
"Makasih banget ya Mang atas arahannya" ucap Izza tulus.
"Nanti kalo masih bingung, telepon aja lagi ya" jelas Mang Ujang.
"Oke Mang, sekali lagi makasih banyak ya" ucap Izza.
"Kalo udah sampe Tasikmalaya terus masih bingung juga ya telepon. Kebetulan Mang juga ada di Tasikmalaya nih, kita bisa janjian ketemuan gimana?" jawab Mang Ujang.
"Oh gitu, ya udah nanti kalo bingung pasti telepon lagi. Gimana ya Mang... ga janji bisa ketemuan, soalnya mau takziah" jawab Izza.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun .. siapa yang meninggal?" kata Mang Ujang.
"Sodara Mang" jawab Izza singkat.
"Loh .. Izza urang Tasikmalaya?" tanya Mang Ujang meyakinkan.
"Bukan, udah dulu ya Mang.. makasih atas bantuannya" kata Izza lagi.
"Gapapa Za... senang malah ditelepon sama Izza" jawab Mang Ujang sumringah.
"Assalamualaikum" kata Izza sambil menutup teleponnya.
"Waalaikumussalam" sahut Mang Ujang.
.
Izza menyerahkan catatannya ke supir. Supir pun ada sedikit gambaran jalur ini. Mereka benar-benar non stop jalan terus, berhenti hanya lima belas menit buat ke kamar mandi dan sholat.
Sebelum ke panti tadi pagi, Izza sempat mampir ke warung agen dekat rumah buat beli minuman, roti dan cemilan. Jalanan alternatif yang dikasih tau Mang Ujang tampak lengang, mungkin karena sudah tidak banyak yang memakai jalur ini jadinya agak sepi. Semua orang menumpuk di Cipularang yang mau ke arah Bandung dan sekitarnya. Tadi Izza sempat ngecek aplikasi penunjuk jalan, ternyata tol Cipularang semua warna merah jalurnya.
Jam dua siang, rombongan Izza sudah sampe di rumah duka. Ibu panti melepas kesedihan yang sedari tadi sudah ditahan. Ga lama kemudian jenazah kakaknya Ibu panti disholatkan. Jaraknya ga terlalu jauh antara rumah sama Mesjid. Setelah disholatkan langsung dimakamkan.
Di desa tersebut para kaum wanita ga diperbolehkan ikut ke makam saat jenazah dikubur. Karena seringnya dulu para kaum wanita histeris dimakam jadinya ga dibolehin hingga sekarang menjadi adat kebiasaan di desa ini.
🏵️
"Mas Boss ga jadi ketemu ibunya Ceu Lilis?" tanya Mang Ujang sambil ngopi di tepi perkebunan.
"Ibunya lagi sibuk masak, katanya ada tetangga sebelah rumahnya yang meninggal, repotlah... besok pagi aja kesananya. Tadi kan udah dibilang kalo Lilis ga jualan. Bubur yang udah jadi dibayarin sama warga buat para keluarga yang mau sarapan. Mang ... mending main ke rumah orang tuanya boleh? ya mau kenalan aja. Kita pinjam motor aja, kata Mas Haidar ga usah beli motor, dia udah ditawarin motor second sama penduduk sini, nanti mau diliat dulu. Daripada kita gabut, Sachi kejebak macet" kata Rama antusias.
"Motor dipake semua, gapapa naik mobil aja, rumah saya mah jalan besar. Hayuklah Mas Boss kita kemon, dari pagi mau berangkat ga jadi mulu. Tadi mau berangkat eh malah Mas Boss ikut sholat jenazah dulu" kata Mang Ujang.
"Ga boleh gitu Mang... emang kewajiban kita nyolatin jenazah" kata Rama.
.
Rumah Mang Ujang ga jauh dari rumah Ceu Lilis, masih satu desa tapi beda dusun. Ya ga sampe dua kilometer jaraknya. Kalo rumah Mang Ujang sama villa punya Pak Isam emang agak jauh, karena sudah beda desa. Ada sekitar lima kilometer jaraknya. Tapi kalo di kampung mah radius sepuluh kilometer juga orang semua kenal, itulah ciri khas bertetangga di desa, beda sama kota yang kadang rumahnya selisih tiga rumah dari kita aja bisa ga kenal.
.
Orang tua Mang Ujang tentu amat bahagia menyambut anak dan Bossnya datang ke rumah. Ini pertama kali mereka kenalan sama Rama, biasanya hanya mendengar cerita dari Mang Ujang.
"Ambu.. Abah.. ini Mas Bossnya Ujang di Jakarta. Yang sering Ujang ceritain, namanya Mas Rama" Mang Ujang memperkenalkan Rama ke orang tuanya.
Rama tersenyum memasuki rumah sederhana kemudian mencium tangan kedua orang tua Mang Ujang. Sebenarnya orang tua Mang Ujang merasa ga enak hati karena dicium tangannya.
"Duduk Mas Boss" pinta Mang Ujang.
"Di bale depan aja Mang, sekalian saya mau liat sawah" kata Rama.
"Lah liat sawah sore mah ga ada bagus-bagusnya, apalagi cuaca mendung gini. Kalo mau besok pagi liatnya, banyak anak-anak main dan para remaja ngobrol" jelas Mang Ujang.
"Ya sekarang menikmati aja suasana yang ada" kata Rama.
"Atuh Abah panggil apa ya?" tanya Abahnya Mang Ujang sungkan.
"Panggil Rama aja... saya lebih muda dari Mang Ujang kok" pinta Rama sopan.
"Aa' aja ya, ga enak atuh panggil nama" ucap Abahnya Mang Ujang dengan logat Sunda.
"Abah logat bahasa Indonesianya oke nih, pernah tinggal di Jakarta ya?" tanya Rama.
"Iya A'... dulu waktu bujangan kan jadi supir di Jakarta" jelas Abahnya Mang Ujang.
"Supir angkutan atau pribadi?" tanya Rama basa basi.
"Saya supir ekspatriat, orang dari kedutaan Inggris" ujar Abahnya Mang Ujang mengingat memory lama.
"Wah pinter dong bahasa Inggrisnya" ucap Rama sambil senyum.
"Lumayan A', dulu nih Ujang kalo ada PR bahasa Inggris pasti Abah yang ngerjain" kata Abahnya Mang Ujang.
"Abah... buka rahasia aja" protes Mang Ujang sambil bawain minum teh hangat buat Rama dan menaruhnya di bale.
"What a nice home Abah... i like it (betapa nyaman rumah ini, saya suka)" ujar Rama memancing Abahnya Mang Ujang untuk berbahasa Inggris.
"Thank you... just a small house in the village (makasih, hanya rumah kecil di desa)" kata Abah masih dengan logat sunlishnya (Sunda English).
"Masih bagus bahasa Inggrisnya"
Puji Rama.
"Disini ga ada lawan bicaranya A', jadi banyak yang lupa" kata Abah merendah.
"Bisa aja nih Abah merendahnya" jawab Rama.
Ambu mengeluarkan dua piring cemilan buat menemani teh hangat yang sudah disajikan. Aromanya benar-benar menggoyang lidah untuk mencicipi.
"This is a corn fritters (bakwan Jagung) and this is grilled fermented cassava serve with greated coconut sauce and brown sugar (colenak). Ayo dicobian (coba) A' Rama" tawar Abah sambil mendekatkan piring ke Rama.
"Ieu cengek Mas Boss... hot chili" timpal Mang Ujang sambil menunjuk kearah cabe rawit.
"Kalo ini saya tau namanya bakwan jagung. Kalo ini apa ya? Saya belum pernah makan kayanya" tanya Rama.
"Colenak Mas Boss" jawab Mang Ujang.
"Colenak? Sejenis tape ya? tadi Abah bilang fermented cassava, kan artinya singkong yang difermentasi alias tape kan?" tanya Rama polos.
"Abah... Abah... sagala gaya pake bahasa Inggris... panjang juga namanya... atuh disingkat colenak.. dicocol enak" kata Mang Ujang.
"Ya A' ini tape dibakar terus dicocol ke gula merah" jelas Abahnya Mang Ujang.
Rama mengambil colenak dan meletakkan di piring kecil. Kemudian memakannya perlahan.
"Enak ya..." ujar Rama.
"Nambah atuh A' .. masih banyak di dapur" tawar Ambunya Mang Ujang.
Semua tertawa mendengar candaan Rama. Tampak sekali Rama ga berjarak dengan siapapun walau dia salah satu pewaris tahta dalam keluarganya yang terkenal kaya raya.
Rama nampak menikmati kudapan yang disediakan, hembusan angin sepoi-sepoi membuat suasana jadi tambah menyenangkan buat Rama.
Definisi bahagia yang sederhana, sesederhana Rama menikmati colenak sambil liat sawah dan burung beterbangan serta para petani yang mulai jalan pulang karena sudah hampir jam lima sore.
Tiba-tiba ada teriakan dari arah pematang sawah yang buat Rama dan Mang Ujang langsung loncat dan berlari keasal suara. Mang Ujang pun juga ikut lari dibelakang Rama.
Ketika sampai di pematang sawah, Rama melihat seorang wanita yang kaki sebelah kirinya masuk ke parit sawah. Wanita disebelahnya malah ketawa bukannya nolongin. Makin berteriak wanita tersebut karena melihat lintah di sandal jepit yang dipakainya.
"Maaf... bisa saya bantu angkat?" tanya Rama dengan sopan.
Wanita yang jatuh beserta temannya langsung bengong melihat ada cowo lumayan bersih ada di pematang sawah.
Rama pun jadi ikutan bengong melihat makhluk manis yang kakinya terperosok. Buru-buru Rama mengambil bekas batang padi kemudian mencungkil lintah tersebut.
"Lintah tuh sering nempel di kaki yang ada di sekitarnya kemudian menghisap darah. Makanya kadang ga sadar kalau lintah udah nempel aja di kaki. Nanti kalo udah kenyang, tubuhnya akan menggemuk dan langsung jatuh sendiri kok dari mangsanya" jelas Rama.
"Makasih Kak eh Mas" kata wanita itu sambil meringis megang kakinya.
"Udah dibilang kalo nyaman panggil Kakak ya ga usah maksain manggil Mas. Ini mau dibantu bangun atau mau bangun sendiri" ujar Rama sambil mengulurkan tangannya.
"Dibantu sama saudara saya aja" jawab Izza buru-buru.
"Kamu lagi ngapain disini Za?" tanya Rama heran.
Mang Ujang yang baru sampe, ngos-ngosan dan mencoba mengatur nafasnya. Dia larinya ga secepat Rama, karena Mang Ujang emang paling malas olahraga, kalo ada waktu senggang mending buat tidur, makanya perutnya rada buncit.
"Izza?" teriak Mang Ujang kaget dan masih ngos-ngosan.
"Ya Mang" jawab Izza masih meringis dan sudah berdiri dipapah saudaranya Ibu panti.
"Pantes tadi nanya jalan ke Tasik, ga nyangka ke daerah sini juga. Sama Mba Gita kesininya?" tanya Mang Ujang.
"Ga Mang... sama Ibu" jawab Izza.
"Ibu? Kamu punya Ibu disini? kok ga tau" tanya Mang Ujang makin penasaran.
"Udah ntar aja nanya-nanyanya, udah kaya penyidik aja keponya. Tuh kaki orang lagi sakit. Untungnya kamu pake kaos kaki Za, biar kata kaos kakinya tipis juga, tapi kan ga langsung bersentuhan sama kulit tuh lintahnya. Coba kalo ga pake kaos kaki, langsung bengkak deh. Tapi saya yakin tuh lintah jantan, soalnya tau aja kaki cewe cantik ... hehehe" Rama mulai becanda.
"Sini Za... Mang bantu jalan" tawar Mang Ujang langsung berdiri disampingnya Izza.
"Ga usah ikut repot... sana ambil sepeda atau motor kek, kita bawa ke rumah dulu biar kakinya dicuci terus dikasih obat" saran Rama langsung.
"Ye ilahhh Mas Boss, ga bisa kasih kesempatan orang seneng sedikit" protes Mang Ujang sewot yang langsung jalan balik ke rumah buat ambil motor milik Abahnya.
Rama berjalan pelan dibelakang Izza dan keponakan Ibunya. Setelah Mang Ujang menghampiri pake motor justru Rama ngasih kode ke Mang Ujang buat turun dari motor.
"Apaan sih Mas Boss segala ngedip-ngedip mata gitu" bisik Mang Ujang pelan sambil turun dari motor.
"Ini bagian saya yang anter, kan tadi saya yang datang nolong duluan.. bebek aja bisa antri, masa Mang ga mau antri" bisik Rama balik.
Mang Ujang cuma bisa gigit jari ngeliat Rama membonceng Izza, ga jauh sih hanya sekitar lima ratus meter.
Izza terpaksa dibantu turun sama Rama karena kakinya kesemutan. Ambu juga ikut memapah tubuh Izza. Mereka duduk di bale depan rumah.
"Ampun deh kalo saingan sama Mas Boss, dia mulu yang menang banyak, ya Allah Gustiiiii nu Agung ... kapan nasib hambamu ini berubah, hamba udah bosan jadi jomblo, tolong dekatkanlah wanita yang kelak menjadi jodoh hambamu ini ya Allah" pinta Mang Ujang sambil mengelus dadanya.
"Mang, ngapain bengong disitu, kebanyakan makan colenak ya" ledek Rama.
Mang Ujang cuma bisa manyun, Rama meminta tolong ke Ambu buat diambilin air es dibaskom dan kain buat ngompres kakinya Izza.
"Kamu bisa jalan ke kamar mandi kan Za? cuci dulu pake sabun biar bersih kakinya" saran Rama.
Karena Izza udah lebih konsen ke rasa pegel dikakinya, dia menuruti semua yang diperintahkan oleh Rama.
"Buka dulu kaos kakinya, ini emergency, kalo keliatan aurat kan terpaksa bukan sengaja" ucap Rama meyakinkan Izza.
Setelah dari kamar mandi, Izza jalan perlahan ke bale dibantu oleh Ambu.
"Makasih Bu..." ucap Izza.
Raffa langsung mengelap telapak kaki Izza pake tissue makan yang ada di meja.
"Ga usah Kak... saya bisa sendiri" ucap Izza langsung mengambil tissue dan mengelap telapak kakinya.
"Ini mau kompres sendiri juga?" tanya Rama sambil menyerahkan baskom dan lapnya.
Izza langsung mengangguk. Disudut sana ada Mang Ujang yang cuma bisa geleng-geleng kepala ngeliatin kelakuan Mas Bossnya.
"Untunglah ga bengkak banget dan ga ada luka terbuka, jadi kemungkinan ga infeksi keliatannya" Rama berlagak sok tau.
"Mau ke Puskesmas aja Za?" ujar Mang Ujang.
"Atuh puskesmas udah tutup Kang. Hari Sabtu mah jam sebelas juga udah bubar" sahut wanita yang bersama Izza.
"Oh iya ya... adanya bidan desa kalo jam segini mah ya" kata Mang Ujang.
"Emang Izza mau melahirkan segala dibawa ke bidan" protes Rama.
"Disini mah biasa gitu Mas Boss... apa-apa ya kalo ga ke Abah Ikin ya ke bidan desa" bela Mang Ujang.
"Udah ga usah debat deh... sekarang kamu mau kemana Za? biar dianter aja pake mobil pulangnya" tawar Rama.
"Tadinya mau ke toko obat diujung desa, terus lewat sawah karena penasaran ga pernah nginjek sawah, eh jadinya malah kaya gini" kata Izza.
"Mau beli apa ke toko obat, emang ga ada di warung?" tanya Rama
"Ga ada atuh A' ini obat alergi" ucap wanita yang bersama Izza.
"Kamu alergi apa?" tanya Rama serius.
"Buat jaga-jaga aja sih, kalo udara dingin tuh suka bentol-bentol dan gatel banget" jelas Izza.
"Itu mah biduran alias kaligata alias giduan kalo orang Jakarta bilang" sahut Mang Ujang.
"Ya udah nanti abis sholat Maghrib, saya antar ke toko obat terus balik ke tempat kamu. Sekarang telepon dulu orang di rumah biar ga khawatir" saran Rama.
"HP saya ga ada sinyal. Nih liat ga ada jaringan kan" ucap Izza sambil memperlihatkan HP nya.
"Makanya pake operator jangan yang tergoda pulsa murah, tapi yang jaringannya bagus" kata Rama.
"Neng... tolong telpon Ibu ya.." pinta Izza ke saudara Ibunya.
"Ga ada pulsa ... paket juga habis" bisik saudaranya.