
Mang Ujang and the gank sudah bergerak pulang menuju Tasikmalaya naik travel dari Bandung Kota ke Tasikmalaya. Karena kalo dihitung-hitung ongkos naik turun kendaraan umum yang beberapa kali juga sama aja biayanya. Kalo travel kan sudah beres tinggal duduk sampe di Pesantren.
Tidak lupa mereka juga membelikan oleh-oleh untuk kedua orang tua masing-masing.
Rombongan ini baru sampai di Tasikmalaya sekitar hampir isya. Yang lelaki langsung menuju Mesjid, sedangkan yang perempuan masuk kedalam rumah pribadi Abah Ikin untuk meletakkan bawaannya.
Selepas sholat isya, keluarga Abah Ikin makan malam bersama dulu di rumah, karena rencananya Mang Ujang malam ini akan mengajak Maryam tidur di rumah orang tuanya.
"Alhamdulillah kalian semua sudah menikah, sudah resepsi, sudah pula bulan madu... saatnya kembali ke dunia nyata dengan segala aktivitasnya. Sudah jadi suami istri harus saling tambah menyayangi, jangan saling menyakiti, saling nasehat menasehati dan saling mendukung satu sama lainnya. Jang .. Maryam ini punya keinginan mengajar, jika kamu ijinkan dan Maryam bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, Abah mendukung saja, tapi sekarang bukan Abah lagi yang mengijinkan kamu mau melakukan apapun, sudah ada Ujang, jadi dibicarakan saja berdua. Untuk Lilis.. Abah serahkan semua juga ke Maman, boleh tidaknya manggung lagi atau apapun itu.. kamu harus tunduk sama ucapannya selama tidak menyimpang dari ajaran agama" nasehat Abah Ikin.
Mereka berempat hanya manggut-manggut mendengarkan nasehat Abah Ikin.
Acara makan malam berlangsung sangat hangat, karena pasangan pengantin baru ini bercerita tentang tempat mereka bulan madu yang membuat banyak orang jadi iri.
"Alhamdulillah Abah senang dengarnya, Nak Rama sudah memberikan banyak hal ke kalian, jangan kerja asal-asalan, jangan curang dan melakukan tindakan yang melawan hukum" nasehat Abah Ikin lagi.
🌺
"Kak..." panggil Izza saat keduanya bersiap untuk tidur dimalam hari.
"Apa sih De... mau nambah lagi?" iseng Rama.
"Pikirannya kesana mulu... " jawab Izza gemes sambil nyubit pipinya Rama.
"De... kayanya manggilnya ga enak banget ya.. Kakak.. udah kaya Kakak kelas, ga ada mesra-mesranya" sahut Rama.
"Terus mau panggil apa?" tanya Izza.
"Terserah kamulah ... mau panggil sayang, cinta, love atau apa gitu yang enak didengar" jawab Rama.
"Ya udah sih Kak, senyamannya aja dulu" kata Izza.
"Okelah kalo begitu..." jawab Rama setuju.
"Kak .. boleh liat lanjutan rekaman video itu lagi ga?" tanya Izza.
"Yang Om nya Alex?" tanya Rama balik.
Izza mengangguk.
"Boleh ... tapi setelah semua kamu dengar, dihapus aja ya videonya" pinta Rama.
"Iya.." jawab Izza.
Rama kembali memutar video yang belum ditonton sama Izza. Izza menyandarkan kepalanya kebahunya Rama.
.
"Om tau ga .. setelah melahirkan, Ibu Didie pindah kemana?" tanya Rama.
"Lost contact... terakhir ketemu ya saat masih tinggal sama Ibunya Alex" jawab Om nya Alex santai.
"Ibunya Alex ga pernah cerita mereka pindah kemana?" lanjut Rama.
"Cuma bilang mau pindah kedaerah Semper, Jakarta Utara sana. Tapi persisnya dimana ya ga tau. Ibunya Alex juga ga ngantar. Saya ga tau ya apa Ibunya Alex masih berhubungan dengan mereka setelahnya atau tidak karena saya sempat ikut teman kerja ke Malaysia, jadi jarang ngobrol sama Ibunya Alex" papar Om nya Alex.
"Punya foto bareng mereka ga Om?" tanya Rama.
"Udah ga tau kemana, tapi foto yang Alex kasih memang benar itu Didie" ucap Om nya Alex.
"Om kenal siapa Bossnya?" kata Rama makin penasaran.
"Nah ini yang Om bilang cukup kawakan Boss yang satu itu .. setiap Om nyupirin mereka, orang ini pakai kacamata hitam, terus pakai masker bahkan ga bersuara sama sekali, mobilnya tuh keren.. ada penutup antara supir dan kursi bagian belakang. Jadi lelaki ini selalu tutup batas itu tiap naik mobil dan tau-tau mobil agak goyang aja dibawanya, sama ada deh kedengaran suara desahannya Didie dan suara kelegaan Boss itu. Ya tau lah ya mereka ngapain, ga perlu Om jelaskan. Kalo dari matanya memang keliatan maniak sih kayanya" ucap Om nya Alex.
"Mereka sering melakukan di mobil atau sesekali aja Om?" tanya Rama.
"Kayanya setiap Om jemput ya pasti begitu sih" jawab Om nya Alex.
"Kok Om bisa bawa mobilnya?" tanya Rama.
"Jadi biasanya Om dihubungi sama Didie untuk tunggu disuatu tempat, nanti ada supir yang memberikan kunci terus Om menuju tempat yang sudah ditentukan. Biasanya ketemu Didie dulu baru deh jemput cowoknya" papar Om nya Alex.
"Jika suatu saat Om ingat sesuatu, bisa hubungi Alex aja" ujar Rama.
"Ini kalo ga salah.. lelaki ini Kantornya di Kelapa Gading, ya .. Didie pernah bilang katanya dia Boss perusahaan ekspor impor, tapi ga tau ya namanya apa" tambah Om nya Alex.
"Baik Om.. terima kasih atas semua informasinya, senang berkenalan dengan Om" kata Rama.
"Titip ya keponakan Om ini, dia ya punyanya tinggal Om saja, tapi istri Om memang tidak terlalu suka sama Alex, ya tau sendiri Alex seperti apa. Pelan-pelan mungkin nanti bisa ketemu sama Alex lagi, dia pasti kaget kalo liat Alex yang sekarang. Terima kasih Pak Rama sudah banyak membantu Kakak dan keponakan saya selama ini" ujar Om nya Alex.
"Alex dan saya sudah brotherhood.. sesama jagoan berantem, cuma bedanya saya ga pakai obat dan miras aja... eh cewe juga deh, saya ga main cewe ... hahaha. Tapi urusan buat orang babak belur, Alex masih dibawah saya kemampuannya.. hehehe" kata Rama santai.
"Masih keliatan nih Pak Rama sisa-sisa jagoannya masih ada" canda Om nya Alex.
.
Rama menghapus video tersebut setelah full dilihat oleh Izza, banyak alasannya untuk memusnahkan video tersebut. Rama tidak bisa menjamin sesuatu yang tersimpan di laptopnya bisa aman karena bisa saja diservice atau dipinjam orang lain, jadi ada kemungkinan bocor informasi ini ke orang lain. Selain itu tidak mau Izza kembali memutar ulang video tersebut dan menjadi makin sedih. Cukuplah aib ini disimpan oleh mereka saja.
"Ibu itu cinta atau ga ya sama Boss ini? apa dia Ayah biologis Izza? Kenapa Ibu bohong?" tanya Izza penasaran.
"De... please.. jangan penasaran, otak kamu kalo udah penasaran bisa berpikir nekat. Toh yang jelas kamu anak Ibu Andhika. Bukan Kakak ga mau tau siapa Ayah biologis kamu, tapi apa yakin ga tambah sakit hati? Dari penuturan Om nya Alex, besar kemungkinan Bapak dan Ibu yang selama ini diyakini sebagai orang tua kamu, mereka tidak pernah menikah, ga tau kalo menikah siri. Atau paling buruknya benar kamu anaknya Boss itu .. apa mengubah keadaan? ingat kan tadi di video Om nya Alex bilang kalo Ibu dihempaskan setelah melahirkan, artinya dia ga butuh Ibu dan ga mau berhubungan lagi sama Ibu. Dia ga peduli anak yang dulu ada dalam kandungannya Ibu itu anaknya atau bukan. Kalo dia lelaki bertanggung jawab dan mencintai Ibu, dia akan tetap menyimpan Ibu disampingnya, kenapa harus keluar apartemen setelah dekat waktu melahirkan?" papar Rama.
Izza malah memeluk Rama, terlihat memang Izza sangat terpukul. Rama mengusap lembut punggung Izza.
"Kita jangan rusak momen kebersamaan kita dengan hal seperti ini. Jangan pernah penasaran sama Boss itu. Kita ga tau apakah Big Boss yang telah banyak menghancurkan bisnis Kakak itu orang yang sama dengan Boss yang dekat sama Ibu" ingat Rama.
"Kenapa Ibu semurah itu? terus kenapa Ibu dulu sering dipukuli sama Bapak?" tanya Izza.
"De... udah ya ... jangan baper terus. Kakak tau banget perasaan kamu sekarang seperti apa" pinta Rama.
"Kakak ga jijik kan sama Izza?" tanya Izza sambil melihat kearah Rama.
"Kakak ga akan menikahi wanita yang ga Kakak anggap pantas menjadi calon Ibu untuk keturunan kita kelak. Kamu ga patut menanggung dosa Ibu kan? kamu ga patut dipersalahkan.. kamu hanya korban keadaan. Sekarang dengan masa lalu yang kelam, kamu jadikan tantangan untuk lebih baik lagi kedepannya. Jangan sampai generasi penerus kita seperti generasi sebelum kita. De.. please .. jangan pernah penasaran untuk menguak misteri ini. Kakak tau banget tipe kamu kalo sudah penasaran bisa aja ngejar banget. Kamu akan dalam bahaya melawan mafia seperti orang itu De.. Kami keluarga besar Abrisam, menerima kamu dalam kondisi apapun. Ini rahasia kita De.. Kakak juga sudah bilang ke Alex untuk tidak menceritakan hal ini ke siapapun" ujar Rama.
"Tapi Kak..." ucap Izza ragu.
"De... apa yang Kakak lakukan dan perintahkan ke kamu itu untuk kebaikan kita bersama. Jangan pernah menantang bahaya.
Karena Kakak ga bisa melihat kamu terluka" ingat Rama.
"Kak... hug me please" pinta Izza.
Rama memeluk Izza dengan erat.
"Kak... jangan kaya Boss itu ya? harta dan jabatan yang Kakak punya sangat memungkinkan untuk berbuat apapun. Jadikan Izza satu-satunya, jangan salah satunya" pinta Izza.
Rama mengecup keningnya Izza berkali-kali.
"De... setiap dari kita tidak akan ada yang tau hari esok seperti apa. Kakak besar tanpa pernah kenal sosok Ibu. Pernah ada sosok Mba Mentari, tapi hati ini masih juga ruang kosongnya. Kakak selalu berdo'a... sesakit apapun dulu perasaan Kakak.. jangan sampai menyakiti pasangan kelak. Motivasi membangun sebuah keluarga utuh dengan limpahan kasih sayang menjadi goal terbesar yang ingin Kakak capai setelah dalam dunia bisnis lumayan berhasil. Kakak ga akan mempertaruhkan apa yang sudah Kakak miliki hanya demi kenikmatan sesaat. Wanita yang hadir setelah kita sukses, harusnya patut diwaspadai, karena kebanyakan modusnya hanya ingin menguasai apa yang kita punya" kata Rama.
"Tapi kan Izza juga hadir dalam hidup Kakak saat Kakak sudah jadi Boss di Abrisam" sahut Izza.
"Sepulang dari sini, kita ke Kantor notaris, Kakak sudah minta tolong untuk mengganti nama semua aset yang Kakak miliki atas nama kamu, kecuali Abrisam Group dan Audah Hotel ya.. karena harus ada rapat direksi serta pemegang saham. Tapi ada rumah yang ga terlalu besar, apartemen, mobil dan motor yang akan menjadi hak kamu semua. Kakak juga akan memberikan kamu akses password mobile banking Kakak, jadi kamu bisa cek transaksi keluar masuknya bagaimana. Bahkan Kakak berencana kamu yang pegang kendali keuangan Kakak, kalo menurut kamu berbahaya memegang uang dalam jumlah besar karena khawatir Kakak menyimpang, silahkan kamu pindahkan ke rekening kamu, kalo perlu kita buat rekening bersama agar sama-sama bisa menggunakan rekening tersebut. Jika terjadi sesuatu dengan kita, kamu punya semuanya" ungkap Rama.
"Kakak memang ada rencana membuat sesuatu terjadi?" tanya Izza agak kesal.
"Janji ya untuk langsung ngomong maunya apa dari pasangan. Jangan malah curhat ke orang lain, apalagi dengan lawan jenis" ujar Izza.
"Iya sayangku ... tapi jangan terlalu banyak protes kalo diatur. Apalagi sekarang udah bergelar istri .. harus tau apa kewajibannya" ingat Rama.
🖤
"Ternyata Pak Rama sudah meresmikan pernikahan mereka di Tasikmalaya Boss. Bahkan sekarang sedang berbulan madu dengan Ibu Izza didaerah Cikole" lapor anak buahnya Big Boss.
"Rama .. jagoan cilik yang ga bisa dianggap enteng... sekarang kamu bisa menikmati tubuhnya... lakukan sepuas yang kamu mau. Sebentar lagi, dia yang akan menyerahkan dirinya kehadapan saya ... hahaha" kata Big Boss.
"Boss .. mereka ada ditempat wisata alam, menginap disana, mengambil kamar yang paling mahal. Apa perlu dikasih sedikit peringatan?" tanya anak buahnya Big Boss.
"Kirimkan bunga sebagai ucapan selamat atas pernikahan mereka" jawab Big Boss.
"Maaf Boss... berkali-kali paket dari kita selalu dibuang dan ditolak" lanjut anak buahnya Big Boss.
"Oke... saya akan siapkan sendiri hadiah untuk mereka.. sekarang kamu keluar dari sini, panggil sekretaris saya masuk" ucap sang Big Boss.
"Baik Boss" kata anak buahnya.
Lima menit kemudian sekretarisnya masuk dan duduk dihadapan sang Boss.
"Masuk ke kamar" ajak Big Boss menuju kamar yang ada disebelah ruangannya.
Sang sekretaris mengikuti.
Sang Big Boss membuka sepatunya dan merebahkan diri disebelah boneka berwajah Izza.
"Layani saya..." pinta sang Big Boss.
Sekretarisnya sangat antusias karena sudah beberapa bulan sang Big Boss tidak menyentuhnya. Ditanggalkan satu persatu pakaiannya kemudian melakukan hal yang sama ke Big Boss.
Hanya sebentar sang Big Boss sudah ga berdaya.
"Sayang .. i love you" kata sang sekretaris bermanja.
"Kamu sering dipakai ya .. rasanya ga enak lagi, coba operasi biar enak lagi" perintah Big Boss.
"Percaya deh sayang.. ini cuma buat Boss seorang.." rayu sang sekretaris.
"Ga usah bohong, saya sudah mencicipi berbagai macam jenis, jadi tau mana yang sering dipakai atau tidak" kata sang Big Boss sambil memakai pakaiannya kembali
Sang sekretaris memeluk dari belakang.
"Sayang .. kita kan belum menggila.. belum juga lima menit .. ga mau menikmati yang lain?" tanya sang sekretaris.
"Kamu udah ga enak ... besok kamu pindah ke kantor cabang ya, saya mau ganti sekretaris yang lebih fresh" kata Big Boss.
"Sayang ... jangan dong sayang ... saya akan perawatan biar gres lagi" mohon sang sekretaris.
"Sudah saya putuskan.. tau kan kalo keputusan saya selalu harus terlaksana" kata sang Big Boss tidak menghiraukan sang sekretaris.
"Saya akan bongkar semuanya ke keluarga Boss" ancam sekretarisnya.
"Silahkan... kalo berani... go head" tantang Sang Big Boss secara arogan meninggalkan kamar tersebut.
💠
Rama memutuskan untuk tidak memperpanjang waktu menginapnya di penginapan ini, dia memang hanya memesan selama tiga hari dua malam.
Ada sesuatu yang membuatnya agak curiga, merasa ada yang mengikuti dan mengawasi jejak langkah Rama dan Izza. Tapi Rama tidak memberitahukan hal ini ke Izza agar dia tidak panik.
Alex datang menjemput mereka, Alex membawa mobil Kantor untuk mengecoh orang suruhan Big Boss yang mengawasi pergerakan didepan rumah.
Rama tidak pulang ke rumah tapi melanjutkan menginap di Audah Hotel. Rama masih ingin melihat pergerakan para pengintai di rumahnya, jadi akan lebih aman Izza ada di Audah Hotel.
.
"Kenapa ga pulang ke rumah aja sih Kak? masih jam empat sore. Kan kangen juga sama Sachi" tanya Izza.
"Kita stay disini sementara, udah banyak mata-mata diluar rumah" kata Rama.
"Oh gitu... Ini juga segala ada extra single bed, buat siapa?" ujar Izza.
Pintu kamar diketuk dari luar, Rama yang membukakan pintu.
"Mommmyyyyyy..." teriak Sachi sambil berlari memeluk Izza.
"Sachiiii... mommy kangennn banget" jawab Izza.
"Ayah ga dipeluk nih?" ledek Rama.
Sachi dan Izza tertawa.
"Mba Nur... barang-barang punya Sachi taro kamar Mba Nur aja dulu ya, paling nanti minta beberapa baju ganti" pinta Rama.
"Ya Mas..." jawab Mba Nur.
"Ini kunci kamar sebelah, Sachi tidur disini, Mba Nur ajak siapa buat nginep?" tanya Rama.
"Mba Nenden, kan bisa gantian jaga Sachi" jawab Mba Nur.
🌺
Sachi berangkat sekolah dari Audah Hotel, kebetulan pihak pengadilan sudah ke rumah Pak Isam hari Senin, jadinya ga masalah kalo hari Rabu ini Sachi ada di Audah Hotel.
Rama sudah beraktivitas kembali, sedangkan Mang Ujang baru datang ke rumah Pak Isam.
Cuti Mang Ujang masih ada, jadi dia tidak masuk kerja.
Farida diminta untuk mengantarkan pekerjaan ke Audah Hotel. Para Manager yang ada di Abrisam Group juga sudah diberitahu untuk ke Audah Hotel jika ingin bertemu sama Rama.
Izza tidak ikut mengantar Sachi sekolah karena kurang enak badan, jadi kembali melanjutkan tidur, nanti sore dia ada kuliah.
💐
"Maryam.. kamu disini bukan pekerja saya, hanya sebagai pendamping Ujang saja. Jadi tidak perlu merasa punya tanggung jawab pekerjaan disini. Memang ada aturan disini yang harus dipatuhi bersama, kamu bisa tanya Ujang nanti. Makan bersama disini boleh, mau masak sendiri pun silahkan, senyamannya kamu saja. Bahan makanan atau minuman ada di dapur, nanti tanya Mba yang ada disana" kata Pak Isam.
"Baik Pak" jawab Maryam.
"Rencananya kamu kedepannya mau full jadi ibu rumah tangga atau melanjutkan studi?" tanya Pak Isam.
"Untuk melanjutkan studi sepertinya tidak Pak, saya mau fokus ke keluarga. Tapi ada kawan saya saat di Pesantren yang punya TK dan TPA Islam di Lebak Bulus, saya diminta ikut mengajar disana. Belum deal apa menerima tawaran itu atau tidak, karena saya juga baru menikah, belum dibicarakan dengan suami" papar Maryam.
"Bagus itu... tidak terlalu jauh juga dari sini, terserah kalian saja pokoknya.. Bapak hanya bisa mendukung" kata Pak Isam.
"Nanti dipikirin dulu Boss Papi.. tau sendiri kan ya waktunya Mas Boss kerja seperti apa, saya kan juga dijadikan koordinator supir di Audah Hotel. Masa kita sama-sama sibuk sih Boss Papi" papar Mang Ujang.
"Inilah pelajaran pertama dalam rumah tangga.. diskusi. Saling rembukan maunya seperti apa. Jangan saling memaksakan kehendak" nasehat Pak Isam.
.