HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 49, New hope



"Jadi intinya saya nemenin Ceu Lilis selama di Jakarta ya?" tanya Izza meyakinkan pendengarannya.


"Yup, dia memang bukan artis utama, ada artis ibukota yang akan isi acara, tapi lumayan buat ikut memeriahkan acara aja. Dia akan isi part dangdut, biasanya buat karyawan aja. Kan abis cape tuh soft opening, jadi bisa dihibur dangdutan, biar lemes" jawab Rama sambil duduk disalah satu sofa di Lobby.


Rama batuk-batuk karena sepertinya masih banyak debu karena masih ngerjain hiasan hotel.


"Ya Kak, Izza mau kerja part timenya" kata Izza yakin.


"Oke.. besok pagi dijemput sama Mang Ujang. Pihak EO juga saya minta ada yang ikut kamu, perempuan kok, jadi ga perlu khawatir. Untuk makan dan lainnya di jalan, nanti uangnya akan saya titip ke Mang Ujang ya, ingetin aja kalo jam makan, minta Mang Ujang mampir makan dulu jangan bablas aja" jelas Rama yang tiba-tiba batuk.


"Lagi batuk Kak? Kayanya dari tadi kedengaran batuk aja" tanya Izza.


"Ya.. dari kemarin tenggorokan rasanya gatel. Ditambah sekarang lagi ngecek hiasan buat acara" kata Rama.


"Panas dalam kali Kak, shaum ya hari ini?" tanya Izza lagi.


"Insyaa Allah.." jawab Rama singkat.


"Nanti Maghrib minum air jahe aja Kak, kecapean juga kali nyiapin soft opening Hotel" terka Izza.


"Udah biasa kok kaya gini kalo kurang minum" jawab Rama.


"Dirutinin minimal delapan gelas sehari Kak" nasehat Izza.


"Makasih udah diingetin... oh ya kamu bisa bikin air jahe?" tanya Rama.


"Bisa Kak" jawab Izza.


"Bikinin sekarang bisa? Kalo udah jadi nanti diambil ojol aja" pinta Rama.


"Mahal ojolnya Kak... kebetulan nanti saya mau anterin payetan jilbab ke PGC, nah ojolnya dari PGC aja ya, jadi kan lebih dekat" kata Izza.


"Naik apa kamu kesananya?" tanya Rama.


"Naik motor sama teman, atau nanti saya mampir deh ke Hotel, sharelock aja. Kak Rama disana sampe jam berapa?" kata Izza.


"Saya nginep disini, banyak yang harus disiapin, jadi bebas aja sih ketemu jam berapa juga" jelas Rama.


"Oke... sekitar jam lima lewat kayanya saya bisa mampir kesana" ujar Izza.


🏵️


Mba Gita memeriksa berkas di mejanya, tampak dia cemas sekali, terlihat dari raut mukanya yang keliatan panik, buru-buru dia ke lemari arsip mencari dokumen yang ga ada. Sampe meminta salinan berkas ke bagian keuangan.


"Aduh dimana ya? kok bisa seceroboh ini ... ayo Gita.. ingat-ingat taro dimana. Bisa Mas Rama ngamuk ini, dia kan ga pake tedeng aling-aling orangnya, langsung pecat orang gitu aja" kata Mba Gita makin panik.


Bagian keuangan sudah memberikan copy-an yang Mba Gita butuhkan,tapi wajah Mba Gita masih juga terlihat tegang.


🏵️


Rama sedang santai di kamar hotelnya, laptop masih menyala. Rencananya dia akan mandi dulu, baru nanti kerja lagi.


Mang Ujang tidur di kamar yang sama, karena kasurnya single bed, jadi pisah tidur. Mang Ujang lagi main PS milik Rama.


"Mang .. saya mau mandi, kalo ada telepon dari Izza, angkat aja. Dia mau kesini" perintah Rama.


"Izza? ngapain kesini Mas?" tanya Mang Ujang.


"Kan dia yang mau jemput Lilis" kata Rama.


"Jadi besok saya berangkat sama dia?" tanya Mang Ujang.


"Ya .. tapi ada lagi satu orang yang bakalan ikut" tambah Rama.


"Yeilahhhh ... ga bisa banget sih kasih kesempatan buat Mang Ujang deketin. Kan lumayan tuh jarak Jakarta Tasikmalaya buat ngobrol berdua mah cukup deh" sahut Mang Ujang.


Sebagai jawaban, Rama membanting pintu kamar mandi yang membuat Mang Ujang kaget.


"Astaghfirullah .. lama-lama kerja sama Mas Boss nih bisa jantungan. Kan tinggal jawab aja, ga usah pake banting pintu" ucap Mang Ujang sambil mengelus dadanya.


🏵️


Ceu Lilis sudah meminta ijin ke Ibunya buat ke Jakarta, Ibunya juga mengijinkan karena sudah ditelpon sama Rama. Rama sudah menjelaskan tentang kegiatan Ceu Lilis di Jakarta. Ibunya Ceu Lilis memang sudah mempercayakan Ceu Lilis ke Rama karena beliau yakin Rama ga akan berbuat macam-macam sama Ceu Lilis.


🏢


Jam setengah enam sore, Rama sudah mandi dan berganti kaos dan training jogernya, tampak casual banget. Rama keluar dari kamarnya dan menunggu Izza di Lobby Hotel sambil mengecek rundown acara yang diberikan oleh pihak Event Organizer.


Security datang menghampiri Rama dan menanyakan kesediaannya untuk menerima tamu, Rama meminta langsung dibawa ke Lobby aja yang mau ketemu sama dia, ternyata Izza dan temannya.


Rama mengajak Izza dan temannya untuk ngobrol di Restoran Hotel. Karena dia juga mau mempersiapkan untuk berbuka.


"Makasih ya Za udah mau repot bikinin, dianter pula, berapa saya harus bayar?" tanya Rama.


"Ga usah Mas, cuma begitu aja kok. Oh ya ini harusnya diminum hangat, nanti dihangatin aja ya" kata Izza.


"Gimana caranya?" jawab Rama.


"Disini ada teko listrik kan? pake itu aja biar praktis" saran Izza.


"Kalian mau makan? Buru-buru ga?" tanya Rama.


"Ga Kak.. kami ga buru-buru kok" jawab temennya Izza yang langsung dapat injekan kaki dari Izza.


"Kalo gitu temenin saya berbuka aja ya ..ambil tuh makanan yang tersaji, bebas, hari ini masak buat semua tamu dan karyawan aja kok. Ga ada yang dijual. Jangan malu-malu ambil makanannya" tawar Rama.


"Ya Kak ... wah rejeki nomplok ini namanya Kak. Dari siang kita muter-muter dibeberapa tempat, belum makan pula. Eh dasar rejeki, malah ditraktir di Restoran Hotel" ucap temannya Izza yang langsung ngeloyor ke tempat makanan.


Izza masih duduk di bangkunya.


"Za .. bisa tolong angetin air jahenya? Nanti saya minta orang pantry ambilin teko listriknya" pinta Rama.


"Ya Kak" jawab Izza pasrah karena temannya udah asyik milih makanan.


Izza menghangatkan air jahe di meja tempat minuman. Disana juga sudah disediakan cangkir. Setelah itu disajikan kedepan Rama dalam posisi tertutup agar tetap hangat karena adzan Maghrib masih lima menit lagi.


"Kamu ga ambil makanan Za? Shaum juga?" tanya Rama.


"Ga Kak" jawab Izza.


"Tumben... yang saya dengar kamu rutin shaum juga kata Mba Gita" kata Rama.


"Hari ini lagi ga Kak" jawab Izza ga nyaman ditanya begitu.


"Oh.. ya udah ambil makanan sana, nanti ba'da Maghrib baru pulangnya. Ga baik kalo maghrib ada di jalan" kata Rama.


"Kak Rama mau diambilin makanan juga?" tawar Izza.


"Boleh, saya tuh makannya banyak sejak balik ke Indonesia, maklum kalo dulu anak kost makannya harus irit" jawab Rama.


"Ambilin nasi atau kue Kak?" tawar Izza.


"Nasi, kue sama buah ya ... lengkap pokoknya, kamu ambilin ajalah kira-kira enaknya buat berbuka apa, saya mah sama makanan cuma ada dua pilihan.... doyan sama doyan banget" jawab Rama becanda.


Izza langsung menuju meja buah dan mengambil sepiring kecil melon dan semangka. Kemudian kearah kue tradisional, diambilnya dua kue yang manis dan gurih. Setelah meletakkan didepan Rama, dia kembali ke meja prasmanan utama. Diambilnya sedikit nasi, sayur dan lauk. Ga lupa dia membawakan segelas air mineral.


Semua udah tertata rapi dimeja dua menit sebelum adzan Maghrib. Temannya Izza sudah menikmati semangkuk bakso. Izza masih duduk minum jus jambu biji aja. Dia ga enak kalo makan didepannya Rama, sekedar buat menghormati orang yang sedang berpuasa.


"Enak ya kalo berbuka udah ada yang nyiapin, biasanya kalo di Kantor, Mang Ujang yang bawain nasi Padang pake piring. Ya namanya cowo, taronya masih dibungkus dan diplastikin. Kalo pas didalam mobil juga paling beli roti di minimarket atau kalo pas lewat tukang gorengan ya beli langsung taro diplastik. Kalo gini kan enak ya, rapih di meja, tinggal makan aja" ujar Rama bahagia.


"Kan di rumah Kakak banyak yang bantuin. Tinggal bilang aja pasti disiapin, pasti mereka siapin" kata Izza.


"Saya ga pernah Maghrib di rumah sejak pegang perusahaan" jawab Rama.


"Berarti kalo jadwal shaum, Kakak harus bisa pulang lebih cepat, jadinya bisa berbuka di rumah dengan makanan yang lengkap" saran Izza.


"Ga ada alasan pulang cepat ke rumah Za. Paling kalo Sachi telepon minta dibacain buku ya mau ga mau pulang. Keadaan memaksa untuk ga bisa pulang cepat ke rumah setelah jam kerja usai" jawab Rama lagi.


"Jadi Boss sebenarnya Sachi ya" ledek Izza.


"Bisa dibilang begitu, tapi Sachi jam tujuh malam udah jadwalnya tidur, kalo ada saya malah bisa tidur lebih malam. Maunya becanda aja, makanya sama pengasuhnya Sachi saya diwanti-wanti jangan pulang sebelum jam tujuh malam" jelas Rama.


"Ya nikmati ajalah Kak hidup masih bujangan kaya gini, nanti akan ada masa berubah kalo udah berumah tangga" kata Izza.


"Bisa jadi..." jawab Rama penuh arti intonasinya.


"Udah adzan Kak..." ucap Izza mengalihkan maksud pembicaraan Rama.


.


Rama berbuka dengan kurma (tadi Mang Ujang diminta beli ke minimarket dekat Hotel) dan air mineral dulu kemudian lanjut menghabiskan segelas air jahenya, terasa hangat memang ditenggorokan, udah lama dia ga menikmati air jahe.


Rama pamit sholat dulu. Setelah sholat baru dia makan bersama Izza dan temannya Izza. Makannya emang banyak. Semua yang disediakan Izza habis ludes tak bersisa.


Kini diperutnya sudah bersarang steamed purple sweet potato cake with coconut milk (talam ubi ungu), Indonesian snack made of steamed glutinous rice with meat or other stuffing and wrapped in a bananas leaf (lemper), rice (nasi), fried fermented soybean cakes (tempe goreng), beef in black sauce soup (rawon), dried shrimp chili sauce (sambal terasi) dan shrimp fritters (peyek udang).


Setelah makan, Izza dan temannya pamit pulang. Rama mengantar hingga pintu keluar Hotel.


Anindya yang baru turun dari mobil cuma bisa senyum-senyum liat Rama.


"Itu senyum lebarnya sampe mau nyentuh kuping" goda Anindya pas liat Rama masuk kedalam pintu Hotel.


"Eh Mba Anin... kapan datang?" tanya Rama kaget.


"Kalo udah sama cewe cantik, mana keliatan orang lain datang.. hehehe" jawab Anindya.


"Bisa aja nih mba Anin" kata Rama malu.


"Jadi yang ini atau yang di Tasikmalaya?" usil Anindya menggoda.


"Pasti Mang Ujang nih yang ngomong. Pilihan yang sulit sih ... hahaha" ungkap Rama ketawa geli.


🍒


Selasa malam, mobil yang dikendarai Mang Ujang udah memasuki parkiran Hotel. Rama udah menunggu mereka di Lobby buat menyambut.


"Assalamualaikum A'... Alhamdulillah akhirnya bisa nginjek Jakarta lagi" sapa Ceu Lilis.


"Waalaikumsalam.. sehat Lis?" jawab Rama.


"Alhamdulillah sehat A'... sebulan ya kita ga ketemu, Aa' keliatan kurusan" kata Ceu Lilis.


"Cape Lis nyiapin semua ini. Ya kan kejar target harus segera buka" jawab Rama.


"Makanya A' cepatlah cari pendamping, biar diingetin ayang buat makan sama istirahat" saran Ceu Lilis.


"Mas Boss... ini tas-tas dianter ke kamar mana?" tanya Mang Ujang sambil membawa tas milik Ceu Lilis.


"Oh ya Lis... kamu sekamar sama Izza ya. Ga keberatan kan?" tanya Rama.


"Gapapa atuh A' .. malah enak ada teman, ga taunya kita sepantaran" ucap Ceu Lilis.


"Ini Mang kuncinya... masukin kesana dulu tasnya" kata Rama sambil menyerahkan kunci kamar.


Mang Ujang bergegas mengantarkan tas ke kamar yang sudah disediakan oleh Rama.


"Mau minum atau makan dulu atau mau langsung istirahat?" tawar Rama.


"Istirahat aja A'.. besok pagi kita bisa lanjut ngobrolnya sekalian sarapan" jawab Ceu Lilis.


"Oke .. ayo saya antar ke lantai empat, kamar saya dan Mang Ujang itu sebelahnya kamar kalian" jelas Rama.


"Ya A' makasih. Wah ternyata Aa' itu kaya beneran ya? tadi Mang Ujang cerita kalo Hotel ini milik Aa', bukan milik Pak Isam" celoteh Ceu Lilis.


"Bukan punya saya Lis ... punya perusahaan dan patungan sama teman. Mang Ujang emang kadang suka kelebihan kalo memuji orang. Saya kerja kok disini selain di kantor milik keluarga" jelas Rama.


"Wah kerja sampe dua tempat, gimana baginya tuh A'? eh tapinya kan gajinya jadi double ya A' ... hehehe" canda Ceu Lilis.


"Kan banyak yang harus saya bagi Lis" ucap Rama dengan santainya.


"Termasuk Lilis dan keluarga ya .. Aa' mah emang kebangetan baik sama orang. Semoga apa yang Aa' kasih ke kami jadi ladang pahala buat Aa' ya" harap Ceu Lilis.


"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab Rama.


Rama mengantar Izza dan Ceu Lilis sampai depan pintu dan mempersilahkan mereka untuk istirahat.


Setelah itu Rama kembali ke kamarnya. Mang Ujang yang tampak lelah udah tertidur pulas tanpa mandi dulu, sebenarnya Rama ga suka sama bau yang ga sedap, tapi kasian kalo bangunin Mang Ujang untuk mandi. Akhirnya Rama menyemprotkan parfum merek Elpi ke semua ruangan. Parfum ini dibelikan oleh Mba Anindya. Wanginya pas buat lelaki macho sepertinya. Tapi kalo beli pake kocek sendiri kayanya masih mikir, secara harga sebotolnya mencapai harga tiga jutaan rupiah.


Setelah mencuci muka dan kakinya, Rama berniat meluruskan tubuhnya. Rasanya sedari tadi belum istirahat dengan benar.


Ada notifikasi chat masuk ke HPnya Rama, dari Izza.


#Kak .. besok saya ijin ke panti sebentar boleh? sekitar jam delapan, nanti saya balik lagi ba'da dzuhur. Besok kan Lilis belum ada jadwal apa-apa# ketik Izza.


#Ada apa?# balas Rama.


#Ibu sakit, tadi asisten panti kirim kabar kalo Ibu muntah-muntah aja. Sudah dibawa ke puskesmas, katanya besok diminta periksa laboratorium# jelas Izza.


#Diagnosa awal apa?# tanya Rama.


#Thypoid fever (lebih banyak orang bilang tipes)# jawab Izza.


#Minta nomer rekening kamu ya# pinta Rama.


#Baru saya mau bilang, bisa ga saya minta upah saya buat cek laboratorium. Alhamdulillah Kakak paham# jawab Izza.


Izza mengirimkan nomer rekening ke Rama, dua menit kemudian Izza mendapatkan bukti transfer dari Rama.


#Kak .. besar banget ini, jumlahnya lebih dari upah saya# balas Izza.


#Titip buat Ibu panti, upah kamu tetap akan saya bayar sesuai kesepakatan. Ini tidak mengurangi upah kamu# jawab Rama.


#Terima kasih ya, semoga berkah usaha barunya# do'a Izza.


#Makasih do'anya ... udah sekarang istirahat aja, cape kan bolak-balik Jakarta Tasikmalaya Jakarta# tutup Rama.