
"Ini ada apa ya? mau tanya... nanti Mas Boss marah, ga ditanya jadinya penasaran. Mana Lilis nangis udah kaya orang digebukin. Wahai otak ... ayo dong cepet mikir ini ada apa sih sebenarnya" ucap Mang Ujang dalam hatinya.
"Lis ... istighfar Lis ... jangan nangis mulu. Tenangkan diri, kita berbincang baik-baik. Ada saya yang akan melindungi kamu. Saya akan bertanggung jawab sama kamu" kata Rama.
"Iya A' .. Lilis tau kalo Aa' orang yang baik. Lilis sedih karena tau kalo Mba Nay udah ga ada. Lilis kira bakal ketemu lagi sama Mba Nay. Tapi sekarang kenyataannya ga bisa ... huhuhu" kembali tangis Ceu Lilis pecah.
"Lis ... semua sudah takdirnya. Mba Nay sudah menyelesaikan tugasnya di dunia. Tinggal kita ini yang masih hidup untuk menyelesaikan apa yang harusnya bisa kita selesaikan" tutur Rama.
"Ingat ga waktu Aa' cerita pas di sawah dulu, jadi orang yang Aa' ceritakan itu Mba Nay dan keluarga Lilis?" tanya Ceu Lilis.
"Iya ... " jawab Rama.
"Apa bayinya Mba Nay selamat?" tanya Ceu Lilis.
Rama ga bisa menjawab. Ada rasa khawatir dalam diri Rama kalo nanti Sachi akan diambil sama Ceu Lilis.
"A'.... apa bayinya selamat?" tanya Ceu Lilis lagi.
Rama belum mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.
"Ya Allah ... udah Mba Nay meninggal saat melahirkan, kenapa bayinya juga ikut ga ada" ucap Ceu Lilis makin sedih.
Rama masih diam mematung, otaknya sudah diputar sana sini tetap ga bisa menemukan kata yang tepat untuk dibicarakan.
"Maafkan saya Lis ... berbagi dengan Mas Haidar aja berat, apalagi harus ditambah dengan kamu. Suatu saat nanti saya akan berterus terang siapa Sachi" kata Rama dalam hatinya.
"Jangan-jangan Mas Boss ngehamilin Lilis kali ya? segala mau tanggung jawab, menyelesaikan tugas.. tapi kapan mereka berbuat itu ya? perasaan Mas Boss selalu Ujang ikutin kemana aja. Di Hotel juga tidur sekamar sama Ujang. Apa iya pas Ujang tidur terus Mas Boss pindah kamar? Ah kayanya bukan tipe Mas Boss berbuat senista itu. Dia cukup kuat agamanya. Ga mungkin Mas Boss begitu. Sampe sekarang aja ga jelas mau sama yang mana. Semua di PHP in. Belum pernah liat Mas Boss jatuh cinta kayanya. Sama aja semua wanita diperhatiin. Apa jangan-jangan dia udah cinta mati sama Mamanya Sachi ya, jadi ga mau jatuh cinta lagi? apa jangan-jangan dia ga suka sama cewe? Kalo ga suka sama cewe kan ga mungkin ada Sachi. Apa saat berhubungan sama Mamanya Sachi, Mas Boss dijebak. Ahhhh.... lieurrrrrr" duga Mang Ujang dalam hatinya.
"Lis ... menangis boleh, tapi banyak hal yang harus kita selesaikan. Ini demi kamu, demi Mba Nay dan seluruh keluarga kamu" nasehat Rama.
"Aa' ga ngerasain kehilangan seperti yang Lilis alami sekarang" kata Ceu Lilis masih dalam tangisnya.
"Saya juga kehilangan Mami sejak lahir, saya kehilangan Kakak perempuan pertama. Saya dulu juga kehilangan kasih sayang Papi bahkan nyaris kehilangan Kakak lelaki juga. Banyak keinginan dan mimpi yang terpaksa dilenyapkan demi sebuah janji. Janji terhadap Mba Nay. Setiap manusia pasti akan merasakan kehilangan Lis, hanya situasinya aja yang berbeda. Saya tau rasanya kesedihan orang yang kita cintai tiada. Tapi apa dengan menangis meraung-raung, semua bisa kembali? Kalo tangis saya bisa mengembalikan Mami, saya akan menangis sepanjang hari Lis. Semangat Lis ... cerita hidup kamu masih belum tamat" kata Rama mencoba menenangkan Ceu Lilis.
Mobil sekarang sudah berhenti disebuah coffeshop, masih ga banyak orang karena masih jam sembilan pagi.
⬅️⬅️⬅️⬅️
Rama langsung mengenali wajah adiknya Mba Nay sejak pertama kali melihat Ceu Lilis. Bagaimana dia bisa ga ingat wajahnya Ceu Lilis, kalo dia sering melihat Mba Nay memandangi foto keluarga yang dia cetak dan diberikan figura. Bahkan dalam buku hariannya, Mba Nay pun menyertakan semua akun media sosial milik adiknya.
Sejak bertemu dengan Ceu Lilis secara ga sengaja, Rama yakin tugasnya akan segera selesai. Seakan takdir yang mendekatkan mereka berdua untuk berjumpa.
Rama yang melek teknologi segera membuat beberapa akun samaran kemudian memfollow semua akun media sosial milik adiknya Mba Nay. Hal ini agar bisa mengakrabkan diri guna lebih mengenal akun tersebut. Rama juga punya teman seorang ahli IT, jadi ga sulit melacak dimana akun itu sedang on. Walaupun namanya sudah berbeda dan ada beberapa foto yang diarsipkan dan dikunci untuk dilihat.
Sejak itulah Rama kembali menugaskan Alex untuk lebih fokus ke Ceu Lilis. Bahkan Alex sudah mengirim anak buahnya yang menyamar menjadi penduduk pindahan ke daerah rumah Ceu Lilis.
Rama memang banyak menggelontorkan dana untuk menyelidiki kasus Mba Nay sejak lama. Banyak barang pribadi yang terjual demi kasus ini dan membesarkan Sachi. Bahkan ada satu ruko milik Maminya dia jual, karena memang ada sertifikat kepemilikan yang diberikan ke Rama saat dia berusia tujuh belas tahun, hadiah ulang tahun dari Maminya yang dititipkan di notaris.
➡️➡️➡️➡️
Setelah kondisi memungkinkan untuk berbincang barulah Rama memulai berbicara kembali. Mang Ujang masih duduk menyimak kedua anak manusia ini berbicara. Bahkan beberapa kali Rama membantu mengusap air mata dari wajah manis Ceu Lilis.
"Itulah Lis... kenapa saya mati-matian mensupport hidup kamu selama ini. Seperti dari awal saya bilang, jangan pernah salah duga dengan sikap saya. Kamu udah saya anggap seperti adik sendiri. Kaya Mba Nay menganggap saya sebagai adiknya. Kita sebenarnya udah kenal di media sosial Lis.. nama kamu bukan Cece Lisnawati tapi Fadiyah Filzhah kan? makanya kamu ga mau urus surat administrasi negara karena masih ragu nama siapa yang akan dicantumkan. Kembalilah ke Jakarta Lis, kita berjuang menuntaskan cerita ini. Gimana Lis?" tanya Rama serius.
Lilis masih menangis sesenggukan walaupun sudah agak lebih tenang dibandingkan saat awal melihat makam Mba Nay.
"Ini lagi siapa Fadiyah Filzhah.. heran deh sama ini otak kok masih aja susah nyambung sama arah pembicaraan Mas Boss dan Lilis. Sebenarnya ada apa sih .. ya Allah.. terangilah jalan pikiran hambamu ini" pinta Mang Ujang.
Rama memberikan air minum untuk Ceu Lilis. Ceu Lilis meminum sedikit dan meletakkan kembali ke meja.
"Lis... kenapa kamu harus menutupi identitas dan pergi menjauh dari Jakarta? Kamu tau ga kalo Mba Nay terus nyariin kamu dan ingin bisa ketemu. Hanya kamu yang dia punya saat itu. Atau kamu takut dan ada yang mengancam?" ungkap Rama.
Ceu Lilis diam seribu bahasa.
Rama mengeluarkan HP nya dan memutar video. Rekaman video Mba Nay yang minta diputar ketika Rama kelak bisa bertemu sama adiknya. Video itu makin membuat suasana jadi makin sedih.
Mang Ujang yang duduk dibangku sebelah pun nampak menghapus bulir air mata saat video diputar. Mulai pahamlah Mang Ujang siapa Ceu Lilis Sebenarnya.
Ceu Lilis malah makin menumpahkan air matanya. Hanya Rama yang masih kuat menahan tangis walaupun sudah diobrak-abrik rasa. Setelah melihat video tersebut, Ceu Lilis meletakkan HP milik Rama di meja.
"A'.... Lilis takut" ucapnya setelah melihat videonya Mba Nay.
Rama mendekati Ceu Lilis, menghapus air matanya Ceu Lilis pake tissue dan menggenggam tangannya.
"Saya akan melindungi kamu Lis... jangan takut ya... saya pastikan kamu aman dan semua akan baik-baik aja. Bantu saya buat bersaksi kelak di Pengadilan. Itulah kenapa saya ingin kamu membuat identitas diri kamu yang sebenarnya. Biar saya bisa ajak ke Jakarta lagi untuk berjuang bersama. Membantu saya disini demi sebuah keadilan. Kamu harus mau Lis, lakukan ini untuk keluarga kamu, mereka pasti akan bangga sama kamu Lis. Kebakaran itu adalah kasus pembunuhan berencana, saya sudah melaporkan semuanya termasuk bukti-bukti ke pihak yang berwajib. Saya masih butuh kamu untuk menuntaskan semua. Saya yakin kamu masih mengingat dengan jelas bagaimana kebakaran itu bisa terjadi. Saya bukannya diam ga bergerak sejak awal Lis, selama saya kuliah diluar negeri pun, saya terus pantau kasus ini. Adiknya Papi saya adalah salah satu pembesar di Kepolisian, beliau bersedia membantu saya. Ayo kita bergandengan tangan buat menuntaskan cerita ini Lis. Demi orang yang kamu cintai .... orang tua dan Mba Nay" ucap Rama.
Tangan Ceu Lilis masih bergetar. Air matanya kembali tumpah lagi hingga langsung memeluk Rama yang duduk disampingnya. Dibiarkannya air mata Ceu Lilis tumpah dibahu kekarnya Rama.
Sementara Mang Ujang menangis antara sedih sama kesel, kenapa justru Rama yang dipeluk oleh Ceu Lilis. Padahal dari tadi Mang Ujang udah standby, berjaga-jaga kalo Ceu Lilis histeris dan pingsan atau butuh bahu buat sekedar bersandar.
Setelah semuanya lebih tenang, Rama kembali mengajak untuk menghabiskan minuman dan camilan yang sudah dipesan.
Sebenarnya suasana udah ga enak buat belanja oleh-oleh, tapi Rama memaksakan diri untuk menuju salah satu pusat perbelanjaan besar didekat coffeshop.
Setelah semua yang diinginkan sama Rama sudah terbeli, mereka kembali pulang menuju Audah Hotel.
.
Rencananya Rama akan ikut mengantarkan Ceu Lilis hingga di Tasikmalaya. Dia masih ga tenang harus melepaskan Ceu Lilis diantar oleh supir saja.
.
"Jadi Mas Rama mau ke Tasikmalaya sore ini? besok ada meeting pagi kan Mas" ingat Mba Gita.
"Ya gapapa, saya hanya antar aja kok, terus langsung balik lagi ke Jakarta. Saya pastikan sudah ada disini jam sembilan pagi. Makanya saya nanti akan bawa supir kantor tambahan buat back up Mang Ujang" jelas Rama.
"Cuma mengantarkan artis dangdut sampe segitunya Mas? kayanya ga cantik-cantik amat. Lebih dari dia bisa Mas dapatkan. Bahkan artis Ibukota kalo Mas Rama deketin ga akan nolak. Belum tentu Pak Isam bisa menerima wanita yang ga sederajat sama keluarga Abrisam. Maaf Mas ... saya hanya mengingatkan. Pastinya Mas paham sama kisah Mba Mentari dan Mas Haidar kan?" ucap Mba Gita bicara blak-blakan karena merasa kenal dekat sama Rama.
"Makasih sudah mengingatkan. Kepada siapa saya melabuhkan hati adalah hak saya, segala konsekuensinya juga saya yang tanggung. Mengenai Papi suka atau tidak, biarlah menjadi pembahasan keluarga. Bukan tidak menganggap Mba Gita sebagai orang yang banyak berjasa untuk keluarga kami, tapi tetaplah Mba Gita adalah orang diluar keluarga. Mba Gita boleh berpendapat apapun, asal jangan mengomentari hidup saya. Toh saya ga pernah mengomentari gaya hidup Mba Gita yang mewah" ujar Rama dengan tatapan mata yang dingin mematikan.
"Saya hanya mengingatkan Mas Rama agar ga salah langkah. Saya kira sudah saatnya Mas Rama ke ruang meeting, yang lain sudah menunggu. Berkas-berkas nanti saya akan bawakan" kata Mba Gita.
Rama meninggalkan ruangannya dengan langkah tegap meyakinkan kalo dia optimis memikul tanggung jawab perusahaan.
🏵️
"Papa Haidar ... kenapa Ayah sibuk terus? Pulang malam dan jarang main sama Sachi lagi" tanya Sachi ketika didalam mobil menuju pulang ke rumah.
"Ayah Rama itu memang lagi sibuk, kan baru buka Hotel baru, jadinya masih banyak yang harus dikerjakan. Kaya anak sekolah kan ada PR, ya kerja pun sama. Ayah lagi banyak PR" jawab Haidar.
"Memang di Hotel ada Bu Guru?" tanya Sachi.
"Ga ada" jawab Haidar.
"Terus nanti PR nya siapa yang periksa kalo ga ada Bu Gurunya" lanjut Sachi.
"Ehmm... ehm... " kata Haidar yang bingung sendiri.
HP Haidar berbunyi, ada panggilan masuk dari Rama.
"Ayah telepon... kamu angkat ya" pinta Haidar sambil memberikan HP ke Sachi.
"Assalamualaikum Ayah" sapa Sachi.
"Waalaikumsalam my sweety.. udah pulang sekolah ya?" tanya Rama.
"Udah Ayah, dijemput Papa Haidar. Ayah udah kerjain PR nya?" kata Sachi.
"PR? PR apa ya?" Rama malah bingung.
"Kata Papa Haidar, Ayah sibuk karena banyak PR. Ayah bisa kerjain PR nya? mau Sachi bantuin? Sachi udah bisa menulis dan membaca" celoteh Sachi dengan polosnya.
"Oh... PR itu toh. Begini Sachi, PR anak sekolah dan orang yang bekerja itu beda. Kalo anak sekolah kerjain PR biar makin pinter sama pelajarannya. Kalo orang bekerja mengerjakan PR agar dapat uang untuk menyekolahkan anaknya biar pintar. Nah sekarang Sachi sekolah yang rajin, biar Ayah makin rajin cari uangnya buat Sachi sekolah" jawab Rama.
"Jadi Ayah cari uang buat Sachi sekolah aja? kalo Sachi minta boneka atau nonton bioskop, Ayah cari uang lagi?" tanya Sachi.
"Pokoknya Ayah kerja biar Sachi bisa sekolah, bisa ke Mall, bisa ajak nonton, bisa apa aja deh yang Sachi mau" kata Rama.
"Asyikkk... Ayah kapan pulangnya? Sachi kangen" sahut Sachi.
"Ayah hari ini ga pulang ya, besok baru Ayah pulang sore, jadi bisa main sama Sachi" kata Rama.
"Ayah bilang dong ke kantor kalo Ayah ga mau kerjain PR terus, biar bisa pulang dan main sama Sachi" usul Sachi.
"Nanti Ayah bilang ke kantor ya ... kalo Ayah mau main sama putri kesayangannya yang cantik jelita" janji Rama.
"Benar ya Yah .. besok Ayah pulang kita main" ujar Sachi.
"Iya cantikku .. sayangku .. buah hatiku .. sekarang Ayah kerja dulu ya" pamit Rama.
.
Rama ikut mengantar Ceu Lilis pulang ke Tasikmalaya bersama Mang Ujang dan supir kantor. Rama tiduran di kursi paling belakang. Di kursi tengah hanya ada Ceu Lilis yang tampaknya masih terpukul.
Dalam perjalanan ke Tasikmalaya, barulah Mang Ujang mulai paham semua cerita yang terjadi. Ceu Lilis secara runtun menceritakan kejadian naas yang menimpa keluarganya (Saat supir kantor tidur, gantian nyupir sama Mang Ujang).
⬅️⬅️⬅️
Malam sebelum kejadian, Ceu Lilis melihat ada bayangan berkelebat disamping rumahnya, saat itu dia masih belajar karena akan menghadapi ujian. Dia mencari asal suara disamping rumah, dilihatnya ada dua orang laki-laki pakai topi tengah berbicara mau membakar rumah.
Paginya Ceu Lilis melaporkan apa yang didengarnya semalam ke Ibunya, tapi Ibunya ga percaya.
Sepulang sekolah, Ceu Lilis bertemu lagi sama laki-laki yang semalam dilihatnya. Dia lari ketakutan masuk kedalam rumah. Rumah dibakar saat penghuninya sholat Isya. Karena saat itu Ceu Lilis sedang halangan, jadi ga ikut sholat berjama'ah. Kembali dia melihat ada bayangan lagi dari jendela samping rumah.
Pas waktu kejadian, Ceu Lilis melihat secara langsung orang yang membakar rumahnya, sempat mau teriak tapi langsung dibekap. Entah kekuatan dari mana, dia berhasil lolos setelah kekacauan terjadi. Heboh suara teriakan. Kondisi rumah sudah langsung terbakar karena sudah disiram minyak tanah Sebelumnya. Sambil berlari Ceu Lilis berteriak minta tolong. Kondisi saat itu udah ga karuan, warga mencoba memadamkan kobaran api dengan peralatan seadanya. Tapi karena banyak botol minyak tanah diletakkan juga disekeliling rumah, jadinya api cepat menghanguskan rumah.
Saat Ceu Lilis berlari menghindari kejaran lelaki yang membakar rumahnya, dia ditabrak oleh mobil rombongan dangdut, yang salah satunya ada lelaki yang kemudian menjadi Bapak angkatnya. Saat itu Lilis ketakutan dan minta diselamatkan. Bapak tersebut mendengar dengan seksama cerita Ceu Lilis dan berinisiatif membawa Ceu Lilis pulang ke Tasikmalaya.
Mendengar cerita Ceu Lilis, Bapaknya dan rombongan sepakat untuk mengganti identitas Ceu Lilis agar bisa lebih aman. Bapak angkatnya Ceu Lilis tau kalo anak angkatnya ini dalam bahaya jika diketahui tempat tinggalnya.
Karena dibesarkan di lingkungan kumpulan artis dangdut, akhirnya Ceu Lilis diajak ikut nyanyi juga. Belajarnya langsung dari panggung ke panggung. Memang suaranya juga bagus, jadilah hanya tinggal dikasih arahan, udah enak nyanyinya.