
Izza tengah duduk bersama Elin, sahabat karibnya disebuah kajian. Keduanya memang baru setahun belakangan ini aktif di Masjid kampus dan memutuskan untuk berhijab.
"Ketika kita merasa terusik, hati terasa terluka dengan perbuatan yang menyinggung perasaan, disitulah seringkali banyak orang yang menyimpan amarah dan menimbulkan rasa dendam tak berkesudahan. Biasanya orang yang menyimpan dendam akan menginginkan orang lain merasakan seperti apa yang ia rasakan. Jelas, Islam tidak menganjurkan umatnya untuk mempunyai sifat pendendam. Ada satu cara terbaik balas dendam dalam Islam. Apakah itu? Cara tersebut adalah dengan menjadi jiwa yang pemaaf. Rasulullah SAW bersabda : Tidaklah seseorang memaafkan kedzaliman (terhadap dirinya) kecuali Allah akan menambah kemuliaannya (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi). Adik-adik Mahasiswa Mahasiswi yang sedang mencari ilmu.... Dosa jangan dibalas dengan dosa. Namun, seringkali kita terbawa oleh hati yang panas untuk membalas dosa dengan dosa. Islam melarang umatnya untuk memiliki sifat pendendam karena hanya akan membuat seseorang kehilangan akhlaknya dan membuat dirinya semakin jauh kepada Allah SWT" ucap salah satu Mentor senior kakak angkatan tingkat akhir di Kampus.
Izza mendengar dengan seksama. Menyadari dirinya yang masih banyak menyimpan perasaan dendam akan masa lalunya. Izza mengepal tangan kanannya memegang tas kain flanelnya.
HP milik Izza berbunyi, ada chat masuk dari Mba Gita. Isinya meminta dia segera menelepon jika sudah tidak ada kelas kuliah. Setelah kajian selesai, ia langsung menelpon Mba Gita. Mba Gita menjelaskan tentang penawaran Pak Isam. Izza ga menolak karena apapun yang Mba Gita perintahkan pasti akan dia ikuti. Karena Izza merasa banyak berhutang budi terhadap Mba Gita. Walaupun hanya adik angkat, tapi Mba Gita memperlakukannya layaknya adik kandung sendiri.
Dimata Izza, Mba Gita adalah wanita independen yang hidup di kota besar ini seorang diri. Sejak hidup bersama Mba Gita, Izza ga pernah melihat Mba Gita bertemu keluarga termasuk ketika lebaran tiba. Izza ga berani bertanya, baginya ini adalah hal yang sangat sensitif jika ditanyakan ke Mba Gita. Mba Gita pun ga pernah mengajak Izza bertemu dengan keluarga Mba Gita.
🏵️
"Assalamualaikum Sachi... Udah pulang dari rumah sakit?" tanya Rama lewat video call.
"Waalaikumussalam... udah Ayah" jawab Sachi masih lemas.
"Sakit ya diinfus" tanya Rama lagi.
"Ya... nih liat kulit Sachi bolong" jawab Sachi sambil memperlihatkan tangannya yang bekas jarum suntik.
"Ya udah .. Sachi tiduran aja di kamar, mainnya juga di tempat tidur aja. Makan yang banyak ya sayang, besok Ayah pulang ke rumah. Sachi kangen ga sama Ayah?" ujar Rama lembut.
"Kangen... tapi kata Papa Haidar, kalo kangen Ayah kan bisa telepon. Ayah... bawain hadiah apa buat Sachi?" tanya Sachi polos.
"Bawa apa ya... Ga bawa apa-apa" canda Rama.
"Bawa coklat ya Yah ..." pinta Sachi.
"Nanti Papa Haidar marah kalo Sachi dibawain coklat, katanya Sachi malas gosok gigi" kata Rama.
"Sikat gigi.... nih liat gigi Sachi .. bersih kan" kata Sachi sewot sambil liatin giginya.
Haidar dan Rama hanya bisa ketawa.
"Oke deh sayang.... tidur dulu ya... Ayah mau siap-siap beresin kamar Ayah dulu.. assalamualaikum" pamit Rama.
"Waalaikumussalam .. i love you Ayah" jawab Sachi.
"I love you too Sachi .." kata Rama.
Haidar mengambil HP nya dari tangan Sachi. Kemudian Sachi tiduran kembali.
"Papa Haidar ... Ayah besok mau pulang, Ayah naik pesawat ya?" kata Sachi.
"Iya .. Ayah Rama naik pesawat" jawab Haidar.
"Ayah bawa Mama ga?" tanya Sachi lagi.
"Emang Ayah Rama bilang mau bawa Mama?" tanya Haidar balik bertanya.
"Ngga .. kan Ayah Rama bilang kalo Mama ada diatas langit sana. Pesawat kan ada dilangit, kenapa Ayah Rama ga ajak Mama naik pesawat juga?" tanya Sachi yang mulai banyak bertanya tentang Mamanya.
"Nanti Ayah Rama aja yang jawab ya, Papa Haidar mau tidur dulu .. ngantuk" jawab Haidar yang buru-buru mengalihkan arah pembicaraan Sachi.
Haidar meminta pengasuhnya Sachi untuk menemani Sachi tidur.
🍒
Izza dan Mba Gita sudah bersiap akan berangkat ke Kantor Pak Isam. Izza yang menyetir mobil (Mba Gita benar-benar mendidik Izza jadi wanita independen seperti dirinya yang tidak bergantung pada orang, jadi semua harus bisa dilakukan oleh Izza).
"Kerja yang rajin dan tekun ya Za... kamu kan bawa nama baik Mba juga" wanti-wanti Mba Gita.
"Siap Mba... mohon bimbingannya ya. Ini kan kali pertama Izza kerja" jawab Izza.
"Pak Isam itu bisa dibilang Boss yang unik, moodnya gampang naik turun, bahasanya pun terkadang nyelekit dihati. Bersabarlah ... kelak kamu juga akan masuk ke dunia kerja yang akan banyak intrik dan karakter manusia didalamnya" nasehat Mba Gita.
"Ya Mba" jawab Izza singkat.
"Kamu sudah ke makam keluarga kamu?" tanya Mba Gita lagi.
"Sudah kemarin abis pulang kuliah" jawab Izza.
"Mba heran deh, setiap apapun yang akan kamu lakukan pasti pergi ke makam. Kamu yakin orang tua kamu mendengar seluruh ocehan kamu?" tanya Mba Gita.
"Entahlah, yang jelas Izza hanya mendo'akan semua keluarga aja. Kalo Izza udah ngomong di makam kok rasanya seperti sedang ngobrol sama keluarga aja. Saat ini kan bisanya hanya melihat makam dan menangis, ga bisa berpelukan dengan mereka, Izza pun sadar hingga sebesar sekarang ini semua itu berkat keluarga. Mereka lah yang selalu menenangkan kita saat sedang menangis, yang membanting tulang mencari rezeki untuk sekolah dan hidup kita. Cinta yang mereka tanam bukanlah cinta yang seumur jagung Mba... abadi disini" ucap Izza sambil menunjuk dadanya.
"Sebegitu besar arti keluarga buat kamu..." ucap Mba Gita rada sinis.
"Mereka memang sudah tiada.. tapi sudah terpupuk selamanya. Cinta luar biasa yang ga bisa dideskripsikan dengan kata. Walaupun kami sudah terpisah dengan alam yang berbeda, mereka semua tetap ada didekat Izza Mba.." kata Izza.
💐
Supir yang diminta menjemput Rama sudah standby di Bandara. Mang Ujang, supir kantor yang baru kerja dua bulan terakhir ini, jadi dia ga kenal sama Rama sama sekali.
Mba Gita sudah memberikan foto Rama dan tulisan lengkap nama Rama dikertas karton ke Mang Ujang agar ga bingung mengenali Rama nantinya. Rama pun sudah diinfo oleh Mba Gita kalo akan dijemput oleh Mang Ujang, fotonya pun sudah dikirim ke Rama.
Jiwa iseng Rama muncul begitu ia melihat ada papan namanya dipegang oleh seorang laki-laki kurus tinggi yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahunan.
Rama menghampiri Mang Ujang.
"Are you Mr. Ujang? (Apakah anda Pak Ujang)" tanya Rama dalam bahasa Inggris.
Penampilan Rama memang muka Indonesia, tapi rambutnya dicat agak marun kecoklatan.
"Ini orang ngomong apa sih ya?" jawab Mang Ujang sambil garuk kepala.
Rama yang melihat kebingungan Mang Ujang malah tersenyum.
"Why do you scratch your head (ngapain kamu garuk kepala)" kata Rama sambil menahan ketawa.
"Sorry mister ... no no..." jawab Mang Ujang sekenanya.
"No? why?" tanya Rama lagi.
Mang Ujang melihat dengan seksama wajah Rama, kemudian dia melihat ke HP nya.
"Ini Mas Rama ya? ini mister yang namanya dikarton ini bukan?" tanya Mang Ujang lugu.
Memang penampilan Rama beda sama foto yang diberikan Mba Gita. Penampilannya nyentrik dengan sepatu boot dan celana jeans ditambah jaket kulit. Seperti para Koboy hanya ga pake topinya aja. Kulitnya pun lebih bersih dibandingkan saat baru berangkat ke Inggris. Karena disana ga banyak main diluar ruangan, jadi ga banyak terpapar sinar ultraviolet. Sekilas kaya orang bule. Ditambah dia memakai soft lens berwarna biru. Logatnya pun udah kebule-bulean.
"You were to pick me up? ( kamu yang menjemput saya)" tanya Rama lagi.
"Pik? no mister ... no Pik ... ke Kemang .. no Pantai Indah Kapuk" jawab Mang Ujang yang bingung.
Rama akhirnya tertawa kecil, ga tahan melihat lucunya Mang Ujang beserta mimik bingungnya.
Karena Mang Ujang udah ga tau harus gimana lagi, akhirnya berinisiatif menelpon Mba Gita.
"Tadi Mas Rama bilang udah di pintu keluar kok, saya udah kirim gambar Mang Ujang hari ini ke Mas Rama" kata Mba Gita.
"Beneran Mba .. ini ada lelaki yang wajahnya mirip, tapi ngomongnya kaya orang bule, ga ngerti dia bilang apa" jawab Mang Ujang dengan logat Sundanya yang masih kental.
"Coba Mang pakai video call, biar saya liat lelaki itu" pinta Mba Gita.
Mang Ujang mengikuti arahan Mba Gita, kamera HP diarahkan ke Rama. Rama melambaikan tangannya kearah kamera HP.
"Ini orang disorot malah demen, dikira dia artis kali ya" gumam Mang Ujang.
"Coba kasih HP ini ke lelaki itu Mang Ujang, saya mau ngomong" kata Mba Gita.
"Just kidding Mba Gita... how are you?" kata Rama sambil tertawa.
"You can joke now (bisa becanda sekarang)" sahut Mba Gita.
"Everything must change (semua harus berubah)" jawab Rama dengan santai kemudian menyerahkan HP ke Mang Ujang.
"Jadi benar ini Mas Rama? atuh dari tadi bisa bahasa Indonesia segala ngomong Inggris" kata Mang Ujang.
Rama cuma ketawa, dia menarik satu kopernya dan menggendong tas punggung yang terlihat berat. Mang Ujang sudah membawa troli khawatir banyak barang yang dibawa sama Rama.
"Atuh Mas, tas nya yang lain mana?" tanya Mang Ujang dengan logat Sundanya.
"Lah ieu .. (lah ini)" jawab Rama sambil menunjuk barang bawaannya.
"Tiasa basa Sunda?" tanya Mang Ujang kaget.
"Saya cuma bisa saeutik (sedikit) kita pulang yuk, udah cape banget nih" ajak Rama.
Penerbangan dengan total dua puluh jam (transit satu kali), membuat tubuhnya Rama terasa kaku harus duduk dalam waktu lama.
Maklum dia memakai penerbangan kelas ekonomi jadi jarak antar bangkunya ga seluas kelas eksekutif. Didalam mobil ia masuk ke bangku tengah dan langsung selonjoran dan tidur. Untunglah Mang Ujang sudah dikasih alamat rumah Pak Isam sama Mba Gita, jadinya ga mengganggu tidurnya Rama.
.
Jalanan ramai tapi lancar, jadi dalam waktu ga sampe satu jam sudah hampir mendekati arah jalan ke rumah Pak Isam.
"Mang.. udah deket rumah belum?" tanya Rama yang membuat kaget Mang Ujang yang lagi fokus nyetir.
"Astaghfirullah.. jurig sia maneh.. bangun-bangun makan nasi pake daging ayam" jawab Mang Ujang sambil mengusap dadanya karena kaget
"Hahaha... sagala aya jurig Mang... Jadi mau makan daging atau ayam nih?" canda Rama.
"Ga Mas.. saya kalo kaget kadang spontan latah jadinya" jawab Mang Ujang.
"Uhuy dong" lanjut Rama menggoda.
"Ya ampun itu acara jadul jaman Komeng, emang Mas Rama udah lahir pas spontan ada?" tanya Mang Ujang penasaran.
"Belum... tapi kan sekarang udah ada UTube, semua bisa lihat dari situ untuk acara jaman jadul" jawab Rama sambil ngucek matanya.
"Anu di UTube bisa liat apa aja ?" tanya mang Ujang meyakinkan.
"Ya bisa apa aja" jawab Rama singkat.
"Berarti bisa nonton panggung hiburan di Kampung saya ya Mas?" kata Mang Ujang penuh antusias.
"Emang hiburannya panggil artis ibukota?" tanya Rama balik.
"Bukan.. ini mah Neng Lilis anu tenar sajagad Kampung saya Mas. Tiap manggung dihajatan mah udah pasti ditunggu orang" jelas Mang Ujang.
"Ya kalo ada yang upload ke UTube sih mungkin ada ya, kalo ga ada yang upload otomatis ga bisa ditonton, kecuali artis ibukota yang udah pasti diliput media atau mereka punya vlog sendiri dari pihak manajemennya" jelas Rama.
"Vlog? Naon eta Mas?" tanya Mang Ujang yang memang masih belum melek sama perkembangan dunia digital.
"Panjang deh jelasinnya. Sekarang gini aja.. kita cari tukang bakso dulu.. biar seger nih mata" pinta Rama.
"Emang bakso bisa nyegerin mata Mas? gimana caranya? ditetes ke mata gitu kuahnya? Ari di tukang bakso apa jual vlog juga? jadi penasaran rasanya vlog kaya apa" ujar Mang Ujang polos.
Rama lagi males nyautin lagi, kepalanya pusing karena tadi di pesawat sempat mengalami turbulensi.
"Mas...kita jadi cari bakso?" tanya Mang Ujang meyakinkan.
"Ya..." jawab Raffa singkat
Rama dan Mang Ujang menikmati makan bakso dipinggir jalan, satu blok sebelah blok rumah Pak Isam.
"Ya Allah.... lupa... saya kan ga punya rupiah" kata Rama sambil nepok jidatnya.
"Haduh Mas Boss, mana udah abis ini baksonya, kenapa baru ingat" kata Mang Ujang.
"Tadi dikasih uang bensin kan sama Mba Gita? Pake dulu aja, besok saya bayar ke Mba Gita" ide Rama.
"Ada nih Mas... sisa tujuh puluh lima ribu" kata Mang Ujang sambil ngeluarin uang di kantong kemejanya.
"Saya pinjam gocap aja. Jigonya buat Mang Ujang beli rujak" kata Rama santai.
"Gocap? Jigo?" tanya Mang Ujang bingung.
"Udah lama belum sih di Jakarta? emang Mang Ujang dari goa mana sih, kaya UTube, vlog, gocap, jigo aja ga tau" kata Rama heran.
"Mang kan kalo di kampung mah sibuk di sawah. Ini baru hari pertama ketemu Mas Boss begini amat ya, orangnya ga ada serius-seriusnya, itu beneran kuliah atau wisata aja ya di Inggris? Beda banget sama Pak Isam dan Mas Haidar" kata Mang Ujang blak-blakan.
"Jangan bingung gitu Mang, ya beginilah saya" jawab Rama.
Mang Ujang cuma bisa liatin anak Big Boss yang gayanya secuek ini, ga ada jaim-jaimnya makan dipinggir jalan.
"Jangan bengong... lagi mikirin Ceu Lilis artis hajatan itu ya?" canda Rama.
"Ga Mas Boss..." sanggah Mang Ujang.
"Yuk udahan ... kita pulang, saya kangen sama anak nih" ujar Rama sambil berjalan kearah tukang bakso.
"Punya anak?" tanya Mang Ujang dalam hatinya.
❤️
Pagar pintu terbuka, Sachi sudah menunggu Rama diteras depan pintu masuk rumah.
"Ayah.... Ayah...." teriak Sachi sambil melompat kegirangan.
Rama segera turun dari mobil dan berlari kearah putri cantiknya.
"Assalamualaikum Sachi" sapa Rama sambil langsung memeluk Sachi.
"Waalaikumssalam Ayah" jawab Sachi sambil mencium tangan Rama.
Keduanya saling mencium pipi berkali-kali tanda melepaskan kangen.
Mang Ujang nurunin tas milik Rama. Dalam hatinya terus bertanya-tanya, anak semuda Rama sudah punya anak sebesar Sachi. Bayangan negatif tentang Ramaa terbayang dipikiran Mang Ujang.
"Jangan-jangan Mas Rama ini pergi ke Inggris biar ga ketauan punya anak. Tapi siapa Ibunya ya? kayanya beberapa kali kesini ga ada perempuan selain pengasuh dan asisten rumah tangga. Apa salah pergaulan kali ya.. ah bodo amatlah biar jadi urusan dia" kata Mang Ujang bicara sendiri.
"Mang... makasih udah antar ya, besok pagi bisa jemput saya ga?" tanya Rama sambil menggendong Sachi.
"Mau kemana Mas Boss?" kata Mang Ujang.
"Ke kantorlah" jawab Rama.
"Siap Mas Boss... jam berapa ya?" lanjut Mang Ujang.
"Jam enam pagi. Oh ya, saya ga suka orang yang ga ontime. Jadi sebelum jam enam pagi udah disini" kata Rama sambil bergegas masuk.
"Hadeuh, ini Boss kecil kok lebih ngatur dibanding Boss besar ya... lagian mau jalan jam enam tuh mau ngapain di Kantor, mau bantu ngepel?" rutuk Mang Ujang.
.
Rama tidur bersama Sachi di kamarnya. Haidar yang baru pulang sekitar jam sebelas malam hanya melihat dari pintu kemudian kembali ke kamarnya. Rama tau kehadiran kakaknya tapi ia lebih baik pura-pura tidur.