
Zian sudah berusia tiga bulan, kondisi mental Izza pun sudah pulih kembali seperti sediakala. Dia sudah mampu menguasai dirinya sendiri untuk tidak larut bersama dalam tangis dengan Zian. ASI nya sudah lumayan lancar meskipun belum bisa banyak stok. Izza terus memberikan afirmasi positif dalam dirinya, kalo ASI nya akan selalu cukup untuk putra pertamanya.
Selama tiga bulan, Izza hanya bolak-balik Rumah Sakit dan rumah saja. Tidak mau diajak keluar. Semua dipanggil ke rumah jika ia ingin sesuatu. Belanja online menjadi pilihannya agar tidak perlu keluar rumah.
Rencananya Sabtu ini, dia akan diajak sama Rama ke sebuah pusat perbelanjaan. Bajunya Zian banyak yang sudah kekecilan, jadi akan mencari baju untuk Zian. Tidak lupa Sachi pun diajak untuk membeli beberapa peralatan sekolah yang sudah lama diidamkan.
.
Disebuah Mall di Jakarta Selatan.
Izza memegang tangannya Sachi, sedangkan Rama mendorong strollernya Zian. Mereka mencari toko yang menjual perlengkapan baju untuk bayi dan anak. Saat Izza memilih, Rama menjaga Zian dan Sachi diluar toko sambil menikmati ice cream waffle.
"Rajin sekali Bapak ini, sambil menjaga anaknya yang bayi, yang besar juga diurus sekalian" sapa Mas Barry sambil menepuk bahunya Rama.
"Eh Mas Barry.. iya nih, sambil nunggu Izza yang lagi milih-milih baju didalam, mendingan saya tunggu disini aja, rasanya pusing diajak liat-liat baju" kata Rama sambil bersalaman sama Mas Barry.
"Izza ada didalam Ram?" tanya Ani antusias.
"Iya Mba.. lagi mau beli baju Zian, banyak yang sudah sempit. Sekaligus baju harian buat Sachi" jawab Rama.
"Anak kamu ini besar banget Ram, baru berapa bulan tapi sudah kaya anak setahun" puji Ani.
"Alhamdulillah Mba, menurut dokter juga perkembangannya sesuai dengan usia. Untuk berat badan memang agak sedikit lebih, mungkin karena Izza kan makannya full bergizi baik, jadinya kualitas ASI nya bagus. Kami sampai ke dokter gizi untuk mengatur pola makan Izza agar Zian bisa terpenuhi gizinya. Kan Zian masih ASI eksklusif" jelas Rama.
Ani pamit untuk menemani Izza memilih baju. Mas Barry menemani Rama duduk diluar outlet.
.
Setelah berbelanja, mereka sepakat untuk makan siang bersama, pilihannya jatuh ke restoran yang menyajikan hidangan Indonesia. Pilihan ini karena tempatnya nyaman untuk anak kecil. Ditambah ada pula area non smoking, sehingga aman untuk Sachi dan Zian.
Rama meminta Izza untuk makan terlebih dahulu karena Zian masih tidur dan sebentar lagi jadwal mengASIhi. Rama juga ingin menyuapi Sachi dulu yang mulai cemburu karena kehadiran Zian.
Sejak Zian lahir, perhatian Izza memang lebih banyak ke Zian daripada ke Sachi. Rama pun sama, sehingga Sachi merasa tersisihkan. Hal ini sudah dibicarakan ke Mas Haidar, tapi tidak ada solusi terbaiknya karena Sachi tidak mau tinggal sama Mas Haidar dan Mba Rani. Sekarang pun kadang ikut tidur bersama di kamarnya Zian.
"Ram.. makasih ya sudah banyak memberikan nasehat ke kami. Sekarang kami menjalani promil lagi, meskipun dengan satu ovarium (indung telur), karena mau punya dua atau satu, wanita akan tetap bisa menghasilkan sel telur kan" ucap Ani.
"Alhamdulillah Mba.. Mas.. saya senang mendengarnya, semangat aja untuk menjalani semua, ikhlas dan sabar" kata Rama.
"Padahal diluaran sana ada berita kalo saya pengangkatan rahim, padahal indung telur sebelah kanan yang diambil. Tapi ya.. namanya juga gosip, makin digosok ya makin sip" ujar Ani.
"Akan selalu ada orang yang suka dan tidak suka sama kita Mba. Terkadang orang senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang" lanjut Rama.
"Iya Ram.. kamu benar-benar mengajarkan kami sebuah kesabaran tak terbatas. Karena nasehat kamu juga Ram, kami bisa berdamai dengan keadaan. Tadinya selalu terkurung dimasalah yang itu-itu aja. Kami hanya bisa mendo'akan semoga kamu dan keluarga sehat dan tercapai segala keinginannya" tambah Mas Barry.
"Aamin ya rabbal'alamin.." jawab Rama.
"Za.. maaf ya.. bukan kami ga mau menjenguk langsung saat di Rumah Sakit dan menghadiri aqiqah Zian, you know kan alasannya" ucap Mas Barry hati-hati.
"Iya Mas.. bagaimana kalo sebagai gantinya, main-mainlah ke rumah Mas, nanti kita bisa lebih panjang ngobrolnya. Dijadwalkan saja ketika tidak ada kesibukan. Kalo saya sih always ada di rumah" tawar Izza tanpa beban.
Semua memandang Izza dengan wajah ga percaya. Izza mengundang Mas Barry dan Ani main ke rumahnya.
"Ajak Pak Sandy sekalian.. di rumah kan ada Papi yang sebaya dengan Pak Sandy, jadi mereka bisa ngobrol bareng. Apalagi keduanya punya latar bisnis yang mumpuni, pasti nyambung deh" kata Izza lagi.
"Ini undangannya serius kan Za? kalo serius, Mas akan hubungi Papa.. pasti beliau mau. Pokoknya akan dikosongkan jadwal Sabtu depan kalo kamu serius" tanya Mas Barry.
"Saya jarang basa basi Mas.. tapi ya jangan dadakan juga ya, soalnya perlu mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjamu tamu spesial" lanjut Izza.
"Iya Za.. InsyaAllah kami akan datang kesana Sabtu depan ya" jawab Mas Barry antusias.
"Oke ditunggu...." sahut Izza.
.
Dalam perjalanan pulang, dalam mobil.
Zian dan Sachi ada di kursi belakang, Sachi di kursi biasa dan memakai sabuk pengaman. Zian memakai baby car seat.
"Yakin mau ketemu sama Pak Sandy?" tanya Rama hati-hati.
"Ada alasan untuk ga ketemu memangnya?" Izza balik bertanya.
"Maaf Kakak ga tau kalo kamu sudah membuka diri untuk keluarga mereka. Selama ini memang Kakak tidak mengijinkan mereka mendekati kamu De" ujar Rama.
"Gapapa Kak.. Izza tau maksudnya Kakak pasti ingin melindungi Izza. Sejak ada Zian, rasanya ingin punya keluarga secara utuh dan lengkap. Terlepas dari apapun masa lalu yang sudah lewat, Pak Sandy berhak mendapatkan keadilan juga Kak" ucap Izza dengan lancar.
"Keadilan? maksudnya gimana?" tanya Rama masih belum paham.
"Izza minta ijin ke Kakak untuk menjalankan tes DNA dengan Pak Sandy. Hal ini bukan sekedar untuk membuktikan cerita itu, tapi Izza juga ingin tidak ada lagi keraguan dikemudian hari. Cerita ini kan menggantung, so.. mari kita selesaikan cerita ini dengan baik, semoga tes DNA ini menjadi win win solution untuk kami berdua" jelas Izza.
"Alhamdulillah.. Kakak akan selalu menjadi support system buat kamu De.. apapun keputusan kamu dan bagaimana pun hasilnya nanti.. kamu adalah seorang wanita yang tangguh dan penuh rasa maaf. Bangga deh menjadikan kamu menjadi istri sekaligus Ibu untuk anak-anak kita" puji Rama.
"Memuji jangan berlebihan, nanti ada maunya pasti" potong Izza.
"Hehehe.. memang ada maunya.. mau ada adiknya Zian" ucap Rama dengan entengnya.
"Nanti dulu lah.. tiga tahun lagi aja ya..." pinta Izza.
"Ambillah waktu kapanpun kamu siap De. Punya anak juga banyak komitmen bukan? Kakak ga maksa kok, cuma becanda aja" putus Rama.
"Tapi kan mulutnya Kak Rama tuh kalo orang bilang mulut masin, apa yang dikatakan akan terjadi" ucap Izza.
"Waduh.. nanti ngalahin Allah De.. itu cuma kebetulan aja. Balik lagi kan.. manusia boleh punya ribuan rencana, tapi Allah yang akan menjawab rencana mana yang baik untuk kita" sahut Rama.
"Kak.. apa keputusan untuk melakukan tes DNA dengan Pak Sandy adalah keputusan yang tepat?" tanya Izza meminta pendapat.
"Tepat atau tidak ya hanya kamu yang tau. Tapi menurut Kakak itu baik untuk mengakhiri polemik perasaan diantara kalian. Janji ya akan menerima dengan lapang dada apapun keputusan itu. Semoga kamu bisa seperti Sachi, mendapatkan pengakuan sekaligus cinta kasih dari Papanya. Terlepas kita pastinya sangat menyesali perbuatan mereka. De.. terima kasih sudah tumbuh dewasa bersama, Pak Sandy pasti bahagia sudah mengenal kamu, sekalipun kamu bukan anak beliau, tapi pasti beliau bahagia sudah mengenal anak dari wanita yang pernah menemani harinya" ucap Rama.
"Kebalik Kak.. harusnya Izza yang banyak berterima kasih atas didikan Kakak selama ini, meskipun kadang bikin jengkel, kesal, marah, sedih dan lainnya, tapi lihat sekarang hasilnya.. Izza sudah jauh lebih stabil pemikirannya" jawab Izza.
"Kita terus belajar dan saling mengingatkan ya De" ujar Rama.
💐
Sudah disepakati Sabtu jam sepuluh pagi, keluarga Pak Sandy akan ke rumah Pak Isam. Mas Haidar dan Mba Rani juga ikut berkumpul.
"Zian kok maunya nempel begitu terus De.. " tanya Rama yang melihat Zian selalu menempelkan mulutnya di ****** susu Izza.
"Manja aja" jawab Izza.
"Hehehe.. kaya Ayahnya ya ... hahahaha" ucap Rama sambil geli ketawa sendiri.
"Jangan ngomong sembarangan, nanti kalo ada yang dengar kan malu" ingat Izza.
"Mungkin Zian ngerasain kali ya saat Ayahnya kasih contoh..." bisik Rama dengan nakal.
Izza mencubit pipinya Rama.
Pintu kamar diketuk, Alex memberitahukan kalo rombongan keluarga Pak Sandy sudah datang. Rama ikut turun bareng Alex.
Semua saling salam sapa, Izza belum turun karena Zian masih juga ga mau lepas.
"Maaf ya, Izza masih di kamar, Zian masih manja sama Mommynya" kata Rama.
"Gapapa Ram.. santai saja" jawab Pak Sandy.
Semua berbincang ringan saja sambil menikmati teh hangat dan kudapan kecil yang disediakan.
Pintu Lift terbuka, Izza menggendong Zian. Buru-buru Rama menghampiri Izza, mengambil Zian dari dekapan Izza. Tubuh Zian yang lumayan besar memang bisa membuat siapa saja yang menggendongnya lama akan terasa pegal.
Izza menghampiri Pak Sandy kemudian mencium tangannya. Inilah kali pertama Izza mencium tangannya Pak Sandy. Semua hanya melihat tanpa kata.
"Sehat Za?" tanya Pak Sandy sambil menepuk pundaknya Izza.
"Alhamdulillah.. Bapak sehat?" tanya balik Izza dengan ramah.
"Alhamdulillah sehat.. sekarang tambah sehat melihat kalian semua" jawab Pak Sandy.
Rama membawa Zian mendekati Pak Sandy.
"Boleh gendong Zian?" tanya Pak Sandy.
"Sambil duduk saja ya Pak.. karena agak lumayan berasa ini" saran Rama.
Pak Sandy duduk, kemudian Rama memberikan Zian dalam dekapan Pak Sandy. Rasa haru tak bisa terbendung dari raut wajah Pak Sandy. Diciumnya kepala Zian.
"Zian sehat sekali ya, baru tiga bulan sudah sebesar ini. Izza pasti pintar merawatnya" puji Pak Sandy.
"Bukan hanya saya Pak, ada Ayahnya yang luar biasa, siap dua puluh empat jam untuk kami berdua. Disini juga dikelilingi oleh keluarga yang juga penuh cinta terhadap kami" jawab Izza.
"Alhamdulillah.. kalian memang berhak bahagia" kata Pak Sandy.
Rama mengambil Zian karena dilihatnya tangan Pak Sandy bergetar menahan berat badannya Zian.
"Mas Barry mau coba gendong?" tawar Rama.
"Belum berani Ram" jawab Mas Barry.
"Saya boleh?" tanya Ani.
"Boleh Mba.." jawab Rama.
.
Izza meminta waktu untuk berbincang hanya berdua dengan Pak Sandy disamping kolam renang.
"Pak.. saya siap menjalani tes DNA bersama Bapak" kata Izza tanpa basa basi.
"Yang benar Za? ini murni keinginan kamu atau ada tekanan dari orang lain?" tanya Pak Sandy belum percaya.
"Keinginan saya pribadi Pak. Agar kedepannya kita sama-sama tenang. Bapak tidak merasa selalu dikejar kesalahan masa lalu, saya pun jelas statusnya. Kini saya seorang diri Pak. Keluarga pihak Bapak dan Ibu tidak ada yang mau mengakui saya sebagai keluarga, mungkin karena mereka semua tau pekerjaan Ibu seperti apa, jadi mereka ga mau ikut menanggung dosa yang sama. Keluarga ini beserta semua pekerja yang sudah seperti keluarga, yang saya punya sekarang ini Pak" kata Izza.
"Terima kasih sudah bersedia, kamu yang atur atau Bapak yang cari dimana tes itu dilakukan?" tanya Pak Sandy.
"Maaf.. kalo tidak keberatan, Bapak yang mencari boleh? saya masih susah ninggalin Zian dalam waktu yang lama" tanya Izza.
"Gapapa Za.. Bapak paham, kalo kamu memang percaya sama Bapak, nanti akan Bapak carikan" jawab Pak Sandy.
"Apapun hasilnya nanti, kita selesaikan dengan kepala dingin ya Pak. Boleh saya tanya tentang Ibu Didie ke Bapak?" tanya Izza.
"Jika Bapak tau, akan Bapak jawab" kata Pak Sandy.
"Apa Bapak pernah tau, kenapa Ibu Didie terjerumus di lembah hitam?" ujar Izza.
"Maaf jika jawaban yang Bapak berikan akan melukai kamu, tapi ini adalah jawaban dari Didie saat Bapak pernah tanya. Sedari kecil, Didie hidup sangat susah, selepas SMP tergoda untuk mengadu nasib di Jakarta, melihat ada teman sepermainannya yang sudah berkecukupan. Singkat cerita, dia ke Ibukota tanpa bekal yang cukup dan masih lugu. Pertama kali jadi cleaning service di sebuah tempat hiburan malam. Kecantikan alaminya, membuat sang Big Boss tempat itu suka kemudian dengan segala bujuk rayunya, berhasil mengajaknya tidur. Diiming-imingi banyak harta, membuat dia makin terlena. Tapi ada titik ketika dia memutuskan menikah dengan lelaki yang kamu kenal sebagai Bapak, Didie sangat mencintai lelaki itu hingga mengorbankan segalanya. Cinta Didie ga sebanding dengan apa yang dia dapatkan, hingga akhirnya kembali ke lembah nista. Bertemu sama Bapak dan akhirnya kami hidup bersama tanpa ikatan pernikahan" tutur Pak Sandy jujur.
"Siapa lebih cantik Pak.. Ibu Didie atau Izza?" tanya Izza.
"Didie wanita yang sangat cantik dan menarik, kamu wanita yang manis dan meneduhkan. Dua karakter yang berbeda. Didie ceplas-ceplos dan kurang tertata bahasanya, yang ia tau adalah bagaimana cara menggoda. Tapi kamu, komunikasi dan pemilihan katanya bagus, lebih diam dan pelan-pelan mampu membuat orang penasaran. Mungkin itu yang membuat Rama jatuh cinta dan mabuk kepayang sama kamu Za. Bapak dan Rama kan sama-sama lelaki, istilahnya tau mana wanita yang baik untuk dijadikan istri" cerita Pak Sandy.
"Bapak pernah jatuh cinta sama Bu Didie? atau hanya sekadar sebagai pelampiasan kesenangan duniawi saja?" tanya Izza.
"Saat itu, Bapak ga bisa bilang cinta, karena menurut Bapak, wanita bisa dibeli. Meskipun bukan tipe lelaki yang suka jajan ya. Satu-satunya wanita diluar istri yang saya tiduri hanya Didie. Sempat ingin menjadikan Didie sebagai istri kedua, tapi dia tidak bisa menerima karena masih ingin mencari uang dengan tidur bersama lelaki lain" ucap Pak Sandy.
Izza menarik nafas panjang, lelah rasanya menerima cerita negatif tentang Ibunya.
"Yang Izza kenal, beliau adalah wanita yang amat pasrah. Dikasari, dicemooh bahkan digebukin sama Bapak, tetap diam. Selalu melindungi kami anak-anaknya, berkorban banyak hal untuk kami juga. Biarlah masing-masing dari kita membawa kenangan tentang Ibu Didie yang berbeda-beda. Beliau sudah tiada, hanya do'a yang bisa kita berikan saat ini" ucap Izza.
"Za.. kamu wanita luar biasa yang pernah Bapak temui. Hati kamu penuh dengan rasa memaafkan" kata Pak Sandy takjub.
"Makanya saya jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama Pak ... karena dia ini pawangnya saya .." potong Rama.
"Rahasia umum kan Ram.. Big Boss akan kalah sama Ibu Boss... hahaha" canda Pak Sandy.
"Saya ada lagi tambahannya Pak ... ini si Baby Boss ... setelah Izza, Zian yang membuat saya pulang ontime dari kantor dan membuat weekend saya hanya di rumah aja" sahut Rama.
"Eh.. udah mau jam dua belas, kita sholat dulu terus makan siang, nanti kalo makan dulu, ga bisa sujud karena kekenyangan" canda Izza.
Mereka tertawa bersama sambil masuk menuju rumah bagian dalam.