
Begitu sampai di rumah, Rama langsung tergeletak di sofa ruang tamu, badannya udah lemes dan mulai mual pusing. Belum pernah sampai merasakan sakit seperti ini.
Sachi yang melihat Rama datang langsung datang menghampiri dan memeluk Rama yang sedang tiduran.
"Ayah ... Ayah... tadi Sachi ikut potong-potong sosis" celoteh Sachi yang ga paham kondisinya Rama.
"Pinter ya" jawab Rama sambil matanya terpejam.
Sachi duduk disebelahnya Rama kemudian mencium pipinya Rama. Izza baru masuk kedalam rumah karena merapihkan bawaannya dulu didalam mobil.
"Kok Ayah panas pipinya? muka Ayah juga panas? tangan Ayah panas juga" ucap Sachi sambil memegang keningnya Rama.
"Sebentar ya.. Ayah tiduran dulu.. Sachi main sama yang lain ya" pinta Rama dengan suara yang pelan.
Izza menghampiri Rama. Dia mendekat tepat disampingnya Sachi.
"Aunty .. aunty... Ayah kenapa? Ayah ga mati kan aunty?.. Ayah .. Ayah" ujar Sachi mulai menangis.
"Ayah gapapa, cuma Ayah ngantuk aja" Rama memberikan alasan.
"Sachi .. Ayah kan udah bilang kalo ngantuk, Sachi bobo sama Mba Nur dulu ya, aunty Izza mau siapin minuman buat Ayah" bujuk Izza.
"Ga mau ... maunya sama Ayah" kata Sachi yang malah makin menangis.
"Hei .. kenapa nangis .. udah diam, sini peluk Ayah" ujar Rama dengan sabarnya.
Seletih apapun Rama, dia ga akan menolak Sachi. Sachi tiduran disebelahnya Rama, keduanya saling berangkulan. Izza menuju dapur.
"Rama kenapa Za?" tanya Pak Isam.
"Cape kayanya .. tadi baru berasa pas pulang, di mobil keliatan pucat terus tidur sampe rumah" jawab Izza.
Pak Isam dan beberapa orang saudara menghampiri Rama. Melihat kondisi Rama yang tampak pucat.
"Papi telpon dokter Deni dulu ya" ucap Pak Isam sambil mengeluarkan HP nya dan menghubungi dokter Deni.
Pak Isam menghubungi dokter Deni untuk mengecek kondisi Rama. Jika nanti disarankan untuk dirawat di Rumah Sakit maka akan dibawa sesegera mungkin.
Mba Nur menghampiri Rama karena tadi Izza minta tolong untuk membawa Sachi ke kamarnya untuk tidur.
"Ayo Sachi .. tidur .. udah malam" ajak Mba Nur.
"Udah beberapa kali saya bilang ya, kalo nonton drakor atau sinetron tuh jangan didepannya Sachi. Saya tuh cape, segala pake drama ngomongnya Sachi ala-ala sinteron. Mana dia tau tentang orang mati" omel Rama ke Mba Nur.
"Maaf Mas.. kadang Sachi yang ikutan nonton karena kita nonton bareng sama yang lain" jawab Mba Nur.
"Kan bisa kalo jamnya Sachi tidur.. saya ga larang kalian mau bagaimana juga. Tapi please... satu aja saya minta. Jangan racunin anak saya dengan tontonan yang bukan untuk anak seusianya" lanjut Rama.
"Kakkkk ... udahlah.. lagi sakit aja masih marah-marah.. coba istighfar biar tenang" potong Izza yang sudah membawakan segelas teh manis hangat dan roti isi keju slice.
"Iya nih Rama.. ngomelin orang jangan didepan anak" saran Tantenya Rama.
Izza menyodorkan segelas teh manis hangat untuk Rama. Pak Isam memberikan tanda ke adik-adiknya untuk menyingkir dan mengamati dari ruang keluarga aja, toh masih keliatan aktivitas Rama dan Izza karena tidak ada sekat antara kedua ruangan tersebut.
"Sachi bobo dulu ya.. besok kalo Ayah udah ga cape, bisa main lagi sama Ayah. Sachi mau bobo di kamar bawah atau kamar atas?" tanya Izza sambil membujuk Sachi dan mengambil Sachi dari pelukannya Rama.
"Sachi takut Ayah sakit" jawab Sachi masih menangis.
"Sayang sama Ayah kan? kalo sayang, Sachi tidur dulu, aunty Izza urusin Ayah biar ga sakit ya" ucap Izza sambil mengusap air mata Sachi yang masih tersisa di pipi.
Sachi mengangguk dan pindah kedekapan Mba Nur untuk dibawa ke kamar Mba Mentari, tempat Izza tidur.
.
Dua puluh menit kemudian, dokter Deni datang.
"Malam Pak Isam .. siapa yang sakit? maaf ya tadi pas ditelpon saya masih di jalan. Ini baru mau jalan pulang" sapa dokter Deni.
"Rama .. ga tau kenapa ini, pulang-pulang badan lemas dan panas" kata Pak Isam.
"Kayanya rumah ramai sekali nih Pak.. ada acara?" ujar dokter Deni.
"Kumpul keluarga besar aja dok, rutin tiap tiga bulan sekali" jelas Pak Isam.
.
Rama duduk sambil meminum teh manis hangat, Izza duduk dihadapannya.
"Isi dulu ya pakai roti.. sedikit aja" rayu Izza sambil menyodorkan rotinya.
Rama menggelengkan kepalanya.
"Sakit manja kali nih" kata dokter Deni yang baru masuk kedalam rumah.
"Malam dok" sapa Rama sambil berusaha tersenyum.
"Malam .. kenapa Mas?" tanya dokter Deni.
"Badan rasanya ga ada tenaga, saya sih ga merasa demam, hanya mulai agak pusing dan mual" keluh Rama.
"Isi kali Mas" ledek dokter Deni.
"Isi apa dok?" tanya Rama yang ga paham maksudnya pak dokter.
"Hamil" jawab dokter Deni santai sambil mengeluarkan stetoskopnya.
"Hamil? saya hamil?" ucap Rama yang masih ga bisa cepet mikir.
Orang-orang yang ada di ruang keluarga udah menahan tawa atas ke-lola-annya Rama.
"Ya bukan Mas Ramalah yang hamil.. tapi istrinya" kata dokter Deni.
"Istri?" tanya Rama lagi.
"Jangan bilang Mas Rama kena amnesia ya sampe lupa sama istrinya.. Maaf ya Mba.. kadang memang lelaki tuh suka lupa kalo udah punya istri" kelakar dokter Deni.
"dok.. periksanya disini aja ya, bisa kan ya dok? saya masih lemes banget" pinta Rama.
"Bisa .. saya periksa dulu ya" ucap dokter Deni.
.
dokter Deni mengeluarkan tensi elektrik untuk mengecek tekanan darahnya Rama, kemudian memeriksa bagian tenggorokan dan telinga. Baru kemudian memeriksa dada menggunakan stetoskop.
Setelah dicek kondisinya, Rama mengalami kelelahan, tekanan darahnya pun rendah.
"Kelelahan aja ini Mas.." diagnosa dokter Deni.
"Habis dari luar kota dok, tapi ga ada arah sakit demam berdarah kan ya dok? soalnya saya semalaman didepan kolam ikan, khawatir ada nyamuk. Saya pakai jaket sih saat itu dan merasa ga digigit nyamuk" jelas Rama.
"Itu harus pemeriksaan laboratorium, kalo nanti tiga hari panas belum turun, cek lab ya" pinta dokter Deni.
"Ya dok" jawab Rama.
"Capek atau kekurangan energi bisa karena terlalu banyak beban pekerjaan, kurang tidur, cemas, kebosanan atau kurangnya olahraga. Situasi emosional stress juga dapat menyebabkan kelelahan yang berujung pada badan lemas dan tidak selera makan. Kan udah saya sarankan untuk selow aja Mas Rama, apa kejar target mau cepat punya anak jadi ngelembur terus sama istri tiap malam?" ucap dokter Deni.
Rama cuma senyum aja.
"Apa perlu infus vitamin C aja dok, saya kan juga rutin sama dokter Deni setiap tiga bulan sekali" pinta Pak Isam.
"Boleh, saya resepkan dulu untuk obat dan cairan infus serta jarumnya ya, nanti tolong dibeli di Apotek depan komplek ada kok. Soalnya saya ga bawa stok. Kan pasang infusan ini sekitar satu jam, nanti saya tinggal dulu buat pulang ke rumah, satu jam lagi tolong infokan ke saya untuk saya lepas infusan" jelas dokter Deni sambil menuliskan resep.
.
.
Izza membawa nampan berisi makanan ringan dan minuman. Pak Isam menemani dokter Deni ngobrol karena Rama kembali tiduran, Izza meletakkan bawaannya di meja ruang tamu.
"Silahkan diminum dok" tawar Izza.
"Makasih Mba.. wah kalo disediakan seperti ini, bisa-bisa saya ga pulang nih" canda dokter Deni.
"Bisa aja dok.. kan cape habis praktek, silahkan dicicipi dulu dok" kata Pak Isam.
"Mba .. siapa deh namanya? lupa saya" tanya dokter Deni.
"Izza.." jawab Izza.
"Ya Mba Izza.. suaminya harus lebih diperhatikan lagi ya. Mas Rama ini sepertinya setipe sama Papi dan Kakaknya.. workaholic. Dibawelin aja .. toh demi kebaikan bersama" saran dokter Deni.
"Rama ini jarang sakit dok, makanya baru kali ini dia sampai tepar begini. dokter tau sendiri lah jaman dia suka dijahit, ga ada merasa sakit sedikit pun" ujar Pak Isam.
"Kaget mungkin Pak... beban pekerjaan menumpuk, kan Pak Isam sudah tidak aktif kerja. Ditambah Mas Rama punya Hotel yang baru dibuka, pasti banyak pikiran tercurah kesana, ditambah masih pengantin baru, masih hangat-hangatnya kalo ketemu istri, ya jadi banyak begadang" papar dokter Deni.
Semua yang ada di ruang keluarga tertawa berjama'ah, lucu sama obrolan dokter Deni yang mengira Rama sudah menikah. Untung Rama sedang lemas tak berdaya, kalo dia segar bugar pasti langsung ngomel.
"Jadi saran saya ... Mas Rama harus bisa manage waktu dengan baik. Kalo udah lelah di kantor ya ga usah berlelah ria di rumah. Perbanyak istirahat, minum air hangat, hindari dulu makanan yang pedas dan bersantan. Take it easy aja Mas Rama, jangan terlalu cemas atau banyak pikiran. Kalo ada rejeki cepat punya anak juga ga perlu bikinnya tiap hari. Tubuh kita juga perlu istirahat yang cukup" lanjut dokter Deni.
"dok.. apa boleh makan dulu sebelum diinfus? karena dari siang belum makan" potong Izza.
"Silahkan.. mau dikasih makan apa ya?" ujar dokter Deni.
"Soto boleh dok?" tanya Izza.
"Soto bening oke, protein juga ga masalah asal jangan seafood dulu ya, banyak kasus bermasalah jika vitamin C bertemu seafood. Kalo bisa telur dan ayam bagus kok" jelas dokter Deni.
"dokter mau makan juga? nanti saya siapkan sekalian ya ... sambil menunggu" tawar Izza.
"Wah jadi makin enak ini" kelakar dokter Deni yang memang orangnya asyik.
"Bikinin sekalian Za" pinta Pak Isam.
"Beda ya sekarang .. rumah ini sudah ada nyonya lagi, jadi kalo menjamu tamu sudah totalitas" puji dokter Deni.
"Alhamdulillah dok.. kehadiran Izza ini membawa nuansa baru. Saya seperti punya anak perempuan lagi" kata Pak Isam.
"Do'akan ya Pak .. anak sulung saya kan wanita, bulan depan dilamar kekasihnya, semoga bisa diterima sebagai anak sama keluarga calonnya. Jarang kan mertua bisa menganggap mantunya seperti anak sendiri" kata dokter Deni.
"Semoga nanti mertuanya sayang" ucap Pak Isam.
"Aamiin..." jawab dokter Deni.
.
Izza sedang di dapur untuk menyiapkan makanan. Sepuluh menit kemudian, Alex sudah kembali ke rumah dan memberikan obat ke Pak Isam. Rama membuka jaketnya.
dokter Deni sudah memasang infusan ke tangan kanannya Rama, kebetulan Pak Isam juga punya tiang infus karena sudah langganan disuntik vitamin C tiap ngedrop.
Infus vitamin C adalah prosedur dengan menggunakan vitamin C dosis tertentu yang dimasukkan ke tubuh melalui suntikan infus ke pembuluh darah vena. Vitamin C adalah zat yang sangat diperlukan tubuh karena mempunyai banyak manfaat, seperti meningkatkan daya tahan tubuh hingga merawat kesehatan kulit.
Izza membawakan makanan untuk Rama.
"Jangan pakai cuka atau jeruk nipis ya untuk Mas Ramanya" ingat dokter Deni.
"Iya dok .. untuk dokter Deni, makanannya sudah disiapkan di meja makan, silahkan dinikmati dok" kata Izza.
"Ayo dok .. saya temani" ajak Pak Isam.
.
Izza menghampiri Rama yang duduk di sofa. Yang diinfus tangan kanannya, kini tangan kirinya memegang HP.
"Kak... Nanti lagi urusin kerjaan, sekarang makan dulu" nasehat Izza.
.
dokter Deni tampak lahap sekali makan, beliau sedang berbincang sama Pak Isam. Obrolan seputar Bapak-bapak yang akan menikahkan anaknya. Pak Isam yang sudah berpengalaman memberikan sedikit sharing yang bisa menjadi bahan pertimbangan dari dokter Deni.
.
"Bisa makan sendiri Kak?" tanya Izza pelan.
"Malas rasanya. Perut ga enak" jawab Rama.
"Jangan diikutin kemauan ga makan, nanti malah tambah sakit, kayanya terakhir makan semalam ya. Eh tapi tadi pagi sarapan ga di Hotel?" tanya Izza.
"Makan roti tapi ga habis" jawab Rama pelan.
"Makan dulu ya, sedikit asal perut keisi. Suapin mau" rayu Izza.
Izza mengambil mangkok tanpa menunggu persetujuan dari Rama.
"Ayo buka mulutnya" perintah Izza sambil menyodorkan sendok kedepan mulutnya Rama.
Rama membuka mulutnya dan mengunyah pelan makanan yang ada di mulutnya.
"Gapapa pelan-pelan aja makannya" ujar Izza.
"Ibu Panti datangnya besok" kata Rama rada ga nyambung.
"Iya .. tadi Ibu bilang ada keperluan dulu hari ini. Kakak tetap akan melamar Izza besok? ditunda dulu aja, kesehatan Kakak yang lebih utama" ucap Izza.
"Kan udah dibilang, mumpung keluarga saya kumpul, nunggu kumpul lagi ya tiga bulan yang akan datang" jelas Rama.
"Gini aja deh Kak .. nanti kalo surat kependudukan Izza udah jadi semua, baru kita bicarakan pernikahan, sekarang kok kayanya ga tepat" ujar Izza.
"Kamu benar-benar bersedia kan jadi istri saya?" tanya Rama meyakinkan.
"Saya akan memenuhi apa yang sudah diucapkan. Kak Rama sudah mencabut tuntutan terhadap Mba Gita, bahkan memberikan dua pengacara untuk membantu kasus hukum yang membelit Mba Gita. Terakhir saya jenguk, Mba Gita bilang kalo Mas Rama mengajukan permohonan rehabilitasi buat Mba Gita. Kak Rama juga sudah menyelamatkan saya dari penculikan dan membawa saya kesini. Disini saya dapat segalanya. Punya keluarga yang sayang, apa aja udah tersedia, keluar rumah selalu dikawal .. tau ga Kak.. i'm like a princess" ucap Izza sangat tulus.
"Za .. there's something in me that I might not be able to control (rasanya ada sesuatu dalam diriku yang tak lagi bisa kukendalikan)" kata Rama.
"Apa yang ga bisa dikendalikan oleh seorang Rama?" tanya Izza.
"Cintalah Mba Izza... emang udah saatnya nih Mas Bro nikah, gawat soalnya udah ga bisa ngontrol, sekarang remnya masih pakem, nanti kalo blong bisa kejadian kaya Mas Haidar part two" sahut sepupunya Rama yang mendekati Rama di sofa.
"Jangan gitulah.. ini yang selalu coba saya sembunyikan, lebih baik semua berpandangan negatif tentang saya sebagai Ayah biologisnya Sachi daripada aib Mas Haidar terbuka" kata Rama.
"Yang cerita kan Mas Haidar sendiri, dia mengakui semuanya dan kami mendukung kok semua langkah hukum yang akan dilakukan Mas Haidar terhadap Sachi" timpal Omnya Rama yang juga ikut mendekati Rama.
"Keluarga melihat kalian berdua sudah layak untuk menikah, daripada terjadi hal-hal negatif ya lebih baik kalian menikah. Kami setuju kok sama usul Mas Isam, kalian menikah dulu secara agama, begitu surat-surat diurus langsung deh menikah resmi sekalian resepsi" saran Adiknya Pak Isam.
Izza dan Rama hanya diam. Entah apa yang ada di otak keduanya. Keluarga pun hanya bisa saling berpandangan.
.
Tak terasa sudah satu jam Rama diinfus, dokter Deni melepaskan jarum ditangan Rama dan pamit pulang.
Saudara masih banyak yang ngobrol menghabiskan malam minggu bersama. Pintu depan akhirnya dibuka, Rama belum mau pindah juga ke kamar. Izza baru aja pamit buat istirahat, besok pagi masih sibuk menyiapkan sarapan sebelum semua berangkat menuju Audah Hotel.
Ada yang main gitar sambil nyanyi, ada yang main catur dan ada yang sambil tiduran terus malah bablas jadi tidur beneran.