HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Draft 155, Move on



Rama masih muter-muter di jalanan Jakarta untuk quality time sama Izza. Saat di jalan, Izza melihat ada penjual pukis yang tampak menul-menul menggoda untuk dibeli.


Rama menepikan mobilnya, Izza dan Rama turun untuk membeli. Ketika sedang antri, Rama melihat ada Mba Nur dan Alex tengah berdiri diseberang mereka. Buru-buru Rama menelpon Alex.


"Assalamu'alaikum Boss.. ada apa ya telpon jam segini?" tanya Alex.


"Waalaikumsalam.. lagi dimana?" tanya balik Rama.


"Masih di jalan Boss... ga bawa kendaraan jadi naik angkutan umum" jawab Alex.


"Ajak perempuan kok sampe malam, udah jam sembilan ini, ga baik" ucap Rama.


"Tadi kami naik kereta Boss, eh ada gangguan sinyal, kami turun dan cari taksi online, tapi ga dapat karena memang banyak juga yang butuh taksi online. Akhirnya naik bus, eh malah bingung karena salah ambil jurusan, secara saya sama Mba Nur kan ga pernah naik kendaraan umum, akhirnya kami turun dan sekarang lagi coba cari taksi online buat pulang" jelas Alex.


"Cancel aja orderannya kalo belum dapat, sekarang kamu nyebrang, saya ada diseberang nih, di tukang pukis.. liat ga?" kata Rama sambil melambaikan tangannya.


"Siap Boss" jawab Alex yang melihat sosok Rama dari kejauhan.


.


Alex yang gantian mengemudikan mobil, Rama dan Izza pindah ke bangku belakang.


"Borong nih Mba Nur?" goda Izza.


"Buat keperluan seserahan sama acara lamaran Mba, di Tanah Abang kan murah-murah jadinya dapat banyak" jawab Mba Nur merendah.


"Semua yang dibutuhkan sudah lengkap?" tanya Rama.


"Alhamdulillah sudah Mas .. terima kasih sudah disponsori.. hehehe" sahut Mba Nur.


"Tau Mba Nur mau kesana, saya mau titip daster potongan buat di rumah" kata Izza.


"Tenang Mba.. sudah saya belikan, kan saya tau Mba Izza suka pakai yang atasan dan bawahan panjang kalo lagi di rumah. Kebetulan tadi saya liat motifnya bagus, cocok sama Mba Izza deh" lapor Mba Nur.


"Pake daster kalo di rumah? kan udah dibilang saya ga suka liat wanita pakai daster" kata Rama.


"Ini bukan daster yang terusan gitu Kak.. atasan dan bawahan terpisah. Adem tau pake begitu, kan setiap ke Surabaya juga beli, memangnya Kakak ga liat?" tanya Izza.


"Jadi kalo Kakak ada di rumah kamu ga pakai itu biar ga ketahuan?" selidik Rama.


"Ya begitulah kiranya.. hehehe. Lagian aneh deh, masa di rumah malah diminta pake training, udah kaya mau olahraga. Kakak kenapa sih seneng banget liat Izza pakai training atau setelan bahan kaos gitu? selalu beliin modelnya itu-itu aja, cuma beda warna. Mana merek-merek terkenal lagi, coba kalo nanti kena cipratan masakan terus noda ga ilang gimana? sayang kan baju mahal kena noda" papar Izza.


"Ya lebih rapih lah dibanding pake daster batik" kata Rama.


"Batik itu budaya Indonesia, lagian motif dan model baju batik sekarang tuh udah beragam. Jadi stop ya beli baju rumah yang branded itu, pokoknya itu ga worth it banget harganya" ucap Izza.


Mba Nur dan Alex pura-pura ga mendengar perdebatan suami istri ini, mereka sudah terbiasa mendengar keduanya adu argumentasi, jadinya sudah hapal dengan kebiasaan para Bossnya.


.


"Itu kan Lilis sama Maman.. ngapain malam-malam di jalan tol?" tanya Rama.


Mobil dihentikan oleh Alex.


"Beneran orang bukan Boss? soalnya saya pernah kejadian horor nih. Niat bantuin orang di jalan tol ga taunya orang-orangan alias jadi-jadian.. hiiii .. serem" ujar Alex.


"Saya turun dulu" jawab Rama sambil membuka pintu mobil.


"Hati-hati Boss" ingat Alex.


.


Lima menit kemudian, mereka bertiga masuk kedalam mobil. Agak sempit duduk di kursi belakang berempat, tapi dipaksakan juga agar Ceu Lilis dan Maman bisa terangkut.


"Mas Rama didepan aja, biar saya yang dibelakang" tawar Mba Nur.


"Ga usah Mba Nur, nanti istri saya dipangku aja, biar mesra gitu" canda Rama.


Izza melihat kearah Rama, rasanya malu Rama berkata seperti itu.


"Kok bisa kalian berdua ditengah jalan tol?" tanya Rama.


"Begini A'.. kami kan habis dari rumah keluarga, naik taksi online. Eh tiba-tiba dicegat orang, supir taksinya ribut-ribut gitu terus kami disuruh turun dan mobil dibawa. Supirnya aja digebukin terus dimasukin ke mobil. Ya daripada kita kena sasaran, ya pasrah aja. Ini udah lumayan jalan kaki, pasrah sih nyari pintu keluar terdekat. Mobil-mobil ga ada yang mau berhenti, mungkin khawatir kami orang jahat" jelas Maman.


"Untunglah ketemu kita ya" sahut Alex.


"Iya Alhamdulillah Bang Alex" jawab Maman.


"Lex.. Man.. kita nongkrong dulu yuk .. ke Ancol aja yang deketan... di pantai .. lumayan gratisan, bayar retribusi masuk Ancol doang. Kalian ga masalah kan?" tanya Rama.


"Gapapa A'.. kebetulan kami besok pagi tidak ada acara" jawab Maman.


Izza dan Ceu Lilis masih diam-diaman walaupun duduk mepet bersebelahan.


"Udah pernah belum pada nongkrong malam di pantai Ancol?" tanya Rama iseng.


Semua menjawab dengan kompak "belum", kecuali Alex.


"Ga pada gaul nih" ujar Rama santai.


"Masa gaul ke pantai sih.. mana malam pula, emang ga takut masuk angin? atau jangan-jangan pernah ya kesana menikmati mobil goyang" kata Izza.


"Astaghfirullahal'adzim De... ga lah.. tapi boleh dicoba nanti kalo mau.. gimana?" goda Rama sambil ketawa.


Izza menyubit kecil lengannya Rama, yang lain menahan tawa.


"Dulu tuh suka motoran disana, ngetrek malam sekalian nunggu subuh. Tanya aja sama Alex kalo ga percaya" ujar Rama.


"Ya Mba.. Boss mah temannya lelaki semua, ga ada perempuannya. Ya main kebut-kebutan. Saya aja pernah dibonceng naik motor sama Boss kearah Puncak, ampun deh... ngga lagi-lagi diboncengin Boss, jantung rasanya mau copot. Kebayang ga naik motor kaya ga ada rem. Hayo aja ngebut, rem cuma dipakai kalo keliatan ada kendaraan aja didepannya. Saya suka naik motor, tapi ga sampe balapan liar juga sih kaya Boss Rama" jelas Alex.


"Mantan jagoan sih ya" ucap Izza ngeledek.


"Jagoan banget Mba.. tapi biar kata hobi balapan, tawuran sama bolos sekolah.. sholat sama puasa ga pernah ditinggal. Itu yang saya salut. Pernah bulan Ramadhan, kita touring ke Lebak Banten, eh jam tiga melipir cari warung buat sahur. Padahal lagi seru-serunya ngebut tuh.. mana di warung kecil, lauknya telur sama oseng buncis doang. Mau ga mau serombongan berhenti semua karena Boss berhenti, maklum.. Boss ini penyandang dana terbesar di acara touring. Kebanyakan dari kami mana kenal puasa bulan Ramadhan, gara-gara itu jadi banyak yang puasa dan paginya kita tidur semua sampe sore, ga jadi explore wilayah karena lemes kehausan dan kelaparan" cerita Alex sambil ketawa-ketawa.


Semua ketawa, Rama cuma mesam mesem.


"Aa' Rama kirain mah anak rumahan, mainnya mobil aja, tenyata... " sahut Ceu Lilis.


"Anak muda mah biasa nakal-nakal sedikit, yang penting saatnya berubah ya berubah. Masa lalu itu buat pembelajaran aja" bela Rama.


"Bang Alex ini kenal lama ternyata ya sama Aa' Rama" ujar Ceu Lilis.


"Dari saya umur belasan tahun" jawab Alex.


"Udah... ga usah bahas masa lalu.. yang penting sekarang kan udah berubah" potong Rama.


.


Mereka berenam menikmati pemandangan Pantai Lagoon, pantai berpasir putih lembut sekarang menjadi pantai yang difavoritkan oleh pengunjung yang datang ke Ancol.


Keheningan malam menjadi sensasi tersendiri ditengah keriuhan kota Jakarta. Sepanjang pendengaran hanya deburan suara ombak saja adanya. Biasanya tujuan bermalam disini untuk menikmati sunrise yang akan menyapa yang terbit dari ujung Jakarta.


Pantai Lagoon memiliki menara penjaga pantai yang tersusun rapi disepanjang pantai. Kesini pun hanya cukup membayar retribusi masuk kawasan Ancol saja karena area ini bisa dinikmati secara gratis.


Ada tukang kopi dan minuman hangat keliling, penjaja makanan pun ada tapi tidak banyak. Izza mengeluarkan pukis yang tadi dia beli, sebelumnya juga sempat mampir ke minimarket untuk membeli makanan ringan.


Izza memakai jaketnya Rama yang ada didalam mobil. Saling berbincang ringan disertai canda tawa. Lebih banyak bicara tentang rencana masa depan.


Izza dan Ceu Lilis mau buang air kecil, letak kamar mandi tidak jauh dari tempat mereka duduk, sehingga tidak perlu diantar. Setelah keluar dari kamar mandi, keduanya duduk ditepi pantai, dibebatuan yang besar.


.


"Lis.. gimana selama di Jakarta? sudah ada kegiatan?" tanya Izza.


"Ga ada ... masih di rumah aja" jawab Ceu Lilis.


"Masih marah sama saya Lis?" tanya Izza hati-hati.


"Ga.. Aa' Maman banyak mengubah pandangan dan pemikiran saya. Toh kamu ga ada sangkut pautnya sama semua yang sudah terjadi. Apalagi sekarang kamu kan istri dari orang yang amat berjasa dalam hidup saya sekeluarga, mana mungkin saya marah sama kamu Za" jawab Ceu Lilis.


"Tapi kok kayanya kita masih berjarak ya?" ujar Izza sambil melihat kearah pantai.


"Ya karena kita memang ga pernah akrab, sekedar waktu itu nemenin Lilis nyanyi, setelahnya jarang komunikasi" jawab Ceu Lilis.


"Kalo ingat masa itu... rasanya kaya mimpi ada diposisi kaya sekarang ini. Dulu mah kerja apa aja dilakonin demi dapat uang. Mana Kak Rama cuek banget orangnya" ingat Izza.


"Makanya Za.. dari pertama kali ketemu sama Aa' Rama.. banyak-banyak do'a jangan dikasih jodoh model kaya gitu, cuek, dingin, terlalu kaku dan apa-apa serba terstruktur. Serasa di penjara deh kalo serba diatur, eh dapatnya lebih parah lagi dari Aa' Rama. Aa' Maman itu pendiam, bicara seperlunya, dibilang romantis ya ngga.. dibilang ga romantis juga ngga .. ya lempeng ajalah pokoknya. Tapi Aa' Maman banyak mengubah Lilis.. ya walaupun baru dua bulan kami menikah" ungkap Ceu Lilis.


"Rejeki namanya Lis" jawab Izza.


"Iya ... Alhamdulillah.. kamu juga rejeki dapat Aa' Rama, tapi saya liat justru Aa' Rama yang banyak berubah, gampang senyum dan ketawa" ucap Ceu Lilis.


"Awalnya sempat juga ga yakin Lis.. masa lelaki seperti Kak Rama mau mempersunting seorang Izza, inilah jodoh... ternyata sosoknyalah yang paling tepat buat saya. Dibalik diamnya, Kak Rama banyak bergerak mencari informasi, banyak kisah hidup saya yang didapat dari beliau. Dibalik sikap cueknya, ternyata beliau menjaga dari jauh. Dan dibalik tampangnya yang dingin serta gaya bicara yang pedas, beliau sedang mendidik sebenarnya. Kak Rama adalah hadiah yang Allah berikan setelah carut marutnya hidup saya. Bisa dibilang saya kehilangan seluruh keluarga, tapi Allah ganti dengan keluarga yang bisa menerima kehadiran saya yang seperti ini" ungkap Izza mellow.


"Iya.. paling ga nasib saya lebih baik dari kamu Za. Diasuh oleh keluarga yang sangat baik. Meskipun sekarang Ibu banyak berubah, tapi tetap sayang sama Lilis kaya sayang sama anaknya sendiri. Ga pernah beda-bedain Lilis. Ditambah sekarang sudah menikah sama Aa' Maman, siapa yang ga kenal keluarga Abah Ikin.. serasa langsung diangkat derajatnya berpuluh-puluh kali lipat" kata Ceu Lilis.


"Kita dua orang yang hampir punya nasib yang sama, sekarang Allah kasih kenikmatan seperti ini ya Lis... Allah baik banget sama kita" tutur Izza.


"Ya.. makanya Lilis mau lebih banyak lagi belajar agama, mau berterima kasih yang benar kepada Allah" sahut Ceu Lilis.


"Semoga kita sama-sama berproses ya Lis.. jadi orang yang lebih baik lagi meskipun masa lalu kita berantakan" ucap Izza.


"Amiin ya rabbal'alamin" sahut Ceu Lilis.


.


"Saya liat mereka baik-baik aja A'.. ga keliatan lagi berantem" kata Maman.


"Emang ga berantem sih sebenarnya, biasalah cewe kan kalo salah paham, baikannya lagi susah. Mereka cuma sama-sama ga bisa terima keadaan aja kok. Makanya saya ga ikut-ikutan maksa mereka ketemu terus ngobrol. Paling keduanya saya nasehati untuk saling tegur sapa. Tanpa kita duga, sekarang mereka malah ngobrol berdua. Serius banget lagi ngobrolnya sampe kita dicuekin" jawab Rama.


.


Karena sudah merasa lelah, akhirnya diputuskan jam dua malam mereka balik ke rumah. Maman dan Ceu Lilis diantar dulu, baru kemudian ke rumah Pak Isam.


Sampai di rumah jam tiga malam, Mang Ujang masih ikut ngeronda di pos security main catur.


"Lah kok Alex bareng sama Mas Boss? pada abis dari mana tengah malam kaya gini baru balik. Jangan-jangan Alex sama Nur ditangkap satpol PP kali ya malam-malam masih keluyuran terus Mas Boss ngebebasin" duga Mang Ujang.


"Masa sih Mang? keliatannya mereka hepi-hepi aja ngga kaya abis kena masalah" sahut security.


.


Izza sudah tertidur pulas di mobil, karena memang malam sebelumnya Izza susah tidur, jadi baru berasa ngantuk sekarang.


Rama ga tega bangunin, jadi berniat mau gendong aja menuju kamar. Rupanya gerakan Rama membuat Izza bangun.


"Kakak gendong aja sini" tawar Rama sambil berjongkok didepannya Izza.


"Malu Kak" jawab Izza sambil jalan agak sempoyongan.


"Malu sama siapa? kita kan suami istri, yang ga suami istri aja gendong-gendongan biasa aja" ucap Rama.


Karena Rama memaksa, akhirnya Izza mau juga, digendong dibelakang. Mba Nur membantu membawakan tas milik Izza, Alex membawakan belanjaan Rama dan Izza. Mereka naik lift bersama Mba Nur, Alex menyusul dibelakang lewat tangga.


Tas dan belanjaannya Izza diletakkan di meja depan kamar, Mba Nur dan Alex pamit istirahat.


Rama meletakkan tubuhnya Izza perlahan.


"Cuci kaki dan mukanya dulu baru tidur" pinta Rama.


"Ngantuk" jawab Izza.


Rama membukakan jilbab, kaos kaki dan jaket yang dikenakan oleh Izza. Kemudian menyelimuti tubuh Izza agar hangat. Rama menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


💠


Hampir sebulan belakangan ini Izza bolak balik ke Surabaya untuk memenuhi panggilan pihak yang berwajib. Rama selalu menemani, malah mengajak Sachi sekalian. Pergi bertiga naik pesawat, nanti jika keduanya ke Kantor Polisi, Sachi akan dititip ke saudaranya Rama. Biasanya pulang ke Jakarta, Sachi minta naik kereta, jadi mereka naik kereta yang luxury demi kenyamanan Sachi.


💠


Beberapa bulan kemudian..


Maryam sudah hamil sepuluh minggu, kalo Ceu Lilis baru empat minggu. Izza dan Rama belum juga diberi titipan kembali. Padahal keduanya sudah dua kali staycation menghabiskan waktu berdua, tapi tak kunjung berhasil membuahkan garis dua di testpack.


.


Mba Anindya sudah kembali menjalankan bisnisnya. Mamanya pun sudah mulai kembali keluar rumah setelah tiga bulan lamanya mendekam dalam rumah karena krisis pede.


.


Rama sudah janjian makan siang sama Mba Anindya di Audah Hotel. Selama Mba Anindya recovery mental dan fisiknya, Rama selalu melaporkan perkembangan setiap usaha milik Mba Anindya. Rama dikasih beberapa persen keuntungan dari semua usahanya Mba Anindya yang sudah beralih nama ke dia.


"Mba.. apa ga sebaliknya ganti nama lagi ke Mba Anin? saya kok rasanya jadi was-was" ucap Rama.


"Ada juga kebalik Ram.. saya yang harusnya was-was harta saya kamu bawa lari... hehehe" canda Mba Anindya.


"Ga lah Mba.. saya ga akan mengambil apa yang bukan milik saya" jawab Rama.


"Itulah kenapa Mba percayakan ke kamu, karena kamu pasti amanah" kata Mba Anindya.


"Alhamdulillah kalo Mba percaya, makasih juga nih saya sudah dikasih sampai seratus juta, rejekinya Izza nih Mba.. dia kan sudah lulus, mau buka usaha di kampusnya" ujar Rama.


"Kenapa ga kerja di Audah Hotel atau Abrisam Group aja? atau fokus jadi Ibu Rumah Tangga gitu biar bisa hamil" tanya Mba Anindya.


"Utamanya memang mau jadi Ibu Rumah Tangga yang beneran ada di rumah, dia buat usaha juga akan ambil karyawan, bukan dia yang jalanin, mau buka makanan franchise gitu di kantin kampusnya" terang Rama.


"Jadi pilot project dia ya...support aja Ram, wanita jaman now memang harus independen. By the way, kamu ga cek kesuburan aja ke dokter? siapa tau ada masalah, beberapa kali ketemu Papa Isam bilangnya ya udah ingin banget nambah cucu, sekarang kalo bukan dari kamu dari mana lagi? Mas Haidar belum kunjung menikah kan" papar Mba Anindya.


Memang kehamilan Izza yang mengalami keguguran dirahasiakan dari siapapun, jadi orang hanya bisa berspekulasi ada ketidaksuburan diantara Izza atau Rama. Tapi Izza dan Rama ga ambil pusing karena memang fokus mereka kemarin banyak tersita oleh banyak urusan. Mulai dari tugas akhir Izza, kuliahnya Rama yang juga habis ujian dan kembali pengajuan proposal tesisnya yang sudah direvisi, seabrek kerjaan di Abrisam Group dan Audah Hotel plus tambahan mengawasi usahanya Mba Anindya juga.


"Nantilah Mba.. kami juga baru nikah lima bulan, ga usah dibawa stress, dibawa santai aja. Tau sendiri kan kami sedang banyak yang dikerjakan, jadi belum saatnya aja" papar Rama.


"Iya sih.. sebenarnya Ram, Mba dan Mama berencana pindah keluar negeri setelah putusan sidang Papa. Mama sudah menggugat cerai Papa sebulan yang lalu, ya Mba rasa ini adalah jalan yang terbaik. Mama sudah cukup lama tau kelakuan Papa dengan banyak wanita. Dan yang bikin shock itu tentang kamar rahasia Papa di kantor. Langsung Mama minta dikemasi semua yang ada di kamar itu dan dibakar sama Mama di rumah" cerita Mba Anindya.


"Parah sih memang itu.. saya sudah tau lama Mba, mantan sekretaris Om Flandy yang lapor ke Alex, kebetulan kenal sama Alex" ujar Rama.


"Kok kamu ga bilang ke Mba?" tanya Mba Anindya.


"Mba.. ini aib kalo disebarluaskan, bisa juga nanti malah membuat Izza down lagi. Tau sendiri kan di Indonesia, hal seperti itu bisa bombastis diberitakan. Makanya demi menjaga harga diri dan kehormatan Izza, saya coba tutup mata Mba. Tapi tetap waspada sih, kalo sampe ke blow up ya saya siap melindungi Izza, bahkan sudah punya rencana akan pindah keluar negeri jika hal itu terjadi" papar Rama.


"Kamu selalu punya rencana yang matang ya Ram" puji Mba Anindya.


"Naluri saya seperti terasah Mba.. sejak kasus Mba Nay hingga detik ini kan lingkarannya itu-itu juga. Mba.. maaf kalo saya tanya.. are you okay?" tanya Rama.


"Mencoba untuk baik-baik saja memang sulit Ram.. tapi hidup kan harus terus berjalan. Mba tidak pernah membayangkan perceraian akan menjadi bagian dari sejarah hidup. Seperti yang selalu kamu bilang .. sudah gagal berumah tangga dan gagal menikah kembali, jangan sampe gagal move on" ungkap Mba Anindya sambil tersenyum.


Rama tau senyum itu adalah sisa kekuatan yang Mba Anindya punya, Rama pun membalas dengan memberikan senyuman pula.