
"Sachi... emang ga malu nangis didepan banyak orang?" tanya Rama agak sedikit menggertak.
"Ga mau pulangg... pokoknya mau sama aunty Izza aja" rajuk Sachi masih menangis.
"Sachi... Ayah ga suka sama anak cengeng. Berhenti nangisnya" kata Rama makin kepancing emosi.
Izza mendekati Rama yang sedang menggendong Sachi.
"Boleh saya ngomong dulu sama Sachi sebentar?" pinta Izza ke Rama.
Rama menurunkan tubuh Sachi dari gendongannya.
Izza berlutut dihadapan Sachi. Membantu menghapus air matanya pakai telapak tangan.
"Sachi maunya gimana?" tawar Izza.
"Aunty bobo yuk di rumah Sachi, kamar Sachi besar, nanti pakai kasurnya Mba Nur buat aunty Sachi bobo. Kalo ga, kita bisa juga bobo di tempat tidurnya Ayah, kamar Ayah juga besar kok, kita bisa bobo bareng bertiga, pasti muat kasurnya" tawar Sachi.
Ibu Panti Asuhan cuma tersenyum mendengar celotehan Sachi yang belum paham tentang konsep tidur bersama yang boleh dan tidak boleh. Izza cuma tersenyum, tapi Rama kaget mendengar celotehan Sachi yang masih polos.
"Sachi .. yang boleh bobo bareng itu hanya keluarga. Aunty Izza kan bukan keluarga kita" ujar Rama.
"Pokoknya Sachi ga mau pulang, maunya sama aunty Izza disini. Kalo Ayah mau pulang ya pulang aja" Sachi tambah ngambek dan berlari ke ruang tamu.
"Sabar Nak Rama... anak-anak memang kadang susah kita pahami pola pikirnya" nasehat Ibu Panti Asuhan.
"Ya Bu .. tapi memang sudah dua bulan ini Sachi berubah, ga jadi gadis kecil yang penurut lagi. Cuma gara-gara ga punya Mama jadinya begini" ungkap Rama masih kesal sama sikapnya Sachi.
"Kak... jangan menyepelekan peran Mama dalam hidup seorang anak. Dan juga ga semua bisa sekuat Kakak yang besar tanpa kehadiran sosok Mama. Apalagi Sachi wanita, pasti lebih peka dan halus perasaannya. Kalo Kakak bersikap keras, maka dia akan makin melawan. Sabarlah sedikit menghadapi Sachi" bela Izza.
"Kenapa sih wanita harus menampakkan kelemahannya? kami kaum pria juga punya kelemahan, tapi bisa kok nutupin dimuka umum" ucap Rama rada sombong.
"Kami kaum wanita memang seolah tampak lemah dimata lelaki, tapi jangan lupa kalo wanita mampu melemahkan kaum seperti Anda Bapak Rama yang terhormat. Ini bukan masalah gender, tapi perasaan. Pasti pernah dong baca artikel tentang anak yang besar dalam keluarga yang ga utuh? saya kira Kakak cukup pintar untuk memahami isi ulasan artikel tersebut. Punya anak ga sekedar memenuhi kebutuhan lahiriah saja, tapi harus bisa mencukupi kebutuhan batinnya juga. Ga selamanya anak merasa bahagia atas segala harta yang Kakak berikan, tapi dia juga butuh kasih sayang dan perhatian" kata Izza rada tegas memberikan masukan ke Rama.
Rama menyusul Sachi ke ruang tamu. Izza mengikuti karena khawatir Rama lepas kendali terhadap Sachi.
"Ayo pulang Sachi ... mau jalan sendiri ke mobil atau Ayah paksa masuk mobil?" tawar Rama yang udah ga mau kompromi sama Sachi.
"Ayah jahat .. Ayah ga sayang sama Sachi" jawab Sachi kembali menangis.
"Kak ... tolonglah Kak .. kontrol emosi Kakak. Disini banyak anak-anak juga, mereka pasti akan takut liat Kakak keras seperti ini" saran Izza.
"Kamu ga usah ikut campur ya. Lagian siapa yang punya ide ngajak Sachi nginep disini? Apapun yang dilakukan Sachi harus seijin saya .. paham?" ingat Rama rada narik urat.
"Saya yang punya ide, ada masalah? toh bukannya saya meminta ijin dari orang yang lebih berhak dibanding Kakak? apa yang saya lakukan karena mendengar keluh kesah Mas Haidar tentang Sachi. Saya hanya ingin membantu seorang Ayah yang sedang meraih cinta anaknya. Ini tulus saya lakukan tanpa imbalan apapun. Saat kehilangan orang tua, saya sudah besar dan bisa berpikir logis. Beda dengan Sachi yang sama sekali tidak mengenal sosok orang tuanya selain Kakak. Dia itu anak kecil, bukan robot mainan yang bisa Kakak kendalikan sesuka hati" pelan Izza berkata dekat Rama.
Izza mendekati Sachi dengan langkah perlahan. Izza mengusap air mata Sachi pakai tissue yang ada diatas meja.
"Sachi ... aunty Izza antar pulang ya, nanti kalo mau nginep disini, ijin sama Ayah Rama dulu. Kan masih banyak kesempatan kita tidur bareng, sekarang pulang dulu. Disini juga panas kan kamarnya? tadi Sachi tidur siang aja ga nyenyak karena gerah" rayu Izza sambil mengusap rambutnya Sachi.
"Ga mau ... pokoknya ga mau pulang" kata Sachi merajuk.
"Aunty Izza punya ide ... tapi syaratnya Sachi harus jadi anak yang nurut. Kalo jadi anak penurut, nanti diajak ke PRJ (Pekan Raya Jakarta) belum pernah kan? atau gimana kalo besok kita minta tolong ke Ayah Rama buat anterin kesana? Nanti kita jalan-jalan berdua seharian" bujuk Izza penuh kelembutan.
"Tempat apa itu aunty?" tanya Sachi ga paham.
"Disana kaya tempat hiburan tapi luas banget, ada mainan, makanan, badut, perlengkapan sekolah, pertunjukan sulap, panggung buat orang nyanyi. Tempatnya juga terbuka, ga kaya Mall yang ada atapnya" jelas Izza dengan bahasa sederhana.
"Mau ... mau ... Ayah mau ya anter Sachi sama aunty Izza kesana" kata Sachi antusias.
"Males ah .. macet dan panas, jalannya juga jauh, nanti kalo Sachi cape siapa yang mau gendong? mana kuat aunty Izza gendong kamu" ucap Rama datar.
"Kan Sachi punya koper skuter, hadiah dari Papa Haidar. Bisa pakai itu, jadi aunty Izza ga cape gendong Sachi" ingat Sachi.
Izza melihat kearah Rama, Sachi pun mendekapkan tangannya seperti memohon persetujuan Rama.
"Iyalah.. iyalah ... besok pagi-pagi ya berangkatnya, biar bisa dapat parkiran" jebol sudah pertahanan Rama melihat tatapan Sachi dan Izza.
Rama merasa kalah kalo ditatap penuh rasa mengiba seperti itu.
"Horeee ... Sachi mau ke ... mau ke .. kemana deh aunty?" tanya Sachi ke Izza.
"PRJ .. Pekan Raya Jakarta" jawab Izza.
"Bu ... saya ijin bawa Izza ke Hotel boleh?" tembak Rama ke Ibu Panti Asuhan.
"Apa????" tanya Ibu Panti Asuhan kaget.
"Oh tenang Bu.. saya ga akan berbuat macam-macam ke Izza. Ini saya lakukan demi Sachi. Kamar pun nantinya terpisah antara saya dan Izza. Hotel milik saya kok Bu. Kalo Ibu ga percaya boleh ikut kami. Sepertinya Sachi belum mau pisah sama Izza. Maaf Bu, bukan saya kurang ajar, tapi saya lakukan ini murni agar Sachi nyaman tidur malam ini" jelas Rama to the point.
"Sebenarnya Ibu ga setuju sama ide ini, tapi kayanya Sachi lagi merasa senang dekat sama Izza. Semoga dia kembali dapat ceria lagi seperti dulu kala. Kasian juga Sachi kalo tidur disini pasti ga nyaman. Tapi Ibu mohon banget ya sama Nak Rama.. jaga kepercayaan Ibu" kata Ibu Panti Asuhan.
"InsyaAllah Bu .. saya akan jaga Izza dan menjaga kepercayaan yang Ibu berikan. Saya tunggu supir saya datang kesini dulu, biar ada penengah, kalo Sachi kan anak kecil ya, ga bisa dijadikan penengah diantara kami. Saya juga ga mau menimbulkan fitnah dengan membawa anak gadis orang ke Hotel. Besok saya kembalikan Izza seperti saat saya bawa sekarang" lanjut Rama.
"Ya gapapa .. Ibu percaya kok sama kalian berdua" lanjut Ibu Panti.
"Za ... kamu rapihin baju Sachi dan baju kamu, kita ke Audah Hotel, nginep disana biar besok bisa jalan pagi. Mang Ujang lagi kesini sambil bawa koper skuter punya Sachi" pinta Rama.
"Apaan sih Kak idenya sampai nginep segala di Hotel? pokoknya besok pagi saya udah siap deh dijemput jam berapa juga" ujar Izza yang ga nyaman harus nginep di Audah Hotel.
"Makanya saya bawa Mang Ujang, biar kamu nyaman karena ga hanya kita bertiga aja. Ini demi Sachi.. bukannya tadi kamu bilang mau melakukan apa aja buat Sachi?" lanjut Rama.
"Ayo dong aunty .. kalo ga mau nginep di kamar Sachi, kita ke Hotel punya Ayah aja. Kan kita pernah bobo disana" ajak Sachi yang super happy.
Izza pun ga bisa menolak.
"Asyikkk... kita ke Hotel ... bobo sama aunty Izza lagi .. besok kita pindah ke Hotel aja ya Yah, biar aunty Izza bisa sama Sachi lagi" kata Sachi sambil mendekati Rama.
Rama tersenyum kecut, sebuah senyum ga tulus yang dia berikan ke Sachi.
.
Selepas sholat Maghrib, Rama dan rombongan pamit. Izza dan Sachi duduk dibangku belakang, Rama duduk dibangku depan.
"Ini mau pada kemana sih, segala bawa tas kaya orang mau pindah?" tanya Mang Ujang belum paham.
"Ke Audah Hotel Mang" perintah Rama.
"Hahhhh???? ga salah denger nih? ngajak neng Izza ke Hotel? jangan bilang ini akibat tadi pagi minum teh talua ya ..." ujar Mang Ujang kaget.
"Mulai dehhhhh ... udah cepet jalan" pinta Rama dengan nada tinggi.
"Jangan mikir kejauhan Mang.. besok kami mau ke PRJ, ngajak Sachi main. Kak Rama maunya jalan pagi-pagi biar dapat parkiran, ditambah Sachi ga mau pulang kalo Izza ga ikut. Kan ga mungkin Izza nginep di rumah Kak Rama, jadinya jalan tengah ya di Audah Hotel. Nyaman buat Sachi istirahat daripada di kamar Panti Asuhan yang sempit dan panas" jelas Izza.
"Mang Ujang aja yang emang hobinya negative thinking sama orang lain" kata Rama.
"Ahhaaaa... Mang Ujang punya ide, ini kan kita masuk tol, lanjut ke Monas gimana? Mang Ujang ga pernah nikmatin Monas dikala malam. Sachi mau ga?" ide Mang Ujang.
"Ada apa memangnya di Monas?" tanya Sachi.
"Ada delman, ada odong-odong, makanan, tukang mainan.. banyak deh, apalagi malam Minggu kaya gini pasti rame, ada air mancur joget juga katanya" jawab Mang Ujang.
"Mau ga Za? terserah kamu aja, kalo ga nyaman ya ga usah kesana" tawar Rama.
"Ayo aunty .. kita liat Monas. Sachi belum pernah kesana" ujar Sachi.
"Ya .. tapi jangan malam banget ya pulangnya" kata Izza nyerah.
"Mang ... nanti kalo ada pom bensin yang ada minimarket mampir dulu ya. Haus banget nih, sekalian mau ambil uang cash, ga pegang uang cash banyak saya. Besok kan juga mau ke PRJ, pasti butuh cash" perintah Rama.
"Siap Boss .. ambil yang banyak ya, kan nanti kalo mau jajan tinggal bilang .. hehehe" jawab Mang Ujang sambil hormat.
"Hahahaha .. " Sachi tertawa melihat ulah Mang Ujang yang hormat ke Rama.
.
"Isi bensin Mang yang full, di dashboard ada uang sejuta, jangan ditilep, isi yang bener" ingat Rama.
"Iya Mas Bossku yang paling caem.. nanti Mang Ujang minta struknya sekalian biar percaya" kata Mang Ujang.
Sachi dan Izza juga turun menuju minimarket, ada yang diminta sama Sachi. Rama menggendong Sachi karena lingkungan pom bensin sedang ramai. Posisi jalan Izza didepan dan Rama dibelakangnya.
"Hai cewe... boleh kenalan ga?" goda lelaki yang lagi duduk diatas motornya.
Rama melihat kearah lelaki tersebut.
"Ga liat dia jalan sama siapa?" tanya Rama ke pemuda tersebut.
"Oh udah punya anak toh... Maaf Bang.. abisnya istrinya keliatan muda banget" kata pemuda itu ketakutan melihat mukanya Rama yang ga bersahabat.
.
Izza membawa keranjang dan mengikuti kemana Sachi melangkah. Rama sedang ke mesin ATM untuk menarik tunai.
"Sachi mau cari apa?" tanya Izza.
"Mau beli air mineral, susu, roti dan biskuit" jawab Sachi.
"Ga permen atau coklat?" tanya Izza.
Izza heran sama anak sekecil Sachi, makanan dan minuman yang diambil bukan seperti anak kecil kebanyakan.
"Ga boleh sama Ayah kalo makan coklat dan permen sering-sering" kata Sachi.
"Dia makan permen dan coklat hanya boleh sebulan sekali" sahut Rama yang udah ada dibelakang Izza.
Izza ga melanjutkan percakapannya dengan Sachi. Rasanya malas kalo sudah ada Rama, ujung-ujungnya nanti malah jadi ribut dan merusak mood.
.
Sudah jam setengah delapan malam, Rama meminta Mang Ujang mampir ke sebuah restoran ga jauh dari Monas untuk makan malam.
Rama memilih resto legend yang selalu ramai didekat Monas, overall makanan disini rasanya enak. Plang signage berwarna kuning pada bangunan bercat hijau yang berlokasi di Jalan Juanda, Jakarta Pusat, sudah ada didepan mata.
"Kayanya sering lewat sini. Kok, gak pernah tahu ada restoran ini ya Mas Boss?" tanya Mang Ujang keheranan.
"Masa sih? resto ini terkenal kok, udah sekitar dua puluh tahun berdiri" jawab Rama.
"Kirain mah tempat karaoke. Namanya juga biasa buat nama tempat karaoke sih" jawab Mang Ujang.
Lapang dan nyaman, kesan itu langsung melintas dalam pikiran begitu kaki melangkah kedalam resto. Konsepnya mengedepankan seni visual, modernitas nan gemerlap dari aneka lampu yang bergelantungan. Ditambah dinding-dinding yang didominasi bahan kayu, furniture serba kayu, menghadirkan suasana bertema country nan hangat. Langit-langit ruangan yang tinggi, membuat ruangan resto terlihat sangat lapang.
Kayu-kayu chalkboard didepan kitchen, bertuliskan aneka menu, tergantung dibawah kanopi bermotif garis-garis hijau. Dekorasi tanaman artificial yang manis. Konsep open kitchen resto ini unik, menyerupai counter-counter yang berjejer.
Menu Indonesia disana ada sop buntut, soto betawi, sop iga sapi, garang asem iga, sate, nasi goreng. Ada pula sajian ala Italian seperti pizza, spaghetti, fettuccine carbonara, beef lasagna. Menu western juga ada BBQ chicken wings, steak, cheese burger.
Sachi memilih pizza, Izza tertarik dengan iga garang asem. Mang Ujang memesan nasi goreng plus sate ayam. Sedangkan Rama lumayan agak banyak pesannya, selain sate ayam, dia juga memesan beef lasagna dan double cheeseburger.
Sachi minum susu coklat, Izza tertarik dengan summer punch.
"Itu minuman banyak isi daripada airnya, jadi keliatan kotor ga sih?" kata Mang Ujang
"Kotor gimana sih Mang, ini seger loh. Ga mengandung soda, campuran dari lime, jeruk peras, syrup markisa, selasih dan potongan strawberry, kiwi dan jelly" jelas Izza.
"Makanya saya beberapa kali kesini karena harganya reasonable dan affordable. Harga yang ditawarkan cukup kompetitif, bahkan terbilang terjangkau dan masuk akal untuk sebuah makanan yang menggugah selera, suasananya yang unik dan varian menu banyak" lanjut Rama.
"Ideal place to dine, where you can spend time with your friends and family (tempat ideal untuk menikmati makanan, dimana bisa menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga) dong ya" kata Izza.
"Yup ..." jawab Rama.
Mang Ujang cuma bisa bengong dengerin Rama dan Izza yang pakai kosakata dalam bahasa Inggris dalam percakapannya.
"Mang Ujang minumnya es teh manis? ga pesan yang aneh gitu? apa mau dipilihin?" tawar Rama.
"Ga percaya deh sama Mas Boss, ntar kaya tadi pagi lagi. Saking fitnya sampe ga bisa dibawa tidur" jawab Mang Ujang.
"Ah saya ga ada masalah kok ... Mang Ujang aja kali ya pikirannya kotor" ucap Rama.
Izza sedang membantu memotong slice pizza untuk Sachi. Mang Ujang serius menikmati orderannya. Rama juga ga banyak bicara karena sedang menghabiskan pesanannya.
"Ayah... satenya pedas ga?" tanya Sachi.
"Ngga .. Ayah ga pake sambel" jawab Rama.
"Sachi mau ya" pinta Sachi.
"Ambil aja, pakai nasi ga?" tanya Rama.
"Boleh... tapi aunty Izza yang suapin" harap Sachi.
"Aunty Izza kan lagi makan, kamu makan sendiri aja, nih ambil di piring Ayah, biasanya juga kita makan sepiring berdua" ujar Rama.
"Ga mau .. kan piring Sachi udah ada pizza, masa dicampur nasi dan sate" protes Sachi.
"Za .. tolong ya suapin Sachi, ini ambil aja nasi dan sate di piring saya, gapapa kok" kata Rama mempersilahkan.