
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jalan belum ramai karena belum jam makan siang. Lagipula lewat jalan tol, jadi bisa mempersingkat waktu sampai ke kampusnya Izza.
Izza sudah tertidur dengan pulas. Bangku tengah sudah agak direbahkan sedikit agar enak buat tidur dan bagian kaki sudah dinaikkan. Kursi mobil bagian tengah memang terpisah, Izza sementara waktu memakai mobil milik Pak Isam (Pak Isam ada dua mobil). Untung ada bantal kecil milik Sachi, jadi kepala Izza bisa disanggah pakai bantal tersebut.
Rama awalnya sibuk berkoordinasi via sambungan telepon, tapi tetiba pandangannya tertuju pada Izza yang kepalanya miring menghadap Rama.
"Apa luka di kaki kamu akibat dari masa lalu?" tanya Rama dalam hatinya.
"Pak ... Pak Rama .. Pak..." panggil Farida disambungan telepon.
"Za .. siapa kamu? kenapa selalu menjadi sosok kuat saat dunia tak lagi ramah untuk kau tempati? begitu tenang tiap kita berbincang walau pada kenyataannya kita ga pernah bicara dalam suasana yang senang" lanjut Rama dalam hatinya.
"Pak Rama... masih nyambung kan ya? sinyalnya jelek atau ada masalah?" tanya Farida lagi.
Rama tersadar dari lamunannya setelah beberapa kali Farida kembali memanggil.
"Eh iya... sampai mana tadi?" tanya Rama.
"Bu Anin reschedule jadwal, beliau tidak mau berbincang dengan Ibu Izza dulu, menurut beliau ini harus dibicarakan berdua dengan Pak Rama sebagai awalan karena kepemilikan saham punya berdua. Selanjutnya nanti baru diteruskan oleh yang lain boleh" lapor Farida.
"Oke ... besok dijadwalkan aja, di HO ya, saya ga mau keluar kantor. Meeting nanti malam jadi kan ya?" ucap Rama.
"Jadi Pak.. sudah dibooking restorannya. Jadi calon pemakai jasa kita ini akan membuat villa dengan tambahan semacam kolam renang tepi pantai ala-ala beach club di Bali" lanjut Farida.
"Oke.. kamu nanti ga usah dampingin saya. Sudah ada manager marketing yang akan ikut, jadi beliau baru masuk kerja after lunch, tolong laporkan absensinya kepihak HRD ya" perintah Rama.
"Baik Pak" jawab Farida.
.
"Kamu pernah dapat lagi informasi tambahan tentang Izza?" tanya Rama ke Alex.
"Tidak ada Boss, semua dihentikan" jawab Alex.
"Saya ga pernah minta dihentikan, siapa yang bilang kaya gitu?" tanya Rama lagi.
"Inisiatif dari saya sendiri Boss" jawab Alex.
"Kenapa kamu berinisiatif seperti itu?" ucap Rama penasaran.
"Mba Izza sudah ada ditangan Boss kan? apalagi yang mau saya diselidiki? bukankah Boss bisa tanya langsung ke yang bersangkutan? malah lebih terpercaya ceritanya. Saya tau tipe Boss ini seperti apa, jadi kalo ga yakin, ga mungkin Boss akan menikahi Mba Izza. Walaupun cerita tentang Mba Izza ga lengkap, toh Boss sudah memutuskan untuk hidup bersamanya dan insyaa Allah akan menghabiskan sisa usia bersamanya" jelas Alex.
"Cari lagi informasi tentang dia" pinta Rama.
"Maaf sebelumnya Boss, selama ini saya tidak pernah membantah apa yang Boss perintahkan. Tapi kali ini saya minta dengan amat sangat Boss, jangan meminta saya untuk menyelidiki siapa Mba Izza lagi. Dia sudah seperti adik, mentor dan teman terbaik bagi saya, dia wanita baik-baik dan sangat baik sifatnya. Boss memang sudah memberikan segala kebutuhan yang saya butuhkan, tapi Mba Izza melengkapinya dengan perhatian dan kasih sayangnya. Dia mampu menyentuh hati saya untuk menjadi orang yang lebih baik. Saya belajar sholat dan ngaji sama dia. Sekarang masih ngapalin niat sholat, baca Alfatihah dan bacaan sholat lainnya, udah sebulan masih aja kebalik-balik. Tapi Mba Izza sabar banget ngajarin saya. Percayalah Boss.. Mba Izza wanita yang tepat buat Boss. Sekarang Boss hanya belum bisa menerima latar belakang keluarganya. Coba mengenalnya lagi lebih dalam. Jadikan dia selayaknya istri .. karena dia bukan korban yang layak mendapatkan rasa dendam Boss saja. Terserah Boss mau marah atau bilang saya ga kenal balas budi, cuma ini saja pengecualian yang saya minta. Apapun yang berkaitan dengan masa lalu Mba Izza, saya tutup mata" mohon Alex lagi.
Rama terdiam. Belum pernah dia melihat Alex semelow ini. Tampak sekali bagaimana Alex sangat melindungi Izza.
"Kamu ga suka kan sama dia?" tembak Rama.
"Lelaki mana yang ga suka sama semua yang ada pada dirinya. Tapi saya tau diri Boss, dia wanita pilihan Boss, ga mungkin saya bersaing sama Boss. Saya hanya menempatkan diri sebagai Kakaknya, ga lebih" ucap Alex.
"Tempatkan diri kamu juga menjadi bodyguardnya, artinya hanya menjaga, tidak lebih" ingat Rama.
"Siap Boss" jawab Alex.
💐
Seminggu berlalu, Pak Isam mengajak anak, cucu, mantu dan semua orang yang ada di rumah untuk sejenak melipir ke Tasikmalaya, Abah Ikin ada acara santunan anak yatim untuk warga sekitar. Jadi sekalian mengajak healing para asisten rumah tangga, karena mereka juga belum pernah nginep di Villa milik Pak Isam, makanya dipilihlah akan healing disana. Hanya security yang tidak ikut pergi karena menjaga rumah.
Rombongan keluarga Pak Isam membawa empat mobil. Berangkat Sabtu dinihari sekitar jam satu malam, agar bisa menghadiri acara ba'da dzuhur di Tasikmalaya.
Rama membawa mobilnya sendiri, bersama Izza, Sachi dan Pak Isam. Mang Ujang dan Mas Haidar semobil dengan beberapa asisten rumah tangga. Alex, Mba Nur dan beberapa asisten bareng satu mobil. Mobil terakhir ada supirnya Pak Isam dan supirnya Mas Haidar serta full paket sembako yang akan disumbangkan keacara santunan anak yatim. Dibeberapa mobil juga diletakkan paket sembako tapi jumlahnya sedikit. Tadinya mau minta asisten rumah tangga yang di Tasikmalaya menyiapkan, tapi sedang tidak bisa membantu karena sakit. Jadinya Izza yang kemarin mengurus pengemasan sembako. Selain itu Pak Isam, Mas Haidar dan Rama juga sudah menyiapkan amplop yang sudah diisi uang untuk dibagikan disana.
.
Acara berlangsung sangat meriah. Memang tiap ada acara di tempat Abah Ikin, semua undangan berlomba-lomba memberikan santunan terbaik mereka. Dari mulai tenda dan panggung serta sound system diberikan secara cuma-cuma. Makanan pun banyak orang-orang membawakan kedalam pesantren.
Jajaran buah-buahan dalam peti serta tumpukan kardus air mineral terlihat dibeberapa titik.
Sampai-sampai, tiap satu orang anak yatim, pulangnya harus diantar sama satu motor karena banyak bawaannya. Selain itu, satu anak yatim membawa pulang sepuluh amplop uang dari para undangannya Abah Ikin.
Abah Ikin memang tidak pernah mau mengkoordinir atau meminta sumbangan dari berbagai pihak jika ada acara, semua kembali dari kesadaran diri masing-masing untuk menyiapkan sedekah terbaiknya.
.
Sachi tidur dalam pangkuan Izza, karena memang dipisah tempat duduk antara tamu lelaki dan perempuan.
Sekarang masih acara ramah tamah, makan bersama dengan hidangan yang sudah disiapkan oleh keluarga Abah Ikin.
"Mba .. biar Sachinya saya pangku, Mba Izza ambil makan dulu" saran Mba Nur.
"Mba Nur duluan aja yang ambil makan. Nanti saya kan masih agak lama disini, kalo Mba Nur kan pulang dulu ke villa" ucap Izza.
"Gapapa nih Mba kalo saya duluan makan?" tanya Mba Nur meyakinkan.
"Ya gapapalah ... tolong ajak yang lain. Ga usah nunggu saya" kata Izza.
Mba Nur dan beberapa asisten rumah tangga Pak Isam menuju meja prasmanan khusus wanita. Makanan sederhana terhidang disana.
Rama tampak berbincang sama anak tertua Abah Ikin, ga tau apa yang mereka bicarakan, tapi Rama menunjuk kearah kolam ikan dan sawah yang ada disamping Pesantren.
Keluarga Pak Isam meninggalkan acara sekitar jam setengah tiga sore, hanya tinggal Rama dan Izza yang masih di tempat Abah Ikin. Mereka menunggu masuk waktu sholat Ashar.
.
Mereka duduk sambil menikmati es kelapa yang terhidang disana. Ketika sedang berbincang ngalor ngidul, mata terasa dipertontonkan adegan yang bikin jadi melek.
Ada dua sejoli yang lagi dimabuk kasih, akhirnya mereka menghampiri Rama dan Izza. Mereka saling tersenyum. Izza kaget melihat kehadiran Mas Haidar berdua sama Mba Rani, tapi buru-buru dia tersenyum.
"Jadi kapan nih sebar undangan? mau Rama duluan atau Mas duluan?" tanya Rama sambil becanda.
"Minggu depan kita ke rumah orangtuanya ... kalian berdua ikut ya" jawab Mas Haidar.
"Alhamdulillah... Siap Mas" ucap Rama semangat.
"Mba Gita gimana kabarnya Ram?" tanya Mas Haidar tiba-tiba.
"Jangan bahas disini" ucap Rama pelan.
"Mba Rani lagi ada apa disini?" tanya Izza untuk memecah suasana.
"Liburan" jawab Mba Rani singkat.
"Orang Tasikmalaya ya Mba?" tanya Izza.
"Bukan... kemarin ada tugas, hari ini free, kebetulan Mas Haidar kesini, ya udah sekalian aja ketemu. Kalo di Jakarta malah susah ketemu" jelas Mba Rani.
"Panggilnya enak banget... ini Ibu Polwan loh" sahut Rama.
"Santai aja... kan lagi ga berdinas" ucap Mba Rani.
"Mba Rani kalo pake jeans sama kaos gini lebih keliatan muda, oh ya kok ga datang pas kita nikahan" ujar Izza.
"Ga diundang sama Mas boss" canda Mba Rani.
"Kok ga diundang Kak?" kata Izza ke Rama.
"Mas Boss tau saya lagi sibuk diluar kota, gimana seminggu jadi istrinya Mas Boss?" pancing Mba Rani.
"Begitulah..." jawab Izza penuh arti.
"Banyak yang terpotek hatinya tuh pas tau Mas Boss nikah sama cewe yang juga diincer sekantor. Kebayang ga sih baik cewe sama cowonya sama-sama laris" goda Mba Rani.
"Masa sih Mba? masih berhubungan sama orang Kantor di Abrisam Group?" tukas Izza.
"Masih... Alhamdulillah mereka masih ada yang kasih kabar" ujar Mba Rani.
"Nikah luar biasa rasanya Mba, ayio cepetan" canda Ramaa sambil melirik kearah Izza.
"Woy... bisa santai ga lirikannya, bikin kita ngiri aja" ucap Mas Haidar.
"Jadi fix ya kita dolan ke Mampang?" tanya Rama memastikan.
"InsyaAllah" jawab Mas Haidar.
"Ada apa Kak ke Mampang?" tanya Izza belum paham.
"Inget ga pas kita lagi CFD kamu liat Mba Rani sama Mas Haidar di jalan? Saat itu mereka lagi masa penjajakan Za, nah sekarang kayanya udah ada kesepakatan karena minggu depan kita kenalan sama keluarga Mba Rani" jelas Rama.
"Mba Rani sama Mas Haidar?" ucap Izza.
"Ya Za... kami berencana menikah, ga mau kalah sama kamu dong. Biar Sachi juga merasakan hidup dikeluarga utuh. Selama ini di rumah hanya ada sosok lelaki. Sebenarnya kami udah mulai dekat sejak saya di Abrisam Group, tapi masih banyak yang perlu dibicarakan, maklumlah Za, status dan pekerjaan kami yang berbeda" papar Mba Rani.
"Kebetulan lagi ke Pesantren ini, ya udah nanti sekalian mau ngomong ke Papi" jelas Mas Haidar.
"Mba Rani sebelumnya kenal sama Kak Rama ya? kayanya akrab banget" ujar Izza.
"Jangan cemburu Za .." ledek Mba Rani.
"Bukan cemburu Mba... tapi memang kalo diperhatikan dari dulu ya akrab" kata Izza.
"Saya ketemu pertama kali di Bandara, saat akan berangkat kuliah, di Bandara sempat ada adegan pengejaran gembong narkoba, nah saya ikut ngejar tuh karena posisi saya yang dekat tersangka. Karena pesawat saya delay sempat tukeran nomer HP sama Mba Rani. Awalnya saling sapa. Sampailah saya punya ide, pihak kepolisian harus punya basecamp dalam tanpa kutip, didekat Bandara. Jadilah dibuat di Abrisam Group, jauh memang dari Bandara, tapi strategis buat mengawasi banyak hal, ditambah ya ada salah satu jaringan di Abrisam Group" cerita Rama.
"Kalo semua warga negara kaya Mas boss ini, kami aparat akan sangat terbantu. Selain kasih kita tempat buat mantau, dia juga ga segan-segan kasih tau kalo ada info apapun tentang peredaran narkoba. Termasuk Mba Gita... maaf ya Za" kata Mba Rani ga enak hati.
"Gapapa Mba Rani... saya paham kok, pakai obat terlarang kan memang harus bersangkutan sama hukum, apalagi jadi jaringannya pengedar" ucap Izza.
"Termasuk penangkapan Boy, salah satu jaringannya Mba Gita, itu berkat info Mas Boss kita ini. Dia dapat paket foto dari Boy, otaknya Mas Boss memang cemerlang, dari resi dia tau kalo asal pengiriman dari Batam. Kita telusuri dan isinya ganja siap diselundupkan ke Singapura. Makanya saya ga bisa hadir dinikahan kalian tuh karena ikut penangkapan Boy. Mba ikut bahagia akhirnya kalian nikah juga. Dari awal liat kalian berdua tuh kaya udah ada chemistry, pokoknya cocok banget deh" jelas Mba Rani.
"Bisa aja Mba Rani" kata Izza malu.
"Beneran deh, saya juga tau kok kalo Mas Boss udah jatuh tapi ga sakit" goda Mba Rani.
"Jatuh ga sakit apa ya Mba maksudnya?" tanya Izza polos.
"Jatuh cinta... hahaha" jawab Mba Rani.
"Jadi sekarang kerjasama disini ya Mba?" tanya Rama.
"Ya.. Alhamdulillah.. sarannya oke nih Pak Rama.. memang pendekatan agama sangat dibutuhkan untuk para pecandu. Tapi ya resikonya juga tinggi, makanya ga bisa banyak rehabilitasi disini, sebulan dua orang saja, itu pun yang belum parah aja kecanduannya" jelas Mba Rani.
"Alhamdulillah.. semoga lancar dan makin banyak yang bisa lepas dari jeratan barang haram itu" ucap Rama.
"Aamiin ya rabbal'alamin.. " jawab Mba Rani.
Mereka berempat melanjutkan obrolan hingga terdengar adzan sholat ashar. Ikut sholat berjama'ah di lingkungan Pesantren kemudian menuju villa milik Pak Isam untuk makan malam bersama, karena malam ini Mba Rani dan anggotanya akan kembali ke Jakarta.