HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 58, Like Tom and Jerry



"Za... sebelum masuk panti asuhan, kehidupan kamu seperti apa?" tanya Pak Isam.


"Standar seperti keluarga lainnya Pak" jawab Izza.


"Maaf .. kamu kenal kan sama orang tua kandung?" tanya Pak Isam lagi.


"Dari saya lahir hingga kebakaran merenggut nyawa orang tua saya, ya selalu bersama mereka. Kecuali kalo Ayah dinas dari perusahaan, baru deh kita ga ketemu" jawab Izza.


"Wajah kamu ini makin dipandang kok mengingatkan saya sama kawan lama. Pas baru-barunya saya di Jakarta. Komplek saya bersebelahan dengan lingkungan non komplek. Jadinya kalo main pingpong suka gabung di lapangan warga. Saya dulu punya lawan tanding yang ga pernah terkalahkan, usianya lebih muda dari saya tujuh tahun. Wajah istrinya mirip banget sama kamu. Setahun kemudian saya pindah ke rumah yang sekarang dan dia pun pindah ke kota lain, pindah kerja katanya, kami lost contact karena nomer HP dia sudah tidak bisa dihubungi lagi. Istrinya itu pintar masak. Padahal makanan rumahan tapi sedap banget. Maminya Rama malah tiap weekend suka pesan minta dimasakin" cerita Pak Isam.


"Semoga Bapak bisa bertemu kawan lama Bapak lagi" do'a Izza.


"Aamiin... " jawab Pak Isam.


🏵️


"Papa Haidar punya nomer HP Aunty Izza?" tanya Sachi.


"Ga punya" jawab Haidar.


"Kenapa ga punya? memang Papa Haidar ga kenal sama Aunty Izza?" tanya Sachi.


"Ngga" jawab Haidar.


"Tanya Ayah aja nomernya Aunty Izza, jadi kita bisa jalan sama Aunty Izza" saran Sachi.


"Aunty Izza mungkin istirahat, sekarang kan hari libur" jawab Haidar.


Haidar dan Sachi memang pergi berdua, tapi sepanjang waktu selalu menanyakan tentang Rama dan Izza.


"Tidak best kalo ga ada Aunty Izza" keluh Sachi.


"Kan ada Papa ... lagipula Sachi bebas mau pilih apa aja boleh" jawab Haidar.


"Aunty Izza itu baik, cantik dan mau main sama Sachi" kata Sachi lagi.


"Sachi mau punya Ibu kaya Aunty Izza?" tanya Haidar.


"Mau ... mau ... " jawab Sachi antusias.


Haidar hanya tersenyum melihat sang putri tersenyum bahagia.


"Nay ... senyumnya seperti senyummu. Jika Mas ga bisa mengubah status sebagai anak kandung, Mas akan usahakan untuk mengadopsi dia secara hukum. Syarat menikah untuk adopsi akan segera Mas usahakan. Mas janji Nay" kata Haidar dalam hatinya.


🏵️


Mang Ujang balik bareng supir kantor ke Jakarta. Ga lupa dia mampir dulu beli oleh-oleh untuk Mas Boss tercinta. Setiap Rama main ke rumahnya, suka banget sama makanan daerah yang disediakan oleh Ambu. Mang Ujang cukup tau diri, udah semuanya dikasih gratis, masa sekedar buah tangan aja ga bawain untuk Rama sekeluarga.


🏵️


"Kamu duduk didepan ya Za" pinta Pak Isam saat akan masuk mobil.


Rama melihat kearah Pak Isam dengan wajah yang ga suka, Pak Isam cuma senyum-senyum aja kearah Rama.


Izza mengikuti arahan dari Pak Isam. Begitu mau pasang seat belt, dia mengalami kesulitan. Rama yang melihat langsung membantu memasangkan tanpa diminta.


"Makasih" jawab Izza.


"Jangan beranggapan saya gercep karena ambil kesempatan ya, cuma males denger indikator seat belt yang bunyi terus kalo belum terpasang" kata Rama datar.


"Ramaaa ... jadi laki-laki kok jutek gitu, pantesan Papi belum pernah dikenalin sama pacarnya, ya mana ada yang mau kalo kamu ga bisa memperlakukan wanita dengan baik" tegur Pak Isam.


"Apa sih Pi ... santai aja, nanti pada saatnya juga akan dikenalin" kata Rama.


"Oh jadi udah ada nih?" ledek Pak Isam.


"Ada ga yaaa...." jawab Rama penuh tanda tanya.


"Alhamdulillah anak Papi ada yang mau" kata Pak Isam.


"Wah Papiii ... anak Papi ini termasuk lelaki yang most wanted. Tampang ga malu-maluin kalo diajak kondangan, pekerjaan Alhamdulillah menuju mapan ... siapa yang bisa menolak?" puji Rama ke dirinya sendiri.


"Iya deh yang most wanted. Atau jangan-jangan kamu martabak kali ya?" goda Pak Isam.


"Martabak? maksudnya apa Pi?" tanya Rama ga paham.


"Martabak ... manis dan ramah tapi ga nembak-nembak" jawab Pak Isam sambil tertawa.


Izza menahan tawanya mendengar Pak Isam bisa becanda seperti itu. Rama ga suka ditertawakan.


"Papi jangan kebanyakan main catur sama Mang Ujang, jadinya kaya gini nih" kata Rama.


"Hei ... take it easy lah. Jangan serius banget jadi orang, yang diseriusin itu hubungan" tambah Pak Isam.


"Ayo apalagi ledekannya? sampe Papi puas deh godain anak bungsunya ini" sahut Rama.


Weekend ditambah awal bulan adalah perpaduan jalan jadi macet.


"Siang-siang kok macet" keluh Rama.


"Kan aturan ganjil genap mulai diterapkan, untung kita pakai mobil yang platnya pas ya sama tanggal ganjil" jawab Pak Isam.


"Kalo diterapkan agak repot juga nih .. mobil Rama kan platnya genap" kata Rama.


"Kamu kaya punya mobil satu aja. Mobil Papi bisa dipakai, ada yang plat ganjil dan ada yang genap" tawar Pak Isam.


Pak Isam menelpon Mba Gita, memberitahukan kalo Izza bersamanya menuju pulang ke rumah tapi kondisi jalanan macet, jadi kemungkinan sore baru sampai ke rumah Mba Gita. Tentu aja Mba Gita ga bisa menjawab tidak ke Pak Isam.


"Za ... kalo kamu cari kerjaan, coba ke Haidar, kakaknya Rama. Dia kan lagi buka beberapa toko frozen food di perumahan, siapa tau dia butuh karyawan" tawar Pak Isam.


"Terima kasih sebelumnya, tapi saya tidak bisa fulltime, jadi belum pas kalo melamar pekerjaan yang mencari karyawan yang harus standby. Butik yang tadi saya interview itu bisa juga dikerjakan secara online jika saya sedang ga bisa datang secara langsung" jelas Izza.


"Oh gitu ... ya udah, pokoknya kalau kamu butuh pekerjaan, hubungi Haidar aja" kata Pak Isam.


"Baik Pak" jawab Izza.


"Kenapa harus kerja sih? emang ga bisa kamu fokus aja kuliah, ambil D3 kan? bukannya sudah semester akhir? harusnya fokus dong biar lulus tepat waktu" timpal Rama.


"Saya kan juga butuh uang Kak" jawab Izza.


"Semua orang butuh uang, tapi kan ada skala prioritas dalam hidup. Semua biaya kuliah dan hidup kan udah Mba Gita tanggung, mau buat apa lagi uangnya? jangan bilang buat hura-hura ya" kata Rama.


"Nggak Kak, saya itu masih punya saudara, memang sejak kebakaran terjadi seperti lost contact dengan semuanya. Tujuan kumpulin uang mau pulang kampung, menjalin kembali silaturahim yang terputus. Keluarga di kampung ga tau kalo kami kena musibah, jadinya ga ada yang nyariin saya. Ditambah kehidupan disana juga serba pas-pasan, mungkin ga ada biaya buat mencari saya" jawab Izza dengan jujur.


Rama langsung diam ga enak hati mendengar pemaparan dari Izza.


"Kamu ga bilang ke Gita kalau mau cari saudara?" tanya Pak Isam.


"Ga enak Pak... Mba Gita sudah sangat baik sama saya. Nanti kalo uang sudah cukup baru saya bilang ke Mba Gita untuk balik kampung dulu mencari saudara" jelas Izza.


"Ga coba cari pake media sosial?" tanya Rama.


"Sepertinya mereka tidak ada. Anak-anaknya pun saya ga kenal nama lengkapnya" jawab Izza.


"Tapi kan ada fotonya" ujar Rama.


"Saya udah coba telusuri semua tapi fotonya ga saya kenal" ucap Izza.


"Maaf ya.. " ucap Rama lembut.


"Gapapa Kak .. tapi sebaiknya jangan underestimate dulu terhadap sesuatu. Saya juga berusaha lulus tepat waktu kok. Ada sederet hal yang harus segera saya capai, salah satunya bisa mandiri cari uang dan ga bergantung ke Mba Gita lagi" telak Izza kembali memukul Rama dengan kata-kata.


"Ga perlu minta maaf sampai begitu Kak, saya cuma sedikit kasih masukan. Mau didengarkan ya silahkan, ga didengar juga gapapa. Ga ada pengaruhnya terhadap hidup saya" ujar Izza.


"Kamu siapa nasehatin saya? lebih tua? lebih bijak? lebih banyak pengalaman?" ucap Rama sarkas.


"Rama .. kamu harusnya lebih punya perasaan sama orang lain. Menasehati itu bukan milik orang yang lebih tua, lebih bijak atau orang yang banyak pengalaman. Selagi untuk kebaikan ya ga ada masalah keluar dari bibir siapa" tengah Pak Isam.


Rama ga menjawab ucapan Pak Isam, sudah hilang selera untuk berbincang. Dia hanya fokus ke jalanan biar cepat sampai ke rumah Mba Gita.


Jalan mulai berjalan lancar, HP nya Rama berdering. Ada video call dari Haidar. Rama memasang HP nya di holder depan pojok kaca mobil.


"Assalamualaikum Ayah...." kata Sachi.


"Waalaikumsalam ... anak Ayah masih di Mall ya .. wah lama nih mainnya" jawab Rama.


"Aunty Izza .... Aunty Izza" panggil Sachi begitu melihat penampakan Izza disampingnya Rama.


HP digeser agak menghadap Izza.


"Hai Sachi .. lagi dimana?" sapa Izza.


"Kok Aunty ga pergi sama Sachi malah sama Ayah?" rengek Sachi.


"Ga sengaja ketemu sama Ayahnya Sachi, ada Opa juga kok disini" jawab Izza.


"Kok Sachi ga diajak?" kata Sachi ngambek.


"Nanti ya lain waktu" ucap Izza.


"Lain waktu apa ya Pa?" tanya Sachi ke Haidar.


"Kapan-kapan" jawab Haidar.


"Kapan-kapan itu hari apa?" tanya Sachi lagi.


"Sachi ... Aunty Izza ini kan harus kuliah, terus bersih-bersih rumah, masak .. jadinya belum bisa jalan sama kamu" potong Rama.


"Aunty Izza kok sama kaya Mba di rumah Opa kerjanya?" ujar Sachi dengan polos.


"Sama bagaimana ya?" tanya Izza ga paham.


"Nyuci, masak, bersih-bersih.." jelas Sachi.


"Ohh... iya sama ya ..." jawab Izza.


"Sachi telpon Ayah kenapa?" potong Rama sambil mengarahkan HPnya ke dia lagi.


"I Miss you so much Ayah" kata Sachi dengan wajah sedih.


"Me too .. nanti setelah antar Aunty Izza pulang, Ayah langsung pulang ke rumah ya. Kamu juga pulang ya sayang" ucap Rama dengan lembut.


"Iya Ayah ... I love you from the bottom of my heart (Aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam)" ucap Sachi.


"I love you to the moon and back (Aku sangat mencintaimu)" jawab Rama.


Setelah sambungan video call terputus..


"Siapa yang ajarin Sachi ngomong begitu?" tanya Pak Isam heran.


"Ayahnya dong" jawab Rama bangga.


"Anak kecil diajarin kalimat begitu, itu mah buat orang dewasa" protes Pak Isam.


"Kalo i love you itu mah pasaran Pi .. ya biar beda aja" jawab Rama.


.


Setelah mengantar Izza pulang, Rama langsung bergegas pulang setelah pamitan sama Mba Gita.


"Kamu ngapain aja sama Pak Isam dan Mas Rama?" selidik Mba Gita.


"Cuma makan Mba .. karena macet aja jadi pulang sore" jawab Izza.


"Bener nih ga mampir kemana-mana?" tanya Mba Gita lagi.


"Ngga Mba .. beneran deh, tanya aja sama Kak Rama kalo ga percaya" ucap Izza.


🏵️


Selepas makan malam, Mang Ujang yang udah sampe dari tadi sore, diajak main catur sama Pak Isam. Rama becanda sama Sachi ga jauh dari tempat Mang Ujang dan Pak Isam main catur.


"Jang .. ada ya anak muda jaman sekarang, mana tampang oke, kerjaan mapan, wawasan lumayan ... tapi belum berani nunjukin pacarnya ke orang tua" kata Pak Isam.


"Masa sih Boss Papi? saya aja yang kaya gini berani ngenalin cewe ke orang tua" jawab Mang Ujang yang belum paham arah pembicaraan.


"Jadi kamu udah ada yang dikenalin ke orang tua?" tanya Pak Isam dengan intonasi yang agak ditekan.


"Nah itu masalahnya ... belum ada yang dikenalin. Tapi atuh kalo ada pasti saya kenalin, saya mah berani aja" jawab Mang Ujang.


"Kalian ternyata sama-sama masih jomblo ya aslinya? gayanya udah kaya playboy" ledek Pak Isam.


"Kalian? maksudnya saya sama siapa ya Boss Papi?" tanya Mang Ujang yang makin ga nyambung.


"Kamu sama Mas Bossnya lah" sahut Pak Isam.


"Oh jadi dari tadi ceritanya lagi nyindir Mas Boss toh ... paham ... paham. Emang Mas Boss ada yang mau dikenalin? kayanya semua cewe juga dideketin. Ada yang udah deket sama Ibunya, ada yang udah deket sama kakaknya, ada pula yang kenal baik sama Bapaknya" papar Mang Ujang.


"Woiiii.... itu kaya genteng kalo ujan gede ... bocorrrrr" teriak Rama.


"Selow dong Mas Boss ... ga usah ngegas. Emang kenyataannya semua mau diembat, jangan serakah Mas Boss .. bagi satu ke saya dong" sahut Mang Ujang.


"Ga ada yang cocok sama Mang Ujang" kata Rama.


"Masalah cocok ga cocok mah urusan belakangan, dijalanin dulu aja Mas Boss.. sambil nyari kecocokan" jawab Mang Ujang.


Sachi tertidur di ruang keluarga dalam dekapan Rama. Haidar membantu memindahkan Sachi ke kamar. Rama mendekati Papinya yang masih tampak serius memikirkan langkah selanjutnya buat main catur.


"Bawa makanan nih .. kok ga bilang-bilang" ujar Rama.


"Bawa sedikit Mas Boss... maklumlah di kampung kalo udah ketemu teman pasti foya-foya.. hehehe" jawab Mang Ujang.


Rama duduk ditengah dan mengambil bungkusan opak. Cemilan opak di Tasikmalaya beda sama daerah lain. Terbuat dari beras ketan dan tepung tapioka yang dibumbui dengan gula serta garam sebagai penyedap rasa. Adonan opak yang sudah dibumbui, kemudian dibentuk bulat pipih, selanjutnya dibiarkan mengering dan barulah dipanggang diatas tungku hingga mengembang dan renyah. Karena proses pembuatannya dipanggang, bagian luar opak tampak coklat hingga hampir gosong.


"Ini apaan Mang? belum pernah liat... daun apa sih ini?" tanya Rama sambil memperhatikan makanan yang dia pegang.


"Wajit ... itu dibungkus pake kulit jagung yang kering" jawab Mang Ujang.


"Wajit? kok kaya percampuran antara dodol sama wajik?" ucap Rama.


"Mirip-mirip sedikit lah Mas Boss. Ini dibuat dari ketan dicampur dengan kelapa yang sudah dihaluskan dan dimasak bersama gula aren atau gula merah. Kalo adonan udah matang dibentuk kecil-kecil dan dibungkus pake kulit jagung. Habis dibungkus terus dijemur lagi, jadi kering dibagian luar tapi sangat lembut dibagian dalam. Rasanya ya manis" jelas Mang Ujang.


"Kalo ini apa Jang?" tanya Pak Isam.


"Citruk" jawab Mang Ujang.


"Apa tuh citruk?" tanya Pak Isam lagi.


"Citruk singkatan dari aci ngegetruk, yang artinya aci atau tepung kanji yang teksturnya agak keras tetapi renyah. Tepung kanji dikasih bumbu terus dibentuk kaya koin. Ini mah jajanan jadul, udah susah nyarinya sekarang. Jajanan awet ini bagi yang ga punya gigi, bisa diemut-**** .. hehehe" jawab Mang Ujang.