
Rama sudah menghubungi Pak Sandy, rencananya akan ke rumah Pak Sandy hari Sabtu ini.
"Silahkan Ram.. Bapak kan sudah tidak ada kegiatan, jadi banyak di rumah" jawab Pak Sandy lewat sambungan telepon seluler.
"InsyaAllah nanti saya, Izza dan Zian main ke rumah Bapak" janji Rama.
"Pintu rumah Bapak akan selalu terbuka untuk kalian semua. Kita makan siang sekalian di rumah ya. Spesial nanti Bapak masakin, satu-satunya masakan yang Bapak bisa" kata Pak Sandy.
"Pintar masak nih Pak.. saya bablas jarang ke dapur. Sepertinya kalo diminta ceplok telor juga ga paham yang matang seperti apa" canda Rama.
"Kan tadi Bapak bilang.. satu-satunya yang Bapak bisa ya hanya masak itu" ujar Pak Sandy.
"Jadi ga sabar ingin merasakan masakan seorang pengusaha senior" kata Rama antusias.
"Bapak hanya menang umur dari kamu Ram.. Bapak malah kagum sama kamu, tegas tapi mampu membuat banyak orang berubah jadi lebih baik. Bapak liat Izza memang anak yang baik, tapi ditangan kamu, dia menjadi naik level lagi" ungkap Pak Sandy.
"Terbalik Pak.. dia yang sudah berhasil menjungkirbalikkan hidup saya" tutur Rama.
"Memang ya.. dibalik lelaki tangguh, biasanya ada seorang wanita yang mampu mengetahui titik lemahnya kita. Izza suka berdebat? agak keras kepala? gampang nangis?" tanya Pak Sandy.
"Bapak kok tau?" ucap Rama kaget juga jika Pak Sandy tau sedikit karakter Izza.
"Persis sama Ibunya .. bedanya Izza tampil sederhana, tata bahasanya rapih, sopan santun dan lebih perhatian sama orang" lanjut Pak Sandy.
"Sepertinya untuk bab ini, saya perlu belajar banyak dari Bapak.. hehehe.. tau aja karakter wanita, padahal belum lama kenal Izza" canda Rama.
"Mantan playboy lah... kalo kamu kan katanya mantan preman.. taunya berkelahi, ngebut-ngebutan, kantor polisi, darah dan emosi" sahut Pak Sandy.
"Wah dikuliti ini saya.. hahaha... " ucap Rama.
"Ya sudah.. kamu pasti banyak kerjaan.. lanjutkan aja dulu, Sabtu ini kita berbincang lagi ngalor ngidul.. mau menginap pun boleh" tawar Pak Sandy.
"Nanti kalo betah repot Pak.. bisa-bisa ga pulang-pulang" kata Rama.
"Ya gapapa.. temani Bapak main catur" ujar Pak Sandy.
"Nyerah Pak kalo main catur, mending saya diajak makan saja" tukas Rama.
🌿
Mang Ujang, Maryam dan kedua anaknya pulang ke Pesantren Abah Ikin. Rupanya Mas Haidar dan Pak Isam sudah mengadukan perihal Mang Ujang ke Abah Ikin. Sehingga Abah Ikin meminta Mang Ujang dan keluarga kecilnya untuk pulang kampung dulu.
Abah Ikin sudah mempertimbangkan baik-baik, hal ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Bicara sama Mang Ujang memang perlu face to face, tidak bisa lewat telepon. Wong berhadapan aja masih suka loadingnya lama, apalagi jika lewat telepon.
Rombongan Mang Ujang tidak langsung menuju Pesantren, tapi ke rumah orang tuanya Mang Ujang dulu. Maryam menurunkan oleh-oleh yang sudah dia siapkan untuk mertuanya. Orang tua Mang Ujang melepaskan kangen dengan kedua cucunya yang sudah bisa jalan, jadinya perlu ekstra menjaga.
Sekitar satu jam melepaskan kerinduan ke orang tuanya Mang Ujang, rencananya akan bermalam di rumah Abah Ikin.
"Kamu bikin ulah apa sih Jang? kemarin Abah Ikin cerita ke Abah.. malu pisan Jang" tanya Abahnya Mang Ujang.
"Bikin ulah? apa ya? Ujang kayanya ga bikin gara-gara" kata Mang Ujang kebingungan.
"Apa yang tentang Mas Rama ya? yang Aa' bikin isu yang aneh-aneh terhadap Mas Rama" terka Maryam.
"Iya benar itu.. kamu kok ga ingatkan Ujang?" jawab Abahnya Mang Ujang menahan emosi.
"Maaf Abah .. Ambu.. Maryam sudah coba mengingatkan agar bisa menjaga lisan. Apalagi yang berkaitan sama Mas Rama, Maryam juga jadi ga enak sama beliau. Tapi Abah sama Ambu kan tau bagaimana karakter Aa'.. susah dikasih masukan" jelas Maryam yang dari nadanya terdengar lelah.
"Bukan salah kamu Maryam.. memang anak Abah yang rada konslet. Dari jaman bujangan sampai punya anak dua ga berubah juga sifatnya. Harusnya Jang.. sudah makin dewasa.. malu sama anak" ucap Abahnya Mang Ujang melampiaskan kekesalannya.
"Yang masalah mana lagi? kan Mas Boss udah maapin. Mas Boss juga ga perpanjangin masalah ini lagi kok" bela Mang Ujang.
"Tapi bikin malu Jang.. masa kamu tuduh Mas Rama meminta orang berganti jenis kelamin, terakhir kamu bilang kalo Mba Izza kena penyakit berbahaya sampai pesan tanah makam buat dirinya... astaghfirullahal'adzim Jang.. muka Abah mau ditaro kemana? mereka semua sudah baik sama kita semua. Punya pikiran sedikit Jang" ucap Abahnya Mang Ujang sedih.
"Mas Boss yang lapor ke Abah Ikin sama Abah?" tanya Mang Ujang dengan polosnya.
"Bukan.. tapi Mas Haidar dan Pak Isam. Mereka gemas sama pemikiran kamu Jang. Mas Rama dari dulu kan sudah menerima kamu apa adanya, jadi mana pernah lapor atau ngeluh ke kita semua" lapor Abahnya Mang Ujang.
"Benar Abah.. Mas Rama memang tidak pernah marah lama ke Aa'.. sepertinya memang sudah paham kemampuan Aa' itu seperti apa" timpal Maryam.
"Sudah sana.. kamu langsung ke Abah Ikin aja, Ambu malu sama keluarga Pak Isam dan Abah Ikin gara-gara kamu Jang. Biar sana diceramahin biar jangan suka punya pikiran yang ga karuan" potong Ambunya Mang Ujang.
"Ujang diusir jadinya?" kata Mang Ujang.
"Bukan diusir Jang.. tapi orang yang paling tepat untuk menasehati kamu ya mertua kamu sendiri.. Abah Ikin itu sosok bijaksana, paham agama dan bisa kasih masukan bagus buat kamu" ucap Ambunya Mang Ujang.
.
Mang Ujang sekeluarga bergerak menuju Pesantren. Mereka diterima layaknya seorang anak yang mengunjungi orang tuanya. Tidak lupa Maryam membawakan oleh-oleh untuk keluarganya juga.
Abah Ikin memberikan waktu untuk mereka beristirahat selepas perjalanan jauh. Mang Ujang yang membawa mobil, kelihatan lelah sekali (Pak Isam memberikan pinjaman mobil ke Mang Ujang).
Ceu Lilis dan Maman juga akan segera kembali ke Jakarta, selama ini memang Maman ditugaskan oleh Mas Haidar untuk mengurus rencana pembukaan toko frozen food tidak jauh dari areal Pesantren, nantinya akan bekerjasama dengan pihak Pesantren guna menunjang peningkatan daya kewirausahaan para santrinya.
Jadi nanti saat kembali ke Jakarta, keluarga Ceu Lilis dan Mang Ujang akan balik bareng. Makanya Pak Isam memberikan saran untuk membawa mobil pribadi saja daripada naik kendaraan umum.
.
Sekitar jam setengah sembilan malam, Mang Ujang dipanggil oleh Abah Ikin ke saung dekat kolam ikan. Hanya mereka berdua yang ada disana. Memang tipenya Abah Ikin jika ada yang perlu dikasih masukan, akan dipanggil satu persatu. Tujuannya untuk menjaga harga diri orang yang bersangkutan.
"Kenapa Jang.. Abah dengar kamu tidak bisa menjaga lisan?" tanya Abah Ikin to the point.
"Masalah yang waktu itu sudah selesai, Mas Boss Rama juga tidak ada masalah. Salah tanggap saja intinya ini Abah" jawab Mang Ujang hati-hati.
"Baru-baru ini kenapa sampai bilang Mba Izza kena penyakit berbahaya yang mematikan hingga pesan tempat pemakaman?" tembak Abah Ikin lagi.
"Sampai sekarang juga masih jadi misteri, Mba Boss keluar Rumah Sakit nangis-nangis terus ke makam, siapa yang tidak curiga dia mengidap penyakit berbahaya. Kakaknya aja meninggal tiba-tiba" kata Mang Ujang masih ga mau kalah.
"Kenapa menyimpulkan sesuatu yang tidak ada dasarnya? pernah ada omongan dari Mba Izza ataupun Mas Rama kenapa menangis? pernah ada pemberitahuan kalo Mba Izza sakit keras? ingat Jang.. ucapan adalah do'a. Harusnya kamu do'akan yang baik-baik" lanjut Abah Ikin.
"Rasanya Ujang jadi tersangka kalo begini. Ujang tidak ada niat buruk, Ujang sayang sama keluarga Mas Boss Rama, makanya Ujang selalu ambil berat dengan apa yang terjadi. Harusnya Mas Boss bilang aja sama Ujang, siapa tau dengan berbagi cerita, hati Mas Boss jadi tenang karena beban pikiran berkurang" jawab Mang Ujang.
"Yakin berkurang? yang ada malah tambah pusing dia kalo curhat ke kamu. Apa mampu pemikiran kamu satu frekuensi sama pemikirannya?" timpal Abah Ikin.
"Pakai segala frekuensi, memangnya kita radio?" canda Mang Ujang sambil menahan tawa.
Wajah Abah Ikin tidak ada tersenyumnya, sangat serius cenderung menyeramkan.
Mang Ujang sudah merasa terpojokkan. Serba salah sudah ditegur seperti ini.
"Lisan adalah salah satu karunia Allah yang luar biasa nilai manfaatnya. Dapat mengangkat derajat manusia tapi juga dapat menyengsarakan pemiliknya manakala tidak dapat mengelolanya dengan baik. Islam mengajarkan agar orang menjaga hati dan lisannya. Seperti dalam firman Allah : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, ada dalam surah Al-Mukminun: 1-3. Makanya ada Al Qur'an itu dibaca.. dipelajari.. jika tidak paham bisa tanya Maryam atau alim ulama yang ada didekat rumah sana. Jangan Al Qur'an hanya jadi pajangan" papar Abah Ikin.
"Maaf Abah.. namanya anak muda bergaul... ya.. kadang maksudnya becanda jadi serius. Tapi beneran kok kalo Mas Boss ga marah banget.. sudah memaafkan" kelit Mang Ujang. "Bergaul yang membawa kebaikan itu dianjurkan Jang, tetapi dalam pergaulan juga harus dihindari hal-hal yang tidak ada gunanya, apalagi mendatangkan mudharat, seperti ghibah, mencampuri urusan orang lain yang jelas-jelas bukan kewenangan kita. Apa yang sudah Ujang lakukan itu termasuk menggunjing, ibaratnya memakan bangkai saudara sendiri yang telah mati. Bisa juga disebut menyebar fitnah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Abah kasih masukan ke kamu panjang lebar begini , paham Jang?" ungkap Abah Ikin.
"Iya Abah" jawab Mang Ujang pelan.
"Jangan iya-iya nanti diulangi" ingat Abah Ikin.
Abah Ikin meninggalkan saung, Mang Ujang diminta merenung dulu. Melihat situasi sekeliling.
Akhirnya dia menelepon Rama.
Rama sedang becanda sama Zian yang terbangun saat Rama pulang kerja. Sachi tidak ada di rumah karena menginap di rumah Mas Haidar.
"De... tolong angkat telepon" pinta Rama.
"Dari Mang Ujang" sahut Izza.
"Loud speaker aja De" kata Rama.
Izza meletakkan HP didekatnya Rama.
"Mas Boss... ini gimana sih ceritanya?" cerocos Mang Ujang.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. ada apa Mang Ujang menghubungi malam-malam seperti ini? ada yang bisa dibantu?" ucap Rama dengan nada yang dibuat-buat.
"Waalaikumsalam.. ini Mamang serius.. jangan becanda dong Mas Boss" sahut Mang Ujang.
"Lah kurang serius gimana sih Mang.. wajar dong ketika menerima atau menelepon seseorang itu didahulukan salam, jangan asal ngoceh aja kaya petasan" tegur Rama.
"Mamang disuruh pulang kampung buru-buru, kirain ada yang sakit atau kenapa gitu.. ga taunya diomelin kanan kiri" keluh Mang Ujang.
"Diomelin? sama siapa? Mamang bikin gara-gara disana?" tukas Rama kaget.
"Ini gara-gara yang saya bilang Alex diminta jadi perempuan sama... sama..." kata Mang Ujang ragu untuk meneruskan kalimatnya.
"Sama berita apa lagi Mang?" pancing Rama.
"Maaf ya Mas Boss... Mamang bilang ke Mas Haidar dan Boss Papi kalo Mba Izza memesan tanah makam karena sakit keras" dengan gamblang Mang Ujang menjelaskan.
Izza dan Rama kaget mendengar berita tersebut. Jadilah Izza yang emosi, mengambil HP nya Rama untuk berbicara dengan Mang Ujang.
"Mamang nyumpahin saya cepet meninggal? Mamang ada dendam pribadi apa ke saya? kayanya saya ga pernah bikin masalah ke Mamang" omel Izza.
Rama bengong melihat reaksi Izza yang ngomong rada keras dan dalam satu hembusan nafas. Zian kaget mendengar Izza marah, jadinya malah menangis.
Rama mencoba menenangkan Zian dengan memeluknya dan membawa Zian ke balkon.
"Maaf Mba" ucap Mang Ujang pelan.
"Maaf.. maaf.. sudah sering ya mulutnya Mang Ujang bikin berita yang ga bener. Untung jauh, kalo deket sudah saya cabein sekalian" lanjut Izza masih kesal.
"Abis Mamang itu peduli banget sama Mba Izza.. liat Mba Izza keluar Rumah Sakit nangis-nangis terus ke makam, kan jadi Mamang punya pikiran yang aneh-aneh" sahut Mang Ujang.
"Memang pikirannya Mamang isinya aneh-aneh semua. Punya istri pintar tuh banyak belajar dari dia. Kasian banget jadi Maryam.. dapat suami kaya Mang Ujang. Mana cape ngurusin dua anak sendirian" oceh Izza.
Namanya juga perempuan, kalo sudah marah, jangankan ingat pembahasan yang baru, kalo perlu kesalahan sepuluh tahun silam juga diungkit-ungkit lagi.
Izza memutuskan sambungan telepon, rasanya sudah geram dan ingin membanting HP.
"Jangan De.. jangan.. itu HP Kakak banyak data penting. Tolong ya jangan dibanting" mohon Rama.
Izza meletakkan HPnya Rama diatas meja. Rama memberikan Zian ke Izza.
Rama mengambilkan segelas air untuk Izza, kemudian Izza meminumnya.
"Kakak mandi dulu ya.. Zian.. Ayah mandi dulu ya" pinta Rama.
Zian merengek minta ikut Rama.
"Ayah bau keringat banget nih.." ucap Rama.
Zian menjulurkan tangannya minta digendong sama Rama.
"De.. ikut ke kamar mandi deh.. pegangin Zian, dia mau liat Ayahnya mandi kayanya. Apa Mommy mau mandi bareng sekalian?" goda Rama.
"Ga malu didepan anaknya .." jawab Izza.
"Ya kali aja.. Zian kita kelonin dulu, nanti Mommy bareng Ayah mandi, kita main sabun-sabunan" sahut Rama.
"Udah sana mandi.. Zian sama Mommy dulu ya.. sudah malam, tidur lagi ya, nanti Ayah nyusul tidur.. okay?" ajak Izza.
🌿
"A'.. ngapain bengong disitu?" tanya Maryam heran melihat Mang Ujang duduk termenung di saung.
"Aa' bukan suami yang baik ya? Aa' ga bisa kasih kamu kebahagiaan? Aa' masih jauh ilmunya dibanding kamu" ucap Mang Ujang melow.
"Kenapa ngomong begitu A'? setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan" sahut Maryam bijak.
"Tapi Aa' banyak kurangnya dibanding lebihnya" lanjut Mang Ujang.
"A'.. kita menikah dengan tujuan menyempurnakan sebagian agama kita. Selama menikah, Aa' selalu kasih nafkah lahir batin yang cukup untuk Maryam, Aa' tidak mengkhianati pernikahan kita dengan selingkuh, Aa' selalu pulang ke rumah, sekarang juga sholatnya sudah lima waktu, ngajinya sudah lancar bahkan sudah khatam tiga kali selama pernikahan kita. Bukankah itu hidayah A'? Maryam juga tadinya hanya tau dunia sempit seputar Pesantren, tapi bersama Aa' jadi tau tempat wisata, hotel, villa, Mall bahkan restoran mewah. Hidup tidak sekedar jalan di tempat A'.. tapi bagaimana kita jalan maju bersama. Sekarang kita sudah diberikan amanah dua orang anak sekaligus, berarti tanggung jawab kita double A'. InsyaAllah selama kita memohon pertolongan kepada Allah.. Allah akan membimbing kita ke jalan yang lurus" ungkap Maryam dengan nada lemah lembut.
"Terus dampingin, kasih tau dan nasehatin Aa' ya" harap Mang Ujang.
"Sama-sama A'.. kita bergandengan tangan membangun keluarga kita dalam landasan agama. Kita besarkan anak-anak kita menjadi generasi penerus berakhlak mulia" jawab Maryam.
Mang Ujang memeluk pundaknya Maryam, kemudian kepala Maryam bersandar dipundaknya Mang Ujang.
Abah Ikin melihat dari kaca jendela kamarnya, tersenyum penuh makna kemudian menutup jendela.
"Abah tau kamu anak yang baik Jang, Abah juga tau Maryam wanita yang baik. Itulah kenapa kalian berjodoh. Maryam bisa membantu kamu dan keluarga untuk berhijrah, sedangkan kamu bisa membantu Maryam mengenal dunia secara nyata. Abah hanya bisa mendo'akan kalian" kata Abah Ikin dalam hatinya.
Memang ada rasa sentimentil antara mertua lelaki dengan menantu lelakinya, karena anak perempuannya kini sudah bukan anak kecil yang bermanja dengannya lagi, tapi ada seorang suami yang siap dia layani.
.
"Mas Boss sama Mba Boss kalo lagi senderan kaya gini kok bikin orang baper ya, kira-kira kita sama ga?" tanya Mang Ujang.
"Kayanya kita ga semanis mereka A'.. jangankan saling menyender, mereka saling tatap aja kita yang malu" jawab Maryam.
"Kita harus bisa mencontoh mereka.. dari jaman pertama mereka ketemu, Mamang sudah yakin mereka berjodoh. Alhamdulillah jadi saksi perjalanan cinta mereka" kata Mang Ujang.
"Apa ya amalan Mas Rama dan Mba Izza hingga mendapatkan pasangan yang saling mengisi dan mendukung satu sama lain. Bisa dibilang kemampuan mereka itu sebanding dalam hal apapun" tanya Maryam.
"Kalo Mba Boss itu karena kesabaran dan ketabahan menerima semua takdir yang tersaji buat dia. Mulai dari kehilangan keluarga karena kebakaran, hidup di Panti Asuhan dengan segala keterbatasannya, diangkat jadi adik sama pengkhianat di kantor Mas Boss, sudah nikah juga sempat diculik. Menghadapi sifat Mas Boss yang susah ditebak dari awal kenal sampai sekarang. Nah Mas Boss itu karena memang orangnya baik banget dan jiwa sosialnya tinggi. Makanya berkah aja rejekinya" jelas Mang Ujang.
"Sampai seperti itu ya Mba Izza.. ya Allah.. kuat banget" kata Maryam kagum.
"Dulu mereka kalo ketemu pasti ada aja yang diributin, baru-baru nikah juga banyak dicuekin sama Mas Boss. Asyik aja barang subuh pulang tengah malam, istri kaya ga diperhatiin. Lama-lama udah dapat servis memuaskan dari Mba Boss.. berubah juga.. hahahaha.. jadi betah di rumah" ucap Mang Ujang.
"Semoga Maryam juga bisa bikin Aa' betah di rumah ya" harap Maryam.
"InsyaAllah.. Aa' selalu betah kalo dekat istri Aa' tercinta ini" rayu Mang Ujang.
Â