadang masyarakat masih ga percaya sama orang-orang yang pernah terlibat narkoba atau pergaulan bebas" jelas Pak Isam panjang lebar.


Pak Isam sekarang merasakan kalo kedua anaknya punya pemikiran yang lebih maju dibandingkan dirinya. Beliau merasa lebih tenang sekarang. Tidak ada keributannya diantara anak-anaknya karena sudah memilih tujuan masing-masing.


"Ngomong-ngomong Mas Haidar kemana ya Pi? ga keliatan dari tadi" tanya Rama sambil celingukan.


"Lagi muterin kebun sama Sachi. Sachi senang kalo naik motor yang ada bak di belakangnya" jawab Pak Isam dengan binar bahagia.


"Papi udah makin sayang ya sama Sachi? kayanya udah banyak tau apa yang Sachi suka dan ngga, udah gitu Papi pasti ngomelin kita kalo ngomong sembarangan didepan Sachi" ledek Rama hati-hati agar ga menyinggung perasaan Pak Isam.


"Punya cucu itu ternyata hiburan tersendiri ya, melihat kelucuan dan kepolosannya membuat Papi ingat masa saat kalian semua masih kecil. Dulu Papi sibuk sama kerja hingga banyak terlewat momen tumbuh kembang anak-anak. Hidup bersama Sachi selama lima tahun ini, seakan Papi melihat perkembangan kalian dulu. Sachi seakan menjadi pengisi kekosongan waktu Papi setelah ga sibuk bisnis" ujar Pak Isam.


"Alhamdulillah... apa sekarang saatnya semua bisa legowo untuk mengetahui asal-usul Sachi sebenarnya? toh Papi udah bisa terima keberadaan Sachi dan Mas Haidar juga stabil kesehatannya" papar Rama.


"Entahlah ... Papi takut untuk menerima kenyataan. Kalo dia bukan cucu Papi gimana?" tanya Pak Isam.


"Pi ... dia anak kandung Mas Haidar" jawab Rama meyakinkan.


"Ayahhhhhh ... " teriak Sachi dari motor.


Setelah turun dari motor, Sachi langsung lari memeluk Rama.


"Sachi bawa apa tuh?" tanya Rama.


"Tahu bulat" jawab Sachi.


"Doyan banget sama tahu bulat" kata Rama.


"Iya nih ... kalo liat tahu bulat pasti minta beli ... gimana deh Abangnya kalo jualan?" ucap Haidar nimbrung.


"Tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan .. gurih-gurih nyoiiii" sahut Sachi sambil menari-nari.


Yang ada disana pun ikut ketawa mendengar celotehan Sachi yang lucu nada bicaranya. Sachi memang selalu berhasil menjadi pusat perhatian keluarga kalo kumpul. Selama ini kalo keluarga Pak Isam kumpul pun, Sachi selalu jadi bintang.


"Permisi Pak ... pisang tanduknya bagus ini ... murahin aja buat Bapak. Buat penglaris" tawar penjual pisang yang lewat depan villa.


"Berapa Mang?" tanya Pak Isam.


"Dua puluh ribu saja Pak" jawab penjual pisang.


"Boleh deh Mang minta tiga sisir" kata Rama sambil mendekati penjual pisang.


"Punten atuh A' ... Mamang teh ga jualan sisir, cuma jualan pisang, liat aja ini gerobak isinya pisang semua" jawab penjual pisang.


"Emang saya mau beli pisang, siapa yang mau beli sisir Mang?" malah Rama yang bingung.


"Itu tadi Aa' bilang mau beli pisang tiga sisir. Maksudnya pisang sama tiga biji sisir kan?" sahut penjual pisang dengan polosnya.


Pak Isam dan Haidar menahan tawa.


"Kenal sama Ujang Jarkasih yang rumahnya di dusun sebelah ga Mang? mukanya rada mirip" tanya Rama.


"Muhun A' ... eta Kakak sepupu saya" jawab penjual pisang.


"Pantes sama modelannya" kata Rama pelan sambil merogoh kantong celananya untuk mengeluarkan uang seratus ribuan.


Uang diserahkan ke penjual pisang dan meminta penjual pisang untuk mengambil kembaliannya.


Setelah tukang pisang berlalu, Rama ketawa sendiri mengingat kepolosan penjual pisang.


"Ayah kok ketawa sendiri? emang ada badut ya Yah?" tanya Sachi yang ga paham dengan apa yang terjadi.


"Gapapa... tadi penjual pisangnya becanda.. jadi Ayah ketawa. Sekarang Sachi mandi dulu ya sama Mba" pinta Rama.


Sachi masuk kedalam villa bersama pengasuhnya.


"Kenapa geli banget ketawanya? telat tuh" tanya Haidar.


"Sama lolanya sama Mang Ujang.. pantes aja .. sepupuan" sahut Rama.


"Ga boleh gitu Ram ... dia emang beneran masih polos kali, mukanya aja keliatan masih muda banget. Belum tau juga istilah menyebutkan satuan pisang. Orang tuh kalo ga tau jangan diledek, tapi diajarin yang benar. Kamu sebagai pimpinan harus bijaksana baik sikap maupun ucapan" nasehat Pak Isam.


"Ya ... tempat ini banyak mengubah Papi" kenang Pak Isam.


"Pindah Kartu Keluarga apa kita nih Pi kesini?" canda Haidar.


"Ga usah ganti juga Papi udah diakui warga disini" sahut Pak Isam dengan pedenya.


"Pi... kalo anak Papi nantinya ada yang berjodoh sama orang sini gimana? boleh?" tanya Rama serius.


"Ceu Lilis maksudnya?" Pak Isam balik tanya.


"Yahhh kerjaan Mang Ujang ini mah... fix si ember bocor dia mah" ucap Rama sambil nepok jidat.


"Kamu udah dewasa, Papi udah kapok deh jodohin anak, jadi silahkan tentukan pilihan kamu sendiri. Dulu Mba Mentari pernah mau Papi jodohin eh malah kawin lari. Haidar dijodohin malah bercerai... ga lagi deh, terserah kamu sama Haidar mau nikah sama siapa, selama wanita itu seiman dan baik sih Papi setuju aja. Tapi janji kalo kalian bisa bahagia nantinya" ucap Pak Isam.


"Ga pandang dia anak siapa dan dengan status sosial bagaimana Pi?" tanya Rama meyakinkan.


"Ini kedengarannya kamu udah siap punya KTP Tasikmalaya nih? sekarang ga usah banyak ngomong deh, kenalin ke Papi aja sekarang, coba Papi liat-liat dulu, cocok ga buat kamu. Paling ga Papi pahamlah selera kamu kaya gimana" ujar Pak Isam kasih tantangan.


"Nantilah Pi... selow dulu, tunggu dulu. Masih belum ada yang lulus" jawab Rama santai.


"Lulus apaan?" tanya Pak Isam heran.


"Ehm ...ehm... lulus ujian cinta versi Rama.. Hehehe" ucap Rama cengengesan.


"Jangan gantungin perasaan wanita, gantungan baju aja bisa diambil maling apalagi perasaan" Pak Isam ikut ngelucu.


"Eeaaa... Papi udah gaul deh ngomongnya, pasti ketularan Mang Ujang" tebak Rama.


"Papi kekinian nih" puji Haidar.


"Diajarin Ujang, dia itu lucu orangnya" ucap Pak Isam.


"Ya dia emang lucu tapi cenderung unik kalo Rama bilang. Lucu-lucu ngenes ala jomblo senior" ungkap Rama.


⬅️⬅️⬅️


Sekitar lima tahun yang lalu, Pak Isam merasa dibawah titik terendah. Kepergian Mba Mentari karena kecelakaan pesawat, komanya Haidar yang juga mengalami kecelakaan saat akan menikah dengan Nay, Rama yang saat itu masih banyak membangkang terhadap dirinya, seolah menjadi sumber dari keterpurukannya. Belum bangkit sudah dihajar oleh pengakuan Nay yang bilang mengandung anaknya Haidar. Janji kepada keluarga Anindya pun ga bisa ia batalkan.


Dulu, bagi Pak Isam, nama baik seakan dijunjung setinggi langit, jadinya lupa menapak bumi.


Tidak ada tempat mengadu segala resah yang ada. Ditambah ga punya pegangan agama untuk menenangkan batinnya.


Hingga tanpa sengaja bertemu dengan Ibu panti asuhan yang memberikan tumpangan tempat untuk berteduh saat mobilnya mogok. Beliau pun dijamu teh hangat untuk mengusir dingin saat itu.


Kebetulan Abah Ikin juga sedang berada di panti asuhan. Dari perbincangan singkat, tertariklah Pak Isam untuk belajar agama lagi, bukan dari nol (karena sejak lahir sudah Islam), tapi menambah pelajaran agama lagi untuk menjalankan semua perintah Nya dan menjauhi segala larangan.


Dibawah bimbingan Abah Ikin, pelan-pelan Pak Isam kembali bisa sholat lagi. Lebih tenang dan bisa tetap beraktivitas seperti biasa. Pikirannya pun kembali fokus ke bisnis.


"Semua orang punya takdirnya masing-masing, saat takdir itu datang, tidak ada yang bisa menolaknya, meskipun kita sudah berhati-hati melangkah. Jalani dengan ikhlas karena Allah tau yang terbaik untuk kita" nasehat Abah Ikin.


"Kepada siapa saya serahkan apa yang saya punya? Harta, tahta dan semuanya..." ujar Pak Isam penuh kesedihan mendalam.


"Bukankah punya satu anak lelaki lagi? biarkan dia menjalani ceritanya sendiri tanpa harus Bapak atur. Belajar dari kesalahan Pak" tutur Abah Ikin.


"Ya .. hanya dia harapan satu-satunya" ucap Pak Isam.


"Bukan dia ... tapi Allah adalah harapan yang Bapak punya sekarang ini. Nikmati setiap prosesnya. Nanti Allah akan tunjukan apa yang terbaik buat Bapak sekeluarga" kata Abah Ikin.


.


Kepulangan Rama membawa bayi Sachi pun menjadi tamparan baru lagi buat Pak Isam. Disaat mencoba untuk bangkit, beliau sudah dihadapkan lagi dengan kenyataan punya cucu diluar nikah.


Kembali beliau rapuh dan kembali ke tempat Abah Ikin. Karena ada ketenangan luar biasa, akhirnya Pak Isam membeli tanah dan membangun villa agar ga repot kalo mau sewaktu-waktu datang ke Tasikmalaya.


➡️➡️➡️


"Kayanya banyak pikiran Mba? kusut amat mukanya" ucap Rama saat Mba Gita masuk ke ruangannya buat menyerahkan berkas.


"Gapapa kok Mas" jawab Mba Gita mencoba tetap tenang.


"Sakit?" tanya Rama lagi.


"Ga Mas" jawab Mba Gita.


"Kalo ada yang mau di share boleh Mba? Siapa tau saya bisa bantu" kata Rama lagi.


"Ga ada kok Mas" jawab Mba Gita lagi.


"Ok... oh ya Kamis ini ada soft opening Hotel baru saya dan Mba Anin. Tolong dicek lagi daftar undangan tamu ya, pastikan semua sudah dapat undangan. Izza lagi sibuk kuliah ga Mba?" tanya Rama.


"Ga Mas, ada apa nanyain Izza?" tanya Mba Gita mulai antusias.


"Saya mau minta tolong dia buat ikut ke Tasikmalaya sama Mang Ujang dan satu orang dari pihak Event Organizer (EO) buat jemput penyanyi yang akan isi acara di soft opening. Terus nantinya selama penyanyi itu di Jakarta, minta tolong ditemenin.. ya seperti asisten deh buat penyanyi itu" ujar Rama menjelaskan.


"Hari apa aja Mas? nanti saya tanya" kata Mba Gita.


"Besok jalan ke Tasikmalayanya pagi, sore dah balik ke Jakarta, terus sampe Jakarta langsung nginep di Hotel sampe anterin balik ke Tasikmalaya lagi, berarti dari Selasa sampai Sabtu" ucap Rama.


"Mungkin bisa Mas, kan lagi libur semesteran, nanti saya tanya dulu ya ke dia" jawab Mba Gita rada happy.


"Makasih, kalo dia bisa tolong hari ini hubungi saya" ujar Rama.


"Baik Mas" kata Mba Gita.


.


Rama dan Anindya kembali meeting di Hotel bersama team dari EO, untuk pemantapan rangkaian acara. Rama juga memanggil kembali para karyawan eks hotelnya yang dulu untuk bekerja kembali. Hari ini semua karyawan sudah mulai masuk, jadi sekalian mau kasih briefing. Setelah briefing, Anindya, para manager dan koordinator masuk ke Restoran Hotel untuk test makanan dari dua chef utama yang mereka punya.


Konsep semua makanan yang tersaji pun khas Indonesia. Hanya roti dan sandwich aja menu luarnya. Rama ga ikut mencicipi karena sedang shaum sunnah Senin hari ini.


Saat akan menuju Mesjid dekat Hotel untuk sholat dzuhur, Mba Gita menelpon memberitahu kalo Izza mau ambil pekerjaan yang ditawarkan oleh Rama.


Rama meminta nomer HPnya Izza ke Mba Gita, ada yang perlu didealkan mengenai pembayaran dan aturan kerja. Mba Gita langsung kasih nomernya.


Rama menghubungi Izza, membicarakan masalah upah yang akan didapat dan apa aja yang harus dilakukan, agar akad kerja sudah transparan sejak awal. Rama juga akan membuat kontrak kerja walaupun hanya sebentar. Izza hanya mengiyakan apa yang Rama bilang.