
Rama baru sampai di HO Abrisam Group. Farida sudah keluar dari mobil, Rama masih sibuk dengan HP nya, ketika akan mematikan HP nya, ada chat masuk.
#Kak, Maaf ya tidak bisa menemani kondangan hari Sabtu. Ada hal urgent yang harus saya selesaikan. Saya tau sudah mengingkari janji, tapi nanti saya akan bayar janji saya. Terima kasih sudah memberikan informasi tentang Mba Zizi, hingga mendampingi saya malam itu dengan segala prosesnya. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang Kakak lakukan. Baju yang Kak Rama belikan sudah saya titip ke Mba Nur. Kan katanya pihak butik bisa kok ditukar selama masih ada hangtag dan belum lewat dari tiga hari. Sekali lagi saya mohon maaf ya Kak# tulis Izza melalui chat yang dikirim ke Rama.
Amarah muncul kembali dalam benak Rama. Dia merasa dipermainkan oleh Izza.
"How dare you do this to me !!! (beraninya kamu melakukan hal ini padaku)" marah Rama sambil memukul dashboard mobilnya.
Mang Ujang yang masih ada dibelakang kemudi terlonjak kaget. Dia langsung mengelus dada melihat kelakuan Bossnya.
"Nanggung Mas Boss kalo cuma mukulin dashboard, sekalian aja pecahin kaca atau bakar sekalian mobilnya, ya kali aja asuransi mau ganti dan bisa punya mobil baru lagi" ucap Mang Ujang.
"Bisa diam? katanya mau pulang kampung.. sana pulang. Nanti kunci mobil serahkan ke saya" perintah Rama.
"Mas Boss mah ga bisa diajak becanda dikit deh, ini artinya Mamang ga dipecat kan Mas Boss? kasihanilah hamba.. baru juga mau kenalan sama keluarga cewe, masa statusnya nganggur, gimana calon mertua mau ngasih anaknya Mas Boss" ucap Mang Ujang memelas.
"Siapa yang mau mecat? kan tadi bilang sendiri kalo mau pulang kampung, ya udah pulang aja. Tapi ga ada uang tambahan buat ongkos" kata Rama lagi.
"Ga jadi pulang aja deh Mas Boss, daripada ga ikhlas" jawab Mang Ujang.
"Terserah aja deh.. mau pulang monggo, ga pulang juga bukan urusan saya" semprot Rama.
Rama langsung turun dari mobil dan masuk ke Kantornya. Mang Ujang menuju parkiran basement.
"Boss kenapa sih.. semingguan ini kaya orang senewen" tanya security.
"Tau tuh .. lagi model senggol bacok kayanya. Ga ada manis-manisnya sama sekali. Biasanya marah ya ga lama ilang. Ini mah marahhhh aja bawaannya. Ga jelas juga apa yang dikeselin" jawab Mang Ujang.
"Beda banget sama Pak Isam dan Mas Haidar yang ga banyak omong. Ini mah udah kalo ngomong bikin orang gemeteran, eh marahnya juga bikin orang bingung" kata security.
"Kerja .. kerja .. ntar ketauan Mas Boss bisa dihukum push up loh" ledek Mang Ujang.
"Emang anak sekolah telat segala push up" ucap security.
"Udah ah... mau melanjutkan mimpi dulu, Mas Boss udah ada di ruangannya.. saatnya selonjoran" ujar Mang Ujang sambil menuju ruangan dipojokkan parkiran tempat dia biasa tidur.
🏵️
"Pak .. Pak .. Sachi demam" lapor Mba Nur sambil menggendong Sachi sepulang sekolah.
"Langsung bawa aja ke dokter aja.. Udah ayo cepat naik mobil" perintah Pak Isam yang langsung mengambil dompet di kamarnya.
Mobil melaju kearah salah satu Rumah Sakit yang dekat sama rumahnya Pak Isam. Mba Nur mendaftarkan Sachi ke dokter anak. Sementara Pak Isam memangku Sachi yang mulai lemas.
Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya indikasi untuk dirawat inap. Dokter memberikan obat penurun panas dan vitamin. Serta memberikan rujukan jika tiga hari demam tidak turun, bisa langsung cek laboratorium.
Pak Isam menelpon Rama, memberitahukan kalo Sachi sakit. Rama langsung pulang ke rumah.
Rama meminta kunci mobilnya ke security.
"Saya bangunkan Mang Ujang dulu ya Mas, tadi tidur orangnya" adu security.
"Ga usah .. kunci ada kan di security?" tanya Rama.
"Ada Mas .. ini saya bawa" kata security sambil menyerahkan kunci ke Rama.
Security memberikan aba-aba parkir untuk Rama, setelah itu memberhentikan laju mobil di jalanan agar mobil Rama bisa keluar.
🏠
Begitu sampe di rumah, Rama langsung ke kamar Sachi bersama Pak Isam. Mba Nur sedang merapihkan tas sekolah dan seragamnya Sachi.
"Sachi sakit gara-gara makan yang aneh-aneh atau tidur kurang?" tembak Rama sambil memeluk Sachi.
"Ga ada maka yang aneh Mas, makan seperti biasa. Tapi kemarin pas Mba Izza pamit pulang, Sachinya nangis terus susah diminta berhentinya. Malamnya juga agak anget, saya kasih penurun panas. Pagi tadi ga masalah, tapi pas pulang sekolah malah lemas dan panas lagi" cerita Mba Nur.
"Kemarin Izza pulang ga pamit sama Papi?" tanya Rama.
"Pamitan lewat telepon, Papi lagi ke rumah teman, ada urusan bisnis. Dia bilang mau ke Kudus cari keluarganya. Ya Papi ga mungkin menahan dia disini. Toh Papi liat dia tegar walaupun sedang berduka. Mungkin karena udah lama ga jumpa sama Kakaknya jadinya ga terlalu sedih" jawab Pak Isam panjang lebar.
Mba Nur dan Pak Isam meninggalkan kamar Sachi, memberikan ruang untuk Rama dan Sachi hanya berdua saja.
"Ayah .." panggil Sachi pelan, dia terbangun dari tidurnya.
"Ya" jawab Rama dengan lembut.
"Katanya aunty Izza mau gantiin Ayah kalo Ayah kerja, sekarang aunty Izzanya malah pulang ke Panti Asuhan. Ayah juga bilang kalo aunty Izza mau tinggal disini" ungkap Sachi.
"Di Panti Asuhan sana, aunty Izza harus bantu urus anak-anak karena Ibu Panti sedang tidak ada. Sekarang Sachi bobo dulu ya, Ayah temenin" jawab Rama mengalihkan pembicaraan.
"Bukannya kita ga boleh kita bohong ya Yah?" tanya Sachi lagi.
"Ya ga bolehlah" jawab Rama.
"Aunty Izza bohong dong?" ujar Sachi.
"Tidur ya... istirahat biar cepat sembuh. Biar besok bisa sekolah" saran Rama.
"Ayah juga bohong dong?" buru Sachi.
"I'm sorry ... Ayah ga bohong, tapi sekarang aunty Izza ada keperluan lain. Nanti secepatnya aunty Izza akan pindah kesini. Kan kemarin Sachi udah ngerasain bobo sama aunty Izza kan?" kata Rama.
"Iya .. nanti kalo aunty Izza tinggal disini, kita bobo bertiga ya Yah .. Sachi mau dipeluk sama Ayah dan aunty Izza" ucap Sachi penuh harap.
"Ya .. secepatnya ya .. sekarang bobo dulu" pinta Rama.
"Iya Ayah.." jawab Sachi sambil memejamkan matanya.
.
Hari ini dihabiskan Rama dengan full mengurus Sachi. Hanya dia sudah komitmen ga mau mandiin atau membantu Sachi buang air besar/kecil karena Sachi perempuan.
Sachi amat senang bisa bercengkrama dengan Ayahnya, hingga lupa kalo sedang ga enak badan. Rama sangat memanjakan Sachi hari ini.
🏵️
"Aduh ... laper banget rasanya ... makan siang dulu ahhh" kata Mang Ujang begitu bangun dari tidurnya.
Mang Ujang memakai kemeja dan merapihkan celananya. Setelah mencuci muka, dia keluar dari ruangan.
"Mobil sepi amat, tumben pada makan siang bawa mobil. Ini mobil Mas Boss juga ga ada, kemana dia ya? ga ngajak-ngajak nih makan siang" ucap Mang Ujang sambil berjalan menuju keluar dari basement.
"Mendung apa ya? gelap amat nih langit" kata Mang Ujang sambil celingukan.
"Malam Mang Ujang..." sapa security.
"Malam .. eh ... malam? emang sekarang jam berapa?" tanya Mang Ujang.
"Jam sembilan malam Mang" sahut security.
"Astaghfirullah... ketiduran sampe malam" kata Mang Ujang sambil nepok jidat.
"Kalo ketiduran mah sebentar Mang .. kalo Mang Ujang infonya tidur dari jam dua belas siang.. itu mah namanya kebluk" ledek security.
"Kenapa ga dibangunin?" tanya Mang Ujang.
"Bilang ga sama yang dinas siang kalo minta dibangunin?" tanya security.
"Udah ah .. ribet .. pulang naik apa nih" ujar Mang Ujang.
"Naik bus atau ojol aja Mang" saran security.
Mang Ujang ngeloyor aja tanpa basa basi.
🌺
Izza sudah memesan tiket kereta ekonomi menuju Semarang (karena Kudus tidak ada stasiunnya, jadi tidak melintas disana. Nanti dari Semarang lanjut naik bis ke Kudus). Kereta api akan berangkat pukul sebelas siang dari Stasiun Senen. Jadi Izza berangkat dari Panti Asuhan jam tujuh pagi. Kebetulan lagi Alex sudah ada didepan Panti Asuhan dan siap mengantarnya.
"Ke halte busway yang di perempatan Pasar Rebo aja ya Bang, nanti naik busway sampe Stasiun Senennya" pinta Izza.
"Gapapa Mba, saya antar sampai stasiun aja biar ga naik turun bis. Bawa tas lumayan berat kan" ucap Alex.
"Jangan Bang Alex.. saya lagi irit-irit ongkos nih. Maklumlah dana terbatas dan belum tau sampe kapan disana. Namanya orang lagi cari alamat" jawab Izza.
"Tenang Mba .. gratis pokoknya .. anggap aja balasan saya kemarin di traktir makan mie instan di warkop" ujar Alex.
"Jangan dong.. kan motor perlu bensin. Kalo mau traktir nanti gantian aja ya .. kita makan warteg kek atau ke warkop makan bubur kacang ijo" kata Izza.
"Pokoknya urusan bayar mah gampang deh.. yang penting naik aja dulu, nanti ketinggalan kereta kan repot" ajak Alex.
Izza naik ke motornya Alex. Alex membawa motor lumayan ngebut, beberapa kali Izza minta untuk nurunin kecepatan, tapi ternyata Alex sama sekali ga mengacuhkan bahkan memacu lebih kencang lagi motornya.
.
"Oke ... dah sampe Mba" kata Alex.
"Bang .. bukan di Stasiun Gambir, tapi saya naiknya dari Stasiun Senen. Emang ga denger tadi kalo saya mau ke Stasiun Senen?" tanya Izza bingung.
Sudah jam delapan kurang lima belas menit, masih ada kesempatan dia naik kereta menuju Stasiun Senen dari Stasiun Juanda.
"Tolong antar ke Stasiun Juanda aja deh ... biar saya naik kereta ke Senennya" ucap Izza.
"Ga bisa Mba, maaf ya saya ada perlu penting nih, jadi mau buru-buru" pamit Alex dan langsung melesat ke jalanan lagi.
"Ealahhhhh... itu orang kenapa sih... dia yang salah eh malah ninggalin gini aja. Au ah.. sebentar lagi mau jam delapan lagi, tapi masih ada kesempatan kok ke stasiun Senen. Untung tadi jalannya lebih pagi" kata Izza sewot.
"Woyyy... marah-marah di parkiran.. cepat kesini, kereta mau jalan tiga puluh menit lagi" teriak lelaki dari arah belakangnya Izza.
Izza membalikkan tubuhnya. Suaranya amat familiar ditelinga Izza. Lelaki tersebut menghampiri Izza dan mengambil tas yang sedang Izza pegang.
"Eh .. eh... Kak Rama mau apa?" tanya Izza mencoba mempertahankan tasnya.
"Ga mungkin dong saya mau jambret kamu ditengah keramaian Stasiun" ucap Rama dengan entengnya.
"Saya mau ke Stasiun Senen.. ini salah Stasiun" kata Izza.
"Nih tiketnya" ujar Rama sambil memberikan tiket ke Semarang.
"Saya udah beli tiket kok" jawab Izza.
Rama jalan menuju kedalam stasiun dengan langkah yang cepat, dia sudah membawa tas jinjing milik Izza yang diletakkan diatas koper dorongnya. Mau ga mau Izza mengikutinya.
"Kak .. Kak.. tunggu dulu" kejar Izza sambil mencoba menahan lajunya jalan Rama dengan menarik tangannya Rama.
"Kamu baca kan kalo di tiket ada tulisan jam delapan lewat tiga puluh menit kereta akan berangkat? jadi sekarang ya harus siap di ruang tunggunyalah" sahut Rama.
"Tapi ini bukan punya saya tiketnya" jawab Izza sambil mencoba menarik tangannya Rama lagi.
"Disitu kan ada namanya .. masih bisa baca kan?" kata Rama.
"Kakak dapat KTP saya dari mana? kan beli tiket pakai KTP" tanya Izza.
"Lupa emangnya pernah kerja di Abrisam Group? lagian mana ada beli tiket pakai KTP, adanya pakai uang" ucap Rama mengoreksi.
"Kak.. jangan becanda deh.. Udah siang nih, tas saya dong balikin" pinta Izza.
Langkah Izza selangkah dibelakangnya Rama. Dia ga mau sejajar. Kembali dia nyolek bahunya Rama agar Rama bisa menghentikan langkahnya dulu guna mengambil tas miliknya Izza.
"Terus Kak Rama mau ke Semarang juga emangnya?" tanya Izza.
"Yup" sahut Rama.
"Mau ngapain?" tanya Izza kepo.
"Mau healing, emang ada larangan saya ga boleh kesana?" jawab Rama.
"Jangan becanda deh" kata Izza.
"Alasan utamanya nemenin kamu sih. Abis kasian kayanya kalo sendirian nyari alamat yang belum jelas. Ga baik tau perempuan jalan sendiri.. nanti banyak setan yang menggangu" ucap Rama.
"Justru sama Kak Rama malah jadi mengundang setan. Coba pikir kalo lelaki dan perempuan bareng, pihak ketiganya setan kan?" jawab Izza ngasal.
"Ya kalo ada setan, kita berdo'a ajalah biar mereka pergi" kata Rama.
"Kak Rama... siniin dong tasnya" rajuk Izza sambil narik jaketnya Rama.
"Kalo mau minta digandeng ya bilang aja, ga usah jaket saya ditarik-tarik, ga enak kan diliatin orang disangka pasangan lagi berantem" ledek Rama.
Izza langsung melepaskan tangannya dari jaketnya Rama.
Mereka menunggu di lounge eksekutif yang disediakan untuk penumpang yang memiliki tiket kereta luxury.
Izza mengambil air mineral untuk diminum karena rasa dahaga menerpa. Sedangkan Rama mengambil jus jeruk dingin yang juga tersedia disana.
Sambil menunggu untuk naik kereta, Izza membaca dengan seksama tiketnya.
"Hahhhh... sembilan ratus lima puluh ribu???" ucap Izza kaget.
"Emang biasanya berapa?" tanya Rama.
"Ya ga tau, kan kemarin belinya tiket ekonomi, seratus enam puluh ribu aja" jawab Izza.
.
Tak lama menunggu, sesuai jadwal, waktu naik kereta pun tiba, seperti yang sudah Izza bayangkan, kereta luxury ada dibagian paling belakang. Gerbongnya berwarna beda dengan gerbong lainnya, bernuansa silver dan emas yang memperlihatkan kemewahan.
Ketika akan naik kereta, langsung disambut dengan senyuman Prami (Pramugari Kereta Api) yang khusus bertugas melayani penumpang di gerbong luxury.
Mereka mendapat nomor tempat duduk bagian depan, komposisinya satu kanan dan satu kiri. Letak tempat duduk bagian kanan menghadap depan dan bagian kiri menghadap belakang.
"Kamu mau yang searah jalan kereta atau berlawanan arah?" tawar Rama.
"Searah aja biar bisa liat pemandangan" jawab Izza.
"Oke.. tukeran duduk berarti" kata Rama.
Dalam satu gerbong ada satu toilet dan dijaga oleh seorang cleaning service yang dengan rajin membersihkan toilet setiap habis dipakai.
Sesuai namanya, tempat duduknya beneran luxury alias mewah banget, sebuah tempat duduk yang sangat privat, joknya dilapisi kulit sintetis berwarna paduan cokelat muda dan sedikit coklat tua. Pas diduduki empuk dan yang pasti ada konsol buat ngatur tempat duduk itu bisa ditegakkan, direbahkan biar kita bisa tiduran.
Selain itu terdapat sebuah layar khusus untuk kita melihat film, main game dan bisa melihat peta real time keberadaan kereta api selama perjalanan.
Pas naik kereta luxury, semua penumpang diberikan sanitary kit, berisi handuk kecil, tissue basah, sikat gigi dan odol kecil. Ada juga sebuah headphone (tidak boleh dibawa pulang, bagus kualitasnya dan dibungkus plastik, gunanya untuk mendengarkan suara kalo mau nonton film).
Sudah diberikan juga snack box luxury berwarna hitam yang berisi aneka snack mulai dari kacang, biscuit, roti, juice kotakan dan air mineral 330 ml.
Selain snack box, Prami juga menawarkan minuman hangat, Rama dan Izza kompak memilih teh dengan gula batu.
Setelah satu jam perjalanan, ditawarkan untuk makan siang yaitu nasi goreng legend. Bisa dimakan nanti pas jam makan siang atau begitu dibagikan. Karena akan disajikan hangat, jadi waktu diserahkan ke penumpang kapan mau makannya.
Rama yang gampang lapar memesan sekarang untuk dimakan, kalo Izza nanti saja. Nasi goreng legendnya enak, nasinya pulen, ada kerasa terasinya, disajikan dengan telur goreng, ayam goreng dan kerupuk. Kenyang dengan porsinya.
Izza sangat menikmati perjalanan lux nya kali ini, ga bisa dipungkiri dengan fasilitas yang diberikan memberi kenyamanan tersendiri. Kursinya bisa untuk tiduran, AC nya dingin, bisa nonton film sambil makan dengan pemandangan dari jendela.