HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 122, Nervous



Malam ini Izza mencoba memejamkan mata untuk bersiap tidur, tapi otaknya masih belum mau istirahat. Dia sedang memikirkan Mba Gita yang ga kunjung ada berita. Ditambah keluarganya yang di Kudus sudah tau siapa suaminya Izza, jadi meminta tolong ke Izza untuk membantu menebus rumah warisan Kakeknya Izza. Dia tidak punya uang hingga ratusan juta, meminta ke Rama juga rasanya sungkan. Bisa-bisa kena amarah Rama yang kadang bikin sesak didada.


Rama sendiri walaupun sudah tiduran di lantai, masih aja membaca beberapa email yang masuk via HPnya. Hidup baginya adalah bekerja, dia banyak merelakan waktu untuk perusahaan. Sudah tidak dalam kategori workaholic tapi obsesi menjadi yang terbaik diantara para CEO terbaik di Ibukota. Dia juga tidak mau orang hanya mengenalnya sebagai penerus tahta Pak Isam, hingga dia harus membuat sebuah terobosan yang membuat banyak pihak tidak memandangnya sebelah mata. Ditambah rasa penasaran terhadap Sang Big Boss yang tau persis setiap langkah yang dia ambil.


⬅️⬅️


"Za .. Paklek sebenarnya tidak enak hati bicara seperti ini ke kamu. Kita kan baru ketemu" ucap Pakleknya Izza.


"Ada apa ya Paklek?" tanya Izza penasaran.


"Dulu Mbahmu kan sakit-sakitan hingga rumah dan sawah tergadaikan, tahun berganti tahun belum juga bisa ditebus, kami hanya bayar bunga saja tanpa bisa bayar cicilan" buka Pakleknya Izza.


"Pinjamnya kemana Paklek?" tanya Izza.


"Disini ada tuan tanah, kepada beliau sertifikat dijaminkan. Kamu kan sekarang sudah jadi orang kaya Za ... tolonglah kami semua. Ada bagian Bapakmu juga kan didalam sertifikat itu. Rencananya akan dijual saja dan uangnya dibagi rata, nanti bagian Bapakmu ya buat kamu" lanjut Pakleknya Izza.


"Memangnya berapa yang harus dibayar?" tanya Izza hati-hati.


"Kalau mau ditutup bulan ini, ada keringanan, hanya bayar tiga ratus lima puluh juta" jawab Pakleknya Izza.


"Besar ya... dulu hutangnya berapa banyak Paklek?" tanya Izza lagi.


"Dua puluh lima juta, setiap bulan kita harus angsur dua juta. Ya kondisi kita kakak beradik tidak ada yang mampu. Kadang bayar, kadang kosong sama sekali. Sudah hampir lima belas tahun hutang itu belum juga lunas. Sertifikat tambahan akhirnya diminta. Awalnya hanya sertifikat rumah, sekarang tambah sertifikat sawah" jelas Pakleknya Izza.


"Gimana ya Paklek .. Izza ga ada uang sebesar itu" kata Izza.


"Suami kamu itu kan wong sugih (orang kaya), Paklek tau tentang keluarga Abrisam dari internet, anak Paklek yang kasih tau. Tolong kamu minta sama suami, atau beli saja sekalian tanah itu. Jadi kamu bisa menyelamatkan kami dan tanah milik leluhur tidak berpindah tangan ke orang lain" saran Pakleknya Izza.


"Nanti saya bicarakan dulu sama Kak Rama, beliau mau atau tidak ya saya belum bisa kasih jawaban sekarang" ucap Izza makin bingung.


"Tapi tolong dengan amat sangat ya Za .. " ujar Pakleknya Izza.


"InsyaAllah Pakde, saya tunggu waktu yang tepat buat membicarakan hal ini. Sangat sensitif kan kalo bicara uang walaupun suami istri" kata Izza hati-hati.


➡️➡️


Dua hari yang lalu, Izza mendapatkan telepon dari Pakleknya. Yang membuatnya maju mundur untuk berbincang sama Rama. Makanya hingga detik ini dia belum juga membicarakan hal ini ke Rama.


"Enak ga ya minta tolong sama Kak Rama? secara kayanya lagi ga tepat waktunya. Kak Rama masih sibuk dengan segudang pekerjaan, nanti malah nambahin beban pikirannya" pikir Izza dalam hatinya.


Rupanya Rama paham kalo sebenarnya Izza belum tidur. Seminggu memperhatikan Izza tidur membuatnya sudah cukup paham kapan Izza bisa tidur cepat atau tidak bisa tidur bahkan ketika Izza berusaha pura-pura tidur.


"Ga bisa tidur?" tanya Rama yang melihat Izza kayanya agak gelisah.


Izza tidak menjawab dan pura-pura tidur. Rama mendekati Izza, mata Izza terpejam tapi dia sedang menggaruk-garuk tangan dan bagian lehernya.


Rama menyingkap selimut, telapak tangan Izza tampak memerah. Bagian wajah seputar bibir pun memerah seperti menebal.


"Giduannya kambuh ya?" ujar Rama sambil melihat telapak tangannya Izza.


"Ga tau... ini kayanya alergi deh. Liat nih bibir rasanya tebal banget" jawab Izza.


Rama memperhatikan bibirnya Izza yang memang lebih tebal dari ukuran biasanya. Izza masih menggaruk bagian lehernya.


"Coba jilbabnya dibuka dulu biar ga lembab" pinta Rama.


Izza langsung membuka bergonya, sebenarnya sudah sejak tadi ingin dibuka, tapi ga enak dilihat sama Rama. Izza duduk di atas ranjang.


Rama melihat area sekitar leher Izza memerah dan ada yang seperti bulatan koin. Dia bahkan mengarahkan senter dari HP ke lehernya Izza. Tentunya Izza agak canggung Rama melakukan hal itu, tapi rasa gatal sudah lebih dominan daripada rasa malunya.


"Kamu makan apa memangnya? atau memang alergi sama udara dingin?" tanya Rama.


"Kalo alergi dingin biasanya seluruh tubuh Kak, ini cuma leher dan area sekitar mulut aja" jelas Izza.


"Bawa obat alerginya?" tanya Rama.


"Bawa... ada didalam tas" jawab Izza.


Rama mengambilkan tasnya Izza dan memberikan ke Izza. Sementara Izza mencari obat alerginya, Rama keluar untuk mengambil air mineral di meja makan, tepat didepan kamarnya. Rama mengambil beberapa botol kemasan air mineral kemudian kembali ke kamar.


.


"Haus amat Mas Boss .. bawa air sampe lima botol begitu kaya orang mau dagang" ucap Mang Ujang yang lagi main catur sama Pak Isam.


"Namanya juga abis olahraga Jang ... haus lah" kata Pak Isam sambil menjalankan bidak caturnya.


"Olahraga apa coba didalam kamar? mending kalo mau olahraga tuh didepan.. lebih lega, buat gerak juga enak, kalo di kamar mah mentok sana sini" jawab Mang Ujang yang belum nyambung arah gurauan Pak Isam.


"Olahraga bikin anaklah Jang" timpal Mas Haidar to the point.


"Wah itu mah olahraga paling enak tuh. Energi terkuras tapi hati senang" sahut Mang Ujang yang langsung paham.


"Kaya udah pernah ngerasain enaknya aja Jang" sindir Pak Isam.


"Hehehe...emang belum ketemu lawan sih Boss Papi, tapi ya namanya lelaki... paham deh" ujar Mang Ujang dengan polosnya.


"Nikah Jang biar ada lawan" ledek Mas Haidar.


"Mau sih .. tapi calonnya belum ada. Kalo Alex mah enak, udah tinggal tunggu tanggal mainnya aja" bocor Mang Ujang.


Alex melotot kearah Mang Ujang, tandanya dia tidak mau rahasia ini bocor sebelum jelas segala sesuatunya.


"Mau nikah atau masih sekedar pacaran Lex?" tanya Mas Haidar.


Alex bingung untuk menjawabnya.


"Dia mau ikutan aliran Mas Bossnya tercinta, langsung akad aja" jelas Mang Ujang sok tahu.


"Bener Lex? sama siapa?" tanya Pak Isam.


"Ga Pak... masih baru mau memulai penjajakan" jawab Alex rada malu.


"Sama Mba Nur ..." ceplos Mang Ujang.


Alex menyenggol tangannya Mang Ujang.


"Kamu udah tau kan Nur statusnya apa?" tanya Pak Isam pelan.


"Sudah Pak" jawab Alex.


"Saya rasa dia pasti masih trauma, apa ga terlalu cepat untuk melakukan pendekatan ke dia?" ujar Pak Isam menghentikan main caturnya dan mengarahkan pandangan ke Alex.


"Boss Rama yang menjodohkan Pak, bagi saya... apa yang Boss Rama rencanakan pasti baik buat saya. Kami akan mencoba memulai dari awal, jika ada kecocokan bisa lanjut, jika tidak ada maka kami ga lanjut. Boss Rama tidak memaksa kami berdua harus menikah" papar Alex.


"Rama terkadang pola pikirnya sulit kita pahami sekarang, tapi dimasa depan pasti kita bisa bilang untung ikutin sarannya. Sama seperti dia yang tiba-tiba memilih menikah padahal saya minta dia nikah pasti jawabannya nolak terus" kata Pak Isam.


💐


Setelah minum obat, alerginya Izza ga kunjung mereda, malah bibir Izza terasa lebih tebal dan sulit untuk membuka mulutnya.


"Coba ingat-ingat ... makan apa sih kamu?" tanya Rama yang kasian melihat wajahnya Izza seperti korban kekerasan.


"Kan tadi makan bareng sama Kakak" ucap Izza rada ga jelas.


"Saya gapapa makan yang tadi kita makan. Pasti ada nih sebelumnya" ujar Rama.


Izza coba mengingat apa yang dia makan sedari pagi hingga malam. Akhirnya teringat dia makan buah kokosan saat di tempatnya Abah Ikin.


"Apa buah kokosan kali ya?" tanya Izza.


"Kost-kostan? nama buah atau rumah?" ucap Rama ga paham.


"Cari aja deh di gugel, sakit nih kalo ngomong" saran Izza.


Kokosan merupakan buah yang memiliki cita rasa asam dan manis yang khas. Biasanya buah berwarna kuning tua tersebut memiliki bentuk yang bundar dan berukuran kecil seperti buah dukuh. Bisa dikatakan serupa tapi tak sama. Dibandingkan dukuh, kulit kokosan jauh lebih tipis dan susah untuk dikupas secara bersih. Saat dikupas kokosan mengeluarkan lebih banyak getah dibanding dukuh. Getahnya berwarna putih seperti susu dan lengket seperti lateks. Oleh karena itu kokosan biasa dinikmati dengan cara tekan dengan jari lalu dihisap buahnya. Sementara dukuh lazim dinikmati dengan dikupas terlebih dahulu. Ukuran buah ditandan jauh lebih kecil daripada dukuh.


"Mungkin karena getahnya atau ada binatang kali dikulitnya jadi kamu gatel kaya gini" papar Rama.


"Bisa jadi... ini kali pertama makan buah itu, penasaran liat orang makan enak banget. Tapi memang segar sih .. asam-asam manis" jawab Izza.


"Kita ke klinik aja ya" ajak Rama.


"Disini Klinik terdekat yang dibawah itu Kak.. belum tentu buka dua puluh empat jam, coba beli di Apotek aja kali Kak" usul Izza.


"Kalo Klinik aja ga buka dua puluh empat jam, ya mana ada Apotek buka" kata Rama.


"Di ojol kali Kak ada" ucap Izza.


"Ojol juga males kesininya, jauh dari jalan kota" sahut Rama.


"Minta tolong boleh ga? tolong bikinin teh hangat bisa? ga usah pake gula" kata Izza.


"Ada lagi yang mau dibawain sekalian?" tanya Rama.


"Boleh deh kalo ada snack atau cemilan. Biasanya kalo abis gatel tuh ada dua kemungkinan, bisa langsung tidur atau malah ga bisa tidur yang berakhir dengan mulut iseng pengen ngemil" ungkap Izza.


"Mulut kamu aja udah tebel kaya gitu, masih bisa ngunyah? ngomong aja ga jelas" kata Rama.


Rama kembali keluar kamar menuju dapur, mengambil gelas dan kearah dispenser air panas. Disebelah dispenser ada meja yang diatasnya disediakan teh, gula dan kopi.


"Bikin teh buat siapa Ram?" tanya Mas Haidar.


"Izza" jawab Rama singkat.


Rama mengambil piring dan mengambil pie susu serta martabak keju yang ada diatas meja makan. Kemudian dia masuk kamar.


.


"Ronde selanjutnyaaaa..." ledek Alex tiba-tiba.


Pak Isam, Mang Ujang dan Mas Haidar langsung tertawa terbahak-bahak mendengar celetukan Alex.


"Bisa aja kamu Lex" kata Pak Isam.


"Boss Rama itu hobi makan, apalagi kalo dia habis olahraga atau beraktivitas yang berat, pasti porsi makannya double" papar Alex.


"Bener tuh Lex... Mas Boss ga kenal tempat, hajar terus tiap ketemu istri. Eh tapi bukannya ada Sachi ya di kamar? gawat kalo Sachi melihat orangtuanya lagi beradegan mesra" ujar Mang Ujang.


"Ya mungkin mainnya ga heboh .. secelup dua celup Mang... hahaha" timpal Mas Haidar makin menggila.


"Asal terpenuhi hasrat aja ya .. daripada ditahan kan bikin pusing. Udah mah hawanya pas banget buat berpelukan, terus kayanya Mas Boss lagi ga dikejar pekerjaan, jadi bisa santai menikmati kebersamaan" sahut Mang Ujang.


Mereka kembali menertawakan Rama.


.


"Itu pada ketawa geli banget, ga tau apa yang lagi dibahas" kata Rama sambil meletakkan makanan di meja rias dan memberikan segelas teh hangat ke Izza.


"Mereka lagi apa emangnya?" tanya Izza.


"Main catur... ga tau lucunya dimana coba main catur" kata Rama.


Izza menggelung rambutnya agar tidak menutupi leher. Rama yang memperhatikan jadi dag dig dug. Sudah seminggu sekamar, baru kali ini dia lama memandang Izza tanpa jilbab, pertama kali lihat cuma sekilas, jadi sekedar kaget aja.


"Kenapa malam ini dia keliatan cantik ya... ya Allah... kuatkanlah iman hamba..." ucap Rama.


Rama duduk di kursi meja rias, mencoba kembali fokus memeriksa pekerjaannya. Tapi matanya kembali melihat kearah Izza melalui pantulan cermin, dia melihat Izza yang sedang mengusap leher dan bibirnya, gerakan tersebut dimata Rama malah makin membuatnya tergoda.


"Itu bibirnya udah agak kempesan. Makan pie susunya .. ga tau dari mana, enak rasanya kaya dari Bali asli" tawar Rama sambil membalikkan tubuhnya kehadapan Izza.


"Emang dari Bali, tadi kan ada orang tua santri dari Bali yang datang ke tempat Abah Ikin" jawab Izza.


Izza mengikuti saran Rama, tapi masih sambil mengusap leher dan telinganya.


Rama mengambil bedak tabur milik Sachi, kemudahan mendekati Izza.


"Coba pakai ini dulu buat ngurangin gatalnya" ide Rama.


Izza malah tambah merasa gatal dibagian punggungnya. Rama menuju kamar mandi, sudah jam dua malam, dia mau sholat dulu.


Berkali-kali Izza menaburkan bedak dileher dan bagian dada. Wajahnya pun sudah cemong kaya orang kalah main kartu terus dikasih bedak.


Rama yang sedang berdo'a seusai sholat jadi ga konsen saat Izza menaikkan lengan piyama panjangnya kemudian ditabur bedak. Setelah itu menggulung celana piyamanya diatas lutut. Kemudian membalurkan bedak kebagian tersebut.


"Masih gatal juga?" tanya Rama sambil melipat sajadahnya.


"Ya.. biasanya langsung ngantuk kalo minum dua tablet obat, ini malah jadi makin segar. Mana malah nambah lagi gatelnya sampai punggung dan tengkuk belakang. Mungkin karena makin dingin kali ya udara malam ini" kata Izza yang masih menaburkan bedak keseluruh tubuhnya.


Rama mendekati Izza dan duduk dihadapan Izza. Izza tampak kesulitan menggaruk bagian punggungnya.


"Sini saya usap-usap punggungnya" tawar Rama.


"Ga usah Kak" tolak Izza.


"Saya bantu bedakin bagian punggungnya, dari tadi belum dibedakin" kata Rama sambil mengambil bedak yang ada di kasur.


"Ga usah Kak ... nanti dibedakin sendiri aja" jawab Izza sungkan.


"Emang bisa tangannya sampe punggung? Udah sini daripada gatel" alasan Rama.


"Mending gatel daripada Kakak yang kegatelan" jawab Izza santai.


"Hahahaha... Lucu juga jawabannya. Istri kok takut dilihat sama suaminya sendiri" ucap Rama.


"Nyesel ya cepat-cepat nikah sama saya?" tanya Izza dengan rada meledek.


"Hehehe ... coba kita buktiin dulu, nyesel ga nih keputusan buat nikah cepat-cepat" ucap Rama tersenyum genit.


"Mau apa Kak .. jangan macam-macam ya, nanti saya bisa jerit" tantang Izza.


"Jerit aja kalo ga malu. Paling juga diketawain sama semua orang" sahut Rama makin mendekati tubuh Izza.


Rama menaburkan bedak ditangannya.


"Maaf ya kalo saya sentuh punggung kamu" ijin Rama dengan sopan.


"Tapi jangan macam-macam ya, masukin tangannya aja, jangan kemana-mana tangannya. Matanya juga ditutup" Izza memberikan warning.


Rama memasukkan tangannya dari bagian bawah dari atasan piyamanya Izza, telapak tangannya terasa hangat saat menyentuh punggung Izza.


Rama mencoba mengalihkan pandangannya. Menyentuh kulit punggung wanita, kecuali Sachi, adalah kali pertama baginya, tentu hal ini menimbulkan sensasi luar biasa diotaknya. Apalagi begitu menyentuh pakaian dalam Izza, segala gejolak kelaki-lakiannya muncul. Susah payah dia mengatur nafasnya agar tidak terlihat dia sedang bernafsu didepan Izza.


Tiga kali Rama membalurkan bedak dipunggungnya Izza. Kemudian dia membalikkan tubuh Izza kehadapannya. Dibalurkan kembali bedak dileher bagian depan dan belakang serta tangannya Izza secara perlahan.


Sebenarnya keduanya sama-sama nervous, tapi sama-sama saling menutupi. Wanita mana yang ga akan klepek-klepek kalo didepannya ada lelaki seperti Rama. Walaupun tidak ganteng, tapi dia sangat berwibawa. Apalagi kalo lagi bersikap manis seperti ini, tampak dia sebenarnya orang yang sangat peduli dan penuh kasih sayang. Matanya yang tajam ternyata bisa meneduhkan. Jika dilihat seksama dan dalam jarak yang dekat, Rama baru terlihat agak tampan walaupun belum setampan Kakaknya. Rahangnya agak kotak membuat kesan maskulin makin tampak, ditambah dagu berbelahnya makin menyempurnakan wajahnya.


"Jangan mandang sampe gitu banget, biasa aja, nanti boleh kok kamu sepuasnya memandangi wajah saya yang rupawan ini kalo sedang tidur" ledek Rama sambil menyerahkan botol bedak ketangannya Izza.


"Ge er" ucap Izza menutupi rasa malunya.


"Mending ge er daripada minder" jawab Rama santai.


Rama segera menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan membasuh wajahnya biar bayangan tentang tubuh Izza lenyap bersama aliran air.