
Move on artinya adalah bergerak. Dalam kasus cinta, susah move on artinya setiap waktu berlalu selalu memikirkan kenangan sang mantan. Mantan sudah bahagia dengan pasangan baru, si susah move on masih saja diam di tempat.
Setiap pasangan pasti mendambakan rumah tangga yang bahagia serta dipenuhi dengan keberkahan dan kebahagiaan lahir batin dalam bingkai keimanan. Tentunya perlu ada pola interaksi yang positif, harmonis dan saling melengkapi antara suami dan istri.
.
Pagi ini, Mas Barry dan Ani sedang berbincang dengan Abah Ikin di Pondok Pesantren. Semalam pasangan ini datang untuk mencari pencerahan atas kisruh rumah tangga mereka selama menikah. Keluarga dari kedua belah pihak sudah pernah dilibatkan beberapa kali, tapi hasilnya hanya sesaat dan akan kembali ke pola masalah semula.
Mereka diminta bercerita menurut versi mereka masing-masing oleh Abah Ikin. Secara bergantian tanpa ada yang boleh membantah maupun menyela pembicaraan.
Selama Mas Barry dan Ani mengeluarkan segala keresahan, Abah Ikin tampak menyimak dengan serius. Mencoba mencerna apa yang menjadi pokok permasalahan mereka.
Setelah dirasa cukup mengerti benang merahnya, giliran Abah Ikin yang mengemukakan pendapat.
"Abah hanya bisa memberikan saran, mungkin saran ini sudah kalian dengar berkali-kali. Tapi tidak ada salahnya kan kalo Abah mencoba memberikan sedikit pencerahan untuk kalian. Mulai sekarang, kenali diri kalian sendiri terlebih dahulu. Apa yang menjadi kendala hingga tidak bisa menerima satu dengan lainnya. Ini hubungan suami istri loh, bukan pertemanan, jadi setidaknya perlu tau apa sih yang kalian harapkan dalam pernikahan ini. Coba ambil waktu tanpa kesibukan dan gangguan apapun, berbincang dengan pikiran terbuka hanya berdua saja, tidak perlu ada orang lain. Jangan pernah juga kalian menyepelekan hal kecil dan jangan membesarkan sesuatu hingga jadi ricuh. Semoga kalian paham apa yang Abah sampaikan. Selama kalian masih saling curiga terhadap mantan atau istilah anak sekarang gagal move on, kalian akan sulit bisa saling menerima" kata Abah Ikin panjang lebar.
"Saya mau suami bisa memperlakukan dengan baik layaknya seorang istri yang dicintai, bukan sekedar boneka penghias di rumah saja. Saya juga wanita yang butuh kasih sayang yang tulus" lanjut Ani.
"Bagaimana saya bisa memperlakukan secara baik kalo dia masih sibuk dengan kenangan sama mantan terindahnya. Setulus-tulusnya saya, tidak akan pernah dia lihat. Saya hanya memiliki raganya tapi tidak hatinya" ujar Mas Barry.
"Mas yang ga pernah percaya kalo Ani dan Mas Candra tidak pernah berhubungan lagi" bela Ani.
"Sudah...sudah... hal ini tidak akan pernah selesai jika hanya berputar di hal yang sama. Sekarang kalian berdua mau berbincang disini atau tempat lain?" ucap Abah Ikin.
"Di tempat lain saja" jawab Mas Barry.
"Coba duduk di saung yang ada dipinggir kolam ikan yang besar dibelakang sana. Resapi alam sekitar dan temukan pesan-pesan yang tersirat" saran Abah Ikin.
.
Selepas sholat Dzuhur dan makan siang, Mas Barry dan Ani duduk ditepi kolam, tempat yang sama seperti saat Rama sedang galau. Kalo dulu Rama duduk di kursi karena belum dibangun saung seperti sekarang.
Mas Barry dan Ani duduk dengan santai, mengamati sekeliling dan mulai berbincang pelan-pelan ga pake emosi.
Entah kenapa, mereka berdua kompak melihat pohon pisang yang tumbuh disamping kolam ikan. Ada tiga pohon pisang berjajar dan sedang berbuah semua.
.
Selepas isya, keduanya dipanggil oleh Abah Ikin ke ruang tamu rumah beliau.
"Apa yang kalian amati tadi siang?" tanya Abah Ikin.
"Suasana nyaman, tenang, hembusan angin yang sejuk" jawab Mas Barry.
"Pohon pisang.. entah kenapa mata tertuju kesana terus" ucap Ani.
"Sama.. saya juga tertarik melihat pohon pisang yang tengah berbuah" lanjut Mas Barry.
"Sekarang apa yang bisa kalian ambil sebagai pelajaran dari pohon pisang?" tanya Abah Ikin.
"Belajar apa ya? pohon pisang sepertinya tidak seperti pohon kelapa yang bermanfaat dari akar, batang, daun dan buahnya" jawab Mas Barry.
"Allah SWT menciptakan sesuatu pasti ada pelajaran yang bisa kita petik. Sekarang Abah tanya, pohon pisang itu dapat tumbuh di mana saja atau tidak?" tanya Abah Ikin lagi.
Mas Barry dan Ani mencoba untuk berpikir.
"Sepertinya bisa, soalnya mudah saja ditemui didaerah dataran tinggi maupun rendah" jawab Mas Barry.
"Sepertinya di tempat yang gersang sekalipun, pohon pisang selalu bisa survive. Malah banyak yang tidak dirawat, dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa perawatan seperti pohon buah-buahan lainnya" papar Ani.
"Apa yang kalian jawab benar semua. Dari sana, kalian bisa meniru pohon pisang dalam hidup ini. Kita harus bisa hidup dimanapun, bagaimanapun keadaanya dan selalu berusaha untuk tetap hidup dan tidak mudah menyerah dengan keadaan. Bagaimana menurut kalian? sudah paham belum?" ujar Abah Ikin.
"Paham.." jawab Ani dan Mas Barry kompak.
"Perhatikan juga, pohon pisang itu tidak akan mati sebelum dia mengeluarkan buahnya (dalam keadaan normal). Apa yang bisa kita petik dari fenomena tersebut? yaitu dalam hidup ini kita harus berkarya, menghasilkan sesuatu yang bisa memberikan manfaat pada orang lain, jadi kita harus berusaha sebaik-baiknya untuk menghasilkan karya walaupun nantinya bukan kita yang menikmati hasil dari kerja keras kita. Kita jangan pernah meninggalkan suatu tempat tanpa meninggalkan kesan yang baik" ungkap Abah Ikin.
Mas Barry dan Ani mengangguk mendengar perkataan Abah Ikin.
"Pelajaran ketiga, pernah mendengar ketika membuat bangunan atau jalan, jangan menyisakan bonggol pohon pisang di lahan yang akan kita bangun?" tanya Abah Ikin.
Mas Barry dan Ani kompak menggelengkan kepalanya.
"Bonggol pohon pisang yang tertutup oleh bangunan (beton), lama-lama pohon pisang itu akan tumbuh menghancurkan bangunan atau jalan tersebut. Karena walaupun lunak, pohon pisang yang masih bisa tumbuh dapat menghancurkan benda padat dan keras. Begitu pula kita, walaupun kita lemah, kita harus berusaha sekuat mungkin untuk menghancurkan hal-hal yang menghalangi kita untuk meraih impian atau cita-cita yang kita inginkan, janganlah berputus asa. Berjuang secara bersungguh-sungguh sekuat tenaga yang kita miliki sampai Allah sendiri yang menghentikan kita, bukan karena kita yang ingin berhenti. Seperti kenangan mantan, lama-lama bisa menghancurkan rumah tangga kita kalo kita pendam didalam pikiran" lanjut Abah Ikin.
.
Didalam kamar
"Ni.. apa kamu masih mau meneruskan rumah tangga kita?" tanya Mas Barry hati-hati.
"Kenapa Mas tanya seperti itu? apa Mas yang sudah tidak mau melanjutkan pernikahan kita?" Ani balik bertanya.
"Please.. kita ngobrol ga pakai otot. Sudah bertahun-tahun kita ga bisa diskusi. Sekarang Mas pasrahkan semua keputusan ke kamu. Pikirkan baik-baik, apapun keputusan kamu, akan Mas kabulkan" jawab Mas Barry.
⬅️⬅️
Seminggu yang lalu, Mas Barry bertemu dengan Rama untuk urusan Audah Hotel. Dari awal pembicaraan tentang bisnis, kembali Mas Barry meminta pendapat Rama.
"Mungkin ini terkesan saya kejam Mas, tapi untuk apa memelihara borok, obati atau amputasi" ucap Rama yang sudah tidak suka dengan pembahasan tentang rumah tangga Mas Barry.
"Maksudnya gimana Ram?" tanya Mas Barry tidak paham.
"Hanya ada dua pilihan, lanjutkan atau lepaskan. Daripada menyiksa batin kedua belah pihak. Sebagai lelaki, Mas harus tegas dan ikhlas. Mungkin bisa tawarkan ke Mba Ani, maunya seperti apa. Pada ujungnya, semua ingin hidup bahagia kan Mas?" ucap Rama.
Mas Barry terdiam, memikirkan apa yang baru saja Rama katakan.
.
Setelah meeting sama Mas Barry, Rama beranjak pergi menuju Kantor Abrisam Group, ditengah jalan bertemu Ani yang mengalami kecopetan didepan sebuah toko karpet.
Rama yang melihat Ani, langsung meminta Mang Ujang menepikan kendaraan.
"Mba kenapa?" tanya Rama yang melihat wajah Ani sangat panik.
"Habis kecopetan, turun dari mobil langsung diambil tas saya. Dompet, HP bahkan kunci mobil ada didalam tas itu" jawab Ani.
"Sekarang Mba saya antar pulang, nanti untuk mobil, Mba bisa hubungi Mas Barry pakai HP saya" tawar Rama.
.
Didalam mobil, Ani menelpon Mas Barry, solusinya nanti mobil akan diurus sama supirnya Mas Barry. Untuk laporan ke polisi, Mas Barry sedang konsultasi dengan pihak pengacaranya. Ani diminta memblokir dulu kartu ATM nya.
"Gapapa Ram pake HP kamu untuk telepon ke Bank? soalnya kan nomor customer service" tanya Ani.
"Pakai aja Mba, saya pakai kartu pasca bayar kok, jadi mau telepon kemana saja ga khawatir habis pulsa" sahut Rama sambil tersenyum.
"Makasih ya Ram" ucap Ani.
Rama memberikan sebotol air mineral ke Ani untuk menenangkan diri. Diberikan juga roti yang dibawakan oleh Izza.
"Izza rajin ya menyediakan ini semua buat kamu" puji Ani.
"Dia tau Mba kalo suaminya ini doyan makan, daripada kelaparan di mobil" jawab Rama.
"Harmonis banget ya, saling peduli dan penuh perhatian" kata Ani.
"Harmonis dimata orang buat apa Mba, yang penting dalam menjalani rumah tangga kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mba dan Mas Barry pun bisa kok, asal sama-sama mau memperhatikan pasangan. Misalnya Mba tawarkan sarapan, membawakan bekal atau kejutan makan malam. Suami mana sih Mba yang kuat menahan godaan istrinya yang perhatian seperti itu. Suami ga bakalan cari diluar kalo yang di rumah saja sudah cukup membahagiakan" saran Rama.
➡️➡️
"Apa Mas ga melihat seminggu ini Ani banyak berubah?" tanya Ani.
"Ya.. Alhamdulillah.. Mas senang sama perubahan kamu. Malam sebelum tidur udah nawarin mau sarapan apa, kadang masakin atau minta Mba di rumah yang siapkan. Kirim makan siang juga, minta makan malam bareng di rumah. Kalo di kamar juga pakai baju seksi. Perubahan ini dengan kesadaran penuh kan?" papar Mas Barry.
"Mas juga banyak berubah seminggu ini. Kalo ngomong ga pake emosi, kita sarapan dan makan malam bareng. Di kamar nonton TV dan berakhir dengan bercumbu. Kasih kabar kegiatan yang dijalani setiap harinya" ungkap Ani.
"Pada akhirnya.. bukankah ini yang kita inginkan Ni? dengan membaiknya hubungan kita, apa bisa kamu kasih Mas satu kesempatan untuk membuktikan kalo Mas bisa jadi suami yang baik buat kamu?" tanya Mas Barry.
"Apa Mas masih mau membimbing Ani menjadi istri yang lebih baik lagi?" Ani balik bertanya.
Tidak perlu ada jawaban, kini keduanya saling berpelukan erat diatas ranjang.
"Makasih ya Ram.. benar kata kamu, kita harus bisa berubah untuk meneruskan rumah tangga yang lebih baik lagi" kata Ani dalam hatinya.
🌿
Persalinan Izza diperkirakan seminggu lagi, semua persiapan sudah matang. Kamar Sachi yang tepat disebelah kamar Rama, sudah selesai renovasi dan punya connecting door sama kamar Rama. Sachi pindah di kamar Mba Mentari.
Walaupun pada awalnya ada perdebatan sengit antara Izza dengan Rama mengenai konsep tentang perlunya kamar bayi yang terpisah dari orang tuanya, akhirnya sudah ada solusinya, yaitu connecting door. Rama banyak terinspirasi cara orang luar negeri mendidik anak dari kecil untuk tidur sendiri.
Dokter kandungan juga sudah memberikan gambaran melahirkan secara normal karena kondisi kehamilan serta tidak ada yang mempersulit jalur lahir secara normal. Jika nantinya ada kondisi penyulit, melahirkan secara Sectio Caesaria pun sudah dipersiapkan. Termasuk dokter permintaan semua orang medis yang terlibat dalam operasi harus wanita semua.
Kamar pun sudah dibooking oleh Rama agar bisa mendapatkan kamar President Suite sesuai keinginan Rama. Sistem booking ini diperbaharui tiap dua hari sekali. Hal ini mengingat pastinya akan banyak saudara, handai taulan bahkan rekan bisnis Rama yang akan berkunjung menjenguk Izza dan bayinya. Rama dan Izza butuh kebebasan waktu untuk yang jenguk, lagipula keluarga inti Rama sudah memastikan akan ikut menginap di Rumah Sakit. Bisa dibilang ini adalah anak pertama yang dilahirkan dalam sebuah pernikahan yang sah keluarga Abrisam, jadi semua antusias menyambut sang bayi.
.
Pak Isam membatalkan acara liburan bersama dengan keluarga dan para pekerja di rumah. Sebagai gantinya, semua diberikan bonus berupa uang untuk berlibur sendiri. Hal ini karena Pak Isam mau menanti kelahiran cucunya.
Hari ini tampak kesibukan berlangsung di kediaman Pak Isam. Rupanya Pak Isam menyiapkan surprise party untuk ulang tahunnya Rama. Skenario dijalankan oleh semua yang ada didalam rumah. Izza diminta mengajak Rama pergi dulu hingga siang hari. Alasannya ingin jalan-jalan melihat apa masih perlu membeli perlengkapan bayi. Rama tidak akan menolak jika Izza pakai kata-kata ajaib, bayinya yang ingin jalan-jalan.
Semua menyambut dengan bahagia acara ulang tahun Rama yang kedua puluh tujuh tahun. Dari banyaknya rangkaian cerita kehidupan Rama, semua menilai diusia saat inilah bisa dikatakan Rama stabil.
Rama sudah menjadi sosok dewasa dengan segala pemikirannya, mampu mengontrol emosi dengan baik dan pastinya makin perhatian sama semua orang.
Selama ini Pak Isam tidak pernah merayakan bahkan lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun buat Rama, jadi untuk menebus kesalahannya yang lalu, beliau ingin membayarnya sekarang. Mas Haidar dan Mba Rani yang berperan besar untuk menyukseskan acara yang dirancang oleh Pak Isam.
Semua pekerja sudah siap menyambut kedatangan Rama, info dari Izza mereka mampir sholat Dzuhur dulu di Mesjid komplek.
"Kenapa sholat disini? rumah tinggal satu blok lagi" kata Rama.
"Kak.. nanti kalo sudah melahirkan, belum tentu sempat sholat di Mesjid seperti ini. Bisa aja kan karena kesibukan mengurus bayi, jadinya sholat di rumah aja. Sekalian mau berdo'a agar Allah permudah dalam melahirkan"alasan Izza.
"Oke.." jawab Rama.
Rama memang tidak curiga akan ada sesuatu kejutan untuknya, karena memang dia tidak pernah merayakan secara khusus hari ulang tahunnya.
.
Pintu pagar dibuka oleh security, mobil diarahkan ke garasi, Izza yang minta karena mau lewat pintu samping saja.
Rama pun mengikuti keinginan Izza. Rama membukakan pintu mobil untuk Izza dan membantu Izza berjalan. Langkahnya sudah melambat karena kehamilannya.
Memasuki area taman samping, sudah terlihat hiasan ulang tahun dipinggir kolam renang. Begitu sosok Rama terlihat, semua kompak bernyanyi. Rama tersenyum penuh haru, sepanjang dia berjalan menuju meja yang ada tumpeng dan kue ulang tahun, ada foto-fotonya tergantung rapih. Foto sejak dia bayi hingga sekarang ini.
.
Rama memberikan potongan tumpeng pertama untuk Pak Isam. Kemudian Pak Isam memeluk Rama dengan penuh kasih sayang.
"Maafin Papi yang tidak pernah merayakan hari spesial kamu Ram. Kamu pasti tau alasannya. Barakallahu fii umrik Rama, semoga Allah memberikan umur yang panjang dan keberkahan dalam kehidupan kamu, diberikan rejeki yang berkah dan hati yang selalu bersyukur. Papi bangga atas segala pencapaianmu hingga usia sekarang ini. Tetaplah istiqomah dijalan agama, tunduk pada Allah. Sudah mau jadi Ayah sebentar lagi, jangan mengulangi kesalahan Papi, jadi Ayah yang bisa dibanggakan dan disayangi oleh anak-anaknya" ucap Pak Isam sambil kembali memeluk Rama dan menitikkan airmatanya.
"Makasih Pi... Papi itu guru yang hebat buat Rama. Yang ga pernah lelah memberikan nasehat, berkat nasehat yang Papi berikan jadinya Rama bisa sampai seperti saat ini. Terimakasih juga untuk berbagi pelajaran hidup selama ini. Semoga setiap langkah yang Papi lalui dirahmati oleh Allah" ucap Rama dengan tulus.
Kemudian Rama beralih ke Mas Haidar, memberikan potongan tumpeng keduanya. Mas Haidar langsung memeluknya.
"Lamanya waktu yang kita lalui, penuh canda tawa, mengantarkan sampai hari ini dimana kamu akan memiliki tanggung jawab baru. Jadi Ayah yang baik ya Ram" ujar Mas Haidar menepuk punggung Rama.
"Terimakasih Mas, selalu menjadi sosok yang selalu ada buat Rama ya. Jangan berhenti menasehati" balas Rama.
Kemudian Rama memotong kue ulang tahun dan potongan pertama diberikan ke istri tercintanya.
"Wah.. giliran Izza dapat kue ya.." canda Izza.
"Karena kamu cantik dan manis seperti kue ini" sahut Rama.
Semua yang hadir tertawa mendengar rayuannya Rama.
"Terimakasih telah menerima Kakak sebagai suami, meski penuh dengan segala keterbatasan dan segala yang tidak kamu senangi. Terimakasih, telah bersabar, merasakan sedikit manis dan ribuan pahitnya hidup diawal pernikahan kita. Terimakasih, telah menjadi semangat dan harapan buat Kakak. Terimakasih, telah menghadirkan kehangatan, tawa dan air mata bahagia dalam kerajaan kecil kita, semuanya sangatlah bermakna" ucap Rama sambil menyuapi istrinya dan dikecupnya kening Izza.
Saat sedang bertatapan, tangan Izza memegang kuat tangan Rama.
"Kak.... aduh... perut sakit banget" kata Izza sambil memegang perutnya.
"Kenapa? coba tenang, tarik nafas..." bimbing Rama sambil meletakkan piring kue di meja.
"Kayanya udah mau lahir nih" ucap Izza sambil terus megang perutnya.
Semua heboh mendengar ucapannya Izza. Rama yang masih tenang. Dia meminta tolong untuk diambilkan kursi roda yang ada didalam mobilnya. Alex dan Mang Ujang dengan sigap mengambil kursi roda.
"Sabar ya sayang.. kita ke Rumah Sakit sekarang" kata Rama sambil mengusap perutnya Izza.
"Tapi mules banget Kak" jawab Izza sambil menangis.
"Jangan nangis ya, kita akan menyambut anak yang sudah lama kita nantikan, jadi jangan nangis" bujuk Rama sambil memeluk Izza.
Alex mendorong kursi roda, Mang Ujang malah naik diatasnya.
"Ini malah mainan, udah tau mau buru-buru ke Rumah Sakit" omel Pak Isam yang melihat Mang Ujang dan Alex.
"Maaf Pak.. tadi saya ikutan panik soalnya Mang Ujang teriak minta buru-buru, jadinya saya suruh aja Mang Ujang naik ke kursi roda biar cepat" alasan Alex.
"Udah...udah..." kata Pak Isam sambil mengambil kursi roda.
Izza dibimbing naik ke kursi roda, Rama yang mendorong pelan. Rama meminta Alex membawa mobil, Pak Isam pun ikut. Mas Haidar juga sudah siap bersama Mba Rani dan Sachi, mereka juga ingin mengantar Izza.
Rama sudah memasukkan tas yang akan dibawa ke Rumah Sakit seminggu yang lalu, jadi jika keadaan seperti ini tiba-tiba, hanya tinggal naik mobil dan berangkat.
"Ini ga salah mau ikut semua ke Rumah Sakit? udah kaya mau piknik" kata Rama meyakinkan.
"Papi kan mau dampingin mantu Papi, kasih semangat gitu. Terus mau liat cucu Papi juga" jawab Pak Isam.
"Bener tuh Ram.. Mas kan juga mau melihat keponakan" jawab Mas Haidar.
"Sachi mau liat adik bayi Yah.. boleh kan?" tanya Sachi.
"Ya udahlah.. berangkat" jawab Rama.
"Mas Boss tunggu.. masa bestie ditinggal sih" teriak Mang Ujang sambil membawa tas yang entah isinya apa.
.
Sesampainya di Rumah Sakit, via IGD langsung naik ke lantai dua, tempat ruang bersalin berada. Rama mengurus administrasi, karena sudah booking kamar, jadinya barang bawaan bisa langsung dinaikkan ke kamar.
Semua berkumpul didepan ruang bersalin dengan penuh harap-harap cemas.
Rama masuk ke ruang bersalin untuk menemani Izza. Tas berisi dompet dan HP dititip ke Mas Haidar.
"Pada tegang banget ini.. mending ngopi aja ya" tawar Mang Ujang.
"Sana Jang... beli di cafe yang ada dibawah" kata Pak Isam sambil mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu.
"Ga usah Boss Papi.. ini udah bawa termos sama kopi instan, gelas kertas buat kopi juga bawa kok" sahut Mang Ujang dengan bangganya.
"Ya Allah Jang.. bikin malu aja, ini Rumah Sakit Internasional, termasuk salah satu yang elit di Jakarta. Kenapa bawa termos. Bawa lagi sana ke mobil, atau masukkan ke kamar rawat inap yang ada di lantai lima" pinta Mas Haidar sambil geleng-geleng kepala.
"Kan sayang Mas .. di cafe bawah secangkir kopi bisa buat makan dua kali di warteg" alasan Mang Ujang.
"Kan pakai uang Papi.. ga masalah dong? kalo minta dibeliin sama kamu baru masalah" oceh Mas Haidar.
Mba Rani dan Pak Isam menahan tawa atas inisiatifnya Mang Ujang.
"Mang Ujang bawa susu coklat? Sachi mau" kata Sachi.
"Ga sekalian permen, snack keju dan wafer?" tanya Mang Ujang serius.
"Boleh.. memang Mang Ujang bawa?" tanya balik Sachi.
"Ya ngga lah..emang Mang Ujang minimarket" sahut Mang Ujang.
"Tadi ditawarin.. pokoknya Sachi mau semua" ngotot Sachi.
"Udah ya Sachi.. ayo ikut Mama kebawah, disana kan ada minimarket, kita beli yang Sachi mau" ajak Mba Rani.