
Zulfian Noor Irawan (laki laki yang selalu mendekatkan diri pada Allah dan menjadi cahaya ditempat tertinggi) disematkan oleh Rama dan Izza kepada buah hati pertamanya. Nama panggilannya Zian. Entah kenapa sejak jatuh cinta ke Izza, Rama sangat suka huruf Z. Sehingga ingin nama anaknya berawalan huruf Z dan panggilannya pun ada huruf Z nya.
Hingga acara aqiqah Zian, keluarga Pak Sandy tidak ada yang hadir, meskipun kado-kado dan makanan sudah diterima oleh Rama. Hal ini kembali sudah dibicarakan bersama Rama.
Rama menerima pemberian keluarga Pak Sandy untuk menghormati niat baik tersebut, tapi secara khusus memang masih melarang keluarga Pak Sandy bertemu dengan Izza secara langsung. Bahkan Rama sudah meminta Pak Sandy untuk melupakan saja kisah masa lalu.
Rupanya drama ASI yang tidak keluar banyak menjadi momok yang membuat Izza terkena baby blues, ada rasa tidak percaya diri atas kemampuan tubuhnya sendiri dalam memproduksi ASI.
Rama dan seluruh keluarga bahkan dokter anak sudah memberikan banyak support untuk Izza. Tapi belum kunjung membuat Izza lebih percaya diri, jadinya jika Zian menangis, Izza akan ikut menangis bahkan bisa lama berhentinya.
Rama sampai memperpanjang waktu bekerja di rumah, tidak berangkat ke kantor Abrisam Group, semua pekerjaan dilakukan bersamaan dengan mendampingi Izza dan Zian. Karena pernah dicoba berangkat ke kantor, hasilnya baru satu jam sudah balik lagi ke rumah karena Izza menelepon dirinya sambil menangis.
.
"Apa ga sebaiknya kamu bawa ke psikolog aja Ram? memeriksa kejiwaan Izza. Papi benar-benar seperti tidak kenal Izza. Dia lebih banyak mengurung diri di kamar, jadinya Papi jarang bisa berbincang banyak hal sama dia" saran Pak Isam.
"Nanti malah tersinggung Pi" jawab Rama.
"Tapi liat Izza sering nangis kok Papi jadi khawatir, dia kaya menyimpan sesuatu" ucap Pak Isam.
"Nanti Rama akan coba lagi ngobrol banyak kalo dia sudah senggang dan Zain tidur. Izza itu istilah medis sekarang bilangnya baby blues Pi, hal ini karena rasa kepercayaan dirinya jauh berkurang. Papi jangan khawatir ya, Rama akan handle ini semua" janji Rama.
"Papi yakin kamu pasti bisa menghadapi Izza, tapi Abrisam Group juga butuh perhatian kamu Ram. Sudah dua tender kita lepas ke perusahaan lain karena kamu ga fokus dalam mempersiapkan tim yang ikut tender" kata Pak Isam.
"Ya Pi.. Rama akan coba fokus lagi. Untuk masalah tender itu, sebenarnya Rama sudah mencoba yang terbaik Pi, simplenya Rama bilang belum rejeki, tapi Rama sebagai seorang leader pastinya ga bisa beralasan seperti itu. Kedepannya tim akan Rama persiapkan sebaik mungkin agar mampu bersaing" jelas Rama.
"Kamu juga harus cukup istirahat Ram, boleh mengurus anak istri, tapi diri kamu sendiri juga perlu diurus. Kalo kita cukup istirahat, kita bisa lebih fokus ketika mengerjakan sesuatu. Papi tau kamu kurang tidur sudah hampir dua mingguan ini. Apa ga sebaiknya ambil baby sitter baru lagi khusus buat Zian? Mba Nur kan masih ngurus Sachi" ujar Pak Isam.
"Izzanya ga mau Pi.. Mba Nur juga bantu kalo Izza lagi ke kamar mandi atau makan saja, jadi lebih banyak Izza yang urus. Malah Rama yang banyak handle dibandingkan sama Mba Nur. Intinya Pi.. kita jangan sampai salah ucap didepan Izza, sedikit saja keseleo kata.. dia bisa langsung baper dan efeknya ga bagus buat Izza dan Zain" jelas Rama.
"Iya.. yang sabarlah Ram menghadapi ini semua" tukas Pak Isam.
"Iya Pi" jawab Rama lagi.
"Papi sampai ga bolehin Ujang deket-deket Izza loh.. khawatir Ujang ngomong yang ga jelas, dia kan mulutnya rada ember selain loadingnya lama" adu Pak Isam.
"Pantas dia ngadu kemarin, katanya Papi ga bolehin karena Mang Ujang suka ngomong asal" lanjut Rama.
💐
"Lung.. Izza kan sudah melahirkan, udah lama sih, sekitar setengah bulan yang lalu" lapor Lexa.
"Terus?" tanya Candra sambil mengunyah kacang.
"Kita mau jenguk mereka ga?" tanya Lexa balik.
"Ga usahlah, kita kan ga dekat-dekat banget sama mereka, ditambah kita juga bukan rekan kerja mereka" kata Candra.
"Bukannya Alung ikut turut andil membuka tabir rahasia antara Pak Sandy dan Izza?" tanya Lexa.
"Cik.. Alung cerita sekilas tentang Pak Sandy dan Izza itu bukan untuk diungkit atau kita bahas. Ini sekedar agar kamu ga curiga sama Alung kalo Alung ketemu sama Pak Sandy. Acik kan masih aja curiga kalo Alung ada hubungan sama Pak Sandy karena mau mengorek informasi tentang Ani" ingat Candra to the point.
"Iya.. kan udah bilang ga cemburu lagi sama Ani. Terus kelanjutannya Pak Sandy dan Izza gimana Lung?" makin Lexa kepo.
"Dibilangin ya.. masih aja nakal... itu urusan pribadi mereka. Mau ada hubungan atau tidak, ya ga ada pengaruh apapun ke kita. Ini berkaitan sama aib masa lalu, mereka pasti hati-hati dalam menyelesaikannya. So.. berhenti ya kepo tentang hal itu" lanjut Candra.
"Ya Lung.. tapi kasian Izza .. dia pasti stress, ketika hamil menghadapi kenyataan ini, sepertinya sampai sekarang belum kunjung selesai" sahut Lexa lagi.
"Bener-bener nih ya.. ga usah dibahas lagi. Orang yang kamu kasihani itu punya suami... punya keluarga.. jadi pasti mereka sudah lebih paham mendampingi Izza daripada rasa simpati kamu" ucap Candra kesal.
"Kok Alung marah sih, wajar dong mom support mom. Wanita habis melahirkan itu sensitif, nanti kalo dia kena baby blues atau stress karena hal itu gimana?" oceh Lexa.
"Mom support mom? terus Acik mau datang gitu kesana dan mau bilang bersimpati dengan masalah yang menimpa Izza, jangan stress karena nanti bisa terkena baby blues, misalnya ASInya sedikit juga mau kasih tips makan ini itu dan lain sebagainya? itu mom support mom atau kepo dan menggurui? kebanyakan orang yang jenguk kan omongannya begitu. Kita juga ngalamin kok. Bahkan Acik beberapa kali bicara seperti itu ke saudara dan teman yang kita jenguk sehabis melahirkan" ungkap Candra.
"Itu mah bukannya kepo Lung.. murni karena merasakan sesama wanita yang sudah pernah melahirkan" bela Lexa.
"Udah punya anak dua masih juga ga dewasa pemikirannya Cik.. inilah kadang yang kami para lelaki ga pahami. Hanya karena sama-sama pernah melahirkan, terus bebas ngomong ini itu plus dulu waktu hamil begini.. pasca melahirkan begitu.. ga semua sama kondisinya Cik. Prinsip menjenguk itu ya menghibur dan mendo'akan. Jika kedua hal ini tidak bisa kita berikan, lebih baik diam dan mendo'akan dalam diam. Boleh sharing pengalaman, tapi baiknya kalo diminta saja, itupun harus bisa memilah mana yang baik dan tidak untuk disharing. Paham? Bukan Alung ga mau jenguk, tapi kita ga terlalu kenal sama mereka, hanya sekilas saja" papar Candra panjang lebar.
"Iya..." jawab Lexa menyerah.
"Kok kaya terpaksa jawab iyanya" protes Candra.
"Terus harus jawab gimana?" tanya Lexa malah balik sewot.
"Yang mesra dikit gitu ... ya sayangku, ya cintaku atau apa gitu" goda Candra.
"Masih aja romantis-romantisan kaya gitu Lung.. malu kali" kata Lexa.
"Malu? kita kan suami istri, malu sama siapa? Alung mau tanya deh.. kalo dalam skala satu sampai sepuluh.. berapa nilai cinta Acik ke Alung sekarang ini?" tanya Candra.
"Perlu dijawab? itu sih ga perlu ditanya Lung, pasti sepuluh jawabannya" ujar Lexa.
"Kalo Alung ke Acik sih cukup dua aja" lanjut Candra.
"Kok dua sih? emang udah ga cinta lagi sama Acik?" ucap Lexa terpancing emosi.
"Jangan manyun dong.. cinta Alung ke Acik itu cukup dua.. duaaaleeemmmm banget" canda Candra.
Lexa langsung memukul tangannya Candra hingga Candra meringis kesakitan.
💠
Sebulan setelah Zain lahir.
Rama sudah beraktifitas seperti biasa ke kantor Abrisam Group. Izza pun kondisinya sudah lebih baik, ASInya sudah mulai cukup meskipun belum bisa stok banyak. Mereka konsultasi dari mulai klinik laktasi, pakai obat pelancar ASI, makan makanan yang konon katanya bagus sebagai pelancar ASI hingga massage khusus untuk Izza sudah mereka diupayakan. Tapi hasilnya ASI perah pun hanya cukup untuk satu hari saja. Padahal Izza sudah minta dibelikan kulkas khusus ASI, tapi isinya langsung habis untuk sehari.
"De.. liat deh gambar-gambar perhiasan ini, suaminya Farida sekarang jadi sales di sebuah toko perhiasan bonafid. Kamu mau ga? nanti bisa kok datang ke rumah kalo kamu mau liat" tawar Rama sambil menyerahkan HP nya.
"Dalam rangka apa? ga ulang tahun, ga anniversary, ga ada perayaan apapun deh kayanya" jawab Izza kurang antusias sama penawaran Rama.
"Sebagai hadiah sudah melahirkan seorang anak buat Kakak" alasan Rama.
"Karena ASI yang ga seperti orang lain, terus kamu merasa gagal jadi Ibu? yakin? sepenglihatan Kakak, mulai dari hamil, kamu sudah sangat-sangat menjaga Zain dengan baik. Makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup serta emosi yang terjaga dengan baik. Melahirkan bertaruh nyawa dengan segala rasa sakit yang ada. Bahkan terus berjuang memberikan ASI, kasih sayang, perhatian dan cinta tak terbatas untuk Zain. Apa semua itu tidak bernilai dimata kamu? De.. bersyukur kita sudah punya anak sekarang. Alhamdulillah kondisi fisik kamu dan Zain sehat. Zain butuh sosok Ibu yang lebih tangguh lagi. Mungkin kalo sekarang dia rewel, itu karena merasakan apa yang Mommynya rasakan. Kamu ga sendirian De.. ada kami semua yang akan terus ada buat kamu" tutur Rama dengan lemah lembut.
"Kak... " kata Izza ga mampu meneruskan ucapannya.
Izza duduk dipangkuan Rama dan memeluknya. Mereka ada di kamarnya Zain, Zain sendiri tengah tertidur.
Alex dan Mba Nur masuk kamar Zain (Alex membantu Mba Nur membawakan sekeranjang cuciannya Zain yang sudah rapih disetrika), sontak mereka kaget melihat Rama dan Izza berpelukan sambil pangku-pangkuan di kursi santai.
Spontan Mba Nur yang tadi membuka pintu langsung menutup pintu kembali dan mundur menabrak Alex sehingga keranjang pakaian terjatuh mengenai kakinya Alex serta pakaian berantakan di lantai.
"Aduhhhh..." ucap Alex
Rama membuka pintu.
Mba Nur dan Alex tengah merapihkan baju yang berhamburan keluar dari keranjang.
"Meskipun ini kamarnya Zain, siapapun yang akan masuk harusnya mengetuk pintu terlebih dahulu. Jangan lupa pula kalo kamar ini ada connecting door ke kamar saya. Jadi termasuk area pribadi" ingat Rama sambil keluar kamar kemudian turun ke lantai bawah.
Sebenarnya Rama sok tegas karena rasa malunya terhadap Alex dan Mba Nur. Memang semua penghuni rumah ini tau terkadang Rama bermesraan sama Izza, tapi hanya sekedar berpelukan atau mencium kening saja. Tapi kali ini Alex dan Mba Nur melihat Rama dan Izza ciuman bibir, sehingga Rama merasa tidak nyaman ada yang melihat.
Alex dan Mba Nur diam, tidak menjawab. Mereka merapihkan baju kemudian mengetuk pintu kamar Zain, setelah dijawab oleh Izza, keduanya masuk kedalam kamar.
Alex meletakkan keranjang baju didekat lemari pakaian Zain serta membawa keranjang berisi pakaian yang kotor.
"Mba Nur ... liat selimut Zain yang samaan kaya punya Sachi?" tanya Izza.
"Ada di kamar Sachi, kemarin pas Mba Izza mandi, Zain dibawa ke kamar Sachi" jawab Mba Nur.
"Tolong cuci aja ya" pinta Izza.
"Iya Mba.." jawab Mba Nur.
"Mba Nur punya kenalan orang salon ga?" tanya Izza lagi.
"Ada Mba" jawab Mba Nur.
"Bisa dipanggil ke rumah? saya mau perawatan dari kepala sampai kaki" kata Izza.
"Saya telepon dulu ya Mba" jawab Mba Nur.
💐
Sekitar jam empat sore, Mas Barry ada meeting dengan Rama. Mba Anindya pun ikut datang, mereka akan berkonsultasi dengan Rama berkaitan dengan Audah Hotel, dimana semua kepemilikan akan berpindah tangan seratus persen ke Mas Barry.
Rama memang sudah beberapa bulan ini melepaskan semua hal tentang Audah Hotel. Sudah habis waktunya untuk mengurus Abrisam Group dan keluarga. Lagi pula dia sudah tidak punya saham serta jabatan lagi di Audah Hotel.
"Selamat ya Ram.. maaf ga bisa datang ke Rumah Sakit setelah Izza melahirkan, pas aqiqah juga ga bisa hadir. Mba lagi ada diluar negeri, check up kesehatan Mama" buka Mba Anindya.
"Gapapa Mba, oh ya.. makasih kadonya" jawab Rama.
"Baby boynya mirip sama kamu ya Ram, Mba lihat fotonya aja gemes banget. Makin deh kamu cinta banget sama Izza, dia sudah memberikan segalanya buat kamu" ujar Mba Anindya.
"Harus dong Mba" ucap Rama.
.
Mas Barry masuk ke ruangan Rama, basa-basi sedikit kemudian duduk bersama.
"Oke.. berhubung ini sudah hampir jam setengah lima, biasanya jam lima saya sudah bergerak menuju rumah, jadi kita langsung saja membahas poin yang penting, untuk hal lainnya akan kita bicarakan nanti" pinta Rama.
"Lain nih Bapak yang satu ini, sudah punya anak maunya cepat-cepat pulang ke rumah" ledek Mba Anindya.
.
Rama mendengarkan Mba Anindya dan Mas Barry yang sedang mengemukakan tentang hal penjualan saham milik Mba Anindya dan Pak Alfian ke Mas Barry.
"Lama saya tidak mendengar tentang Pak Alfian, sekarang dimana Mba?" tanya Rama.
"Sakit.. stroke dan dirawat di rumah saja, sebulan sekali kontrol ke Rumah Sakit. Itulah kenapa keluarga meminta bagian sahamnya dijual saja. Lumayan sudah habis-habisan keluarga untuk berobat, entah ada penyakit apalagi yang tidak terdeteksi oleh medis tapi terus menggerogoti tubuhnya" jelas Mba Anindya.
"Pantas saya lama tidak mendengar kabarnya. Sampaikan salam saya jika Mba bertemu sama Pak Alfian. Mengenai penjualan bagian kepemilikan Mba Anindya dan Pak Alfian apa sudah ada kesepakatan harga dengan Mas Barry?" kata Rama.
"Pembicaraan awal sudah Ram, tapi mentok karena tidak ada kesepakatan" jawab Mas Barry.
"Tidak sepakat harga atau bagaimana?" tanya Rama lagi.
"Ya selain harga, ini kan menjelang akhir tahun, biasanya ada laporan tentang laba rugi perusahaan. Mba Anindya dan Pak Alfian meminta dua kali lipat keuntungan tahunan, sedangkan keuntungan terhitung satu tahun. Nombok dari mana coba?" jelas Mas Barry.
"Bagaimana penjelasan mengenai ini Mba Anin?" ujar Rama.
"Keluarga Om Alfian yang belum mau melepaskan dengan harga yang ditawarkan Pak Barry, mengenai keuntungan perusahaan juga masih belum oke. Kalo Mba ya mau lepas karena sudah tidak akan stay di Indonesia lagi" jawab Mba Anindya.
"Intinya Mba Anin dan Pak Alfian mau lepas atau tidak nih? ini perusahaan loh Mba, bukan sedang jual rumah tempat tinggal kita. Harus ada rapat pemegang saham dengan segala aturannya. Dulu saya saja sampai memakan waktu enam bulan untuk menyelesaikan jual beli saham di Audah Hotel. Sekarang harus ada jalan tengah, ini hanya sekedar saran saja ya, jadi keuntungan tahunan tetap diberikan utuh sesuai aturan yang tertuang dalam perjanjian kesepakatan bersama. Kalo pihak Mba Anin dan Pak Alfian meminta dua kali lipat ya tidak ada hal seperti itu, terlalu mengada-ada permintaannya, kaya bukan orang yang paham bisnis saja. Bisa diketawain sama Hotel sebelah Mba. Mas Barry mendapatkan lebih besar keuntungan karena selain punya kepemilikan, hanya Mas Barry yang aktif dalam menghandle Audah Hotel. Kemudian untuk kesepakatan harga, sama-sama berhitung ulang saja, kedua belah pihak pasti punya kenalan akuntan yang sangat kredibel dibidangnya. Sewa saja akuntan untuk membantu menghitung segala kalkulasinya. Saya punya kantor akuntan publik, bisa memakai jasanya jika mau" papar Rama.
"Bagaimana kalo kamu ikut serta menjadi pihak ketiga disini Ram, ya sebagai mediator diantara kami" usul Mba Anindya.
"Bisa saja, tapi tetap ada bayaran profesional ya Mba, saya kan butuh membuat tim juga untuk menyelesaikan pekerjaan ini" jawab Rama.
"Nah sepertinya lebih baik memang kamu saja Ram yang menghandle proses jual beli ini, sudah tau sejarah Audah Hotel dan mengenal kami semua. Untuk uang jasanya, silahkan kamu ajukan saja ke Audah Hotel, nanti kami akan bahas secara internal" kata Mas Barry.
"Oh ya.. saya harap jangan ramai dulu mengenai penjualan ini, karyawan jika mendengar ada gonjang-ganjing dipucuk manajemen, pastinya akan resah gelisah. Hal ini akan berpengaruh terhadap performa kerja. Selalu ada bayang-bayang tentang pemberhentian hubungan kerja massal menurut mereka" saran Rama.
"Baik Ram.. akan kami upayakan untuk keep silent. Hanya bagian terkait yang akan kami libatkan" ujar Mas Barry.
"Untuk penawaran jasa, selambatnya seminggu ini akan saya kirim ke Audah Hotel. Mohon maaf sudah jam lima, ada Baby Boss menunggu saya di rumah" tutup Rama.
"Rupanya Big Boss Abrisam Group masih kalah kalo Baby Boss yang panggil" goda Mas Barry.
"Begitulah kira-kira Mas" jawab Rama sambil tersenyum.